Selasa, 11 Mei 2010

GANDRANG BULO RASA “ES TIGA”

Standard

Tari Gandrang Bulo. Terakhir kali saya manyaksikannya di Festival Beber Seni di Meseum Vredeburg Yogyakarta tahun 2005. Kal itu, tarian ini sukses memukau penonton, berbeda dengan tarian etnis Bugis – Makassar lain yang berirama lembut, lamban dan penuh pengkhyatan disetiap tarinya. Tari gandrang bulo justru mengedepankan gerakan tangan dan kaki dengan tempo cepat, rancak dan energik seolah tak ada tata gerak baku. Lewat tarian Gandrang Bulo ini pulalah, pertanyaan dibenak saya selama ini terjawab. Kenapa selama ini tari Bugis – Makassar justru menampilkan karakter lembut, lamban dan penuh pengkhyatan, bukankah orang Bugis – Makassar terkenal dengan karakter keras dan tegasnya.

Adalah Asril Violin, pelaku seni Bugis – Makassar yang sempat menimba ilmu di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dalam latihan bersama Sanggar Seni Latenribali di Yogyakarta menuturkan “ sesungguhnya tarian itu melambangkan karakter orang Bugis – Makassar, dalam perspektif gender masing-masing “. Ungkapan Asril Violin, yang beberapa waktu lalu tampil memukau dalam konser tunggal Solo Violinnya di Makassar, kiranya dapat dibenarkan. Karakter Bugis – Makkassar yang keras dan tegas memang hanya ditemui pada kaum pria, sementara pada kaum perempuan justru sebaliknya. Mereka cenderung tampil anggun, gemulai dan keibuan. Makanya tidak jarang, pria dari suku lain berusaha mencari pendamping hidup dari perempuan Bugis – Makassar.

Maka wajar pula, jika tari Gandrang Bulo, Marraga/Maddaga, Massempe, Jujju Sulo yang dimainkan kaum pria lebih menonjolkan gerakan cepat dan bertempo tinggi. Berbeda dengan tari Pakarena, Lolusu, Padduppa, dan Bosara. Sebagaian contoh tari etnik Bugis - Makassar yang menampilkan kelembutan dan gemulai para penarinya. Gandrang Bulo, awalnya hanyalah tarian sederhana serupa tarian rakyat tanpa tata gerak baku ala istana kerajaan. Tarian ini adalah tarian khas Makassar dengan iringan tabuhan gendang dan alunan biola, mengalung riang bersama lirik lagu khas Makassar seperti Sumbang Kacayya. Disamping gampang ditarikan, perlengkapan tarian ini juta terbilang sederhana, cukup menggunakan bambu-bambu kecil. Beberapa penari menggunakan dua potong bilah bambu seukuran tujuh centimeter, dijepitkan sedemikian rupa diantara jemarinya, lalu ditetakkan hingga melahirkan bunyi sangat khas namun bernada. Separuh penari lainnya membawa dua potong ruas bambu yang sengaja telah dipecah dan dicacah pada bagian ujungnya. Saat potongan bambu ini diadu, maka akan terdengar suara “prapak pak pak pak, prapak pak pak pak”, bunyi yang membangkitkan adrenalin penari dan penonton.

Dari catatan Yayasan Desantara dan dipublikasikan di Harian Fajar Makassar, 30 Juni 2007. Tercatat, tari Gandrang Bulo sempat menjadi bentuk eksperesi perlawanan seniman dan rakyat terhadap kolonialisme. Hal ini tercermin dalam syair ;
Tahun 1942 Na Mandara I Tuan Nippon caddi mata
Na Passadia Bokong Latama ri Camba
Kasirati memang tongi I Balanda Bunrang mata
Nippon mandara Na gudang na tunu pepe
(Tahun 1942 mendarat Tuan Nippon si mata sipit
menyiapkan bekal masuk ke daerah Camba
Memang kurang ajar Si Belanda bermata kabur
Nippon yang mendarat kok gudang-gudang yang dibakar)

Petikan syair diatas adalah bagian dari lakon Gandrang Bulo 1942. Sebuah genre Gandrang Bulu yang muncul pada masa Romusha, perbudakan ala tentara pendudukan Jepang. Konon, Gandrang Bulo model ini berawal dari iseng dan usilnya para pekerja paksa di masa Romusha. Saat istirahat, mereka secara spontan melakukan gerakan kocak yang meniru bahkan mencemooh gerak gerik, gesture serta prilaku tentara Jepang. Gerakan-gerakan kocak tersebut lalu ditimpali dengan bunyi-bunyian dari para pekerja lainnya yang memukul-mukul alat kerja mereka. Seperti pikulan, gagang cangkul, keranjang atau usungan yang terbuat dari bambu dan kayu. Riang dan kocaknya eksperesi para pekerja paksa tersebut mendapat sambutan meriah. Meski harus kucing-kucingan dengan tentara Jepan, tarian ini sukses mengundang banyak peminat untuk bergabung dan menikmatinya, bahkan ia kemudian dikenal dengan nama Gandrang Bulo 1942.

Masih dari catatan Yayasan Desantara. Pada akhir 1960-an, adalah Daeng Nyangka, seniman asal Bontonompo, Gowa. Beliaulah yang mengawali dan melakukan kreasi ulang terhadap tari Gandrang Bulo. Hasil kreasi Daeng Nyangka inilah yang kita kenal saat ini dan sering di pentaskan pada acara-acara seremonial. Akan halnya dengan Gandrang Bulo 1942, ia tetap mendapatkan tempat di masyarakat di Sulawesi Selatan hingga di Kota Budaya Yogyakarta. Aliran ini pulalah yang dipentaskan oleh Sanggar Seni Sawerigading (S3 – baca Es Tiga) dalam sebuah kesempatan di Balai Kota Yogyakarta.

Selamat buat adik-adik Wisma Sawerigading, wisma mahasiswa Sulawesi Selatan. Terima kasih telah mengobati rinduku pada Gandrang Bulo. Terus berlatih, dan perkenalkan budaya Bugis -Makassar di kota budaya, Yogyakarta.

Jumat, 07 Mei 2010

Bahasa Gaul; Jijay, Lebay, Alay

Standard
Piring penuh nasi dan lauk ditangan kiri,  kaki kanan nangkring disudut kursi. Inilah surga dunia bagi saya. Makan malam disaat perut dah keroncongan, dengan lauk ikan asing racikan sendiri, makanan kegemaranku. Nikmatnya, menandingi sajian makanan restoran mewah dengan aturan Table Manner-nya yang menyiksa. Tiba-tiba. “Ikan asingnya enak gak, Ayah ?”, istriku bertanya setengah berteriak disela-sela keasikannya menyugihi ASI buat putra kami. “Wahh, nuikmat sekali bunda, serasa makan daging steak”, jawabku. “Jangan lebay deh ayah”, pungkas istriku.

Lebay. Kata asing yang sering saya dengar dari mahasiswaku di Kampus, ternyata telah merambah kedalam rumah kontrakan kami.  Meski tidak tau persis maknanya, istri dan adik-adik saya sudah latah menggunakannya.  Penasaran, saya coba lacak di Mbah Google, ada 654.000 entri dengan kata kunci arti kata lebay. Akhirnya saya sendiri yang kebingungan, mana yang harus dibaca.

BAHASA PROKEM
Kata Jijay, Lebay dan Alay-alay, hanyalah contoh kecil dari banyaknya kosakata baru yang lasim digunakan anak-anak baru gede (ABG). Tentu kita tidak asing lagi dengan kata Jayus, Jaim, Ajija, Gretong hingga Begindang. Ironisnya, kadang para ABG itu sendiri tidak paham persis makna dari kata itu sendiri. Menurut Harpeni Siswatibudi,  merebaknya bahasa gaul seperti itu adalah wujud dari karakter anak muda, yakni konformitas. Karakter konformitas inilah yang mengiring rasa tertarik anak muda pada suatu kelompok, dan akhirnya meniru segala atribut yang menjadi ciri khas kelompok tersebut. Sarjana Psikologi lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini menambahkan, ciri khas tersebut bisa berupa pakaian, asesoris, gaya rambut hingga gaya komunikasi mereka. Yang paling gampang ditiru adalah gaya bahasa. Anak ABG menyebutnya bahasa gaul atau bahasa prokem, jelas salah satu dosen di POLTEKKES Permata Indonesia Yogyakarta.
Bahasa prokem di Indonesia, mulai dikenal sejak awal 1970-an. Ini ditandai dengan munculnya komunitas  “bromocorah”, sebutan untuk preman jalanan dan beberapa pelaku kriminal lainnya.  Mereka membuat sandi dan bahasa khusus yang hanya dimengerti oleh kalangan mereka sendiri. Tujuannya, agar orang diluar komunitas mereka tidak mengerti, mereka juga tidak perlu sembunyi-sembunyi jika membicarakan hal yang negatif. Memasuki awal tahun 1980-an, kebiasaan mereka ditiru oleh ABG. Justru para ABG inilah yang membuat bahasa gaul kian berkembangan dan bervariasi. Misalnya kata “saya” yang dalam dialek Betawi menjadi “gue” berubah menjadi “ogut”. Setelah kata “Ogut” dianggap kuno, muncullah kata “Akika”. Diadopsi dari kata “Ikh”, saya dalam bahasa Nederland. Adalagi kata “Terima kasih” yang oleh anak bawah lima tahun dengan gaya cadelnya disebut “Makaci”, oleh anak ABG dirubah menjadi “Macaci”. Yang lebih ekstrim, sebutan untuk orang tua berubah menjadi “nyokap” dan “bokap”, lalu disingkat “Bonyok” untuk mengganti kata Ayah-Bunda. Kata prokem sendiri adalah salah satu hasil karya mereka. Kata prokem ini adalah kependekan dari Pro Perkembangan, mengikuti atau berkiblat pada perkembangan.
Secara empirik, bahasa dan kosa kata prokem mengacu pada permasalah sehari-hari para ABG. Bahasa prokem mereka bisa diadopsi dari kehidupan keluarga, keadaan sekolah dan atau perguruan tinggi, serta masalah-masalah kenakalan remaja. Wujudnya sering diungkapkan dalam bentuk kata ganti orang, masalah seks, narkotik dan obat-obatan sejenis serta minuman keras atau istilah kekerabatan. Untuk kategori terakhir, mungkin kita sering mendengar kata “Dab” dalam bahasa gaul khas kota Yogyakarta, atau kata “Ces” dalam bahasa gaul khas anak Bugis-Makassar, adalagi kata “Coy” dikalangan anak gaul Jakarta.

Marakanya bahasa prokem dikalanagan ABG, dengan sendirinya merubah pengertian "bahasa prokem" itu sendiri. Kini bahasa prokem berubah menjadi bahasa kode atau sandi yang hanya ABG kelompok tertentu yang mengerti. Meski sering ditemui bahasa yang sama dibeberapa kelompok, tetapi masing-masing kelompok memberi inpterperestasi yang berbeda-beda dan pengertian masing-masing. Sebagai contoh, komunitas cendana 13, Sebuah komunitas penggemar perangkat computer di Yogyakarta. Mengunakan kata “data” untuk makanan, “hard disk” untuk dompet, “ram” untuk otak dan pikiran, “kasing” untuk pakaian atau “interface” untuk ikat pinggang.

Sejatinya, bahasa prokem tidak dapat disalahkan, dan tidak perlu ditakutkan akan merusak tatanan baku bahasa Indonesia. Selain sebagai penyesuaian ABG dengan tuntutan zaman dan perkembangan nurani, bahasa prokem juga hanya dipakai terbatas dan pada situasi tidak resmi. ABG-ABG (baca : pemuda dan remaja) kita, cukup cerdas menempatkan bahasa Prokem dan bahasa baku. Saat mereka berada di luar dari lingkungan atau kelompoknya, maka bahasa yang mereka gunakan akan beralih ke bahasa yang berlaku di tempat itu. Begitupula dalam kondisi resmi, mereka juga akan menggunakan bahasa resmi.  

BEBERAPA ISTILAH MENARIK
Memasuki abad ke-21, istilah dan simbol bahasa prokem kian marak dan makin akrab ditelinga semua golongan masyarakat. Mulai dari para “kroco-kroco” kampung hingga “markus-markus” di kota besar. Mulai dari ABG (Anak baru gede) sejati hingga ABG (Angkata babe gue) berusia diatas 40 tahun. Yang paling mutakhir adalah bahasa gaul dikalangan “Waria”, hebatnya mereka bahkan punya rumus sendiri untuk membentuk sebuah kosakata prokem baru.  Berikut adalah kosakata prokem yang cukup populer hingga pertengahan tahun 2010.
Jayus.
Jayus adalah kata prokem untuk mengungkapkan kata “kering”, “garink” dan “ndak lucu”. Konon, kata “Jayus” berasal dari sekelompok anak di sekitaran Kemang-Jakarta. Adalah Herman Setiabudhi, salah satu anggota dari komunitas tersebut. Si Herman yang hoby melucu, sering diolok-olok oleh teman-temannya, lawakan Herman  selalu dianggap tidak lucu. Akhirnya muncullah celetukan “Jayus, Jayus, lain kali kalo melucu jangan garink dong”. Kata Jayus tadi diadopsi dari nama ayah Herman, Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Ucapan inilah yang kemudian diikuti teman-teman setongkrongannya di Kemang, dan mewabah ke komunitas anak gaul lainnya. Terakhir, dalam siaran persnya. Si “Jayus” berpesan, “Jangan samakan aku dengan si Gayus yah, saya rajin kok bayar pajak. Meski royalti dari istilah “Jayus” yang sudah saya patenkan tidak pernah dibayar”. Alah, ini sih “Jayus”nya si Penulis.

Jaim
Entah benar atau tidak ?. Kata “JAIM”, konon dipopulerkan oleh seorang bapak yang menasehati anak perempuannya. Agar dalam bergaul dengan teman laki-lagi jangan terkesan “murahan”, dengan mengumbar kata apalagi tingkah laku alias harus bisa “Jaim” . Selidik punya selidik, akhirnya sang anak mengetahui kalau kata “Jaim” itu singkatan dari “Jaga Image”. Tak pelak, istilah ini dipopulerkan sang anak di sekolah dan komunitasnya.

Cupu
Ungkapan ini lazim ditujukan bagi seseorang yang berpenampilan kuno. Singkat kata orang-orang seperti mereka dianggap “Jadul” (jaman dulu), tidak gaul, tidak trendy. Parahnya, orang-orang yang berkacamata tebal, kutu buku, pendiam dan rajin ibadah dianggap sebagai cirri-ciri anak “cupu”. Cupu sendiri merupakan kependekan dari kalimat “culun punya”. Culun dapat berarti “lugu-lugu bego”, punya dapat berarti “benar-benar”, jika digabung menjadi : benar-benar lugu atau benar-benar bego.

Jijay, Lebay dan Alay-alay
Ketiga ungkapan ini adalah ungkapan bernada sinikal. Ditujukan untuk mengolok, memprotes, atau mengingatkan orang lain yang gemar bercerita atau bersikap berlebih-lebihan. Mereka yang sering dituding dengan ungkapan ini, biasanya berkarakter sombong, egois, sangat senang menerima apa yang menjadi harapannya dan menolak apa yang tidak dia sukai. Singkat kata, lebay adalah sebuah sikap PEMBENARAN DIRI.

Kata Jijay, disinyalir berasal dari kata JIJIK. Sebuah tudingan terhadap seseorang yang sering bertingkah laku yang membuat jijik orang lain. Jijik yang dimaksud tidak hanya terbatas jijik pada makanan, bisa juga pada tataran mimik wajah, cara berpakaian atau tingkah laku lainnya. Kata ini senada dengan kata “NJIJIK’I” dalam bahasa Jawa, kata “JIJIK IH” dalam bahasa Sunda.

Kata Lebay, berasal dari kata Lebih atau berlebihan. Lebay, makin kondang setelah ada lagu “Jangan Lebay”. Lewat lagu yang dipopulerkan oleh “T2” ini, masyarakat jadi lebih tahu tentang sifat orang Lebay. Orang Lebay adalah orang yang selalu membesar-besarnya masalah atau hal kecil, terlalu melebih-lebihkan diri maupun pendapatnya tanpa memperdulikan orang lain. Cenderung untuk bersifat sombong, merasa benar sendiri dan selalu ingin cari perhatian. Lebay adalah pengembangan dari kata Jijay, dibuat untuk menyikapi gaya sesorang yang memiliki gaya berlebihan, dan cenderung lebih parah dari kelas Jijay.

ALAY, Rupanya, dalam pergaulan sehari-hari ditemukan orang-orang yang berkarakter lebih parah dari sekedar jijay dan lebay. Maka, tidak heran jika saat ini muncul lagi istilah alay-alay, yang berasal dari kata “alah-alah”. Ada juga yang mengartikan Alay sebagai kependekan dari Anak Layangan, ini artinya orang Alay akan selalu bersifat seperti Layang-layang, terbang sesuai arah angin. Ada juga yang menganalogikan alay sebagai anak kampung, karena anak kampung kebanyakan berambut merah dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan. 

Alay bisa juga berarti singkatan dari Alah Lebay (Anak Lebay), Anak Layu atau Anak Kelayapan, dan mungkin mungkin masih banyak perngertian lainnya. Didunia maya, terutama disitus jejaring sosial semisal Facebook, Twiter dan Friendster gaya anak Jijay, Lebay dan Alay dapat dengan mudah kita temukan. Perhatikan, hampir tiap hari kita melihat Nickname atau status yang susah dibaca. Mereka menuliskannya dengan kombinasi angka dan huruf yang rumit, misalnya 4n1 Muacnizzzz (ani manis), t1ka cuteyz (tika cute), Ay4n9 aQiu K4n9eundd bAn9euuuuuuDd (sayang aku kangen banget), aquwh s4aiian9 Kamyu ch1Nt4ku (aku sayang kamu cintaku).

Jadi kata Jijay, Lebay dan Alay-alay memiliki makna yang sama, namun menunjukkan stadium keparahan sikap berlebihan seseorang.  Meminjam pesan moral sebuah iklan yang berbunyi “Mau Eksis, Jangan Lebay, Pliss”, setidaknya bisa menjadi rambu-rambu bagi para ABG dalam bergaul. Cari perhatian adalah sesuatu yang wajar-wajar saja.  Menulis status update yang menarik dan heroik, boleh-boleh saja. Membanggakan diri dan prestasi sendiri juga lumrah, asal tidak berlebihan dan merugikan orang lain.

>> Edisi ini adalah revisi dari tulisan sebelumnya dengan judul yang Jijay, Lebay dan Alay. Terima kasih atas masukan para pembaca sekalian. <<

Selasa, 20 April 2010

Baju Bodo, Baju Tokko, Pakaian Adat Bugis Makassar; Sejarah dan Aturan Pakainya

Standard





Tahukah anda? Baju Bodo, busana dengan potongan simetris sederhana, dengan efek menggelembung dan longgar, berasal dari etnis Sulawesi Selatan ini, ternyata salah satu busana tertua di dunia. Dalam Festival Busana Nusantara 2007 di Kuta - Bali, perancang busana kenamaan Oscar Lawalata menegaskan "Baju bodo itu adalah salah satu baju tertua di dunia. Dan dunia internasional belum mengetahuinya,".

Baju Bodo sudah dikenal masyarakat Sulawesi Selatan pada pertengahan abad IX (pen), hal ini diperkuat dari sejarah kainMuslin, kain yang digunakan sebagai bahan dasar baju bodo itu sendiri. Kain Muslin adalah lembaran kain hasil tenunan dari pilinan kapas yang dijalin dengan benang katun. Memiliki rongga dan kerapatan benang yang renggang menjadikan kain Muslin sangat cocok untuk daerah tropis dan daerah beriklim kering.

Kain Muslin (Eropa) atau Maisolos (Yunani Kuno), Masalia (India Timur) dan Ruhm (Arab), tercatat pertama kali dibuat dan diperdagangkan di kota Dhaka, Bangladesh, hal ini merujuk pada catatan seoraang pedagang Arab bernama Sulaiman pada Abad IX [1]. Sementara Marco Polo pada tahun 1298 Masehi dalam bukunya The Travel of Marco Polo  menggambarkan kain muslin itu dibuat di Mosul, (Irak) dan dijual oleh pedagang yang disebut "Musolini".[2]  Uniknya, masyarakat Sulawesi Selatan lebih dulu mengenal dan mengenakan jenis kain ini dibanding masyarakat Eropa, yang baru mengenalnya para XVII dan baru popular di Prancis pada abad XVIII.

Dalam perkembangan berikutnya, kain muslin juga digunakan untuk kain kasa/perban dalam dunia kedokteran, bahan layar dalam dunia pelayaran, juga dipergunakan dalam dunia pertunjukan, sinematografi, fotografi sebagai latar atau alat bantu penimbul efek cahaya. Didaratan Eropa, kain muslin juga dipakai sebagai lapisan kain selimut serta lapisan gaun para bangsawan Eropa.

KENAPA DISEBUT WAJU TOKKO
Pada awal munculnya, baju tokko tidaklah lebih dari baju tipis dan longgar sebagaimana karakter kain Muslin. Tampilannya masih transparan sehingga masih menampakkan payudara, pusar dan lekuk tubuh pemakainya. Hal ini diperkuat oleh James Brooke dalam bukunya Narrative of Events, sebagaimna dikutip Christian Pelras dalam Manusia Bugis, mengatakan ;

    "Perempuan [Bugis] mengenakan pakaian sederhana... Sehelai sarung [menutupi pinggang] hingga kaki dan baju tipis longgar dari kain muslin (kasa), memperlihatkan payudara dan leluk-lekuk dada."


Meski dia awal abad 19, Don Lopez comte de Paris, seorang pembantu setia Gubernur Jenderal Deandels telah memperkenalkan penutup dada yang dalam bahasa Indonesia disebut “Kutang”[3], pada perempuan Jawa, namun sayang kutang ini belum popular di Tanah Bugis. Sehingga tidak janggal  jika pada tahun 1930-an, masih banyak ditemui perempuan Bugis memakain Baju Tokko tanpa memakai penutup dada.

Sejatinya, dalam adat Bugis, setiap warna baju Tokko yang dipakai oleh perempuan Bugis menunjukkan usia serta martabat pemakainya. Kata “Waju Tokko”, menurut beberapa pau-pau rikadoan[4] berasal dari kata “pokko”, hal ini menilik pada bentuk baju tersebut yang berbentuk baju kurung tanpa jahitan, bagian bawah terbuka, bagian atas berlubang seukuran kepala tanpa kerah. Bagian depan tidak memiliki kancing atau perekat lainnya, pada ujung atas sebelah kiri dan kanan dibuat lubang selebar satu jengkal. Lubang tersebut berfungsi sebagai lubang keluar masuknya lengan. Atas dasar inilah maka baju ini kemudian disebut sebagai baju pokko, baju yang tidak memiliki lengan. Pada perkembengan berikutnya kata pokko berubah menjadi tokko. Penulis tidak menyetujui anggapan ini, pelafazan kata pokko (Buntung) dengan huruf vocal “O” yang lebih panjang sehingga berbunyi “pokkooo”. Sangat berbeda dengan pelafazan kata tokko dengan vocal “O” yang pendek yakni tokko. Di Makassar, kata tokko disebut-sebut berasal dari kata ni tokko (diberi kanji). Hal ini mengingat salaha satu model perawatan baju tokko,  dicuci dan dibaluri dengan tepung kanji. Pada kenyataannya, memang susah membedakan antara Baju Tokko Bugis dan Makassar, mungkin memang tak ada perbedaan, dikarenakan eratnya budaya kekerabatan Suku Bugis dan Suku Makassar, dua suku besar yang mendiami daratan Sulawesi Selatan menjadikan banyak pihak tidak mampu memisahkan produk-produk budaya masing-masing suku. Selain mirip, kedua suku ini juga memiliki asal-usul yang sama sebagaimana diceritakan dalam Epos Lagaligo, yakni berasal dari To Manurung (sosok yang turun dari langit).
Dara Manis Berbaju Bodo // Koleksi Pribadi
Dalam versi lain, disebutkan kata tokko berasal dari kata takku, kata takku sendiri adalah ungkapan untuk menyatakan starata sosial bangsawan. Hal ini menilik pada kata Maddara Takku, yang menunjukkan seseorang yang memiliki darah keturunan bangsawan. Secara harafiah, waju tokko bisa diartikan sebagai baju untuk kaum bangsawan. Jika, kata tokko adalah hasil perubahan dari pelafazan kata takku, maka penulis menduga hal tersebut cukup mendekati kebenaran.

Pelafazan kata takku dan tokko tidaklah jauh berbeda, meski huruf “A dan U” berubah menjadi “O”. Anggapan penulis ini, didukung juga dengan aturan pemakaian baju tokko yang hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan. Aturan dan latar belakang aturan tersebut akan dibahas pada bagian akhir tulisan ini. Selain itu, bahan untuk membuat baju tokko dari serat sutera alam, membuat baju ini tidak mungkin digunakan oleh rakyat biasa, mengingat bahan tersebut sangatlah mahal pada jamannya, bahkan hingga saat ini. Ini berbeda dengan baju tokko yang ada saat ini yang tidak lagi menggunakan serat sutera, melainkan serat kain katun, atau sutera sintetis.

Secara harafiah baju tokko dapat diartikan sebagai baju yang mengambarkan derajat atau status darah yang memakainya. Atas dasar inilah, maka baju bodo hanya boleh digunakan oleh kaum bangsawan. Kapankah baju bodo ini dibuat ?. Inilah yang mungkin perlu penelusuran lebih dalam. Hingga saat ini penulis belum menemukan literatur tentang hal tersebut.

WARNA DAN ATURAN PAKAI BAJU TOKKO.

Baju tokko, diawal kemunculannya hanya menggunakan warna tertentu, melalui proses pewarnaan warna alam. Seperti Warna Kuning Gading dari Tanaman Kunyit (Bugis : Ongnyi, Latin : Curcuma domestica ) dan Temulawak ( Bugis : Temmu, Latin: Curcuma xanthorrhiza), Jingga dari Bua Gore’[5], Merah darah dari Akar Pohon Mengkudu (Bugis ; Lase’ Tedong Senngi, Latin : Morinda citrifolia)  dan daun pohon Jati (Bugis ; Jati, Latin : Tectona grandis), warna biru dari tanaman Indigofera (Bugis :Oca-oca pakkampi, Latin : Genus Indigofera). Selain itu masih adalagi warna hitam, lebih tepatnya warna abu-abu, bukan warna hitam seperti yang ada saat ini. Warna ini diperoleh dari arang hasil pembakaran antara jerami padi (Bugis : Darame Ase, Latin : Oryza sativa), mayang kelapa (Bugis :Majang Kaluku, Latin : Cocos nucifera L) dan tempurung bakal buah lontar (Bugis : Bua Taa, Latin :Borassus flabellifer ). Agar tidak luntur, baju tokko yang telah diwarnai selanjutnya direndam dengan air Jeruk Nipis (Bugis : Lemo Kopasa, Latin : Citrus Aurantifolia Swingle). Sementara warna Ungu dari Tanaman daun kemummuu[6]. Penerapan warna  baju tokko  tersebut  dalam  kehidupan sehari-hari memiliki aturan seperti ;
  • Anak dibawah 10 tahun memakai Waju Tokko yang disebut Waju Pella-Pella, berwarna Kuning Gading. Disebut waju pella-pella (kupu-kupu), adalah sebagai pengambaran terhadap dunia anak kecil yang perlu keriangan. Warna kuning gading adalah analogi agar sang anak cepat matang dalam menghadapi tantangan hidup. Berasal dari kata maridi (kuning gading), yang jika ditulis dalam aksara lontara Bugis, bisa juga dibaca menjadi Mariddi, yang berarti matang.
  • Umur 10 s/d 14 tahun memakai Waju Tokko, berwarna jingga atau merah muda. Pemilihan warna Jingga dan merah muda dipilih karena warna ini adalah warna yang dianggap paling mendekati pada warna merah darah atau merah tua, warna yang dipakai oleh mereka yang sudah menikah. Selain itu, warna merah muda yang dalam bahasa Bugis disebut Bakko, adalah representasi dari kata Bakkaa, yang berarti setengah matang.
  • Umur 14 s/d 17 tahun, masih memakai Waju Tokko berwarna jingga atau merah muda, tapi dibuat berlapis bersusun dua, hal ini dikarenakan sang gadis sudah mulai tumbuh payudaranya. Juga dipakai oleh mereka yang sudah menikah tapi belum memiliki anak.
  • Umur 17 s/d 25 tahun, Warna merah darah, berlapis dan bersusun. Dipakai oleh perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak, berasal dari filosofi, bahwa sang perempuan tadi dianggap sudah mengeluarkan darah dari rahimnya yang berwarna merah tua/merah darah.
  • Umur 25 s/d 40 tahun, memakai Waju Tokko warna hitam.

Seperti diutarakan diatas, adanya perbedaan dalam starata ke-bangsawan-an menjadikan adanya aturan pemakaian baju tokko tersebut. Maka dikenallah Wari (sistem protokoler kerajaan) dan Adeq(adat istiadat) yang mengatur cara penggunaan dan baju tokko tadi. Dalam hal warna masih ada aturan lain, yakni :
  • Baju Tokko berwarna putih digunakan oleh para inang/pengasuh raja atau para dukun atau bissu. Para bissu memiliki titisan darah berwarna putih, inilah yang mengantarkan mereka mampu menjadi penghubung Botting Langi (khayangan), peretiwi (dunia nyata), dan ale kawa (dunia roh). Mereka dipercaya tidak memiliki alat kelamin, sehingga terlepas dari kepentingan syahwat. Dalam kepercayaan Bugis tradisional, Air susu ibu kandung sang putra Mahkota (permaisuri) dianggap aib untuk dikeluarkan. Air susu yang keluar dari tubuh sang ibu tidaklah berbeda dengan darah yang keluar bersama ari-ari yang keluar saat melahirkan. Untuk memenuhi asupan bagi sang bayi (putra mahkota), maka dipilihlah seseorang untuk menjadi indo pasusu (inang) bagi sang putra mahkota. Indo pasusu yang diangkat biasanya tidak memiliki pertalian darah dengan sang putra mahkota. Sehingga air susunya dianggap suci, sesungguhnya seorang indo pasusu memiliki posisi yang sangat terhormat dalam starata sosial Bugis. Berbeda dengan anggapan orang bugis saat ini yang menganggap seorang indo pasusu tidak lebih dari seorang ata (budak).
  • Para bangsawan dan keturunannya yang dalam bahasa Bugis disebut maddara takku (berdarah bangsawan), adalah alasan kenapa Baju Tokko warna hijau hanya boleh dipakai oleh para putri-putri raja. Warna hijau, dalam bahasa Bugis disebut Kudara¸ berasal dari kata na-takku dara-na. Ungkapan ini kemudian berubah menjadi Ku-dara, secara harafiah dapat diartikan bahwa mereka yang memakai baju bodo warna kudara, adalah mereka yang menjunjung tinggi harkat kebangsawanannya.
  • Pemakaian warna Ungu (kemummu) oleh para janda, menilik pada arti ganda dari kata kemumummu itu sendiri. Selain diartikan warna ungu, juga dapat diartikan lebamnya bagian tubuh yang terkena pukulan atau benturan benda keras. Disinilah muncul anggapan bahwa bibir vagina sang janda tidaklah lagi berwarna merah, melainkan cenderung berwarna ungu. Selain itu, anggapan bahwa seorang janda sebelumnya sudah dipakai atau dijamah (majemmu) oleh mantan suaminya. Kata jemmu ini kemudian dipersonifikasikan dengan kata kemummmu. Adalah alasan kenapa warna kemummu diperuntukkan untuk janda. Dalam pranata sosial masyarakat Bugis jaman dahulu, menikah dengan seorang janda, adalah sebuah aib.
Modifikasi Baju Bodo
Foto : Koleksi Dina Syarif

WAJU TOKKO DAN AGAMA ISLAM

Kata Baju Tokko dan Baju Bodo, adalah dua nama berbeda untuk merujuk pada Baju Adat Perempuan Bugis-Makassar Sulawesi Selatan. Sama halnya dengan kata Tokko yang berarti Pendek, kata Bodo dalam bahasa Makassar juga berarti pendek. Sebagaimana disinggun pada awal tulisan ini, kata tersebut dipakai karena merujuk pada model lengan baju itu sendiri yang sangat pendek, bahkan bisa dikatakan tidak berlengan sama sekali. Dalam perkembangan kata Baju Bodo lebih cepat, lebih mudah diserap dan lebih mudah diucapkan oleh orang kebanyakan, sehingga dalam khasanah Budaya Indonesia kata Baju Bodo lebih dikenal dibanding dengan kata Baju Tokko. Lalu, bagaimana persinggungan antar Baju tokko yang pendek dan tipis dengan konsep menutup aurat dalam agama Islam?

Meski ajaran agama Islam mulai menyebar dan dipelajari masyarakat di Sulawesi sejak Abad ke-V, namun secara resmi baru diterima sebagai agama kerajaan pada abad XVII. Akultarasi ajaran Islam dengan kebudayaan lokal Bugis selanjutnya bermuara pada ditetapkan 4 (empat) tatanan kehidupan bermasyarakat yakni Ade’ (Adat istiadat), Rapang (Pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan), Wari’ (Sitem protokoler kerajaan), dan Bicara (Sistem hukum). Kemudian bertambah satu sendi lagi, yakni Sara’ (syariah Islam) setelah Islam resmi diterima sebagai agama kerajaan.
Pergerakan  DII/TII di Sulawesi juga berpengaruh besar pada perkembangan baju bodo saat itu. Ketatnya larangan kegiatan dan pesta adat oleh DII/TII, membuat baju bodo menjadi asing dikalangan masyarakat Sulawesi Selatan.

Larangan ini muncul mengingat penerapan syariat islam yang diusung oleh pergeraka DII/TII. Tak pelak, pelarangan ini menjadi isu besar dikalangan para pelaku adat dan agamawan. Dalam ajaran agama Islam ditegaskan bahwa, pakaian yang dibenarkan adalah pakaian yang menutup aurat, tidak menampakkan lekuk tubuh dan rona kulit selain telapak tangan dan wajah. Kontroversi ini kemudian disikapi bijak oleh kerajaan Gowa, hingga muncullah modifikasi baju bodo yang dikenal Baju Labbu (serupa dengan baju bodo, tetapi lebih tebal, gombrang, panjang hingga lutut). Perlahan, baju tokko yang semula tipis berubah menjadi lebih tebal dan terkesan kaku. Jika pada awalnya memakai kain muslin (kain sejenis kasa), berikutnya baju bodo dibuat dengan bahan benang sutera.

Bagi golongan agamawan, adanya baju labbu ini adalah solusi terbaik, tidak melanggar hukum Islam dan juga tidak menghilangkan nilai adat. Bagi golongan adat, hal ini dianggap sebagai pelanggaran nilai-nilai warisan leluhur. Tentu tidak ada yang benar juga tidak ada yang salah. Yang patut digaris bawahi, bukankah pakaian adat adalah hasil konstruksi  manusia sesuai dengan jamannya masing. Maka, saat bermunculan baju ­bodo dengan berbagai model dan variasi, seperti yang terjadi saat ini, itulah bentuk konstruksi manusia Bugis-Makassar saat ini. Kombinasi dan variasi baju bodo yang ada saat ini, terbukti mampu diterima oleh berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Baju bodo tidak lagi sekedar pakaian adat, melainkan dapat dipakai diacara resmi, bahkan busana kerja. Selamat berbajubodo, baju bodo sederajat dengan baju kebaya, dua-duanya adalah busana asli Indonesia, busana Nasional.


DAFTAR PUSTAKA
  1. Abdullah, Hamid, 1985, Manusia Bugis Makassar, Suatu tinjauan Historis terhadap pola tingkah laku dan pandangan hidup manusia Bugis – Makassar, Jakarta, Intidayu Press
  2. Aminah, P.Hamzah, 1984, Monografi Kebudayaan Sulawesi Selatan, Ujung Pandang, Proyek PEMDA TK.I Sul-Sel
  3. Andi Nurnaga, N, Dra., 2003, Adat Istiadat Pernikahan Masyarakat Bugis-Makassar, Telaga Zamsam Makassar
  4. Andi Zainal Abidin, Prof. Dr., 1999, Capita Selecta Kebudayaan Sul-Sel, Makassar, UNHAS Press
  5. Anwar, Idwar., 2007, Ensiklopedi Kebudayaan Luwu, Makassar, Komunitas Kampung Sawerigading
  6. Lamallongeng, Asmat Riady., 2007, Dinamika Perkawinan Adat dalam Masyarakat Bugis Bone, Bone, Penanggung Jawab Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kab. Bone.
  7. Latif, Halilintar, 2005, Kepercayaan Asli Bugis di Sulawesi Selatan, sebuh kajian antropologi Budaya. Laporan Penelitian Desertasi, tidak dipublikasikan
  8. Mame, A. Rahim, ___, Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Sul-Sel, Ujung Pandang, Proyek dan Pencatatan Kebudayaan Daerah
  9. Mappangara, Suriadi., 2006, Glosarium Sulawesi Selatan dan Barat, Ujung Pandang, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang.
  10. Mattulada, 1976, Agama Islam di Sulawesi Selatan, Ujung Pandang, Fak. Sastra UNHAS
  11. Mukhlis (Ed.), 1986,  Dinamika Bugis Makassar, Ujung Pandang, PLPIIS-YIIS
  12. Nonci, S.Pd, 2002, Upacara Adat Istiadat Masyarakat Bugis, Makassar, Telaga Zamsam Makassar
  13. Pelras, Christian., 2006, Manusia Bugis, Jakarta, Nalar,
  14. Said DM, M. Ide., 1977, Kamus Bahasa Bugis – Indonesia, Jakarta, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa DEPDIKBUD
  15. Sani, M.Yamin., dkk., 1990, Bicaranna Mula Timpaengngi Sidenreng Najaji Engka Wanua Ri Sidenreng, Asal-usul “Kerajaan” Sidenreng dan Sistem Pemerintahannya, Ujung Pandang, Proyek Departemen P & K, Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.
  16. Syamsuddin Arifin., Kol, S.Pd., 2003, Beberapa Istilah Bugis dan Pengertiannya, tidak dipublikasikan

CATATAN KAKI :

[1] Ahmad, S. (Juli-September 2005), "Rise and Decline Ekonomi Bengal", Asian Affairs 27 (3): 5-26

[2] The Travels of Marco Polo: The Complete Yule-Cordier Edition Oleh Marco Polo, Sir Henry Yule, Henri Cordier, 1993.

[3] Bahasa Prancis yang berarti Bagian Berharga

[4] Sejenis cerita dan informasi turun temurun dalam adat Bugis yang tidak jelas asal-usulnya.

[5] Nama Bugis, tanaman perdu setinggi 50-60 Cm, bercabang merambat mirip Melati, dengan buah sebesar buah kedongong, mulus dan berwarna merah. Hingga tulisan ini diturunkan, penulis belum menemukan nama Indonesia dan nama latinnya.

[6] Nama Bugis, tanaman berbatang setinggi 2-3 Meter, bercabang, kulit pohon warna Putih, dengan daun berwarna Ungu. Hingga tulisan ini diturunkan, penulis belum menemukan nama Indonesia dan nama latinnya.

Rabu, 31 Maret 2010

MENGENANG PASAR "MALING" YOGYAKARTA

Standard
Mengenang Pasar “Maling” Yogyakarta

Tidak seperti biasanya, selepas menjemput istri dari tempat kerjanya. Malam ini kami tidak melewati jalan “kebesaran” kami, jalan yang selalu kami lewati tiap malam. Seraya mengenang masa-masa pengantin baru kami, kami sepakat melewati jalan Malioboro. Nostalgia, mungkin itu kata yang tepat untuk mewakili perasaan kami.

Sebelum memasuki kawasan Malioboro, terlebih dahulu kami melewati Jalan Mangkubumi, di sebelah utara jalan Malioboro. Terasa ada yang beda, 2 tahun yang lalu sepanjang jalan ini penuh dengan pedangang-pedagang barang bekas berkualitas. Pasar ini hanya buka pada malam hari. Pasar Klitikan, itulah nama pasar ini. Sebuah pasar unik, model kaki lima, pasar yang saat ini telah memiliki bangunan permanent di bilangan kampung Kuncen, sisi barat kota Yogyakarta.

Kini pasar Klitikan telah tiada dan tinggal kenangan, demi mengobati rasa rindu akan pasar klitikan Jl. Mangkubumi Yog.yakarta. Setiba dirumah, saya buka kembali sebuah tulisan yang asik dan sangat menarik. Sebuah tulisan reportase, karya sahabat saya Alief Sappewali.

Judul Asli  : Jalan-jalan ke Pasar “Maling”, Yogyakarta (1)
Harga “Miring”, Transaksi Berlangsung Cepat
Dimuat di Harian Fajar Makassar, 13 April 2007

Yogyakarta tak hanya memiliki Malioboro, kawasan pertokoan yang banyak menjual makanan, minuman, dan pernak-pernik khas kota  pendidikan itu. Namun, di daerah yang terkenal dengan budayanya itu, ada pasar Klitikan yang selalu membuat penasaran para pendatang.

“Ayo pak, ayo pak. Silahkan pilih barangnya. Ada  HP (telepon seluler), tas, sepatu, jam tangan,” celoteh para pedagan di Pasar Klitikan, Rabu 11 April, malam.
“Kacamata murah pak. Celana jeans dan kaos murah. Silahkan pak,” sahut pedagang lain.

Klitikan adalah salah satu keunikan kota Yogyakarta. Tidak jelas, siapa yang pertama kali memberi nama pasar itu. Dalam bahasa Yogya, klitikan kurang lebih berarti barang bekas yang sudah terpisah-pisah. Misalnya, sepeda motor, yang ada disana tidak utuh. Tapi, dijual dalam bentuk kaca spion, shock breaker, pedal rem, dan klakson.

Pasar klitikan berlokasi di pelataran pertokoan di sepanjang Jl Pangeran Mangkubumi hingga Jl Malioboro. Panjang lokasi sekitar dua kilometer.

Selain barang-barang yang disebut di atas, pengunjung juga bisa menjumpai barang lain seperti jaket, topi, hingga aneka jenis makanan.

Semua barang ditawarkan dengan harga “miring” alias super murah. Beberapa jenis barang ditawarkan memang barang tiruan atau merek palsu. Ini terlihat antara lain pada jeans dan sepatu. Tapi, tak sedikit juga barang asli, tetapi dijual dengan harga miring.

HP Merek Nokia, misalnya, ada yang harganya Rp 200 ribu. Merk lain bahkan ditawarkan lebih rendah dari itu atau kurang dari Rp 200 ribu. Nyaris tidak ada yang berharga diatas Rp 1 juta. Nokia seri 3660 second yang dipasar umum masih dihargai sekitar Rp 1 juta, di Klitikan harganya tak lebih dari Rp 600rb.

“Di sini transaksi berlangsung cepat. Kalau suka barang, langsung ambil. Untuk menjual HP pun tidak sulit. Biasanya orang yang butuh uang tidak menawarkan harga tinggi kepada pedagang,” kata Suryadin Laoddang, mahasiswa Wajo, Sulsel.

Pasar seperti ini sebenarnya juga ada di Makassar, tepatnya di Jalan Veteran Utara. Di sini, aneka jenis barang bekas pakai atau barang merek tiruan juga ditawarkan di pelataran toko. Bedanya, pedagang di Veteran Utara sedikit. Pegunjung juga tidak begitu ramai. Bedanya lagi, pasar Veteran beroperasi di siang hari.

Di Klitikan, pendatang tidak perlu tergesa-gesa untuk berbelanja atau sekedar melihat-lihat lokasi itu. Jika sebagian besar pertokoan di Yogyakarta tutup tepat jama 21.00 WIB, maka sebagian pedagang Klitikan bertahan hingga dinihari.

Tapi, pengunjung mesti berhati-hati berbelanja disana. “Transaksi berlangsung sangat cepat. Tapi, kita juga bisa kehilangan barang berharga juga dengan sangat cepat. Makanya, dompet atau tas ransel harus berada di depan,” kata Suryadin, mengingatkan.

Imej buruk memang melekat pada Pasar Klitikan. Beberapa jenis barang yang ditawarkan ini diduga hasil kejahatan. Terutama barang-barang elektronik, seperti HP.

Konon, ini pulalah yang membuat harganya sangat murah. Sampai-sampai ada yang menyebut pasar ini sebagai “Pasar Maling”.

Yang pasti, barang-barang itu dipajang di ruang terbuka. Pantauan Fajar, sebagian besar HP yang ditawarkan memang keluaran lama, contohnya Ericsson R310s, Nokia 5510, dan beberapa jenis merek Siemens.

Tapi, hati-hati membeli ponsel ditempat ini. Seorang teman mahasiswa asal Sulsel yang sudah lama berada di Yogya, sempat mengingatkan bahwa jika orang membeli ponsel di tempat ini, maka lambat lain, kita juga akan kecurian. Tidak cukup 2x24 jam, peringatan itu terbukti.

Seorang teman wartawan yang membeli ponsel CDMA, Rabu malam. Besoknya, pakaian yang baru saja dibeli untuk oleh-oleh, ketinggalan di angkot (pete-pete) saat dalam perjalanan dari Bandara Hasanuddin menuju kediamannya.

Rekan tadi langsung mengabarkan peristiwa itu yang terasa seperti karma. “Ini pelajaran berharga. Lebih baik pikirkan berkali-kali deh jika ingin membeli sesuatu di Klitikan. Kami berharap, ponsel itu bukan kejahatan,” katanya.

Di antara puluhan pedangang HP di klitikan, ada seorang pemuda asal Sulsel. Namanya, Junar, 27, dan akrab disapa Jomblo. Pria asal Manimpahoi, Kabupaten Sinjai, ini sudah delapan tahun tinggal di Yogya. Tapi, baru tiga tahun mangkal di Klitikan. Ia alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang diwisuda bulan lalu.

Pasar Klitikan Mangkubumi kini tinggal kenangan. Pemerintah Kota Yogyakarta, sukses merelokasinya ke lokasi baru, lebih tertata, bahkan bisa dikatakan buka 24 jam. Pasar unik ini, kini telah pindah ke daerah Pakuncen (Jl HOS Cokroaminoto) Yogyakarta, dan berganti nama menjadi Pasar Klitikan Pakuncen. 

KETIKA MUSUH BERUBAH MENJADI SAUDARA

Standard

KOMUNITAS GOLOGAN DARAH AB
Ketika Musuh Berubah Menjadi Saudara
Oleh : Defri Werdiono

Barangkali tidak pernah terlintas di benak Suryadin Laoddang, jika permusuhannya dengan Ardi sewaktu masih remaja akan berubah menjadi teman, bahkan saudara. Boleh dibilang, darah Suryadin kini telah lebur di dalam tubuh bekas musuhnya.

Minggu (24/5) siang, pria asal Wajo, Sulawesi Selatan, itu menuturkan kisah hidupnya. Pada tahun 1992, ketika masih di sekolah menengah pertama, Suryadin (29) duduk di bangku kelas III-2, sedangkan Ardi di kelas III-1 pada sekolah yang sama.

“Dia menjadi pemimpin ‘begundal’ di kelas III-1, sedangkan saya pimpinan ‘begundal’ di kelas III-2’. Akan tetapi saya selalu kalah” ujarnya sambil tertawa. Perbincangan melalui telepon terasa kian menarik ketika Suryadin yang kini bekerja di Politeknik Kesehatan Permata Indonesia Yogyakarta mengaku tidak canggung untuk berbagi cerita.

Perseteruan tersebut, tuturnya, berlanjut hingga sekolah menengah atas, meski keduanya tidak satu sekolah lagi. Mereka baru benar-benar berpisah setelah keluar dari SMA. Sang teman melanjutkan ke Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (yang kini berubah menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri/IPDN), sedangkan Suryadin kuliah di Yogyakarta.

Saat masih di IPDN, suatu hari berwisata ke Yogyakarta. Ketika berada dikota Gudeg itulah peristiwa kurang menyenangkan terjadi. Ardi mengalami kecelakaan dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Saat itulah persoalan muncul, Ardi yang memiliki golongan darah AB harus mencari darah serupa. Maklum, dari empat golongan darah yang ada, A, B, O, dan AB, hanya golongan darah terakhir yang paling langka. Ardi mencari bantuan darah. Sejumlah teman-teman dihubungi, anak-anak Sulawesi yang ada di asrama.

“Kebetulan darah saya sama, AB, dan dengan tulus siap membantu. Saya sendiri tidak tahu siapa yang membutuhkan, sampai tiba dirumah sakit. Saat transfuse itulah saya baru tahu bahwa itu dia,” tutur Suryadin.

Setahun setelah kecelakaan, kedua lawan yang menjadi kawan ini pun kembali ke Sulawesi. Saat itulah, hasil penelusuran pihak keluarga akhirnya diketahui keduanya ternyata masih memiliki hubungan sepupu jauh. Ardi sendiri berprofesi menjadi lurah di kampung halamannya.

Mendengar kisah keduanya, bukan hanya pertemuan itu yang menarik. Namun ada hikmah yang bisa dipetik dari kasus itu. Data keberadaan pemilik golongan darah sangat berguna bagi siapa saja, bahkan mereka yang mungkin bermusuhan.

Imam Maulana, Ketua Komunitas AB – sebuah komunitas berisi orang-orang yang memiliki golongan darah AB – mengatakan dari 100 orang, hanya ada satu yang memiliki golongan darah AB. Apalagi, AB dengan rhesus negative jumlahnya sangat sedikit.

“Karena itulah kami membentuk komunitas. Tujuannya untuk mempermudah jika ada orang yang memerlukan darah kami.” Ujar Imam di sela-sela ulang tahun pertama Komunitas AB di gedung Bank BNI, Yogyakarta.

Hingga kini telah ada sekitar 350 orang yang bergabung dalam komunitas ini. Mereka berasal dari sejumlah kota, seperti Jakarta, Purworejo, Kebumen, Klaten, Yogyakarta dan Jepara. Para anggota juga siap dihubungi apabila ada orang yang membutuhkan.

Ada sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas AB. Salah satunya menyosialisasikan kepada masyarakat akan pentingya golongan darah AB. Dengan begitu, mereka yang memerlukan tidak harus bekerja keras untuk mencarinya.

Sumber  : Kompas Yogyakarta, Senin, 25 Mei 2009

Senin, 29 Maret 2010

DI TANAH JAWA MEREKA IKUT BERJUANG

Standard
MENGETAHUI ada darah Bugis-Makassar mengalir dalam tubuh Wahidin Soedirohoesodo (1852-1917), Adin mengaku kaget bercampur bangga. Pada satu senja, di kompleks Pemakaman Mlati, Sleman, Yogyakarta, lelaki Bugis-Makassar yang menikahi perempuan asal Jepara ini pun bersimpuh di sisi makam pahlawan nasional penggagas kelahiran Budi Utomo tersebut.

Semula Adin—nama lengkapnya Suryadin Laoddang—tak percaya pada fakta baru yang ia terima. Bukankah dalam sejarah resmi yang ditulis selama ini disebutkan bahwa dokter Wahidin Soedirohoesodo adalah priyayi Jawa? Potret sang tokoh pun selalu ditampilkan dalam busana lelaki ningrat Jawa, lengkap dengan blankon di kepalanya.

Akan tetapi, melalui pendekatan genealogis diketahui bahwa tokoh pergerakan nasional tersebut ternyata masih keturunan Karaeng Daeng Naba. Bangsawan Bugis-Makassar ini mengembara ke Jawa setelah Kerajaan Gowa takluk pada Kompeni-Belanda tahun 1669. Di Jawa, Daeng Naba terlibat dalam intrik perebutan kekuasaan di pusar tanah Jawa (baca: Mataram), di mana Trunajaya tampil sebagai tokoh antagonisnya.
 
Atas jasa Daeng Naba yang ikut membantu Amangkurat II meredam pemberontakan Trunajaya (1670-1679), ia dinikahkan oleh sang penguasa Mataram dengan putri Tumenggung Sontoyodo II. Selain itu, ia juga dihadiahi “tanah perdikan” yang sekarang berada di daerah Mlati, Sleman, Yogyakarta. Dari hasil perkawinan campuran itu, seabad kemudian lahir priyayi Jawa terkemuka bernama Mas Ngabehi Wahidin Soedirohoesodo.

Majalah PESAT edisi 6 Februari 1952 (Thn VIII, No 6:19) memuat ulasan tentang hal itu, di bawah sub-judul: “Siapakah dr Wahidin?”. Fakta sejarah ini juga muncul di Berita Kebudayaan edisi 28 November 1952. RAGI BUANA edisi Mei 1959 (Thn VI, No 64) yang mengutip keterangan yang pernah disampaikan dokter Radjiman Wediodiningrat (1879-1952)—pendiri Budi Utomo yang juga kerabat Wahidin—ikut memperkuat fakta sejarah tersebut.

Bahwa “Wahidin berdarah tjampuran suku Djawa dan Makassar, ialah keturunan DainKraing Nobo, seorang pradjurit jang dalam djaman Mataram membantu Sunan Amangkurat Tegal Arum melawan Trunodjojo...”

Kenyataan bahwa Wahidin bukanlah orang Jawa asli kian menggugah kesadaran kebangsaan Adin, betapa tipis sesungguhnya batas-batas etnisitas di negeri ini. “Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu kalau Wahidin—juga Radjiman Wediodiningrat—berdarah Bugis-Makassar,” ujarnya.

Masih di kompleks pemakaman yang sama, di luar cungkup utama yang sudah dibangun pemerintah setelah Wahidin Soedirohoesodo ditetapkan sebagai pahlawan nasional, Adin juga menyempatkan ziarah ke makam sang leluhur: Daeng Naba! Dua deret di depan makam Daeng Naba, 32 prajurit dari Gowa (tanpa nama) juga dimakamkan di sana.

Persekutuan

Sejarah mencatat, perang Trunajaya melawan Mataram dan Kompeni (1670-1679) juga melibatkan prajurit-prajurit Bugis-Makassar. Dua bangsawan dari Kerajaan Gowa-Tallo, Karaeng Galesong dan Daeng Naba, berada di dua kubu yang berbeda. Karaeng Galesong membantu Trunajaya, sedangkan Daeng Naba yang “menyusup” ke kesatuan Kompeni-Belanda menopang kekuatan Mataram.

Galesong yang bernama lengkap I Maninrori Karaeng Galesong adalah satu di antara sekian banyak bangsawan Bugis-Makassar yang pergi dari negerinya karena tidak puas atas penerapan Perjanjian Bongaya (1667), menyusul jatuhnya Benteng Somba Opu ke tangan Belanda. Semula ia mendarat di Banten, menyusul rekannya sesama bangsawan yang telah lebih dahulu tiba di sana, yakni Karaeng Bontomarannu.

Situasi genting di Banten memaksa Galesong dan Bontomarannu berlayar ke timur, ke daerah Jepara, kemudian menetap di Demung, tak jauh dari Surabaya sekarang. Bersama sekitar 2.000 pengikutnya, Galesong bersekutu dengan Trunajaya untuk berperang melawan Mataram. Persekutuan itu juga ditandai ikatan perkawinan antara Galesong dengan putri Trunajaya, Suratna, pada Desember 1675.

Ketika pemberontakan Trunajaya benar-benar berkobar, di bawah komando Galesong dan Bontomarannu, orang-orang Bugis-Makassar mulai menyerang dan membakar pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara bagian timur Jawa. Mataram kian terdesak. Bahkan dalam serbuan ke pedalaman, pusat kekuasaan Mataram di Plered sempat direbut Trunajaya.

Baru setelah campur tangan Belanda, pemberontakan Trunajaya bisa diredam. Salah satu tokoh kunci di balik keberhasilan Mataram mengakhiri pemberontakan Trunajaya adalah Karaeng Daeng Naba. Berkat usaha Daeng Naba membujuk Galesong—yang disebut sebagai adiknya—agar menghentikan perang dengan Mataram, pemberontakan Trunajaya akhirnya bisa ditumpas.

Drama sejarah ini berakhir tragis. Galesong yang mematuhi saran Daeng Naba dianggap berkhianat dan dibunuh oleh mertuanya, Trunajaya. Adapun Trunajaya akhirnya tewas di tangan Amangkurat II pada 1679.

Akan halnya Daeng Naba yang bernama lengkap I Manggaleng Karaeng Daeng Naba, putra I Manninori J Karetojeng, seterusnya dipercaya jadi bagian pasukan Mataram. Dengan kekuatan 2.500 kavaleri, laskar Daeng Naba yang terdiri atas orang-orang Bugis-Makassar tersebut menjadi pasukan inti Kerajaan Mataram ketika itu.

“Romantika kisah para leluhurku telah membuat aku semakin sadar bahwa perjuangan bangsaku telah melalui sejarah yang sangat panjang,” kata Adin.

Sejarah memang penuh romantika. Kehadiran orang-orang Bugis-Makassar di berbagai wilayah di Tanah Air, termasuk di tanah Jawa, tak bisa disangkal merupakan bagian dari sejarah perjalanan bangsa ini “menjadi Indonesia”. Benih-benih kebangsaan itu pun tumbuh seiring proses akulturasi budaya,
 
Semakin jelas bahwa bangsa besar ini lahir dari pergulatan antaretnis. Bila muncul klaim bahwa hanya golongan tertentu yang paling berjasa dalam proses bangsa ini “menjadi Indonesia”, tentu saja pandangan semacam itu sungguh menyesatkan...

==============================================

SUMBER : http://kenedinurhan.blogspot.com/2009/01/bugis-makassar_29.html


DI TANAH JAWA MEREKA IKUT BERJUANG

Oleh Kenedi Nurhan dan Mukhlis PaEni



dimuat di KOMPAS, Jumat, 16 Januari 2009