Rabu, 31 Maret 2010

MENGENANG PASAR "MALING" YOGYAKARTA

Standard
Mengenang Pasar “Maling” Yogyakarta

Tidak seperti biasanya, selepas menjemput istri dari tempat kerjanya. Malam ini kami tidak melewati jalan “kebesaran” kami, jalan yang selalu kami lewati tiap malam. Seraya mengenang masa-masa pengantin baru kami, kami sepakat melewati jalan Malioboro. Nostalgia, mungkin itu kata yang tepat untuk mewakili perasaan kami.

Sebelum memasuki kawasan Malioboro, terlebih dahulu kami melewati Jalan Mangkubumi, di sebelah utara jalan Malioboro. Terasa ada yang beda, 2 tahun yang lalu sepanjang jalan ini penuh dengan pedangang-pedagang barang bekas berkualitas. Pasar ini hanya buka pada malam hari. Pasar Klitikan, itulah nama pasar ini. Sebuah pasar unik, model kaki lima, pasar yang saat ini telah memiliki bangunan permanent di bilangan kampung Kuncen, sisi barat kota Yogyakarta.

Kini pasar Klitikan telah tiada dan tinggal kenangan, demi mengobati rasa rindu akan pasar klitikan Jl. Mangkubumi Yog.yakarta. Setiba dirumah, saya buka kembali sebuah tulisan yang asik dan sangat menarik. Sebuah tulisan reportase, karya sahabat saya Alief Sappewali.

Judul Asli  : Jalan-jalan ke Pasar “Maling”, Yogyakarta (1)
Harga “Miring”, Transaksi Berlangsung Cepat
Dimuat di Harian Fajar Makassar, 13 April 2007

Yogyakarta tak hanya memiliki Malioboro, kawasan pertokoan yang banyak menjual makanan, minuman, dan pernak-pernik khas kota  pendidikan itu. Namun, di daerah yang terkenal dengan budayanya itu, ada pasar Klitikan yang selalu membuat penasaran para pendatang.

“Ayo pak, ayo pak. Silahkan pilih barangnya. Ada  HP (telepon seluler), tas, sepatu, jam tangan,” celoteh para pedagan di Pasar Klitikan, Rabu 11 April, malam.
“Kacamata murah pak. Celana jeans dan kaos murah. Silahkan pak,” sahut pedagang lain.

Klitikan adalah salah satu keunikan kota Yogyakarta. Tidak jelas, siapa yang pertama kali memberi nama pasar itu. Dalam bahasa Yogya, klitikan kurang lebih berarti barang bekas yang sudah terpisah-pisah. Misalnya, sepeda motor, yang ada disana tidak utuh. Tapi, dijual dalam bentuk kaca spion, shock breaker, pedal rem, dan klakson.

Pasar klitikan berlokasi di pelataran pertokoan di sepanjang Jl Pangeran Mangkubumi hingga Jl Malioboro. Panjang lokasi sekitar dua kilometer.

Selain barang-barang yang disebut di atas, pengunjung juga bisa menjumpai barang lain seperti jaket, topi, hingga aneka jenis makanan.

Semua barang ditawarkan dengan harga “miring” alias super murah. Beberapa jenis barang ditawarkan memang barang tiruan atau merek palsu. Ini terlihat antara lain pada jeans dan sepatu. Tapi, tak sedikit juga barang asli, tetapi dijual dengan harga miring.

HP Merek Nokia, misalnya, ada yang harganya Rp 200 ribu. Merk lain bahkan ditawarkan lebih rendah dari itu atau kurang dari Rp 200 ribu. Nyaris tidak ada yang berharga diatas Rp 1 juta. Nokia seri 3660 second yang dipasar umum masih dihargai sekitar Rp 1 juta, di Klitikan harganya tak lebih dari Rp 600rb.

“Di sini transaksi berlangsung cepat. Kalau suka barang, langsung ambil. Untuk menjual HP pun tidak sulit. Biasanya orang yang butuh uang tidak menawarkan harga tinggi kepada pedagang,” kata Suryadin Laoddang, mahasiswa Wajo, Sulsel.

Pasar seperti ini sebenarnya juga ada di Makassar, tepatnya di Jalan Veteran Utara. Di sini, aneka jenis barang bekas pakai atau barang merek tiruan juga ditawarkan di pelataran toko. Bedanya, pedagang di Veteran Utara sedikit. Pegunjung juga tidak begitu ramai. Bedanya lagi, pasar Veteran beroperasi di siang hari.

Di Klitikan, pendatang tidak perlu tergesa-gesa untuk berbelanja atau sekedar melihat-lihat lokasi itu. Jika sebagian besar pertokoan di Yogyakarta tutup tepat jama 21.00 WIB, maka sebagian pedagang Klitikan bertahan hingga dinihari.

Tapi, pengunjung mesti berhati-hati berbelanja disana. “Transaksi berlangsung sangat cepat. Tapi, kita juga bisa kehilangan barang berharga juga dengan sangat cepat. Makanya, dompet atau tas ransel harus berada di depan,” kata Suryadin, mengingatkan.

Imej buruk memang melekat pada Pasar Klitikan. Beberapa jenis barang yang ditawarkan ini diduga hasil kejahatan. Terutama barang-barang elektronik, seperti HP.

Konon, ini pulalah yang membuat harganya sangat murah. Sampai-sampai ada yang menyebut pasar ini sebagai “Pasar Maling”.

Yang pasti, barang-barang itu dipajang di ruang terbuka. Pantauan Fajar, sebagian besar HP yang ditawarkan memang keluaran lama, contohnya Ericsson R310s, Nokia 5510, dan beberapa jenis merek Siemens.

Tapi, hati-hati membeli ponsel ditempat ini. Seorang teman mahasiswa asal Sulsel yang sudah lama berada di Yogya, sempat mengingatkan bahwa jika orang membeli ponsel di tempat ini, maka lambat lain, kita juga akan kecurian. Tidak cukup 2x24 jam, peringatan itu terbukti.

Seorang teman wartawan yang membeli ponsel CDMA, Rabu malam. Besoknya, pakaian yang baru saja dibeli untuk oleh-oleh, ketinggalan di angkot (pete-pete) saat dalam perjalanan dari Bandara Hasanuddin menuju kediamannya.

Rekan tadi langsung mengabarkan peristiwa itu yang terasa seperti karma. “Ini pelajaran berharga. Lebih baik pikirkan berkali-kali deh jika ingin membeli sesuatu di Klitikan. Kami berharap, ponsel itu bukan kejahatan,” katanya.

Di antara puluhan pedangang HP di klitikan, ada seorang pemuda asal Sulsel. Namanya, Junar, 27, dan akrab disapa Jomblo. Pria asal Manimpahoi, Kabupaten Sinjai, ini sudah delapan tahun tinggal di Yogya. Tapi, baru tiga tahun mangkal di Klitikan. Ia alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang diwisuda bulan lalu.

Pasar Klitikan Mangkubumi kini tinggal kenangan. Pemerintah Kota Yogyakarta, sukses merelokasinya ke lokasi baru, lebih tertata, bahkan bisa dikatakan buka 24 jam. Pasar unik ini, kini telah pindah ke daerah Pakuncen (Jl HOS Cokroaminoto) Yogyakarta, dan berganti nama menjadi Pasar Klitikan Pakuncen. 

KETIKA MUSUH BERUBAH MENJADI SAUDARA

Standard

KOMUNITAS GOLOGAN DARAH AB
Ketika Musuh Berubah Menjadi Saudara
Oleh : Defri Werdiono

Barangkali tidak pernah terlintas di benak Suryadin Laoddang, jika permusuhannya dengan Ardi sewaktu masih remaja akan berubah menjadi teman, bahkan saudara. Boleh dibilang, darah Suryadin kini telah lebur di dalam tubuh bekas musuhnya.

Minggu (24/5) siang, pria asal Wajo, Sulawesi Selatan, itu menuturkan kisah hidupnya. Pada tahun 1992, ketika masih di sekolah menengah pertama, Suryadin (29) duduk di bangku kelas III-2, sedangkan Ardi di kelas III-1 pada sekolah yang sama.

“Dia menjadi pemimpin ‘begundal’ di kelas III-1, sedangkan saya pimpinan ‘begundal’ di kelas III-2’. Akan tetapi saya selalu kalah” ujarnya sambil tertawa. Perbincangan melalui telepon terasa kian menarik ketika Suryadin yang kini bekerja di Politeknik Kesehatan Permata Indonesia Yogyakarta mengaku tidak canggung untuk berbagi cerita.

Perseteruan tersebut, tuturnya, berlanjut hingga sekolah menengah atas, meski keduanya tidak satu sekolah lagi. Mereka baru benar-benar berpisah setelah keluar dari SMA. Sang teman melanjutkan ke Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (yang kini berubah menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri/IPDN), sedangkan Suryadin kuliah di Yogyakarta.

Saat masih di IPDN, suatu hari berwisata ke Yogyakarta. Ketika berada dikota Gudeg itulah peristiwa kurang menyenangkan terjadi. Ardi mengalami kecelakaan dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Saat itulah persoalan muncul, Ardi yang memiliki golongan darah AB harus mencari darah serupa. Maklum, dari empat golongan darah yang ada, A, B, O, dan AB, hanya golongan darah terakhir yang paling langka. Ardi mencari bantuan darah. Sejumlah teman-teman dihubungi, anak-anak Sulawesi yang ada di asrama.

“Kebetulan darah saya sama, AB, dan dengan tulus siap membantu. Saya sendiri tidak tahu siapa yang membutuhkan, sampai tiba dirumah sakit. Saat transfuse itulah saya baru tahu bahwa itu dia,” tutur Suryadin.

Setahun setelah kecelakaan, kedua lawan yang menjadi kawan ini pun kembali ke Sulawesi. Saat itulah, hasil penelusuran pihak keluarga akhirnya diketahui keduanya ternyata masih memiliki hubungan sepupu jauh. Ardi sendiri berprofesi menjadi lurah di kampung halamannya.

Mendengar kisah keduanya, bukan hanya pertemuan itu yang menarik. Namun ada hikmah yang bisa dipetik dari kasus itu. Data keberadaan pemilik golongan darah sangat berguna bagi siapa saja, bahkan mereka yang mungkin bermusuhan.

Imam Maulana, Ketua Komunitas AB – sebuah komunitas berisi orang-orang yang memiliki golongan darah AB – mengatakan dari 100 orang, hanya ada satu yang memiliki golongan darah AB. Apalagi, AB dengan rhesus negative jumlahnya sangat sedikit.

“Karena itulah kami membentuk komunitas. Tujuannya untuk mempermudah jika ada orang yang memerlukan darah kami.” Ujar Imam di sela-sela ulang tahun pertama Komunitas AB di gedung Bank BNI, Yogyakarta.

Hingga kini telah ada sekitar 350 orang yang bergabung dalam komunitas ini. Mereka berasal dari sejumlah kota, seperti Jakarta, Purworejo, Kebumen, Klaten, Yogyakarta dan Jepara. Para anggota juga siap dihubungi apabila ada orang yang membutuhkan.

Ada sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas AB. Salah satunya menyosialisasikan kepada masyarakat akan pentingya golongan darah AB. Dengan begitu, mereka yang memerlukan tidak harus bekerja keras untuk mencarinya.

Sumber  : Kompas Yogyakarta, Senin, 25 Mei 2009

Senin, 29 Maret 2010

DI TANAH JAWA MEREKA IKUT BERJUANG

Standard
MENGETAHUI ada darah Bugis-Makassar mengalir dalam tubuh Wahidin Soedirohoesodo (1852-1917), Adin mengaku kaget bercampur bangga. Pada satu senja, di kompleks Pemakaman Mlati, Sleman, Yogyakarta, lelaki Bugis-Makassar yang menikahi perempuan asal Jepara ini pun bersimpuh di sisi makam pahlawan nasional penggagas kelahiran Budi Utomo tersebut.

Semula Adin—nama lengkapnya Suryadin Laoddang—tak percaya pada fakta baru yang ia terima. Bukankah dalam sejarah resmi yang ditulis selama ini disebutkan bahwa dokter Wahidin Soedirohoesodo adalah priyayi Jawa? Potret sang tokoh pun selalu ditampilkan dalam busana lelaki ningrat Jawa, lengkap dengan blankon di kepalanya.

Akan tetapi, melalui pendekatan genealogis diketahui bahwa tokoh pergerakan nasional tersebut ternyata masih keturunan Karaeng Daeng Naba. Bangsawan Bugis-Makassar ini mengembara ke Jawa setelah Kerajaan Gowa takluk pada Kompeni-Belanda tahun 1669. Di Jawa, Daeng Naba terlibat dalam intrik perebutan kekuasaan di pusar tanah Jawa (baca: Mataram), di mana Trunajaya tampil sebagai tokoh antagonisnya.
 
Atas jasa Daeng Naba yang ikut membantu Amangkurat II meredam pemberontakan Trunajaya (1670-1679), ia dinikahkan oleh sang penguasa Mataram dengan putri Tumenggung Sontoyodo II. Selain itu, ia juga dihadiahi “tanah perdikan” yang sekarang berada di daerah Mlati, Sleman, Yogyakarta. Dari hasil perkawinan campuran itu, seabad kemudian lahir priyayi Jawa terkemuka bernama Mas Ngabehi Wahidin Soedirohoesodo.

Majalah PESAT edisi 6 Februari 1952 (Thn VIII, No 6:19) memuat ulasan tentang hal itu, di bawah sub-judul: “Siapakah dr Wahidin?”. Fakta sejarah ini juga muncul di Berita Kebudayaan edisi 28 November 1952. RAGI BUANA edisi Mei 1959 (Thn VI, No 64) yang mengutip keterangan yang pernah disampaikan dokter Radjiman Wediodiningrat (1879-1952)—pendiri Budi Utomo yang juga kerabat Wahidin—ikut memperkuat fakta sejarah tersebut.

Bahwa “Wahidin berdarah tjampuran suku Djawa dan Makassar, ialah keturunan DainKraing Nobo, seorang pradjurit jang dalam djaman Mataram membantu Sunan Amangkurat Tegal Arum melawan Trunodjojo...”

Kenyataan bahwa Wahidin bukanlah orang Jawa asli kian menggugah kesadaran kebangsaan Adin, betapa tipis sesungguhnya batas-batas etnisitas di negeri ini. “Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu kalau Wahidin—juga Radjiman Wediodiningrat—berdarah Bugis-Makassar,” ujarnya.

Masih di kompleks pemakaman yang sama, di luar cungkup utama yang sudah dibangun pemerintah setelah Wahidin Soedirohoesodo ditetapkan sebagai pahlawan nasional, Adin juga menyempatkan ziarah ke makam sang leluhur: Daeng Naba! Dua deret di depan makam Daeng Naba, 32 prajurit dari Gowa (tanpa nama) juga dimakamkan di sana.

Persekutuan

Sejarah mencatat, perang Trunajaya melawan Mataram dan Kompeni (1670-1679) juga melibatkan prajurit-prajurit Bugis-Makassar. Dua bangsawan dari Kerajaan Gowa-Tallo, Karaeng Galesong dan Daeng Naba, berada di dua kubu yang berbeda. Karaeng Galesong membantu Trunajaya, sedangkan Daeng Naba yang “menyusup” ke kesatuan Kompeni-Belanda menopang kekuatan Mataram.

Galesong yang bernama lengkap I Maninrori Karaeng Galesong adalah satu di antara sekian banyak bangsawan Bugis-Makassar yang pergi dari negerinya karena tidak puas atas penerapan Perjanjian Bongaya (1667), menyusul jatuhnya Benteng Somba Opu ke tangan Belanda. Semula ia mendarat di Banten, menyusul rekannya sesama bangsawan yang telah lebih dahulu tiba di sana, yakni Karaeng Bontomarannu.

Situasi genting di Banten memaksa Galesong dan Bontomarannu berlayar ke timur, ke daerah Jepara, kemudian menetap di Demung, tak jauh dari Surabaya sekarang. Bersama sekitar 2.000 pengikutnya, Galesong bersekutu dengan Trunajaya untuk berperang melawan Mataram. Persekutuan itu juga ditandai ikatan perkawinan antara Galesong dengan putri Trunajaya, Suratna, pada Desember 1675.

Ketika pemberontakan Trunajaya benar-benar berkobar, di bawah komando Galesong dan Bontomarannu, orang-orang Bugis-Makassar mulai menyerang dan membakar pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara bagian timur Jawa. Mataram kian terdesak. Bahkan dalam serbuan ke pedalaman, pusat kekuasaan Mataram di Plered sempat direbut Trunajaya.

Baru setelah campur tangan Belanda, pemberontakan Trunajaya bisa diredam. Salah satu tokoh kunci di balik keberhasilan Mataram mengakhiri pemberontakan Trunajaya adalah Karaeng Daeng Naba. Berkat usaha Daeng Naba membujuk Galesong—yang disebut sebagai adiknya—agar menghentikan perang dengan Mataram, pemberontakan Trunajaya akhirnya bisa ditumpas.

Drama sejarah ini berakhir tragis. Galesong yang mematuhi saran Daeng Naba dianggap berkhianat dan dibunuh oleh mertuanya, Trunajaya. Adapun Trunajaya akhirnya tewas di tangan Amangkurat II pada 1679.

Akan halnya Daeng Naba yang bernama lengkap I Manggaleng Karaeng Daeng Naba, putra I Manninori J Karetojeng, seterusnya dipercaya jadi bagian pasukan Mataram. Dengan kekuatan 2.500 kavaleri, laskar Daeng Naba yang terdiri atas orang-orang Bugis-Makassar tersebut menjadi pasukan inti Kerajaan Mataram ketika itu.

“Romantika kisah para leluhurku telah membuat aku semakin sadar bahwa perjuangan bangsaku telah melalui sejarah yang sangat panjang,” kata Adin.

Sejarah memang penuh romantika. Kehadiran orang-orang Bugis-Makassar di berbagai wilayah di Tanah Air, termasuk di tanah Jawa, tak bisa disangkal merupakan bagian dari sejarah perjalanan bangsa ini “menjadi Indonesia”. Benih-benih kebangsaan itu pun tumbuh seiring proses akulturasi budaya,
 
Semakin jelas bahwa bangsa besar ini lahir dari pergulatan antaretnis. Bila muncul klaim bahwa hanya golongan tertentu yang paling berjasa dalam proses bangsa ini “menjadi Indonesia”, tentu saja pandangan semacam itu sungguh menyesatkan...

==============================================

SUMBER : http://kenedinurhan.blogspot.com/2009/01/bugis-makassar_29.html


DI TANAH JAWA MEREKA IKUT BERJUANG

Oleh Kenedi Nurhan dan Mukhlis PaEni



dimuat di KOMPAS, Jumat, 16 Januari 2009