Sabtu, 24 Desember 2011

IBU PULANGLAH

Standard
Ibu, pulanglah

Ibu
Entah serupa kabarmu disana, sungguh kami tak dapat menduganya ibu. Konon tempatmu adalah secantik-cantiknya tempat. Tak ada yang serupa dengan tempat kami. Ingin kami kesana, tapi kami belum mampu ibu.

Ibu
Serupa apapun kabarmu disana. Aku mohon ibu, sungguh kumohon ibu pulanglah. Pulanglah ibu, meski hanya sesaat. Basuh rindu kami, lapar kami, dahaga kami, cinta kami, sayang kami.

Ibu...
Kami merindumu. Rindu akan ocehanmu yang menempa kami menjadi tak mudah mengeluh.

Ibu..
Kami lapar. Lapar akan hukumanmu yang mengajari kami tak lalai

Ibu...
Kami haus, tenggorokan kami kering tak pernah meneguk sindiran-sindiran satirmu. Sindiran yang membuat kami peduli pada sesama.

Ibu...
Pulanglah, janjiku pada ibu telah kutunaikan. Anakmu semua sudah sekolah yang tinggi, tinggi sekali. Melebihi takaran tinggi yang ibu ceritakan dulu.

Ibu...
Pulanglah ibu, Pulang....
Lihatlah ibu, anakmu sudah mengantongi dompetnya masing-masing. Pulanglah ibu, kami ingin membagi isinya untukmu ibu. Membayar impian ibu, hendak duduk di lego-lego rumah kita, menanti anakmu pulang kerja dan bersama menikmati peluh keringatnya.

Ibu...
Pulanglah Ibu..
Bukankah ibu pernah berjanji, akan menanakkan nasi songkolo hitam untuk kami, saat kami lapar dan lelah sepulang kerja.

Ibu...
Lihatlah, lihatlah ibu
Telah kuhadirkan teman riangmu. Cucumu kini makin lincah, suka berceloteh, menari dan berteriak memancing tawa. Menampakkan giginya yang keropos, mirip dengan gigi ibu dulu. Tidakkah ibu ingin bermain bersamanya? Peluklah cucumu ibu.

Ibu...
Tataplah Ibu
Kini telah ibu miliki menantu terbaik seperti yang ibu impikan. Perawakannya seperti, cantiknya seperti ibu, sabarnya seperti ibu. Tidakkah ibu ingin memberinya kesempatan untuk belajar menjadi ibu yang sempurna? Ajarilah menantumu ibu.

Ibu...
11 tahun sudah disana, tidakkah ibu jenuh? Ataukah ibu sudah cukup percaya pada kami jika kelak kami akan menyusul ibu kesana.

Ibu...
Jika ibu bersedia pulang, ajaklah ayah turut serta, 24 tahun sudah ayah disana. Adik-adikku sudah lupa dengan wajahnya.

Ibu...
Jangan lupa ajak saudara kami juga pulang, umurya sekarang sudah 27. Kami ingin melamat rupanya, mungkinkah ia lebih rupawan dari kami bertiga?

Ibu...
Disini, ditempat kami. Orang-orang sedang merayakan hari ibu, pun juga dengan kami, merayakankah dengan haru dan rindu. Jika ibu tak sempat pulang, cukuplah air mata kami yang menggelinding mencari dan menemanimu disana. 

Rabu, 21 Desember 2011

KETIKA MUSUH BERUBAH MENJADI SAUDARA

Standard
OKetika Musuh Berubah Menjadi Saudara
Oleh : Defri Werdiono

Barangkali tidak pernah terlintas di benak Suryadin Laoddang, jika permusuhannya dengan Ardi sewaktu masih remaja akan berubah menjadi teman, bahkan saudara. Boleh dibilang, darah Suryadin kini telah lebur di dalam tubuh bekas musuhnya.

Minggu (24/5) siang, pria asal Wajo, Sulawesi Selatan, itu menuturkan kisah hidupnya. Pada tahun 1992, ketika masih di sekolah menengah pertama, Suryadin (29) duduk di bangku kelas III-2, sedangkan Ardi di kelas III-1 pada sekolah yang sama.

“Dia menjadi pemimpin ‘begundal’ di kelas III-1, sedangkan saya pimpinan ‘begundal’ di kelas III-2’. Akan tetapi saya selalu kalah” ujarnya sambil tertawa. Perbincangan melalui telepon terasa kian menarik ketika Suryadin yang kini bekerja di Politeknik Kesehatan Permata Indonesia Yogyakarta mengaku tidak canggung untuk berbagi cerita.

Perseteruan tersebut, tuturnya, berlanjut hingga sekolah menengah atas, meski keduanya tidak satu sekolah lagi. Mereka baru benar-benar berpisah setelah keluar dari SMA. Sang teman melanjutkan ke Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (yang kini berubah menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri/IPDN), sedangkan Suryadin kuliah diYogyakarta.

Saat masih di IPDN, suatu hari berwisata ke Yogyakarta. Ketika berada dikota Gudeg itulah peristiwa kurang menyenangkan terjadi. Ardi mengalami kecelakaan dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Saat itulah persoalan muncul, Ardi yang memiliki golongan darah AB harus mencari darah serupa. Maklum, dari empat golongan darah yang ada, A, B, O, dan AB, hanya golongan darah terakhir yang paling langka. Ardi mencari bantuan darah. Sejumlah teman-teman dihubungi, anak-anak Sulawesi yang ada di asrama.

“Kebetulan darah saya sama, AB, dan dengan tulus siap membantu. Saya sendiri tidak tahu siapa yang membutuhkan, sampai tiba dirumah sakit. Saat transfuse itulah saya baru tahu bahwa itu dia,” tutur Suryadin.

Setahun setelah kecelakaan, kedua lawan yang menjadi kawan ini pun kembali ke Sulawesi. Saat itulah, hasil penelusuran pihak keluarga akhirnya diketahui keduanya ternyata masih memiliki hubungan sepupu jauh. Ardi sendiri berprofesi menjadi lurah di kampung halamannya.

Mendengar kisah keduanya, bukan hanya pertemuan itu yang menarik. Namun ada hikmah yang bisa dipetik dari kasus itu. Data keberadaan pemilik golongan darah sangat berguna bagi siapa saja, bahkan mereka yang mungkin bermusuhan.

Imam Maulana, Ketua Komunitas AB – sebuah komunitas berisi orang-orang yang memiliki golongan darah AB – mengatakan dari 100 orang, hanya ada satu yang memiliki golongan darah AB. Apalagi, AB dengan rhesus negative jumlahnya sangat sedikit.

“Karena itulah kami membentuk komunitas. Tujuannya untuk mempermudah jika ada orang yang memerlukan darah kami.” Ujar Imam di sela-sela ulang tahun pertama Komunitas AB di gedung Bank BNI,Yogyakarta.
Hingga kini telah ada sekitar 350 orang yang bergabung dalam komunitas ini. Mereka berasal dari sejumlah kota, seperti Jakarta, Purworejo, Kebumen, Klaten, Yogyakarta dan Jepara. Para anggota juga siap dihubungi apabila ada orang yang membutuhkan.

Ada sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas AB. Salah satunya menyosialisasikan kepada masyarakat akan pentingya golongan darah AB. Dengan begitu, mereka yang memerlukan tidak harus bekerja keras untuk mencarinya.

Sumber  : Kompas Yogyakarta, Senin, 25 Mei 2009

DI TANAH JAWA MEREKA IKUT BERJUANG

Standard
MENGETAHUI ada darah Bugis-Makassar mengalir dalam tubuh Wahidin Soedirohoesodo (1852-1917), Adin mengaku kaget bercampur bangga. Pada satu senja, di kompleks Pemakaman Mlati, Sleman, Yogyakarta, lelaki Bugis-Makassar yang menikahi perempuan asal Jepara ini pun bersimpuh di sisi makam pahlawan nasional penggagas kelahiran Budi Utomo tersebut.

Semula Adin—nama lengkapnya Suryadin Laoddang—tak percaya pada fakta baru yang ia terima. Bukankah dalam sejarah resmi yang ditulis selama ini disebutkan bahwa dokter Wahidin Soedirohoesodo adalah priyayi Jawa? Potret sang tokoh pun selalu ditampilkan dalam busana lelaki ningrat Jawa, lengkap dengan blangkon di kepalanya. Akan tetapi, melalui pendekatan genealogis diketahui bahwa tokoh pergerakan nasional tersebut ternyata masih keturunan Karaeng Daeng Naba. Bangsawan Bugis-Makassar ini mengembara ke Jawa setelah Kerajaan Gowa takluk pada Kompeni-Belanda tahun 1669. Di Jawa, Daeng Naba terlibat dalam intrik perebutan kekuasaan di pusar tanah Jawa (baca: Mataram), di mana Trunajaya tampil sebagai tokoh antagonisnya.

Atas jasa Daeng Naba yang ikut membantu Amangkurat II meredam pemberontakan Trunajaya (1670-1679), ia dinikahkan oleh sang penguasa Mataram dengan putri Tumenggung Sontoyodo II. Selain itu, ia juga dihadiahi “tanah perdikan” yang sekarang berada di daerah Mlati, Sleman, Yogyakarta. Dari hasil perkawinan campuran itu, seabad kemudian lahir priyayi Jawa terkemuka bernama Mas Ngabehi Wahidin Soedirohoesodo. 
Majalah PESAT edisi 6 Februari 1952 (Thn VIII, No 6:19) memuat ulasan tentang hal itu, di bawah sub-judul: “Siapakah dr Wahidin?”. Fakta sejarah ini juga muncul di Berita Kebudayaan edisi 28 November 1952. RAGI BUANA edisi Mei 1959 (Thn VI, No 64) yang mengutip keterangan yang pernah disampaikan dokter Radjiman Wediodiningrat (1879-1952)—pendiri Budi Utomo yang juga kerabat Wahidin—ikut memperkuat fakta sejarah tersebut.

Bahwa “Wahidin berdarah tjampuran suku Djawa dan Makassar, ialah keturunan DainKraing Nobo, seorang pradjurit jang dalam djaman Mataram membantu Sunan Amangkurat Tegal Arum melawan Trunodjojo...”

Kenyataan bahwa Wahidin bukanlah orang Jawa asli kian menggugah kesadaran kebangsaan Adin, betapa tipis sesungguhnya batas-batas etnisitas di negeri ini. “Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu kalau Wahidin—juga Radjiman Wediodiningrat—berdarah Bugis-Makassar,” ujarnya.

Masih di kompleks pemakaman yang sama, di luar cungkup utama yang sudah dibangun pemerintah setelah Wahidin Soedirohoesodo ditetapkan sebagai pahlawan nasional, Adin juga menyempatkan ziarah ke makam sang leluhur: Daeng Naba! Dua deret di depan makam Daeng Naba, 32 prajurit dari Gowa (tanpa nama) juga dimakamkan di sana.

Persekutuan.


Sejarah mencatat, perang Trunajaya melawan Mataram dan Kompeni (1670-1679) juga melibatkan prajurit-prajurit Bugis-Makassar. Dua bangsawan dari Kerajaan Gowa-Tallo, Karaeng Galesong dan Daeng Naba, berada di dua kubu yang berbeda. Karaeng Galesong membantu Trunajaya, sedangkan Daeng Naba yang “menyusup” ke kesatuan Kompeni-Belanda menopang kekuatan Mataram.

Galesong yang bernama lengkap I Maninrori Karaeng Galesong adalah satu di antara sekian banyak bangsawan Bugis-Makassar yang pergi dari negerinya karena tidak puas atas penerapan Perjanjian Bongaya (1667), menyusul jatuhnya Benteng Somba Opu ke tangan Belanda. Semula ia mendarat di Banten, menyusul rekannya sesama bangsawan yang telah lebih dahulu tiba di sana, yakni Karaeng Bontomarannu.

Situasi genting di Banten memaksa Galesong dan Bontomarannu berlayar ke timur, ke daerah Jepara, kemudian menetap di Demung, tak jauh dari Surabaya sekarang. Bersama sekitar 2.000 pengikutnya, Galesong bersekutu dengan Trunajaya untuk berperang melawan Mataram. Persekutuan itu juga ditandai ikatan perkawinan antara Galesong dengan putri Trunajaya, Suratna, pada Desember 1675.

Ketika pemberontakan Trunajaya benar-benar berkobar, di bawah komando Galesong dan Bontomarannu, orang-orang Bugis-Makassar mulai menyerang dan membakar pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara bagian timur Jawa. Mataram kian terdesak. Bahkan dalam serbuan ke pedalaman, pusat kekuasaan Mataram di Plered sempat direbut Trunajaya.

Baru setelah campur tangan Belanda, pemberontakan Trunajaya bisa diredam. Salah satu tokoh kunci di balik keberhasilan Mataram mengakhiri pemberontakan Trunajaya adalah Karaeng Daeng Naba. Berkat usaha Daeng Naba membujuk Galesong—yang disebut sebagai adiknya—agar menghentikan perang dengan Mataram, pemberontakan Trunajaya akhirnya bisa ditumpas.

Drama sejarah ini berakhir tragis. Galesong yang mematuhi saran Daeng Naba dianggap berkhianat dan dibunuh oleh mertuanya, Trunajaya. Adapun Trunajaya akhirnya tewas di tangan Amangkurat II pada 1679.

Akan halnya Daeng Naba yang bernama lengkap I Manggaleng Karaeng Daeng Naba, putra I Manninori J Karetojeng, seterusnya dipercaya jadi bagian pasukan Mataram. Dengan kekuatan 2.500 kavaleri, laskar Daeng Naba yang terdiri atas orang-orang Bugis-Makassar tersebut menjadi pasukan inti Kerajaan Mataram ketika itu.

“Romantika kisah para leluhurku telah membuat aku semakin sadar bahwa perjuangan bangsaku telah melalui sejarah yang sangat panjang,” kata Adin.

Sejarah memang penuh romantika. Kehadiran orang-orang Bugis-Makassar di berbagai wilayah di Tanah Air, termasuk di tanah Jawa, tak bisa disangkal merupakan bagian dari sejarah perjalanan bangsa ini “menjadi Indonesia”. Benih-benih kebangsaan itu pun tumbuh seiring proses akulturasi budaya, semakin jelas bahwa bangsa besar ini lahir dari pergulatan antaretnis. Bila muncul klaim bahwa hanya golongan tertentu yang paling berjasa dalam proses bangsa ini “menjadi Indonesia”, tentu saja pandangan semacam itu sungguh menyesatkan...

===========================
SUMBER : KOMPAS, Jumat, 16 Januari 2009
Di Tanah Jawa Mereka Ikut Berjuang
Oleh : Kennedy Burham & Muhlis PaEni








ADIN DITIPU PENCARI DARAH AB

Standard

Adin Ditipu Pencari Darah AB

Kamis, 13 Januari 2011 00:35 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Rina Eviana

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA  - Tidak selamanya niat tulus untuk menyelamatkan nyawa sesama manusia berujung indah. Itulah yang pernah dialami Suryadin Laoddang (31), pria asal Wajo, Sulawesi Selatan. Pria yang akrab dipanggil  Adin ini pernah tertipu orang yang mengaku butuh golongan AB di Solo.

"Waktu itu ada SMS berantai, juga beredar di Facebook, mahasiswa UNS Solo  kritis di RS dr Oen. Dia butuh donor darah AB secepatnya," kata Adin saat ditemui Tribun Jogja, di Glagah Sari, Yogyakarta, Jumat (7/1/2011).

Adin, ketua Komunitas AB (orang-orang yang memiliki golongan darah AB), kala itu merasa terpanggil untuk menyumbangkan darahnya. Maklum, pemilik golongan darah jenis AB tergolong langka.

"Setelah saya telusuri sampai RS dr Oen ternyata tidak ada nama pasien itu di bangsal yang disebutkan. Saya tertipu," kenangnya. 

Kepala Bagian Umum Sarana dan Prasarana Poltekes Permata Indonesia Yogyakarta ini mengatakan, berbagi harapan dan kehidupan dengan menyumbangkan darah AB bagi yang butuh merupakan panggilan bagi Komunitas AB. Itulah salah satu alas an mengapa komunitas pemilik golongan darah AB ini dibentuk. 

"Berdasarkan riset, insan yang bergolongan darah AB dari 100 orang hanya satu saja yang bergolongan darah ini," beber Adin.

Komunitas AB berdiri tahun 2007, bermula dari kegelisahan Imam Maulana yang menulis surat pembaca di salah satu koran di Yogyakarta.
Adin bercerita, Imam, yang juga bergolongan darah AB, kala itu menuliskan kekhawatirannya atas dengan minimnya pemilik golongan darah AB. 

"Orang yang bergolongan darah ini selalu kesulitan mencari darah jika mereka butuh," ujar Adin.

Surat pembaca Imam disambut baik pemilik golongan darah AB yang membacanya.  Sambutan itu datang, antara lain, dari Adin, Arif Agus, Azizah, AA Kunto, Taufik Yudonono, Dayik Sunaryadi, dan Pardjiman. Bersama Imam, mereka akhirnya mendeklarasikan berdirinya Komunitas AB.

Kini, di usianya ke tiga, komunitas ini beranggotakan sekitar 300  orang bergolongan darah AB. Adapun anggota aktif sekitar 30 orang.

Azizah (38), bendahara komunitas ini mengatakan, banyak pihak yang memanfaatkan komunitas AB, termasuk yang hendak melakukan  penipuan.  "Makanya kalau ada yang mengaku butuh darah AB, kami bener-bener cek dan ricek," tegas  Azizah.

SIAP DONORKAN DARAH AB GRATIS

Standard

Siap Donorkan Darah AB Gratis

Kamis, 13 Januari 2011 00:45 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Rina Eviana


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Darah golongan AB memang jarang ditemukan. Banyak orang butuh darah dengan golongan ini tapi susah menemukan pendonornya. 

Komunitas AB (komunitas orang yang bergolongan darah AB) memberikan sumbangan darah gratis.  Begitulah penegasan Suryadin Laoddang (41) alias Adin, ketua Komunitas AB Yogyakarta, Jumat (7/1/2011).

"Bahkan kalau orang yang butuh darah di luar kota, kami tidak menerima uang transport. Misi kami murni untuk kemanusiaan," katanya. 

Komunitas ini bahkan mebuka layanan 24 jam bagi mereka yang mebutuhkan darah AB. "Kami berempati, karena sebenarnya nasib kami sama. Makanya, kami tidak menarik sepeserpun," tandas Adin.

Komunitas ini, selain mendonorkan darah, juga sering mengadakan bakti sosial, seminar, pelatihan bisnis dan kegiatan-kegiatan lain. "Kami berusaha memberdayakan sumberdaya manusia anggota komunitas, untuk berbagi dengan sesama," tuturnya.

BELUM ADA WARGA SULSEL JADI KORBAN

Standard
Belum Ada Warga Sulsel Jadi Korban
Suryadin Laoddang
SABTU, 06 NOVEMBER 2010 | 02:46 WITA | 28749 HITS



Hingga Jumat sore, 5 November, Alhamdulillah belum satupun warga Sulawesi Selatan (Sulsel) yang teridentifikasi menjadi korban amuk Merapi. Pantauan kami di seluruh Kota Yogyakarta dan sekitarnya, umumnya mahasiswa asal Sulsel masih bertahan di asrama.

Sementara mahasiswa yang tinggal di luar asrama, mereka juga belum diungsikan. Hal itu memungkinkan karena asrama-asrama mahasiswa asal Sulsel kebetulan jaraknya cukup jauh dari Gunung Merapi.


Pengungsian besar-besaran memang sempat terjadi. Tapi, itu dari warga yang tinggal di Jl Kaliurang (poros utama menuju Merapi) khususnya yang tinggal di atas kilometer 15. Mereka menuju ke kota secara mandiri. Beberapa orang juga mengungsi ke asrama-asrama yang ada di Yogyakarta.

Untuk mengantisipasi kemungkinan buruk akibat guyuran abu vulkanik, Kerukukan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) DIY telah menyampaikan beberapa peringatan kepada warga Sulsel dan warga lainnya yang berdomisili di sekitar Gunung Merapi. Yaitu, jika merasa was-was atau khawatir, sebaiknya bergabung ke asrama daerah terdekat. Hal ini agar memudahkan KKSS dalam melakukan koordinasi.

Selain itu, diminta pada seluruh asrama daerah dan rumah warga asal Sulsel agar dibuka dan terbuka untuk menampung para pengungsi dari lereng Merapi. Sekarang saatnya berbagi dengan mereka yang tertimpa bencana.

Malam tadi, Yogya diguyur hujan. Hal itu menjadi berkah bagi warga Yogyakarta karena membuat hujan abu yang beterbangan sedikit berkurang. Namun, itu juga sekaligus menimbulkan kekhawatiran melubernya lahar dingin ke dalam kota melalui Kali Code, Kali Batikan, Kali Gajah Wong, dan lainnya.

Bagaimana tidak mengkhawatirkan. Di sekitar kali-kali yang berhulu dari Merapi tersebut, terdapat dua asrama mahasiswa asal Sulsel. Yaitu Aspura Pinrang dekat Kali Nologaten, dan Aspuri Wajo dekat kali Batikan.

Karena itu, kepada para penghuni kedua asrama tersebut, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Paling tidak, melindungi diri dengan menggunakan pakaian lengan panjang, celana panjang, kacamata, dan masker atau tutup kepala. Bagi yang memakai lensa kontak dianjurkan melepasnya selama terjadi hujan abu.

Sementara itu, kegiatan perkuliahan di Yogyakarta mulai diliburkan. UGM misalnya, meliburkan mahasiswanya hingga 13 November. Kampus lain yang juga meliburkan perkuliahan antara lain Universitas Islam Indonesia (UII), UPN Veteran, Universitas Ahmad Dahlan, dan Poltekkes Permata Indonesia. (*)

SUMBER : 
http://metronews.fajar.co.id/read/109250/10/iklan/iklan300x200.swf

PENGUNJUNG MUSEUM PERJUANGAN YOGYA HANYA SATU ORANG PER HARI

Standard
Keberadaan museum sebagai tempat penting untuk melihat perjalanan sejarah, ternyata tak diminati masyarakat. Harga tiket masuk sangat murah pun tak berpengaruh besar terhadap minat mengunjungi museum.

Museum Perjuangan Yogyakarta menjadi salah satu contoh museum yang tak diminati warga, alias sangat sepi pengunjung. Jumlah rata-rata pengunjung museum bertarif masuk Rp 2.000 ini hanya sekitar 400 orang per tahun, atau seorang pengunjung setiap hari.

Kondisi itu membuat prihatin Pioner Sahabat Museum Kota Yogyakarta, Suryadin Laoddang. Seusai pembukaan Museum Perjuangan Expo, di Museum Perjuangan Yogyakarta, Kamis (19/4), ia menilai sangat ironis bahwa penghargaan kepada museum dianggap tak lebih berharga ketimbang toilet.

"Kalau kita lihat dari harga tiketnya saja, rasanya museum tak lebih berharga dibanding toilet. Untuk ke toilet saja kita harus membayar Rp 1.000, sedangkan karcis museum di Yogyakarta masih banyak yang sama (Rp 1.000, Red), bahkan ada yang di bawah harga masuk toilet demi memberi diskon ke pengunjung supaya lebih diminati," tuturnya.

Pria yang akrab disapa Adin tersebut menuturkan, seharusnya ada pembenahan manajemen pengelolaan museum supaya lebih diminati pengunjung. "Pengelolaan, SDM (sumber deaya manusia, Red) pemandu harus dibenahi. Dengan begitu, meskipun harga tiket masuk agak mahal, tapi pengunjung tertarik dan bisa mempelajari apa yang ada di museum lebih detail," tegasnya.

Di saat minat perhatian dan minat masyarakat terhadap museum rendah, sebanyak 81 anggota Sahabat Museum Yogyakarta berusaha mempelajari satu persatu museum di DIY. Selain mengadakan tur ke museum setiap bulan, mereka juga melakukan penelitian dan membuat rekomendasi untuk museum yang dikunjungi.

Selain itu, demi menumbuhkan minat masyarakat untuk mencintai museum, mereka mengajak mahasiswa di perguruan tinggi ikut tur ke museum-museum. "Kami pernah mengajak 20 anak asrama, tapi yang tertarik cuma dua orang," keluh Adin.
 
Ia merinci, jumlah museum di DIYsebanyak 31 buah. Jumlah ini bisa dikatakan banyak untuk sebuah daerah. "Kami sendiri baru terbentuk April 2011 lalu atas petunjuk wali kota Yogyakarta dan Badan Musyawarah Musea (Baramus, Red). Kami ingin museum tak hanya menarik dikunjungi tapi kami juga bisa menyumbang rekomendasi dan perspektif bagi perkembangan museum," katanya.

Secara terpisah di tempat sama, Kepala Museum Benteng Vredeburg, Sri Ediningsih, menjelaskan, untuk emperingati Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei, pihaknya menggelar Museum Perjuangan Expo, 19 Mei-22 Mei 2011. Tujuan pameran selama tiga hari tersebut, antara lain, menggugah generasi muda agar tak kehilangan roh akan identitas dan jati diri bangsa.

Museum Perjuangan Yogyakarta merupakan bangunan monumental untuk mengenang setengah abad kebangkitan nasional di Indonesia tahun 1958. Museum yang digagas Sri Sultan Hamengkubuwono IX ini berisi benda-benda bersejarah perjuangan bangsa Indonesia, dan diharapkan menjadi jendela untuk mengenal dan memahami jati diri bangsa.

Saat ini jumlah pengunjung Museum Perjuangan rata-rata hanya sekitar 400 orang per tahun.

Harga tiket Rp 2.000 per orang. Sedangkan untuk rombongan, museum memberi diskon separoh harga. "Target tiga hari ini kami ingin mencapai 2.000 pengunjung," jelasnya.

=====================================================

Pengunjung Museum Perjuangan Yogya Hanya Satu Orang Per Hari
Tribun Jateng - Sabtu, 21 Mei 2011 07:34 WIB
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rina Eviana


TRIBUNJATENG .COM, YOGYA -
Editor : dahlan

WALI KOTA BERHARAP MUSEUM JADI LABORATORIUM SEJARAH

Standard
Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto berharap museum tidak hanya menjadi tempat untuk memajang benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi laboratorium lapangan dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran sejarah. "Mata pelajaran sejarah seharusnya tidak hanya dilakukan dengan cara menghapal materi, tetapi juga harus dilakukan dengan cara diskusi," kata Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto di sela-sela pembukaan Museum Perjuangan Expo di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, siswa perlu lebih sering diajak ke museum khususnya pada saat jam pelajaran sejarah, sehingga dapat mendiskusikan secara langsung terkait materi pelajaran di museum sehingga akan lebih menarik dan bisa langsung memahami peristiwa yang terjadi. Ia mengatakan, akan segera membicarakan mengenai wacana tersebut dengan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta untuk mengubah kegiatan belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran sejarah di museum. "Ini akan saya usulkan, mengapa tidak melakukan pelajaran sejarah di museum. Nanti ada diskusi antara guru dan murid dengan tema sesuai kurikulum," katanya.

Selain untuk menunjang kegiatan pariwisata dan pelajaran sejarah, ia juga mengatakan bahwa museum juga dapat menjadi sarana pembangunan karakter masyarakat.

"Saya juga berharap, tahun kunjungan museum yang sudah dicanangkan tidak hanya berjalan selama satu tahun, tetapi berlanjut di tahun-tahun sebelumnya," katanya.

Sementara itu, anggota pionir Sahabat Museum Suryadin Laoddang mengatakan, kondisi museum di Yogyakarta masih cukup memprihatinkan. "Dengan harga tiket masuk yang sudah murah pun, kunjungan ke museum tidak terlalu banyak. Jadi, ada sesuatu yang belum tepat dalam pengelolaan museum. Ini yang perlu dibenahi," katanya.

Di antaranya adalah jenis koleksi, keterbatasan sumber daya manusia yang bertugas memandu pengunjung museum serta suasana di dalam museum.

Ia mengatakan, sejumlah upaya telah dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap museum, salah satunya rutin melakukan kunjungan ke museum bersama seluruh anggota Sahabat Museum yang berjumlah 82 orang.

"Kami juga mengajak anggota asrama mahasiswa untuk mengikuti kegiatan kunjungan ke museum," katanya.
Hasil dari kunjungan ke museum tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk tulisan reportase dari sudut panjang pengunjung termasuk rekomendasi atas kekurangan-kekurangan museum. [@.hbo]

===============================================================

Wali Kota Berharap Museum Jadi Laboratorium Sejarah

19 May 2011 14:09 Media Online Bhirawa

Yogyakarta,Bhirawa

SUMBER : http://www.harianbhirawa.co.id/demo-section/berita-terkini/30714-wali-kota-berharap-museum-jadi-laboratorium-sejarah


KEMENBUDPAR SIAPKAN STANDARISASI MUSEUM

Standard
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menyiapkan standarisasi museum sebagai bagian dari revitalisasi museum.

"Standarisasi museum ini sudah disiapkan sejak satu tahun lalu dan bukan dibuat hanya karena adanya kasus pencurian di sejumlah museum," kata Direktur Museum, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Intan Mardiana di seminar Museum dan Masa Depan Bangsa di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Menurut dia, standarisasi museum tersebut akan mengatur sejumlah sarana dan prasarana yang harus dimiliki sebuah museum, kondisi gedung, pengelola museum, sistem keamanan termasuk fasilitas closed circuit television (CCTV).

Pembuatan standarisasi museum tersebut ditargetkan dapat selesai pada Desember 2011 yang akan diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP) yang merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya. "Kami akan mulai menyosialisasikan standarisasi museum ini tahun depan ke seluruh museum di Indonesia, baik yang dikelola swasta atau pemerintah," katanya.

Sementara itu, Pionir Sahabat Museum Yogyakarta Suryadin Laoddang mengatakan, standarisasi museum tersebut seharusnya juga mengatur sistem dan pengelolaan koleksi, tidak hanya menyangkut sarana fisik museum. "Sumber daya manusia yang mengelola atau menjalankan museum juga perlu revitalisasi, seperti penjaga museum. Mereka seharusnya bukan hanya pegawai yang dimuseumkan," katanya.

Pegawai museum, lanjut dia, harus memiliki pengetahuan yang detil mengenai sejarah museum serta berbagai benda yang menjadi koleksi sehingga bisa memberikan penjelasan kepada pengunjung.

Ia juga berharap, seluruh pihak seperti pegawai museum, masyarakat, pengunjung, pecinta museum, sejarawan, budayawan, akademisi, pelaku pariwisata dan berbagai pihak lain dapat dilibatkan dalam pembahasan peraturan pemerintah tersebut. "Selain itu, perlu dihindari nuansa politis dalam pembuatan peraturan pemerintah itu," katanya. (Pusformas*)

==================================================
Kemenbudpar Siapkan Standarisasi Museum

SUMBER : http://www.budpar.go.id/page.php?ic=511&id=6742

Kamis, 08 Desember 2011

BEGINILAH AYAH MERAWATMU

Standard
BEGINILAH AYAH MERAWATMU
(Edisi tulisan lama yang gak diposting)

Anakku, sungguh beruntung ayah memiliki seorang perempuan yang sangat mengerti dan mampu membimbing ayah bagaimana merawat dan menjaga kesehatanmu. Perempuan cantik itu adalah Istri ayah yang juga adalah bundamu, anakku. Inilah tips sederhana yang ayah dapat dari bundamu.

Perawatan Kulit Bayi Baru Lahir

Anakku,
Dihari-hari pertama lahirmu kulit dan matamu sangat lembut sensitif, sehingga kami harus berhati-hati dalam merawatmu. Kulitmu yang halus dan lembut sangat menggoda kami untuk menyentuhnya, tanpa kami sadari betapa tipis dan pekanya kulit itu. Memilih produk perawatan untukmu semuanya ayah percayakan pada pilihan bundamu, karena beliau lebih tahu dari ayah. Bagi ayah, cukuplah dengan membantu bundamu memberikan bedak kesekujur tubuhmu. 


Tak Bosan bundamu berkata jangan sekali-kali memakai puft atau busa untuk mengoleskan bedak pada bayi baru lahir. Gunakanlah telapak tangan, taburkan bedak itu ketelapak tangah ayah lalu oleskan kesukujur tubuhnya (dirimu) dengan lembut dan pelan. Memakai puft atau busa akan beresiko terhirupnya bulir halus bedak ke saluran pernafasannya, begitu bundamu mengingatkan ayah, anakku. Kalau ayah sih sederhana saja alasannya, mengoleskan bedak dengan telapak tangah ayah sendiri jauh lebih terasa kedekatan itu denganmu anakku. Semoga engkau juga merasakannya.

Memandikanmu

Anakku,
Kadang kala disaat bundamu harus menunaikan tugasnya menyelamatkan adik-adikmu dan bundanya yang sedang melahirkan, di rumah sakit tempat bundamu bekerja. Suka tidak suka, ayah harus ikhlas untuk menggantikan peran Bundamu untuk memandikanmu. Seringnya ayah mendampingi bunda saat memandikanmu membuat ayah hafal dan paham tahapan saat memandikanmu, dan inilah urutannya anakku.

1.      Sebelum mengajakmu mandi, ayah harus siapkan perlengkapan mandi terlebih dahulu, seperti air mandi suam-suam kuku beserta bak mandimu, kapas, handuk, pakaian ganti.
2.      Sambil membuka semua pakaianmu, ayah harus terus mengajakmu ngobrol meski sebenarnya ayah tahu tidak mungkin nakda membalas dan menanggapi ocehan ayah yang kayak orang gila. Mengajakmu ngobrol adalah terapi agar engkau nantinya tidak kaget begitu kena air, itu kata bundamu. Terapi ini harus terus dilakukan saat membopongmu ke bak mandi.
3.      Daerah sekitar mata, hidung, telinga, dan tali pusarmu adalah bagian pertama yang harus dibersihkan dengan kapas atau kain halus. Selanjutnya membersihkan kepala dan badanmu dengan shampoo dan sabun.
4.      Daerah lain yang tak boleh ditinggalkan adalah membersihkan daerah mulut, pipi, dagu dan daerah lipatan pada kulitmu. Konon, disanalah banyak tersisa bekas air liur, susu, keringat dan kotoranmu.

Anakku, rasa was-was dan grogi seringkali menghantui ayah saat melakukan “ritual” ini, untunglah bunda membolehkan ayah untuk memandikanmu cukup diseka air hangat dengan bantuan kain wash lap. Tahukah engkau anakku, memandikanmu adalah pekerjaan yang paling ayah suka hingga kini, asik, ceria, heboh dan menyenangkan anakku.

Mengganti Popok

Jujur anakku …
Pekerjaan satu ini kadang mengasikkan, kadang pula menyebalkan. Mengasikkan jika nakda bersahabat dan sebaliknya menjadi menyebalkan saat nakda melawan, berontak bahkan kadang menangis meraung-meraung. Terlebih, nakda memang sangat peka jika popok sudah basah. Beruntunglah ayah yang sudah terbiasa dengan bau dan aroma yang tidak sedap. Dijamin tidak akan mual apalagi muntah saat melihat dan mencium aroma pipis dan eekmu.

Agar tidak terkena iritasi, biang keringat, atau ruam popok memastikan kulit paha dan bokongmu kering sebelum memakai popok baru adalah aturan main yang tidak boleh ayah langgar.

Menjadi Tukang Pijat Pribadimu

Tepat tujuh bulan nakda dalam kandungan, bundamu membeli sekeping compact disc bagaimana memijat yang baik buat bayi. Setengah protes, ayah berkata “bukannya didepan rumah kita ada tukang pijat bayi”, dengan senyum manisnya bundamu berujar “Ayah sering dengar gak, kalo bayi-bayi yang dipijat didepan situ menangis saat dipijat? itu artinya bayi itu tersiksa dengan pijatan tersebut”.  Hemmm… benar juga ya, akhirnya petunjuk dalam CD tersebut menjadi tontonan wajib ayah tiap ba’da Magrib. Ternyata, teknik memijat tidak terlalu penting, memijat secara rutin, dan kontak kulit ayah dan bunda dengan nakda jauh lebih penting. Beginilah cara ayah memijatmu ;


Dada
Kedua telapak tangan ayah terbuka ke tengah dada nakda, perlahan dengan gerakan lembut bergeser diagonal ke kanan dan kiri, kemudian kembali ke tengah, bergeser lagi ke kiri dan kanan bawah lalu kembali lagi ke tengah.

Paha dan Betis
Hemmm… Paha dan betis mungilmu cukup ayah pegang dengan kedua tangan ayah. Perlahan tangan ayah memutar dari dalam pahamu ke luar sambil bergerak turun menuju betis. Begitu berulang-ulang, gemes dan asik juga.

Kaki
Telapak  kakimu dalam gengaman tangan kiri ayah, sementara tangan kanan ayah mengurut dari arah tumit ke jari kaki, jemari kakimu diremas satu persatu. Lalu berpindah ke punggung kaki, diurut mulai dari mata kaki sampai ke jari kaki.

Wajah
Saat memijat bagian wajah nakda, rasa haru dan bangga memilki anak selalu memenuhi relung hati ayah. Proses memijat dimulai dari tengah menuju samping kiri, kemudian tengah menuju samping kanan.

Perut

Anakku..
Tibalah kita dalam Pijatan I Love U. Dengan dua jari, Ayah mulai mengurut pinggang kirimu dibawah iga menuju kebawah, gerakan ini seolah membentuk huruf “I”.

Tahap kedua dengan gerakan melintan dari kanan bayi ke kiri bayi, kemudian turun ke bawah membentu huruf “L”

Tahap ketiga, dengan ujung kedua jari ayah tadi. ayah membuat sentuhan halus diperut dengan gerakan memutar, seolah membentuk huruf "O”.

Tahap keempat, ujung jari tangan kanan Ayah diletakkan diatas dadamu lalu bergerak secara diagonal kebawah membentuk huruf V

Tahap kelima, kalau yang ini ayah menyebutnya tehnik iseng, dengan tiga ujung jari ayah yang mirip huruf “E”, ayah selalu memberikan sentuhan halus diketiakmu. Sebenarnya tidak bertujuan memijat tapi lebih bernafsu untuk membuatmu geli dan ketawa. He he.. Ayah nakal yah..

Tahap terakhir, masih didaerah perut dan dada, telapak tangan ayah bergerak mengurut dari kanan bawah, naik ke kanan atas, lalu melengkung membentuk U dan turun lagi ke kiri.

Tangan
Inilah bagian yang paling mudah, diawali dengan memijat pangkal lengan, lalu turun ke tangan. Kemudian kembali memijat dari tangan ke pangkal lengan

Besok disambung lagi yah nak, sekarang ayah mau mandi lalu pijet-pijetan sama bundamu. Rafi tidur yah nak. Pleaseeeeeee

FAKULTAS KULKAS, JURUSAN ES BONBON (OCEHAN RAFI)

Standard
Hampir setengah delapan malam baru kutiba dirumah saat itu.

“Lho, dek Rafi kemana bunda?” tanyaku
“Lagi ke Masjid sama Om-nya, Ayah” jawab istriku
“Alhamdulillah”, gumamku dalam hati seraya beranjak menuju kamar tidur.

Tak berselang lama, Rafi pulang. Langkah larinya cepat menuju kamar dan berteriak “Assalamu Alaikum”, disusul teriakan berikutnya, memanggilku. Mendengar suara ayahnya ada dikamar ia pun menyusul.

“Ayah, tadi Rafi kuliah” ujarnya semangat dengan pancaran mata berbinar.
“Kuliah dimana nak” tanyaku
“Sana jauh”, jawabnya
“Kuliahnya di Fakultas apa nak?” tanyaku lagi
“Kulkas” jawabnya polos
“Jurusannya apa?” kembali kubertanya seraya mendudukkannya di pangkuanku
“Es Bonbon” lagi ia begitu polos menjawab dan meledaklah tawaku seketika.

“Dek Rafi, cita-citanya apa sih” tanyaku diakhir gelak tawa kami berdua.
“Jadi dokter” jawab Rafi diiringi senyum manis
“Dokter itu kerja apa nak” cecarku
“Jadi foto model”

Gubrakssss.
Akh, anakku.
Engkau sungguh lucu, ocehanmu mengurai lelahku hari ini.
Terima kasih anakku.




LAODDANG Jr, NORMAN KAMARU DAN JUSTIN BIEBER.

Standard
Laoddang Jr, Norman Kamaru dan Justin Bieber.

Hari ini saya telat masuk kantor. Seharusnya jam 07.00 WIB sudah dikantor, hari ini baru tiba 29 menit kemudian. Parah !. Telatnya bukan karena jalanan macet, kesiangan, atau ban bocor dijalan. Tapi karena disandera sama anakku sendiri. Saat sarapan pagi, anakku dengan tergopoh-gopoh menghampiri. “Ayah, jalan-jalan dulu yok”, sapanya. “Ok nak”, jawabku. Berkeliling kampung melihat Kerbau, Sapi, Kambing, Itik dan Kuda, adalah kesenanganya. Dulu, ini kami lakukan saban sore hari, sepulang kerja. Kini, kebiasannya itu terkalahkan. Ayahnya harus menuanaikan amanah lain tiap sore hingga malam hari (maafkan ayahmu, anakku). Rupanya anakku memang cerdas, tak dapat jatah disore hari, jatah tiap pagi tak mengapa. Mumpung ayah dirumah, pikirnya. Tak peduli, ayahnya harus berangkat pagi-pagi mengais rejeki.

Pun serupa dengan hari ini, kembali ia minta jatah. Hari ini agak berbeda, jatahnya itu minta tambah, lebih dari biasanya. Kali ini ia minta tambah berkeliling dua kali dilapangan sepakbola desa, setelah itu mengajak ke pasar desa, ingin beli sate katanya, untung naik motor, tidak jalan kaki. Permintaan dan rengekannya membuatku tidak berkutik. Terlebih suara tangisnya yang meraung-ruang bisa terdegar satu Rukun Tetangga (RT), mungkin turunan Ayahnya yang mantan Gembala Kerbau. Itulah senjata pamungkasnya, ditambah dengan sentakan kakinya yang bertenaga. Yang satu ini juga mungkin turunan dari Ayahnya yang konon bandel dan suka ngamuk dimasa kecilnya.

Najmi Rafif Abiyyu Laoddang, nama lengkapnya. Rafif, begitu kami memanggilnya. Semoga telinga dan lidahnya akrab dengan huruf “R” dan “F”. Harap akmai, ia tidak terlalu lama menikmati masa cadelnya. Menjelang 3 tahun usianya, kecerdasannya semakin tumbuh dan berkembang. Tak jarang, kami (orang tuanya) kewalahan menghadapi tingkah dan ocehannya. Saat bundanya sedang memasak, ia turut membantu. Saat ayahnya bersih-bersih rumah, ia turut membantu. Saat tante dan om-nya lagi belajar, ia turut hadir. Meski judulnya hanya satu, membantu untuk mengacau. Saat kami sekeluarga berjualan di Pasar Minggu Timoho, ia pun ikut serta. Tak jarang, keuntungan kami hari itu, habis untuk belanja mainan dan jajan sang Jagoan kami ini.

Saat ada tamu bertandang, ia takkan ketinggalan, duduk dikursi yang sudah “dipantenkan” oleh dirinya sendiri sebagai kursi kebesaran. Secangkir teh juga harus disediakan untuknya, jika tidak jatah Ayah atau tamu yang akan disruput habis. Satu lagi, setelah mandi, maka ia akan memilih pakaian yang akan dikenakannya sendiri. Begitupun ketika hendak bepergian, tak peduli aturan padu padan busana. Tak peduli, kaos dan celananya kadang terbalik antara bagian depan dan belakang, bahkan bagian dalam dan luar. Bagi Rafi, asik-asik aja. Jangan sesekali memaksanya, hanya ribut ujung-ujungnya. Perlahan kami bujuk dan kami terankan kepadanya, meski itu sulit, tapi kami yakin bisa. Hingga hari ini, hanya anjuran membenarkan sandal dan sepatunya saat terbalik, antara kiri dan kananlah yang sudah mampu diterimanya. 

12 jam sebelumnya, Ba’da Shalat Isya saya tiba dirumah. Sekalagi tergopoh-gopoh ia menyambutku diteras rumah. “Ayah dari mana, bawa apa ?”, selalu itu yang ia tanyakan. Kali ini, segaja saya tidak membawakan apapun. Takut terhinggap budaya konsumerisme, pikirku. Padahal, memang kebetulan duit kantong memang tinggal Tujuh Ribu Rupiah. Sambil melepas sepatu dan jaket, mataku tak lepas, lekat menatap Rafif yang sedang berusaha memanjat dan duduk di jok motor. Tiba-tiba, “Ayah-ayah !!!” serunya, “Chaiyya – Chaiyya - Chaiyya – Chaiyya”, sekarang ia bernyanyi dengan kedua tangan diangkat keatas. Akh, virus Chaiyya Norman Kamaru, sukses menulari anakku. Pemberitaan media yang bombaptis juga terbukti sukses menyebarkan virus tersebut. Rafif, tak juga berhenti melagukan lagu Bolywood tersebut, ditambah teriakan “Yes !!” diakhir lagunya makin membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Kubiarkan saja Rafif asyik dengan ulahnya tersebut, tak baik mencabut sang Anak dari dunia dan kesenangannya. Kubiarkan ia berekspresi dan tertawa pula, kelak tentu ada waktu bagiku untuk membimbingnya, pikirku. Mencabut anak dari dunianya, hanya membuat jiwanya makin kerdil, takut mencoba dan akhirnya menjadi manusia-manusia yang kalah sebelum bertanding, pecundang. Bagiku, ulahya kali ini sangat menghibur dan membatuku lepas dari kepenatan.

Kini makin kusadari, tanyangan TV terbukti “terlalu amat sangat efektif sekali” dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku anak-anak. Televisi tidak lagi sekedar wahana hiburan, tetapi lebih hebat dari itu. Menjadi rujukan dan wahana peniruan (what they see is what they do). Secara terang-terangan, anak-anak sebagai salah satu permirsa dan konsumen terlah dicekoki budaya baru berbasis hukum pasar, konsumerisme. Dengan mata kepalaku sendiri, kusaksikan betapa anakku tak lagi doyan makan nasi dan wortel, makanan favoritnya dulu. Rafif sudah latah dan lihai menyebut merk makanan dan penganan tertentu. Kini anakku sudah tidak lagi suka menyanyikan lagu pua-pua nene’ (lagu anak ala Bugis), dulu sempat berganti dengan lagu cinta satu malamnya Melinda. Pun dengan lagu Cicak didinding, berganti dengan lagu “Beybe, Beybe, oooohhhh”-nya Justin Beiber. Tentu ini bukan salah anakku, semua salah orang tuanya. Salah Laoddang Senior, Ayahnya.


Rabu, 07 Desember 2011

PERMATA INDONESIA JUARA ENGLISH DEBATE COMPETITION

Standard
PERMATA INDONESIA JUARA ENGLISH DEBATE COMPETITION

Tetap teguh mahasiswaku
Poltekkes permata Indonesia
Wujudkan darma bakti pada nusa
Berlandas ikhlas, karsa nan saksama
(Bait pertama, Mars POLTEKKES Permat Indonesia)

Haru dan suka cita itu masih terasa. Mengulang sukses merebut juara II dalam MIC 2009, mahasiswa POLTEKKES Permata Indonesia (PI), kembali menorehkan tinta emas dalam ajang yang lebih bergengsi. Mengutus tiga tim sekaligus, PI menempatkan dua tim di babak semifinal English Debate Competition antar Perguruan Tinggi Kesehatan se-Jawa. Mengusung tema “Dare To Speak, Dare To Be Corrected”, ajang ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) POLTEKKES Kementerian Kesehatan Yogyakarta (dh. POLTEKKES Negeri DEPKES Yogyakarta). Tercatat, enam Poltekkes Negeri yakni POLTEKKES Solo, Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta berpartisipasi dalam ajang ini. Sementara, dari institusi swasta tampil tim-tim dari PI, POLTEKKES BSI, dan STIKES A. Yani Yogyakarta.

Bermaterikan  Lisna Nurnaningsih, Dian Herawati dan Sulita Hikmawati di Tim Pertama. Tim dua, oleh Arlinda P A, Husna UL dan Siti. Nurviki H. Sementara tim tiga beranggotakan  Muhandaru HP, Purnama D dan M. Sukrianto. T. Ketiga tim ini berangkat dengan target, hanya turut berpartisipasi. Chief Offical PI Hari Kurniawan, SE, MM., mengungkapkan “Predikat under dog, justru menjadi modal utama tim kami”. Anak-anak tampil tanpa beban, fakta-fakta, data, dan argumen mereka mengalir dan meyakinkan para juri dan tim lawan”, tungkas Pak Hari yang sehari-hari menjabat Pembantu Direktur III di POLTEKKES Permata Indonesia Yogyakarta.

Berlangsung di Auditorium POLTEKKES DEPKES Yogyakar, ajang ini menggunak The Australian Parliamentary System, peserta lomba dibagi dalam empat Group.  TIM PI 1 bergabung di Grup A bersama tim dari POLTEKES Solo 1, Bandung dan Yogyakarta 1. Setelah melewati dua pertanding, TIM PI 1 merajai Grup ini. Di Grup B, TIM PI 2 juga merajai setelah menyingkirkan tim POLTEKKES Solo 2, POLTEKKES Jakarta 2 dan POLTEKKES BSI. Tim PI 3, kalah bersaing dengan tim dari POLTEKKES Yogyakarta 2, Di Grup C ini juga bergabung Tim POLTEKKES Yogyakarta serta dari STIKES A. Yani.

Setelah terjadi All Permata Indonesian’s semifinal, TIM PI 1 berlaga di parti final melawan tim POLTEKKES DEPKES 2, tim tuan rumah. Mengangkat tema debat “The high HIV/AIDS rating in Indonesia influenced by the Globalization era”, Lisna dan kawan-kawan tampil meyakinkan didepan juri, serta mengundang tepuk tangan meriah para penonton. Argumen dan fakta yang dipaparkan Lisna, mengantarkannya merebut predikat “The Best Speaker” dalam ajang ini. Predikat ini terasa lebih lengkap, saat TIM PI 1 dinobatkan sebagai Juara I, setelah unggul telak atas POLTEKES DEPKES Yogyakarta.

Saat ditemui diruang kerjanya, Direktur POLTEKKES Permata Indonesia Yogyakarta, menuturkan. “Ajang ini adalah pemanasan bagi mahasiswa kami, sebelum terjung di ajang serupa yang akan dilaksanakan oleh KOPERTIS Wilayah V Yogyakarta”.  “ Dalam ajang tersebut, kami akan bertanding dengan tim-tim dari seluruh perguruan tinggi se Yogyakarta”, tungkas Ery Rustiyanto, SKM.