Kamis, 28 April 2011

Sarung Sutera Bugis; Dari Sarung Adat Hingga Sarung Senggama

Standard

Saat pulang kampung dan merayakan lebaran Idul Qurban bulan November tahun lalu. Setelah enam tahun tidak pulang kampung, terasa ada yang kurang dihari raya itu. 

Selain karena jamaah Shalat Ied yang kurang akibat berbedanya hari lebaran saat itu, masih ada satu hal yang saya rindukan. Suara, ya sebuah suara khas yang terdengar nyaring dan hanya dapat didengar dengan jelas saat Shalat Ied. Sungguh susah mendefenikan jenis suara tersebut. Jelasnya, suara ini muncul saat gerakan I’tidal (berdiri setelah dua sujud). Saat itulah, sarung-sarung sutera yang digunakan para kaum pria bergesekan dan menghasilkan suara yang indah.

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang haram tidaknya memakai Sarung Sutera bagi pria, bagi penulis suara itu sangat khas dan membangkitkan kerinduan. Sayang suara tak adalah lagi, seiring mulai jarangnya kaum pria yang memakai sarung tersebut untuk Shalat Ied, lengkap dengan jas dan kopiah hitamnya. Tergeser oleh sarung-sarung berbahan katun dan lebih “berkelas” karena diiklankan di berbagai media.

Sarung. Lipa, begitu orang Bugis menyebutnya. Lipa adalah bagian dari kehidupan masyarakat Bugis-Makassar-Mandar-Toraja (BMMT). Lipa bukan saja merupakan busana tradisional masyarakat BMMT dalam berbagai acara adat. Sarung juga dipakai sebagai pelengkap ibadah, kerja, tidur, bahkan untuk bersenggama. Di Sulawesi sendiri, budaya menenun kain mulai berkembang pada tahun 1400 dengan corak garis vertikal dan horisontal. Kemudian tahun 1600 berkembanglah corak kotak-kotak seiring dengan masa kejayaan Islam di Sulawesi Selatan. .

Lipa bercorak kotak-kotak kemudian menjadi ciri khas corak lippa, baik sebagai corak maupun latar corak. Thommas Forrest (1987;80) dalam bukunya Voyage from Calcuta, menceritakan “Sarung Bugis, meski hanya terbuat dari selembar kain ... dapat menutupi kepala hingga kaki orang yang mengenakannya, bahkan pada saat mereka tidur... motifnya yang kotak-kotak membuat kain itu serupa dengan kain Tartan (Skotlandia)”.


MOTIF PADA SARUNG BUGIS

Seperti halnya dengan kebanyakan kain dan sarung tenun dari berbagai penjuru Indonesia. Sarung Bugis juga memiliki motif atau corak sendiri, dalam bahasa Bugis disebut balo, yang juga bisa berarti hiasan atau warna. Corak ini menyiratkan simbol dan sarat kandungan nilai filosofi yang estetik dan eksotik.

MOTIF BALO RENNI

Disebut motif balo rennni, karena sarung ini sarat dengan garis-garis vertikal dan horizontal yang tipis dan menghasilkan ribuan kotak-kotak kecil pula. Warna, kombinasi warna dan kombinasi garis tersebut akan ditemui pada keseluruhan kain sarung ini. Kecuali pada bagian kapalanna (tumpal), bagian yang harus berada dibelakang, lurus dengan punggung sang pemakai. Pada bagian ini akan ditemui garis dan kotak-kotak dengan pilihan warna, kombinasi warna atau kombinasi garis yang berbeda. Sebagai pembeda antara bagian kapala dan watang (tubuh) sarung tersebut.

Sarung dengan motif ini biasanya memakai warna-warna terang yang lembut, seperti Bakko (merah jambu), Cui (Hijau Muda), mengingat yang memakainya adalah gadis, seseorang yang belum menikah. Dulu, bagi anda para pria yang ingin mencari perempuan Bugis untuk calon istri, rajinlah datang ke hajatan-hajatan di tanah Bugis. Jika anda melihat seorang perempuan menggunakan motif ini, maka ia adalah perawan. Jika anda ingin hal serupa saat ini, yakin dan percaya anda akan kecewa. Masyarakat BMMT saat ini memakai sarung tidak lagi memperhatikan nilai dan simbol dari sarung yang dipakainya. Aspek kecocokan warna, motif dan mode terbaru adalah pertimbangan utama.

MOTIF BALO LOBANG

Sebagai pasangan dari motif balo renni, motif balo lobang ini dikhususkan bagi Pria yang belum menikah. Garis dan kombinasi garis sangat berbeda, garisnya cenderung lebih tebal dan menghasilkan puluhan kotak-kotak yang besar pula. Dari segi warna, biasanya memilih warna terang yang garang seperti warna Cella (Merah), Cella Raka (Merah Menyala), Camara’ (Merah keemasan).

MOTIF TETTONG & MOTIF MAKKALU

Serupa dengan motif balo renni dan motif balo lobang, motif tettong dan motif makkalu juga memanfaatkan permaian garis dan kombinasi garis. Bedanya terletak pada jenis garis yang dipakai, jika pada motif balo renni dan balo lobang kombinasi garis tegak dan melintang akan ditemui dalam satu sarung. Maka pada motif tettong (berdiri tegak) yang ditemui, sementara pada motif makkalu (melintang dan melingkar) hanya garis melintang yang ditemui. Disebut makkalu karena ujung dari garis melintang pada motif ini akan bertemu kembali setelah ujung kain disatukan dengan cara dijahit. Ingat, kain sutera tidak bisa (bukan tidak boleh), dijahit dengan mesin jahit. Melainkan harus dijahit menggunkan jarum tangan. Nekat menggunkan mesin jahit fatal akibatnya. Salur Wennang Sau (lungsi), Bali Are / Sobbi (pakan) akan tercerabut.

MOTIF BOMBANG

Mungkin karena masyarakat BMMT terkenal dengan budaya baharinya, maka muncul pula motif bombang (Ombak) pada sarung suteranya. Sepintas, motif ini lebih cocok disebut motif bulu-bulu (perbukitan), motifnya serupa segitiga sama sisi yang berjejeran dan sambung menyambung. Tentu leluhur kita punya pertimbangan sendiri sehingga lebih memilih nama motif bombang dibanding motif bulu-bulu. Mungkin selain simbol jiwa bahari tadi, pertimbangan multi makna kata bulu-bulu tadi juga menjadi pertimbangan. Kata bulu-bulu dalam bahasa Bugis, selain bermakna perbukitan juga bisa bermakna milik yang melekat dan bulu yang tumbuh disekujur tubuh (selain rambut).

MOTIF COBO’

Serupa dengan motif bombang, motif cobo juga berbentuk segitiga. Bedanya, pada motof cobo bentuk segitiganya lebih ramping dan tinggi tegak dengan ujung yang lebih cobo’ (runcing) lagi. Segitiga pada motif cobo juga berjejeran melintang hingga bertemu diujung sarung setelah dijahit. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada (untuk tidak mengatakan “tidak ada”) satupun catatan yang menjelaskan sejarah dan siapa yang berhaka memakai sarung dengan motif cobo’ ini. Namun dalam kesehariannya, motif ini banyak dipakai oleh mereka yang akan melakukan proses pendekatan hingga proses melamar dalam adat Bugis. Bisa jadi motif Cobo’ ini adalah simbol dari keteguhan hati sang pria dan keluarganya untuk melamar pujaan hatinya.

MOTIF MOPPANG

Dari tujuh motif yang ada, inilah motif yang sudah punah, lebih dari 20 tahun penulis tidak pernah lagi molihat motif ini. Berbeda dengan keenam motif sebelumnya, motif ini tabu untuk dipakai diluar rumah oleh pria maupun perempuan. Lajang, sudah menikah ataupun Duda/duda. Motif ini hanya ditemui didalam kamar bagi mereka yang sudah berkeluarga. Jika tak disembunyikan dalam lemari, kadang pula disembunyikan bersama lipatan Kelambu. Bahkan ada yang menyembunyikan dibalik sarung bantal bersama bantal itu sendiri hingga disembunyikan dibawah kasur.

Kenapa sarung dengan motif ini sangat “disembunyikan”?, tentu ada alasan dan latar belakang. Sarung dengan motif ini dibuat khusus untuk melakukan proses “Siri’ dalam sarung”. Persenggamaan dalam sebuah sarung. Kaidah dalam kearifan lokal Bugis mengajarkan, proses persetubuhan hanya boleh dilakukan dalam sebuah sarung. Suami dan Istri, bersama-sama masuk dalam sebuah sarung (sekarang diganti dengan selimut). Inilah bentuk penghargaan adat Bugis terhadap harkat dan martabat perempuan. Seks tidak dimaknai sebagai pergumulan nafsu, melainkan sebentuk Kewajiban dan Hak yang memiliki tatanan dan tuntunan. Tehnik ini dikupas detail dalam Lontara Sebboq/Assikalabaineng, kitab percintaan ala Bugis. Mungkin serupa dengan Kamasutra ala India atau Serat Centhini ala Jawa.

Sarung ini dibuat dengan ukuran yang lebih besar, satu kali setengah hingga dua kali lebih besar dari sarung biasa. Penulis yakin, anda tentu tahu, kenapa sarung ini lebih besar ukurannya. Dahulu, sarung dengan motif ini akan dibuat oleh para gadis Bugis menjelang pernikahannya. Sederhananya, inilah tenunan terahir sang gadis selama masih perawan. Jangan berharap sarung ini dapat anda lihat akan dijemur atau dianginkan-anginkan oleh si empunya. Sarung ini tak pernah dicuci. Tak boleh ditampakkan kepada orang lain, ia adalah simbol aib bagi sepasang suami istri.

Sarung ini dibuat dengan kandungan kain sutera yang minim. Juga tidak memakai tambahan benang emas atau benang perak (Bugis : Gengang). Sekali lagi, tentu anda (terutama yang sudah menikah) tahu apa alasannya. Uniknya lagi, sarung ini tak diwariskan. Jika salah satu dari pasangan suami istri tadi meninggal atau berpisah karena cerai. Maka sarung ini akan dibakar, meski ada juga yang menyimpannya sebagai kenangan. Meski pada akhirnya akan dimusnahkan. Ingat, sarung ini pantang untuk diperlihatkan pada siapapun, termasuk anak sendiri. Maka ia tak boleh diwariskan.

Disebut motif moppang, karena dalam sarung ini hanya ada empat larik garis sejajar dan melintang (. Dua garis tipis setebal satu lebar jari telunjuk akan mengapit dua buah garis besar setebal lima lebar jari telunjuk pria dewasa. Jarak antara garis tipis dengan garis tebal adalah selebar lima lebar jari telunjuk pria dewasa. Sementara jarak antara kedua garis tebal tadi adalah selebar satu jari telunjuk dewasa. Dari jauh, garis-garis ini seolah berhadapan dalam posisi Moppang (tengkurap). Maka munculllah istilah lain dari motif ini, yakni Sioppangeng (Saling berhadapan). Satu jari tadi adalah simbol dari parewa alu-alunna sang pria, sedangkan lima jari adalah simbol lima lapis pelindung rahim sang perempuan (Jempa-jempa, kulit tubuh, mulut *maaf* vagina, selaput darah vagina dan mulut rahim sendiri).

Apakah keunikan sarung sutera hanya terletak pada motif semata?, bagaimana pula pergulatannya dengan trend dan mode modern saat ini? Bagaimana sejarah masukanya sarung di bumi Sulawesi? Apa hubungan sarung Bugis dari Sulawesi di dengan Sarung Samarinda di Kalimantan dan Kain Sutera di Palembang? Tunggu tulisan edisi berikutnya.

Bersambung ...


Catatan :

Photo = Koleksi kainsutrasabbekhasbugis.blogspot.com

Selasa, 26 April 2011

GUMBANG, BEMPA DAN BUSU, Wadah air masyarakat Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja

Standard

GUMBANG, BEMPA DAN BUSU,
Wadah air masyarakat Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja


Anda Orang Bugis – Makassar – Mandar – Toraja (BMMT) ?. Dengan apa anda menyimpan persedian air dirumah anda ?. Dengan bak dari dari batu-bata berlapis keramik, dari bak plastik atau dengan ember plastik ?. Dengan baskom dari karet ban bekas mungkin ?. Lalu masih ingatkah anda dengan barang-barang berikut ?. Gumbang, Bempa dan Busu ?.

Mungkin tak banyak lagi diantara kita yang ingat dengan barang ini ?. Padahal itu belum ditambah dengan barang lainnya seperti Kaddaro Bila, Tarompong, Bira’ Awoo. Barang-barang tersebut adalah nama Bugis (maaf saya tidak tahu persis bahasa Makassar, Manda dan Toraja-nya) untuk wadah air, wadah menampung persedian air dalam rumah tangga masyarakat BMMT. Mungkin kita hanya familiar dengan kata Tempayang, kata dalam Bahasa Indonesianya. Masing-masing barang diciptakan dari bahan, ukuran, bentuk yang relatif berbeda, termasuk kegunaan masing-masing.

Gumbang dibuat dari bahan Batu Padas (Bugis : Batu Bulu) atau batuan sungai / kali (Bugis : Batu Salo), melalui proses pemahatan yang memakan waktu dan tenaga. Bukan hanya saat membuatnya, untuk menemukan bahan bakunya saja butuh waktu dan tenaga. Jika menggunakan bahan batu padas, maka para pallangro batu (perajin/pemahat batu) akan mencarinya dipunggung-punggung bukit, tak jarang juga harus menggali terlebih dahulu. Tempat penggalian ini, selanjutnya disebut Abbatung (Tambang Batu). Jika dengan batu kali, maka biasanya tidak dipotong lagi berbentuk kotak. Tapi utuh, langsung diangkat. Batu terpilih tadi selanjutnya dipotong sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. Rata-rata berukuran 100 Cm x 80 Cm. Kotak batu ini selanjutnya dipikul oleh beberapa orang menuju tempat para perajin pahat batu. Setelah melewati proses pemahatan yang rumit dan sarat filosofi dan kaidah khusus, jadilah sebuah Gumbang berbentuk tabung dengan tinggi sekitar 80 Cm daeng diameter sekitar 60 Cm pada bagian bawah dan 50 Cm pada mulut gumbang tadi.

Angka-angka tadi memiliki makna filosofis, 80 dengan angka pokok 8 dalam bahasa Bugis disebut Aruwa. Sebuah kata yang memiliki kesamaan bunyi dengan kata Ruwaa (Ramai). Angka 6 pada angka 60, berfilosofi dengan kata Manenneng (Sedih), sementara angka 5 pada angka 50 berfilosofi dengan kata Lima (Tangan). Secara utuh, dalam filosifi ini terangkum dalam bahasa Bugis yang berbunyi. “ Ruwa-ruwasi lise gumbangmu, anengnengko narekko dee maratte limai lise’na. Penuhilah Gumbang-mu dengan air, bersedihlah jika tanganmu tak lagi mampu menggapai permukaan airnya. “.

Dalam kesehariannya, gumbang ini dipakai untuk menampung air yang akan digunakan untuk keperluan Mandi, Cuci dan Kakus. Ingat, rumah panggung di BMMT pasti memiliki atteme-temeng biasa juga disebut appica’-picakeng. Saat anda melakukan kegiatan MCK tadi, anda pasti dan harus melakukannya dengan posisi jongkok disamping gumbang tadi. Runyamnya, saat persediaan air dalam gumbang tadi menipis dan tangan anda (dengan bantuan gayung), tak mampu lagi menimba airnya. Tentu ada harus berdiri atau setengah berdiri untuk mengambil air. Disaat inilah anda harus merasa manenneng, sebagaimana termaktub dalam filosifi diatas. Pantang dan menjadi aib jika air dalam gumbang anda hanya tersisa setengahnya. Terlebih saat ada orang yang bertandang dirumah atau numpang buang air dirumah anda. Mau ?.

Disebut gumbang karena bentuknya yang menggembung pada bagian pertunya. Ibarat perut manusia yang buncit begitulah rupa badan gumbang ini. Perut buncit dalam bahasa Bugis adalah Maggumbang Babuana. Jadi buncit sama dengan gumbang


Bempa dan Busu
Untuk menyimpan air sebagai bahan baku memasak, masyarakat BMMT menggunakan Bempa. Sedangkan untuk menyimpan air minum yang telah direbus, dipergunakanlah Busu. Meski ada yang terbuat dari bahan batu padas atau batu kali, kebanyak Bempa dan Busu berupah hasil kerajinan tangan berbahan tanah liat.

Meski memiliki ukuran yang sama dengan Gumbang. Bempa dapat dikenali dari bentuknya yang lebih langsing, tapi tidak merit. Silinder serupa tabung dengan mulut lebih kecil. Sementara Busu, ukurannya jauh lebih kecil, tak lebih dari tellu jakka x tellu jakka (Jangka) tangan dewasa. Bentuk serupa dengan Gumbang, dengan perut buncitnya.
Jika bertamu kerumah karib kerabat, saya dapat membedakan mana air yang berasal dari Busu atau berasal dari wadah ember apalagi dari galon. Air minum dari busu akan terasa segar dengan hawa dingin yang unik. Berbeda dengan rasa dingin dari lemari pendingin. Anda bisa merasakan juga ?. Jika tidak, kacian deh lu !.

Pernahkah anda disuguhi air minum berwarna semburat merah, tapi tak menyertakan rasa manis ataupun pahit. Inilah yang disebut wai seppang, sesungguhnya ia adalah air minum biasa yang dipewarna, hasil dari penguraian warna alami yang terkadung dalam aju seppang (Kayu Secang / Latin : Sappan lignum). Cara membuatnya mudah, serpihan-serpihan aju seppang cukup dimasukkan dalam busu, biarkan ia disana sepanjang waktu. Kandungan warna alami pada sekerat aju seppang seberat 1 ons, akan mampu mewarnai 10 liter air minum. Bila anda sedang di kota Yogyakarta atau Solo, carilah minuman Wedang Uwuh, didalamnya ada aroma dan warna aju seppang tadi.

Si Labu Pahit
Satu pertanyaan lagi, jika anda berasal dari suku BMMT dan beragama Islam. Mungkin anda masih ingat kala belajar mengaji dulu, sekarang sih tergantikan dengan metode Iqra. Berbekal Sarung, Pecis bagi cowok dan kerudung bagi cewek. Saat sore menjelang, anak-anak BMMT (5 – 12 Tahun) rutin mendatangi rumah Guru mengajinya. Pasca belajar mengaji, sebagai bentuk Taqzim pada sang Guru, anak-anak mengaji ini biasanya berbondong-bondong kesumber air untuk mengambil air untuk mengisi bak air dirumah sang guru, atau bak air di Surau kampung. Bak air diisi penuh untuk persedian air wudhu jamaah Shalat Magrib nanti.

Jika anda masih ingat dengan tradisi tersebut. Mungkin juga anda masih ingat dengan wadah untuk membawa air tersebut yang terbuat dari Kaddaro Bila (Pohon Maja / Latin : Aegle marmelo). Atau yang terbuat dari Buah Lawo Pai’ (Labu Pahit/Latin : ), di Tanah Bugis disebut Tarompang. Masih adalagi Bira’ Awo, wadah yang dari bambu.

Kaddaro Bila. Membuat kaddaro bila sangatlah sulit dan memakan waktu setidaknya 1 Bulan. Dimulai dengan memilih buah maja yang sudah tua, dengan batok yang keras dan mengeluar bunyi nyaring bila diketuk. Buah maja selanjut diberi 4 lubang pada bagian atas. Dua lubang berdiameter 3-4 Cm dibuat sejajar. Lubang sebagai lubang saluran memasukkan air, satu lubang lagi untuk jalur keluarnya udara, yang tertekan akibat tekanan massa air yang masuk. Dua lubang lainnya dengan diameter 0,5 cm dibuat berjajar pula tepat diatas 2 lubang besar tadi. Berfungsi sebagai lubang untuk memasukkan tali pengait bagi wadah air ini ketika dijinjing atau dipikul. Ingat, lubang ini harus dibuat tepat ditengah dan presisi. Jika tidak, dipastikan air anda akan terbuang akibat guncangan saat dijinjing atau dipikul.

Setelah lubang dibuat, selanjut isi dari buah maja tadi dikeluarkan semua dengan cara dikerok, lalu dibersihkan. Batok buah maja tadi, kemudian di keringkan, bukan dijemur dibawah terik matahari. Agar lebih awet dan tidak gampang pecah. Setelah kering, sebelum digunakan batok tadi dipendam dilumpur sawah, setidaknya 5 – 7 hari.

TAROMPONG & BIRA AWO. Membuat tarompong sama persih dengan cara membuat kaddaro bila tadi. Termasuk cara lubang dan cara pengawetannya. Dari segi fisik, kaddaro bila berbentuk bulat mirip bola kaki. Sementara Tarompong, berbentuk lonjong cenderung oval, mirip buah Jambu Bol. Sementara untuk membuat bira awo, sangatlah mudah. Pilihlah bambu yang sudah tua, diamater besar dan ruang yang panjang. Sebaiknya pilihlah bambu dari jenis Bambu Petung.

Bagaimana, sudah ingat. Atau generasi anda sudah tidak pernah melihatnya lagi. Kemungkinan yang kedua kayaknya lebih besar. Saya pun hanya mendapatkan sisa-sisa kejayaannya saja. Saat sekolah SD hingga SMEA dulu saya sudah menggunakan ember plastik atau ember bekas wadah cat tembok. Sebelum saya akhiri, satu pertanyaan lagi. Sungguh ini yang terakhir !.

Ingatkah anda dengan benda ini. Cangkiri, Mo’, Cantek, Kaca, Kaca Inungeng, Kaca Toling, Kaca Dadi, dan Cerek. Oh ya, ada yang tahu bahasa Bugisnya Teko, tolong beritahu aku juga yah.

Jumat, 15 April 2011

KASUMBA & PARIA, PENAWAR CACAR

Standard

Entah sudah berapa kali saya menerima pertanyaan, “Apakah Bahasa Indonesia-nya Kasumba ?”. Mereka menanyakan nama Indonesia dari Kasumba ini, mengingat masyarakat diluar pulau Sulawesi mungkin tidak mengenal rempah-rempah tersebut. Bisa juga karena nama berbeda untuk merujuk pada rempah-rempah yang sama. Seorang adinda di Bogor, panik saat mendapati anaknya yang baru berumur 10 Bulan terserang penyakit cacar air (Varicella simplex). Hal pertama yang dia ingat adalah, pengobatan tradisional, seperti yang diajarkan leluhurnya. Tengah malam tadi, adinda yang lainnya juga menanyakan hal serupa, katanya seorang warga asramanya terpapar cacar disekujur tubuhnya. Tiga hari yang lalu, anak tetangga juga terpapar penyakit yang sama.

Ibarat tamu tak diundang, cacar air kerap datang tiba-tiba tanpa pandang bulu. Kendati bisa disembuhkan, jangan sepelekan penyakit yang telah berusia ratusan tahun ini, selain bisa mengundang komplikasi sejumlah penyakit. Bekas gelembungnya juga bisa meninggalkan bopeng yang mengganggu penampilan.

Cacar air, dikenal juga dengan nama Varicella simplexadalah suatupenyakitmenular yang disebabkan oleh infeksivirus varicella-zoster. Pada permulaannya, penderita akan merasa sedikitdemam,pilek, cepat merasa lelah, lesu, dan lemah. Pada kasus yang lebih berat, kadang disertai nyeri sendi, sakit kepala dan pusing. Dikemudian hari timbullah bintik kemerahan padakulityang berukuran kecil yang pertama kali ditemukan di sekitar dada dan perut atau punggung lalu diikuti timbul di anggota gerak dan wajah.
Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi lenting berisi cairan dengan dinding tipis. Jika lenting ini dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng (krusta) yang akan terlepas dengan sendirinya. Tapi, meninggalkanbercakdi kulit yang lebih gelap. Bercak ini lama-kelamaan akan pudar dan tidak akan meninggalkan bekas.

Lain halnya jika lenting cacar air tersebut dipecahkan. Krusta akan segera terbentuk, dan butuh tidak segera mengering. Kondisi ini dapat memicu infeksi bakteri pada bekas luka garukan tadi. setelah mengering bekas cacar air tadi akan menghilangkan bekas yang dalam. Runyamnya jika penderita sudah dewasa atau berusia belia, bekas cacar air akan lebih sulit menghilang.
Selain pengobatan medis, masyarakat Indonesia juga masih sering mengobati penyakit cacar ini dengan ramuan tradisional. Dalam ilmu pengobatan Bugis – Makassar setidaknya ada dua jenis ramuan untuk mengobati penyakit ini. Diantaranya ;

Sayur Paria :

Paria (Momordica carantia) merupakan jenis sayuran yang tak asing lagi bagi kita. Paria ( Jawa : Pare; Bugis, Sunda : Paria ), banyak tumbuh di daerah tropis dan mudah di jumpai mulai dari pasar tradisional hingga di supermarket. Khasiat paria selama ini diketahui dari berita yang tersebar dari mulut ke mulut. Sejak zaman dahulu, oleh bangsa Cina, Paria digunakan sebagai obat penurun panas, diare, serta penangkal keracunan makanan. Selain itu paria juga dapat mengatasi terganggunya nafsu makan terutama pada saat udara terasa panas sehingga paria sangat cocok bila dimasak pada saat musim kemarau.
Mengkonsumsi sayur paria akan sangat membantu daya imunitas tubuh untuk melawan virus cacar yang menyerang tubuh. Sementara ramuan daun Paria diyakini dan telah dibuktikan oleh Pengobatan Tradisional Bugis mampu menghilangkan bekas bopeng/kroteng di kulit yang tadinya ditumbuhi gelumbung cacar. Hal ini dikarenakan besarnya kandungan Vitamin C dalam buah dan daun Paria. Vitamin C yang terkandung di dalam 100 gram paria sekitar 120 ml. Vitamin C ini berfungsi untuk menjaga kecantikan kulit, yaitu mencegah kerusakan kulit yang diakibatkan oleh sengatan ultra violet. Berarti, paria juga mampu mencegah munculnya noda hitam dan kerutan pada wajah. Ini pulalah yang mendasari kenapa masyarakat Bugis menggunakan ramuan daun paria sebagai obat cacar.
Cara membuat ramuan. Ambillah beberapa lembar daun Paria irisan dua siung bawang merah, sejumput garam kristal, 5 sendok minyak goreng kelapa. Remas hingga menjadi satu, hingga garamnya lumer bersama minyak gorengnya. Getah daun Paria yang telah menyatu dengan minyak goreng tadi, dioleskan kesekujur tubuh penderita cacar. Ingat, jangan hanya dioleskan pada daerah yang kena cacar, melainkan disekujur tubuh.

Kasumba

Kasumba dalam bahasa Makassar, atau Kesumba dalam Bahasa Bugis. Sejatinya adalah pucuk bunga yang diyakini dan terbukti mampu mengobati penyakit cacar air. Kesumba sendiri terdiri dari dua jenis :

CIPPE LAMACUI
Sejenis tanaman benalu (Loranthus, suku Loranthaceae), yang menempel (menumpang tumbuh) pada tanaman besar seperti Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia), Jeruk Buah (Citrus fruit), Kapuk (Ceiba pentandra), dan tanaman lainnya. Umumnya, untuk mengobati penyakit cacar air, Cippe Lamacui yang menempel pada jeruk nipis lebih berkhasiat dibanding yang lainnya. Uniknya, untuk keperluan pengobatan, benalu ini harus dipetik langsung antara pukul 09.00 – 11.00. Tidak boleh diambil dengan bantuan penjolok/sulur bambu panjang. Mungkin terkesan mistis, tetapi hemat penulis tidak demikian. Putik cippe lamacui yang gampang gugur memang sangat beresiko jika diambil dengan bantuan penjolok. Disamping itu, menempelnya embun pagi hari juga sangat mempengaruhi mudahnya sang putik gugur. Sementara, diatas jam 11.00 diperkirakan putik sudah banyak yang hilang akibat diterbangkan angin.

PUTIK KUMA-KUMA
Selama ini banyak yang salah kaprah, dan menganggap Kesumba itu adalah bunga/putik bunga teratai. Makanya, wajar jika ada istilah KESUMBA TERATE. Hal ini dirasa wajar, mengingat bentuk dan bunga serta putik bunga kuma-kuma memang hampir mirip dengan teratai air. Jika teratai air banyak tumbuh didaerah perairan, maka kuma-kuma justru tumbuh didaratan. Kuma-kuma sering juga disebut safron(saffron) adalah tanaman rempah–rempah dari putikbungaCrocus sativus. Bunga kuma-kuma memiliki tiga kepala putik. Bagian tangkai putik, yang menghubungkan kepala putik dengan bagian bunga paling dalam inilah yang dikeringkan dan disebutsaffron. Hasilnya dipakai sebagaibumbumasakdan bahan pewarna. Safron berasal dariAsia Barat Daya,konon sempat menjadi tanama rempah termahal didunia.


Safron memiliki rasa khas sedikit pahit dan berbau harum seperti iodoform atau rumput kering yang disebabkan zat kimia bernama picrocrocin dan safranal. Safron mengandung crocin, salah satu bahan pewarnakarotenoid yang membuat makanan berubah warna menjadikuningkeemasan. Warna kuning terang safron menjadikannya sebagai rempah-rempah yang paling banyak dicari orang di dunia. Dalam pengobatan tradisional, safron digunakan sebagai obat berbagai macam penyakit.

Cara membuat ramuan Kasumba : Bunga Kasumba direbus dengan dua gelas air, bisa pula dengan diseduh air mendidih. Setelah dingin, minumlah tiga gelas sehari.

Belum puas rasanya melengkapi tulisan ini. Masih perlu penelusuran data dan bertanya pada para pakaar biologi, farmasi dan pakar-pakar lainnya. Tapi, tulisan terpaksa harus segera di unggah. Niatnya sederhana, semoga dapat bermanfaat sebagai bahan rujukan bagi siapapun atau mungkin bagi mereka yang memiliki keluarga yang terpapar penyakit cacar ini. Selamat mencoba, semoga cepat sembuh.