Senin, 25 Juli 2011

RAMADHAN, RUTINITAS TAHUNAN

Standard



Banyak dara berpinggang merit
Dengan wajah legit
Rame-rame ngabuburit
Dengan busana yang serba irit

Pamer hasil perawatan kulit
Meski penuh selulit
Tak peduli resiko sakit
Tak peduli ulama menjerit

Dakwah muballig kian sulit
Ditengah resesi yang kian rumit
Tarif sembako kian melejit
ditengah hutang yang membelit

Isi amplop semakin sedikit
Ummat makin pelit
Hedonis kian menggigit
Ummat tak kuasa berkelit



Puisi diatas saya buat dua tahun yang lalu, Ramadhan 1430 H. Setehun lalu ku-posting lagi sebagai notes. Puisi dengan judul “Serba IT” tersebut, dibuat untuk mengkritisi tingkah pola kawula muda di Bulan Ramadhan. Saban sore “ngabuburit”, keliling kota bareng “Muhrim Haramnya”. Berbusana ala kadarnya, serba irit kain. Konon, busananya sangat dinamis dengan jaman yang serba krisis. Padahal dialah sebenarnya yang dilanda krisis moral. Belum lagi T-Shirt yang dipakainya dari bahan kaos tipis (biasanya untuk saringan tahu), yang menampakkan lapisan dalam kaosnya serta pinggangnya yang merit, meski sana-sini penuh dengan selulit. Habis ngabuburit, entah pake Shalat Magrib apa tidak ?, pulang sejenak kerumah. Lalu janjian kembali untuk taraweh bersama dengan Muhrim Haramnya.

Demi melewati masa-masa indah bersama, belasan Masjid, Musholla dekat dirumah dilewati. Sengaja memilih masjid yang lebih jauh. Alasannya, semakin jauh kaki melangkah ke Masjid, semakin besar pahalanya. Padahal biar lebih lama boncengan dengan sang Muhrim Haram. Tiba giliran ceramah antara Shalat Isya dan Taraweh, tak henti-hentinya ia mengumpat “akh ustazdnya gak asyik nih, ceramah kelamaan”. Giliran pulang, sengaja ngambil jalan muter jauh. Katanya tadi shalat Tarawehnya ngambil yang 23 rakaat. Ramadhan sama dengan rutinitas tahunan, agar masa wakuncar bisa lebih lama.

Ramadhan, rutinitas tahunan. Seorang ibu rumah tangga, sebut saja sang Lavecia Signora (Nyonya besar dalam bahasa Negeri Pizza) bersama sang pembantu, sehari menjelang puasa terlihat mondar-mandir didapur, menelisik memeriksa bumbu dan bahan masakan apa yang sudah habis bulan ini. Targetnya, malam ini harus belanja untuk stock hingga lebaran.

Tak peduli dengan seorang perempuan tua, yang tak tahu harus masak apa buat sahur suami dan anaknya hari ini. Perempuan tua itu berlindung dibawah bentangan selembar spanduk berbahan plastic vinyl, bekas iklan rokok yang baru 3 minggu lalu dilepas dari papan Billboard. Spanduk itu menempel didinding luar rumah sang nyonya besar. Sang Nyonya juga tak peduli dengan sang suami di sudut ruangan lainnya, yang sibuk mereka darimana gerangan sumber pemasukan untuk menutupi pengeluaran dibulan puasa ini. Korupsi, mungkin itu solusinya. Ramadhan, sama dengan setan pembuka pintu korupsi.

Ramdahan, rutinitas tahunan. Disudut dapur yang telah menghitam karena asap dari tungku berumur puluhan tahun. Seorang ibu duduk menatap jilatan-jilatan api pada cabikan lembar-lembar tripleks. Bahan bakarnya untuk memasak kali ini, entah untuk untuk Magrib nanti. Sebenarnya ia punya kompor dan tabung gas hasil pembagian pemerintah. Tapi tak dipakainya. Baginya tabung gas itu tak lebih dari bom molotov, siap meledak kapan saja dan kian mempersulit hidupnya. Sang suami, dengan kuas dan kapur sisa hasil dari kerja borongan melabur gapura desa, asik melabur dinding depan rumahnya yang terbuat dari gedek bambu, itupun sudah lapuk dibagian bawahnya. “Sedikit berbenah untuk menyambut 66 tahun kemerdekaan negerinya sekaligus menyambut bulan Ramadhan”, katanya. Ramadhan sama dengan menunggu kerja borongan sambil berharap sisa untuk mempercantik rumah yang sudah reot.

Ramadhan, rutinitas tahunan. Dua hari menjelang puasa, seorang ABG sibuk mengutak-atik kata dan kalimat di fasilitas Message HP-nya. Setiap kata dan kalimat dipertimbangkan agar puitis dan Islami. Didalam SMS itu harus ada kata “Mohon Maaf Lahir Bathin”, “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”, “Marhaban Ya Ramadhan”. Adalagi yang sedikit kreatif memadukan nama-nama provider telekomunikasi seluler dalam sebuah kalimat. Ada pula kalimat yang mengusung kearifan lokal, dengan untaian kalimat berbahasa daerah. Namun tak sedikit yang memilih menunggu kiriman dari teman-temannya lain, lalu dikirimkan kembali ke temannya yang lain. Ramadhan sama dengan rutinitas tahunan, dosa, khilaf, alfa, kesalahan selama sebelas bulan dibiarkan berlalu. Dikumpulkan untuk dimintakan maaf secara jamaah di Bulan Ramadhan.

Ramadhan, sebuah rutinitas. Bagi para penjaja busana Muslim berikut perlengkapannya, juga bagi para penjaja makanan dan minuman buka puasa. Tak ketinggalan bagi para penjual paket parsel / bingkisan lebaran. Mereka berlomba-lomba mengejar Rupiah, sejajar dengan para konsumen yang seolah punya tenaga dan sumber dana ekstra dibulan puasa untuk berbelanja semaksimal mungkin. Seirama dengan ribuan orang dan instansi yang berebutan cari nama atau setidaknya setor muka kepada pimpinan dan atasan lewat kiriman parselnya. Juga senada dengan para perantau, ya perantau kerja juga perantau Pelajar – Mahasiswa yang ingin dianggap sukses dan kaya. Tak segan memborong belanjaan atas nama oleh-oleh. Meski kadang biaya oleh-oleh lebih tinggi dari biaya transportasi buat mudik. Tak peduli, di jejeran rel kereta api di sudut kota. Berjubel manusia berjejer dengan asa yang tak pasti. Jangankan untuk beli oleh-oleh untuk sekedar mendapatkan tiket kelas ekonomipun susah. Kalaupun dapat, didalam gerbong kereta api hukum rimba telah menanti, para penjual tiket tidak pernah dan takkan pernah menjamin semua penumpang akan mendapatkan kursi / tempat duduk. Berarti Ramadhan sama dengan membumikan ekonomi kapitalis dan hukum rimba.

Ramadhan, rutinitas tahunan. Sang Manajer Personalia sebuah perusahaan, asik mojok dengan Manajer Keuangan. Menghitung dan memilah lembaran Rupiah demi Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para karyawannya. Disisi lain, sang karyawan sedang menulis status di Facebooknya “Berapa ya THR tahun ini”. Ditulis dengan otak yang bekerja melebihi kecepatan Komputer dengan Processor Intel Pentium 2,8 GHz, mencoba mengkalkulasi akan diapakan uang THR tersebut. Mereka semua tak pernah peduli, jika dibawah jembatan Sayidan Yogyakarta, seorang anak menunggu keikhlasan seekor lele untuk menyambar umpan dan kailnya, sekedar lauk buat buka puasa hari ini. Akh, Ramadhan sama dengan THR dan Ikan Lele.

Ramadhan, sebuah rutinitas. Seorang pejabat di negeri kaya nan cantik ini. Sibuk merancang acara open house saat lebaran nanti. Menu apa yang akan disajikan, berapa amplop yang akan dibagikan, siapa-siapa saja yang akan datang. Sang pejabat juga sibuk memeriksa lembar kerja asisten pribadinya, siapakah gerangan anak buahku, siapakah gerangan kepala dinas yang belum setor “upeti” untuk acara open house-nya. Sang pejabat, pura-pura tidak menonton dan mendengar keluh kesah para wong cilik, para pemudik yang meregang nyawa di jalanan. Konon di Tahun 2009, 45 nyawa melayang tiap harinya selama 13 hari masa mudik. Tragis !!!. Ramadhan sama dengan ajang tega-tegaan dan pembantaian.

Ramadhan, sebuah rutinitas. Hampir semua siaran televisi menampilkan acara Sahur bareng yang kental dengan sentuhan entertainment. Host dan bintang tamupun dibayar mahal demi mengejar rating. Tak peduli jika para pesohor itu adalah sosok kontroversial, yang sabang hari berbusana minimalis, mengumbar syahwat. Dengan alasan profesionalisme, selama Bulan Ramadhan pesohor itu berkenang menempelkan selendang diatas rambut mahalnya. Dengan alasan yang sama pula, tiga hari setelah lebaran, selendengan kerudung tersebut dicampakkan lagi. Belum lagi para pesohor berlabel pelawak yang tak henti-hentinya melontarkan banyolan vulgar dan menampakkan kekerasan. Ini berarti Ramadhan sama dengan rating, vulgar dan kekerasan.

Akh… Ramadhan-ku sayang, Ramadhan-ku malang. Sebagai penutup, kita semua wajib menjawab pertanyaan berikut : Yang salah itu Ramadhan-nya, Ummat-nya atau justru penulis yang sok pintar menganalisa ?.

Sabtu, 16 Juli 2011

SI CEREWET MAU NIKAH

Standard

SI CEREWET MAU NIKAH
Oleh : Suryadin Laoddang

Cahaya pagi sudah membias dalam kamar tidurku, mungkin embun diluar sana juga telah terhirup oleh cahaya matanna latikka. Suara bebekpun telah terdengar riuh menyonyor endapan makanan dilumpur sawah tepat dibelakang rumah. Berbeda dengan diriku yang enggan beranjak dari empuknya kasur sintetisku. Jangankan menyingkap selimut, untuk sekedar menggeliat pun enggan. Selain karena rasa lelah teramat sangat akibat aktifitas padat selama 18 jam sebelumnya. Enggan menggeliat itu juga karena dua ancaman, menggeliat ke kiri bakal disapa endapan ompolan jagoanku, Rafi. Bergerak ke kanan dipastikan tubuhku akan terhempas sempurna kelantai kamar.

“Ayah, ada tepon suara Rafi sambil berlari masuk kamar.
“makasih ya nak” jawabku sambil menerima telepon bututku itu, Rafipun beranjak dan merangkak hingga baring tengkurap dan manja diperut tambunku.

kak, mauka curhat. Anu kak, itu cowokku yang sastrawan itu, yang pernah ajakki makan sop kaki kambing dulu to, itu yang didepan rumah sakit Segar Waras itu je’e, habis lebaran haji tahun ini maumaka nalamar. Mauki bede’ datang kerumah minggu depan, maumi bede datang sama keluarganya, mauki ketemu orang tuaku.,”, suara itu terus nyerocos.

“eh bagus itu”, kali ini aku berhasil menyela.

“iyye kak, tapi kenapa ya kak kok saya malah ragu dengannya, apa betul saya mencintainya, gimana kak?” kali ini ia bertanya

Nampaknya, pembicaraan pagi ini adalah pembicaraan serius. Segera kuberanjak dari tempat tidurku, dengan tubuh Rafi yang nangkring dipundakku. Berdua menuju teras rumah kontrakan kami sambil terus mendengarkan ocehan si cerewet, si cerewet yang sebelumnya sukses menohokku dengan pertanyaan knock out tentang kekerabatan orang sul-sel di rantau (baca : kekerabatan ala Yogyakarta).

Jamak memang. Jamak kita temui seseorang menjadi ragu dan semakin ragu menjelang acara pernikahannya. Setelah lama menjalin hubungan, tiba-tiba sang pacar berkata “sudah siapkah engkau jika kulamar minggu depan?”. Mungkin hati anda saat itu menjadi ber-flower-flower, serasa mendapatkan emas berlian disaku anda. Selamat, ini berarti anda telah memasuki fase hubungan yang lebih serius, mempersiapkan pernikahan. Semakin mendakati hari H, anda yang tadinya bersemengat mempersiapkan segalanya, kini malah maju mundur, perasaan makin tak karuan. Ada perasaan was-was akan kehidupan yang dijalani nanti tak sesuai harapan. Bagaimana jika lelaki pilihan anda tak sesuai dengan yang dibayangkan. Jangan-jangan yang anda kenal dan rasakan selama ini hanya casing semata, bukan isinya. Is he Mr. Right for me?

Tak peduli ia orang berpendidikan tinggi atau tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Tak peduli ia seorang konglomerat atau “kolongmelarat”, semua orang pasti merasakannya. Tak peduli ia agamawan atau penjahat. Tak peduli ia politikus atau tukang basmi tikus. Ragu itu pasti ada, ragu yang makin memuncak pada malam menjelang akad nikah. Tak ada yang mampu mengelak darinya. Tidak juga dengan adikku, si cerewet yang mendapat gelar “laki-laki yang terkungkung dalam tubuh perempuan”
Hampir 90 menit, si cerewet ini terus bercerita hingga kupingku terasa panas. Rafi sudah menghilang sekitar 60 menit sebelumnya, marah mungkin. Marah karena dicuekin. Maafkan ayahmu anakku. “Sudah saatnya obrolan ini kuakhiri”, pikirku.

“sebentar ndi”, selaku
“iyye kak bicaramaki” ujarnya dari balik telepon
“kita mau tau apa saranku buat kita?” tawarku
“iyye, apakah kak” kali ini nadanya mempersilahkanku bicara
“Jawabanku sederhana ndi, jawab pertanyaanku dengan jujur yah” tuturku dengan nada agak serius
“kita itu ndi, betul-betul mencintai calon suamita atau hanya mencintai caranya mencintaimu?, jawab dengan jujur yah!”

Seketika hening, tak ada suara. Kuyakin ia sedang berpikir, merenungkan pertanyaanku.

“Bee kak, talliwa’ki!” tiba-tiba ada suara berat, antara menahan marah dan isak tangis
“Sudami deh kak, bombe’ki” telepon itupun terputus.

Gantian aku yang duduk terhenyak. Tak terbayang sebelumnya, jika pertanyaanku tadi membuat si cerewet jatuh terkapar dengan pukulan upper cut-ku. Yah aku menang telak, menang KO.
========
Matanna Latikka = Matahari
Tepon = Telepon dalam lafal Rafi
Talliwaki = kakak dah keterlaluan
Bombe’ki = sudahlah, maso bodo’ / saya gak mau lagi bicara dengan kakak

Selasa, 12 Juli 2011

100 JUTA, INSPIRASI DARI BUKU "MATA AIR 100 JUTA"

Standard

100 JUTA
(inspirasi dari buku “Mata Air 100 Juta”)

Ahad, 10 Juli 2011. Tepat saat Adzan Ashar berkumandang, keasikanku membaca terusik. Bukan karena suara Adzan itu (he he, artinya?), tapi karena teriakan jagoanku, Rafi. Ia terus mencariku setibanya bersama Bunda dan Tantenya. Pulang dari berbelanja bahan untuk busana-busana yang mereka rancang. Busana yang akan dijajakan selama bulan Ramadhan nanti, busana rancangan yang akan disemati label “Taraala”, rumah busana kami yang baru berdiri sebulan lalu.

Saat menulis notes ini pun, Rafi tetap disampingku membolak-balik lembaran buku “Mata Air 100 Juta”, mencari gambar mungkin. Mencari gambar menarik pada buku yang hampir saja kutamatkan beberapa jenak yang lalu. Jujur, sedari awal tak ada yang menarik dari buku itu bagiku. Banyaknya jenis huruf (Font) pada halaman sampulnya membuatku ilfill. Dalam dunia desain grafis, ada sebuah cabang ilmu yang disebut tipografi, ilmu yang mempelajari psikologi huruf. Inti ajarannya adalah, jangan sekali-kali menampilkan berbagai jenis huruf dalam satu media. Hanya akan membiaskan fokus mata yang melihat atau membacanya.

Lalu kenapa saya memiliki buku ini? Ceritanya sangat panjang, butuh setidaknya dua orang perantara hingga buku itu tiba ditanganku. Singkatnya, lewat notes Asri Arsyad di Facebook saya tertarik membaca buku ini. Buku ini telah dibaca dan diulas seorang sahabat yang sepengetahuanku juga gila membaca. Lebih gila dariku, itu faktor pertama. Faktor kedua, konon latar cerita dalam buku ini adalah Sulawesi Selatan, Jogja dan Mesir. Daerah-daerah yang sangat akrab denganku, setidaknya daerah pertama dan kedua. Maka tak ada salahnya jika kumemiliki buku ini. Setidaknya menambah koleksi literaturku tentang Sulawesi Selatan. Maka kupesanlah buku ini lewat Asri Arsyad. Dasar rejeki, Asri Arsyad tak berkenan menerima lembaran Rupiahku untuk buku tersebut. Hadiah buatku katanya, entah hadiah atas apa?

Buku bunga rampai karya Mayyadah ini adalah kumpulan tulisan seorang santri, seorang istri, seorang ibu, seorang penulis. Seorang adik (kadar usia) dan seorang senior (sebagai penulis) yang diam-diam kukagumi lewat tutur qalamnya. Ia begitu lihai dan cerdas memilih tiap lema dalam kalimatnya. Kalimat-kalimatnya pendek, tak membuat kita ngos-ngosan membacanya. Jauh dari dekapan lema-lema ilmiah populer, lema-lema yang banyak digandrungi banyak penulis muda yang ingin tampil sok ilmiah, tapi dangkal makna. Dalam karya Mayyadah ini, hanya kata “hibernasi” pada halaman 46 yang dapat dikategorikan bahasa ilmiah populer. Lainnya InsyaAllah tidak.  Semoga saya betul-betul jeli mengamatinya.

Don’t judge the book from the cover, terbukti lewat buku ini. Setelah mengagumi gaya bertutur sang penulis. Saat membaca “ayahku seorang anre gurutta”, akhirnya kujatuh hati pada cerita-cerita pada buku ini. Kata Anre Gurutta mengingatkanku tokoh-tokoh penyiar Islam dan berpengaruh di Sul-Sel yang kesemuanya menyandang gelar Anre Gurutta. Sebuah gelar non formal yang tak gampang diraih. Berbeda dengan saat ini, anda cukup naik haji satu kali, sekolah formal dengan titel minimal sarjana strata satu, dan mengisi pengajian kuliah tujuh menit, maka anda akan mendapatkan gelar Anre Gurutta.

Pun ketika membaca cerita tentang danau dadakan di hamparan sawah, tentang jatuh cinta jaman Sekolah Dasar, melamar dengan jurus “kandang passa”, atau tentang haru birunya menjadi ayah dan ibu baru. Saya tersenyum-senyum sendiri membacanya, kok mirip dengan kisahku yah? Bedanya, Maya telah menulisnya dan saya tidak menulisnya. Satu cerita lagi yang kuamini faktanya, adalah “kisah perjuangan istri penulis”. Meski tidak sepenuhnya serupa, setidaknya kisah Kang Udo dan Teh Ami juga menghampiri kehidupan rumah tanggaku. Berkali-kali diundang untuk berbagi pengalaman dengan sahabat diberbagai tempat dan perkumpulan adalah kesenanganku. Meski hanya diganjar selembar piagam atau plakat penghargaan, semua saya jalani dengan asyik.

Itung-itung berbagi ilmu pikirku, semoga bernilai ibadah, itulah ganjaran yang saya harapkan. Ganjaran yang tentunya diamini pula oleh orang-orang yang “senasib” dengan saya. Tak peduli lelah atau harus mengeluarkan ongkos transport sendiri, semua tetap kami jalani. Semoga berkadar ikhlas. Sayangnya, pengorbanan itu masih harus ditambah lagi dengan pengorbanan lainnya. Korban makan hati misalnya. Tidak hanya belasan kali, sudah pulahan kali saya harus menjadi kambing congek akibat ulah para empunya hajat. Saya sudah datang tepat waktu, eh yang punya acara malah tidak nongol hingga 120 menit berikutnya. Dikonfirmasi, katanya “maaf kak, baru bangun, ini sudah OTW, tunggu ya kak”. Gubrak! Beruntunglah saya yang masih mampu menafkahi keluarga dari pekerjaan lainnya, tak habis pikir bagaimana cara Kang Udo dan Teh Ami menjalani hidup semacam itu, dirantau pula.

Dari 21 judul tulisan yang ada, ada 2 tulisan yang sengaja tidak kubaca. Pertama, tulisan berjudul “cinta dalam tiga kantong darah”. Tulisan ini sudah pernah saya baca 2 bulan lalu. Tulisan ini disertakan dalam lomba menulis bertema kemanusiaan yang digagas oleh Komunitas Golongan Darah AB (Komunitas AB) bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ). Sebagai ketua dari Komunitas AB, sayapun didapuk sebagai ketua tim juri lomba menulis tersebut, jadi bukan karena kemampuan menulis saya. Cerita ini memang menarik dan asik, tanpa ragu ia kuganjar dengan nilai 75, kurang 25 poin lagi untuk nilai sempurna. Saya lupa, apakah ia jadi pemenang dalam lomba tersebut, tapi setidaknya ia telah masuk kategori 10 besar.

Tulisan kedua yang tidak kubaca adalah judul ke-21 dari buku ini. Tulisan yang judulnya menjadi judul dari buku ini, “mata air 100 juta”. Sengaja! Saya tidak ingin membacanya sekarang, saya tidak ingin mengakhiri nikmatnya membaca buku ini. Biarlah tulisan pada halaman-halaman terakhir itu membuatku penasaran, senantiasa mengajakku berulang kali membaca 19 judul sebelumnya. Ingin kucari dan kugamit jutaan laksa inspirasi dari buku buku segar ini. Kuyakin, tak 100 juta inspirasi yang ada dalam buku ini. Kelak, jika menginjakkan kaki di Pondok Pesantren DDI Mangkoso, barulah ia kubaca.

Catatan :
  • ·         Melamar dengan jurus kandang passa adalah model “kenekatan” seorang pria saat meminang calon istrinya. Butuh nyali kuat dan perbitungan matang untuk melakukannya. Ada banyak resiko dibalik jurus ini, tapi inilah sesejatinya pria.