Minggu, 30 Desember 2012

JENIS PARIT DALAM BAHASA BUGIS

Standard
Bukan hanya Jakarta yang bermasalah dengan limpahan air hujan yang menggenangi ruas kota. Air itu melimpah dari parit sempit yang rata-rata hanya berdiameter 60 cm (temuan Jokowi) tak muat lagi menampung air hujan.

Jauh disisi timur utara (timur laut) Jakarta sana, tepatnya di kota Sengkang, persoalan parit juga menjadi penyebab utama. Di kota seluas 38,27 KM2 hanya terdapat satu jalur parit besar selebar 1,5 dengan kedalaman 2 hingga 5 meter. Jalur itu membelah kota Sutera ini, berpangkal di Jalan Jawa (depan eks kantor pengadilan) menyusuri sisi kiri jalan Sumatera. Berbelok di mengukuti daerah “lorong hitam”, membelah jalan Timor-Timur, Jalan RA. Kartini lalu menyisir sisi barat eks terminal Sengkang hingga menembus di muara sungai Padduppa, setelah melewati sisi belakang Masjid Galeccee (Nurul As’Adiyah Callaccu).

November 2010, saat penulis sempat mudik ke kota Sengkang, kondisi parit tersebut kian mengenaskan. Dasar parit mengalami pendangkalan sedemikian rupa, bahkan di sisi Jalan Sumatera kedalamannya tak lebih dari 1,5 meter (semoga saat ini sudah dikeruk kembali)

Selain parit tersebut, semua parit di kota Sengkang masih berukuran sempit dan dangkal.

Kecuali parit yang menyusuri jalan Bau Mahmud yang memotong hingga sisi utara eks lapangan Callacu lalu masuk membelah kampung Arab, itupun dengan ukuran lebih kecil.Sementara di sekitaran Pusat Perbelanjaan Sengkang, paritnya terbilang kecil. Wajar jika hujan deras area pasar tersebut akan mendapat limpahan air bah dari parit-parit kecil tersebut.

Jika Anda sempat berkunjung ke kota ini, cobalah tanyakan apa bahasa Bugis untuk parit. Pasti Anda akan mendapat nama yang beragam. Ada yang menyebutnya dengan Selongeng, Benrang, Salori, atau mungkin ada yang menyebut Sefé-sefé, bahkan mungkin Teppo.

Dengan kondisi tata bahasa Bugis yang berlaku saat ini, penamaan tersebut tidak ada yang salah. Meski sebenarnya dalam tata bahasa Bugis yang benar, penamaan tersebut diatas memiliki peruntukan masing-masing. Berikut penulis paparkan jenis-jenis parit dalam bahasa Bugis;


1. Selongeng

Seperti uraian diatas, parit dengan ukuran lebih besar, lebar dan dalam disebut selongeng. Selain itu parit ini memiliki ciri-ciri selalu berair (air senantiasa mengalir didalamnya) karena ia menjadi muara dari berbagi jenis parit kecil lainnya. Biasanya parit jenis ini berada disisi jalan atau justru membelah jalanan besar menuju sungai, danau atau bendungan.


2. Benrang

Parit jenis ini berukuran lebih kecil, biasanya terdapat disekitar rumah penduduk, sebagai area jatuhnya air pelimbangan, air hujan atau untuk menahan aliran air dari samping agar tidak masuk ditanah kolong rumah. Dibuat dengan kisaran lebar dan kedalaman antar 20 hingga 50 Cm. Selain disekitar rumah, juga terdapat di area perkebunan atau ladang yang ujung bertemu dengan parit besar (selongeng)


3. Salori

Jenis parit ini banyak ditemukan di area persawahan, pekarangan rumah, kebun atau ladang. Parit ini tidak bersifat permanen, dibuat sesaat saat dibutuhkan. Fungsinya hanya sekedar memberi jalan air kecil untuk genangan air pada area tertentu, sehingga air yang menggenang tadi akan berpindah dan menyebar merata di area persawahan, pekarangan rumah, kebun atau ladang tersebut. Bahkan mungkin sengaja dibuat agar genangan air tersebut segera menuju benrang.

Penulis sendiri kerap membuat parit sejenis ini dengan bantuan cangkul jika aliran yang ingin diarahkan lebih besar. Kadang pula cukup dengan meraup beberap bongkahan lumpur atau tanah basah yang membatasi area kubangan tersebut. Kadang juga pembatas kubangan tersebut dapat dibuka hanya dengan menginjakkan tumit kaki pada area yang ditentukan. Kegiatan membuat jalan air ini dalam bahasa bugis disebut massalori (mengalirkan air), saloriki (alirkan airnya)


4. Sefé-Sefé

Jenis ini hanya dapat ditemui disawah, terdapat diantara dua pematang sawah. Tempat air sawah atau aliran air irigasi mengalir sebelum dibelokkan masuk ke dalam hamparan sawah itu sendiri. Ciri khas dari parit jenis ini adalah dinding parit biasanya ditumbuhi rumput atau gulma liar. Disinilah biasanya para petani sawah membersihkan kaki dan tangan mereka sebelum menyantap hidangan makan yang tersedia di dangau (rumah sawah), orang bugis menyebutnya bola dare.


5. Teppo

Sementara jenis terakhir ini juga sering ditemui didaerah persawahan. Fungsinya sebagai jalan air yang bersumber dari sungai, danau, bendungan yang sengaja dialirkan untuk kepentingan irigasi persawahan. Parit jenis ini dan bendungan sendiri oleh masyarakat bugis, dua-duanya disebut teppo. Bentuk dan ukurannya biasanya lebih besar lebar dan dalam, paritnya selalu terisi air baik itu mengalir atau menggenang. Parit ini dapat ditutup sementara waktu berdasarkan kebutuhan, dahulu untuk menutupnya dipergunakan timbunan tanah ditambah batang pohon pisang atau karung berisi pasir dan tanah. Kini untuk mengatur aliran airnya dipergunakan pintu penutup air dengan tekhnologi turbin sederhana.


6. Salo-Salo.

Sesungguhnya jenis ini bisa dikategorikan parit bisa juga tidak. Karena memang peruntukannaya yang unik. Jenis parit satu ini berupa cekungan pada tanah yang terbentuk secara alami (proses alam). Terbentuk sebagai jalur aliran air tua di lereng-lereng gunung atau perbukitan. Jika sedang terjadi puncak musim hujan, parit ini akan terus dialiri air yang jernih seolah dari mata air (wai tuwo) meski saat itu tidak turun hujan. Saat turun hujan air jernih ini akan bercampur dengan luapan air hujan yang masuk ke parit jenis ini. Sementara pada musim kemarau, aliran parit ini akan kembali kering, kalaupun berair tidak akan sebanyak pada musim hujan. Salo-salo yang dalam bahasa bugis berarti sungai kecil adalah turunan kata dari kata salo sendiri yang berarti sungai.

Semasa kecil, penulis sering menjadikan parit-parit tersebut sebagai arena bermain, tempat berbuat usil pada teman-teman sebaya (kadang pada orang yang lebih tua). Beragam permainan kami lakukan, dari sekedar mandi, belajar renang, berkecipuk air kotor dengan kaki untuk mengotori pakain teman bermain hingga segaja buang air disana kerap kami lakukan. Baik itu dengan memakai pakain lengkap, hanya dengan celana atau dengan telanjang bulat. Kini, untuk menikmati permainan serupa. Saya dan anak saya harus mendatangi tempat pemandian umum atau kolam renang umum yang bertarif mahal, itu pun dengan aturan harus berpakaian standar renang. Tentu dengan tambahan aturan lainnya seperti buang air kecil apalagi buang air besar. Mengenaskan. Bagaimana dengan Anda?


=======
Foto : puterilearningjournal.blogspot.com

Thanks to dinda Ade Adnan Saleh yang telah mengingatkan tentang jenis parit terakhir (salo-salo). Kuru Sumangeq.



MARI MAMPIR DI 



Selasa, 25 Desember 2012

AKU (IKUT) MELAHIRKAN ANAKKU

Standard
Menikah dan punya anak. Semua orang tentu mengharapkannya. Semua pasangan suami istri pasti menghibanya. Termasuk aku dan istriku.

Alhamdulillah 2 bulan menjelang ulang tahun pernikahan pertama kami, lahirlah putra kami yang kelak kami beri nama Najmi Rafif Abiyyu Laoddang. SANG BINTANG YANG BAIK HATI DAN BERJIWA MULIA. KELAHIRANNYA DISAMBUT SUARA GELEGAR GUNTUR. Kata Laoddang diakhir namanya adalah sematan dari nama kakeknya dari garis keturunan ayahnya. Laoddang dalam bahasa Bugis berarti gelegar guntur.

Hidup di rumah kontrakan dan jauh dari keluarga masing-masing memaksa kami berdua harus menghadapi sendiri masa kehamilan dan kelahiran itu. Beruntung istriku adalah seorang Bidan, aku pun bekerja di dunia kesehatan. Jadi tak ada kerisauan dan gamang berarti yang kami hadapi semasa kehamilan, kecuali saat istriku ngidam buah mangga disaat tidak musim mangga.

Haru biru menjadi suami barulah aku alami saat proses persalinan istriku. Rabu, 27 Agustus 2008. Seperti biasa aku tetap berangkat kerja, tak ada yang istimewa hari itu. Setelah sebelum makan bersama dengan istriku tercinta, merasakan hasil racikanku sendiri, maklum istri hamil tua. Setiba di kantor, semua berjalan seperti biasa, tak ada yang istimewa. Hingga sekitar jam 9 pagi, dari balik telepon istriku memintaku untuk pulang. “Sudah ada tanda-tanda” katanya. “Akh, itu hanya perasaan orang yang ingin melahirkan aja” kataku dalam hati.

Meski demikian, kuputuskan untuk pamit dari kantor pagi itu juga. Lazimnya, orang yang mendapat berita serupa pasti akan memacu kendaraannya secepat mungkin agar segera tiba di rumahnya. Tapi, beda denganku. Aku masih tetap santai, mengendarai sepada motorku dengan kecepatan 40 Km per jam. Jika biasanya hanya butuh 3 menit untuk sampai rumah, kini butuh 15 menit baru aku tiba. Masih dengan langkah pelan aku buka pintu kamar kami, kudapati istriku penuh keringat, pucat dan meringis sambil mengelus-ngelus perut buncitnya. Tak ada siapapun dirumah saat ia kutinggalkan hingga kudatang kembali. Setelah berganti dengan celana jongkoro’ dan kaos, barulah kuelus perut istriku seraya menstimulasinya untuk sabar dan istigfar. Tapi itu tak mempan, perlahan kuraba kakinya. Waow! semua serba dingin. Tanpa harus bertanya lagi, segera aku telepon sopir ambulance sebuah rumah sakit yang telah kami pilih sebelumnya.

“Loh, ini sudah mau kerumah sakit yah Ayah” tanya istriku

“Iya bunda, bunda sudah mau melahirkan” jawabku rada panik

“Akh ayah sok tau akh, belum ini Ayah, kan hari perkiraan lahirnya masih tiga minggu lagi” istriku berusaha meyakinkanku.

“Tidak bunda sekarang juga kita ke rumah sakit” tegasku sambil memeriksa stock pulsa dan daya di HP, serta isi dompetku tentunya. Lalu s kuikut rambut istriku, lalu memakaikannya jaket.

Begitu suara sirene ambulance terdengar didepan kontrakan kami, segera kupapah istriku. Tak ada yang menyertai kami selaian pakaian dibadan, HP dan dompet. Pak Sugeng, supir ambulance itu sangat cekatan dan terlatih. Segera saja ambulance itu memecah alur lalu lintas di daerah Jogja Timur menuju Rumah Sakit Permata Bunda di Kotagede.

Singkat cerita, istriku masuk ruang periksa. Tak ada dokter kandungan yang sebelumnya telah kami sepakati, kala itu sang dokter masih menangani pasien lain di kota Magelang, 2 Jam perjalanan dari Yogyakarta.

Seorang bidan yang juga sudah kami kenal mendekatiku dan berkata “Mas, dah buka 2”.

“Ok, mbak segera tangani, tidak usah menunggu dokternya” pintaku

“Ok mas Adin, katanya mas mau menemani istri di kamar persalinan” bidan itu berkata dengan nada menantang.

Jujur, ngeri juga harus mendampingi istriku dalam kamar persalinan, meski sudah berjanji pada istriku sebelumnya untuk mendampinginya. Menurut para ahli, jika suami mendampingi istri saat persalinan itu akan memberikan dukungan moril pada istri, sekaligus merupakan perwujudan cinta suami pada istri. Bukankah hamil itu adalah “ulah” berdua, jadi susah senang ayo tanggung bersama. “Ya, ayolah” jawabku. Lagian kutak bisa berharap pada siapapun, tak ada sanak saudara yang menemani kami. Tidak dengan keluarga istriku dari Jepara apalagi keluargaku dari Sul-Sel.

Kucoba tenangkan diri memasuki ruang persalinan. Istriku masih saja meraung kesakitan, akupun iba dengannya, tangan kiriku erat mengengam tangan istirku. Tangan kananku menyelinap diantar bantal dan kepala istriku. Siap menopan tubuhnya saat ia setengah duduk dikala berusaha ngeden, berusaha mendorong sang jaban bayi keluar. Tak jarang ia mengigit lengan kiriku dengan kuat, mengalihkan rasa sakit yang dideritanya. “Tak apalah, berbagi rasa sakit” pikirku saat itu.

Tidak hanya sang bidan dan istriku yang berpeluh keringat diruang ber-AC itu. Keringatku pun juga terus mengucur, berbulir membasahi kaosku. Ilmu kebidanan yang dipelajari istriku sebelumnya saat itu mendadak hilang, ia tak ubah seorang ibu hamil yang tidak tau apa-apa soal kehamilan. Teori sugesti diri yang dipelajarinya berkali-kali tiba-tiba hilang saat itu, anjuran agar ngeden-nya mengikuti perintah sang bidan tak juga diindahkan. Istriku terus saja melakukannya sekuat tenaga, berharap sang jabang bayi segera keluar dan berakhirlah penderitaannya. Sementara diarah bawah selurus kakinya, sang bidan sudah panik melihat kulup anus (ambeyen) yang terus mengembung seiring masa ngeden istriku. Jika dipaksakan, kulup itu bisa pecah dan terjadilah pendarahan besar dan berbahaya bagi keselamatan jiwa istriku.

Tak kalah dengan sang bidan, dirikupun panik melihatnya. Kutarik nafas, sejenak kucari jalan yang bijak bagi istriku agar ia mau menuruti perintah bidan. “Bunda sayang, ambeyennya gak papa kok. Normal kok, bunda tenang yah, ada ayah disini. Sekarang bunda ikuti ayah yah” bujukku seraya mengirimkan pesan kepada sang bidan lewat tatap mataku. Alhamdulillah, sang bidan paham. Mulailah ia memberi aba-aba padaku untuk kuteruskan pada istriku.

Pukul 11 entah kurang berapa menit, aku sudah lupa. Tangisannya memecah ruang persalinan, dengan berat 3,2 kg dan panjang 58 cm. Jagoan kami terlahir, sehat, utuh lengkap dengan rambut hitamnya yang jabrik abis. Ini berarti ia sempurna menerima gen rambut dariku, tidak dari ibunya. Prosesi inisiasi menyusui dini (IMD) urung kami lakukan saat itu. “Ayah, bunda lelah. IMD-nya gak usah yah”, hiba istriku dalam pelukanku saat itu.

Tak menunggu lama, segera kudatangi ruang bayi dan melafazkan kumandan Adzan ditelinganya. Selesai, kukembalikan jagoanku pada sang perawat anak untuk mendapatkan perawatan berikutnya. Kembali ketengok istriku. Alamakkkk, istriku kudapati telah berjalan dan bergurau dengan bidan yang menanganinya tadi. Itu hanya selang 10 menit. “Mungkin inilah yang disebut keperkasaan seorang perempuan” simpulku dalam hati.

Kutuntun istriku masuk diruang istrihat yang telah disiapkan di rumah sakit itu. Setelahnya, kuambil dan kebersihkan ari-ari anakku. Setelah bersih, tak jua kuberanjak kerumah untuk menguburnya. Kutitipkan saja ari-ari pada petugas rumah sakit, untuk kuproses lagi esok harinya.

Sementara istriku asik menonton tayangan infotaiment di sebuah stasiun televisi swasta, aku memilih berbaring berusaha tidur dan melepas lelahku saat itu.

“Ini yang melahirkan siapa, yang teler siapa” sindir istriku.

Masa bodohlah pikirku, pokoknya aku ingin tidur.

“Mungkin ini adalah jawaban Allah SWT atas doaku selama ini” itu yang terlintas dibenakku kala itu. Memang selama kehamilan istriku, disetiap shalatku kuselalu berdoa “Ya Allah, jika memang melahirkan itu menyakitkan dan melelahkan. Maka timpakanlah itu padaku, bukan pada istriku.


Aku ikhlas ya Allah”.

====



 MAMPIR YAH KE

JUGA KE TWITTER @AhliSastraBugis

Minggu, 23 Desember 2012

Pena Suryadin Laoddang; Mengukir Budaya Bugis

Standard
Oleh :

Ketika generasi muda kita mulai melupakan bahasa dan budaya Bugis dan lebih menekuni menatap gadget yang mengumbar budaya pop, Suryadin Laoddang menjadi pengecualian. Melalui tulisan-tulisannya, beragam informasi tentang kearifan lokal Bugis menghinggapi ruang baca kita. Sebuah ketekunan yang perlu diapresiasi ketika kita mulai kehilangan penutur muda yang berpengetahuan detail tentang budaya Bugis.

Begitu banyak orang mulai melupakan bahasa Bugis, jangankan bercakap, hendak mengenal bahasa dan juga budaya Bugis sudah enggan karena dianggap tak sejalan lagi dengan budaya pop. Berbahasa daerah identik dengan ketinggalan jaman dan kita sedang dijangkiti anggapan bahwa hanya orang kampung yang berbahasa daerah. Meski banyak orang berseru bahwa kearifan lokal, termasuk bahasa dan budaya, perlu digali untuk menahan laju hedonisme dan ketergesaan budaya instan yang kini menjauhkan masyarakat dari dirinya sendiri. Tapi seruan itu tergerus pergaulan yang menihilkan keikutsertaan semua hal yang menyangkut kedaerahan. Hidup hanya sepenting layar datar berbentuk persegi di hadapan kita saban siang dan malam. TV dan handphone!

Banyak yang lebih menggemari bahasa atau istilah Korea sekarang, doyan dengan k-pop atau pelleng Korea. Bahasa Bugis seperti ditelan anak2nya sendiri, yang kini jauh lebih fasih ber loe-loe, gw-gw daripada idi' atau qta'. Terutama di kota, kita mulai jarang mendengar bahasa Bugis yang diperbincangkan dengan logat khas yang mendayu-dayu. Dahulu saya masih ingat, bisa membedakan mana penutur Bugis asal Bone, Soppeng, Wajo, Sidenreng hingga Maros atau Pangkep dengan menyimak dialek mereka yang memiliki kekhasan tersendiri. Kini tidak lagi, saya bahkan sibuk menghitung sejumlah “okkots” di antara obrolan anak-anak muda Bugis kini. Ada yang kelebihan “g” karena tak mampu mengerem ucapan di huruf “n”, ada pula yang menukar diftong “ng” menjadi “m” dan semuanya menjadi bahan olokan yang dimaklumi bersama. Saya pernah jengah ketika seorang sepupu saya asal Wajo mengajak saya bercakap dalam dialek Jakarta seperti di sinetron, padahal obrolan sudah saya awali dengan bahasa Bugis. Saya tiba-tiba merasa ilfil (hilang feeling) dan canggung dengan suasana itu, sambil membayangkan nasib bahasa Bugis di lidah anak-anak saya nantinya: sepertinya bahasa Bugis akan menjadi bahasa asing di tanah kelahirannya sendiri.

Pagi ini saya berselancar di sebuah blog milik seorang kawan yang telaten merawat budaya berikut bahasanya. Berbeda 180 derajat dengan kegelisahan-kegelisahan yang saya ungkap di atas, beliau seperti bangga dengan ke-bugis-annya. Namanya Suryadin Laoddang, yang lebih akrab dengan panggilan Daeng Adin, pemuda Bugis asal Wajo yang kini menetap di Yogyakarta. Meski tak pernah bertemu langsung dengannya, namun melalui perlintasan mailing list buginese saya seperti hampir setiap pekan bersua dengannya. Menikmati tulisan-tulisannya yang sangat khas Bugis seperti membawa saya di serambi yang tenang dan sejuk di Sempangnge Wajo, menikmati suguhan cerita kerabat tua tentang kearifan lokal Bugis. Satu hal yang kini tak bisa lagi saya temukan karena cerita-cerita seperti ini mulai kehilangan penutur. Penutur yang langka dan pengetahuan yang terserak, seperti dua hal yang kini sama asingnya.

Tulisan-tulisan Daeng Adin menggelorakan dua hal yang membuat saya sedemikian cemburu; antusiasme yang dibaluti konsistensi. Antusias karena saya seperti melihat sosok Daeng Adin yang tak pernah kehabisan kegelisahan budaya untuk menemukan yang hilang, menghimpun yang terserak atau menangkap yang tak terekam. Beragam hal yang sudah mulai terlupakan tentang Bugis, bahkan yang paling remeh sekalipun dia rekam dalam tulisan-tulisannya. Saya sering terperangah ketika ia dengan bahasa santai namun penuh detail mengulas istilah Bugis untuk hujan, sarung perempuan, baju khas dan sebagainya. Juga bagaimana tulisannya menampar saya yang semula tak mengerti apa makna sebuah dipan diletakkan di sebuah ruang tamu yang selalu saya temukan di rumah-rumah kerabat Bugis saya di Sengkang. Tak pernah terpikirkan meski tentu saja aneh untuk ukuran orang Bugis yang tumbuh besar di kota yang tak begitu peduli dengan simbol dan detail. Bacalah juga tulisan Daeng Adin tentang Jempa-Jempa, perhiasan proteksi alat intim perempuan Bugis yang dia persepsikan sebagai G-String, ini seperti menarik keluar kecambah pengetahuan kuno yang tak lagi dipikirkan generasi muda.

Pernahkah anda mendengar tentang Galigo? Mitologi Bugis yang terdiri dari 300,000 bait dan terangkum dalam 12 jilid manuskrip itu konon merupakan epos terpanjang di dunia. Cerita yang mulanya adalah tuturan sakral yang diceritakan hanya oleh para bissu, pendeta Bugis yang memiliki spesialisasi menerjemahkan naskah kuno patturioloang ke bahasa awam, kini bisa dinikmati oleh kita dengan bahasa orang biasa. Daeng Adin termasuk yang paling sering menyebarkan tuturan hikmah ini ke ruang baca kita di dunia maya. Dia telaten menulis hingga ratusan seri “Galigo” yang memperkaya pemahaman lokal kita. Galigo versi Daeng Adin bukanlah wira-cerita sebagaimana yang sering kita pahami ketika merujuk ke kisah Sawerigading dan anaknya La Galigo dalam epos Bugis itu. Tapi Galigo ini semacam ujaran-ujaran atau doa yang diucapkan oleh orang Bugis ketika menghajatkan sesuatu, sejenis ujaran ritual. Di tangan Daeng Adin, kita bisa mencerna Galigo tanpa kehilangan kesakralannya. Karena ilmu pada dasarnya sakral, apalagi ketika dialihkan ke bentuk pengetahuan yang mencerahkan.

Konsistensi Daeng Adin terlihat dari ketelatenannya menuliskan catatannya, merangkum semua pengetahuan dan pengalaman menjadi tulisan "gratis" yang bisa dinikmati oleh orang lain, tanpa perlu duduk di bangku kuliah atau berkunjung ke pelosok kampung-kampung Bugis. Padahal, seperti saya sebutkan di atas, kini kita mulai kehilangan dua hal; penutur dan pengetahuan Bugis. Saya tahu bahwa di Makassar, ada institusi pendidikan formal yang mengkhususkan mempelajari adat budaya Bugis Makassar, dan semoga produksi tulisan atau tuturan mereka bisa kita dapatkan dengan mudah dan murah seperti yang dirintis Daeng Adin.

Di jalan yang dijajaki Daeng Adin, formalitas seperti tak begitu penting. Memang demikian untuk sebuah ilmu yang bermanfaat, tak perlu mengenal batas apapun yang membuat kita membutuhkan upaya tambahan untuk memperolehnya. Cukup membuka blognya, atau berlangganan di milis yang dia ikuti, atau sekadar menjadi “friend”nya di antara sekian ribu “penggemar” di facebook yang sudah terhubung dengannya, maka kita bisa ikut menyimak tuturannya dalam bentuk tertulis. Bagi yang menetap di Yogyakarta, mungkin bisa dengan leluasa mendengarkan langsung ocehannya tentang budaya ini melalui berbagai seminar, forum diskusi atau obrolan santai dengannya, disamping mungkin bisa menikmati bagaimana Daeng Adin menjadi Master of Ceremony (MC) atau pembawa acara berbahasa Bugis di perhelatan resmi di sana.

Antusias dan konsisten, dua kata asing ini menjadi perahu yang bisa membawa kebaikan. Kebaikan yang bersifat universal, karena ia bisa berlayar di atas samudera pengetahuan, menyambungkan seseorang di satu daratan ke daratan lainnya. Meski Daeng Adin bertutur tentang budaya lokal, tapi semangatnya membangkitkan ribuan kecambah pengetahuan di antara kita. Ketika orang berseru tentang kearifan lokal, Daeng Adin mengejawantahkannya dengan sejumlah tetulisan yang menegaskan betapa pentingnya kearifan lokal itu, meski hampir semuanya bermuara ke tuturan dari masa lalu. Tapi masa lalu selalu aktual, apatah lagi kita menyadari bahwa masa kini adalah produk turunan masa lalu.

Daeng Adin adalah prajurit Bugis yang dititipkan di bumi Mataram. Meski berjarak ribuan kilometer dari tanah leluhurnya, senjatanya yang berbentuk pena mengirim pesan-pesan penting untuk kita baca. Di tanah Jawa, dia seperti cerminan Daeng Naba yang berdiri bersisian dengan para raja Mataram di abad 17M. Di dada Daeng Naba, juga Daeng Adin kita mendapati lempeng mustika bernama Wulandadari, penanda khusus pasukan Bugis di kerajaan Mataram. Wulandadari bermakna bulan yang mekar. Secara flosofis berarti seseorang yang selalu memberikan penerangan dalam kegelapan seperti munculnya bulan di malam hari yang gelap. Semoga semakin banyak anak muda Bugis mengikuti jejak Daeng Adin. Amin!


==

Muhammad Ruslailang Noertika, akun twitter @dgrusle



Sumber : http://www.daengrusle.net/catatan-kuru-sumange-suryadin-laoddang/#more-1242




SENANTIASAKAN WAKTU ANDA MAMPIR DI

JUGA DI TWITTER : @AhliSastraBugis





TIPE HUJAN DALAM BAHASA BUGIS

Standard
Sepagi ini, Ahad 23 Desember 2012. Hampir semua siaran berita televisi nasional dan lokal Indonesia memuat berita tentang hujan dan segala akibatnya yang merata dihamparan darat dan laut persada Indonesia. Menurut Komunitas dan Perpustakaan On Line Indonesia (2006), hujan di Indonesia terbagi dalam tiga jenis. Diantaranya; hujan frontal, hujan ini terjadi karena bertemunya angin musim panas yang membawa uap air dengan udara dingin bersuhu rendah sehingga menyebabkan pengembunan di udara yang pada akhirnya menurunkan hujan. 
Jenis kedua adalah hujan orografis, sebagai akibat dari adanya uap air yang terbawa atau tertiup angin hingga naik ke atas pegunungan dan membentuk awan. Saat awan telah mencapai titik jenuh maka akan turun hujan. Terakhir adalah hujan zenit yang berawal dari munculnya suhu yang panas pada garis khatulistiwa. Ini memicu penguapan air ke atas langit bertemu dengan udara yang dingin menjadi hujan. Hujan zenit hanya terjadi di sekitar daerah garis khatulistiwa.


Penamaan tersebut merujuk pada asas penyebab hujan itu sendiri. Berbeda dengan penamaan hujan bagi masyarakat Bugis yang menamakannya berdasarkan berdasarkan bentuk atau kondisi hujan itu sendiri.

Secara umum hujan dikenali dengan nama Bosi. Berikut adalah penamaan hujan dalam bahasa Bugis, penamaan ini akan diurut berdasarkan tingkat deras hujan, mulai dari paling kecil hingga paling besar. Dimulai dengan istilah Canecci, kondisi dimana ada butiran hujan yang turun dengan sangat kecil, tipis dan jarang bahkan tidak terlihat. Baru bisa diketahui setelah butiran tersebut menyentuh permukaan, termasuk kulit manusia. Dalam bahasa Indonesia kondisi ini disebut gerimis.

Diatas tipe canecci dikenal nama Bosi Lalo, hujan sekedar lewat. Hujan dengan butiran yang lebih besar dibanding canecci dan lebih rapat jeda antara butirannya. Hujan ini mirip kabut tipis dan hanya datang sekejap lalu menghilang lagi, dapat muncul saat kondisi mendung (marellung) atau saat masih ada cahaya matahari. Adalagi tipe hujan yang datang pada saat matahari bersinar terang dan panas dengan intensitas tinggi dan butiran lebih besar disebut Bosi Setang (Hujan Setan), disebut demikian karena hujan ini menyalahi kelaziman hujan lainnya yang biasanya terjadi saat kondisi mendung, tidak ada sinar matahari dan berhawa dingin. Masyarakat Bugis kerapkali menyebut segala sesuatu yang terjadi atau berlaku diluar kelaziman dengan kata setang, massetang-setang dan segala turunannya. Orang yang sering berbuat konyol akan disebut massetang-setang. Orang yang berakhlak atau berprilaku buruk akan disebut tau setang.

Tingkatan hujan selanjutnya adalah Bosi Redde, hujan deras. Hujan yang datang seketika dengan diawali mendung yang tipis. Datang secara tiba-tiba dan berlangsung sekejap saja, lalu menghilang tiba-tiba. Tipe ini mencurahkan air hujan dengan intensitas tinggi dan butiran yang cukup besar, butiran hujannya jika mengenai permukaan tubuh manusia mengakibatkan rasa perih seperti rasa sentilan jari pada kulit telinga. “Kakak kelas” dari tipe ini disebut Bosi Loppo, jenis hujan yang turun setelah mendung tebal dan gelap. Hujan jenis ini biasanya turun dari pagi hingga sore hari atau malam hingga esok pagi atau esok siangnya. Intensitasnya juga lebat dan stabil lengkap dengan butiran air hujan yang cukup besar.


Biangnya hujan dalam bahasa Bugis disebut Bosi Lempeq, hujan yang turun sepanjang hari dengan intensitas lebat dan berbutir besar. Bagi masyarakat yang bermukin di daerah pegunungan atau perbukitan, hujan ini ditandai dengan adanya material hutan gunung-perbukitan seperti pokok pohon, batang pohon, dahan, ranting atau dedaunan yang terbawa aliran air hujan. Untuk masyarakat yang bermukim di bantaran sungai , hujan ini ditandai dengan adanya material padat seperti kayu, bambu, sampah hingga bebatuan yang terbawa kedalam aliran sungai. Sementara bagi masyarakat pesisir danau dan laut, hujan ini ditandai dengan limpahan material dari sungai tadi yang bermuara di danau atau laut tersebut. Biasanya jika tipe hujan ini turun, masyarakat Bugis akan menyanyikan lagu berikut :

Bosi Lempeqko mai
Nakkitello maneng balanaqe

Artinya :
Duhai hujan, turunlah dengan darah
Agar semua ikan balanaq bertelur

Kadang adapula yang iseng mengubah lirik ini dalam versi jenaka, sayang gubahan tidak pantas dimuat dalam tulisan ini. Ada yang ingat? Jika ada, tidak usah disebarkan yah, nasaba engkatu ada tempedding ripoada (dalam kondisi tertentu, kadang ada perkataan yang tak layak untuk diungkapkan). Setuju?


Sumber
• http://organisasi.org/
• Foto : http://www.t3.gstatic.com

Jangan lupa berkunjung ke www.suryadinlaoddang.com


JUGA DI TWITTER : @AhliSastraBugis


Jumat, 30 November 2012

GALIGO HARI INI (SERI 103 ); Serial Lamar-melamar

Standard


Ambo Baco Indo Baco (8)
Palengeng Palek Lima (7)
Liseq Rio Rennu (6)

Arti Bugis Umum
Eee, ambona La Baco iyarega Indona La Bace, tapallebbangni mai aga aktatta, nangkalingai funna bolaE, Nassau, natemmu.

Arti Indonesia
Duhai orang tua dari sang calon mempelai laki-laki. Ungkapkanlah maksud kedatanganmu kehadapan tuan rumah, agar kita sama tau dan bertemulah semua harapan.

Penjelasan
Menjawab permintaan tuan rumah agar sang tamu mengutarakan niat sesungguhnya, maka juru bicara sang tamu yang bertugas sebatas pembuka pembicaraan segera mempersilahkan orang tua sang tamu (pelamar/pihak pria) untuk mengutarakan maksud kedatangan mereka. Dalam kasus ini sang juru bicara rupanya tak ingin melangkah orang tua sang pelamar untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Kebanyakan dalam proses lamar melamar, juru bicaralah yang mengambil peran penuh mulai dari awal hingga mengambil keputusan akhir, meski selama proses tersebut interaksi berupa konsultasi antara juru bicara dan orang tua pelamar sangatlah dimungkinkan.

Demi mempersilahkan orang tua pelamar, sang juru bicara menggunakan kalimat “Ambo Baco Indo Baco, Palengeng Palek Lima, Liseq Rio Rennu”. Sebuah kalimat bernada elong galigo, yang memiliki pelapisan makna, setidaknya dua lapis makna.

Kalimat Ambo Baco dan Indo Baco bermakna Ee Indoqna atau Amboqna La Baco, hai Ibu atau Ayah dari La Baco. Sementara kalimat Palengeng Paleq Lima berarti tengadahkan telapak tanganmu, untuk menegadahkan telapak tangan maka telapak tangan dan jemari perlu dibuka melebar, upaya ini dalam bahasa bugis disebut MALLEBBAA (melebar). Mellebba jika ditulis dalam aksara lontara bisa pula dibaca menjadi MALLEBBANG (terbuka, tersiar) yang memiliki makna tidak tertutupi, bukan rahasia atau semua orang bisa mengetahuinya.

Sementara untuk mengetahui makna baris ketiga yang berbunyi Liseq rio rennu, yang jika dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia akan bermakna isi/inti/hakikat dari keriangan atas sebuah harapan. Untuk menemukan makna hakikinya maka dapat ditemukan dengan cara menjawab pertanyaan “apakah hakikat dari rasa riang seseorang setelah harapannya terpenuhi”

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah kelegaan, dalam bahasa bugis disebut MASSAU, jika ditulis dalam aksara lontara bugis maka tulisannya dapat pula dibaca menjadi MASSAUUU, salah satu kegiatan dalam kegiatan menenun kain sarung. Esensi utama dari kegiatan massauu ini adalah mempertemukan ujung demi ujung benang (massumpung) yang selanjutnya akan menjadi lungsi dari tenunan tersebut. Di tanah bugis pertemuan ujung benang tersebut disebut MATTEMMU. Dalam konteks galigo ini, kata mattemmu bermakna sangkaan tuan rumah (baca Galigo seri 102) dengan maksud kedatangan tamu dapat saling bersambut tangan.


------------
JANGAN LUPA BERKUNJUNG KE

Jumat, 02 November 2012

JALAN BADIK DAN MAKASSAR YANG KIAN KASAR

Standard

“ ... siri’ patuoki rilino, mate siri’ mate watakkale

Siri’ku rikeccaki, cappa kawali mabbicara.”

Lewat Ninjanya, Jepang memperkenalkan budaya “Jalan Pedang”. 'Jalan Pedang' adalah sebuah filsafat hidup yang ditemukan oleh Miyamoto Musashi, pendekar pedang legendaris Jepang. Dalam buku Musashi karya fiksi Eiji Yoshikawa, adalah Musashi (Miyamoto Musashi) seorang mantan berandalan yang menjelma menjadi seorang pendekar tanpa tanding setelah mendapatkan Wejangan “seorang pendekar haruslah memiliki pikiran yang tak pernah berhenti, memiliki pikiran komprehensif yang bercakrawala luas dan berwawasan ke depan”. Pesan moral ini kemudian berkembang dan menjadi spirit bangsa Jepang dalam menghadapi banyak bencana dan keterpurukan. Tak hanya mengenalkan nilai-nilai semangat hidup, lewan “jalan pedang”nya, Jepang sukses melegitimasi benda berupa pedang sebagai identitas Jepang itu sendiri.

Di Indonesia, puluhan etnis dan suku Nusantara juga memiliki senjata tajam dan menjadikannya sebagai identitas mereka. Jawa dengan Keris, Sunda dengan Kujang, Aceh dengan Rencong, Dayak dengan Mandau, Bugis dengan Kawali (Badik). Berbeda dengan Jepang, di Indonesia senjata itu lebih lekat nilai fatalisnya dibanding nilai budayanya. Di Sulawesi Selatan misalnya, badik telah menjadi alat pembunuh. Setiap terjadi keributan (termasuk didalamnya tawuran Mahasiswa) badik selalu ambil bagian, meski ujung-ujungnya ia disita petugas. Memang seperti itukah “roh” kawali itu?, dan betulkan Makassar itu adalah kependekan dari frase “Manusia Kasar”.

Kawali sesungguhnya bukanlah senjata sembarangan, tidak semua orang dapat memilikinya. Untuk memilikinya, seseorang harus melalui tahapan penyatuan jiwa (soulmate) dengan kawalinya. Karena kawali akan mempengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan pemiliknya. Ada kawali yang dijadikan penjaga rumah, ladang, empang, dijadikan teman mengembara, dijadikan teman dalam berniaga. Bahkan ada pula yang dijadikan “pagar” bagi pasangan suami istri agar tidak digoda orang lain. Sementara kawali untuk “berkelahi” juga ada, di masyarakat Sul-Sel dikenal model perkelahian Assitobo Lipa, dimana dua lelaki akan saling bersumpah untuk menyelesaikan “urusan” mereka dengan saling tikam didalam lingkupan selembar sarung. Ritual ini adalah langkah terakhir yang dilakukan seorang pria, ketika harga diri dan kehormatan mereka telah diabaiakan oleh musuhnya, ketika solusi lain mengalami jalan buntu. Ritual ini dianggap sebagai jalan untuk menegakkan kembali harga diri dan kehormatannya (patettong siri’).

Sayang, siri’ itu kini telah mengalami pergeseran makna. Siri selalu identik dengan pertumpahan darah lewat sebilah badik. Bahkan kawula muda Sul-Sel punya falsafah “siri’ patuoki rilino, mate siri’ mate watakkale. Siri’ku rikeccaki, cappa kawali mabbicara.” Kalimat kedua dalam falsafah ini adalah rekaan mereka sendiri (penganut jalan kekerasan), sementara kalimat pertama adalah falsafah hidup yang ditanamkan dari generasi ke generasi. Penyelesaian dengan ujung badik ini akhirnya menjadi identik dengan karakter orang Sul-Sel. Maka tak heran orang Makassar dikenal brutal, anarkis, fatalis, mau mati untuk sesuatu perkara sepele saja. Anggapan negatif yang melekat pada diri dan disematkan sebagai karakter orang Makassar. Cap ini kian rekat seiring marakanya pemberitaan media perihal kurusuhan, aksi kriminal dan tawuran mahasiswa di Makassar pada khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya.

Don’t judge the book from the cover, menilai Makassar dari tampilan luar yang disuguhkan media tentulah tidak bijak. Untuk mengenal seperti apa orang Makassar, kita dituntut memahami budaya Makassar lewat karya sastra, adat istiadat dan sejarah Makassar. Dalam peristiwan Silariang (kawin lari), merasa harga diri terinjak-injak seorang pemuda melakukan segala upaya agar sang pujaan hati mau Erangkale (datang membawa dirinya kepada pemuda). Jika tidak mampu, maka mereka kawin lari. Bagi pihak orang tua (keluarga) gadis, ini adalah “Aib Besar” (Mate Siri’). Maka pencarian dan pengejaran segera dilakukan dengan tujuan, membunuh pasangan kawin lari tersebut. Ini adalah bentuk pembunuhan terhormat sebagai bentuk penegakan harga diri (Patettong Siri’). Inilah hukum adat Makassar, yang bertolak belakang dengan hukum konvensional. Hukum adat yang berlandas pada Galigo, pepatah sastra lisan Bugis Makassar yang berbunyi

Paentengi siri’ ri Tallasanu’ [2]
Inka punna battumi kamateanga
Allei Matea ni Santangngi’

Artinya :

Tegakkan Harga Diri dalam Hidupmu
Tapi jika ajal sudah datang
Matilah secara terhormat

Karakter keras dan berani orang Makassar tidak lepas dari tradisi maritim mereka sebagai pelaut (Mattulada, 1995)[3]. Terjangan ombak membentuk karakter mereka menjadi tidak mengenal kompromi. Karakter keras itu tertuang dalam kata rewako yang artinya “lawanlah”.

Lalu, hanya itukah karakter orang Makassar?, jawabnya tentu tidak.

Sebagai inti dan kepribadian, selain Siri’ orang Bugis-Makassar juga mengenal pacce. Kata siri’ sesungguhnya tidak boleh dipisahkan dengan kata pacce. Jika dipisahkan, secara personal masyarakat akan mengalami Ambivalen personality. Siri dan Pacce memiliki hubungan sebab dan akibat. “Siri’ na pacce” tidak memiliki padanan dalam kosa kata bahasa Indonesia. Pacce, secara bahasa adalah perasaan sedih mendalam karena sakit, menderita, atau kecewa. Dari pacce inilah muncul rasa simpati, empati, persatuan, dan kebersamaan. Pesse (Bugis) dan pacce (Makassar) secara gamblang diuraikan oleh Prof. Aminuddin Salle[4]

Agak susah untuk mendapatkan padanan kata dari Bahasa Indonesia. Akan tetapi dapat dijelaskan sebagai berikut: Hampir pernah terjadi bagi kita semua, kulit kita teriris oleh pisau, sembilu atau benda tajam apapun juga. Kalau irisan kulit itu diberi yodium maka terasa “pedis”. Mendekati padanan “pedis” itulah yang disebut dengan passe(Bugis) dan pacce (Makassar. Akan tetapi, passe (Bugis) dan pacce (Makassar) itu terasa bukan pada kulit tetapi terasa dalam hati seseorang. Jadi perasaan “pedis” di hati tatkala ada seseorang di lingkungan kita yang mengalami masalah, sehingga tergerak hati kita untuk membantunya.

Pacce inilah yang menampilkan sisi humanis orang Makassar. Mengedepankan nilai-nilai solidaritas bagi orang Makassar. Inilah bukti bahwa mereka adalah suku bangsa yang peramah, sopan, santun dan perasa. Dahulu, kepekaan rasa “pacce” itu sangat dalam, sehingga seseorang yang mengalaminya kadang bertindak irrasional. Tak jarang, orang Makassar rela bela pati, mengeluarkan segala isi hati, harta benda bahkan korban nyawa demi orang lain.

Sebagai contoh, di masyarakat Makassar sering ditemui ungkapan “Baji’na Tau” atau “Baji’ tojengi’ La Baco” (alangkah baik orang itu atau alangkah baiknya si Baco), sebuah ungkapan yang bermakna empati. Kelak jika si Baco ditimpa kesukaran, kemalangan bahkan jika ada yang berniat mencelakai, mempermalukan menginjak harga diri si Baco. Maka orang yang mengungkapkan ungkapan diatas tadi akan rela berkorban untuk si Baco. Maju lebih awal menumpahkan darah melindungi si Baco, meski tidak dimintai. Bela pati ini ada karena si Baco dipandang sebagai Bulaeng Tau (orang baik). Pelaku rela Mate ni Santangngi (mata secara terhormat), mati karena menegakkan harga diri.


Pepatah Makassar mengajarkan, “Ikambe Mangkasaraka, punna tena siriknu, pacce nu seng nu pa’ bulu sibatangngang (Bagi kita orang Makassar, kalau bukan sirik maka pacce-lah yang membuat kita bersatu).” Maka orang Bugis Makassar dikenal sebagai orang yang berani, setia, bertanggung jawab, solider dan kuat pendirian. Ada juga yang memplesetkan kata Makassar sebagai “Manusia Kasar” yang pada kenyataannya persepsi itu salah besar. Jusuf Kalla dengan tegas mengatakan, Makassar itu “S”nya ada dua, bukan satu, jadi Makassar bukan Manusia Kasar”. Terhadap marakanya tawuran Mahasiswa di Makassar, Jusuf Kalla berkomentar “bukan karakter keras orang Sulsel yang salah. Bukan pula aksi demontrasi mahasiswa itu yang dikeluhkan. Malah, keberanian mahasiswa Makassar dalam mengawal kebijakan pemerintah mendapat acungan jempol”.[5] Kota Makassar hanyalah "korban", pelaku tindakan anarkis nan fatalis itu kebanyakan justru pendatang di Kota Makassar.

Duh Makassarku...

-

[1] Disampaikan dalam SEMINAR KEBUDAYAAN DAERAH IKPMD se-INDONESIA, Hotel Matahari Yogyakarta. Rabu, 12 Oktober 2011.

[2] Hakim, Zainuddin., 1992, Pasang dan Paruntuk Kana dalam Sastra Klasik Makassar, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta

[3] Latoa; Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis, Hasanuddin Unversity Press, Ujung Pandang, 1995

[4] Salle, Aminduddin., Prof., Memaknai kehidupan dan kearifan lokal, AS Publishing, Makassar, 2011

[5] Fajar 11 Juli 2010



JANGAN LUPA BERKUNJUN KE


Selasa, 18 September 2012

JEMPA-JEMPA, G-STRINGNYA ORANG BUGIS

Standard
Hingga awal bulan Maret 2012, Komite Nasional Perempuan Mahardika mencatat sedikitnya terjadi 4.845 kasus pemerkosaan terjadi di Indonesia. Data ini adalah indikasi betapa riskannya posisi perempuan di Indonesia, seiring upaya mereka untuk mendapatkan kesetaraan perlakuan dalam segala lini kehidupan, momok berupa pelecehan seksual juga menghantui mereka. Momok tersebut juga menjadi hantu bagi para orang tua yang memiliki anak perempuan. Bukan hanya itu kaum suamipun kini sudah mulai ketakutan jika istrinya juga menjadi korban pemerkosaan. Sekedar wejangan untuk berhati-hati bagi kaum perempuan rupanya kini tak cukup, momok pelecehan hingga pemerkosaan masih terus mengintai mereka bahkan di tempat umum sekalipun, angkutan kota dan kereta api misalnya.

Meski belum terwujud, telah banyak kalangan yang mulai memikirkan upaya mengadakan alat yang mampu menjadi pelindung bagi kaum wanita. Banyak yang bernostalgia pada jaman perang salib yang kesohor dengan celana dalam berpengaman gemboknya. Bahkan telah adapula upaya untuk membuat celana dalam berpengaman kata kunci (password) berbasis tekhnologi. Apapun itu, semuanya hanyalah sebuah upaya, yang masing-masing tentu ada kelemahannya. Toh pelecehan seksual tidaklah semata hanya pada tataran perlakuan alat kelamin! Kasus pemerkosaan tidak hanya identik kaum pria melakukannya kepada kaum perempuan, bisa jadi terjadi sebaliknya atau justru terjadi antar sesama jenis kelamin. Inilah kegilaan dunia yang harus kita hadapi di zaman gila ini.

Kembali bernostalgia, kembali ke masa lalu leluhur Nusantara. Ternyata pengaman serupa telah ada jauh sebelum kita mengenal celana dalam atau g-string pada jaman sekarang. Sebagaimana ditulis ulang Julianto Susantio (hurahura.wordpress.com) berdasarkan artikel Majalah Intisari (Susahnya Selingkuh di Zaman Majapahit) edisi Maret 2011 yang bersumber dari Koleksi Museum Nasional Jakarta. Di tanah Aceh masyarakat setempat mengenal Cupeng. Cupeng berfungsi sebagai penutup kelamin anak perempuan. Berbentuk pola hati, dipasang dengan cara diikat dengan benang pada perut si anak. Salah satu artefak yang menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta berbahan emas 22 karat, berukuran tinggi 6,5 cm dan lebar 5,8 cm. Sarat akan ukiran dengan pinggiran bermotif tapak jalak, bagian tengah bermotif bunga teratai dan bermatakan jakut merah. Bunga teratai dikelilingi deretan bunga bertajuk empat helai dalam bentuk belah ketupat. Di tanah Jawa, pada jaman Majapahit dikenal Badong, serupa dengan Cupeng dengan relief cerita Sri Tanjung sebagai motif hiasannya.  Sebuah kisah tentang wanita suci yang dituduh berselingkuh oleh suaminya dan akan dibunuh. Namun, sebelum dibunuh datanglah Dewi Durga menolong Sri Tanjung lengkap dengan bekal seekor "gajamina" (ikan gajah) sebagai kendaraan bagi Sri Tanjung untuk menyeberangi sungai dunia bawah menuju surga. Imbalan atas kesuciannya.

Jauh melempar sauh, berlabuh di daratan tanah Bugis-Makassar. Pengaman serupa ternyata juga ada, barang tersebut disebut Jempa-Jempa (Bugis) atau Jempang (Makassar). Pada makalah Saptodewo (The Material Culture of South Sulawesi) dalam Sulawesi and Beyond, The Frantisek Czurda Collection (2010) disebutkan bahwa jempa-jempa adalah sebilah bentuk hati sebesar telapak tangan berbahan batok kelapa atau logam dengan ukiran berbahan emas atau perak.

Jempa-jempa sepintas mirip dengan g-string pada jaman sekarang. Bagian utamanya hanyalah sebilah tempurung kelapa atau lempengan logam yang dibentuk sedemikian rupa untuk menutupi kemaluan perempuan dari depan. Pada bagian atas terdapat dua buah lubang tempat memasukkan benang sebagai pengikat yang dililitkan dan diikat pada pinggang pemakai. Pada perkembangannya jempa-jempa mengalami peruban bentuk dan fungsi. Pada masa penumpasan gerakan DII/TII di Sulawesi Selatan oleh Tentara Indonesia sebagaimana penuturan I Sanabe[1], kala ia memakai jempa-jempa dengan tali yang terbuat simpe (plat seng) dengan dua ujung yang masing-masing memiliki lubang untuk memasukkan gembok.

Kini, jempa-jempa sudah tak lagi dipakai, bahkan mungkin tak adalagi yang menyimpannya. Telah berganti dengan celana dalam aneka model dan warna atau berganti g-string yang super kecil tapi berharga mahal. Meski demikian ia tak sepenuhnya hilang, sisa-sisa glamornya masih tersimpang dalam modifikasi hiasan celana dalam kaum berduit. Menjadi simbol strata sosial dan ekonomi dengan balutan gengsi dan harga diri, setidaknya di daratan Eropa, bukan di tanah Sulawesi Selatan. Semoga saja tidak.


Kembali ke nostalgia tentang jempa-jempa tadi.

Berbeda dengan cupeng atau badong yang berfungsi sebagai penangkal selingkuh para istri bangsawan pada jaman itu, jempa-jempa hanya dipakai oleh perempuan di seluruh daratan Sulawesi Selatan sebagai penutup kemaluan. Dipakai hingga mereka mengalami masa puberitas atau hingga saat mereka menikah. Setelah menikah, tanggung jawab untuk menjaga kehormatan kaum perempuan (baca : istri) berada di tangan suami, bukan lagi tanggung jawab orang tua sang perempuan. Untuk memagari para istrinya dari perselingkuhan, maka para suami memasang “pagar gaib” pada tubuh istrinya, terutama pada organ vitalnya. Jika berani melanggar maka fatal akibatnya. Biasanya pelaku selingkuh (hubungan seksual) tidak sah ini, baik si perempuan mau si pria akan mengalami kram urat vital, sehingga alat vital yang tadinya saling berpanetrasi tidak akan bisa lepas (dicabut) lagi.

Dalam dunia medis, fenomena ini disebut vaginismus. Suatu disfungsi seksual pada perempuan berupa kekejangan abnormal otot vagina sepertiga bagian luar dan sekitar vagina. Tingkat kekejangan yang terjadi tidak sama pada setiap orang. Vaginismus seakan-akan merupakan reaksi penolakan terhadap hubungan seksual, bahkan terhadap setiap sentuhan pada kelamin. Kedua pelaku dengan alat kelamin yang telah dempet tadi hanya dapat dipisahkan dengan cara memotong alat vital si pria, itu jika ada ruang yang memungkin untuk melakukan pemotongan. Mau coba?

Bagaimana cara pria Bugis membuat pagar gaib tersebut? Pagar tersebut dipasang dengan rapalan matra berbunyi “engkatu ndi fetti utaro ri liwurenta, pura ugongcingtu”.




[1] Nenek Buyut Penulis, usia tidak diketahui namun diyakini saat meninggal usaianya lebih dari 120 tahun, terakhir berdomisili di Dusun Mellengnge, Desa Cinnongtabi, Kec. Majauleng, Kab. Wajo, Sulawesi Selatan.


LUANGKAN WAKTU ANDA KE

Senin, 03 September 2012

PERJALANAN SEOARANG MASTER CEREMONY ADAT BUGIS

Standard
KABARKAMI. Master Ceremonial atau MC adalah satu dari sekian profesi yang dapat ditekuni oleh sebagian besar orang terutama yang bergerak dibidang entertainment. Namun lain halnya dengan MC Adat dalam hal ini adat bugis. Jenis MC yang menuntut kedalaman pemahaman akan budaya ini, hingga kini masih terbilang kurang. MC Adat biasanya ditemui pada acara pernikahan dengan mengedepankan pengenalan budaya bugis. Jika pada sejumlah perhelatan dipandu dengan MC berbahasa Indonesia, MC Adat bugis dilakukan dengan menggunakan bahasa bugis klasik yang sarat makna. Pesan-pesan pribahasa bugis (Pappaseng Ogi) memberikan nuansa adat yang kuat, juga pada iringan musik khas yang menyertainya. Inilah yang tengah dilakoni oleh Suryadin Laoddang, pria berdarah bugis Sengkang yang kini menetap di kota budaya Yogyakarta.

Suaranya yang berat dengan dialek bugis yang kental menjadi trade mark pria yang juga akrab disapa Adin ini. Karirnya sebagai MC Adat melejit setelah menghadiri sedikitnya delapan puluh enam pesta nikahan adat Jawa dan Sunda sejak tahun 2000 lalu. Pertamakali terjun dalam MC Adat, ia manggung dalam acara nikahan adat Bugis di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Solo, Boyolali, Semarang, Malang Cilacap, Surabaya bahkan hingga ke Batam. Saat didapuk menjadi MC dalam pernikahan Adat Bugis di Purwokerto yang kebetulan dihadiri beberapa pembesar adat asal Sul-Sel dan staff dinas Pariwisata beberapa kabupaten di Sul-Sel, Adin menuai pujian. “Macuana nak monro lino, nappanna usedding engka palariwi sungeku, idi’mani” (* seumur hidupku, baru kali ini sesuatu mengharu perasaanku) puji seorang pemangku adat asal Wajo yang mengakui jika seumur hidupnya, baru kali ini ada yang mampu mengharu-birukan perasaannya, dan itu lewat MC Bahasa Bugis.

Di akhir acara, naskah MC yang jadi pegangan Adin menjadi rebutan beberapa pihak, mereka pun harus kecewa, mendapati semua kalimat dan kata yang diucapkan sang MC ternyata tidak semua tertulis dalam naskah tersebut. Adin memandu acara tanpa teks, seolah sudah hafal dan di luar kepala. “MC seperti ini memang harus sering improvisasi, karena tatanan nikahan adat Bugis memiliki varian yang berbeda, terutama dari segi penamaan acara, warna, simbol dan ornament yang dipakai. Itu artinya seorang MC nikahan adat seperti ini memang harus mengusai juga detail budaya itu, itu idealisme saya” tegas Adin pada salah seorang tamu undangan seusai perhelatan.

Sementara itu, Dina Syarif (25) salah satu kerabat empunya hajat menuturkan “Pengusungan materi pelafalan dan pemilihan kosa-kata Bugis puitis daeng Adin, membuat kami terkesima. Ketika tiba-tiba turun hujan saat prosesi sebuah acara adat “mappacci”, ia mengurai makna hujan yang dikaitkan dengan pernikahan dalam budaya Bugis. Pria yang juga pernah menjadi MC spesialis acara anak-anak serta instruktur MC di Yogyakarta ini tak jarang menjadi backing sound pada sejumlah iklan, film dokumenter hingga pementasan budaya di Yogyakarta.

Ditemui di tengah diskusi budaya rutin yang digelarnya bersama Forum Kajian Budaya Sul-Sel-Bar di beberapa Asrama Mahasiswa secara bergilir di Yogyakarta, ia menuturkan bahwa ketertarikannya terhadap budaya bugis berawal sejak tamat di bangku SMA. Ketertarikan itu menjadikan pria yang dikenal tegas tapi juga “humoris” ini sangat antusias terhadap literatur budaya bugis. Hingga kini, tercatat kurang lebih 260 buah buku tentang budaya Bugis-Makassar-Mandar-Toraja-Kajang-Tolotan yang dikoleksinya. Koleksi tersebut banyak menjadi rujukan skripsi, tesis, disertasi dan karya ilmiah para pelajar di Yogyakarta dan pelajar dari beberapa kota lainnya seperti Bandung, Jakarta, Malaysia, bahkan dari Makassar sendiri. Di Yogyakarta, sosok yang dikenal anti “budaya ngaret” ini aktif di sejumlah forum budaya. Wajar, jika orang-orang di lingkungannya memanggilnya sebagai budayawan muda berbakat Sulawesi Selatan.

(Arda Wardahna – Penulis adalah lulusan Magister Ilmu Komunikasi UGM)

Reportase ini telah tayang di www.kabarkami.com, 1 September 2012



MC BERBAHASA BUGIS KIAN DIMINATI DI JAWA-SUMATERA

Standard
Yogyakarta, Inspirasi-usaha.com: Mana mungkin bisa eksis menjadi seorang master of ceremony (MC) spesialis berbahasa Bugis di Tanah Jawa? Tapi, itulah kekuatan ide yang tidak “lazim”. Meski awalnya banyak yang meragukan ‘pangsa pasarnya”, namun faktanya, langkah “nekat” pria Bugis bernama Suryadin Laoddang yang menetap di Yogyakarta ini kini sudah merambah Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, hingga beberapa kota di Sumatra.

Yuni (35) seorang Pegawai Negeri Sipil di Yogyakarta tak kuasa menahan air matanya saat menghadiri resepsi pernikahan bernuansa adat Bugis di Auditorium Universitas Pembangunan Negara Yogyakarta, 9 Juni 2012 lalu. Saat mempelai menjejakkan kaki di teras gedung, tiba-tiba terdengarlah rapalan-rapalan doa yang dikenalinya sebagainya doa sakral dalam bahasa Bugis klasik dan telah puluhan tahun tak didengarnya.

Belum hilang rasa gamangnya, lafal-lafal sakral itu tiba-tiba ditimpali dengan irama musik klasik khas tanah Bugis. Melengkinglah suara pui-pui, suling, seirama dengan hentak suara gendang dalam irama musik pakkanjara’. “Bee, kembaliki sumange’ku Ndi. Lamanya baru kudapat beginian lagiE, bahkan di tanah Sulawesi pun sudah susahmi,” tutur perempuan  berjilbab ini dalam bahasa Indonesia khas Makassar.

Hayati  dari INSPIRASI USAHA juga hadir di arena tersebut sebagai tamu undangan. Setelah ngobrol sana-sini, ternyata pihak mempelai perempuan memang sengaja menghadirkan nuansa adat Bugis dan memadukannnya dengan adat Jawa. Mengingat ayah sang mempelai berdarah Bugis, sedangkan ibu Jawa.

Dalam setiap panduannya, MC selalu melafalkan beberapa kosa kata Bugis yang terdengar klasik, dengan tata bahasa yang halus lalu diikuti dengan terjemahan bahasa Indonesia.

“Sengaja kami campur dua bahasa ini, agar para tamu juga paham akan makna dari acara itu. Mulai dari makna dan filosofi warna baju yang dipakai mempelai, makna ornament dan alat-alat lainnya. Anggaplah ini perkenalan budaya Bugis di tanah Jawa,” tutur Suryadin Laoddang sang MC di sela-sela rehatnya.

Profesi MC adat Bugis telah dijalani pria yang akrab disapa Adin ini sejak tahun tahun 2000. Ia belajar secara otodidak. Semua berawal dari “kejengkelannya” melihat betapa indahnya bahasa Jawa dan Sunda menjadi bahasa pengantar MC.

“Kalau bahasa Jawa dan Sunda bisa, kenapa bahasa Bugis tidak” pikirnya kala itu. Maka sejak itulah ia mengumpulkan berbagai literatur dan catatan tentang detail pernikahan adat Bugis. Sambil mengumpulkan, ia juga melakukan studi banding, dengan mendatangi sekitar 80-an acara nikah adat Jawa dan Sunda di pulau Jawa. Dari situlah Adin belajar dan menemukan pakem cara dan tehnik MC nikahan adat yang pas. Mulai dari urutan acara, olah suara, olah gestur tubuh hingga pada pemilihan kata, yang ternyata sangat berbeda dengan acara-acara formal lainnya.

“Awalnya saya tidak pernah berpikir kalau MC seperti ini akan menjadi profesi saya. Maka saat itu saya rela tak dibayar, yang penting saya tampil dan bisa memperkenalkan budaya Bugis” Cerita ayah dari satu orang anak ini.

Untuk menghadirkan nuangsa Adat Bugis dalam setiap perhelatan, Adin kerap mengajak serta mitra kerjanya yang lain. “Kami ada mitra yang spesialis menyiapkan pakaian pengantin, tata rias, pelaminan. Adapula yang spesialis menyiapkan makanan khas Sulawesi Selatan. Ada pula yang spesialis musik dan tari-tarian. Bahkan ada juga mitra yang spesialis menyiapkan personil yang siap membantu sebagai perangkat acara seperti penerima buku tamu, pengiring mempelai dan lainnya.

Menurut budayawan Bugis ini, jika ditekuni dan diseriusi profesi MC berbahasa Bugis, maka akan memperolah penghasilan yang lumayan. Jika semua dapat diukur murni dengan tarif bisnis maka tarif MC saja sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta. Ini setara dengan tarif MC adat Jawa dan Sunda.

Untuk musik dan tari-tarian tarifnya minimal Rp2,5 juta. Sementara untuk kostum, rias dan pelaminan tarif paling murah Rp8 juta. “Kendalanya adalah kadang kita tidak memakai skala bisnis, melainkan harga kekeluargaan. Karena yang punya acara adalah keluarga sendiri," ujarnya.

Jika memang lagi musim nikahan, dalam satu musim Adin bersama mitra kerja minimal mendapatkan orderan sebanyak dua kali. Sejauh ini Adin sendiri sudah pernah dipercaya menjadi MC nikahan adat diberbagai kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Solo, Boyolali, Semarang, Malang, Cilacap, Surabaya hingga ke Batam.

Ke depan, Adin bercita-cita akan membuka kursus MC Adat Bugis Makassar di Yogyakarta dan Makassar.(RIN)

Reportase ini telah tayang di Majalah Inspirasi Usaha Edisi Juli 2012 dan www.inspirasi-usaha.com, 30-8-2012

*****

Senin, 13 Agustus 2012

PEREMPUAN (BUGIS) BERHIJAB SARUNG

Standard


Judul tulisan ini memang terinspirasi dari judul film “Perempuan Berkalung Sorban”, tapi hanya sebatas judulnya. Inspirasi utama dari tulisan ini adalah tradisi kaum perempan Bugis dalam memakai sarung, inspirasi ini juga bergayung sambut saat mendapati sebuah foto perempuan Bugis yang menutup dirinya dengan kain sarung. Foto tersebut penulis dapatkan dalam naskah buku “Suara-suara dalam lokalitas” buah pena dari Prof. DR. Nurhayati Rahman. Naskah yang proses terbitnya sedang digarap oleh penulis.


Sarung memang tak pernah lepas bagi keseharian orang Bugis. Tua, muda, kanak-kanak senantiasa mengenakannya. Sarung juga tak mengenal bias gender. Laki, perempuan bahkan kaum trans gender juga mengenakannya. Jika kaum pria menggunakannya untuk ibadah, bekerja dan beberapa aktifitas lainnya, pun juga dengan perempuan. Sarung oleh kaum perempuan Bugis juga dikenakan dalam kesehariannya. Sarung mereka pakai untuk beribadah, mandi bahkan untuk urusan dapur, sumur dan kasur.

Ada satu tradisi memakai sarung kaum perempuan bugis yang tak bakalan dilakukan kaum pria, bahkan mungkin tak ditemui di entnis lainnya dimuka bumi ini. Perempuan bugis menggunakan sarung untuk menutupi area terlarangnya saat mereka berada diruang umum, saat mereka berlalu didepan khalayak serta saat mereka keluar rumah. Jika dipaksakan untuk mencari analogi yang mendekati pada jaman sekarang, maka tradisi perempuan bugis tersebut mirip dengan tradisi memakai hijab para perempuan Arab. Memakai kain gombrang menutup sekujur tubuhnya, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Hanya muka yang tampak (kadang hanya kelopak mata), bahkan bentuk dan lekuk tubuhpun tak tampak.

Cara menutup tubuh itupulah yang kita dapati saat perempuan bugis mengenakan dua buah sarung untuk menutup tubuhnya. Satu sarung dipakai pada tubuh bagian bawah, mulai dari uluhati hingga mata kaki. Ujung sarung di uluhati tadi dibebat kencang dengan ujung kain yang diselipkan di sela kain dan kulit tubuh, kadang juga sengaja mengikatkan ujung kain pada satu sisi dengan sisi lainnya. Cara kedua ini lebih banyak dipakai, selain lebih kencang (tidak gampang melorot) juga memaksimalkan efek gombrang saat dipakai.


Satu sarung lainnya dipakai dengan cara menjadikan kain sarung sebagai selubung tubuh, menutupi ujung kepala hingga pertengahan paha. Kurang dari satu setengah jengkal ujung atas tetap dibuka (seukuran wajah) agar tak menghalangi pandangan pemakainya. Sehingga dari depan hanya tampak wajahnya, bahkan pada kondisi tertentu yang tampak hanyalah dua mata sang pemakai, sehingga ujung yang terbuka seolah segaris dengan mata pemakainya.

Kenapa perempuan bugis menutupi tubuhnya sedemikian rupa?

Kondisi ini tidak terlepas pada ajaran kearifan lokal bugis yang menganggap perempuan sebagai sebuah kehormatan yang harus dijaga dengan takaran darah dan nyawa. Inilah alasan kenapa perempuan bugis selalu memiliki tau masiri, pria yang menjadi penjaga kehormatannya, pria yang wajib berkorban membela, mempertahankan dan mengembalikan kehormatan perempuan yang dijaganya, perempuan yang menjadi to risirisi-nya. Ketika perempuan tersebut berada ditempat umum dengan menampakkan bagian terlarang dari tubuhnya, maka sang tomasiri-lah yang malu berat, ia akan menegur sang perempuan. Jika ia tak mampu lagi menegurnya, pilihan terbaiknya adalah sang pria harus meninggalkan kampung halamannya, merantau agar ia tak menjadi sasaran hinaan masyarakat setempat. Sementara bagi sang perempuan yang “tak mau diatur”, maka ia akan dikurung dalam rumah atau ia di pali, diungsikan ketempat lain yang jauh dari kampungnya.


Tradisi memakai hijab ini sudah dikenal masyarakat bugis jauh sebelum agama islam masuk ke tanah Bugis itu sendiri. Makin membudaya kala ajaran agama islam telah diterima di tanah bugis pada kisaran abad XVI-XVII. Hal yang menunjukkan ajaran adat (pangadereng) bugis sejalan dengan hukum syariah (syaraq) islam, minimal dalam urusan menutup aurat. Hijab sarung ini mulai berlaku pada kisaran abad IX-X. Sayang hijab dengan sarung ini mulai pudar sejak adanya baju bodo yang kala itu masih tipis dan transparan, diperparah lagi dengan kebijakan pemerintah pusat kala itu “memaksakan” baju kebaya (Bugis:Kobaja) menjadi busana nasional.

Kini jamak kita temui perempuan bugis di berbagai tempat dengan bangganya melenggak dengan menampakkan area terlarangnya, termasuk lekuk tubuhnya. Parahnya lagi, kadang pakaian dalamnya kelihatan. Jika dulu perempuan bugis yang berhijab sarung mendapat pujian “niganaro anaq dara iyaro? Malebbimani, namoha ille matanna dettona nrulle mita” (siapa gerangan dara itu, sungguh anggun dan santun, bahkan sekedar melihat garis matanyapun kita tak mampu). Kini pujaan itu berganti cibiran “nigana anaq dari iyaro? Demanagaga sirina, namohan wille pelli-pellinna yodding toni irita” (siapa gerangan dara itu, tak kenal malu, hingga belahan pantatnyapun dengan mudah kita lihat).

Sungguh ironis!