Rabu, 25 Januari 2012

MATRIKS X KOMA Y

Standard
MATRIKS X KOMA Y
(Terinspirasi dari Catatan Kuliah Aljabar & Pemasaran)


Berderet ia dipinggir jalan
Bila tak merah maka hijau
Tak perlu dipoles ulang
Tak perlu dikemas lagi

Namanya banyak
Sebanyak penggemarnya
Namanya unik
Seunik tuannya

Warung Toserba
Aku jatuh cinta
Warung Toserba
Hatiku kau curi

Warung Toserba
Ia serupa deret matriks
Matriks X dan Y
Mariks satu baris

Matriks dasarnya
X = X11, X12, X13, X14, X15, X16
Y = Y11, Y12, Y13, Y14, Y15, Y16, Y17
1 – 7 adalah koofisien bukan konstanta

Jadi X I Y = ... ?, dimana I = Inovasi
X = X11, X12, X13, Xnn, Y17, Xnm
Y = Y11, Y12, Y13, Y12, Y15, X12,
Xnn, Xnm = Antara Alfa hingga Juliet

Alfa, Betha, Cera, Delta, Echo, Forxot, Gamma, Hotel, India, Juliet, Kilo, Lima, Mike
Nancy, Omega, Papa, Quiz, Romeo, Swiss, Tetta, Ultra, Violet, Whisky, Xena, Yoyo, Zebra

Catatan :Untuk memecahkan "komat-kamit" ini, dibutuhkan pemahaman Hukum Alogaritma pada pembuatan ISBN (9 digit)
serta piwai dengan Tehnik Kriptografi Inskripsi dan Deskripsi.

KOLEKSI PUSTAKA SULAWESI

Standard



Telah banyak karib kerabat yang bertanya, kenapa saya tergila-gila dengan pustaka-pustaka Sulawesi? Jujur, saya sendiri tidak tahu kenapa, yang jelas bukan karena pengaruh komposisi genetik yang berkembang dalam tubuh saya. Karena saya juga sempat gila pada pustaka komputer, pengembangan diri, agama Islam, dan susastera. Membaca dan mengumpulkan pustaka Sulawesi bermula sejak saya masih kelas tiga sekolah dasar, makin menggila ketika saya memilih menetap di Yogyakarta sejak 1997.


Awalnya hanya untuk koleksi dan konsumsi pribadi, tapi lingkungan memaksa saya untuk berbagi dengan sekitar saya. Maka jadilah buku koleksi saya juga "dimiliki" dan dimanfaatkan karib kerabat lainnya, sebagai bahan pustaka untuk menyusun tugas kuliah, tugas akhir kuliah, bahan seminar, diskusi atau sekedar menambah wawasan. Berdatanganlah karib kerabat itu dari seantero Yogyakarta juga dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Semarang, Pekanbaru, Aceh, Mataram, Bali, Kendari, Palu, Malaysia, Singapur bahkan dari Makassar sendiri. Tiga belas mahasiswa yang datang ke rumah iseng saya cecar, kenapa mereka "kurang kerjaan" nyari pustaka itu di Yogyakarta? Jawabnya "di Makassar kanda banyak yang tahu tentang budaya kita tapi mereka pelit berbagi". Hem, tak berani saya menyimpulkan.


Memasuki tahun 2012, atas pertimbangan seringnya buku yang dipinjamkan tidak kembali, jika kembali kadang telah rusak. Maka dengan berat hati, saya menempuh kebijakan untuk tidak lagi meminjamkan koleksi pustaka tersebut, yang berminat silahkan datang ke gubuk kami membacanya. Lebih asyik, kita bisa berdiskusi dan menyeruput segelas teh, plus digodain Rafi sang jagoan kecilku.


Tidak semua koleksi pustaka ini saya beli, banyak diantaranya merupakan hibah dari beberapa kerabat seperti Ivan Taniputer (semarang), Ika Farikha Hentihu (Malang), Renaldi Maulana, Dian Muhtadiah Hamna (Makassar), Andi Rahmat Munawar,  Rasnadia, Palari Demmu (Sengkang),  Noor Sidin (Samarinda), Penerbit Ombak, Sitti Aaisyah Sungkilang, Danial, Juhansar Andi Latif, M. Rusydi Haisal ( Yogyakarta).

Untuk melihat daftarnya klik disini http://www.4shared.com/office/xuWazjkg/BUKU_BUGIS_YANG_SUDAH_DIMILIKI.html


Mariki' diii.

Minggu, 22 Januari 2012

CINTAKU KANDAS DI DANAU TEMPE

Standard


Kawan
Aku tak disana lagi
Tak di Danau Belawa
Tak juga di danau Lampullung
Danau AtakkaE atau Tosora
Tak juga di muara PallimaE




Disini!
Aku disini kawan
Menyeruak daong Cuncung
Menyibak Lare, Parapa dan Jumpai
Menyapa Oseng, Jangko, Ceppe, Kandea dan Alame
Bergurau dengan Manu Datu-datu

Kawan
Aku Pappalimbang
Dengan Wise usang
Bersama lepa-lepa tua
Kadang Mallopi Bura
Atau Lopi Bira’ Awo

Saat lelah
Kutegakkan Talo Tenreng
Memanjat pohon Lontar
Menyadap Sarinyameng
Menemani Arung Masala UliE
Meretas karya Lontaraqnya

Kawan...
Dibawah bayang-bayang Pohon Bajo
Kulepaskan Penat
Bercelana Jongkoro
Berharap, ada Tedong Buleng
Menawar kutuk wajah burukku

Kawan
Inilah aku, Pammanu-manu
Teliksandi, pembaca Lontaraq
Pereka senandung Passureq
Pelarik nyanyian Pakkacaping
Paggora pada Pakkanjara’

Kawan,
Akulah, Sang Pabbaja Laleng
Membuka jalan, membersihkan onak
Menanti Pangeran dari Seberang
Berlayar melawan arus Pallima – WalennaE
Menjemput Arung Sakkoli, Sakke Oli

Kawan,
Aku kan tetap disini
Menata rumah terapung
Menemani riak Danau Tempe
Esok...Aku kan datang
Menyajikan Lawa Bale, Rontoq,
Tunu Bungka dan Nasu Palekko
Juga Nanre' PuleNanre Wessu

CATATAN :
  1. Danau Sidenreng, Lampullung, AtakkaE, Tosora = Beberapa danau di tanah Wajo Sul-Sel
  2. PallimaE = Muara sungai Walennai di Teluk Bone
  3. Daong Cuncung, Lare, Parapa dan Jumpai = Jenis tanaman endemik di danau Tempe
  4. Oseng, Jangko, Ceppe, Kandea dan Alame = Jenis ikan dan udang endemik danau Tempe
  5. Manu Datu-datu = Jenis burung endemik danau Tempe
  6. Pappalimbang = Pengantar, tukang perahu
  7. Wise = Dayung
  8. Lepa-lepa = Perahu khas Bugis
  9. Mallopi Bura = Rakit dari batang Pisang
10.  Lopi Bira’ Awo = Rakit Bambu
11.  Talo Tenreng = Tangga bambu dengan satu tiang
12.  Sarinyameng = Nira, tuak dari pohon lontar
13.  Arung Masala UliE = Ratu yang memiliki kelainan kulit
14.  Lontaraq = Karya tulis / sastra Bugis
15.  Jongkoro’ = Celana pendek
16.  Tedong Buleng = Kerbau Albino
17.  Pammanu-manu = Teliksandi
18.  Passureq= Nyanyian, kidung syair klasik Bugis
19.  Pakkacaping = Pendendang nyayian dengan alat musik kecapi
20.  Paggora  = tukang teriak
21.  Pakkanjara’ = Musik heroik ala Bugis - Makassar
22.  Pabbaja Laleng = Perintis, pembuka jalan
23.  Sakke Oli = Berkulit halus / menawan
24.  Lawa Bale = Lauk, olahan daging ikan, mirip Sushi Jepang
25.  Rontoq = Lauk, olahan dari anakan udang air tawar
26.  Tunu Bungka = Lauk, Ikan bakar, yang dibakar dalam balutan lumpur
27.  Nasu Palekko = Lauk, olahan dengan bahan utama bebek
28.  Nanre' Pule, Nanre Wessu = Dua jenis nasi ala Bugis, nasi dengan campuran jagung. 

============
Foto : indotour.org

DARA GELAMIT

Standard

Hai dara gelamit
Sejenak kupamit
Bukan berkelit
Tapi pulsaku limit

Ijinkan kuberwicara
Pada bait-bait lontara
Mantra para Jawara
Serupa cenning rara

Kusapa setiap papar
Pada lema yang berlembar
Benak kuajak bernalar
Katup kuajak berujar

Lontra’mu sungguh manis
Mungil bak kismis
yang kenyas kenyis
Bak pengantin baru yang meringis

Auwww, mari ke peraduan
Berbagi lanturan
Jual beli cabaran
Asal jangan cakaran

Kamasutra kita lumat
Serat centini kita serat
Assikalabaineng kita lumat
Assitubu dalam satu sarung, sikat! 




========
(stop!!!! don't try at home, bulan puasa coy, tahan nafsu!)
5 Ramadhan 1423 H


foto : gallerydunia.com

PAKKURU SUMANGE'

Standard
mammulai pitu uleng
ritampukmu anak
upassalamako

sejak tujuh bulan
engkau dalam kandungan
telah digelar ritual keselamatan

museppulo uleng anak
muloseng ri jalik
natimang sanro

di bulan kesepuluh
engkau lahir diatas tikar rotan
dipangku sang dukun beranak

upakuru sumangekko
tellu aseng mubokong
pole ri puange

kupanjatkan pakkuru sumange’
tiga nama menjadi bekalmu
dari Sang Tuhan

nasaba iko memettu
lisena paricittaku
sulona atikku

karena hanya engkaulah
belahan jiwaku
cahaya hatiku

ajak mupadi bolai
riasengnge tanre ati
riasengnge bangka

pesanku jangan engkau miliki
keangkuhan
kesombongan

iyami namalebbi
nasaba abbatireng
saba awaraningeng

Kemuliaan hanyalah
Karena keturunan
Karena keberanian

iyami namalebbi
taukna ripuangnge
coppona lebbi-e

Kemuliaan yang sesungguhnya
Adalah Taqwa pada Tuhan
Itulah puncak kemulian

mattipi teppaulleku
macapu campakka
rimasagalae

Tunggulah hingga aku lelah
Lalu engkau merawat sukmaku
Menuju keagungan

ulauko ribaiccumu
suloko marajamu
simakko ritamatoaku

Engkau adalah Mustika di kala kecil
Obor penerang kala dewasa
Azimat dimasa tuaku

upasekko ritu anak
nasaba paseng pole
pada ri nenemu

Kuberpesan padamu
Dengan pesan turun temurun
Dari leluhurmu

nasaba ia bangka-e
linona temmadeceng
aherana tessalama

Kesombongan hanya membuat
Duniamu jauh dari kebaikan
Akhiratmu takkan selamat

iyami namalebbi
nasaba macccangeng
saba warampang

Gapailah kemuliaan
Karena kecerdasanmu
Karena harta Bendamu

tudakko riwakangekku
uwarekkeng sumangekmu
riparicittaku

Duduklah dalam pangkuanku
Kutularkan semangat
Dari jiwaku


CATATAN :
photo : vitamuzarrofah.blogspot.com
naskah ini untuk
TERJEMAHAN NASKAH UNTUK BAHAN SKRIPSI DEASY MAHASISWA UNIV. PENDIDIKAN BANDUNG

Sabtu, 21 Januari 2012

CAPUNG, ANGELINA JOOLI DAN KUTUKAN MENCRET

Standard
CAPUNG, ANGELINA JOOLI DAN KUTUKAN MENCRET
Oleh : Suryadin Laoddang



Photo : Mbah Google

Anjelina Jooli, Anjelina Jooli, Anjelina Jooli”, teriak mereka berlarian. Berlari ke padang rumput di sela-sela rumah panggung. “Anjelina Jooli, Anjelina Jooli, Anjelina Jooli”, teriak mereka masih membahana. Berbekal sejulur kayu dengan plastik bening yang melekat di salah satu ujung kayu, mereka berlarian dan berhenti lalu berpencar di padang rumput itu. Padang rumput hijau dan luas itu selalu kukenang, selalu membangkitkan rinduku.

Seolah mengalami dejavu, teriakan anak-anak itu mengingatkanku pada masa kecilku. Bertelanjang kaki, bertelanjang dada, kadang telanjang bulat. Kami berkejaran, kami rebutan, adu kesabaran demi seeokor capung. Selembar plastik bekas wadah gula pasir 1 Kg kami gembungkan, pangkalnya kami ikat sedemikian rupa dengan karet pada sejulur ranting lurus. Dengan alat sederhana itu, buatan kami sendiri, kami mengendap bak kucing mengintai mangsa.

Sedapat mungkin mengendap dari belakang sang capung, agar gerak mengendap kami tak terlihat. Tak hanya itu, kami juga harus memperhitungkan arah bayangan kami, bayangan bisa mengusik kenyamanan capung. Belum lagi, harus memperhitungkan kekuatan dan arah angin bertiup, selain mengusik capung, angin juga mampu merusak gembung plastik kami. Begitu tertangkap senang rasanya. Sungguh susah bukan?.

Hampir enam tahun, lereng gunung itu tak kujamah. Merantau dan mengadu nasib ke Yogyakarta membuatku lama tak pulang kampung. Pantang pulang sebelum sukses, itu alasanku. Tak sekedar alasan, ia adalah sumpah. Sumpah yang diamini oleh banyak perantau Bugis. Dilereng gunung Aje Angnyarang ini terhampar padang savana, tempat ternak kami bermain dan mencari makan. Tempat bercanda bersama para gembala lainnya. Juga tempat para kupu-kupu dan capung itu memamerkan gerak lincah dan keindahan warnanya.

Anjelina Jooli, pesohor Holywood itu. Namanya sangat akrab bagi anak-anak disini, dikampung halamanku. Namanya selalu di identikkan dengan capung. Capung dalam bahasa ibuku, adalah Joli-joli. Nama Bugis untuk serangga unik bersayap ganda ini, ia mirip helikopter. Kepalanya besar, badan pun besar, tapi ekornya lentik. Model dan warnanya beragam, ada superbesar dengan warna hijau berlurik, merah menyala, hingga hitam legam. Khusus untuk si hitam legam ini, waktu itu tak ada dari kami yang berani menangkapnya. Namanya menakutkan, joli-joli setang (capung setang). Berani menangkapnya, alamat tidur kita akan dihantuinya. Begitulah orang tua kami menceritakan dan menakut-nakuti kami.

Adapula yang berukurang sedang, ini yang paling sering kami jumpai dan sering kami tangkap. Namun warnanya lebih dominan hijau. Yang ukurang kecil juga ada, namanya joli-joli jarung (Capung Jarum). Mungkin karena bentuk fisiknya yang ramping, sebesar jarum jahit, maka ia disemati nama itu. Variasi warnanya lebih menarik, ada kuning, putih, hijau, merah dan ungu, atau kombinasi dari beberapa warna, dengan motif lurik.

Sayang, tak jarang keasikan kami menangkap sang capung, sering kali sirna karena orang tua kami. Ditengah keasikan kami,  panggilan bernada perintah orang tua memaksa kami segera berhenti. Disuruh makan, mandi, tidur atau pergi mengaji, itu pembenaran orang tua kami untuk menghentikan keasyikan kami. Jika tidak, maka kami ditakuti-takuti. “Ayo anak-anak, berhenti menangkap joli-joli itu, nanti  kamu joli’-joli’”. “Anak-anak, ayo berhenti menangkap Capung itu, nanti kamu bisa mencret”, begitu kalimat sakti para orang tua kami. Lucunya, kami menurut dan betul-betul takut dengan peringatan tersebut. Meski kami tak pernah mencoba untuk membuktikannya.

Kata joli-joli (senada dengan kata Jali-jali) memang memiliki fonem dengan kata joli’-joli’ (senada dengan kata Kali’ orang betawi). Menangkap capung sesungguhnya adalah permainan, bagi kami. Tetapi bagi masyarakat Bugis dan lingkungan adat Bugis. Capung tak sekedar hewan kecil yang tak berdaya. Ia adalah simbol kesuburan, simbol kemakmuran. Tak ada capung yang berkeliaran di padang savana kami, itu berarti rumput di padang itu sudah tak segar dan sehat lagi untuk pakan ternak. Belakangan, setelah kami dewasa, baru kami sadari. Ternyata, mitos-mitos ini sengaja ditanamkan orang tua kami, demi menjaga kelestarian sang Capung. Juga keseimbangan ekosistem alam, antara rumput, capung, ternak dan manusia.

Kata orang tua kami, boleh menangkap capung, tapi tidak untuk dipelihara. Maka setelah ditangkap, segeralah bebaskan kembali. Sebelum dibebaskan, ada ritual khusus yang harus kami lakukan. Masing-masing capung yang kami tangkap kami arahkan untuk menggigit pusar kami. Inilah bentuk permintaan maaf kami pada sang capung, karena sempat kami tangkap. Konon, dengan digigitnya pusar kami oleh sang capung, kutukan mencret itu hilang dengan sendirinya. Berani coba?

SI CEREWET LAGI CEMBURU

Standard
SI CEREWET LAGI CEMBURU
Oleh : Suryadin Laoddang


photo : ngerumpi.com”Yang mana budaya kita? Karena budaya anda semua, cerminan budayaku juga”, Narasi penutup itu kubacakan dengan suara yang kian parau dah melemah. Tak sanggup menandingi gema lagu Anging Mammiri, lagu penutup pada drama Budaya “Antara Cinta, Ombak dan Siri’”.

Lagu pengobat rindu itu dinyanyikan secara koor oleh puluhan pemain drama ditambah ratusan penonton yang hadir dalam ruangan teater Taman Budaya Yogyakarta. Tak pelak, panggung itu penuh haru, ada yang terobati rasa rindunya, ada yang terharu karena pementasan mereka sukses. Ada juga yang terharu karena cintanya latto di atas panggung, cinta lokasi.

Disudut panggung, diatas altar narator dengan naskah setebal 63 halaman ditangan kanan, aku juga ikut terharu, rasa haru yang berbeda. Kuterharu melihat betapa adik-adikku, kaum muda yang dicap tak peduli budaya itu, sukses mementahkan cap “busuk” itu. Aku bangga pada adik-adikku, bangga pada sosok Faizal a.k.a Ichal sang sutradara. Puluhan nilai budaya Sulawesi Selatan sukses ia presentasikan dengan cantik.

Yah, cantik secantik ... “pakkkkk”, tiba-tiba pundak kananku terasa perih, sebuah tamparan mendarat di pundakku. Belum sempat kukenali pelakunya, ia sudah nyerocos “kak, kecewaka sama kita”. Rupanya si cerewet pelakunya.

“Jauh-jauhku itu datang  kak dari kontrakanku di Kaliurang atas, hanya untuk liatki pentas. Ternyata tidak pentaski”. Kecewaka kak sama kita, kecewa sekaaliiiii” cerocos si cerewet dengan nada segaja dipanjangkan pada bagian akhir kalimatnya.

“Kodong ndi, na tuawa maka. Biarkanmi adek-adek yang pentas, kakak cukup dibelakang to” terangku seraya membela diri.

“he he he kakak, untungna adaji suarata, bagus mentong suara ta kak, khas gampang dikenali” kali ini ia memujiku. “pasti ada maunya” dalam benakku

“Sebentar dulu” potongku sebelum si cerewet ngomyeng kiri-kanan. “bagaimana kabarnya calon suamimu? Apami juga jawabanmu atas pertanyaanku kemarin (baca notes si cerewet mau nikah)” Kini aku yang mencecar.

“Baik-baikji kak, beh itu pertanyaanta kak belumpi bisa kujawab, bingungka bela” Si cerewet kini telah duduk disampingku. Berdua kami menatap para pelakon dan narator drama lagi asik bernyanyi dan bergandeng pundak didepan kami.

“Kak, curhatka lagi. Bolehji to, edede tambah jengkelka kak sama calonku. Nabiking cemburuka bela, habiski waktuna sama pacar lamanya, saya kodong racci-racccinamamo” dasar cerewet, awalnya minta ijin, belum dapat ijin, dah nyerocos.

“Pacar lama?, dia punya pacar lain?, kurang ajarna itu! Mau kusunnat lagikah” huft, kali ini emosiku memuncak.

“Iya kak, nama pacarnya Eser. He he he, Desertasi maksudku kak” wajahnya berubah cengengesan, akupun jadi keki.

“tiap hari itu kak desertasinyaji terus naurus, kalo tidak mengetik dikamarna, keperpuski. Menjelkelkanna, lalu kapan ada waktu untukku?” ungkap si cerewet dengan ekspresi dibuat-buat. "kalo proteska kak, apa jawabannya? dinda, sematkan cinta itu dihatimu. maka aku kan datang mendekapmu, huekkssss puisimi lagi seng nakasi'ka"  lagi-lagi ekspresinya dibuat-buat.

“ooo, terjawab sudah. Itu berarti dirimu hanya mencintai caranya mencintaimu, bukan mencintai dia sepenuhnya. Kalo dinda mencintainya, seharus dinda dukung dia, minimal menemaninya mencari literatur. Dia berjuang selesaikan desertasinya pasti karena ingin segera melamurmu ndi” paparku, berusah membesarkan hati si cerewet.

“iya ya ya kak, aku yang egois. Tapi benar gak sih, dia yang terbaik untukku, aku kok ragu ya kak?” kali ini pertanyaannya membuatku macciling.

“pertanyaanmu salah ndi, bukan diakah yang terbaik untukku?. Seharusnya, kamukah yang terbaik untukknya?. Sudah ya ndi, kakak mau turun panggung, teman-temanku menunggu dibawah. Ok, nanti kalo ada apa-apa sms aja yah” ujarku sambil beranjak dari sampingnya.

Ahad, 17 Juli 2011, pukul 04.12 WIB
Dilayar HP bututku, sebuah sms masuk dari si cerewet.
Tombol “open” kutekan.
“Kak kitamo deh yang jadi suamiku”.

GUBRAKSSSSSSS!!!!!!

=============
Catatan :
Anging Mammiri, lagu tradisional Makassar
Latto (M): cintanya diterima
Ngomyeng (J): cerewet
Racci-raccinamo (M): Sisa-sisa
Macciling (B) : Geleng-geleng

PADA BEBEK

Standard
PADA BEBEK
Oleh : Suryadin Laoddang

Pada Bebek
Aku mengadu

Pada Bebek
Aku mengeluh

Pada Bebek
Aku gundah

Pada Bebek
Aku gulana

Pada Bebek
Aku berkesah

Pada Bebek
Aku meratap

Pada Bebek
Aku meraung

Pada Bebek
Aku terisak

Pada Bebek
Aku bertangis

Pada Bebek
Aku menangis

Pada Bebek
Aku senyum

Pada Bebek
Aku mengangguk

Pada Bebek
Aku geleng-geleng

Pada Bebek
Aku ketawa

Pada Bebek
Aku ketiwi

Pada Bebek
Aku terbahak-bahak

Pada Bebek
Aku berteriak

Bebek
Bosan
Beranjak
Pergi
Jauh

Hanya “quak-quak”

Selesai


Jumat, 13 Januari 2012

SERBA "IS: (Bagian kedua)

Standard
SERBA "IS: (Bagian kedua)
Oleh : Suryadin Laoddang

Kali ini dari Kampung Jetis
Kampung kaum akademis

Diatas selokan yang nyelekutis
Berdiri warung Ciamis
Milik Teh Yulis
Ramai dan laris

Dipojokan, nikmat kuhirup kopi manis
Dengan setangkup kue Pukis
Tersaji pula Manggis
Juga kue Lopis

Kuingin melukis
Melukis pasar yang berbau amis
Melukis penjaja keris
Meluksi penjaja kitab magis

Sesekali kulirik jejeran betis
Para pramuniaga yang seksi abis
Mulus karena ada stocking jadi pelapis
Kala dibuka ternyata kurapan dan penuh kudis

Syahwatku bangkit mengemis
Mengajak terbang bak burung belibis
Tak mengerti isi dompetku telah tipis
Tak mengerti nyaliku yang kembang kempis

Latah kucuwil lengan Teh Yulis
Dengan ujung mata ia menunjuk Abdul Muis
Suaminya yang bertampang bengis dan sadis
Menghampiriku dengan linggis


SERBA “IS” (Bagian Pertama)

Standard

SERBA “IS” (Bagian Pertama)
Oleh : Suryadin Laoddang


Di Bengkalis
Pagi masih gerimis

Ditemani Lilis
Seorang dara, masih gadis

Kelakarnya ceriwis
Bahasanya puitis

Maklum ia seorang Jurnalis
Suka mengulik warta Selebritis
Penampilannya modis
Busana serba minimalis

Katanya inilah yang harmonis
Dengan jaman yang serba krisis
Daripada beraliran normalis
Salah-salah dianggap mistis

Akh Lilis, menggodaku dengan alis
Sebelum ia beranjak, kami berkecup pelipis

Ia telah dijemput bule Prancis
Yang tak kalah necis
Berambut klimis
Juga berkumis

Akh Lilis, engkau sungguh Manis
Lebih dari sari manis, juga Kismis
Apalagi buah Manggis
Engkau menginspirasiku tuk menulis

Menulis kata berbaris-baris
Kadang hanya dengan garis
Disertai air mata tangis
Kadang pula sambil meringis

Kumenulis bagai kolumnis
Kadang sok cerpenis

Akh Lilis, engkau masih kenyas-kenyis