Senin, 06 Februari 2012

Di Pameran Buku, Anak Kami Hilang

Standard

Anak tangga terakhir, telah kami lewati. Aku di sebelah kiri, jagoan kecilku di tengah, budanya di kanan. Tiba-tiba, Rafi sang jagoan kami itu berhenti. Seorang gadis cantik berkaos hitam dengan mic digengamannya menarik perhatian Rafi. Jagoanku ini memang lagi gandrung dengan alat kecil yang berfungsi sebagai perana suara tersebut, setiap mendapatkannya Rafi seolah ingin menguji kualitas suaranya. Entah itu bernyanyi, mengumandangkan Adzan atau sekedar berteriak. Pun kali ini Rafi tak jua berkedip memandang alat itu, menatap perempuan yang tak berhenti ngoceh di ruang informasi pameran buku yang kami sambangi siang kemarin.

Kamipun berhenti menuruti keinginannya, tak jua kami berani mengganggu keasikannya, hingga ia sendiri yang memecah kebisuan kami bertiga. “Ayah, tantenya itu ngapain to’ yah?” tanyanya dengan aksen Jawanya yang mulai kental. “Oh, itu namanya ruang informasi nak, nanti kalo kunci motor ayah hilang nanti carinya kesini” jawabku sambil menunjukkan kunci motor tua kami. “Oohhh”, balasnya lalu menarik tanganku untuk melangkah langi, “nyari tulis-tulis yok yah”. Tulis-tulis adalah lema khusus dalam kamus bahasa Rafi untuk menyebut alat tulis serupa crayon atau pensil warna.

Baru satu stand buku yang kami lewati, terdengar sebuah pengumuman, “Perhatian!!!” suara itu agak keras, mungkin disengaja. “Bagi bapak ibu yang tadi meninggalkan anaknya tertidur di Mushalla, harap segara diambil kembali, karena anaknya sudah bangun dan menangis meroeng-roeng”. Seketika aku, bunda Rafi dan beberapa pengunjung serta penjaga stand tertawa. Ada dua alasan yang membuat kami tertawa, pertama menertawai keteledoran orang tua anak itu. Kedua gaya dan pilihan bahasa sang announcer terutama pada kata meroeng-roeng, plesetan dari kata meraung-raung. Ku yakini, itu disengaja untuk menarik perhatian para pengunjug, mungkin juga bentuk amarah sang annoucer pada keteledoran sang orang tua.

Setelahnya, kami bertiga asik mencari buku, terutama di stand-stand yang menyajikan potongan harga besar dan obral buku. Rafi, tak kalah hebohnya mengumpulkan majalah, buku dan mainan puzzle yang disenanginya. Tidak tanggung-tanggung, ia rela duduk bersila mengamati lembar demi lembar buku pilihannya sebelum diserahkan padaku sebagai kata perintah untuk membelikannya. Siang itu, belanja buku Rafi mendekati angka Rp. 150.000,-, bundanya Rp. 20.000,-, dan aku sendiri Rp. 12.500,-,. Satu buku lagi kami beli bukan untuk kami, tapi untuk kami jadikan kado ucapan selamat bagi sahabat kami yang baru saja menjadi Ayah. Harganya? Rahasia, ok.

Buku sudah dibayar semua, Rafi sudah menunjukkan wajah lelah dan bosan, kamipun beranjak menuju pintu keluar yang sekaligus pintu masuk yang kami lewati sebelumnya. Satu persatu stand kami lewati begitu saja, hingga tiba didepan sebuah stand yang menyajikan alat-alat permainan pembelajaran bagi anak-anak. Hemm, Rafi tertarik. Maka masuklah ia kesana bersama bundaya, Rafi asik bermain ditemani petugas stand tersebut, bunda asik mencerna semua bahasa promosi dari petugas lainnya. Daripada bengong sendiri, aku pamit hendak berkeliling ke stand buku lainnya, aku tinggalkanlah Rafi bersama bundanya disana.

Selang tiga puluh menit kemudian, bunda Rafi menyapa lewat telepon selulur butut kami, “Ayah, Rafi disana gak?”. “Lho, bukannya sama bunda disana”. Tak pikir panjang telepon selelur itu aku masukkan ke kantong jaket, entah sudah aku matikan atau tidak. Setengah berlari aku menuju stand tempat Rafi dan bundanya tadi terakhir aku tinggalkan, entah berapa orang yang aku senggol, entah berapa orang pula yang menyumpahi aku. Masa bodo, anakku hilang, harus segera ketemu kembali. Banyangan buruk silih berganti mendera benakku, saat berpapasan dengan istriku kuperintahkan ia mencari kearah kiri dan aku ke arah kanan.

Semua jalur labirin yang berular itu telah ku jelajahi, tak jua anak kami ketemu. Beralih ke kamar mandi, juga tak ada. Lewat pintu terlarang, pintu yang hanya boleh untuk panitia aku melompat dan berlari ke parkiran mencari anakku. Banyangan dibawah lari oleh orang lain menghatuiku, tak jua ketemu. Segera kuberlari menatap setiap kendaraan yang lalu lalang di jalan raya, berharap masih menemukan anakku lagi digendong atau dimasukkan kendaraan orang lain, semua nihil.

Oohhh, masih ada satu tempat yang belum aku sambangi. Area pujasera, pusat jajanan selera rakyat, mungkin saja Rafi kesana mencari minum atau jajanan lainnya. Baru dua gerai pujasera yang kusambangi, ponsel bututku berdering. “Halo, Rafi dah ketemu ayah”. Beberapa jenak aku hanya bisa diam. Huft lega, anakku kini bersama bundanya. “Sekarang dimana” tanyaku. Seteleh mendapatkan penjelasan, aku pun beranjak kesana.

Segera Rafi kuraih dari gendongan Bundanya, kupeluk dan kucium bertubi-tubi. Di tengah ciuman itu Rafi berujar “aku tadi cari ayah kok”, rupanya ia sadar jika kami telah panik dibuatnya. Maafkan ayahmu anakku. Hanya dua meter dari tempatku berdiri, bunda Rafi sedang mencak-mencak pada petugas stand yang tadi menemani Rafi bermain. Petugas itu hanya bisa menjawab “saya tidak tahu bu”, entah mengapa emosiku tidak tersulut saat itu? Lima belas tahun menetap di Yogakarta rupanya mampu meredam gejolak Bugis Makassarku yang biasanya gampang tersulut. Entah mengapa ku tak mau menyalahkan petugas itu, malah menyalahkan diri sendiri. Sekali lagi maafkan ayahmu anakku.

Setelah mengamit lengan bunda Rafi, segera kuputuskan segera meninggalkan arena pameran tersebut. Dalam perjalanan menuju parkiran, bunda Rafi bercerita jika tadi Rafi ditemukan sedang asik duduk bersama gadis cantik, petugas ruang informasi yang menggunakan kata “meroeng-roeng” tadi. Menurut cerita petugas itu, Rafi datang sendiri ke meja siaran itu menyapa sang petugas “Tante, Ayahku mana?”. Baru saja sang petugas hendak mengumumkan “berita anak ditemukan itu”, bunda Rafi datang dan mereka saling berpelukan. Pengumuman itu pun tak jadi mengudara. Bagaimana cerita hingga Rafi bisa meninggalkan bundaya dan tiba di ruang informasi, tak juga mampu kami korek dari cerita Rafi. Ia sudah lupa.

Rupanya informasi yang kuberikan pada Rafi, tentang kunci motor yang hilang tadi diterjemahkan menjadi “Jika Ayahku hilang, maka bisa ditemukan di ruang informasi”. Akh, anakku sungguh cerdas dikau. Ayahmu yang teledor, maafkan ayahmu nak.

Jumat, 03 Februari 2012

ADAT BUGIS : SI CEREWET MARAH PADA GENDANG BUGIS BERBALUT MELATI JAWA

Standard
“Kak, apa-apaan itu! Kok gendang kita dibaluti ronce melati seperti” ini penistaan tradisi kita kak! Kakak tidak boleh tinggal diam!”

Ceplas-ceplos, tanpa basa-basi. Inilah gaya si cerewet, tak peduli apakah itu di tempat ramai atau tempat sepi, pokoknya jika ada yang tidak berkenan di hatinya ia pasti akan marah sejadi-jadinya. Apalagi jika sasaran amarahnya itu adalah saya, sosok yang dianggap kakaknya, sosok yang selalu dibencinya tapi juga selalu dikangeninya. Setidaknya itu pengakuannya, saat kami bersua di parkiran Asrama Haji Yogyakarta, tempat dimana ajang Musyawarah Nasional ke-XVI Ikatan Kerukukan Mahasiswa Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (MUNAS IKAMI). Munas sendiri di helat sejak 26 hingga 30 Januari 2012. Molor satu hari dari jadwal sesungguhnya.

Si Cerewet, gadis unik yang kukenal delapan tahun lalu ini memang sangat fanatik dengan budayanya, budaya Bugis-Makassar. Maklum ia terlahir dari sosok ayah yang berdarah Makassar dan Ibu yang berdarah Bugis. Meski hanya persoalan remeh temeh tapi itu menyentil ego dan cintanya pada budaya Bugis-Makassar maka siap-siap dijadikan sasaran semprotannya. Pun kali ini, dengan amarahanya kali ini. Bertolak dari kreatifitas panitia Munas yang membalut gendang Bugis-Makassar dengan kain sutera Sulawesi dan beberapa untaian ronce bunga melati, bunga yang selama ini identik dengan adat Jawa dan Sunda. Wajar jika ia marah, ia tak terima jika simbol adatnya ditempeli simbol adat dari suku bangsa lain.

Menurut Dina Fariza Tryani Syarif, psikolog lulusan Universtitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, orang bisa marah secara tiba-tiba karena ia tidak tahu duduk persoalan dari masalah yang dihadapi. Ini pula yang dialami oleh si Cerewet, ia marah karena sesungguhnya ia tidak tahu jika bunga melati yang dalam bahasa Bugis disebut Bunga Pute’ juga sangat lekat adat Bugis-Makassar. Mungkin si cerewet tidak pernah mengamati jika kalung adat suku Makassar juga menggunakan ornamen Bunga Melati. Sementara suku Bugis menggunakan ornamen bunga Mawar, bunga rosi dalam bahasa Bugis.

Setelah mendengar penjelasan saya, mimik amarah si cerewet perlahan pudar berganti mimik bersahabat, mimik yang sebenarnya senada dengan raut wajahnya yang manis dan segar. Tapi, itu hanya sekejap. Hanya sepeminungan seteguk air, si cerewet kembali meninggi suaranya “tapi itu juga kak penarinya, kenapa sih samburan benno bere’nya diganti dengan kembang makam”. Kali ini saya tidak bisa berkutik, amarah si cerewet kali ini saya mahfumi. Namun apapun alasannya, saya tidak ingin menegur apalagi menyalahkan enam penari tari padduppa tersebut. Bagi saya, mereka mau menari saja sudah sangat berarti bagi pelestarian budaya leluhur kita, ditengah deraan dan cercaan yang dialamatkan pada mereka yang lebih akrab dengan budaya Pop Culture.

Inisiatif memakai kembang mawar, melati dan kamboja dalam samburan pada gerakan mangampopada tari tersebut boleh jadi merupakan bentuk penghargaan mereka terhadap budaya tempat mereka berpijak saat ini, juga simbol akultrasi budaya Jawa dan Bugis-Makassar. Bukankah khasanah budaya Bugis-Makassar mengajarkan kegasi sanree lopiE, kositu to taro sengereng, dimana kaki berpijak disanalah kita berakulturasi. Terlebih pemerintah kota Yogyakarta lewat mantan walikotanya Herry Zudianto telah menegaskan bahwa para perantau dan pelajar-mahasiswa asal Sulawesi Selatan juga adalah warga Yogyakarta. Warga Yogyakarta asal Sulawesi-Selatan, bukan warga Sulawesi-Selatan di Yogyakarta.

“Ai, pokokna tidak terimaka’ kak. Inisiatif sih boleh, tapi jangan lebah dari sisi estetika dan falsafah”. Keluhan si cerewet ini juga diamini oleh Ocha La Parembai Daeng Mappagiling, pelaku ritual Angngarusekaligu pemain musik dalam pementasan pembukaan acara Munas tersebut. Bagi Ocha, sekali klasik harus 100% klasik. Sekali kontenporer, ya harus totalitas juga, jangan dicampur aduk.


Huft, dua komentar dari dua adikku yang saya banggai dan cintai ini membuatku terhenyak, diam seribu bahasa. Hingga si cerewet memecah kebisuan “pokokna kak besok-besok kalo adalagi pelanggaran seperti ini, kakak yang kupalu-palui” tegasnya sambil berlalu menuju parkiran. Ups, matimija.

==================================
Kantor Imigrasi Yogyakarta, 3 Februari 2012. 09.08 WIB
Sumber : fotosulawesi.blogspot.com (foto)

Catatan :
Mangampo = Gerakan menaburkan kembang beras atau beras kuning dalam tari Paddupa
Benno Bere’ = Kembang beras, mirip kembang Jagung
Angngaru = Ritual pernyataan janji suci dan setia seorang prajurit Bugis
Matimija = Aduh mati aku