Senin, 23 April 2012

JOURNEY! KUBUTUH SELERA KAMPUNG

Standard

Seorang rekan bertanya “Din, kenapa gak beli novel 5 menara?”.
Ringkas saya menjawab "saya tidak mau lagi kecewa seperti kecewaku pada Laskar Pelangi".

Siapa yang tidak kenal novel Tetralogi Laskar Pelangi, saya termasuk salah satu penggemarnya. Tapi, itu hanya berlaku pada novel pertamanya. Hanya pada Laskar Pelangi, tidak pada Sang Pemimpi, Edensor dan Maryama Karpov.

Bagi saya, cerita dengan latar alam dan dinamika nusantara jauh lebih seksi untuk dinikmati. Jauh lebih ampuh membawaku masuk dalam dunia novel itu sendiri. Pada Laskar Pelangi, saya seolah dibawah berlari pada jejeran batuan besar dan hamparan ilalang, saya dibawah menertawai diri sendiri lewat sosok Mahar yang mengakali temannya untuk mahakaryanya, pada tarian berkalung buah enau. Itu nyata dan dapat dengan mudah saya gambarkan dalam benak baca saya. Itu sangat mengasikkan dibanding ketika saya diajak membayangkan negeri gandum Eropa atau negeri Timur Tengah dalam Novel Ayat-Ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih.

Itupula alasan kenapa saya sangat menikmati membaca roman Siti Nurbaya dan Sensara Membawa Nikmat dibanding Tenggelamnya Kapal Van Der Vick dan Di Bawah Lindungan Kabbah. Termasuk saya sangat menikmati membaca Kun Fayakun-nya Andi Bombang dibanding Madre-nya Dewi Lestari.

Boleh jadi ini persoalan selera, selera membaca novel dengan cerita kampungan yang saya miliki. Tapi, ingat! Saya adalah pembaca, saya punya kuasa menampik atau mengamit novel yang saya sukai, saya punya hak untuk dipuaskan. Kalau itu dianggap udik dan tidak mengikuti trend, itu hak proregatif saya. Egois.

Lagi latahkah penulis karya sastra (baca : Novel) kita? Maaf saya tidak pada tempat dan kedudukan yang layak untuk menjawabnya.

Saat saya membaca Journey-nya Athe’ Lathief, saya sangat menikmati ketika membaca masa kecil Ursa dengan ritual mengaji dan main bolanya hingga pada kekaguman Ursa pada “Ibnu Sina”-nya. Ketika mulai bercerita tentang Rumania, Amsterdam, Ultrech, maka sudahlah. Gairah menjadi hambar. Berbeda dengan Journey-nya Mhimi Nurhaeda dengan setting Makassarnya, ini lebih membumi bagi benak baca saya. Meski aroma negeri luar tetap ada sebagai bumbu. 

Jujur saya akui, saya juga mati rasa kala Shea banyak menggambarkan perasaannya lewat lagu-lagu “bule”. Familiar bagi penulis, tidak bagi pembaca. Andai perasaan Shea digambarkan lewat lagu “Alosi Ripolo Dua” atau “Engkalingani Daengku” milik Tenri Ukke, pasti menggairahkan. Para penikmat pete-pete di Makassar-pun pasti akan merasakan dirinya ada dalam novel ini. Beruntunglah Shea masih mau berbagi kekagumanya pada kota bukit, kota Toli-Toli. Seolah membawa saya menikmati indahnya alam Bulu Dua di perbatan Kabupaten Barru dan Soppeng, Sulawesi Selatan.

Sayang, akhir cerita cinta Shea dapat dengan mudah kutebak. Berbeda dengan akhir cerita cinta Ursa yang belum juga kutemukan, meski telah kubaca dua kali.

Selamat buat Athe’ dan Mhimi. Nongolnya Novel ini adalah sebuah Journey, perjalan yang berliku, banyak onaknya banyak juga kayu manisnya, semua itu terekam lewat pesan singkat yang juga mengalami journey dari Makassar dan Jogjakarta, pulang pergi. Terima kasih atas dua buku si Journey-nya.

Maaf atas sok tau’ku ini, semoga foto kemanakanta (dengan kualitas parah karena kameraku rusak) plus Journey diatas mampu mewakili hiba maafku.  
==============================
Batas Timur Perkotaan Yogyakarta, 5 Maret 2012
Saya yang lagi butuh NOVEL SELERA KAMPUNG

Sabtu, 21 April 2012

Kartini, Mpo Jamileh, Ge' Sukerti, Teh Titin, Indo Tang

Standard



Orang bilang, hari ini hari Kartini

Ya...
Hari ini hari Kartini
Juga Hari Mpo' Jamileh, Ge' Sukerti, Teh Titin, juga Indo Tang

Hari ini, hari dimana ada perempuan yang banyak membantuku, ada perempuan yang mendukungku, ada perempuan yang menantiku, ada perempuan yang menginspirasiku, ada perempuan yang terinspirasi padaku, ada perempuan yang membuatku jatuh cinta, ada perempuan yang jatuh cinta padaku. Ada perempuan yang mengharapku kembali ke pangkuannya, ada perempuan yang kuharapkan hadir di pangkuanku.

Hari ini ada perempuan yang mengharapku pulang kampung, ada juga perempuan yang kuharap tinggalkan kampung halamannya dan bersamaku di sini. Ada perempuan yang menatapku dari jauh, ada juga perempuan yang tak mampu kutatap meski hanya sepelemparan pandangan dari mataku.

Kamis, 19 April 2012

Untung Bisnis Sosis Sehat; Seharum Aromanya

Standard
Sosialita, identik dengan kaum royal yang hobi foya-foya. Tapi kesan itu tidak berlaku untuk dua ibu cantik ini, paras keduanya ayu, pakain berkelas, dandanan juga berkelas. Tapi siapa sangka jika tampilan ciamik itu ternyata mereka ada ibu rumah tangga yang punya usaha sampingan yang menjajikan. 
Berawal dari kesamaan nasib mereka, sebagai ibu “tukang jemput” anak pulang sekolah, disela waktu menunggu itu mereka selalu berbagi cerita tentang anak-anaknya termasuk kebiasaan anaknya yang alergi jika mengkonsumsi sosis pasaran, baik yang buatan home industri ataupun pabrikan. Putra Ibu Ade misalnya langsung muntah jika mengkomsumsi sosis, sementara anak Ibu Rima mengalami alergi pada kulitnya, keluar bintil-bintil merah yang disertai rasa gatal. Prihatin dan sedih itulah yang memicu rasa keibuan dua ibu ini, akhirnya mereka berkomitmen mencari makananan olahan sosis yang sehat. Ibu Ade, perempuan Sunda inilah yang pertama kali menemukannya, menumukan sosis yang sehat, tanpa pengawet. Tak pelak anaknya yang tadinya alergi sosisi kini menjadi keranjingan sosis.

Berita baik ini selanjutnya disampaikan ke sahabatnya, ibu Rima. Secara rutin kedua ibu ini rajin membekali anak-anak mereka dengan sosis sehat untuk dibawa ke sekolah mereka, tak jarang pula sosis tersebut dijadikan hadiah ulang tahun bagi teman-teman sekolah dan sepermainan anaknya. Semua menyambut baik, beberapa ibu lainnya juga minta dibelikan sosis-sosis tersebut, dari yang hanya coba-coba akhirnya rutin memesan ke ibu Ade ataupun ibu Rima. Jika sebelumnya kedua ibu ini hanya menyotok buat anak-anak mereka, kini mereka direpotkan dengan melayani pesanan sejawat mereka, sesama “tukang jemput anak”. Bu Ade akhirnya kadang kewalahan melayani pesanan tersebut, “Akhirnya kami memutuskan, kenapa gak buat kedai sosis sekalian” tutur pemilik nama lengkap Ade Yuliana ini. Sejak tahun 2008 kedua sosialita bersahabat ini masing-masing membeli mesin pendingin (Freezer) untuk menyimpan stock sosis yang akan dijual kembali, mobil tongkorongan mereka disulap jadi toko berjalan, dibagasi mobilnya disiapkan stereoform sebagai tempat penyimpanan sosis, mengingat sosis ini hanya tahan diruang terbuka selama 22 jam dengan masa kadaluarsa 9 bulan.

Bermodalkan mobil dan kotak stereoform tersebut, kedua ibu ini kemana-mana mempromosikan sosis sehat mereka. Tidak hanya di sekolahan anaknya, sosis ini juga ditawarkan pula di tempat senam mereka, tempat yoga, tempat pengajian, bahkan mereka tak sungkan menyambangi tempat-tempat arisan ibu-ibu lainnya. Pesananan pun terus meningkat, kotak frezer mereka tak mampu lagi menampung. Ibu Rima mengusulkan agar segera membuka outlet saja, agar bisa menampung banyak stock sosis lagi dan pembeli juga bisa datang langsung untuk memilih dan berbelanja. “Namuun, ternyata konsumen kita rata-rata memiliki kendala waktu, mereka lebih senang pesan dan minta diantarkan. Ya, demi memuaskan konsumen, kami pun melayani itu” cerita ibu Rimananda Dwi Astika, ibu dari tiga anak ini.




Mengusung pesan outlet makanan sehat tanpa MSG, tanpa bahan pengawet, tanpa pewarna, tanpa tepung dan bersertifikat Halal dari MUI, DEPKES RI serta Hazar Analysis Critical Control Point (HCCP), Outlet sosis sehat yang bertempat di Jalan Magelang KM.3 Karangwaru Lor TR II/218 Yogyakarta buka dari jam 10.00 – 19.00 WIB. Dibuka pada tahun 2010, kini outlet ini telah memiliki empat mesin freezer, pembeli yang datang ke outlet juga dapat menikmati sosis bakar dan bisa dibakar sendiri. Sebelum dibakar, sosis direndam air hangat dulu untuk menghilangkan kadar bekunya, setelah itu sosis diletakkan diatas oven atau pemanggang, tidak diperlukan lagi minyak atau mentega. Kandungan bahan baku alami sosis ini sudah mengandung minyak sayur organik dan sehat.

Saat bertandang, Inspirasi Usaha dijamu sajin sosis bakar yang dari aroma saja sudah mengundang selera. Aroma yang tercium adalah aroma ayam atau itik bakar yang sering dinikmati oleh Inspirasi Usaha saat berkemah di alam terbuka, itik atau ayam segar yang baru saja dipotong langsung dibakar tanpa bumbu apapun, dibakar hingga lemaknya menetes ke perapian dan melahirkan aroma lezat. Seperti itulah kelezatan sosis bakar jenis Beef Bockwurst yang disajikan siang itu. Nikmat tiada banding, apalagi pembungkus sosis tersebut adalah olahan dari rumput laut, bukan tepung seperti sosis lain pada umumnya. Satu bungkus sosis jenis ini dibandrol dengan harga Rp. 48.000,-, (berat 400gr, isi 7 Pcs), jika dijual satuan dalam kondisi telah dibakar maka dipatok harga Rp. 10.000,-. Sepintas untungnya sudah bisa dihitung, 1 bungkus bisa untung Rp. 22.000,-. Seperti diceritakan oleh ibu Rima, dalam berbagai event yang diikuti oleh sosis sehat setiap event bisa mendapatkan omzet rata-rata Rp. 3.000.000 per event. “Kalau mau rutin, setiap bulan setidaknya 4 event bisa saja kami dapatkan. Namun kondisi kami sebagai ibu rumah tangga tak memungkinkan untuk itu”, keluh ibu cantik lulusan Universitas Islam Indonesia ini.

Otlet makanan sehat milik bu Rima dan Ade ini juga menyediakan produk sehat lainnya seperti Bakso Sapi, Chicke Nugget, Edamane, Kaldu Ayam/Sapi Non MSG, Kani Roll, berbagai jenis sosis daging dan sayuran, French Fries, Rollade, dll. Memulai usaha ini tidak harus dengan membuka outlet, anda cukup membeli satu mesin panggang seharga Rp. 300.000,- , lalu bukalah gerai kaki lima ditempat keramaian. Modal lainnya cukup beli 10 pack sosis seharga @ Rp. 48.000. Maka anda sudah dapat keuntungan kotor Rp. 220.000/hari. Jika anda juga tertarik membuka outle sosis sehat ditempat anda, segera hubungi (0274) 519002, 081392150294, 08174111296 (Ibu Rima / Ibu Ade ).



ILUSTRASI BISNIS
Belanja Modal
Satu mesin Freezer Rp. 2.000.000,-
Belanja Stock Sosis Rp. 1.000.000,-
Mesin Panggang Rp. 300.000,-
Sewa Tempat Rp. 5.000.000,-

TOTAL BELANJA MODAL Rp. 8.300.000,-


Belanja BULANAN
Plastik Kresek (30 Pax x Rp. 12.000,-) Rp. 360.000,-
Biaya Listrik dan Telpon Rp. 500.000,-
Gaji Karyawan (2 Orang x @Rp. 500.000,-) Rp. 1.000.000,-
TOTAL BELANJA Rp. 1.860.000,-

PEMASUKan BULANAN

Jika asumsi pemasukan perhari untuk penjualan sosis bakar perhari adalah minimal 10 bungkus dengan keuntungan perbungkusnya adalah Rp. 22.000,- x 30 hari. Maka total keuntungan adalah Rp. 6.600.000,-

KEUNTUNGAN
Pemasukan – Belanja Bulanan
( Rp. 3.300.000,- - Rp. 1.860.000,-) Rp. 1.440.000,-

MASA BALIK MODAL
Belanja Modal / Keuntungan
( Rp. 8.300.000,- - Rp. 1.440.000,-) 6 Bulan

Jumat, 13 April 2012

DARI ACEH KE JOGJA, MEMBACA HARU PADA GOYANGAN GEMPA

Standard

DARI ACEH KE JOGJA,
MEMBACA HARU PADA GOYANGAN GEMPA


Menyebut Aceh, kita akan teringat tiga hal yakni GAM, TSUNAMI dan SERAMBI MEKKAH. Setidaknya dalam benak kita. Suka tidak suka, mau tidak mau atau bakan diterima atau tidak diterima, Aceh memang identik dengan 3 hal tersebut. Berbeda dengan identitas ketiga yang bernada menyenangkan juga membanggakan, dua identitas awal yakni GAM dan tsunami banyak meninggalkan kenangan buruk bahkan trauma berkempanjangan, teruma kata gempa. Setiap menyebut atau mendengar kata tsunami, maka Aceh pasti terlintas dalam benak kita.  Muncullah banyangan kengerian, ketakutan, kematian bahkan kebinasaan. Gulungan air bah berwarna hitam yang bergelombang dan tak kenal penghalang memicu ketakutan. Jejeran jenazah korban yang masih juga ditemui hingga beberapa minggu setelah kejadian kian melengkapi rasa getir bagi yang melihatnya. Bukan hanya bagi korban selamat atau para relawan tapi juga bagi para “penikmat” berita bencana tersebut lewat belasan media kala itu.

Ketika potensi tsunami itu kembali menyapa pada hari ini (11 April 2012), maka kenangan akan peristiwa 8 tahun lalu itu muncul kembali. Melahirkan kepanikan, rasa was-was, bahkan sindrom traumatik akut (bagi sebagian orang). Bagi penulis, rasa was-was itulah yang muncul tatkala mendapat kabar tentang gempa berkekuatan 8,9 SR (Geofon Gfz Postdam Jerman), 8,7 SR (USGS Amerika), 8,5 (BMKG Indonesia) yang dirasakan belasan negara sekitar laut cina selatan. Gempa terjadi pada pukul 15:38:33 WIB dengan lokasi :2.40 lintang utara , 92.99 bujur timur, kedalaman 10Km. Rasa was-was paling mendalam yang saya rasakan adalah ketakutan jika gempa ini merembet hingga ke Yogyakarta. Bukankah, gempa  Jogja (27 Mei 2006)  adalah bagian dari rentetan panjang gempa Aceh.

Kegerian yang terpapar saat gempa Jogja lalu masih terekam jelas dalam benak saya. Hari itu, Jogja baru saja memulai kesibukannya, saat jarum jam menunjuk 05.45. Hidupku terasa di atas tampah, ibarat bulir padi yang diayak ke kanan dan ke kiri. Tanah dan segala yang ada diatas seolah diayung lalu dihempaskan sekeras-kerasnya. Gempa tektonik berkekuatan 5,9 SR itu merubah wajah Yogyakarta dalam kedipan mata. Dari kota yang sibuk dengan dinamikan pendidikan, seni dan budayanya berubah menjadi kota yang sepi, suram, penuh jerit tangis, ratap iba dan orang-orang menjura minta ampun, berharap belas kasih dan Sang Khaliq. Tanah merekah dan menutup kembali, jalan raya ibarat tikar yang disentakkan, tiba-tiba bergelombang naik, lalu turun kembali membentuk cekungan dan secepat kilat naik kembali. Setelahnya hidup terasa beku,  bahkan burung tak lagi terdengar kicaunya.

Selang beberapa menit kemudian, Jogja berubah menjadi caos. Tak terkendali, semua bergerak tanpa akal sehat, hilur mudik tak tentu arah. Isu tsunami membuat mereka yang selamat hidup dari gempa berganti panik. Korban kembali bertambah, di perempatan Ngipik Bangutapan Bantul tepat didepan mata penulis dua motor melaju dari arah berbeda dan bertabrakan, dua pengendara tewas seketika, itu baru dua, belum ditempat lain, dengan penyebab dan cerita yang berbeda. Kepanikan akibat isu tsunami bertambah dengan isu meletusnya Gunung Merapi, yang memang telah status waspada beberapa hari sebelumnya. Masyarakat panik dari arah selatan karena isu tsanami berpapasan dengan masyarakat panik dari arah utara karena isu erupsi merapi. Hati siapa tak tercekam?

Belajar dari gempa Jogja dan Aceh

            Senada dengan ulasan editorial Metro TV hari ini, penulis juga melihat Indonesia (baca: kita) ternyata belum banyak belajar dari gempa-gempa yang silih berganti menyapa daratan Indonesia. Meski masyarakat kita telah tanggap dan waspada dalam menghadapi bencana tapi instrumen pendukung belumlah maksimal. Selain sirine peringatan tsunami yang belum maksimal, ternyata kita belum juga sigap dalam menyiapkan instrumen tanggap darurat. Di Yogyakarta misalnya rambu petunjuk jalur evakuasi belum sepenuhnya tersedia, runyamnya ini justru terjadi di daerah perkotaan yang padat penduduk. Kalah dengan daerah perkampungan/desa yang justru lebih siap dan jelas rambu-rambunya.


Karena sudah dianggap berlalu, pelatihan tanggap darurat dan latihan evakuasi sudah mulai jarang dilakukan, baik di Yogyakarta maupun di daerah lainnya. Terutama di gedung perkantoran, kampus, sekolah dan pusat keramaian lainnya, bahkan masih banyak diantara gedung-gedung tersebut yang tidak memasang petunjuk jalur evakuasi dan pintu/tangga darurat. Tak hanya latihan tanggap darurat yang kurang, petunjuk tertulis tehnik evakuasi dan penyelamatanpun juga jarang ditemui. Ironis! Belum lagi kotak peralatan P3K juga jarang ditemui atau tidak ditempatkan ditempat yang mudah dilihat dan gampang dijangkau.

Sepengamatan penulis di Yogyakarta, belum ditemui adanya instrumen pipa jalur selamat. Pipa yang seharusnya dipasang menjulang pada bangunan bertingkat, dimana penghuninya dapat prosotan hingga lantai bawah yang telah ditentukan sebagai tempat berkumpul (assembly point). Pipa penyelamat ini akan mengurangi potensi korban, terutama saat mereka berdasakan ingin memakai tangga darurat, bukankah tangga merupakan struktur yang paling gampang rubuh saat gempa. Selain itu masih juga belum banyak dipersiapkan meja atau jenis mebel lainnya yang kokoh sebagai tempat perlindungan sementara saat gempa datang.


Akankah kita diam? Saya menjawab tidak! Saya akan lakukan yang terbaik demi menyelamatkan orang-orang di sekeliling saya dari potensi bahaya. Minimal di rumah dan di tempat kerja saya.

Catatan :
Foto 1 :
ada-ada-aja-deh.blogspot.com
Foto 2 : mixxpdf.com

Sabtu, 07 April 2012

Usaha Foto Stuido; Alvin Photography

Standard

USAHA FOTO STUDIO
Alvin Photography


Kemajuan teknologi digital semakin pesat, gaya hidup ikut berubah. Mengabadikan gambar yang dulunya dianggap mahal kini menjadi murah meriah, semua orang dapat melakukannya bahkan dapat memilikinya. Jamak kita jumpai orang-orang disekeliling kita menenteng kamera digital atau kamera DSLR. Namun, meski makin banyak orang yang memiliki dan mampu mengambil gambar tidak serta merta mematikan bisnis dunia foto itu sendiri, baik bagi fotografer, jasa cetak foto bahkan studio foto itu sendiri. Studio foto yang dulunya identik dengan milik pengusaha besar kini tidak lagi, siapapun dapat membuka studio foto, dari modal ratusan juta hingga modal ratusan ribu, dari kelas gerai di pusat perbelanjaan hingga kelas kios kaki lima.

Sebagaimana yang dialami oleh Inspirasi Usaha di kota Yogyakarta, akhir tahun 1990-an studio foto di Jogja dapat dihitung jari, 10 tahun kemudian studio foto bertebaran dimana-mana. Salah satunnya adalah foto studio Alvin Photography (AP), memakai nama pendiri sendiri Alvin Fauzie (22) membuka usaha ini sejak tahun 2007. Meski terbilang baru, AP yang banyak menyasar segmen kawula muda sukses menjadi raja foto studio di Yogyakarta. Hal ini dibuktikan dengan lalu lintas akses AP di internet yang menempati page one di beberapa situs pencari sekelas Google dengan kata kunci “fotografer pernikahan jogja”, “fotografer prewedding jogja”. Wajar, karena untuk menggaet konsumen selain promosi mulut ke mulut, AP sangat mengandalkan promosi on line di Internet, terutama lewat situs jejering sosial.

Alvin Fauzi, pria bujang asal Palembang secara blak-blakan berbagi kisah suksesnya. Diawali dengan hoby fotografinya, Alvin menggabungukan diri dengan komunitas penggila foto di komunitas kaskus.us, dari sanalah ia banyak belajar dunia foto hingga mendapatkan seorang pemodal pada pertengahan tahun 2008. Dalam tempo 2 tahun Alvin sudah mampu balik modal, meski demikian kerjasamanya dengan sang pemodal tetap terjalin dan sistem bagi hasil (sharing deviden) tetap mereka jalankan hingga hari ini.

Dalam kamus bisnis mahasiswa Fakultas ekonomi Universitas Islam Indonesia ini dunia foto adalah perpaduan dua dunia, dunia seni dan dunia manajemen. Dunia seni berisi para pekerja seni yang penuh idealisme dan cenderung nunggu mood dalam bekerja, padahal konsumen selain butuh kualitas karya juga butuh ketepatan waktu, sementara dunia manajeman dibutuhkan untuk mengatur para pekerja seni itu dan juga melayani konsumen serta mengatur pengelolaan usaha. “Makanya, jam kerja kami juga unik, jam 11.00 s/d 19.00” terangnya saat ditemui Inspirasi Usaha di studionya yang terletak di bilangan Condong Catur, Sleman Yogyakarta. Sebuah daerah keramain di daerah utara kota Yogykarta, ramai karena merupakan poros penghubung kota Yogyakarta dan kota Sleman dan dikitari oleh belasan kampus perguruan tinggi besar Yogyakarta.

Menjawab pertanyaan seputar persaingan foto studio yang makin marak di Yogyakarta, Alvin menegaskan “semua orang boleh saja jago foto bahkan studio foto boleh saja buka dimana-mana, tetapi kami punya nilai lebih, kami memiliki sentuhan dalam setiap karya foto kami”. Sementara untuk mengantisipasi susahnya menemukan fotografer yang cocok dan paham dengan gaya sentuhan AP, Alvin mengatasinya dengan membuka kursus dan privat fotografi. Lulusan dari kursus inilah yang banyak direkrut oleh AP.

Selain foto studio untuk pengambilan gambar foto yang bersifat modeling, AP juga mengandalkan lini lain untuk memutar roda bisnisnya, diantaranya Photo Prewedding, Foto Wedding Candid, Foto Company Event, Foto Model, Foto Wisuda hingga kursus Fotografi. Photo Prewedding dan  Foto Company Event adalah usaha koor utama AP dalam menjalankan bisnisnya, satu foto prewedding dibandrol dengan harga rata-rata  7 juta sementara untuk foto dokumentasi sebuah kegiatan perusaan seperti family gathering dibandrol 20 juta rupiah, dari dua lini AP mampu memenuhi 60 % dari target omzet bulannya yakni 100 juta perbulan. Atas prestasinya dalam mengelola usaha dan capaian omzet bulanannnya ini Alvin sukses meraih Anugrah Wirausahan Mandari 2010 kategori Mahasiswa program diploma dan sarjana  Bidang usaha Kreatif Mandiri yang di selenggarakan oleh salah satu bank Nasional.

Tahun depan Alvin Fauzie merencankan membuka cabang di beberpa kota di Pulau Jawa. Studio AP yang bernuangsa putih ini dapat dihubungi di Jalan Anggajaya III Condong Catur Sleman Yogyakarta, bisa pula dikunjungi di www.alvinfauzie.com atau  alvin.photostudio@gmail.com, lewat telpon di 0274-3000089 (aktif pukul 11.00-19.00).
Investasi Awal
Kamera, Lensa dan Asesori Lainnya
   20.000.000
Piranti dan Asesoris Studio Photo (Wallpaper dll)
     10.000.000
Sewa Tempat
   15.000.000
Situs Internet
     5.000.000
2 Unit Komputer (Spesifikasi untuk Desain)
   10.000.000
Printer
     1.500.000
MODAL AWAL YANG DIBUTUHKAN
   61.500.000

BELANJA OPERASIONAL BULANAN
Pengeluaran
Transportasi
      1.500.000
Listrik, Air dan Telepon
     2.000.000
Jaringan dan Akses Internet
         800.000
Karyawan 5 Orang @ Rp. 1.00.000,-
     5.000.000
Kertas Foto dan Pigura
     2.000.000
ATK dan Administrai
500.000
Total Pengeluaran
     11.800.000

Pendapatan
8 Paket Foto Couple @ Rp. 500.000,-
     4.000.000
2 Foto Prewedding @Rp. 5.000.000,-
     1.000.000
2 Foto Model @Rp. 500.000,-
     1.000.000
2 Foto Keluarga @Rp.  500.000,-
     1.000.000
20 Penjualan Foto Stock @Rp. 200.000,-
     4.000.000
5 Sketsa diluar Paket
250.000
10 Editing Foto
250.000
Total Pendapatan
   11.500.000

Keuntungan Per Bulan
Rp. 11.500.000 - 6.850.000           = 4.650.000
















Jumat, 06 April 2012

USAHA FOTOGRAFER INDIE

Standard
usaha fotografer indie

Suryadin Laoddang


Tak sekedar hobi, tapi juga sumber penghasilan. Suburnya pundi-pundi rupiah dalam dunia fotografi tidak hanya dinikmati oleh para pemilik studio foto atau fotografer yang bekerja di studio tersebut. Lahan ini juga ternyata menguntungkan bagi para fotografer independen. Fotografer yang melakukan aktifitas pengambilan gambar secara bebas dan tidak terikat pada sebuah biro iklan atau studio foto. Fotografer seperti biasanya memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan fotografer lainnya, baik dari jenis kamera yang dipakai atau tema dari setiap fotonya. Ada fotografer yang memilih tema modeling, tema humanis, tema panorama, ada pula yang memilih foto dengan tema warna Sephia, Grayscale, bahkan Hitam Putih.

Bram, FOTOGRAFER buta warna

Bram Antareja, salah satu fotografer kawakan Yogyakarta memilih tema humanis dalam setiap fotonya, uniknya ia juga memilih tema warna hitam putih pada setiap fotonya. Maka oleh rekan sesama fotografer ia mendapat julukan fotografer buta warna. Dengan kamera Nikon D80 yang dibelinya pada tahun 2008 seharga 15.000.000,-, Bram makin menggilai hobinya ini. Mengusung tema humanis dan foto hitam putih, kini telah mampu “menjual” fotonya, beberapa diantaranya dibeli agency advertising untuk beberapa desain kalender juga beberapa media cetak.

Untuk menjual fotonya, Bram memajang karyanya di akun facebooknya yang sekaligus sebagai galeri fotonya. Selain lewat akun facebook, Bram juga “memajang” fotonya pada website stock photography. Stock photography adalah kumpulan foto yang dapat digunakan oleh biro iklan, majalah, atau pihak-pihak lain yang membutuhkan untuk digunakan sebagai ilustrasi. Foto-foto ini dijual lepas atau 'disewa' untuk digunakan dalam jangka waktu tertentu.

Selain lewat stock photography, karya-karya Bram Antareja juga berkali-kali ikut pameran foto, salah satu di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Franfkrut Jerman pada tahun 2010. Pada tahun yang sama foto lainnya juga menjadi tanyangan utama dalam malam penggalangan dana untuk rekonstruksi erupsi Gunung Merapi Yogyakarta yang diselenggarakan oleh masyarakat Indonesia di Amerika Serikat. Foto karya monumental Bram adalah foto Mbah Maridjan yang diabadikan pada tanggal 25 Oktober 2010, satu hari sebelum erupsi yang merenggut nyawa Mbah Maridjan. Itulah dokumentasi trakhir sang juru kunci merapi semasa hidupnya.

BISNIS FOTO ILUSTRASI

Saat ini, situs “jual beli” foto banyak bertebaran di dunia maya, seperti AyoFoto.com, ShutterStock.com dan lainnya. Baik di dunia nyata maupun dunia maya, foto-foto Bram rata-rata laku antara Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000,-, pernah dalam satu bulan ia menghasilkan Rp. 50.000.000,-. “Sebenarnya jika diniati buat jual foto, bisa kok mendapatkan lebih dari itu”, tutur Bram saat ditemui Inspirasi Usaha di Studio Radio Female Yogyakarta, tempat kerjanya sehari-hari. Bisnis foto lainnya yang juga berawal dari hobi adalah Bisnis Foto Ilustrasi yang dijalankan oleh sejoli mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Adam (23) dan Indri (23). Mereka menamakan usahanya dengan Valian Photography.

Foto ilustrasi, meski sama-sama mengabadikan sebuah objek namun adalah dua genre seni yang berbeda. Jika foto mengabadikan objek dengan rekaman kamera maka ilustrasi lebih mengandalkan hasil goresan tangan sang ilustrator dalam mengabadikan objek, persamaan berikut akan kembali bertemu jika kedua hasil rekaman ini diolah ulang dengan teknologi komputer. Pengolahaan atau pencitraan ulang inilah yang dijadikan lahan bisnis oleh kedua sejoli asal Yogyakarta dan Magelang ini. Prosesnya dimulai dengan pengambilan foto oleh Adam sebagai fotografer, pada saat pengambilan gambar ini Indri sebagai ilustrator juga menggali aspek-aspek khusus dari objek foto yang menarik untuk dibuatkan ilustrasi.

“Jenis foto couple (pasangan sejoli) adalah objek yang paling gampang kami olah”, tutur Indri. Awalnya kedua sejoli kami foto sesuai dengan tema yang mereka inginkan, lalu hasil foto tadi kami olah dengan komputer untuk penyematan efek-efek khusus agar foto bisa “bercertia”. Agar lebih berkesan lagi pasangan tadi kami buatkan lagi ilustrasi mirip komik yang menceritakan tentang mereka berdua. Satu paket yang berisi 5 foto dan 1 ilustrasi kami hargai minimal Rp. 750.000,-, tergantung tingkat kerumitan foto dan ilustrasinya masing-masing.

Menjawab pertanyaan Inspirasi Usaha tentang omzet usaha mereka ini, baik Adam maupun Indri masih enggan berbagi. Karakter orang Jogja yang memang selalu malu-malu dalam urusan seperti ini. Namun mereka mengakui usaha ini menjanjikan, karena belum ada yang menggelutinya. Pasar utamanya adalah para kaum ABG dan ini adalah pasar “empuk”. Mengusung tag line, Capture the Moment with Illustration Photography usaha ini memang tergolong unik dan belum ada yang menyasarnya. Model pemasarannya sangat sederhana cukup dari mulut ke mulut dan promosi lewat internet, murah meriah dan efektif. “Kuncinya sederhana, jaga kepuasan konsumen”, pungkas Adam.

Simulasi Keuangan untuk Foto Ilustrasi :
Investasi Awal
Kamera, Lensa dan Asesori Lainnya
   15.000.000
Piranti dan Asesoris Studio Photo (Wallpaper dll)
     8.000.000
Sewa Tempat
   15.000.000
Situs Internet
     5.000.000
2 Unit Komputer (Spesifikasi untuk Desain)
   10.000.000
1 Unit Scanner
         800.000
Printer
     1.500.000
Perlengkapan menggambar (Pensil dan Pen Drawing)
     2.000.000
MODAL AWAL YANG DIBUTUHKAN
   57.300.000

BELANJA OPERASIONAL BULANAN
Pengeluaran
                       
Transportasi
         500.000
Listrik, Air dan Telepon
     1.000.000
Jaringan dan Akses Internet
         600.000
Karyawan 5 Orang @ Rp. 750.000,-
     3.750.000
Kertas Foto dan Kertas Sket
     1.000.000
Total Pengeluaran
     6.850.000

Pendapatan
                       
8 Paket Foto Couple @ Rp. 500.000,-
     4.000.000
2 Foto Prewedding @Rp. 5.000.000,-
     1.000.000
2 Foto Model @Rp. 500.000,-
     1.000.000
2 Foto Keluarga @Rp.  500.000,-
     1.000.000
20 Penjualan Foto Stock @Rp. 200.000,-
     4.000.000
5 Sketsa diluar Paket
250.000
10 Editing Foto
250.000
Total Pendapatan
   11.500.000

Keuntungan Per Bulan
Rp. 11.500.000 - 6.850.000           = 4.650.000

JOGJA, KOTA MODE ETNIK

Standard

JOGJA, KOTA MODE ETNIK
Suryadin Laoddang

Jika ada gelar baru yang ingin disematkan untuk kota Yogyakarta, gelar “Kota Mode Etnik” adalah gelar yang layak dan tepat untuk berdampingan dengan gelar kota pendidikan, kota budaya dan kota wisata. Jika Bandung terkenal dengan mode casualnya, maka Jogja kini makin menampakkan ciri khasnya sebagai kota dengan mode yang berkesan etnik. Uniknya meski Yogyakarta adalah pusat budaya Jawa, kota Yogyakarta tak hanya memberi ruang pada busana etnik Jawa. Melainkan juga memberi ruang pada pada etnik lainnya untuk menampakkan identitas budayanya  melalui desain busana, baik busana etnik maupun kontemporer modern. Arah perkembangan mode ini telah “ditangkap” lalu dipertegas oleh majalah Kabare, sebuah majalah yang fokus mengangkap sisi humanis, budaya dan pariwisata Yogyakarta. Lewat rubrik Gebyar-nya, Kabare menegaskan Yogyakarta dan keragaman budaya Yogyakarta adalah inspirasi besar untuk dunia fashion. Para desainer terbaik Jogja dan Indonesia mampu memadukan desain busananya dengan latar belakang suasana alam dan heritage Jogja yang eksotik.

Salah satu desainer pendatang baru Yogyakarta yang mulai diperhitungkan saat ini adalah Muji Ananta Lewat pagelaran busana tahunan Jogja Fashion Week bertajuk IN VINTAGE di Jogja Expo Center (JEC) pada tanggal 6-11 november 2011. Ia sukses menghipnotis pecinta fashion dan masyarakat luas yang hadir dalam event tahunan lewat fashion show bertajuk Trap On The Border Line yang menceritakan tentang lika-liku kehidupan. Selain itu dalam ia juga berhasil meraih penghargaan busana terbaik. Tak pelak busana karyanya menjadi incaran para penggila fashion, desain iconnya bertajuk  Trap On The Borderline langsung laku dengan harga fantastis. Turut andil pula beberapa desainer lainnya pada pagelaran busana kali ini. Muji Ananta sendiri menyatakan keikut sertaaannya dalam pagelaran kali ini adalah upaya mencari identitas lokal Jogja dalam dunia fashion.

Sayang, Muji Ananta masih enggang berbagi cerita tentang prestasinya tersebut. Ia justru mengarahkan Inspirasi Usaha untuk menemui para partnernya. Muji Ananta juga tidak berkenan berbagi tentang kalkulasi modal dan keuntungan dari usahanya ini. “Tidak etislah kalau hal seperti itu diumbar” elaknya. Selain sebagai desainer Muji Ananta dan partnernya juga sekaligus “tukang jahit” desain mereka sendiri, bukan karena mereka enggang mencari tukang jahit, melainkan mereka masih belum menemukan tukang jahit yang klop dengan mereka. Untuk mensiasatinya, mereka memanfaatkan tukang jahit dengan sitem borongan lepas, satu orang penjahit dikontrak untuk menyelesaikan satu desain khusus.

Kedepan, Muji Ananta merencanakan untuk terus menggiring batik kontenporer/busana nuangsa etnik untuk go Internasional dengan membuka gerai/outlet di Belanda, Malaysia, Pert Australia, Afrika Selatan dan Brunai Darusalam. Sementara itu, Afif Syakur salah satu desainer handal Jogja lainnya seperti dilansir oleh Jurnal Nasional (4-11-2011) menegaskan, bahwa pasar fashion dengan desain berbasis budaya memiliki peluang besar. Dibutuhkan kreatifitas untuk menghasilkan produk desain yang laku di pasar. Perajin dan desainer di daerah harus bersinergi agar menghasilkan produk fashion yang laku di pasar, modifikasi motif batik salah satunya," tegas Afif.

Pendapat Afif dibenarkan pula oleh Ninik Darmawan, Ketua Asosiasi Perancang, Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Yogyakarta "Ada kekuatan tradisi masa lalu, budaya luhur Yogyakarta itu sumber ide kreatif. Soal selera, konsumen fashion di Yogya, jelas berbeda dengan di Bandung atau Bali. Inilah istimewa dan uniknya Jogja," seperti diungkapkan dalam acara Jogja Fashion Week, 2-6 November lalu.

Dalam pengamatan dan informasi yang diperoleh Inspirasi Usaha dari berbagai pihak, usaha ini tidak membutuhkan modal besar, cukup dengan gambar dalam kertas. Bermodal gambar desain pada selembar kertas, biasanya para perancang menawarkan desain busananya. Satu desain busana untuk Bridal (kebaya) setidaknya membutuhkan modal awal kurang lebih sebesar 1.000.000, jika dirata-rata laku seharga 6.000.000 silahkan anda hitung sendiri keuntungannya.

Maraknya bisnis fashion busana etnik di Yogyakarta tidak terlepas dari ketersediaan bahan baku dan sumber inspirasi yang melimpah. Kerapnya diadakan pameran potensi usaha daerah Indonesia di Yogyakarta memudahkan para desainer Jogja untuk mendapatkan bahan baku dari seluruh Indonesia, terutama kain etnik dari Sumatera, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara. Selain itu posisi Yogyakarta juga sangat memudahkan untuk berburu bahan kain tenun dari Garut, Klaten dan Jepara. Tiga kota tersebut dikenal sebagai penghasil kain tenun di pulau Jawa. Yogyakarta juga memudahkan kami untuk memasarkan karya mereka, terutama kota Yogyakarta yang telah menjadi kota tujuan wisata, yang mampu mendatangkan banyak pembeli kaum “fashonista”. Terlebih karena Yogyakarta kerap melaksanakan pameran dan pagelaran busana secara rutin dan tempo waktu seperti Jogja Fashion Week.

Sambil meneruskan goresan pensil diatas kertas untuk desain barunya, Muji Ananta menyatakan kunci untuk menghadapi persaingan bagi bisnis adalah inovasi dan kreatifitas. “Selain itu, menjaga kepercayaan dan kepuasan konsumen juga tak boleh dilupakan” tungkas sang asisten.

Usaha di bidang Fashion tidak hanya tidak hanya menguntungkan bara desainer dan pemilik butik. Di Yogyakarta saat ini telah menjamur berbagai butik-butik kecil dengan kelebihan dan keunggulan masing-masing. Ada yang khusus busana batik, busana berdasarkan jenis kelamin, umur bahkan ukuran tubuh. Usaha tukang jahit, tukang bordir, pasang payet, kancing serta tukang potong juga mendapat imbasnya. Belum lagi toko penyedia bahan baku bahan seperti kain, brokat baik yang tekstil pabrik maupun yang kain tenun. Saat ini fashionista di Yogyakarta lagi gandrung dengan busana etnik dengan bahan kain tenun.

===
Photo : Koleksi Muji Ananta