Senin, 21 Mei 2012

Hari ini Anda menikahinya, esok dia milik bersama

Standard


Lagi, ini kisah nyata. Kisah yang saya alami sendiri, saya alami saat menyempatkan diri menyambangi keluarga besar saya di sul-sel akhir tahun 2010 silam. Saya lupa persisnya, tema apa yang jadi topik pembicaraan saya dan keluarga besar saya saat itu, yang saya ingat waktu itu kami sedang di atas panrung (balai bamboo) di kolong rumah nenek kami sambil menikmati pisang muda rebus lengkap dengan cocolan sambel terasinya. Entah dari mana asalanya, tiba-tiba kami saling membicarakan pasangan hidup kami masing-masing. Tibalah giliran saya, spontan saya menyebut kata “beneku” (istriku). Spontan pula, seolah dikomando. Semua orang yang ada disekitarku bersahutan “alamui benemu” (ambil sana istrimu). Sebuah ungkapan yang disampaikan dengan nada nyinyir dan sengaja untuk menyindir saya. Yah, saya melakukan kesalahan besar.

Sejatinya, saya tahu persis jika mengakui istri (baca : pasangan hidup) kita dihadapan orang Bugis adalah sesuatu yang tabu. Salah-salah Anda dianggap mengingkari nilai kekerabatan keluarga besar Anda sendiri. Itu pulalah yang saya alami, gara-gara mengakui keberadaan istri sendiri dihadapan keluarga besar sendiri saya sempat diacuhkan saat itu.

Dalam khasanah masyarakat Bugis, sebuah pernikah tidak hanya diartikan sebagai peleburan dua insan berbeda jenis kelamin. Lebih dari itu pernikahan dimakna sebagai peleburan dua keluarga besar, keluarga besar sang mempelai pria dan keluarga besar sang mempelai perempuan. Setelah Anda menikah, maka Anda secara syah telah menjadi keluarga besar dari pasangan Anda.  Termasuk dalam kepemilikan hak atas pasangan Anda sendiri. Sebagai contoh, istri saya yang kebetulan keturunan Jawa telah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar saya di Sul-Sel. Ia adalah anak dari orang tua saya, kemanakan dari paman dan bibi saya, kakak bagi adik-adik saya. Kakak atau adik bagi saudara sepupu saya, cucu bagi nenek dan kakek saya.

Ketika kakek saya menanyakan keberadaan istri saya maka sang kakek dalam bahasa bugis akan berkata “tegiro fale lao eppo manittukku” (kemanakah gerangan cucu menantu saya), atau karena kami sudah punya anak maka pertanyaanya bisa pula dalam bentuk “tegiro gale lao emma’na la Rafi” (kemana gerangan bundaya Rafi). Begitupula dengan bunda Rafi saat bersua dengan salah satu kerabat kami di pasar, kerabat tersebut dalam bahasa Bugis berkata “ta suromani kasi’ matu matteka lo bolaE Ambona la Rafi matu”, (Sampaikan ke Ayahnya Rafi agar ke rumah kami nanti). Untung, bundanya Rafi ditemani adik sepupuku kala itu, jadi ada yang jadi juru bahasanya. Rafi adalah nama anak kami.
Kembali ke cerita di panrung tadi, beruntung saya punya modal bersandiwara. 

Demi mencairkan suasana saya berpura-pura bloon dan berujar “manrasaki’ idi passompe’E maderi’ kaingngau inggauki, manittunna fale tauwwe nariyasengna beneta” (Repotnya kami para perantau, karena lama merantau sampai lupa aturan, menantu orang dianggap istri). Yah, begitulah cara yang saya pakai untuk mencairkan suasana, mengaku salah, merendahkan diri tapi tegas berkata bahwa saya khilaf. Alhamdulillah, keluarga besarku menerima pengakuan dosa saya, itu setelah saya dicerca dulu dan diceramahi sekitar 30 menit. Nasib, nasib.

Jadi, jika Anda punya keinginan menikah dengan orang bugis, maka siap-siaplah berbagi. Berbagi kepemilikan dengan keluarga besarnya, begitu pula sebaliknya. Hari ini Anda menikahinya, maka esok Anda tak lagi bisa utuh memilikinya sebagai milik Anda semata, keluarganya dan keluarga Anda punya hak atas dirinya juga atas diri Anda. Jangan sekali-kali karena rindu yang menggelora lalu serta merta Anda memanggil istri Anda dengan panggilah “oh, istriku kemarilah”, petaka yang Anda dapat. Tapi, berkatalah “oh, bundanya … kemarilah” yang titik-titik Anda isi dengan nama anak Anda. Kalau belum punya anak, panggilah seperti ini “oh menantunya … kemarilah” titik-titiknya isi dengan  nama orang tua Anda.

Namun, jika sudah didalam kamar, apalagi didalam kelambu, apalagi dalam selembar sarung bolehlah Anda panggil pasangan Anda dengan panggilan sepenuhnya rasa kepemilikan. “Eeee andrikku macenningnge, idimitu kufuminasai, idi’mitu tuli kusenge’, laonimai narifasijemma minasa tallawaE” (duhai dinda yang manis lagi lagi mewangi, marilah kemari pertemukan hasrat yang terjaga sedari pagi tadi). Mau?

Senin, 14 Mei 2012

GALIGO HARI INI (SERI 99 )

Standard

GALIGO HARI INI (SERI 99 )
Untuk mereka yang lagi ribut dengan pasangannya




Paria lorongnomai (8)
Riyawa tellongengta (7)
Tapada mapai (6)


Arti Bugis Umum
Pallessuni caimu, ubali cai tokki natomassarang


Arti Indonesia 
Tumpahkanlah amarahmu padaku, kan kubalas pula dengan amarah, dengan begitu kita akan segera bercerai. 


Penjelasan


Galigo ini termasuk kategori sulit, memiliki 3 lapisan makna. Dari makna kata, arti makna lalu makna sesungguhnya. Kata kuncinya terletak pada kata Paria dan Tellongeng, paria adalah tanaman sayur yang memiliki rasa pahit. Dalam galigo ini kata pai (pahit) mewakili makna amarah, benci bahkan hujat. Jadi baris pertama ini seolah ingin berkata “hujatlah aku dengan kata-kata yang sepahit mungkin, dengan kata kebencian”.


Kata kunci kedua adalah Tellongengta. Kata tellongeng dalam bahasa Bugis memiliki tiga arti, yakni jendela, mata dan hati. Memperhatikan kata didepannya, riyawa yang bermakna "dasar/di bawah"  maka kata ini tepat pada makna hati. Menyambung makna bari pertama maka kalimat pada baris kedua ini seolah ingin berkata “hinalah aku hingga perih lubuk hatiku”.


Membaca baris ketiga, maka makna utuh dari dua baris diatas makin jelas. Kata Tapada yang bermakna "saling", mengantarkan pada makna bahwa orang kedua akan ikut marah pula pada orang pertama hingga orang pertama merasakan perih pada lubuk hatinya. 


Galigo ini adalah galigo yang paling dihindari dan ditakuti oleh sepasang suami istri (keluarga), jika salah satu pihak mengumbar galigo ini dan pihak lainnya tak bisa menahan diri, maka percerian adalah penyelesaian paling pungkas. Maka, lazimnya galigo ini selalu dijadikan bahan dalam nasehat perkawinan dalam masyarakat Bugis. Disampaikan oleh tetua keluarga pada saat prosesi mappacci, sederhananya nasehat itu berbunyi “lesangengngi alemi, aja’ mupebaliwi nareko ripallesuriko Paria lorongnomai, Riyawa tellongengta, Tapada mapai” (Jika pasanganmu mengumbarkan Galigo ini dihadapanmu, baik engkau pergi menenangkan diri dan jangan menyahutinya, fatal akibatnya).


Amarah dibalas amarah, jadinya angkara murka. Itulah pesan utama dari Galigo ini

Jumat, 11 Mei 2012

POS BUDAYA

Standard

Saya lupa kapan persisnya, kapan wacana pos budaya ini diperkenalkan padaku. Adalah Fadlie, seorang adik (tataran umur) yang berceloteh tentang itu dari ujung sinyal pengirim dari sebuah telepon gengam di Jakarta. Saya menerimanya tanpa konsentrasi di ujung sinyal penerima tepat di bawah jembatan Janti Yogyakarta, tepat saat saya tertahan laju kereta api yang melintas. Tak begitu banyak yang bisa saya tangkap dari pembicaraan tersebut. Selang berapa hari kemudian dua orang adik lainnya (Rani dan Wardah) juga mencoba menjadi penyambung lidah, memaparkan wacana Fadli. Sungguh kebetulan mereka juga akrab dan berkawan diskusi.

Rupanya tiga orang ini belum juga mampu membuatku paham dan tergugah. Bukan karena mereka tak mampu mengurainya, sayalah yang tak mampu mencernanya. Maklum otakku masih lulusan SMA, tak mampu mengimbangi wacana dan alur pikir adik-adikku yang sudah berotak S2 bahkan telah purna. Selang berapa bulan kemudia, wacana pos budaya kembali merelung dalam benakku. Kali ini yang memperkenalkannya adalah Cheng Parudjung. Seorang pegiat budaya Sulawesi Selatan di kota Ngalam, Malang. Sabtu, 28  April 2012 saya beruntung dipersandingkan dengannya sebagai narasumber dalam sesi dialog budaya Sul-Sel dalam acara Budayata’ yang dihelat oleh IKAMI Cab. Malang.

Jika saya asik berbicara ikhwal petuah-petuah leluhur Bugis terhadap para perantau. Adinda Ucheng lebih fasih bicara teori-teori pendekatan budaya yang diharapkan mampu meredam gejolak anarkisme, barbar dan fatalis ratusan oknum Mahasiswa dan Pemuda di Kota Makassar dan sekitarnya. Lagi-lagi, otak bebal dan tumpul saya tak mampu menangkap inti dari konsep pos budaya itu, padahal Ucheng sudah mengurai menjadi rangkaian lema yang berlembar-lembar dan sarat kajian ilmiah akademis. Saya harus belajar, belajar pada Ucheng, Fadli, Rani juga Wardah serta pada karib kerabat, handai taulan lainnya!

Saat dialog itu memasuki sesi dialog dengan warga Malang asal Sul-Sel, wacara dan langkah strategis pos budaya itu baru saya tangkap, dari pertanyaan dan penyataan yang ada saya akhirnya menemukan larik merahnya. Gamblang, terang, mudah saya cerna dan realistis untuk diwacanakan, dirumuskan bahkan saya yakin mudah untuk diwujudkan.

Diakhir sesi dialog, pada saat pernyataan penutup saya mengamini makalah dan pemaparan Ucheng. “Pos budaya sangat kita butuhkan dan memang ini bisa jadi satu solusi untuk meminimalisir efek anarkisme di Makassar”, tegasku saat itu.

Pertanyaannya, apakah pos budaya itu akan dibangun di Makassar? Siapa yang akan mendirikan dan mengelolanya?

POS Budaya Bukan untuk Makassar

Hemat saya, meski yang disasar adalah para saribattang or sempugi kita di Makassar tapi konsep pos budaya ini tidak tepat ada di Makassar. Banyak kepentingan dan infiltrasi yang berpotensi meluruhkan semangat dan nilainya. Bukankah benturan yang terjadi selama ini dikarena benturan kepentingan dan infiltrasi itu sendiri. Kepentingan yang saya maksud adalah tendesi suku, etnis, silsilah dan kelompok, asal daerah. Kelima hal inilah yang dengan mudah disulut untuk menjadi bara permusuhan di hamparan tanah Sul-Sel. (Saya jamin ini tidak akan terjadi di hamparan laut). 

Sementara infiltrasi yang saya maksud adalah dorongan kepentingan berbagai elemen baik itu politik, ekonomi, tirani mayoritas dan minoritas, tirani senioritas dan junior, bahkan media. Saya lebih memilih kata infiltrasi bukan tekanan. Infiltrasi lebih dekat pada makna terlibat aktif dalam memberi dorongan bahkan ikut terdorong, sementara tekanan bisa dilakukan dengan pasif atau memakai perpanjangan tangan.

Solusi yang layak ditawarkan dalam wacana pos budaya ini adalah, bangunlah pos-pos budaya itu di Malang, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Bandung, Bogor, Bali, Purwokerto, kota-kota yang menjadi magnet kawula terpelajar asal Sul-Sel untuk melanjutkan pendidikannya. Dengan label terpelajar dan jauh dari arena utama, maka mereka relatif lebih steril dari berbagai kepentingan dan bentuk infiltrasi apapun. Mereka lebih mudah dibuka wacana realistisnya, setidaknya mereka memahami bahwa Sultan Hasanuddin bukan penindas, Arung Palakka bukan pemberontak, Wajo bukan pengkhianat.

Yang diperlukan selanjutnya adalah sosok pegiat dan pemerhati budaya yang bijak, arif dan bestari. Ia bertugas memberikan mengenalkan budaya Sul-Sel itu pada anak-anak Sul-Sel sendiri, mengajarkan nilainya (bukan ritualnya), mengkaji kandungan norma dan kaidah didalamnya lalu menyajikan dan membaginya kepada mereka. Harapannya kelak, setelah mereka “diracuni” di pos budaya Malang, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Bandung, Bogor, Bali dan Purwokerto, ketika mereka pulang kampong mereka akan menularkan “virus” itu. Minimal pada anak istri atau keluarga dekat masing-masing.

15 tahun yang akan datang, yakinlah budaya anarkis ini akan hilang di Butta Sulawesi? Yakin? Yah saya yakin, makanya saya mau berbuat. Bagaimana dengan Anda?

AJAL

Standard

Ini persoalan rahasia. Rahasia yang tidak akan terungkap hingga kapanpun, teori konspirasi dan investigasi model apapun takkan mampu membongkar larik-larik dan pintu-pintu rahasianya. Yah, ini adalah persoalan rahasia Tuhan, sang Maha Berkehendak. Rahasia tak pernah bocor ke ummatnya bahkan kepada pembantu terpercayanya, para malaikatnya, juga para manusia-manusia pilihannya sekelas Nabi dan Rasul.

Ajal, jodoh dan rezeki adalah tiga serangkai rahasia Tuhan yang sudah digariskan pada manusia sejak roh ditiupkan pada tubuh kasar manusia, pada bilangan hari ke 120 dalam alam rahim ibunya (ini tidak berlaku bagi manusia di muka bumi ini, Adam).

Tentang ajal, penghujung bulan April lalu saya menyaksikan kebenaran janji Tuhan itu, ajal bisa datang di mana saja dan kapan saja. Tiga kisah berikut, semoga mampu menegaskan janji tersebut.

***

Cerita Pertama

Kamis pagi, 26 April 2012, pukul 04.45 WIB. Saya masih di teras rumah kontrakan kami, sedang meransang kinerja otak dengan membaca Koran pagi. Tiba-tiba, tanpa kusadari seorang ibu menghampiriku, “Ayo mas, gek mlaku-mlaku” mengajak segera lari pagi dengan bahasa akses Jawa Ngapaknya yang kental.

Selang 5 menit saya menyusulnya. Bertelanjang kaki, kami berlari ringan di jalan beraspal dengan hamparan sawah yang mengapit. Segar, hijau dan sejuk yang kami rasakan. “Wuh seger ya mas bisa menikmati udara pagi kayak gini” ibu paruh baya itu membuka percakapan.

“Iya bu, ini susah kita dapatkan di kota Jogja saat ini” balasku
“Makanya mas, mumpung njenengan masih muda, nikmatilah. Jaga kesehatan, itu penting” nasehat ibu itu padaku.
“Ngih bu”, balasku singkat.

Berikutnya tak ada lagi pembicaraan antara kami, nafas yang sudah terengah-engah adalah sinya agar kami menyimpan energy. Hingga, 30 menit kemudian kami terpisah, ibu itu sudah menuju tempat mangkal pedagang sayur keliling langgannya. Saya memilih melanjutkan lari pagi itu seraya mematikan lampu-lampu penerang jalan kampung di sekitar rumah. 20 menit kemudian, lari pagi itu kuakhiri, saatnya bersiap-siap untuk aktivitas rutinku, kantor.

Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB kala itu, tiba-tiba jantungku berdecak kencang, perasaanku tidak enak. “Pasti ada yang terjadi dengan orang-orang disekitarku” itu yang terbesit dalam benakku kala itu. Segera saja orang-orang yang kucintai dan atau mencintai saya, saya cek satu persatu. Keluarga di Sulawesi, Kalimantan, Jakarta, Bandung, Probolinggo, Jepara dan Jogja sendiri saya cek satu persatu. Semua jalur kupakai, sms, internet (facebook, ym), telepon dan telepati terkoneksi semua. Tak kutemui kejanggalan disana.

Sejam kemudian, dapat kabar dari Ibu anakku di rumah. “Ayah, tetangga depan rumah ada yang meninggal”, kabar istriku. Tek! Ini dia pikirku. Ternyata yang meninggal itu adalah ibu yang menemaniku lari pagi tadi.

Inna Lillalahi Wa Inna Illahi Rajiunnn.

Cerita Kedua

Jumat , 27 April 2012, pukul 15.15 WIB. Sepulang dari melayat ibu tentangga kami tadi. Bunda Rafi kembali mengabari “Ayah, mas Muji meninggal di Boyolali”. Saat itu, saya diam seribu bahasa.

Saya memang tidak terlalu dekat dengan sosok ini. Muji Anantha, seorang desainer muda dan terkenal, karya-karyanya telah menembuh pasar mode Hongkong, Spanyol dan Jerman. Ini luar biasa bagi saya. Maka pada sebuah kesempatan, saya sedikit memaksa beliau untuk diliput untuk sebuah karya jurnalis di Majalah Inspirasi Usaha, tempat saya belajar menulis berita saat ini. Awalnya, dengan rendah hati ia menolak untuk diliput, “saya bukan siapa-siapa mas, tidak layak diliput seperti itu”, kilahnya kala itu.

Saya tak mau menyerah, berbagai upaya saya pakai agar ia mau untuk itu. Berhasil, sayang liputanku tentang Muji Ananta ini tidak lolos tayang kala itu. Kala sakitnya pun, ia masih juga menanyakannya “Mas, liputan saya sudah dimuat?” Sungguh tak bisa kumenjawabnya.

Menghantarkannya ke peristirahatan terakhirnyapun saya tak sempat. Malam itu juga saya harus berangkat ke Malang, menghadiri perhelatan budaya disana. Agenda yang sudah direncanakan sebulan sebalumnya dan tak bisa lagi diundur. Maka, yang mewakili melayat saat itu adalah jagoanku (Rafi), bundanya dan tantenya. Bertiga mereka berangkat ke Boyolali keesokan paginya, hari Sabtu.

Inna Lillalahi Wa Inna Illahi Rajiunnn.

Cerita Ketiga

Di dalam kereta Malabar yang mengantarkanku dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Malang. Sabtu (28 April 2012) pagi, kisaran 05.40 WIB.

“Daeng, kakak sudah dipanggil tadi setelah shalat Shubuh. Dalam doanya, kakak masih menyebut nama daeng” dua larik kalimat itu tayang di layar telepon gengamku.

Berita ini kudapatkan dari seorang adik, adik dari seorang perempuan luar biasa yang banyak mewarnai hari-hariku bebera tahun silam. Ia dipaksa menikah oleh orang tuanya, dijodohkan tepatnya. Itu berarti kami harus terpisah.
Delapan tahun rentang waktu pernikahannya, ternyata tak membawa bahagia untuknya. Ia terus saja mengutuk dirinya, merasa bersalah padaku, menyesali keputusannya. Hingga ia jatuh sakit menahun. Enam rumah sakit telah berupaya mengobatinya, tapi tak jua berujung manis. Rumah sakit ketujuh yang ia pilih adalah sebuah rumah sakit besar di Yogyakarta.

Keberadaan dua orang adiknya di kota ini jadi pertimbangan sendiri, dua orang adiknya ini pulalah yang silih berganti menyapa bahkan menyambangiku. Datang dengan ajakan kadang setengah memaksaku untuk datang menjenguk kakaknya.

Entah kenapa, tak jua aku tergerak untuk melakukan itu. Bahkan ketika secarik kertas bertuliskan pesan permintaan dari sang kakak itu disodorkan padaku, aku masih saja tak bergeming. Bahkan secarik kertas itu kubuang di Selokan Mataram Yogyakarta. Kejam!

Kini aku menyesal.

Kala itu saya selalu membela diri, “maaf, saya tak mau sakiti rasa orang lain”. Yah rasa istriku, rasa suaminya, juga rasa orang tuanya (musuhku dulu).

Selamat jalan Yeni, selamat jalan sahabat, selamat jalan … ???

Maaf atas tak sanggupku.

Semoga, kusanggup bayar salahku. Kelak.

Inna Lillalahi Wa Inna Illahi Rajiunnn.

Selasa, 08 Mei 2012

Pinisi dan Cintanya

Standard



Aku Pinisi Palari
Bukan Pinisi Lambo

Akulah Pinisi Palari
Melenggang perkasa mengelus buih

Akulah Pinisi Palari
Menderu gemuruh menantang ombak

Akulah Pinisi Palari
Meluncur lugas berkecipak air asin

Akulah Pinisi Palari
Berjingkat pada tepi waktu

Akulah Pinisi Palari
Menembus batas relung

Akulah Pinisi Palari
Menjelujur laut pada bumimu

Akulah Pinisi Palari
Landai melepas sauh, julang melempar  tanpasere

Akulah Pinisi Palari
Lebar bentang  Sombalaku, berderik kerik Gulikku

Akulah Pinisi Palari
15 tahun menatap senja di Vanchoufer

Hingga
Terkesiap mati rasa
Lumbar pada rasa yang kering
Lewat tarian lepa-lepa tiga dayung

Pa’ganreng  taa mabbuaja bulu
Pawwarang  mpare pattompang aje tedong
Pattangkung majjakka galung

Lepa-lepa
Singkat engkau berbagi roman
Antara cinta ,ombak dan siri’

Lepa-lepa
AKU MENCINTAIMU

===
Foto : 
naval-info.blogspot.com