Rabu, 27 Juni 2012

Mengimbangi Sang Professor

Standard
Awalnya saya jengkel. Persiapan acara tidak seperti rencana sebelumnya.

Sabtu, 23 Juni 2012, pukul 19.30 WIB. Sudah lewat setengah jam dari jadwal seharusnya, andai semua tepat waktu seharusnya acara “Tudang Sipulung/Diskusi Budaya” ini sudah berlansung dari tadi. Terlebih semenit lalu, sang pembicara sudah berada di lokasi acara. Dialah Prof. Nurhayati Rahman, seorang filolog juga budayawan asal Sulawesi Selatan, yang saat ini mengabdikan ilmunya di Akademi Pengajian Melayu di University Malaya Kualalumpur Malaysia. Sebagai orang yang turut mengundangnya sebagai pembicara, saya merasa dipermalukan saat ruangan seluas 135 meter persegi itu hanya terisi 5 orang peserta diskusi, itupun adalah para tuan rumah, pelaksana acara dan sala satu putrinya, Mutia Nurul Fariza.

30 menit kemudian tanda-tanda acara akan dimulai tampak, lega rasanya. Sebelum mengambil posisi tempat duduk yang pas, saya bertanya kepada panitia siapa moderator diskusi ini. Bukan jawaban yang saya dapatkan tapi tatapan gamang dari mereka yang disebut namanya saat itu, ada yang tidak siap, adapula yang belum datang. Inilah muasal rasa jengkel saya yang lainnya. Daripada mengulur waktu akhirnya saya pilih untuk mengambil alih tugas tersebut, memandu acara diskusi. Sebuah diskusi budaya yang secara rutin diselenggarakan oleh Forum Kajian Budaya Sulawesi Selatan-Sulawesi Barat yang kali ini bekerja sama dengan Keluarga Pelajar Mahasiswa Wajo Yogyakarta dan Lontara Project. Meski para peserta telat datang, tapi jumlah peserta malam itu memecahkan rekor peserta pada edisi-edisi diskusi sebelumya, jika sebelumnya hanya 20-40 peserta maka pada edisi ke-6 ini peserta mencapai 72 orang peserta.

Karena tanpa persiapan, maka diawal memandu diskusi saya terbata-bata, semua perbedaharaan kata saya tiba-tiba hilang, penggalan-penggalan kalimat puitis dan maknawi saya tiba-tiba raib. Tak mau terlihat dan berbuat lebih konyol lagi, kesempat segera saya sodorkan ke Prof. Nurhayati Rahman untuk memberi pengantar diskusi yang bertema “Konsep Manusia dalam Naskah La Galigo” itu. Sayapun akhirnya beringsut, duduk mendekati Bunda, sapaan akrab kami untuk pembicara. Seorang dengan segudang prestasi akademik dan praktis yang selalu tampil bersahaja. Lebih memilih menginap di kamar Asrama Mahasiswa dibandingkan di kamar hotel. Seseorang yang bersahaja rela makan nasi dan lotek bungkus bersama kami, para anak-anaknya.

Duduk mendampingi seorang Bunda seperti malam itu adalah tantangan sendiri bagi saya, terlebih Bunda sangat bersemangat dalam membagi rerimbunan data, fakta, wacana dan gagasannya malam itu. Saya yang lebih muda tentu tak ingin kalah. Jika sebelumnya saya jengkel menjadi moderator dadakan maka perlahan saya menikmatinya, tentu setelah saya menyimak semua detail fakta yang disampaikan oleh salah satu Putri dari pembesar Pondok Pesanteren DDI Mangkoso ini.

Pada setiap jeda istirahat, setiap membuka sesi tanya jawab. Saya selipi dengan berbagai spontanitas yang mendukung paparan Bunda sebelumnya. Seperti pada sesi tanya jawab pertama, saya mencoba membacakan beberapa bait La Galigo (Massureq), karena sebelumnya Bunda sempat menyitir teks tersebut saat menceritakan tentang betapa humanisnya sosok To Palanroe (Dewata Bugis) dalam naskah tersebut. Pada sesi kedua, setelah Bunda mengurut nama-nama besar para sastrawan asal Sul-Sel maka saya berimprovisasi membacakan karya Ram Prapanca “Sukmaku di Tanah Makassar”, lalu disesi berikutnya saya tampilkan kehadapan peserta sebuah naskah tua karya B.F Matthes berupa Injil bertuliskan aksara dan berbahasa Bugis. Terakhir pada sesi penutup diskusi saya bacakan sebuah puisi dari Bunda sendiri, seperti berikut ini :

Oh malam, berikanlah aku
kesunyianmu yang sejuk
bukan kepekatanmu yang mengerikan

Oh siang, berikanlah aku
cahayamu yang menyilaukan
bukan panasmu yang menyobek kulitku

Dengan kesunyianmu
aku bisa menyorot seluruh nafas asamu
dengan cahayamu
aku dapat menemukan seluruh denyut sajakmu

Semoga upaya saya mengimbangi sang Professor dengan apa yang saya lakukan malam itu, tidaklah bernilai lancang. Makkarodda atau tennia tudangengna dalam bahasa Bugis. Tabe!

Buat panitia, terima kasih atas “paksaannya”, memaksaku jadi moderator. Terima kasih juga atas bette lame (ubi goreng) dan sarabba-nya.

Senin, 11 Juni 2012

FALSAFAH RANTAU ORANG BUGIS

Standard

Bahwa orang bugis adalah perantau, mungkin semua orang sudah tahu. Namun, jika pertanyaanya adalah “apakah yang membuat orang Bugis doyan merantau?” dan “kenapa orang bugis banyak sukses di tanah rantau?” penulis yakin tidak semua orang akan mampu mengurainya.

Sedikit berkelakar, Jusuf Kalla salah satu Begawan Saudagar Bugis pada suatu kesempatan mengatakan etos kerja orang Bugis sangat tinggi karena orang Bugis sangat kompleks kebutuhan hidupnya. Terutama saat ia sudah dewasa, mulailah berpikir untuk menikah, ingat pernikahan di Bugis tidak murah. Setelah menikah berpikir lagi untuk memiliki rumah dan kendaraan. Menikah, punya rumah dan kendaraan tercapai, mereka ingin naik Haji. Naik Haji adalah simbol religius dan simbol strata sosial ekonomi bagi orang Bugis. Setelah semua itu tercapai, maka orang Bugis kembali lagi ke kebutuhan dasar tadi. Ingin menikah lagi, mulai lagi punya rumah baru, kendaraan baru, naik Haji lagi dan seterusnya. Kebutuhan yang tinggi inilah yang membuat orang Bugis memiliki etos kerja keras. (http://umum.kompasiana.com/2009/06/09/etos-kerja-orang-bugis/)

Tak hanya sukses di tanah rantau, orang Bugis di rantau juga mampu beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka berkediaman. Di beberapa daerah kehadirannya banyak mewarnai dinamika dan eksistensi masyarakat setempat. Di tanah Jawa mereka mampu hadir ditengah riuh rendah pergolakan di jaman kerajaan Mataram Islam, sehingga muncullah kampung Bugisan dan Daengan. Di tanah para Dewa, mereka berbaur dengan masyarakat dan budaya Bali hingga muncullah kampung Serangan. Di daratan Sumatera, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, Papua bahkan hingga di luar negeri keberadaan mereka juga tercatat dalam sejarah dan benak masyarakat pribumi. Entah itu catatan bertinta emas dan atau bertinta kelabu. Secara sepihak penulis berani menekankan bahwa catatan kelabunya tidaklah sebanyak catatan emasnya. Kemampun mereka beradaptasi dengan masyarakat dan budaya setempat adalah kuncinya.

Khasanah budaya Bugis sendiri banyak mengajarkan falsafah-falsafah hidup sebagai kearifan lokal yang menjadi bekal bagi para perantau. Beberapa falsafah tersebut diantaranya :
Palettui alemu riolo tejjokamu

Falsafah ini mengajarkan kepada calon perantau agar tidak “merantau buta”, merantau tanpa arah dan tujuan yang jelas. Perantu Bugis sejati tidak merantau dengan mengikuti arah kaki kemana hendak melangkah, tidak boleh berprinsip tegi monro tallettung ajeku, konatu leppang (dimana kakiku terantuk, disanalah saya berhenti). Prinsip ini bermakna dan bersugesti negatif. Merantau harus disertai dengan kepastian akan tempat yang dituju, apa yang akan dikerjakan di sana, bahkan calon perantau harus meyakinkah ruh dan jiwanya sudah ada dan menyatu dengan negeri rantau yang akan dituju.

Seorang perantau dari Sengkang misalnya ketika ingin merantau ke Semarang, maka ia akan mencari informasi seperti apa kota Semarang itu? Setidaknya seperti apa keramaian di sana dibandingkan dengan kota Sengkang sendiri. Ketika ia mendapatkan informasi bahwa kota Semarang empat kali lebih ramai dibanding kota Sengkang maka ia harus mampu membayangkan seperti apa kota Sengkang jika keramaiannya berlipat empat kali. Bagaimana jika calon perantau berasal dari pedalaman Wajo? yang belum pernah melihat kota Sengkang. Solusinya, pertama ia harus mencari informasi seperti apa keramaian kota Sengkang, lalu membandingkan dengan keramaian di kampungnya. Misalanya tingkat keramaian di kampungnya adalah 3 kali lipat dibanding Sengkang maka itu berarti tingkat keramaian kota Semarang adalah 12 kali lipat dibanding kampungnya.

Akkulu peppeko mulao, abbulu rompengku mulesu

Hukum ekonomi yang meminimalkan modal dan memaksimalkan keuntungan adalah inti yang diajarkan dalam falasafah ini. Seorang perantau, harus berangkat dengan bekal sedikit dan kelak jika pulang harus membawa hasil sebanyak-banyaknya.

Diluar ranah ekonomi, falsafah ini juga bermakna “lihatlah ketika engkau berangkat merantau engkau bukan siapa-siapa, maka saat engkau kembali nanti maka engkau harus menjadi orang terpandang”. Pemaknaan ini cocok untuk mereka yang merantau dengan tujuan menimba ilmu atau mengejar jenjang karir, ataupun mereka yang merantau karena mengejar cintanya.

Engkakotu manguju melle, aja’ mutabbangkakengngi pada pasana Peneki, teggenne balu namele soro.

Niat yang teguh, tekad yang bulat, semangat yang membara harus terus terjaga, tak boleh luntur dalam perjalan ke negeri rantau bahkan saat berada di negeri rantau itu sendiri. Seorang perantau harus berpegang pada niat, tekad dan semangatnya itu. Jika tidak, dikhawatirkan ia akan mundur atau surut jauh sebelum ia mencapai apa yang diimpikannya, mundur sebelum tiba di negeri rantau, mundur saat perjalannya bahkan sebelum sampai sepenggalan jalan.

Itu adalah ajaran inti dari falsafah ini yang secara harfiah bisa dialihbahasakan menjadi “adalah dirimu menuju hajat besar, janganlah jumawa karena bisa saja engkau seperti pasar di Kampung Peneki, pasar dengan penjual dan barang jualannya sangat sedikit sehingga tak sampai tengah hari pasarnya sudah bubar”

Pura babbara sompeku, pura tangkisi gulikku, ulebbireng tellengnge natowalia

Falsafah ini menegaskan bahwa seseorang yang telah memilih merantau sebagai jalan hidup, harus kukuh, kokoh dan kekeh dengan pilihannya. Tidak boleh ada kata mundur apalagi batal tak jadi merantau, apapun resikonya. Ibarat seorang pelaut yang telah memasang kemudinya (Pura tagkisi gulikku), sudah kukembangkan layarku (pura babbara sompeku’), lebih baik saya tenggelam dan tercungkup perahuku daripada harus surut (ulebbirengngi tellengnge natowalia).

Mundur, mengabaikan, mengingkari sebuah ikrar, janji, sumpah apalagi telah diumumkan atau diketahui oleh orang banyak adalah aib (siri’) bagi orang Bugis. Harga diri menjadi jatuh tak berharga, seumur hidup akan dicemooh, dihina dinakan dan dihujat dengan kata paccocoreng manu’ mate(nyalimu ternyata hanya serupa kedutan pada dubur ayam yang telah disembelih)

Kegasi sanree lopiE kotisu to taro sengereng
Menggariskan sebuah perintah para perantau Bugis atas tidak jumawa, merasa dirinya hebat dan bertindak sesuka hati dan sekehendak perut di negeri rantau. Perantau Bugis harus mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia harus mau menerima dan toleransi dengan adat dan budaya setempat, setelah ia mampu menyakinkan masyarakat setempat untuk menerimanya sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri.

Ibarat pepatah Melayu, dimana bumi di pijak disana langit dijunjung. Maka falsafah Bugis ini bermakna, dimanapun perahuku kutambatkan, di sanalah saya menanam budi baik.

Falsafah-falsafah diatas adalah contoh kecil dari beragamanya kearifan lokal Bugis yang terkait dengan ikhwal rantau dan perantauan. Masih banyak bentuk kearfikan lokal lainnya yang sekiranya tak cukup ruang untuk diulas pada tulisan ini. Selain falsafah diatas, masih ada satu falsafah yang jamak ditemui hingga hari. Berbunyi “angcaji funggawa laloku, muni funggawa farampokmo” (jadilah engkau pemimpin, meski sekedar pimpinan perampok). Mau coba?

Referensi

  • Kesuma, Andi Ima., Migrasi dan Orang Bugis, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2004
  • Hamid, Abu., Passompe Pengembaraan Orang Bugis, Pustaka Refleksi, Makassar, 2005
  • Ph.D.L. Tobing., Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amana Gappa, Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Makassar, 1961.

Galigo Hari Ini (Seri 100)

Standard
 

GALIGO HARI INI (SERI 100 )
Tafisr oleh Suryadin Laoddang

Dega fasa rikampongmu (8)
Balanca ri lippumu (7)
Mulangco mabela (6)

Arti Bugis Umum
Balala memengga ana dara ri kampongmu? Iyarega de’memengga nala atimmu mulancomai?

Arti Indonesia
Sungguh sedikitkah dara di kampungmu atau memang tak ada dara yang menarik di negerimu? Hingga kau datang kemari?

Penjelasan
Galigo ini banyak dipergunakan dalam proses lamar-melamar dalam khasanah masyarakat Bugis, terutama saat seorang jejaka datang meminang dara di kampung lain. Maka keluarga pihak perempuan akan menanyakannya lewat galigo ini.

Kata kunci pada galigo ini terdapat pada baris pertama dan kedua. Yakni pada kata “fasaa” yang berarti pasar, tempat berkumpulnya orang banyak, tempat dimana seorang jejaka dapat dengan mudah melihat beberapa dara yang berbelanja seraya menjajakan kain sarung hasil tenunannya. Kalimat pada baris ini seolah berkata “sudah tidak ramai lagikah pasar di kampung didatangi para penenun kain sarung?”.

Kata kunci kedua adalah “balanca” yang berarti belanjaan. Barang belanjaan adalah sesuatu yang dibeli oleh seseorang setelah melalui proses pemilihan. Pemilihan dengan diawali proses seleksi, penyesuaian dengan selera, kebutuhan dan anggaran belanja yang tersedia. Maka baris ini seolah berkata “tidak adakah dara yang masuk kriteriamu di daerahmu”.

Sementara baris ketiga sebagai penutup hanyalah pengikut untuk menegaskan makna pada dua baris selanjutnya, secara konteks baris ketiga ini berkata “hingga kau jauh-jauh datang kemari melamar anak kami”.

Galigo biasanya akan dibalas dengan galigo pula oleh pihak (keluarga) sang jejaka, seperti apa balasannya? Tunggu edisi selanjutnya!

Alih Bahasa Bugis (Lagu Klasik)

Standard
 
JUDUL LAGU : ININNAWA SABBARA 
PENCIPTA : NN 

Pada sebuah notes salah satu teman di Facebook lagu klasik ini saya coba terjemahkan. Sudah lama memang, namun saya selalu terkenang dan sangat berkesan. Maka perkenankanlah saya membaginya kembali untuk Anda.

Ininnawa Sabbarae,
Ininnawa Sabbarae
Lolongeng Gare Deceng,
Alla Tosabbara’ ede
Alla Tosabbara’ ede

Duhai hati yang diliputi kesabaran
Duhai hati yang diliputi kesabaran
Kelak kan mendapat berkah
Untuk mereka yang bersabar
Mereka yang bersabar

Pitutaunna’ Sabbara
Pitutaunna’ Sabbara
Tengnginakkullolongen
Alla Riasengnge Deceng
Alla Riasengnge Deceng

Tujuh tahun kubersabar
Tujuh tahun kubersabar
Tak kunjung jua kudapati
Oh… apa yang disebut kemulian
Oh… apa yang disebut kemulian

Sabbara’ko Musukkuru
Sabbara’ko Musukkuru
Mugalung tokalolang
Alla Muallongi Longi
Alla Muallongi Longi

Bersabar dan bersyukurlah
Bersabar dan bersyukurlah
Berikhtiar di segala pintu rejeki
Bahagia sentosa akhirnya
Bahagia sentosa akhirnya

Mallongilongio Matti
Mallongilongio Matti
Aja’ Mutakkalupa
Alla Ri Puang Seuwwa’e
Alla Ri Puang Seuwwa’e

Kelak engkau bahagaia sentosa
Kelak engkau bahagaia sentosa
Janganlah lupa
Pada Tuhan Yang Maha Kuasa
Pada Tuhan Yang Maha Kuasa

Sabbara’ko Mumapata
Sabbara’ko Mumapata
Muattunrungtunru Toto
Alla Sappai Deceng’nge
Alla Sappai Deceng’nge

Sabar dan tegarlah engkau
Sabar dan tegarlah engkau
Jalani Qada dan Qadarmu
Mencari pahala dunia akhirat
Mencari pahala dunia akhirat

Deceng Enre ko Ri Bola
Deceng Enre ko Ri Bola
Tejjali’ Tettappere
Alla Banna Mase Mase
Alla Banna Mase Mase

Duhai suka cita, mari-marilah kemari
Mari-marilah kemari, duhai suka cita
Di rumahku yang bersahaja
Dengan hati yang lapang
Dengan hati yang lapang

=====
Photo : Koleksi Bustan Basir Maras, dari pementasan JAWA-MANDARJangan lupa baca ikhwal Budaya BUGIS lainnya di www.suryadinlaoddang.com

Senin, 04 Juni 2012

INGIN MENIKAH? PECAHKANLAH TEMPAYAN ANDA!

Standard
Nikah adat Bugis
Photo : Koleksi Herza Syarif
Topik pernikahan selalu menjadi topik yang “super seksi” diperbincangkan berbagai kalangan. Mungkin karena semua orang akan mengalami dan membutuhkannya.

Tak terkecuali bagi kalangan masyarakat bugis. Bagi masyarakat bugis, topik pernikahan tak hanya super seksi, melainkan menjadi “terlalu amat sangat seksi sekali” untuk dibincangkan. Dapat dipastikan sub topiknya tak lepas dari biaya pernikahan yang besar, mahar yang besarannya membuat sebagian orang tiba-tiba cenat-cenut, juga tentang para tamu undangan pada pesta pernikahan yang berlomba tayangkan starata sosial dan ekonominya, atau para barisan penjemput tamu dengan mata yang garang mengamati perhiasan dan asesoris yang dikenakan para tamu undangan yang lewat didepannya.

Selain beberapa sub topik diatas, tema tentang syarat dan prasyarat menikah bagi seorang jaka dan dara juga sering menjadi tema menaik untuk diperbincangkan. Orang bugis terutama kaum jejaka pasti tak asing dengan idiom “Mulleniga maggulilingi dapurengmu ekkapitu”, sebuah kearifan lokal yang menggariskan berbagai sarat bagi kaum jaka sebelum menikah. Secara tekstual garisan ini meminta agar sang pria harus mampu mengitari dapurnya sebanyak tujuh kali, jika tidak mampu maka tundalah hingga engkau lulus pada ujian satu ini.

Sepintas hal ini sangat sederhana, anda cukup berjalan memutari dapur dirumah anda sebanyak tujuh kali, selesai. Sayang, ajaran yang dikenal dengan label “Ilmu tujuh pusaran dapur” ini tak semudah dalam bayangan kita. Dapur yang dimaksud disini bukanlah ruangan dapur atau tempat perapian itu sendiri, melainkan sebuah simbol. Simbol yang hanya dapat dipecahkan dengan perenungan batin, pikiran yang bijak, nalar yang arif serta hati yang bestari. Tak semua jejaka mampu menerjemahkannya apalagi mengejawantahkannya, maka banyak pula yang mengabaikan prasarat tersebut karena sudah “kebelet” nikah.

Lalu bagaimana dengan kaum dara, adakah prasyarat serupa?

Meski tidak setegas prasayarat bagi kaum pria, prasyarat bagi kaum dara juga ada. Ajarannya dikenal dengan lewat idiom “Mulleniga tettai’ care wajummu?” (sudah mampukah engkau mengurai kembali jahitan pada pakaian bekasmu). Sebah bentuk kearifan leluhur bugis yang meminta para dara  agar terlebih dahulu mengusai ilmu sabar (sabbara’), ilmu telaten (temmangingngii), ilmu hati-hati (maninii), ilmu cekatan (majetta), ilmu teliti (mapikke), ilmu momong (marufeng), serta ilmu tuntas (makkanrafi). Kaum dara bugis (baca : dara tempo dulu), banyak yang lulus pada prasyarat ini, keterampilan menenun kain menjadi wujud ejawantah prasyarat tersebut. Dalam keterampilan menenun kain, tujuh komponen prasyarat tersebut akan ditemui dan pasti dilalui.

NIKAHKANLAH AKU!

Kapankah para jaka atau calon istri itu diuji, siapa yang mengujinya?

Tidak ada lembaga resmi atau petugas khusus yang bertugas melakukan uji kepatutun dan kelayakan terhadap para jaka dan dara tersebut. Proses pengujian berjalan secara alamiah,  nampak pada unjuk prilaku mereka sehari-hari. Pengujinya adalah orang-orang di sekitar mereka, bahkan secara tidak langsung masyarakat di luar lingkungan mereka juga bisa menjadi penguji yang secara informal akan memberi informasi atau bahan pertimbangan kepada keluarga inti sang jaka / dara. Pengujian juga berjalan secara informal, berlaku otomatis seiring perkembangan fisik dan psikis yang bersangkutan, lazimnya dimulai saat sang jaka / dara telah memasuki masa akil baliq. ­

Tidak ada ketentuan batasan seberapa lama proses pengujian ini berlangsung, bisa singkat dalam hitungan bulanan, bisa pula dalam hitungan tahun. Bagi yang cepat lulus, tentu sebuah berkah. Bagi yang butuh waktu lama, tentu ini adalah masalah. Layaknya sebuah neraka bagi mereka sudah “kebelet” nikah. Tak jarang dari para kaum “kebelet” ini yang melakukan unjuk rasa, menunjukkan ke orang-orang di sekitarnya bahwa dia ingin segera dinikahkan. Unjuk rasa  tidak disampaikan secara vulgar lewat ungkapan atau permintaan, namun disampaikan dengan bahasa simbol.

Bagi sang jaka, simbolnya adalah dengan merusak atau memecahkan tempayan dirumahnya, tempayan dipecahkan secara sengaja namun seolah-olah tidak sengaja. Tempayan dalam bahasa bugis disebut gumbang atau bempa, dua nama yang merujuk pada wadah air masyarakat bugis yang terletak di area dapur basah di ruang dapur masyarakat bugis. Tempayan ini harus terjaga hingga tidak kering, karena ini hal yang tabu. Yang bertugas menjaga dan mengisinya dengan air sang anak laki-laki yang ada di rumah tersebut. Sang anak ini melakukannya dengan cara memikul air dari sumber air ke tempayan itu, dilakukan secara berulang-ulang hingga tempayan itu penuh, dilakukan setiap hari. Maka wajar jika ada rasa jenuh, jenuh mengisi tempayan yang sama dan di tempat yang sama. Dalam benaknya muncul nada protes “saya sudah bosan mengisi tempayan ini, saya ingin mengisi tempayan lainnya”. Tentu tempayan dalam konteks ini tidak dimaknai secara fisik sebagaiman bentuk tempayan itu sendiri, melainkan sebuah simbol. Apakah itu? Tempayan adalah simbol sebuah rahim.

Bagi sang dara, bentuk unjuk rasa juga dimiliki. Juga dalam bentuk sama, memecahkan tempayan. Namun, tempayannya bukan gumbang atau bempa yang dipecahak kaum pria. Tempayan yang dimaksud adalah tempayang yang lebih kecil, biasa digunakan kaum perempuan (dara dan bukan dara) menjunjung air dari sumber air kerumahnya. Dijunjung setelah selesai dengan aktifitas mencuci pakain dan mandi disumber air seperti sungai, danau, atau sumur. Tempayan kecil ini disebut busu, busu adalah simbol dari rahim seorang perempuan. Dengan sengaja menjatuhkan busu hingga pecah, dara ini seolah berkata “aku sudah ingin memecahkan mulut rahim dan air ketubanku dengan melahirkan seorang anak!”

Bagi keluarga inti dari dara dan jaka yang “kebelet” ini, ini adalah sebuah peringatan. Salah menanggapinya, fatal akibatnya. Bagi sang dara dan sang jaka, ini sebuah kepuasan, puas telah berteriak “Ayah nikahkanlah aku!”

Pertanyaannya kini, masih adakah tempayan di rumah Anda?

====
Photo : Koleksi Herza Syarif