Selasa, 18 September 2012

JEMPA-JEMPA, G-STRINGNYA ORANG BUGIS

Standard
Hingga awal bulan Maret 2012, Komite Nasional Perempuan Mahardika mencatat sedikitnya terjadi 4.845 kasus pemerkosaan terjadi di Indonesia. Data ini adalah indikasi betapa riskannya posisi perempuan di Indonesia, seiring upaya mereka untuk mendapatkan kesetaraan perlakuan dalam segala lini kehidupan, momok berupa pelecehan seksual juga menghantui mereka. Momok tersebut juga menjadi hantu bagi para orang tua yang memiliki anak perempuan. Bukan hanya itu kaum suamipun kini sudah mulai ketakutan jika istrinya juga menjadi korban pemerkosaan. Sekedar wejangan untuk berhati-hati bagi kaum perempuan rupanya kini tak cukup, momok pelecehan hingga pemerkosaan masih terus mengintai mereka bahkan di tempat umum sekalipun, angkutan kota dan kereta api misalnya.

Meski belum terwujud, telah banyak kalangan yang mulai memikirkan upaya mengadakan alat yang mampu menjadi pelindung bagi kaum wanita. Banyak yang bernostalgia pada jaman perang salib yang kesohor dengan celana dalam berpengaman gemboknya. Bahkan telah adapula upaya untuk membuat celana dalam berpengaman kata kunci (password) berbasis tekhnologi. Apapun itu, semuanya hanyalah sebuah upaya, yang masing-masing tentu ada kelemahannya. Toh pelecehan seksual tidaklah semata hanya pada tataran perlakuan alat kelamin! Kasus pemerkosaan tidak hanya identik kaum pria melakukannya kepada kaum perempuan, bisa jadi terjadi sebaliknya atau justru terjadi antar sesama jenis kelamin. Inilah kegilaan dunia yang harus kita hadapi di zaman gila ini.

Kembali bernostalgia, kembali ke masa lalu leluhur Nusantara. Ternyata pengaman serupa telah ada jauh sebelum kita mengenal celana dalam atau g-string pada jaman sekarang. Sebagaimana ditulis ulang Julianto Susantio (hurahura.wordpress.com) berdasarkan artikel Majalah Intisari (Susahnya Selingkuh di Zaman Majapahit) edisi Maret 2011 yang bersumber dari Koleksi Museum Nasional Jakarta. Di tanah Aceh masyarakat setempat mengenal Cupeng. Cupeng berfungsi sebagai penutup kelamin anak perempuan. Berbentuk pola hati, dipasang dengan cara diikat dengan benang pada perut si anak. Salah satu artefak yang menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta berbahan emas 22 karat, berukuran tinggi 6,5 cm dan lebar 5,8 cm. Sarat akan ukiran dengan pinggiran bermotif tapak jalak, bagian tengah bermotif bunga teratai dan bermatakan jakut merah. Bunga teratai dikelilingi deretan bunga bertajuk empat helai dalam bentuk belah ketupat. Di tanah Jawa, pada jaman Majapahit dikenal Badong, serupa dengan Cupeng dengan relief cerita Sri Tanjung sebagai motif hiasannya.  Sebuah kisah tentang wanita suci yang dituduh berselingkuh oleh suaminya dan akan dibunuh. Namun, sebelum dibunuh datanglah Dewi Durga menolong Sri Tanjung lengkap dengan bekal seekor "gajamina" (ikan gajah) sebagai kendaraan bagi Sri Tanjung untuk menyeberangi sungai dunia bawah menuju surga. Imbalan atas kesuciannya.

Jauh melempar sauh, berlabuh di daratan tanah Bugis-Makassar. Pengaman serupa ternyata juga ada, barang tersebut disebut Jempa-Jempa (Bugis) atau Jempang (Makassar). Pada makalah Saptodewo (The Material Culture of South Sulawesi) dalam Sulawesi and Beyond, The Frantisek Czurda Collection (2010) disebutkan bahwa jempa-jempa adalah sebilah bentuk hati sebesar telapak tangan berbahan batok kelapa atau logam dengan ukiran berbahan emas atau perak.

Jempa-jempa sepintas mirip dengan g-string pada jaman sekarang. Bagian utamanya hanyalah sebilah tempurung kelapa atau lempengan logam yang dibentuk sedemikian rupa untuk menutupi kemaluan perempuan dari depan. Pada bagian atas terdapat dua buah lubang tempat memasukkan benang sebagai pengikat yang dililitkan dan diikat pada pinggang pemakai. Pada perkembangannya jempa-jempa mengalami peruban bentuk dan fungsi. Pada masa penumpasan gerakan DII/TII di Sulawesi Selatan oleh Tentara Indonesia sebagaimana penuturan I Sanabe[1], kala ia memakai jempa-jempa dengan tali yang terbuat simpe (plat seng) dengan dua ujung yang masing-masing memiliki lubang untuk memasukkan gembok.

Kini, jempa-jempa sudah tak lagi dipakai, bahkan mungkin tak adalagi yang menyimpannya. Telah berganti dengan celana dalam aneka model dan warna atau berganti g-string yang super kecil tapi berharga mahal. Meski demikian ia tak sepenuhnya hilang, sisa-sisa glamornya masih tersimpang dalam modifikasi hiasan celana dalam kaum berduit. Menjadi simbol strata sosial dan ekonomi dengan balutan gengsi dan harga diri, setidaknya di daratan Eropa, bukan di tanah Sulawesi Selatan. Semoga saja tidak.


Kembali ke nostalgia tentang jempa-jempa tadi.

Berbeda dengan cupeng atau badong yang berfungsi sebagai penangkal selingkuh para istri bangsawan pada jaman itu, jempa-jempa hanya dipakai oleh perempuan di seluruh daratan Sulawesi Selatan sebagai penutup kemaluan. Dipakai hingga mereka mengalami masa puberitas atau hingga saat mereka menikah. Setelah menikah, tanggung jawab untuk menjaga kehormatan kaum perempuan (baca : istri) berada di tangan suami, bukan lagi tanggung jawab orang tua sang perempuan. Untuk memagari para istrinya dari perselingkuhan, maka para suami memasang “pagar gaib” pada tubuh istrinya, terutama pada organ vitalnya. Jika berani melanggar maka fatal akibatnya. Biasanya pelaku selingkuh (hubungan seksual) tidak sah ini, baik si perempuan mau si pria akan mengalami kram urat vital, sehingga alat vital yang tadinya saling berpanetrasi tidak akan bisa lepas (dicabut) lagi.

Dalam dunia medis, fenomena ini disebut vaginismus. Suatu disfungsi seksual pada perempuan berupa kekejangan abnormal otot vagina sepertiga bagian luar dan sekitar vagina. Tingkat kekejangan yang terjadi tidak sama pada setiap orang. Vaginismus seakan-akan merupakan reaksi penolakan terhadap hubungan seksual, bahkan terhadap setiap sentuhan pada kelamin. Kedua pelaku dengan alat kelamin yang telah dempet tadi hanya dapat dipisahkan dengan cara memotong alat vital si pria, itu jika ada ruang yang memungkin untuk melakukan pemotongan. Mau coba?

Bagaimana cara pria Bugis membuat pagar gaib tersebut? Pagar tersebut dipasang dengan rapalan matra berbunyi “engkatu ndi fetti utaro ri liwurenta, pura ugongcingtu”.




[1] Nenek Buyut Penulis, usia tidak diketahui namun diyakini saat meninggal usaianya lebih dari 120 tahun, terakhir berdomisili di Dusun Mellengnge, Desa Cinnongtabi, Kec. Majauleng, Kab. Wajo, Sulawesi Selatan.


LUANGKAN WAKTU ANDA KE

Senin, 03 September 2012

PERJALANAN SEOARANG MASTER CEREMONY ADAT BUGIS

Standard
KABARKAMI. Master Ceremonial atau MC adalah satu dari sekian profesi yang dapat ditekuni oleh sebagian besar orang terutama yang bergerak dibidang entertainment. Namun lain halnya dengan MC Adat dalam hal ini adat bugis. Jenis MC yang menuntut kedalaman pemahaman akan budaya ini, hingga kini masih terbilang kurang. MC Adat biasanya ditemui pada acara pernikahan dengan mengedepankan pengenalan budaya bugis. Jika pada sejumlah perhelatan dipandu dengan MC berbahasa Indonesia, MC Adat bugis dilakukan dengan menggunakan bahasa bugis klasik yang sarat makna. Pesan-pesan pribahasa bugis (Pappaseng Ogi) memberikan nuansa adat yang kuat, juga pada iringan musik khas yang menyertainya. Inilah yang tengah dilakoni oleh Suryadin Laoddang, pria berdarah bugis Sengkang yang kini menetap di kota budaya Yogyakarta.

Suaranya yang berat dengan dialek bugis yang kental menjadi trade mark pria yang juga akrab disapa Adin ini. Karirnya sebagai MC Adat melejit setelah menghadiri sedikitnya delapan puluh enam pesta nikahan adat Jawa dan Sunda sejak tahun 2000 lalu. Pertamakali terjun dalam MC Adat, ia manggung dalam acara nikahan adat Bugis di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Solo, Boyolali, Semarang, Malang Cilacap, Surabaya bahkan hingga ke Batam. Saat didapuk menjadi MC dalam pernikahan Adat Bugis di Purwokerto yang kebetulan dihadiri beberapa pembesar adat asal Sul-Sel dan staff dinas Pariwisata beberapa kabupaten di Sul-Sel, Adin menuai pujian. “Macuana nak monro lino, nappanna usedding engka palariwi sungeku, idi’mani” (* seumur hidupku, baru kali ini sesuatu mengharu perasaanku) puji seorang pemangku adat asal Wajo yang mengakui jika seumur hidupnya, baru kali ini ada yang mampu mengharu-birukan perasaannya, dan itu lewat MC Bahasa Bugis.

Di akhir acara, naskah MC yang jadi pegangan Adin menjadi rebutan beberapa pihak, mereka pun harus kecewa, mendapati semua kalimat dan kata yang diucapkan sang MC ternyata tidak semua tertulis dalam naskah tersebut. Adin memandu acara tanpa teks, seolah sudah hafal dan di luar kepala. “MC seperti ini memang harus sering improvisasi, karena tatanan nikahan adat Bugis memiliki varian yang berbeda, terutama dari segi penamaan acara, warna, simbol dan ornament yang dipakai. Itu artinya seorang MC nikahan adat seperti ini memang harus mengusai juga detail budaya itu, itu idealisme saya” tegas Adin pada salah seorang tamu undangan seusai perhelatan.

Sementara itu, Dina Syarif (25) salah satu kerabat empunya hajat menuturkan “Pengusungan materi pelafalan dan pemilihan kosa-kata Bugis puitis daeng Adin, membuat kami terkesima. Ketika tiba-tiba turun hujan saat prosesi sebuah acara adat “mappacci”, ia mengurai makna hujan yang dikaitkan dengan pernikahan dalam budaya Bugis. Pria yang juga pernah menjadi MC spesialis acara anak-anak serta instruktur MC di Yogyakarta ini tak jarang menjadi backing sound pada sejumlah iklan, film dokumenter hingga pementasan budaya di Yogyakarta.

Ditemui di tengah diskusi budaya rutin yang digelarnya bersama Forum Kajian Budaya Sul-Sel-Bar di beberapa Asrama Mahasiswa secara bergilir di Yogyakarta, ia menuturkan bahwa ketertarikannya terhadap budaya bugis berawal sejak tamat di bangku SMA. Ketertarikan itu menjadikan pria yang dikenal tegas tapi juga “humoris” ini sangat antusias terhadap literatur budaya bugis. Hingga kini, tercatat kurang lebih 260 buah buku tentang budaya Bugis-Makassar-Mandar-Toraja-Kajang-Tolotan yang dikoleksinya. Koleksi tersebut banyak menjadi rujukan skripsi, tesis, disertasi dan karya ilmiah para pelajar di Yogyakarta dan pelajar dari beberapa kota lainnya seperti Bandung, Jakarta, Malaysia, bahkan dari Makassar sendiri. Di Yogyakarta, sosok yang dikenal anti “budaya ngaret” ini aktif di sejumlah forum budaya. Wajar, jika orang-orang di lingkungannya memanggilnya sebagai budayawan muda berbakat Sulawesi Selatan.

(Arda Wardahna – Penulis adalah lulusan Magister Ilmu Komunikasi UGM)

Reportase ini telah tayang di www.kabarkami.com, 1 September 2012



MC BERBAHASA BUGIS KIAN DIMINATI DI JAWA-SUMATERA

Standard
Yogyakarta, Inspirasi-usaha.com: Mana mungkin bisa eksis menjadi seorang master of ceremony (MC) spesialis berbahasa Bugis di Tanah Jawa? Tapi, itulah kekuatan ide yang tidak “lazim”. Meski awalnya banyak yang meragukan ‘pangsa pasarnya”, namun faktanya, langkah “nekat” pria Bugis bernama Suryadin Laoddang yang menetap di Yogyakarta ini kini sudah merambah Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, hingga beberapa kota di Sumatra.

Yuni (35) seorang Pegawai Negeri Sipil di Yogyakarta tak kuasa menahan air matanya saat menghadiri resepsi pernikahan bernuansa adat Bugis di Auditorium Universitas Pembangunan Negara Yogyakarta, 9 Juni 2012 lalu. Saat mempelai menjejakkan kaki di teras gedung, tiba-tiba terdengarlah rapalan-rapalan doa yang dikenalinya sebagainya doa sakral dalam bahasa Bugis klasik dan telah puluhan tahun tak didengarnya.

Belum hilang rasa gamangnya, lafal-lafal sakral itu tiba-tiba ditimpali dengan irama musik klasik khas tanah Bugis. Melengkinglah suara pui-pui, suling, seirama dengan hentak suara gendang dalam irama musik pakkanjara’. “Bee, kembaliki sumange’ku Ndi. Lamanya baru kudapat beginian lagiE, bahkan di tanah Sulawesi pun sudah susahmi,” tutur perempuan  berjilbab ini dalam bahasa Indonesia khas Makassar.

Hayati  dari INSPIRASI USAHA juga hadir di arena tersebut sebagai tamu undangan. Setelah ngobrol sana-sini, ternyata pihak mempelai perempuan memang sengaja menghadirkan nuansa adat Bugis dan memadukannnya dengan adat Jawa. Mengingat ayah sang mempelai berdarah Bugis, sedangkan ibu Jawa.

Dalam setiap panduannya, MC selalu melafalkan beberapa kosa kata Bugis yang terdengar klasik, dengan tata bahasa yang halus lalu diikuti dengan terjemahan bahasa Indonesia.

“Sengaja kami campur dua bahasa ini, agar para tamu juga paham akan makna dari acara itu. Mulai dari makna dan filosofi warna baju yang dipakai mempelai, makna ornament dan alat-alat lainnya. Anggaplah ini perkenalan budaya Bugis di tanah Jawa,” tutur Suryadin Laoddang sang MC di sela-sela rehatnya.

Profesi MC adat Bugis telah dijalani pria yang akrab disapa Adin ini sejak tahun tahun 2000. Ia belajar secara otodidak. Semua berawal dari “kejengkelannya” melihat betapa indahnya bahasa Jawa dan Sunda menjadi bahasa pengantar MC.

“Kalau bahasa Jawa dan Sunda bisa, kenapa bahasa Bugis tidak” pikirnya kala itu. Maka sejak itulah ia mengumpulkan berbagai literatur dan catatan tentang detail pernikahan adat Bugis. Sambil mengumpulkan, ia juga melakukan studi banding, dengan mendatangi sekitar 80-an acara nikah adat Jawa dan Sunda di pulau Jawa. Dari situlah Adin belajar dan menemukan pakem cara dan tehnik MC nikahan adat yang pas. Mulai dari urutan acara, olah suara, olah gestur tubuh hingga pada pemilihan kata, yang ternyata sangat berbeda dengan acara-acara formal lainnya.

“Awalnya saya tidak pernah berpikir kalau MC seperti ini akan menjadi profesi saya. Maka saat itu saya rela tak dibayar, yang penting saya tampil dan bisa memperkenalkan budaya Bugis” Cerita ayah dari satu orang anak ini.

Untuk menghadirkan nuangsa Adat Bugis dalam setiap perhelatan, Adin kerap mengajak serta mitra kerjanya yang lain. “Kami ada mitra yang spesialis menyiapkan pakaian pengantin, tata rias, pelaminan. Adapula yang spesialis menyiapkan makanan khas Sulawesi Selatan. Ada pula yang spesialis musik dan tari-tarian. Bahkan ada juga mitra yang spesialis menyiapkan personil yang siap membantu sebagai perangkat acara seperti penerima buku tamu, pengiring mempelai dan lainnya.

Menurut budayawan Bugis ini, jika ditekuni dan diseriusi profesi MC berbahasa Bugis, maka akan memperolah penghasilan yang lumayan. Jika semua dapat diukur murni dengan tarif bisnis maka tarif MC saja sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta. Ini setara dengan tarif MC adat Jawa dan Sunda.

Untuk musik dan tari-tarian tarifnya minimal Rp2,5 juta. Sementara untuk kostum, rias dan pelaminan tarif paling murah Rp8 juta. “Kendalanya adalah kadang kita tidak memakai skala bisnis, melainkan harga kekeluargaan. Karena yang punya acara adalah keluarga sendiri," ujarnya.

Jika memang lagi musim nikahan, dalam satu musim Adin bersama mitra kerja minimal mendapatkan orderan sebanyak dua kali. Sejauh ini Adin sendiri sudah pernah dipercaya menjadi MC nikahan adat diberbagai kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Solo, Boyolali, Semarang, Malang, Cilacap, Surabaya hingga ke Batam.

Ke depan, Adin bercita-cita akan membuka kursus MC Adat Bugis Makassar di Yogyakarta dan Makassar.(RIN)

Reportase ini telah tayang di Majalah Inspirasi Usaha Edisi Juli 2012 dan www.inspirasi-usaha.com, 30-8-2012

*****