Minggu, 30 Desember 2012

JENIS PARIT DALAM BAHASA BUGIS

Standard
Bukan hanya Jakarta yang bermasalah dengan limpahan air hujan yang menggenangi ruas kota. Air itu melimpah dari parit sempit yang rata-rata hanya berdiameter 60 cm (temuan Jokowi) tak muat lagi menampung air hujan.

Jauh disisi timur utara (timur laut) Jakarta sana, tepatnya di kota Sengkang, persoalan parit juga menjadi penyebab utama. Di kota seluas 38,27 KM2 hanya terdapat satu jalur parit besar selebar 1,5 dengan kedalaman 2 hingga 5 meter. Jalur itu membelah kota Sutera ini, berpangkal di Jalan Jawa (depan eks kantor pengadilan) menyusuri sisi kiri jalan Sumatera. Berbelok di mengukuti daerah “lorong hitam”, membelah jalan Timor-Timur, Jalan RA. Kartini lalu menyisir sisi barat eks terminal Sengkang hingga menembus di muara sungai Padduppa, setelah melewati sisi belakang Masjid Galeccee (Nurul As’Adiyah Callaccu).

November 2010, saat penulis sempat mudik ke kota Sengkang, kondisi parit tersebut kian mengenaskan. Dasar parit mengalami pendangkalan sedemikian rupa, bahkan di sisi Jalan Sumatera kedalamannya tak lebih dari 1,5 meter (semoga saat ini sudah dikeruk kembali)

Selain parit tersebut, semua parit di kota Sengkang masih berukuran sempit dan dangkal.

Kecuali parit yang menyusuri jalan Bau Mahmud yang memotong hingga sisi utara eks lapangan Callacu lalu masuk membelah kampung Arab, itupun dengan ukuran lebih kecil.Sementara di sekitaran Pusat Perbelanjaan Sengkang, paritnya terbilang kecil. Wajar jika hujan deras area pasar tersebut akan mendapat limpahan air bah dari parit-parit kecil tersebut.

Jika Anda sempat berkunjung ke kota ini, cobalah tanyakan apa bahasa Bugis untuk parit. Pasti Anda akan mendapat nama yang beragam. Ada yang menyebutnya dengan Selongeng, Benrang, Salori, atau mungkin ada yang menyebut Sefé-sefé, bahkan mungkin Teppo.

Dengan kondisi tata bahasa Bugis yang berlaku saat ini, penamaan tersebut tidak ada yang salah. Meski sebenarnya dalam tata bahasa Bugis yang benar, penamaan tersebut diatas memiliki peruntukan masing-masing. Berikut penulis paparkan jenis-jenis parit dalam bahasa Bugis;


1. Selongeng

Seperti uraian diatas, parit dengan ukuran lebih besar, lebar dan dalam disebut selongeng. Selain itu parit ini memiliki ciri-ciri selalu berair (air senantiasa mengalir didalamnya) karena ia menjadi muara dari berbagi jenis parit kecil lainnya. Biasanya parit jenis ini berada disisi jalan atau justru membelah jalanan besar menuju sungai, danau atau bendungan.


2. Benrang

Parit jenis ini berukuran lebih kecil, biasanya terdapat disekitar rumah penduduk, sebagai area jatuhnya air pelimbangan, air hujan atau untuk menahan aliran air dari samping agar tidak masuk ditanah kolong rumah. Dibuat dengan kisaran lebar dan kedalaman antar 20 hingga 50 Cm. Selain disekitar rumah, juga terdapat di area perkebunan atau ladang yang ujung bertemu dengan parit besar (selongeng)


3. Salori

Jenis parit ini banyak ditemukan di area persawahan, pekarangan rumah, kebun atau ladang. Parit ini tidak bersifat permanen, dibuat sesaat saat dibutuhkan. Fungsinya hanya sekedar memberi jalan air kecil untuk genangan air pada area tertentu, sehingga air yang menggenang tadi akan berpindah dan menyebar merata di area persawahan, pekarangan rumah, kebun atau ladang tersebut. Bahkan mungkin sengaja dibuat agar genangan air tersebut segera menuju benrang.

Penulis sendiri kerap membuat parit sejenis ini dengan bantuan cangkul jika aliran yang ingin diarahkan lebih besar. Kadang pula cukup dengan meraup beberap bongkahan lumpur atau tanah basah yang membatasi area kubangan tersebut. Kadang juga pembatas kubangan tersebut dapat dibuka hanya dengan menginjakkan tumit kaki pada area yang ditentukan. Kegiatan membuat jalan air ini dalam bahasa bugis disebut massalori (mengalirkan air), saloriki (alirkan airnya)


4. Sefé-Sefé

Jenis ini hanya dapat ditemui disawah, terdapat diantara dua pematang sawah. Tempat air sawah atau aliran air irigasi mengalir sebelum dibelokkan masuk ke dalam hamparan sawah itu sendiri. Ciri khas dari parit jenis ini adalah dinding parit biasanya ditumbuhi rumput atau gulma liar. Disinilah biasanya para petani sawah membersihkan kaki dan tangan mereka sebelum menyantap hidangan makan yang tersedia di dangau (rumah sawah), orang bugis menyebutnya bola dare.


5. Teppo

Sementara jenis terakhir ini juga sering ditemui didaerah persawahan. Fungsinya sebagai jalan air yang bersumber dari sungai, danau, bendungan yang sengaja dialirkan untuk kepentingan irigasi persawahan. Parit jenis ini dan bendungan sendiri oleh masyarakat bugis, dua-duanya disebut teppo. Bentuk dan ukurannya biasanya lebih besar lebar dan dalam, paritnya selalu terisi air baik itu mengalir atau menggenang. Parit ini dapat ditutup sementara waktu berdasarkan kebutuhan, dahulu untuk menutupnya dipergunakan timbunan tanah ditambah batang pohon pisang atau karung berisi pasir dan tanah. Kini untuk mengatur aliran airnya dipergunakan pintu penutup air dengan tekhnologi turbin sederhana.


6. Salo-Salo.

Sesungguhnya jenis ini bisa dikategorikan parit bisa juga tidak. Karena memang peruntukannaya yang unik. Jenis parit satu ini berupa cekungan pada tanah yang terbentuk secara alami (proses alam). Terbentuk sebagai jalur aliran air tua di lereng-lereng gunung atau perbukitan. Jika sedang terjadi puncak musim hujan, parit ini akan terus dialiri air yang jernih seolah dari mata air (wai tuwo) meski saat itu tidak turun hujan. Saat turun hujan air jernih ini akan bercampur dengan luapan air hujan yang masuk ke parit jenis ini. Sementara pada musim kemarau, aliran parit ini akan kembali kering, kalaupun berair tidak akan sebanyak pada musim hujan. Salo-salo yang dalam bahasa bugis berarti sungai kecil adalah turunan kata dari kata salo sendiri yang berarti sungai.

Semasa kecil, penulis sering menjadikan parit-parit tersebut sebagai arena bermain, tempat berbuat usil pada teman-teman sebaya (kadang pada orang yang lebih tua). Beragam permainan kami lakukan, dari sekedar mandi, belajar renang, berkecipuk air kotor dengan kaki untuk mengotori pakain teman bermain hingga segaja buang air disana kerap kami lakukan. Baik itu dengan memakai pakain lengkap, hanya dengan celana atau dengan telanjang bulat. Kini, untuk menikmati permainan serupa. Saya dan anak saya harus mendatangi tempat pemandian umum atau kolam renang umum yang bertarif mahal, itu pun dengan aturan harus berpakaian standar renang. Tentu dengan tambahan aturan lainnya seperti buang air kecil apalagi buang air besar. Mengenaskan. Bagaimana dengan Anda?


=======
Foto : puterilearningjournal.blogspot.com

Thanks to dinda Ade Adnan Saleh yang telah mengingatkan tentang jenis parit terakhir (salo-salo). Kuru Sumangeq.



MARI MAMPIR DI 



Selasa, 25 Desember 2012

AKU (IKUT) MELAHIRKAN ANAKKU

Standard
Menikah dan punya anak. Semua orang tentu mengharapkannya. Semua pasangan suami istri pasti menghibanya. Termasuk aku dan istriku.

Alhamdulillah 2 bulan menjelang ulang tahun pernikahan pertama kami, lahirlah putra kami yang kelak kami beri nama Najmi Rafif Abiyyu Laoddang. SANG BINTANG YANG BAIK HATI DAN BERJIWA MULIA. KELAHIRANNYA DISAMBUT SUARA GELEGAR GUNTUR. Kata Laoddang diakhir namanya adalah sematan dari nama kakeknya dari garis keturunan ayahnya. Laoddang dalam bahasa Bugis berarti gelegar guntur.

Hidup di rumah kontrakan dan jauh dari keluarga masing-masing memaksa kami berdua harus menghadapi sendiri masa kehamilan dan kelahiran itu. Beruntung istriku adalah seorang Bidan, aku pun bekerja di dunia kesehatan. Jadi tak ada kerisauan dan gamang berarti yang kami hadapi semasa kehamilan, kecuali saat istriku ngidam buah mangga disaat tidak musim mangga.

Haru biru menjadi suami barulah aku alami saat proses persalinan istriku. Rabu, 27 Agustus 2008. Seperti biasa aku tetap berangkat kerja, tak ada yang istimewa hari itu. Setelah sebelum makan bersama dengan istriku tercinta, merasakan hasil racikanku sendiri, maklum istri hamil tua. Setiba di kantor, semua berjalan seperti biasa, tak ada yang istimewa. Hingga sekitar jam 9 pagi, dari balik telepon istriku memintaku untuk pulang. “Sudah ada tanda-tanda” katanya. “Akh, itu hanya perasaan orang yang ingin melahirkan aja” kataku dalam hati.

Meski demikian, kuputuskan untuk pamit dari kantor pagi itu juga. Lazimnya, orang yang mendapat berita serupa pasti akan memacu kendaraannya secepat mungkin agar segera tiba di rumahnya. Tapi, beda denganku. Aku masih tetap santai, mengendarai sepada motorku dengan kecepatan 40 Km per jam. Jika biasanya hanya butuh 3 menit untuk sampai rumah, kini butuh 15 menit baru aku tiba. Masih dengan langkah pelan aku buka pintu kamar kami, kudapati istriku penuh keringat, pucat dan meringis sambil mengelus-ngelus perut buncitnya. Tak ada siapapun dirumah saat ia kutinggalkan hingga kudatang kembali. Setelah berganti dengan celana jongkoro’ dan kaos, barulah kuelus perut istriku seraya menstimulasinya untuk sabar dan istigfar. Tapi itu tak mempan, perlahan kuraba kakinya. Waow! semua serba dingin. Tanpa harus bertanya lagi, segera aku telepon sopir ambulance sebuah rumah sakit yang telah kami pilih sebelumnya.

“Loh, ini sudah mau kerumah sakit yah Ayah” tanya istriku

“Iya bunda, bunda sudah mau melahirkan” jawabku rada panik

“Akh ayah sok tau akh, belum ini Ayah, kan hari perkiraan lahirnya masih tiga minggu lagi” istriku berusaha meyakinkanku.

“Tidak bunda sekarang juga kita ke rumah sakit” tegasku sambil memeriksa stock pulsa dan daya di HP, serta isi dompetku tentunya. Lalu s kuikut rambut istriku, lalu memakaikannya jaket.

Begitu suara sirene ambulance terdengar didepan kontrakan kami, segera kupapah istriku. Tak ada yang menyertai kami selaian pakaian dibadan, HP dan dompet. Pak Sugeng, supir ambulance itu sangat cekatan dan terlatih. Segera saja ambulance itu memecah alur lalu lintas di daerah Jogja Timur menuju Rumah Sakit Permata Bunda di Kotagede.

Singkat cerita, istriku masuk ruang periksa. Tak ada dokter kandungan yang sebelumnya telah kami sepakati, kala itu sang dokter masih menangani pasien lain di kota Magelang, 2 Jam perjalanan dari Yogyakarta.

Seorang bidan yang juga sudah kami kenal mendekatiku dan berkata “Mas, dah buka 2”.

“Ok, mbak segera tangani, tidak usah menunggu dokternya” pintaku

“Ok mas Adin, katanya mas mau menemani istri di kamar persalinan” bidan itu berkata dengan nada menantang.

Jujur, ngeri juga harus mendampingi istriku dalam kamar persalinan, meski sudah berjanji pada istriku sebelumnya untuk mendampinginya. Menurut para ahli, jika suami mendampingi istri saat persalinan itu akan memberikan dukungan moril pada istri, sekaligus merupakan perwujudan cinta suami pada istri. Bukankah hamil itu adalah “ulah” berdua, jadi susah senang ayo tanggung bersama. “Ya, ayolah” jawabku. Lagian kutak bisa berharap pada siapapun, tak ada sanak saudara yang menemani kami. Tidak dengan keluarga istriku dari Jepara apalagi keluargaku dari Sul-Sel.

Kucoba tenangkan diri memasuki ruang persalinan. Istriku masih saja meraung kesakitan, akupun iba dengannya, tangan kiriku erat mengengam tangan istirku. Tangan kananku menyelinap diantar bantal dan kepala istriku. Siap menopan tubuhnya saat ia setengah duduk dikala berusaha ngeden, berusaha mendorong sang jaban bayi keluar. Tak jarang ia mengigit lengan kiriku dengan kuat, mengalihkan rasa sakit yang dideritanya. “Tak apalah, berbagi rasa sakit” pikirku saat itu.

Tidak hanya sang bidan dan istriku yang berpeluh keringat diruang ber-AC itu. Keringatku pun juga terus mengucur, berbulir membasahi kaosku. Ilmu kebidanan yang dipelajari istriku sebelumnya saat itu mendadak hilang, ia tak ubah seorang ibu hamil yang tidak tau apa-apa soal kehamilan. Teori sugesti diri yang dipelajarinya berkali-kali tiba-tiba hilang saat itu, anjuran agar ngeden-nya mengikuti perintah sang bidan tak juga diindahkan. Istriku terus saja melakukannya sekuat tenaga, berharap sang jabang bayi segera keluar dan berakhirlah penderitaannya. Sementara diarah bawah selurus kakinya, sang bidan sudah panik melihat kulup anus (ambeyen) yang terus mengembung seiring masa ngeden istriku. Jika dipaksakan, kulup itu bisa pecah dan terjadilah pendarahan besar dan berbahaya bagi keselamatan jiwa istriku.

Tak kalah dengan sang bidan, dirikupun panik melihatnya. Kutarik nafas, sejenak kucari jalan yang bijak bagi istriku agar ia mau menuruti perintah bidan. “Bunda sayang, ambeyennya gak papa kok. Normal kok, bunda tenang yah, ada ayah disini. Sekarang bunda ikuti ayah yah” bujukku seraya mengirimkan pesan kepada sang bidan lewat tatap mataku. Alhamdulillah, sang bidan paham. Mulailah ia memberi aba-aba padaku untuk kuteruskan pada istriku.

Pukul 11 entah kurang berapa menit, aku sudah lupa. Tangisannya memecah ruang persalinan, dengan berat 3,2 kg dan panjang 58 cm. Jagoan kami terlahir, sehat, utuh lengkap dengan rambut hitamnya yang jabrik abis. Ini berarti ia sempurna menerima gen rambut dariku, tidak dari ibunya. Prosesi inisiasi menyusui dini (IMD) urung kami lakukan saat itu. “Ayah, bunda lelah. IMD-nya gak usah yah”, hiba istriku dalam pelukanku saat itu.

Tak menunggu lama, segera kudatangi ruang bayi dan melafazkan kumandan Adzan ditelinganya. Selesai, kukembalikan jagoanku pada sang perawat anak untuk mendapatkan perawatan berikutnya. Kembali ketengok istriku. Alamakkkk, istriku kudapati telah berjalan dan bergurau dengan bidan yang menanganinya tadi. Itu hanya selang 10 menit. “Mungkin inilah yang disebut keperkasaan seorang perempuan” simpulku dalam hati.

Kutuntun istriku masuk diruang istrihat yang telah disiapkan di rumah sakit itu. Setelahnya, kuambil dan kebersihkan ari-ari anakku. Setelah bersih, tak jua kuberanjak kerumah untuk menguburnya. Kutitipkan saja ari-ari pada petugas rumah sakit, untuk kuproses lagi esok harinya.

Sementara istriku asik menonton tayangan infotaiment di sebuah stasiun televisi swasta, aku memilih berbaring berusaha tidur dan melepas lelahku saat itu.

“Ini yang melahirkan siapa, yang teler siapa” sindir istriku.

Masa bodohlah pikirku, pokoknya aku ingin tidur.

“Mungkin ini adalah jawaban Allah SWT atas doaku selama ini” itu yang terlintas dibenakku kala itu. Memang selama kehamilan istriku, disetiap shalatku kuselalu berdoa “Ya Allah, jika memang melahirkan itu menyakitkan dan melelahkan. Maka timpakanlah itu padaku, bukan pada istriku.


Aku ikhlas ya Allah”.

====



 MAMPIR YAH KE

JUGA KE TWITTER @AhliSastraBugis

Minggu, 23 Desember 2012

Pena Suryadin Laoddang; Mengukir Budaya Bugis

Standard
Oleh :

Ketika generasi muda kita mulai melupakan bahasa dan budaya Bugis dan lebih menekuni menatap gadget yang mengumbar budaya pop, Suryadin Laoddang menjadi pengecualian. Melalui tulisan-tulisannya, beragam informasi tentang kearifan lokal Bugis menghinggapi ruang baca kita. Sebuah ketekunan yang perlu diapresiasi ketika kita mulai kehilangan penutur muda yang berpengetahuan detail tentang budaya Bugis.

Begitu banyak orang mulai melupakan bahasa Bugis, jangankan bercakap, hendak mengenal bahasa dan juga budaya Bugis sudah enggan karena dianggap tak sejalan lagi dengan budaya pop. Berbahasa daerah identik dengan ketinggalan jaman dan kita sedang dijangkiti anggapan bahwa hanya orang kampung yang berbahasa daerah. Meski banyak orang berseru bahwa kearifan lokal, termasuk bahasa dan budaya, perlu digali untuk menahan laju hedonisme dan ketergesaan budaya instan yang kini menjauhkan masyarakat dari dirinya sendiri. Tapi seruan itu tergerus pergaulan yang menihilkan keikutsertaan semua hal yang menyangkut kedaerahan. Hidup hanya sepenting layar datar berbentuk persegi di hadapan kita saban siang dan malam. TV dan handphone!

Banyak yang lebih menggemari bahasa atau istilah Korea sekarang, doyan dengan k-pop atau pelleng Korea. Bahasa Bugis seperti ditelan anak2nya sendiri, yang kini jauh lebih fasih ber loe-loe, gw-gw daripada idi' atau qta'. Terutama di kota, kita mulai jarang mendengar bahasa Bugis yang diperbincangkan dengan logat khas yang mendayu-dayu. Dahulu saya masih ingat, bisa membedakan mana penutur Bugis asal Bone, Soppeng, Wajo, Sidenreng hingga Maros atau Pangkep dengan menyimak dialek mereka yang memiliki kekhasan tersendiri. Kini tidak lagi, saya bahkan sibuk menghitung sejumlah “okkots” di antara obrolan anak-anak muda Bugis kini. Ada yang kelebihan “g” karena tak mampu mengerem ucapan di huruf “n”, ada pula yang menukar diftong “ng” menjadi “m” dan semuanya menjadi bahan olokan yang dimaklumi bersama. Saya pernah jengah ketika seorang sepupu saya asal Wajo mengajak saya bercakap dalam dialek Jakarta seperti di sinetron, padahal obrolan sudah saya awali dengan bahasa Bugis. Saya tiba-tiba merasa ilfil (hilang feeling) dan canggung dengan suasana itu, sambil membayangkan nasib bahasa Bugis di lidah anak-anak saya nantinya: sepertinya bahasa Bugis akan menjadi bahasa asing di tanah kelahirannya sendiri.

Pagi ini saya berselancar di sebuah blog milik seorang kawan yang telaten merawat budaya berikut bahasanya. Berbeda 180 derajat dengan kegelisahan-kegelisahan yang saya ungkap di atas, beliau seperti bangga dengan ke-bugis-annya. Namanya Suryadin Laoddang, yang lebih akrab dengan panggilan Daeng Adin, pemuda Bugis asal Wajo yang kini menetap di Yogyakarta. Meski tak pernah bertemu langsung dengannya, namun melalui perlintasan mailing list buginese saya seperti hampir setiap pekan bersua dengannya. Menikmati tulisan-tulisannya yang sangat khas Bugis seperti membawa saya di serambi yang tenang dan sejuk di Sempangnge Wajo, menikmati suguhan cerita kerabat tua tentang kearifan lokal Bugis. Satu hal yang kini tak bisa lagi saya temukan karena cerita-cerita seperti ini mulai kehilangan penutur. Penutur yang langka dan pengetahuan yang terserak, seperti dua hal yang kini sama asingnya.

Tulisan-tulisan Daeng Adin menggelorakan dua hal yang membuat saya sedemikian cemburu; antusiasme yang dibaluti konsistensi. Antusias karena saya seperti melihat sosok Daeng Adin yang tak pernah kehabisan kegelisahan budaya untuk menemukan yang hilang, menghimpun yang terserak atau menangkap yang tak terekam. Beragam hal yang sudah mulai terlupakan tentang Bugis, bahkan yang paling remeh sekalipun dia rekam dalam tulisan-tulisannya. Saya sering terperangah ketika ia dengan bahasa santai namun penuh detail mengulas istilah Bugis untuk hujan, sarung perempuan, baju khas dan sebagainya. Juga bagaimana tulisannya menampar saya yang semula tak mengerti apa makna sebuah dipan diletakkan di sebuah ruang tamu yang selalu saya temukan di rumah-rumah kerabat Bugis saya di Sengkang. Tak pernah terpikirkan meski tentu saja aneh untuk ukuran orang Bugis yang tumbuh besar di kota yang tak begitu peduli dengan simbol dan detail. Bacalah juga tulisan Daeng Adin tentang Jempa-Jempa, perhiasan proteksi alat intim perempuan Bugis yang dia persepsikan sebagai G-String, ini seperti menarik keluar kecambah pengetahuan kuno yang tak lagi dipikirkan generasi muda.

Pernahkah anda mendengar tentang Galigo? Mitologi Bugis yang terdiri dari 300,000 bait dan terangkum dalam 12 jilid manuskrip itu konon merupakan epos terpanjang di dunia. Cerita yang mulanya adalah tuturan sakral yang diceritakan hanya oleh para bissu, pendeta Bugis yang memiliki spesialisasi menerjemahkan naskah kuno patturioloang ke bahasa awam, kini bisa dinikmati oleh kita dengan bahasa orang biasa. Daeng Adin termasuk yang paling sering menyebarkan tuturan hikmah ini ke ruang baca kita di dunia maya. Dia telaten menulis hingga ratusan seri “Galigo” yang memperkaya pemahaman lokal kita. Galigo versi Daeng Adin bukanlah wira-cerita sebagaimana yang sering kita pahami ketika merujuk ke kisah Sawerigading dan anaknya La Galigo dalam epos Bugis itu. Tapi Galigo ini semacam ujaran-ujaran atau doa yang diucapkan oleh orang Bugis ketika menghajatkan sesuatu, sejenis ujaran ritual. Di tangan Daeng Adin, kita bisa mencerna Galigo tanpa kehilangan kesakralannya. Karena ilmu pada dasarnya sakral, apalagi ketika dialihkan ke bentuk pengetahuan yang mencerahkan.

Konsistensi Daeng Adin terlihat dari ketelatenannya menuliskan catatannya, merangkum semua pengetahuan dan pengalaman menjadi tulisan "gratis" yang bisa dinikmati oleh orang lain, tanpa perlu duduk di bangku kuliah atau berkunjung ke pelosok kampung-kampung Bugis. Padahal, seperti saya sebutkan di atas, kini kita mulai kehilangan dua hal; penutur dan pengetahuan Bugis. Saya tahu bahwa di Makassar, ada institusi pendidikan formal yang mengkhususkan mempelajari adat budaya Bugis Makassar, dan semoga produksi tulisan atau tuturan mereka bisa kita dapatkan dengan mudah dan murah seperti yang dirintis Daeng Adin.

Di jalan yang dijajaki Daeng Adin, formalitas seperti tak begitu penting. Memang demikian untuk sebuah ilmu yang bermanfaat, tak perlu mengenal batas apapun yang membuat kita membutuhkan upaya tambahan untuk memperolehnya. Cukup membuka blognya, atau berlangganan di milis yang dia ikuti, atau sekadar menjadi “friend”nya di antara sekian ribu “penggemar” di facebook yang sudah terhubung dengannya, maka kita bisa ikut menyimak tuturannya dalam bentuk tertulis. Bagi yang menetap di Yogyakarta, mungkin bisa dengan leluasa mendengarkan langsung ocehannya tentang budaya ini melalui berbagai seminar, forum diskusi atau obrolan santai dengannya, disamping mungkin bisa menikmati bagaimana Daeng Adin menjadi Master of Ceremony (MC) atau pembawa acara berbahasa Bugis di perhelatan resmi di sana.

Antusias dan konsisten, dua kata asing ini menjadi perahu yang bisa membawa kebaikan. Kebaikan yang bersifat universal, karena ia bisa berlayar di atas samudera pengetahuan, menyambungkan seseorang di satu daratan ke daratan lainnya. Meski Daeng Adin bertutur tentang budaya lokal, tapi semangatnya membangkitkan ribuan kecambah pengetahuan di antara kita. Ketika orang berseru tentang kearifan lokal, Daeng Adin mengejawantahkannya dengan sejumlah tetulisan yang menegaskan betapa pentingnya kearifan lokal itu, meski hampir semuanya bermuara ke tuturan dari masa lalu. Tapi masa lalu selalu aktual, apatah lagi kita menyadari bahwa masa kini adalah produk turunan masa lalu.

Daeng Adin adalah prajurit Bugis yang dititipkan di bumi Mataram. Meski berjarak ribuan kilometer dari tanah leluhurnya, senjatanya yang berbentuk pena mengirim pesan-pesan penting untuk kita baca. Di tanah Jawa, dia seperti cerminan Daeng Naba yang berdiri bersisian dengan para raja Mataram di abad 17M. Di dada Daeng Naba, juga Daeng Adin kita mendapati lempeng mustika bernama Wulandadari, penanda khusus pasukan Bugis di kerajaan Mataram. Wulandadari bermakna bulan yang mekar. Secara flosofis berarti seseorang yang selalu memberikan penerangan dalam kegelapan seperti munculnya bulan di malam hari yang gelap. Semoga semakin banyak anak muda Bugis mengikuti jejak Daeng Adin. Amin!


==

Muhammad Ruslailang Noertika, akun twitter @dgrusle



Sumber : http://www.daengrusle.net/catatan-kuru-sumange-suryadin-laoddang/#more-1242




SENANTIASAKAN WAKTU ANDA MAMPIR DI

JUGA DI TWITTER : @AhliSastraBugis





TIPE HUJAN DALAM BAHASA BUGIS

Standard
Sepagi ini, Ahad 23 Desember 2012. Hampir semua siaran berita televisi nasional dan lokal Indonesia memuat berita tentang hujan dan segala akibatnya yang merata dihamparan darat dan laut persada Indonesia. Menurut Komunitas dan Perpustakaan On Line Indonesia (2006), hujan di Indonesia terbagi dalam tiga jenis. Diantaranya; hujan frontal, hujan ini terjadi karena bertemunya angin musim panas yang membawa uap air dengan udara dingin bersuhu rendah sehingga menyebabkan pengembunan di udara yang pada akhirnya menurunkan hujan. 
Jenis kedua adalah hujan orografis, sebagai akibat dari adanya uap air yang terbawa atau tertiup angin hingga naik ke atas pegunungan dan membentuk awan. Saat awan telah mencapai titik jenuh maka akan turun hujan. Terakhir adalah hujan zenit yang berawal dari munculnya suhu yang panas pada garis khatulistiwa. Ini memicu penguapan air ke atas langit bertemu dengan udara yang dingin menjadi hujan. Hujan zenit hanya terjadi di sekitar daerah garis khatulistiwa.


Penamaan tersebut merujuk pada asas penyebab hujan itu sendiri. Berbeda dengan penamaan hujan bagi masyarakat Bugis yang menamakannya berdasarkan berdasarkan bentuk atau kondisi hujan itu sendiri.

Secara umum hujan dikenali dengan nama Bosi. Berikut adalah penamaan hujan dalam bahasa Bugis, penamaan ini akan diurut berdasarkan tingkat deras hujan, mulai dari paling kecil hingga paling besar. Dimulai dengan istilah Canecci, kondisi dimana ada butiran hujan yang turun dengan sangat kecil, tipis dan jarang bahkan tidak terlihat. Baru bisa diketahui setelah butiran tersebut menyentuh permukaan, termasuk kulit manusia. Dalam bahasa Indonesia kondisi ini disebut gerimis.

Diatas tipe canecci dikenal nama Bosi Lalo, hujan sekedar lewat. Hujan dengan butiran yang lebih besar dibanding canecci dan lebih rapat jeda antara butirannya. Hujan ini mirip kabut tipis dan hanya datang sekejap lalu menghilang lagi, dapat muncul saat kondisi mendung (marellung) atau saat masih ada cahaya matahari. Adalagi tipe hujan yang datang pada saat matahari bersinar terang dan panas dengan intensitas tinggi dan butiran lebih besar disebut Bosi Setang (Hujan Setan), disebut demikian karena hujan ini menyalahi kelaziman hujan lainnya yang biasanya terjadi saat kondisi mendung, tidak ada sinar matahari dan berhawa dingin. Masyarakat Bugis kerapkali menyebut segala sesuatu yang terjadi atau berlaku diluar kelaziman dengan kata setang, massetang-setang dan segala turunannya. Orang yang sering berbuat konyol akan disebut massetang-setang. Orang yang berakhlak atau berprilaku buruk akan disebut tau setang.

Tingkatan hujan selanjutnya adalah Bosi Redde, hujan deras. Hujan yang datang seketika dengan diawali mendung yang tipis. Datang secara tiba-tiba dan berlangsung sekejap saja, lalu menghilang tiba-tiba. Tipe ini mencurahkan air hujan dengan intensitas tinggi dan butiran yang cukup besar, butiran hujannya jika mengenai permukaan tubuh manusia mengakibatkan rasa perih seperti rasa sentilan jari pada kulit telinga. “Kakak kelas” dari tipe ini disebut Bosi Loppo, jenis hujan yang turun setelah mendung tebal dan gelap. Hujan jenis ini biasanya turun dari pagi hingga sore hari atau malam hingga esok pagi atau esok siangnya. Intensitasnya juga lebat dan stabil lengkap dengan butiran air hujan yang cukup besar.


Biangnya hujan dalam bahasa Bugis disebut Bosi Lempeq, hujan yang turun sepanjang hari dengan intensitas lebat dan berbutir besar. Bagi masyarakat yang bermukin di daerah pegunungan atau perbukitan, hujan ini ditandai dengan adanya material hutan gunung-perbukitan seperti pokok pohon, batang pohon, dahan, ranting atau dedaunan yang terbawa aliran air hujan. Untuk masyarakat yang bermukim di bantaran sungai , hujan ini ditandai dengan adanya material padat seperti kayu, bambu, sampah hingga bebatuan yang terbawa kedalam aliran sungai. Sementara bagi masyarakat pesisir danau dan laut, hujan ini ditandai dengan limpahan material dari sungai tadi yang bermuara di danau atau laut tersebut. Biasanya jika tipe hujan ini turun, masyarakat Bugis akan menyanyikan lagu berikut :

Bosi Lempeqko mai
Nakkitello maneng balanaqe

Artinya :
Duhai hujan, turunlah dengan darah
Agar semua ikan balanaq bertelur

Kadang adapula yang iseng mengubah lirik ini dalam versi jenaka, sayang gubahan tidak pantas dimuat dalam tulisan ini. Ada yang ingat? Jika ada, tidak usah disebarkan yah, nasaba engkatu ada tempedding ripoada (dalam kondisi tertentu, kadang ada perkataan yang tak layak untuk diungkapkan). Setuju?


Sumber
• http://organisasi.org/
• Foto : http://www.t3.gstatic.com

Jangan lupa berkunjung ke www.suryadinlaoddang.com


JUGA DI TWITTER : @AhliSastraBugis