Di Pameran Buku, Anak Kami Hilang

Written By SURYADIN LAODDANG on Senin, 06 Februari 2012 | Senin, Februari 06, 2012


Anak tangga terakhir, telah kami lewati. Aku di sebelah kiri, jagoan kecilku di tengah, budanya di kanan. Tiba-tiba, Rafi sang jagoan kami itu berhenti. Seorang gadis cantik berkaos hitam dengan mic digengamannya menarik perhatian Rafi. Jagoanku ini memang lagi gandrung dengan alat kecil yang berfungsi sebagai perana suara tersebut, setiap mendapatkannya Rafi seolah ingin menguji kualitas suaranya. Entah itu bernyanyi, mengumandangkan Adzan atau sekedar berteriak. Pun kali ini Rafi tak jua berkedip memandang alat itu, menatap perempuan yang tak berhenti ngoceh di ruang informasi pameran buku yang kami sambangi siang kemarin.

Kamipun berhenti menuruti keinginannya, tak jua kami berani mengganggu keasikannya, hingga ia sendiri yang memecah kebisuan kami bertiga. “Ayah, tantenya itu ngapain to’ yah?” tanyanya dengan aksen Jawanya yang mulai kental. “Oh, itu namanya ruang informasi nak, nanti kalo kunci motor ayah hilang nanti carinya kesini” jawabku sambil menunjukkan kunci motor tua kami. “Oohhh”, balasnya lalu menarik tanganku untuk melangkah langi, “nyari tulis-tulis yok yah”. Tulis-tulis adalah lema khusus dalam kamus bahasa Rafi untuk menyebut alat tulis serupa crayon atau pensil warna.

Baru satu stand buku yang kami lewati, terdengar sebuah pengumuman, “Perhatian!!!” suara itu agak keras, mungkin disengaja. “Bagi bapak ibu yang tadi meninggalkan anaknya tertidur di Mushalla, harap segara diambil kembali, karena anaknya sudah bangun dan menangis meroeng-roeng”. Seketika aku, bunda Rafi dan beberapa pengunjung serta penjaga stand tertawa. Ada dua alasan yang membuat kami tertawa, pertama menertawai keteledoran orang tua anak itu. Kedua gaya dan pilihan bahasa sang announcer terutama pada kata meroeng-roeng, plesetan dari kata meraung-raung. Ku yakini, itu disengaja untuk menarik perhatian para pengunjug, mungkin juga bentuk amarah sang annoucer pada keteledoran sang orang tua.

Setelahnya, kami bertiga asik mencari buku, terutama di stand-stand yang menyajikan potongan harga besar dan obral buku. Rafi, tak kalah hebohnya mengumpulkan majalah, buku dan mainan puzzle yang disenanginya. Tidak tanggung-tanggung, ia rela duduk bersila mengamati lembar demi lembar buku pilihannya sebelum diserahkan padaku sebagai kata perintah untuk membelikannya. Siang itu, belanja buku Rafi mendekati angka Rp. 150.000,-, bundanya Rp. 20.000,-, dan aku sendiri Rp. 12.500,-,. Satu buku lagi kami beli bukan untuk kami, tapi untuk kami jadikan kado ucapan selamat bagi sahabat kami yang baru saja menjadi Ayah. Harganya? Rahasia, ok.

Buku sudah dibayar semua, Rafi sudah menunjukkan wajah lelah dan bosan, kamipun beranjak menuju pintu keluar yang sekaligus pintu masuk yang kami lewati sebelumnya. Satu persatu stand kami lewati begitu saja, hingga tiba didepan sebuah stand yang menyajikan alat-alat permainan pembelajaran bagi anak-anak. Hemm, Rafi tertarik. Maka masuklah ia kesana bersama bundaya, Rafi asik bermain ditemani petugas stand tersebut, bunda asik mencerna semua bahasa promosi dari petugas lainnya. Daripada bengong sendiri, aku pamit hendak berkeliling ke stand buku lainnya, aku tinggalkanlah Rafi bersama bundanya disana.

Selang tiga puluh menit kemudian, bunda Rafi menyapa lewat telepon selulur butut kami, “Ayah, Rafi disana gak?”. “Lho, bukannya sama bunda disana”. Tak pikir panjang telepon selelur itu aku masukkan ke kantong jaket, entah sudah aku matikan atau tidak. Setengah berlari aku menuju stand tempat Rafi dan bundanya tadi terakhir aku tinggalkan, entah berapa orang yang aku senggol, entah berapa orang pula yang menyumpahi aku. Masa bodo, anakku hilang, harus segera ketemu kembali. Banyangan buruk silih berganti mendera benakku, saat berpapasan dengan istriku kuperintahkan ia mencari kearah kiri dan aku ke arah kanan.

Semua jalur labirin yang berular itu telah ku jelajahi, tak jua anak kami ketemu. Beralih ke kamar mandi, juga tak ada. Lewat pintu terlarang, pintu yang hanya boleh untuk panitia aku melompat dan berlari ke parkiran mencari anakku. Banyangan dibawah lari oleh orang lain menghatuiku, tak jua ketemu. Segera kuberlari menatap setiap kendaraan yang lalu lalang di jalan raya, berharap masih menemukan anakku lagi digendong atau dimasukkan kendaraan orang lain, semua nihil.

Oohhh, masih ada satu tempat yang belum aku sambangi. Area pujasera, pusat jajanan selera rakyat, mungkin saja Rafi kesana mencari minum atau jajanan lainnya. Baru dua gerai pujasera yang kusambangi, ponsel bututku berdering. “Halo, Rafi dah ketemu ayah”. Beberapa jenak aku hanya bisa diam. Huft lega, anakku kini bersama bundanya. “Sekarang dimana” tanyaku. Seteleh mendapatkan penjelasan, aku pun beranjak kesana.

Segera Rafi kuraih dari gendongan Bundanya, kupeluk dan kucium bertubi-tubi. Di tengah ciuman itu Rafi berujar “aku tadi cari ayah kok”, rupanya ia sadar jika kami telah panik dibuatnya. Maafkan ayahmu anakku. Hanya dua meter dari tempatku berdiri, bunda Rafi sedang mencak-mencak pada petugas stand yang tadi menemani Rafi bermain. Petugas itu hanya bisa menjawab “saya tidak tahu bu”, entah mengapa emosiku tidak tersulut saat itu? Lima belas tahun menetap di Yogakarta rupanya mampu meredam gejolak Bugis Makassarku yang biasanya gampang tersulut. Entah mengapa ku tak mau menyalahkan petugas itu, malah menyalahkan diri sendiri. Sekali lagi maafkan ayahmu anakku.

Setelah mengamit lengan bunda Rafi, segera kuputuskan segera meninggalkan arena pameran tersebut. Dalam perjalanan menuju parkiran, bunda Rafi bercerita jika tadi Rafi ditemukan sedang asik duduk bersama gadis cantik, petugas ruang informasi yang menggunakan kata “meroeng-roeng” tadi. Menurut cerita petugas itu, Rafi datang sendiri ke meja siaran itu menyapa sang petugas “Tante, Ayahku mana?”. Baru saja sang petugas hendak mengumumkan “berita anak ditemukan itu”, bunda Rafi datang dan mereka saling berpelukan. Pengumuman itu pun tak jadi mengudara. Bagaimana cerita hingga Rafi bisa meninggalkan bundaya dan tiba di ruang informasi, tak juga mampu kami korek dari cerita Rafi. Ia sudah lupa.

Rupanya informasi yang kuberikan pada Rafi, tentang kunci motor yang hilang tadi diterjemahkan menjadi “Jika Ayahku hilang, maka bisa ditemukan di ruang informasi”. Akh, anakku sungguh cerdas dikau. Ayahmu yang teledor, maafkan ayahmu nak.
Senin, Februari 06, 2012 | 4 comments | Read More

ADAT BUGIS : SI CEREWET MARAH PADA GENDANG BUGIS BERBALUT MELATI JAWA

Written By SURYADIN LAODDANG on Jumat, 03 Februari 2012 | Jumat, Februari 03, 2012

“Kak, apa-apaan itu! Kok gendang kita dibaluti ronce melati seperti” ini penistaan tradisi kita kak! Kakak tidak boleh tinggal diam!”

Ceplas-ceplos, tanpa basa-basi. Inilah gaya si cerewet, tak peduli apakah itu di tempat ramai atau tempat sepi, pokoknya jika ada yang tidak berkenan di hatinya ia pasti akan marah sejadi-jadinya. Apalagi jika sasaran amarahnya itu adalah saya, sosok yang dianggap kakaknya, sosok yang selalu dibencinya tapi juga selalu dikangeninya. Setidaknya itu pengakuannya, saat kami bersua di parkiran Asrama Haji Yogyakarta, tempat dimana ajang Musyawarah Nasional ke-XVI Ikatan Kerukukan Mahasiswa Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (MUNAS IKAMI). Munas sendiri di helat sejak 26 hingga 30 Januari 2012. Molor satu hari dari jadwal sesungguhnya.

Si Cerewet, gadis unik yang kukenal delapan tahun lalu ini memang sangat fanatik dengan budayanya, budaya Bugis-Makassar. Maklum ia terlahir dari sosok ayah yang berdarah Makassar dan Ibu yang berdarah Bugis. Meski hanya persoalan remeh temeh tapi itu menyentil ego dan cintanya pada budaya Bugis-Makassar maka siap-siap dijadikan sasaran semprotannya. Pun kali ini, dengan amarahanya kali ini. Bertolak dari kreatifitas panitia Munas yang membalut gendang Bugis-Makassar dengan kain sutera Sulawesi dan beberapa untaian ronce bunga melati, bunga yang selama ini identik dengan adat Jawa dan Sunda. Wajar jika ia marah, ia tak terima jika simbol adatnya ditempeli simbol adat dari suku bangsa lain.

Menurut Dina Fariza Tryani Syarif, psikolog lulusan Universtitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, orang bisa marah secara tiba-tiba karena ia tidak tahu duduk persoalan dari masalah yang dihadapi. Ini pula yang dialami oleh si Cerewet, ia marah karena sesungguhnya ia tidak tahu jika bunga melati yang dalam bahasa Bugis disebut Bunga Pute’ juga sangat lekat adat Bugis-Makassar. Mungkin si cerewet tidak pernah mengamati jika kalung adat suku Makassar juga menggunakan ornamen Bunga Melati. Sementara suku Bugis menggunakan ornamen bunga Mawar, bunga rosi dalam bahasa Bugis.

Setelah mendengar penjelasan saya, mimik amarah si cerewet perlahan pudar berganti mimik bersahabat, mimik yang sebenarnya senada dengan raut wajahnya yang manis dan segar. Tapi, itu hanya sekejap. Hanya sepeminungan seteguk air, si cerewet kembali meninggi suaranya “tapi itu juga kak penarinya, kenapa sih samburan benno bere’nya diganti dengan kembang makam”. Kali ini saya tidak bisa berkutik, amarah si cerewet kali ini saya mahfumi. Namun apapun alasannya, saya tidak ingin menegur apalagi menyalahkan enam penari tari padduppa tersebut. Bagi saya, mereka mau menari saja sudah sangat berarti bagi pelestarian budaya leluhur kita, ditengah deraan dan cercaan yang dialamatkan pada mereka yang lebih akrab dengan budaya Pop Culture.

Inisiatif memakai kembang mawar, melati dan kamboja dalam samburan pada gerakan mangampopada tari tersebut boleh jadi merupakan bentuk penghargaan mereka terhadap budaya tempat mereka berpijak saat ini, juga simbol akultrasi budaya Jawa dan Bugis-Makassar. Bukankah khasanah budaya Bugis-Makassar mengajarkan kegasi sanree lopiE, kositu to taro sengereng, dimana kaki berpijak disanalah kita berakulturasi. Terlebih pemerintah kota Yogyakarta lewat mantan walikotanya Herry Zudianto telah menegaskan bahwa para perantau dan pelajar-mahasiswa asal Sulawesi Selatan juga adalah warga Yogyakarta. Warga Yogyakarta asal Sulawesi-Selatan, bukan warga Sulawesi-Selatan di Yogyakarta.

“Ai, pokokna tidak terimaka’ kak. Inisiatif sih boleh, tapi jangan lebah dari sisi estetika dan falsafah”. Keluhan si cerewet ini juga diamini oleh Ocha La Parembai Daeng Mappagiling, pelaku ritual Angngarusekaligu pemain musik dalam pementasan pembukaan acara Munas tersebut. Bagi Ocha, sekali klasik harus 100% klasik. Sekali kontenporer, ya harus totalitas juga, jangan dicampur aduk.


Huft, dua komentar dari dua adikku yang saya banggai dan cintai ini membuatku terhenyak, diam seribu bahasa. Hingga si cerewet memecah kebisuan “pokokna kak besok-besok kalo adalagi pelanggaran seperti ini, kakak yang kupalu-palui” tegasnya sambil berlalu menuju parkiran. Ups, matimija.

==================================
Kantor Imigrasi Yogyakarta, 3 Februari 2012. 09.08 WIB
Sumber : fotosulawesi.blogspot.com (foto)

Catatan :
Mangampo = Gerakan menaburkan kembang beras atau beras kuning dalam tari Paddupa
Benno Bere’ = Kembang beras, mirip kembang Jagung
Angngaru = Ritual pernyataan janji suci dan setia seorang prajurit Bugis
Matimija = Aduh mati aku
Jumat, Februari 03, 2012 | 0 comments | Read More

MATRIKS X KOMA Y

Written By SURYADIN LAODDANG on Rabu, 25 Januari 2012 | Rabu, Januari 25, 2012

MATRIKS X KOMA Y
(Terinspirasi dari Catatan Kuliah Aljabar & Pemasaran)


Berderet ia dipinggir jalan
Bila tak merah maka hijau
Tak perlu dipoles ulang
Tak perlu dikemas lagi

Namanya banyak
Sebanyak penggemarnya
Namanya unik
Seunik tuannya

Warung Toserba
Aku jatuh cinta
Warung Toserba
Hatiku kau curi

Warung Toserba
Ia serupa deret matriks
Matriks X dan Y
Mariks satu baris

Matriks dasarnya
X = X11, X12, X13, X14, X15, X16
Y = Y11, Y12, Y13, Y14, Y15, Y16, Y17
1 – 7 adalah koofisien bukan konstanta

Jadi X I Y = ... ?, dimana I = Inovasi
X = X11, X12, X13, Xnn, Y17, Xnm
Y = Y11, Y12, Y13, Y12, Y15, X12,
Xnn, Xnm = Antara Alfa hingga Juliet

Alfa, Betha, Cera, Delta, Echo, Forxot, Gamma, Hotel, India, Juliet, Kilo, Lima, Mike
Nancy, Omega, Papa, Quiz, Romeo, Swiss, Tetta, Ultra, Violet, Whisky, Xena, Yoyo, Zebra

Catatan :Untuk memecahkan "komat-kamit" ini, dibutuhkan pemahaman Hukum Alogaritma pada pembuatan ISBN (9 digit)
serta piwai dengan Tehnik Kriptografi Inskripsi dan Deskripsi.
Rabu, Januari 25, 2012 | 0 comments | Read More

KOLEKSI PUSTAKA SULAWESI




Telah banyak karib kerabat yang bertanya, kenapa saya tergila-gila dengan pustaka-pustaka Sulawesi? Jujur, saya sendiri tidak tahu kenapa, yang jelas bukan karena pengaruh komposisi genetik yang berkembang dalam tubuh saya. Karena saya juga sempat gila pada pustaka komputer, pengembangan diri, agama Islam, dan susastera. Membaca dan mengumpulkan pustaka Sulawesi bermula sejak saya masih kelas tiga sekolah dasar, makin menggila ketika saya memilih menetap di Yogyakarta sejak 1997.


Awalnya hanya untuk koleksi dan konsumsi pribadi, tapi lingkungan memaksa saya untuk berbagi dengan sekitar saya. Maka jadilah buku koleksi saya juga "dimiliki" dan dimanfaatkan karib kerabat lainnya, sebagai bahan pustaka untuk menyusun tugas kuliah, tugas akhir kuliah, bahan seminar, diskusi atau sekedar menambah wawasan. Berdatanganlah karib kerabat itu dari seantero Yogyakarta juga dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Semarang, Pekanbaru, Aceh, Mataram, Bali, Kendari, Palu, Malaysia, Singapur bahkan dari Makassar sendiri. Tiga belas mahasiswa yang datang ke rumah iseng saya cecar, kenapa mereka "kurang kerjaan" nyari pustaka itu di Yogyakarta? Jawabnya "di Makassar kanda banyak yang tahu tentang budaya kita tapi mereka pelit berbagi". Hem, tak berani saya menyimpulkan.


Memasuki tahun 2012, atas pertimbangan seringnya buku yang dipinjamkan tidak kembali, jika kembali kadang telah rusak. Maka dengan berat hati, saya menempuh kebijakan untuk tidak lagi meminjamkan koleksi pustaka tersebut, yang berminat silahkan datang ke gubuk kami membacanya. Lebih asyik, kita bisa berdiskusi dan menyeruput segelas teh, plus digodain Rafi sang jagoan kecilku.


Tidak semua koleksi pustaka ini saya beli, banyak diantaranya merupakan hibah dari beberapa kerabat seperti Ivan Taniputer (semarang), Ika Farikha Hentihu (Malang), Renaldi Maulana, Dian Muhtadiah Hamna (Makassar), Andi Rahmat Munawar,  Rasnadia, Palari Demmu (Sengkang),  Noor Sidin (Samarinda), Penerbit Ombak, Sitti Aaisyah Sungkilang, Danial, Juhansar Andi Latif, M. Rusydi Haisal ( Yogyakarta).

Untuk melihat daftarnya klik disini http://www.4shared.com/office/xuWazjkg/BUKU_BUGIS_YANG_SUDAH_DIMILIKI.html


Mariki' diii.
Rabu, Januari 25, 2012 | 0 comments | Read More

CINTAKU KANDAS DI DANAU TEMPE

Written By SURYADIN LAODDANG on Minggu, 22 Januari 2012 | Minggu, Januari 22, 2012



Kawan
Aku tak disana lagi
Tak di Danau Belawa
Tak juga di danau Lampullung
Danau AtakkaE atau Tosora
Tak juga di muara PallimaE




Disini!
Aku disini kawan
Menyeruak daong Cuncung
Menyibak Lare, Parapa dan Jumpai
Menyapa Oseng, Jangko, Ceppe, Kandea dan Alame
Bergurau dengan Manu Datu-datu

Kawan
Aku Pappalimbang
Dengan Wise usang
Bersama lepa-lepa tua
Kadang Mallopi Bura
Atau Lopi Bira’ Awo

Saat lelah
Kutegakkan Talo Tenreng
Memanjat pohon Lontar
Menyadap Sarinyameng
Menemani Arung Masala UliE
Meretas karya Lontaraqnya

Kawan...
Dibawah bayang-bayang Pohon Bajo
Kulepaskan Penat
Bercelana Jongkoro
Berharap, ada Tedong Buleng
Menawar kutuk wajah burukku

Kawan
Inilah aku, Pammanu-manu
Teliksandi, pembaca Lontaraq
Pereka senandung Passureq
Pelarik nyanyian Pakkacaping
Paggora pada Pakkanjara’

Kawan,
Akulah, Sang Pabbaja Laleng
Membuka jalan, membersihkan onak
Menanti Pangeran dari Seberang
Berlayar melawan arus Pallima – WalennaE
Menjemput Arung Sakkoli, Sakke Oli

Kawan,
Aku kan tetap disini
Menata rumah terapung
Menemani riak Danau Tempe
Esok...Aku kan datang
Menyajikan Lawa Bale, Rontoq,
Tunu Bungka dan Nasu Palekko
Juga Nanre' PuleNanre Wessu

CATATAN :
  1. Danau Sidenreng, Lampullung, AtakkaE, Tosora = Beberapa danau di tanah Wajo Sul-Sel
  2. PallimaE = Muara sungai Walennai di Teluk Bone
  3. Daong Cuncung, Lare, Parapa dan Jumpai = Jenis tanaman endemik di danau Tempe
  4. Oseng, Jangko, Ceppe, Kandea dan Alame = Jenis ikan dan udang endemik danau Tempe
  5. Manu Datu-datu = Jenis burung endemik danau Tempe
  6. Pappalimbang = Pengantar, tukang perahu
  7. Wise = Dayung
  8. Lepa-lepa = Perahu khas Bugis
  9. Mallopi Bura = Rakit dari batang Pisang
10.  Lopi Bira’ Awo = Rakit Bambu
11.  Talo Tenreng = Tangga bambu dengan satu tiang
12.  Sarinyameng = Nira, tuak dari pohon lontar
13.  Arung Masala UliE = Ratu yang memiliki kelainan kulit
14.  Lontaraq = Karya tulis / sastra Bugis
15.  Jongkoro’ = Celana pendek
16.  Tedong Buleng = Kerbau Albino
17.  Pammanu-manu = Teliksandi
18.  Passureq= Nyanyian, kidung syair klasik Bugis
19.  Pakkacaping = Pendendang nyayian dengan alat musik kecapi
20.  Paggora  = tukang teriak
21.  Pakkanjara’ = Musik heroik ala Bugis - Makassar
22.  Pabbaja Laleng = Perintis, pembuka jalan
23.  Sakke Oli = Berkulit halus / menawan
24.  Lawa Bale = Lauk, olahan daging ikan, mirip Sushi Jepang
25.  Rontoq = Lauk, olahan dari anakan udang air tawar
26.  Tunu Bungka = Lauk, Ikan bakar, yang dibakar dalam balutan lumpur
27.  Nasu Palekko = Lauk, olahan dengan bahan utama bebek
28.  Nanre' Pule, Nanre Wessu = Dua jenis nasi ala Bugis, nasi dengan campuran jagung. 

============
Foto : indotour.org
Minggu, Januari 22, 2012 | 3 comments | Read More

DARA GELAMIT


Hai dara gelamit
Sejenak kupamit
Bukan berkelit
Tapi pulsaku limit

Ijinkan kuberwicara
Pada bait-bait lontara
Mantra para Jawara
Serupa cenning rara

Kusapa setiap papar
Pada lema yang berlembar
Benak kuajak bernalar
Katup kuajak berujar

Lontra’mu sungguh manis
Mungil bak kismis
yang kenyas kenyis
Bak pengantin baru yang meringis

Auwww, mari ke peraduan
Berbagi lanturan
Jual beli cabaran
Asal jangan cakaran

Kamasutra kita lumat
Serat centini kita serat
Assikalabaineng kita lumat
Assitubu dalam satu sarung, sikat! 




========
(stop!!!! don't try at home, bulan puasa coy, tahan nafsu!)
5 Ramadhan 1423 H


foto : gallerydunia.com
Minggu, Januari 22, 2012 | 1 comments | Read More

PAKKURU SUMANGE'

mammulai pitu uleng
ritampukmu anak
upassalamako

sejak tujuh bulan
engkau dalam kandungan
telah digelar ritual keselamatan

museppulo uleng anak
muloseng ri jalik
natimang sanro

di bulan kesepuluh
engkau lahir diatas tikar rotan
dipangku sang dukun beranak

upakuru sumangekko
tellu aseng mubokong
pole ri puange

kupanjatkan pakkuru sumange’
tiga nama menjadi bekalmu
dari Sang Tuhan

nasaba iko memettu
lisena paricittaku
sulona atikku

karena hanya engkaulah
belahan jiwaku
cahaya hatiku

ajak mupadi bolai
riasengnge tanre ati
riasengnge bangka

pesanku jangan engkau miliki
keangkuhan
kesombongan

iyami namalebbi
nasaba abbatireng
saba awaraningeng

Kemuliaan hanyalah
Karena keturunan
Karena keberanian

iyami namalebbi
taukna ripuangnge
coppona lebbi-e

Kemuliaan yang sesungguhnya
Adalah Taqwa pada Tuhan
Itulah puncak kemulian

mattipi teppaulleku
macapu campakka
rimasagalae

Tunggulah hingga aku lelah
Lalu engkau merawat sukmaku
Menuju keagungan

ulauko ribaiccumu
suloko marajamu
simakko ritamatoaku

Engkau adalah Mustika di kala kecil
Obor penerang kala dewasa
Azimat dimasa tuaku

upasekko ritu anak
nasaba paseng pole
pada ri nenemu

Kuberpesan padamu
Dengan pesan turun temurun
Dari leluhurmu

nasaba ia bangka-e
linona temmadeceng
aherana tessalama

Kesombongan hanya membuat
Duniamu jauh dari kebaikan
Akhiratmu takkan selamat

iyami namalebbi
nasaba macccangeng
saba warampang

Gapailah kemuliaan
Karena kecerdasanmu
Karena harta Bendamu

tudakko riwakangekku
uwarekkeng sumangekmu
riparicittaku

Duduklah dalam pangkuanku
Kutularkan semangat
Dari jiwaku


CATATAN :
photo : vitamuzarrofah.blogspot.com
naskah ini untuk
TERJEMAHAN NASKAH UNTUK BAHAN SKRIPSI DEASY MAHASISWA UNIV. PENDIDIKAN BANDUNG
Minggu, Januari 22, 2012 | 1 comments | Read More