Breaking News

Jumat, 09 Maret 2012

“ CLOSE UP “ MENGHENTIKAN TANGISAN BALITA

Saya sudah lupa kapan tepatnya tulisan ini saya buat, setidaknya kisaran tahun 2003 hingga 2004. Diangkat dari cerita nyata dengan taburan bumbu cerita ala kadarnya, tulisan ini dulunya saya ikutkan Lomba Cipta Cerita Iklan Close-Up Planet, tak tahu seperti apa hasil lomba itu. Filenya sudah hilang entah dimana, tapi salinan cetakannya rupanya masih ada dan terselip diantara kertas-kertas sarat memoriku.

“ CLOSE UP “ MENGHENTIKAN TANGISAN BALITA


“Kak jadi berangkat yah”, suara adik sepupuku Ani, yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.

“Yoi, ini juga lagi nunggu travelnya”, jawabku

“Sory yah kak gak ngasih bekal nih, tapi ini buah kesukaanmu kubawain” sambungya

Sebuah jambu biji bangkok diapungkan di udara. Memang dari kecil saya paling doyan makan jambu biji yang ranum.

“Thanks, Manizt!” seruku

Tanpa kesulitan jambu biji sebesar dua kepalan tangan orang dewasa itu sudah kuraup dengan lahap. Inilah untungnya kalau punya gigi fit dan kaut. Makan jambu bijipun tak perlu pake pisau segala.

Tiba-tiba, suara klakson mobil terdengar berulang dari ujung jalan.

“Kak, travelnya dah datang”, seru Rani.

Keluargaku yang sedari tadi nongkrong di teras pun bergegas ke ujung jalan. Satu dua orang diantara mereka rela hati mengangkat tas dan barang bawaanku. Asik.

“Suruh nunggu bentar yah!” teriakku, seraya berlari ke kamar mandi baut sikat gigi. Berusaha menyegarkan kembali aroma mulutku.


**** 

Tiba di ambang pintu kendaraan travel, seolah kompakan si kecil Upik dan Firdan menangis “meroeng-roeng”. Dua adik sepupuku dari ibu yang berbeda ini memang dekat denganku, terutama selama dua minggu selama saya menghabiskan liburan di kampung halaman tercinta.

“Din, adikmu digendong dululah biar tangisnya berhenti” ujar bibiku. Permintaan yang berarti perintah bagiku.

Dalam sekejap dua adik sepupuku itu berpindah di dekapanku, Upik dengan tangan kanan dan Firdan dengan tangan kiri. Cukup ringan, karena keduanya belum cukup berumur 2 tahun.

Sedih juga harus meninggalkan mereka dengan segala kelucuannya. Tapi, tuntutan pekerjaanku di Yogyakarta tentu tak bisa kuabaikan.

“Pak bentar yah” pintaku pada pak sopir travel, seraya berusaha meredakan tangis adikku. Saya kehabisan akal untuk meredakan tangisnya.

Entah dapat ilham dari mana. Masih dalam gendongan, kucoba sedikit berlari sambil menggendong mereka dan tiba-tiba saya berhenti mendadak lalu berteriak “Yaaaa” di depan wajah mereka. Akhirnya tangis mereka mereda, setelah kuulang tiga kali tangis itu berganti tawa khas anak kecil.

Seolah dikomando, si Upik dengan gerakannya yang lumayan aktif dibanding adiknya Firdan berusaha memukul mulutku dengan tangan mungil serta senyum dan tawa riangnya. Upik seolah ingin berkata “Kak, gigimu putih dan nafas kakak juga segar”

Upik dan Firdan telah riang kembali, saya cium bibir mereka satu persatu lalu saya kembalikan ke ibunya masing-masing. Sebelum pintu mobil ditutup saya masih sempat mengecup kening dua adikku ini.


**** 

“Rani, thanks yah jambu bijinya” Itulah kata terakhirku. 

Mobil travelpun melaju membelah kota Sengkang, selanjutnya menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Malam ini saya akan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan penerbangan terakhir.

Disana, di bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Seorang gadis asal parahiyangan telah menantiku, menanti dengan senyum khas close-upnya. Senyum yang selalu kurindu, senyum yang juga kumiliki saat ini.

Dialah kekasih hatiku yang pertama kali memperkenalkan Close Up padaku dua tahun lalu, saat cinta kami saling bertepuk dua tangan.
Read more ...

KOLEKSI GALIGO : Seri 31 - 40

GALIGO HARI INI (31) :

Bali Atakka teya tona, Temmappamula dimeng, Tessang kalangeng tona
Arti Bugis : Ini dessisenna gaga yodding irennuang
Arti Indonesia : Mengharap roti dilangit, ketela ditangan lepas



GALIGO HARI INI (32) :

Buru Temmuni atikku, Natadang Aju Renni, Ri Pangemmerekku
Arti Bugis : Upappadai narekko naeddeka buku bale, dessiseng gaga nyamengnna ininnawaku
Arti Indonesia : Hatiku sudah terluka, dan tidak adalaga maaf buatmu

GALIGO HARI INI (33) :

Atutuko wella dare’ lola riyasongengnge lebbinna bolaE
Arti Bugis : Akkatutuko mewai simellereng tau majaE sipa’na
Arti Indonesia : berhati-hatilah bergaul dengan orang berakhlak buruk

GALIGO HARI INI (34):


Iyyapa isseng mullena paccenne gasingengngi padamu malolo
Arti Bugis : Iyya paddisingen makessingnge maggurui simata napojiko pada-padammu malolo
Arti Indonesia : Ilmu yang baik kamu pelajari adalah ilmu yang bisa membuat lawan jenismu senang padamu

GALIGO HARI INI (35) : 

Sumbangan Daeng Rustan Pajampa Al Bugisy
Silolongeng gare mua, unganna paddokkoE, wirippi tengngana
Arti Bugis : Ine’ date gaga rapang mattemmu anu tessitotoE
Arti Indonesia : Janganlah berharap, karena sudah tidak ada kemungkinan lagi

GALIGO HARI INI (36)

Ininnawa Patariwii
Nabarang Napacabbeng
To PagguligaE

Arti Bugis : Pada sabbara’ki idi tau manyameng ininnawaE, nasaba toil nanrekitu carita pole riatau maja’atiE

Arti Indonesia : Wahai jiwa yang bersih, bersabarlah jika engkau dijadikan bahan gosip

Mohon maaf nomor urut 37 terlompati

GALIGO HARI INI (38)

Tinulu kuwala lonre’
Pata kuwala guling
Pesona Sompekku

Arti Bugis :
Reso temmangingngi uwala lopi
Asabbarakeng uwala guling
Pakkasiwiangku ri puang sewwaE uwala sompe

Arti Indonesia :
Kerja keras kujadikan Biduk
Sabar kujadikan Kemudi
Taqwa kujadikan Layar

GALIGO HARI INI (39)

Mawari Nanre Sioring
Aja Natabbollo
Nyili balibola

Arti Bugis :
Iyyaro siri’ assilomperengnge, aja nattingara, naisseng manengngi silise wanua

Arti Indonesia :Jika itu adalah aib keluarga, hendaklah dijaga, agar tidak menjadi rahasia Publik

GALIGO HARI INI (SERI 40) 
Khusus untuk yang punya dosa pada istri.

Wasengngi Tebbu Lagading
Utunru Nosorei
Kemmena pajinna

Arti Bugis Umum :
Rimula sipojittta temmaka kessing ampemu, iyyana na utunru mupubaine’ aga naddimonri, dukkusahapale ja sipa’mu

Arti Indonesia :
Saat masih pacaran, betapa baik sifat dan prilakumu hingga kurela menjadi Istrimu. Kini baru kusadari ternyata engkau musang berbulu domba.

Read more ...

Kamis, 08 Maret 2012

BERBUKA DENGAN BANDANG LAME

Diatas kain ambal merah itu kami duduk berhadapan, menghadapi sajian khas Bugis. Ada Kaledde (Nasi Tim Ketan) juga Bandang Lame (Panganan dari ketela berbungkus daun), tak ketinggal Es Trop (Es serut dengan Syrup DHT). Kaledde adalah makanan kesukaanku, dimakan dengan lauk kelapa muda parut yang telah disampuri garam serta sambel pedas melahirkan cita rasa sendiri. Nikmat tiada banding. Sayang, keasikanku kali ini terganggu dengan sambel yang super pedas dan terbangunlah aku dari mimpi indah itu.

Siang hari di puasa hari ke-14, mimpi itu kualami. Saat terjaga ada bentangan benua Eropa tercetak dibantalku. Huff memalukan, ngiler karena mimpi. Kepalang tanggung, setelah cuci muka segera kukebut motor Pitung (Honda 70-an)-ku menuju pasar desa. Dipasar pertama hingga pasar ketiga tak kujumpai barang yang hendak kubeli. Pilihan terkahirku adalah pasar Giwangan, pasar sayur dan buah terbesar di Yogyakarta. Dipasar ini kudapati sepelipatan daun pisang seharga 1000 rupiah, sebutir kelapa muda parut seharga 3000 ribu rupiah, juga setengah kilo gula merah seharga 1500 rupiah. Singkong yang kuharapkan ternyata tidak ada dipasar ini. 



Solusi terakhir adalah pasar Telo, sekitar 2 Kilometer arah barat daya pasar Giwangan. Lagi-lagi kukecewa, dipasar yang khusus menjual segala jenis ketela ini tak kudapati Singkong kuning, yang ada hanya singkong Putih. Daripada kecewa total, singkong putih tak apalah. Maka kubelilah sekilo singkong putih seharga 2500 rupiah, kupilih yang masih muda dan kecil-kecil, agar gampang diparut dan hasilnyapun bakal lebih enak dan kenyal.

Waktu menunjukkan pukul 15.00, ini berarti dalam dua jam makanan ini harus jadi. Ya, sore ini kuingin menikmati bandang lame sebagai sajian buka puasaku. Jika mau jalan pintas, makanan yang dalam bahasa Jawa ini disebut lemet ini bisa kudapati Pujasera-pujasera yang ada dikota Yogyakarta, pasti banyak yang menjual apalagi dibulan puasa seperti ini. Pilihannya pun variatif, ada rasa coklat, mocca, strawberry hingga nenas. Tapi kali ini tidak, aku ingin yang alami, klasik dan buatan sendiri.

Setiba dirumah, dapur tujuan utamaku. Dibantu jagoan kecilku, singkong itu kukupas dan kuparut sendiri. Walkasil lenganku pegal-pegal semua, maklum dah bertahun-tahun tak mengerjakannya lagi. Selesai, parutan singkong itu kucampur dengan kelapa parut juga dengan gula merah yang telah diiris tipis sebelumnya. Kupasatikan bandang lame yang kubikin ini tidak akan manis semanis buatan mendiang Ibuku dikampung. Penyebabnya, gula merah di pulau Jawa sangat berbeda dengan gula merah di kampungku, Sulawesi Selatan. Gula aren begitu orang Jawa menyebutnya, warna pucat cenderung coklat muda, berbeda dengan gula merah ala Sul-Sel dengan warna merah pekatnya, dan rasa manis yang luar biasa pula. Lagi-lagi kutawarkan permaafan untuk diriku sendiri, dari pada tidak sama sekali, mending pake gula seadanya, yang penting ngidam-­ku terlunasi.


 
Setelah adonan ini tercampur jadi satu, sedikit demi sedikit adonan selanjutnya dibungkus dengan daun pisang. Hasilnya, 15 bungkus bandang lame kini kumasukkan panci kukusan. Selesai!, saatnya membaca Novel Sejarah Gadis Portugis,sambil menunggu waktu buka puasa. 


Baru tiga halaman kubaca, dari dapur ada teriakan “Ayah!!!, gasnya habis”. 


Haaa, ternyata belum selesai juga perjuanganku hari ini. Segera kuberanjak ke warung diseberang rumah. “Waduh, habise mas. 


Coba ke warung sebelah” ujar pemilik warung. Ternyata di warung itu, persiadaan gas ukuran 3 kilonya juga sudah habis. Maka pilihan terakhir, adalah ke POM Bensin terdekat. 


Sial! 
Jangankan ukuran 3 kilo-an yang 12 Kilo-pun juga sudah habis. Begitu juga di dua pasa toko swalayan dikampung sebelah, semua persediaanya juga habis.

Tak mau kalah menyerah, segera kupacu motorku ke desa sebelah. Berharap ada warung yang masih menyediakan si hijau itu. Akhirnya di warung ke-8 kudapati juga, dengan semangat 45 kugeber gas motorku dengan tangan kiri menjinjing tabung tersebut. Waktu berbuka tersisa 45 menit lagi. Tiba dirumah, set set set selang kupasang dan cesss, air dalam panci itu kembali bergolak mendidih. 



20 menit berikutnya, bandang lameku sudah matang. Sugera kusajikan diatas meja. Tak peduli masih panas, Rafi sudah mencuilinya dengan garpu dan hup, sepotong bandang lame masuk mulutnya. Bisa dipastikan, ia akan berteriak kepanasan. Hiburan gratis menjelang buka puasa.

Selamat berbuka, selamat mencoba resep tradisionalku.
Read more ...

PEREMPUAN PENUH PESONA ITU...

Hempasku! 


Sekejap melepas penatku sore ini. Tak hanya buntalan daging empuk yang terhempas, ransel hitamkupun juga kuhempaskan. Andai ia mahluk hidup tentu ia protes. Tapi sudahlah, toh hempasan terasa melegakan.

Menjelang Magrib, di sebuah warung makan. Kupilih meja bernomor dua, paling dekat dengan para pelayan dan kasir. Demi mengendurkan urat leherku, kuhentakkan sekali ke kanan, sekali ke kiri, sekali ke belakang dan tengadah. Paska tengadah, pelang kuturungkan kembali wajah menatap ke depan. Ups, searah jam dua belas. Sesungging senyum menyapaku. Tak berani gede rasa, senyum itu tak kubalas. Tak ada siapapun dibelakangku, lalu senyum itu untuk siapa? Senyum yang sengaja dilempar ke seseorang tentu beda dengan senyum karena geli atau karena sakit jiwa. Lagi-lagi, untuk siapa senyum itu?, batinku.

Nasi dan lauk pesananku datang. Ini bisa kujadikan pengalih rasa grogiku ditengah tatapan perempuan paruh baya itu. Mengenakan blazer warna biru, perempuan itu sungguh anggun dimataku. Rambutnya masih hitam dan lebat, tertata rapi, khas para teller sebuah bank swasta terkenal di negeri ini. Di lehernya masih teruntai selembar syal model scrab bermotif bunga tapak dara. Sungguh mempesona, terlebih ditambah dengan senyum manis ketiganya yang dikirimkan kearahku. Entah untukku, entah untuk yang lain, entahlah.

Tak terasa hidangan didepanku telah habis, saat kuteguk minuman jeruk hangatku. Lewat ujung mataku kulihat perempuan penuh pesona itu beranjak menuju wastafel. Tentu ingin cuci tangan. Tak mau kehilangan moment, saya turut beranjak ke wastafel itu, berdiri tepat disampingnya, berharap ia menyapa. Ternyata tidak, ia acuh meninggalkanku. 

Sudahlah, berarti senyum itu bukan untukku, simpulanku.

Tak berselang lama, perempuan cantik itu melaju dengan kendaraan roda empatnya. Disopuri oleh suaminya, juga ditemani dua gadis belasan tahun yang menuruni pesona ibunya serta gagah ayahnya. Akupun beranjak, menuju parkiran.

 “Mas, ada titipan nih dari ibu yang naik sedang biru tadi”, sapa sang tukang parkir.

“Oh, njehh pak” balasku sambil membuka lipatan secarik kertas tersebut.

“Mas Adin, 14 tahun lalu mas nunggak sewa kamar kos 3 bulan loh ditempat Ibu. Segera lunasi yah

ALAMAKKKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!
Read more ...

CATATAN MALING

Target 100 notes terpenuhi. 

Menulis 100 notes adalah targetku tahun ini, harus terpenuhi sebelum 8 Oktober 2011, setidaknya sebagai kado ulang tahun untuk diriku sendiri. Notes, sebuah fasilitas yang disediakan oleh situs jejaring sosial facebook yang memberi ruang kepada para penggunanya untuk menempelkan huruf demi huruf menjadi kata, frase, kalimat, paragraf hingga sebuah tulisan utuh dengan ribuan huruf yang direkatkan dengan bantuan papan tuts dari komputer dan sejenisnya.

Menulis notes adalah penyaluran hobi juga ajang latihan bagiku. Terus mengasah kemampuan menuangkan pikiran dan gagasan untuk dibaca, ditelaah dan dipahami orang lain. Susah memang proses ini, tapi saya menikmatinya. Terlebih facebook memungkin bagi para “penotes” untuk meneruskan notesnya agar dibaca oleh orang-orang yang diinginkannya, diluar fasilitas public share yang memungkinkan para jamaah facebookiyah lainnya untuk membacanya.

Ada banyak kisah ini dibalik paparan notes saya di facebook ini. Sebagian dijadikan bahan dan inspirasi tulisan, sebagian lagi sengaja dititipkan didalam tubuh notes tersebut. Diantaranya, cerita tentang Rafi (jagoanku) yang makin usil dan cerewet, sahabat-sahabatku yang aneh bin norak,orang-orang yang saya temui secara tidak sengaja dan memberi inpirasi atau bahkan tentang diri sendiri yang lebih aneh lagi. Diluar itu, kisah unik lain yang saya ingin bagi adalah kisah dibalik proses saya mengawali, meneruskan dan melengkapi notes-notes saya.

Hampir 100 persen notes-notes tersebut adalah buah tangan maling. Yah, maling sang pencuri. Notes yang kutulis, kubuat dan kusempurnakan dari hasil mencuri waktu, mencuri waktu disaat menunggu seseorang, saat menunggu kuliah, menunggu jatah sebagai narasumber diskusi atau seminar, sambil menunggu jadwal kereta, sambil menuggu istri belanja, sambil menunggu anakku tidur, atau saat menjemputnya dari kelas taman bermainnya.

Setidaknya ada 10 notes juga yang selesai diatas jalanan, saat dalam perjalanan diatas kendaraan roda empat. Entah karena tugas kantor atau karena perjalanan keluarga dan perjalanan lainnya. Itu semua juga mencuri sisa-sisa daya pada baterai notebook saya yang hanya 3 cell, paling ampuh dapat bertahan 2 jam. Tentang notes ini, notes ini saya buat sambil menunggu dibukanya layanan sebuah Bank di bilangan Taman Siswa Yogyakarta, tentu bukan ingin mencuri atau merampok di Bank tersebut. Tapi ingin memandangi kasirnya yang super cantik, seorang maling juga. Karena telah mencuri hatiku.

Dari semua itu, maka tak layak jika notesku disebut catatan maling, tapi lebih tepat jika disemati label catatan GARONG.

Jika begitu, mari kita mencuri dan selamat mencuri.


Salam Garong.
Read more ...

SI CEREWET INGIN PALENTAING

SI CEREWET INGIN PALENTAING

Diatas kasur empukku, 15 Februari 2012. 

Dini hari, mataku belum juga melek sempurna, lagi-lagi adik yang super menjengkelkan tapi selalu dirindu ini menyapaku lewat chat inbox di akun facebooknya. 

“Kak, kemarin to’ kutunggui up date statusta, ka pasti kita akan menulis sesuatu tentang valentine, pasti dengan pilihan kata yang tak terduga, tapi ternyata sampae tadi malam tidak ada bela, menyebalkan, kakak menyebalkan pokoknya”. Di chat inbox itu tertera angka 04.12, berarti sekitar 15 menit lalu Si Cerewet mengetikkkan ocehannya tersebut, dan kini ia sudah berstatus off line.

Kali ini tak ada inginku membalas ocehan Si Cerewet ini, tak ada gunanya rasanya. Tak juga ingin ku menasehati atau mengguruinya. Salah-salah nasehatku malah berakibat buruk, justru rasa ingin tahu dan coba-cobanya. Cukup susah menghadirkan dan memilih kata nasehat yang bijak di jaman yang serba gila seperti saat ini. Dulu, nasehat orang tua sangat ampuh membuat kami tak berani melanggarnya, kini berbalik. Saat masih kanak-kanak dulu, saat saya dan teman-teman sepermainan hendak mencuri buah jambu bijinya dan kami ketangkap basah, kakak kami hanya berujar “oh iya silahkan ambil nak” di ucapkan dengan nada bersahabat dan membolehkan malah. Tapi, kami malah urung melakukannya. Rasa malu karena ketahuan akan mencuri membuat kami mati kutu, lalu memilih mlipir (Bugis : Ninii) di samping sang kakek, dan dilanjutkan dengan berlari sekencang-kencangnya.

Sekarang coba ujarkan kata itu pada anak jaman sekarang, bukannya wajah mereka akan bersemu merah karena malu. Tapi justru akan riang gembira melanjutkan pesta panennya. Sama halnya dengan anak kami, saat saya menceritakan bagaimana bahayanya bermain dengan colokan listrik “ini gak boleh ya dek, nanti keseterum loh”. Hasilnya, “ooo, coba yah”, malah ia minta dibolehkan mencobanya. Di lain hari, saat kami lengah ia mencoba memasukkan jack head set ke colokan listrik, saat memegang bagian speakernya ia kelonjotan, kaget dan menangis.

Senada dengan nasehat “seks pra nikah itu, ibarat nikmat membawa sengsara”, sepintas kata ini menakuti dengan kata “sengsara”nya, tapi dalam ranah psikologi bukan kata “sengsara” itu yang tertanam dalam benak orang yang mendengarnya, melainkan kata “nikmat” jauh lebih menggoda untuk ditelusuri defenisi dan bentuknya. Tak puas mencari dan membacanya dari internet, kita akan bertanya kepada orang yang kita kenal baik dan punya “pengalaman”, bukannya terpuaskan malah makin penasaran, akhirnya sekalian aja di coba. Hasilnya akhirnya, nasehat itu justru jadi bumerang.

***
5 menit yang lalu, sebelum saya menulis catatan ini. Si Cerewet menyapaku lewat telpon. “Kak, kasih ide donk, tempat valentain yang asik di Jogja dan lain dari yang lain dimana yah?” cerocosnya.

“Ededeeee, kayak tong ABG mau tongngi palentaing” balasku dengan Bahasa Indonesia beraksen dan argot Makassar

“Valentain kakak, bukan palengtaing” protesnya.


“Heh, valentain itu bahasanya orang Inggris. Ka kita orang Indonesiaji, pakenya Palentaingmo saja” jelasku. 

Kata “palentaing” itu hanyalah rekaku semata, dijamin tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sekedar ide liarku menggabungkan antar “okkots”nya orang Sunda yang susah mensebut huruf “F” yang diganti dengan “P” serta orang Makassar yang selalu memaksakan akhiran “NG” pada kata-kata yang berakhiran “N”, begitu pula sebaliknya. Salah satu pelakunya adalah saya sendiri.

“Akhhh, isseng ko deh kakak, kak Adin menyebalkan”, dan “tut” telpon itupun terputus. 

Sejenak saya terhenyak. Lalu, klik. Mengalunlah suara ringan nan merdunya Jayanthi Mandasri, lagu bertajuk “Di Puncak Bukit Hijau” :
Di bukit hijau kenangan pertamasaat-saat kita berduakau yang mempesonakau yang aku rinduucapkan kata cintamu untukku

gemercik air jatuh dipancurankicauan burung bersahutankau genggam tangankukau belai rambutkukau dekap aku mesra di dadamu

di puncak bukit hijautempat indah kita datang berjumpaharum wangi bunga beraneka warnaseakan menyambut cinta kita berdua
di puncak bukit hijautempat indah kita memadu cintaseia sekata tak akan berpisahcinta kita tetap sepanjang masa

ku sayang padamu....kau sayang padaku...di bukit yang hijau...cinta kita bersemi...
Read more ...

KOLEKSI GALIGO : Seri 21 - 30

GALIGO HARI INI (21) :

ATIE TEMMAKEDANA, UPE'PA TENNABELLE NARAMPENGKO
Arti Bugis : Sangadi napoleE Malaika' nappau tongeng
Arti Indonesia : Dari dulu ia tukang dusta, maka mustahil jika kali ini berkata benar





GALIGO HARI INI (22) :

Iyya pale arasoe’ kemmenami pajinna, ritunu temmasowaa’ rumpunnami pajinna 
Arti Bugis : Iyyaropale tau maboro’E de’seseng gaga adanna yodding riakkatenni
Arti Indonesia : Tong kosong, nyaring bunyinya

GALIGO HARI INI (23)


BAJE PALETTUKENGSAWA DARARING MARENNIKKU RI SAGALAEDE
Arti Bugis : Anging paletukekka parelukku ri tau tenricau kessingna
Arti Indonesia : Angin sampaikan maksud hatiku kepada orang yang sungguh tiada tara kecantikannya.


GALIGO HARI INI (24)

Engka pasa' rikampongku, balanca rilipukku, sagala kusappa
Arti Bugis : Temmaka egana makkunrai rikampongku, naiyya masagala makessingnge atinna kupiminasa
Arti Indonesia : Ada banyak dara manis dikampungku, namun yang kuimpikan adalah perempuan yang berhati mulia.

GALIGO HARI INI (25) : 

NUBUWAT GALIGO UNTUK PEMIMPIN BANGSA (1): 

Iyya minasakku, upenre longi-longi lipputta silise 
Arti Bugis : Iyaro minasakku, upatarenre' alebbirenna kampongku massiwanua
Arti Indonesia : harapan dan cita-cita saya adalah, mengangkat harkat dan martabat Bangsa saya dan segenap masyarakatnya

GALIGO HARI INI (26) : 

NUBUWAT GALIGO UNTUK PEMIMPIN BANGSA (2): 

Tenngapodo idimana bolai leppe lipa pitu kapallanna, 
Arti Bugis : Tenggapodo iyaro tau mapparentae matti bolai alebbireng tenrigirang-kirang 
Arti Indonesia : Semoga pemimpin kami kelak adalah orang yang bijaksana dan sulit menemukan taranya. 

GALIGO HARI INI (27):


Aja mumarennu weggang menrunna kaluku'E galongkong lisenna. 
Arti Bugis : Aja mumaladde marennu narekko najanciko tauwwe, dee ammana napaddupai jancinna. 
Arti Indonesia : Jangan terlalu berharap akan janji seseorang, bisa-bisa hanya janji palsu

GALIGO HARI INI (28):


De' memeng teng-ennajana, apa to ranggasela lurengngi totoona
Arti Bugis : De'memeng tenna masollanna, apa tau temmatette atina rirennuang
Arti Indonesia : Pasti akan rusak semua, karena pekerjaan itu diamanhkan pada orang yang tidak punya prinsip

GALIGO HARI INI (29) : 

CINTA, Spesial untuk Ostaflovelogy 

Iyami menasakku alebbongpa lalai assimelleretta,
Arti Bugis : Iyaro menasakku, matepi’ nawedding tomassarang
Arti Indonesia : Hanya liang lahatlah yang mampu memisahkan cinta kita

GALIGO HARI INI (30) ;


Buru Temmuni atikku, Natadang Aju Renni, Ri Pangemmerekku
Arti Bugis : Upappadai narekko naeddeka buku bale, dessiseng gaga nyamengnna ininnawaku
Arti Indonesia : Hatiku sudah terluka, dan tidak adalaga maaf buatmu
Read more ...

Rabu, 07 Maret 2012

Kearifan Lokal dalam Sastra Bugis Klasik

Kearifan Lokal dalam Sastra Bugis Klasik
Tim Wacana Nusantara
2 March 2009

       Kearifan Lokal merupakan adat dan kebiasan  yang telah mentradisi dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara turun temurun yang hingga saat ini masih dipertahankan keberadaannya oleh  masyarakat hukum adat tertentu di daerah tertentu. Kearifan lokal tersebut terpelihara dengan baik meskipun telah terjadi interkasi dengan dunia luar dan mengalami akulturasi budaya denga kebudayan di luar kebudayaan mereka.

Pada masyarakat Bugis, kearifan lokal tersebut ternyata terdokumntasi dengan baik dalam karya sastra mereka dan tertuang dalam karya sastra Bugis klasik.

Bawaan Hati yang Baik (Ati Mapaccing)
      Dalam bahasa Bugis, ati mapaccing (bawaan hati yang baik) berarti nia’ madeceng (niat baik), nawa-nawa madeceng (niat atau pikiran yang baik) sebagai lawan dari kata nia’ maja’ (niat jahat), nawa-nawa masala (niat atau pikiran bengkok). Dalam berbagai konteks, kata bawaan hati, niat atau itikad baik juga berarti ikhlas, baik hati, bersih hati atau angan-angan dan pikiran yang baik.

     Tindakan bawaan hati yang baik dari seseorang dimulai dari suatu niat atau itikad baik (nia mapaccing), yaitu suatu niat yang baik dan ikhlas untuk melakukan sesuatu demi tegaknya harkat dan martabat manusia. Bawaan hati yang baik mengandung tiga makna, yaitu a) menyucikan hati, b) bermaksud lurus, dan c) mengatur emosi-emosi. Pertama, manusia menyucikan dan memurnikan hatinya dari segala nafsu- nafsu kotor, dengki, iri hati, dan kepalsuan-kepalsuan. Niat suci atau bawaan hati yang baik diasosiasikan dengan tameng (pagar) yang dapat menjaga manusia dari serangan sifat-sifat tercela. Ia bagai permata bercahaya yang dapat menerangi dan menjadi hiasan yang sangat berharga. Ia bagai air jernih yang belum tercemar oleh noda-noda atau polusi. Segala macam hal yang dapat menodai kesucian itu harus dihindarkan dari hati, sehingga baik perkataan maupun perbuatan dapat terkendali dengan baik. Dalam Lontara’ disebutkan:

Dua kuala sappo, unganna panasae, belo kanukue
(Dua kujadikan pagar, bunga nangka, hiasan kuku.)

     Dalam bahasa Bugis, bunga nangka disebut lempu yang berasosiasi dengan kata jujur, sedangkan hiasan kuku dalam bahasa Bugis disebut pacci yang kalau ditulis dalam aksara Lontara’ dapat dibaca paccing yang berarti suci atau bersih. Bagi manusia Bugis, segala macam perbuatan harus dimulai dengan niat suci karena tanpa niat suci (baik), tindakan manusia tidak mendapatkan ridha dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Seseorang yang mempunyai bawaan hati yang baik tidak akan pernah goyah dalam pendiriannya yang benar karena penilainnya jernih. Demikian pula, ia sanggup melihat kewajiban dan tanggung jawabnya dengan lebih tepat.

       Kedua, manusia sanggup untuk mengejar apa yang memang direncanakannya, tanpa dibelokkan ke kiri dan ke kanan. Lontara’ menyebutkan:

Atutuiwi anngolona atimmu; aja’ muammanasaianngi ri ja’e padammu rupa tau nasaba’ mattentui iko matti’ nareweki ja’na apa’ riturungenngi ritu gau’ madecennge riati maja’e nade’sa nariturungeng ati madecennge ri gau’ maja’e. Naiya tau maja’ kaleng atie lettu’ rimonri ja’na.

(Jagalah arah hatimu; jangan menghajatkan yang buruk kepada sesamamu manusia, sebab pasti engkau kelak akan menerima akibatnya, karena perbuatan baik terpengaruh oleh perbuatan buruk. Orang yang beritikad buruk akibatnya akan sampai pada keturunannya keburukan itu.)

     Kutipan Lontara’ di atas menitikberatkan pentingnya seorang individu untuk memelihara arah hatinya. Manusia dituntut untuk selalu berniat baik kepada sesama. Memelihara hati untuk selalu berhati bersih kepada sesama manusia akan menuntun individu tersebut memetik buah kebaikan. Sebaliknya, individu yang berhati kotor, yaitu menghendaki keburukan terhadap sesama manusia, justru akan menerima akibat buruknya. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang individu untuk memikirkan hal-hal buruk terhadap sesama manusia. Dengan kata lain, agar setiap individu dapat memetik keberuntungan atau keberhasilan dalam hidup sesuai dengan cita-citanya, ia terlebih dahulu harus memelihara hatinya dari penyimpangan-penyimpangan. Jika menginginkan orang berbuat baik kepadanya, ia harus terlebih dahulu berniat dan berbuat baik kepada orang tersebut.

     Ketiga, manusia tidak membiarkan dirinya digerakkan oleh nafsu-nafsu, emosi-emosi, perasaan-perasaan, kecondongan-kecondongan, melainkan diatur suatu pedoman (toddo), yang memungkinkannya untuk menegakkan harkat dan martabat manusia sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian ia tidak diombang-ambingkan oleh segala macam emosi, nafsu dan perasaan dangkal. Jadi, pengembangan sikap-sikap itu membuat kepribadian manusia menjadi lebih kuat, lebih otonom dan lebih mampu untuk menjalankan tanggung jawabnya. Dalam Lontara’ Latoa ditekankan bahwa bawaan hati yang baik menimbulkan perbuatan-perbuatan yang baik pula, yang sekaligus menciptakan ketertiban dalam masyarakat. Dalam memperlakukan diri sebagai manusia, bawaan hati memegang peranan yang amat penting. Bawaan hati yang baik mewujudkan kata-kata dan perbuatan yang benar yang sekaligus dapat menimbulkan kewibawaan dan apa yang diucapkan akan tepat pada sasarannya:

     Makkedatopi Arung Bila, eppa tanrana tomadeceng kalawing ati, seuani, passu’i ada napatuju, maduanna, matuoi ada nasitinaja, matellunna duppai ada napasau, maeppa’na, moloi ada napadapi.

(Berkata pula Arung Bila, ada empat tanda orang baik bawaan hatinya. Pertama, mengucapkan kata yang benar. Kedua, menyebutkan kata yang sewajarnya. Ketiga, menjawab dengan kata yang berwibawa. Keempat, melaksanakan kata dan mencapai sasarannya.)

     Di samping bawaan hati yang baik sebagai motor pendorong dalam manifestasi perbuatan manusia dalam dunia realitas, terdapat lagi suatu hal dalam diri manusia yang harus dipelihara, yaitu pikiran. Bagi manusia Bugis, hati dan pikiran yang baik merupakan syarat untuk menghasilkan kebaikan dalam kehidupan.

Konsep Pemerintahan yang Baik (good governance)
     Istilah good governance tak bisa dilepaskan dari konteks perbincangan mengenai politik dan paradigma pembangunan yang berkembang di dunia. Bila dilacak agak teliti, penggunaan istilah ini belum lebih dari dua dekade. Diduga, good governance pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1991 dalam sebuah resolusi The Council of the European Community yang membahas Hak Asasi Manusia, Demokrasi, dan Pembangunan.. Di dalam resolusi itu disebutkan, diperlukan empat prasyarat lain untuk dapat mewujudkan Pembangunan yang berkelanjutan,yaitu mendorong penghormatan atas hak asasi manusia, mempromosikan nilai demokrasi, mereduksi budget pengeluaran militer yang berlebihan dan mewujudkan good governance. Sejak saat itu, good governance mulai diperbincangkan dan diakomodasi dalam berbagai konvensi dan resolusi yang berkaitan dengan pembangunan, baik dalam perbincangan pembangunan di UNDP maupun di Lome Convention, Bantuan Pembangunan yang bersifat Multilateral dan Bilateral.

     Istilah good governance telah diterjemahkan menjadi penyelenggaraan pemerintahan yang amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tata pemerintahan yang baik (UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab (LAN), dan ada juga yang mengartikan secara sempit sebagai pemerintahan yang bersih (Effendi, 2005).

      Dalam kepustakaan Bugis, untuk terwujudnya permerintahan yang baik, seorang pemimpin dituntut memiliki 4 kualitas yang tak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Keempat kualitas itu terungkap dalam ungkapan Bugis:

Maccai na Malempu;
Waraniwi na Magetteng

(Cendekia lagi Jujur, Berani lagi Teguh dalam Pendirian.)

     Bila ungkapan di atas diurai maka ada empat karakteristik seorang pemimpin yang diangap dapat memimpin suatu negeri, yaitu: cendekia, jujur, berani, dan teguh dalam pendirian. Ungkapan itu bermakna bahwa kepandaian saja tidak cukup. Kepandaian haruslah disertai dengan kejujuran, karena banyak orang pandai menggunakan kepandaiannya membodohi orang lain. Karerna itu, kepandaian haruslah disetrtai dengan kejujuran. Selanjutnya, keberanian saja tidak cukup. Keberanian haruslah disertai dengan keteguhan dalam pendirian. Orang yang berani tetapi tidak cendekia dan teguh dalam pendirian dapat terjerumus dalam kenekadan.

     Syarat terselenggaranya pemerintahan negeri dengan baik terungkap dalam Lontarak bahwa pemimpin negeri haruslah:

   1. Jujur terhadap Dewata Seuwae (Tuhan YME) dan sesamanya manusia.
   2. Takut kepada Dewata Seuwae (Tuhan YME) dan menghormati rakyatnya dan orang asing serta tidak membeda-bedakan rakyatnya.
   3. Mampu memperjuangkan kebaikan negerinya agar berkembang biak rakyatnya, dan mampu menjamin tidak terjadinya perselisihan antara pejabat kerajaan dan rakyat.
   4. Mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya.
   5. Berani dan tegas, tidak gentar hatinya mendapat berita buruk (kritikan) dan berita baik (tidak mudah terbuai oleh sanjungan).
   6. Mampu mempersatukan rakyatnya beserta para pejabat kerajaan.
   7. Berwibawa terhadap para pejabat dan pembantu-pembantunya.
   8. Jujur dalam segala keputusannya.

     Kemudian, I Mangada’cina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang membuat pesan yang isinya bahwa ada lima sebab yang menyebabkan negeri itu rusak, yaitu:
1. Kalau raja yang memerintah tidak mau diperingati.
2. Kalau tidak ada cendekiawan dalam suatu negara besar.
3. Kalau para hakim dan para pejabat kerajaan makan sogok.
4. Kalau terlampau banyak kejadian-kejadian besar dalam suatu negara.
5. Kalau raja tidak menyayangi rakyatnya

Demokrasi (Amaradekangeng)
  Kata amaradekangeng berasal dari kata maradeka yang berarti merdeka atau bebas. Pengertian tentang kemerdekaan ditegaskan dalam Lontarak sebagai berikut:

Niaa riasennge maradeka, tellumi pannessai:
Seuani, tenrilawai ri olona.
Maduanna, tenriangkai’ riada-adanna.
Matellunna, tenri atteanngi lao ma-niang,
lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao ri awa

    Demokrasi sebagai bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara terungkap dalam sastra Bugis sebagai berikut:

(Yang disebut merdeka (bebas) hanya tiga hal yang menentukannya: pertama, tidak dihalangi kehendaknya; kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat; ketiga tidak dilarang ke Selatan, ke Utara, Ke Barat, ke Timur, ke atas dan ke bawah. Itulah hak-hak kebebasan.)

Rusa taro arung, tenrusa taro ade,
Rusa taro ade, tenrusa taro anang,
Rusa taro anang, tenrusa taro tomaega.

(Batal ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat, Batal ketetapan adat, tidak batal ketetapan kaum Batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan orang banyak).

      keamanaan, dan pelaksanaan pemerintahan negara (Said, 1998). Konsep di atas sejalan dengan konsep demokrasi yang dianut saat ini yang mana kedaulatan ada di tangan rakyat. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

     Dalam ungkapan itu, jelas tergambar bahwa kedudukan rakyat amat besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Rakyat berarti segala-galanya bagi negara. Raja atau penguasa hanyalah merupakan segelintir manusia yang diberi kepercayaan untuk mengurus administrasi,

     Dari kutipan itu, jelas tergambar bahwa kekuatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan raja. Jika hal ini dihubungkan dengan teori demokrasi Rousseau tentang volonte generale atau kehenak umum dan volonte de tous atau kehendak khusus, jelas tergambar bahwa teori Rousseau berkesesuaian dengan sistem pemerintahan yang dikembangkan di Tanah Bugis yaitu apabila dua kepentingan (antara penguasa dan rakyat) bertabrakan, kepentingan yang harus dimenangkan adalah kepentingan rakyat (umum).

     Dalam menjalankan pemerintahan, raja selalu berusaha untuk bertindak secara ekstra hati-hati. Sesuatu yang akan dibebankan kepada rakyat haruslah terlebih dahulu dipertimbangkan. Artinya, acuan utama dari setiap tindakan adalah rakyat. Hal tersebut tertuang dalam Getteng Bicara (undang-undang) sebagai berikut. “Takaranku kupakai menakar, timbanganku kupakai menimbang, yang rendah saya tempatkan di bawah, yang tengah saya tempatkan di tengah, yang tinggi saya tempatkan di atas.”

     Ketetapan hukum yang tergambar dalam getteng bicara di tanah Bugis menunjukkan bahwa raja tidak akan memutuskan suatu kebijakan bila raja itu sendiri tidak merasa nyaman. Raja menjadikan dirinya sebagai ukuran dan selalu berusaha berbuat sepatutnya. Dari argumentasi itu, jelas tergambar bahwa negara adalah sepenuhnya milik rakyat dan bukan milik raja. Raja tidak dapat berbuat sekehendak hatinya kepada negara yang menjadi milik dari rakyat itu. Raja sama sekali tidak dapat membuat peraturan dengan seenaknya, terutama menyangkut kepentingan dirinya atau keluarganya. Semua peraturan yang akan ditetapkan oleh raja harus melalui persetujuan dari kalangan wakil rakyat yang telah mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Jika raja melanggar ketentuan itu, berarti raja telah melanggar kedaulatan rakyat.

Adat menjamin hak dan protes rakyat dengan lima cara sebagai berikut:

1. Mannganro ri ade’, memohon petisi atau mengajukan permohonan kepada raja untuk mengadakan suatu pertemuan tentang hal-hal yang mengganggu, seperti kemarau panjang karena dimungkinkan sebagai akibat kesalahan pemerintah.

2. Mapputane’, menyampaikan keberatan atau protes atas perintah-perintah yang memberatkan rakyat dengan menghadap raja. Jika itu menyangkut kelompok, maka mereka diwakili oleh kelompok kaumnya untuk menghadap raja, tetapi jika perseorangan, langsung menghadap raja.

3. Mallimpo-ade’, protes yang mendesak adat karena perbuatan sewenang-wenang raja, dan karena usaha melalui mapputane’ gagal. Orang banyak, tetapi tanpa perlengkapan senjata mengadakan pertemuan dengan para pejabat negara dan tidak meninggalkan tempat itu kecuali permasalahannya selesai.

4. Mabbarata, protes keras rakyat atau kaum terhadap raja, karena secara prinsipial masyarakat merasa telah diperlakukan tidak sesuai dengan panngadereng oleh raja, keluarga raja, atau pejabat kerajaan. Masyarakat atau kaum berkumpul di balai pertemuan (baruga) dan mendesak agar masalahnya segera ditangani. Kalau tidak, rakyat atau kaum bisa mengamuk yang bisa berakibat sangat fatal pada keadaan negara.

5. Mallekke’ dapureng, tindakan protes rakyat dengan berpindah ke negeri lain. Hal ini dilakukan karena sudah tidak mampu melihat kesewenang-wenangan di dalam negerinya dan protes-protes lain tidak ampuh. Mereka berkata: “Kamilah yang memecat raja atau adat, karena kami sekarang melepaskan diri dari kekuasaannya”.(Mattulada, 1985)

     Hak koreksi rakyat terhadap perbuatan sewenang-wenang pemimpin atau pejabat negara, merupakan bukti bahwa kehidupan bernegara manusia Bugis menekankan unsur “demokrasi”.

Penegakan Hukum
     Bagi manusia Bugis, menegakkan hukum terhadap suatu pelanggaran merupakan kewajiban. Dalam konsep Siri’ (malu, harga diri) terungkap bahwa manusia Bugis yang berbuat semaunya dan tidak lagi mempedulikan aturan-aturan adat (etika panngadereng atau peradaban) dianggap sebagai manusia yang tidak mempunyai harga diri. Siri’ atau harga diri merupakan landasan bagi “pemimpin” untuk senantiasa menegakkan hukum tanpa pilih kasih. Pemimpin yang tidak mampu menegakkan hukum dianggap pemimpin lembek atau banci. Seseorang yang tidak mempunyai Siri’ diumpamakan sebagai bangkai yang berjalan. Dalam ungkapan Bugis disebutkan: Siri’ emmi to riaseng tau (Hanya karena Siri’-lah kita dinamakan manusia). Itulah sebabnya mengapa para orang tua Bugis menjadikan Siri’ sebagai hal yang amat penting dalam nasihat-nasihat, sebagaimana dituturkan oleh Muhammad Said sebagai berikut:

Taro-taroi alemu siri’
Narekko de’ siri’mu inrekko siri’

(Perlengkapilah dirimu dengan siri’, Kalau tidak ada siri’-mu, pinjamlah siri’.)

     Dalam dunia realitas, sering dijumpai seorang manusia Bugis mengorbankan sanak keluarga yang paling dicintainya demi mempertahankan harga diri dan martabatnya di tengah masyarakat. Dalam sejarah disebutkan bahwa di Sidenreng Rappang pada abad XVI, La Pagala Nene Mallomo, seorang hakim (pabbicara), dan murid dari La Taddampare, menjatuhkan pidana mati terhadap putranya sendiri yang amat dicintainya karena telah terbukti mengambil luku orang lain tanpa seizin dengan pemiliknya. Tentu saja kejadian itu telah mencoreng muka ayahnya sendiri yang dikenal sebagai hakim yang jujur. Ketika ditanya mengapa ia memidana mati putranya sendiri dan apakah dia menilai sepotong kayu sama dengan jiwa seorang manusia, beliau menjawab:

“Ade’e temmakeana’ temmakke eppo”
“Hukum tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu.”

     Pidana mati itu dilakukan semata-mata untuk mempertahankan harga dirinya sebagai hakim yang jujur di tengah-tengah masyarakatnya. Sekiranya ia memberikan pengampunan kepada putranya sendiri, tentulah ia akan menanggung malu yang sangat dalam karena akan dicibir oleh masyarakat sekitarnya, dan wibawanya sebagai hakim yang jujur akan hilang seketika. Bagi masyarakat Bugis, falsafah “taro ada taro gau” (satunya kata dengan perbuatan) adalah suatu keharusan. Manusia yang tidak bisa menyerasikan antara perkataan dan perbuatannya akan mendapat gelar sebagai manusia “munafik” (munape), suatu gelar yang sangat dihindari oleh manusia Bugis.

     Adat yang telah merupakan jiwa dan semangat manusia Bugis berlaku umum dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Adat atau panngadereng tidak mengenal kedudukan, kelas sosial, derajat kepangkatan, status sosial ekonomi, dan lain-lain, dalam menjatuhkan sanksi atau hukuman adat terhadap manusia-manusia yang telah melakukan pelanggaran. Dari mana pun asal manusia itu, apakah dia seorang raja, putra mahkota, orang kaya, bangsawan, sama sekali tidak mempunyai hak istimewa dalam kehidupan panngadereng masyarakat Bugis. Kedudukan kelompok elite dan masyarakat biasa diperlakukan sama dalam kehidupan masyarakat. Faktor inilah yang telah menempatkan adat pada tempat yang teratas dalam diri manusia Bugis: “Ade’temmakiana’, temmakieppo” (adat tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu).

    Data tentang bagaimana adat diperlakukan kepada semua kelompok masyarakat, berikut beberapa data historis yang dicatat oleh Abidin sebagai berikut:

1. Pada waktu Lamanussa Toakkarangeng menjadi Datu Soppeng, orang-orang Soppeng pernah hampir kelaparan karena kemarau panjang. Beliau menyelidiki sebab-sebab bencana kelaparan itu, tetapi tak ada seorang pejabat kerajaan pun yang melakukan perbuatan sewenang- wenang. Setelah beliau merenung, beliau mengingat bahwa beliau pernah memungut suatu barang di sawah seorang penduduk dan disimpannya di rumahnya sendiri. Perbuatan beliau inilah yang menurutnya menyebabkan mala petaka itu, pikir beliau. Beliau mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman kepada dirinya sendiri karena tidak ada orang pun yang berani menjatuhkan hukuman kepada diri sang Datu. Hukuman yang dijatuhkan kepada dirinya sendiri adalah berupa denda, yaitu beliau memotong kerbau dan dagingnya dibagikan kepada rakyat. Di hadapan rakyatnya, beliau menyatakan diri bersalah karena telah memungut suatu barang dari sawah seseorang dan menyimpannya sendiri. Beliau mengumumkan barang tersebut di tengah pesta tudang sipulung (duduk bersama), tetapi tak seorang pun yang mengaku telah kehilangan sesuatu.

2. Ketika La Pabbelle’ putra Arung Matoa Wajo yang X La Pakoko Topabbele’ memperkosa wanita di kampung Totinco, ia dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya sendiri.

3. Raja Bone yang bernama La Ica’ dibunuh oleh orang-orang Bone karena kekejamannya.

4. Raja Bone yang bernama La Ulio “Bote’” (Sigendut) meninggal diamuk di kampung Utterung, karena dianggap berbuat sewenang-wenang kepada rakyat.

5. Ketika Toangkone Ranreng Bettempola pada abad XV dibuktikan menculik wanita yang bernama We Neba untuk diserahkan kepada temannya Opu Rajeng dari Luwu, maka ia dijatuhi pidana dipecat dengan tidak hormat lalu diusir untuk seumur hidup.

6. La Temmasonge putra raja Bone La Patau Matanna Tikka pada tahun 1710 dipidana “ripaoppangi tana” (diusir keluar Bone dan dibuang ke Buton) karena membunuh Arung Tiboyong, seorang anggota dewan pemangku adat Bone. Raja Luwu menyingkirkan putrinya (yang terserang penyakit kulit yang menular) dari istina karena atas permintaan rakyat.

Motivasi berprestasi (Reso)
   Dalam hal motivasi berprestasi, terungkap dalam ungkapan Bugis dengan istilah reso (usaha keras). Untuk mencapai prestasi reso merupakan syarat utama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan, seseorang haruslah pantang menyerah; ia harus tampil sebagai pemenang. Ungkapan Lontarak berikut mengisyaratkan betapa pentingnya melakukan gerak cepat agar orang lain tidak mendahului kita dalam bertindak:

Aja’ mumaelo’ ribetta makkalla ri cappa alletennge
(Janganlah mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian.)

     Ungkapan di atas memberi pelajaran bahwa dalam hidup ini terdapat persaingan yang cukup ketat dan untuk memenangkan persaingan itu, semua kemampuan yang ada harus dimanfaatkan. Titian yang hanya dapat dilalui oleh seorang saja dan siapa yang terdahulu menginjakkan kaki pada titian itu, berarti dialah yang berhak meniti terlebih dahulu. Ini berarti bahwa bertindak cepat dengan penuh keberanian, walaupun mengandung risiko besar merupakan syarat mutlak untuk menjadi pemenang. Namun demikian, tidak ada keberuntungan besar tanpa perbuatan besar dan tidak ada perbuatan besar tanpa risiko yang besar. Dalam sebuah ungkapan Lontarak ditekankan:

Resopa natinulu, natemmanginngi malomo naletei pammase Dewata Seuwaee.
(Hanya dengan kerja keras dan ketekunan, sering menjadi titian rahmat Ilahi.)

     Ungkapan itu memberi pelajaran bahwa untuk memperoleh keberhasilan, seseorang tidak hanya berdo’a, tetapi harus bekerja keras dan tekun.

     Ambo Enre (1992) mengutip sebuah ungkapan pesan Bugis bagi perantau-perantau sebelum meninggalkan kampung halaman sebagai berikut:

Akkellu peppeko mulao,
a’bulu rompeko murewe’.

(Bergundul licinlah engkau pergi, berbulu suaklah engkau kembali).

     Pesan itu diperuntukkan kepada para perantau agar terdorong bekerja keras di negeri rantauannya. Serta mempunyai tekad yang kuat untuk tidak kembali ke kampung halamannya sebelum berhasil. Dalam kaitannya dengan usaha, waktu atau kesempatan merupakan salah satu faktor penentu dalam meraih kemenangan (Tang, 2007). Hal ini ditegaskan dalam ungkapan Bugis disebutkan:

Onroko mammatu-matu napole marakkae naia makkalu
(Tinggallah engkau bermalas-malas hingga kelak datang yang gesit lalu menguasai)

     Selain pentingnya menghargai waktu/kesempatan, pentingnya seseorang menghindari perbuatan memetik keuntungan dari hasil jerih payah orang lain, tergambar dalam ungkapan berikut:

Temmasiri kajompie, tania ttaro rampingeng, naia makkalu.
(Tak malu nian si Buncis, bukan ia menyimpan penyanggah, ia yang memanjat)

      Ungkapan itu menganjurkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, seseorang dituntut bekerja keras, tidak menyandarkan harapannya kepada orang lain.

Kesetiakawanan Sosial (assimellereng)
      Konsep assimellereng mengandung makna kesehatian, kerukunan, kesatupaduan antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lain, antara seorang sahabat dengan sahabat yang lain. Memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, setia kawan, cepat merasakan penderitaan orang lain, tidak tega membiarkan saudaranya berada dalam keadaan menderita, dan cepat mengambil tindakan penyelamatan atas musibah yang menimpa seseorang, dikenal dengan konsep “sipa’depu-repu” (saling memelihara). Sebaliknya, orang yang tidak mempedulikan kesulitan sanak keluarganya, tetangganya, atau orang lain sekali pun disebut bette’ perru. Dalam kehidupan sehari-hari, manifestasi kesehatian dan kerukunan itu disebutkan dalam sebuah ungkapan Bugis:

“tejjali tettappere , banna mase-mase”.

      Ungkapan tersebut biasanya diucapkan ketika seorang tuan rumah kedatangan tamu. Maksunya adalah “kami tidak mempunyai apa-apa untuk kami suguhkan kepada tuan. Kami tidak mempunyai permadani atau sofa yang empuk untuk tuan duduki. Yang kami miliki adalah kasih sayang.

     Lontarak sangat menganjurkan manusia memiliki perasaan kemanusiaan yang tinggi, rela berkorban menghormati hak-hak kemanusiaan seseorang, demi kesetiakawanan atau solidaritas antara sesama manusia, berusaha membantu orang, suka menolong orang menderita, berkorban demi meringankan penderitaan dan kepedihan orang lain dan berusaha pula untuk membagi kepedihan itu ke dalam dirinya. Dalam Lontarak disebutkan:

     Iya padecengi assiajingeng:
- Sianrasa-rasannge nasiammase-maseie;
- sipakario-rio;
- Tessicirinnaiannge ri sitinajae;
- Sipakainge’ ri gau’ patujue;
- Siaddappengeng pulanae.

(Yang memperbaiki hubungan kekeluargaan yaitu:
- Sependeritaan dan kasih-mengasihi;
- Gembira menggembirakan;
- Rela merelakan harta benda dalam batas-batas yang wajar;
- Ingat memperingati dalam hal-hal yang benar;
- Selalu memaafkan.)

      Dorongan perasaan solidaritas untuk membela, menegakkan, memperjuangkan harkat kemanusiaan orang lain atau perasaan senasib sepenanggungan di antara keluarga, kerabat, dan masyarakat dilukiskan dalam ungkapan-ungkapan Lontarak sebagai berikut:

Eppai rupanna padecengi asseajingeng:
- Sialurusennge’ siamaseng masseajing.
- Siadampengeng pulanae masseajing.
- Tessicirinnaiannge warangparang masseajing, ri sesena gau’ sitinajae.
- Sipakainge’ pulannae masseajing ri sesena gau’ patujue sibawa winru’ madeceng.

( Empat hal yang mengeratkan hubungan kekeluargaan:
- Senantiasa kasih mengasihi sekeluarga.
- Maaf memaafkan sekeluarga.
- Rela merelakan sebagian harta benda sekeluarga dalam batas-batas yang layak.
- Ingat memperingati sekeluarga demi kebenaran dan tujuan yang baik.)

Kepatutan (Mappasitinaja)
      Mappasitinaja berasal dari kata sitinaja yang berarti pantas, wajar atau patut. Mappasitinaja berarti berkata atau berbuat patut atau memperlakukan seseorang secara wajar. Definisi kewajaran diungkapkan oleh cendekiawan Luwu sebagaimana dikutip oleh Ambo Enre (1992) sebagai berikut:

Ri pariajanngi ri ajannge, ri parialau’i alau’e, ri parimanianngi maniannge, ri pariase’i ri ase’e, ri pariawai ri awae.

(Ditempatkan di Barat yang di Barat, ditempatkan di Timur yang di Timur, ditempatkan di Selatan yang di Selatan, ditempatkan di atas yang di atas, ditempatkan di bawah yang di bawah.)

      Dari ungkapan itu, tergambar bahwa seseorang dikatakan bertindak patut atau wajar bila ia mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Seseorang yang bertindak wajar berarti ia mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya. Ia tidak menyerakahi hak-hak orang lain, melainkan memahami hak-haknya sendiri. Di samping itu, ia pula dapat memperlakukan orang lain pada tempatnya. Ia sadar bahwa orang lain mempunyai hak-hak yang patut dihormati.

     Perbuatan wajar atau patut, dalam bahasa Bugis biasa juga disebut mappasikoa. Seorang yang berbuat wajar dalam arti mappasikoa berarti ia merasa cukup atas sesuatu yang dimilikinya. Ia bertindak sederhana. Dicontohkan oleh Rahim (1985), tentang sikap wajar Puang Rimaggalatung. Puang Rimaggalatung pernah berkali-kali menolak tawaran rakyat Wajo untuk diangkat menjadi Arung Matoa Wajo atas kematian Batara Wajo III yang bernama La Pateddungi Tosamallangi. Bukannya beliau tidak mampu memangku jabatan yang ditawarkan kepadanya, tetapi ia sadar bahwa jabatan itu sungguh sulit untuk diembannya. Namun, karena Adat (para wakil rakyat) dan rakyat Wajo sendiri merasa bahwa beliau pantas memimpin mereka, akhirnya tawaran itu diterima.

Aja’ muangoai onrong, aja’ to muacinnai tanre tudangeng, de’tu mullei padecengi tana. Risappa’po muompo, ri jello’po muompo, ri jello’po muakkengau.

(Jangan serakahi kedudukan, jangan pula terlalu menginginkan kedudukan tinggi, jangan sampai kamu tidak mampu memperbaiki negeri. Bila dicari barulah kamu muncul, bila ditunjuk barulah kamu mengia.)

Ungkapan lain yang menganjurkan manusia berbuat wajar adalah sebagai berikut:

Duampuangenngi ritu gau sisappa nasilolongeng, gau madecennge enrennge sitinajae. Iapa ritu namadeceng narekko silolongenngi duampuangennge. Naia lolongenna ritu:
a. narekko ripabbiasai aleta mangkau madeceng, mauni engkamuna maperri ri pogaumuiritu.
b. Pakatunai alemu ri sitinajae
c. Saroko mase ri sitinajqe
d. Moloi roppo-roppo narewe
e. Moloi laleng namatike nasanresenngi ri Dewata Seuwaee
f. Akkareso patuju.

(Dua hal saling mencari lalu bersua, yakni perbuatan baik dan yang pantas. Barulah baik bila keduanya berpadu. Cara memadukannya ialah:
a. Membiasakan diri berbuat baik meskipun sulit dilakukan.
b. Rendahkanlah dirimu sepantasnya.
c. Ambillah hati orang sepantasnya
d. Menghadapi semak-semak ia surut langkah
e. Melalui jalan ia berhati-hati dan menyandarkan diri kepada Tuhan
f. Berusahalah dengan benar.)

     Sebaliknya, lawan dari kata patut adalah berlebih-lebihan dan serakah. Watak serakah diawali keinginan untuk menang sendiri. Keinginan untuk menang sendiri dapat menghasilkan pertentangan-pertentangan dan menutup kemungkinan untuk mendapatkan restu dari pihak lain. Manusia yang berbuat serakah, justru akan menghancurkan dirinya sendiri karena orang lain akan menjauhinya. Dan apabila hati manusia dipenuhi sifat serakah, maka tiada lagi kebaikan yang bisa diharapkan dari manusia itu. Dalam Lontarak disebutkan:

Cecceng ponna cannga tenngana sapu ripale cappa’na
(Serakah awalnya, menang sendiri pertengahannya, kehilangan sama sekali akhirnya.)

  Jadi, Lontarak amat menekankan pentingnya manusia berbuat secara wajar, seperti dapat disimak dalam ungkapan:

Aja’ mugaukenngi padammu tau ri gau’ tessitinajae
(Jangan engkau melakukan sesuatu yang tidak patut terhadap sesamamu manusia)

     Selanjutnya, Lontarak memperingatkan bahwa sifat serakah atau tamak, sewenang-wenang, curang, perbuatan tega atau tidak menaruh belas kasihan kepada orang lain dapat menghancurkan nilai kepatutan dan dapat menimbulkan kerusakan dalam negara. Pertama, keserahan atau ketamakan, menghilangkan rasa malu sehingga mengambil hak-hak orang lain bukan lagi hal yang tabu. Karena, orang yang bersifat serakah atau tamak tidak pernah merasa cukup sehingga apa yang dimiliki selalu dianggap kurang. Kedua, kekerasan akan menyebabkan melenyapkan kasih sayang di dalam negeri. Artinya, rakyat kecil harus mendapat perlindungan demi tegaknya suatu negara, tetapi kalau pihak yang berkuasa berbuat sewenang-wenang (hanya unjuk kekuatan) berarti kasih sayangnya kepada masyarakat akan hilang yang sekaligus memperlemah kedaulatan rakyat. Ketiga, kecurangan akan memutuskan hubungan keluarga.

      Artinya, orang yang curang tidak pernah merasa puas atas hak-haknya sendiri. Ia selalu berpikir untuk memiliki hak-hak orang lain. Orang seperti itu, akan menemukan kesulitan dalam hidupnya karena tidak ada orang yang akan mempercayainya. Keempat, perbuatan tega terhadap sesama manusia, melenyapkan kebenaran di dalam negeri. Artinya, para pejabat negeri dituntut untuk berbuat adil kepada rakyatnya. Berbuat tidak adil berarti kebenaran dilecehkan dan bila kebenaran dilecehkan berarti kehancuran bagi negeri. Karena itu, agar negara selamat dan berhasil, para pemimpin haruslah berbekal kejujuran disertai dengan kepatutan.

Simpulan
     Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal dalam kepustakaan Bugis masih sangat relevan dengan perkembangan zaman. Karena itu, kearifan lokal sebagai jati diri bangsa perlu direvitalisasi, khususnya bagi generasi muda dalam percaturan global saat dan di masa datang. Dengan demikian, identitas sebagai bangsa baik secara fisik maupun non fisik akan tetap terjaga.

Sumber tulisan:
http://www.ahmadmaulana.com/tag/cerita-ku/
http://buginese.blogspot.com/
http://lagaligo.net/

SUMBER : 
wacananusantara.org


Read more ...

KOLEKSI GALIGO : Seri 11 - 20

GALIGO HARI INI (11) Special untuk ANGGA ARSOEL yang lagi nalajju Lope :
Melle'E epa mumelleri,
aja mumelleri melle to teyya'E.
Arti Bugisnya : Iyapa mupojiwi tauww yakko napoji tokko, aja lalo mupojiwi ko de napojiko.
Arti Indonesia : Cintailah orang yang mencintaimu, jangan mencintai orang yang tidak mencintaimu

GALIGO HARI INI (12) : atas pesanan NELLY EKA ASTUTI Tentang Asisikalabineng :
Palungen tiroang alu-alu, temmalilu makkongnyo ri soro anrena.Arti Bugis : Palungeng sappai alu-alunna, tennalupai makkongnyo narekko purai manre Arti Indonesia : Persenggemaan yang baik adalah ketika sang perempuan memang sedang berhasrat, bagi sang Pria janganlah lupa bersenda gurau nan romantis dengan sang Istri setelah bersenggama

GALIGO HARI INI (13) :
Peddi aganaku, pakkadang tepparapi, nabua temmakacenning
Arti Bugis : Peddi aganakasi poleika, tammaka eloku rialemu, nadee modalakku
Arti Indonesia : Derita apa yang menimpaku, sungguh bersar cintaku padamu, namun apa daya kumiskin papa

GALIGO HARI INI (14) :
Mauluttu massoajang, tatteppamui anu pura siputaroe.
Arti Bugis : Mautoni lotega, mautoni maga ewata, narekko totoo, tette'i tateppa 
Arti Indonesia : Sekuat apapun kita berusaha, tapi kita tak mampu mengelak dari takdir

GALIGO HARI INI (15) :
Ala kunawa-nawa bali' ritengnga laleng tekkutampu lemo
Arti Bugis : Bine' uwissengngi maddiolo, dee pale' nannennungen atimmu lao ri iyya, riolomopa naccacca atikko rialemu.
Arti Indonesia : Andai dari dulu kutau betapa tidak tulusnya cintamu, maka sesungguhnya terlebih dahulu kutak tulus mencintaimu. 

GALIGO HARI INI (16) :
Agatokko murisenge’, tengana’ manutokko, tengngamporo tokko
Arti Bugis : Agatokko murienggerang, maseng riwettu sipojitta, na dessiseng gaga pappoji mengkaiko
Arti Indonesia : Untuk apa engkau kukenang, bukankah selama kita pacaran, tak ada satupun budi baikmu padaku.

GALIGO HARI INI (17) :
Akkitako Ri Ketengnge, allili allibunna atikku rilalaneg
Arti Bugis : Tangngae kessinna allibunna ulengnge, makkotoro kessina atikku riseseta maneng
Arti Indonesia : Lihatlah indah cahaya rembulan yang bulat, setemarang itupulalah hatiku untuk saling menerima dalam sebuah kebulatan persaudaraan. 

GALIGO HARI INI (18) : 
Aja' bare' namalullu sampu ripangujue ulimbang ri majeng.
Arti Bugis : Tengngapodo dee nalesang pappojikku rialeta, lettu leppuuku.
Arti Indonesia : Mudah-mudahan niat suci saya mencintaimu tak berubah hingga ajal menjemputku. 

GALIGO HARI INI (19) : 
Akkitako Ri Ketengnge, allili allibunna atikku rilalaneg
Arti Bugis : Tangngae kessinna allibunna ulengnge, makkotoro kessina atikku riseseta maneng
Arti Indonesia : Lihatlah indah cahaya rembulan yang bulat, setemarang itupulalah hatiku untuk saling menerima dalam sebuah kebulatan persaudaraan

GALIGO HARI INI (20) :
TODDO PULI TARO PULI, MASSE PAKU JEMBATANG, SEPPIPI NAMALARA, MALARA TENNA MALLARA-LARAKENG.
Artinya : Tergengam dalam ikatan yang erat, teguh kuat bak paku jembatan, tak punya niat untuk putus, jika terpaksa putuh ia takkan terburai

Read more ...

KOLEKSI GALIGO : Seri 0 - 9

Oleh : Suryadin Laoddang

GALIGO HARI INI (0):
Coppo bola makkutana,
salima rakkianna,
rempe masagala ?
Betapa mulianya orang itu, sudahlah baik, kedudukannya tinggi, dan selalu dirindukan. Kurang lebih sama dengan ungkapan "Maccani, panritatoni, arungtoni, kepangka'toni"

GALIGO HARI INI (1) :
Temmasiri kajompie,
tania taropalorongna,
Naia makkalu.
Arti Bugis : Tennia agagana naingngauwwi
Arti Indonesia : Mengakui sesuatu yang bukan miliknya

GALIGO HARI INI (2) :
Abbulo peppeko mualo, abbulo rompengko murewe
Arti Bugis : aja murewe pole ritana somperengmu narekko die mulolongengni musappae
Arti Indonesia : Sukseslah ditanah rantau

GALIGO HARI INI (3) :
Bulu temmaruttunna Alla Taala kuonroi maccalinrung, Engkaga balinna Alla Taala na engka balikku; Mettekka tenribali, massadaka tenri sumpala Arti Indonesia : Ibarat Gunung yang takkan runtuh kecuali seijin Allah SWT, Tuhan tempatku berlindung. Takkan ada yang dapat menandingiku, kecuali jika ada yang dapat menandingi Allah yang Maha Kuasa, petuahku tak terbantahkan, pendapatku dan tersanngah kebenarnnya

GALIGO HARI INI (4) :
Mali siparappe, malilu sipakainge, Sirebba tannga tessirebba pasorong, Padaidi pada elo, sipatuo, sipatakkong, siwata menre, tessirui.
Artinya : Saat hanyut kita saling mengulurkan tangan, khilaf kita saling mengingatkan, berbeda pendapat itu syah tapi tidak saling menghina, kita semua punya kehendak, mari buka jalan kehidupan, berdiri sama tegak, saling bahu-membahu bukannya saling menghujat.

GALIGO HARI INI (5) :
Iyya teppaja kusenge rapang pallanggana meriangnge, paccolli loloangngi aju marakko, naiyya tettong batang lame. Artinya : Kurindukan seorang sahabat yang sehati, penyemangat hidup dan jujur bersahaja

GALIGO HARI INI (6)
Iyyami rimarussakmu meleppang mamminaga rimase-maseta. Tirono libukkeng lejjano tana tedde mulainni alemu. Artinya, Kala engkau susah tak sejenakpun engkau jauh dari kami, kala engkau mulia tak sejenakpun engkau dekat dengan kami.

GALIGO HARI INI (7) :
Atutuiwi anngolona atimmu; aja' muammanasaianngi ri ja'e padammu rupa tau nasaba' mattentui iko matti' nareweki ja'na apa' riturungenngi ritu gau' madecennge riati maja'e nade'sa nariturungeng ati madecennge ri gau' maja'e. Naiya tau maja' kaleng atie lettu' rimonri ja'na.

GALIGO HARI INI (8) : oleh SUWANDI MARDAN ;
Naiya indo' tauwe, manyamekkininnawai temmappasilaingeng. Rioloi napatiroang, ritengngai naparaga-raga, rimunriwi napaampiri. Artinya : sesungguhnya pemimpin itu adalah orang yang senantiasa tidak emosional dan tidak diskriminatif. Didepan ia menjadi teladan atau sumber inspirasi, ditengah ia membangkitkan semangat atau sebagai motivator, dan dibelakang ia mengawasi atau membimbing.

GALIGO HARI INI (9) menjawab pertanyaan ADINK CANRAWINATA : ada ga galigo seorang pemengembara merindukan kekasih hati yang jauh d'mato tp dekat d'hati...?
Idi' are'ga, iyya are'ga mallimbang ri mannippi tajengnga ri sewong Artinya : Engkau atau saya yang duluan meninggal, maka kita saling menunggu di Akhirat

Read more ...

USAHA INSPIRATIF : Khilya, desainer etnik baju Bodo’


Apakah anda termasuk perempuan yang senang memakai baju Bodo? Jika tidak, mungkin karena anda tidak senang dengan desainnya yang terkesan kaku, hanya berbentuk baju kurung gombrong. Lalu, pernahkan anda mendengar atau melihat busana adat Bajo bodo  yang didesain dengan tema “the pride of Tosora”, “Gelombang Losari”, “Sudut Walasuji”, “Gempita Mappalili”? Jika belum, bersiaplah untuk menikmati dan memilikinya.

Sayang, desain busana semacam ini tidak terdapat di tanah Sulawesi. Bumi tempat lahirnya Baju Bodo. Desain baju dengan sentuhan kontemporer tersebut kini hadir di Yogyakarta. Pelakunya, juga bukan orang Sulawesi atau keturunan Sulawesi. Ia hanyalah seorang desainer pemula lulusan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akhir tahun 2011 ini. Terbilang muda (22 Tahun), Khilyatus Sa’adah sudah berani menentukan jalur terhadap model dan corak desainnya, yakni etnik kontemporer. Meski belum 100 persen memilih jalur etnik nusantara, namun segmentasi desain dan pasar yang dipilih Khilya patut diacungi jempol.

Ketertarikannya pada desain busana etnik bermula saat menjadi ketua panitia sekaligus sebagai peserta pada Fashion Show c kala itu semua busana yang ditampilkan adalah busana evening dengan inpirasi dari berbagai kekayaan budaya Nusantara. Maka tampillah desain etnik dengan tema Mabbusuang Manu, The Bodo Bugis, Mappalili of Bodoa, The Excotic of Nyale. perkenalannya dengan komunitas pegiat budaya dan seni Sul-Sel yang digawangi para Mahasiswa asal Sul-Sel makin menambah ketertarikannya untuk terus mendesain busana bertema etnik budaya nusantara khususnya Bugis-Makassar.

Saat ditemui oleh Inspirasi Usaha dirumahnya yang sekaligus Ruang Pajang dan bengkel kerjanya, gadis berperawakan kecil ini sedang menyelesaikan salah satu karyanya “The Pride Of Saoraja”, pesanan seorang Mahasiswa Pasca Sarjana UGM asal Sul-Sel di Yogyakarta. Untuk membuat desain ini, Khilya harus membaca beberapa literatur budaya tentang budaya Bugis khususnya arsitektur rumah Saoraja, rumah adat Bugis.

Inspirasi dan desain dari etnik lainnya dapat diperolah Khilya dengan cara rajin menyambangi pementasan seni di Yogyakarta. Hal ini mungkin, mengingat setiap sebulan sekali dipastikan ada pementasan seni daerah di Yogyakarta seperti International Etnic Culture Festival, Karnaval Malioboro, Jogja Festival, Festival Nusantara dan beberapa festival lainnya. Biasanya tiap festival selalu ada penampilan tari dari berbagai daerah lengkap dengan busana adat masing-masing. Dari sanalah Khilya mendapatkan Inspirasi.

Satu desain busana membutuhkan modal awal sekitar 800 ribu, termasuk bahan baju bodo, payet, asesoris lainnya belum termasuk ongkos jahit. Harga yang di tentukan tergantung kerumitan desain Khilya ataupun dapat menyesuaikan anggaran dana yang ada dari konsumen.

Untuk memasarkan karyanya, Khilya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut. “Biasanya konsumen saya akan cerita ke teman-temannya yang lain”, jelas Khilya. Selain itu ia juga menjalin kerjasama dengan para jaringan reseller-nya yang banyak mengandalkan model jualan on-line. Diluar musim wisuda, Khilya menyiasatinya dengan membuat Mukena dan pakaian khusus untuk anak dibawah 12 tahun. Produksi model ini sudah ada pembeli grosir tetap, tapi margin keuntungannya sangat tipis mengingat persaingan pada produk ini sangat banyak.

Kendala terbesar yang harus dihadapi oleh Khilya adalah pasokan bahan baku dan permodalan serta SDM yang berkualitas. Konsumen lebih memilih bahan dari bahan kain tenun dibanding buatan pabrik berupa tekstil, meski harganya lebih mahal. Saat ini pasokan kain tenun di Indonesia makin berkurang. Kalaupun ada jumlah sangat terbatas dan mahal, saat ini Khilya mengandalkan pasokan kain tenun dari Troso Jepara. Khilya dapat dihubungi di nomor ponsel 085-641-710-370

Ilustrasi Bisnis ( Per Satu Desain )


Bahan Atasan
Rp. 300.000,-

Bahan Bawahan
Rp. 200.000,-

Bordir dan Payet
Rp. 100.000,-

Biaya Operasional
Rp. 200.000,-

Sub Total

Rp. 800.000,-



Harga Jual Busana

Rp. 1.500.000,-
Keuntungan  Bersih

Rp.    700.000,-


FOTO : Koleksi “Folkloric Nusantara”,
Read more ...