JOURNEY! KUBUTUH SELERA KAMPUNG

Written By SURYADIN LAODDANG on Senin, 23 April 2012 | Senin, April 23, 2012


Seorang rekan bertanya “Din, kenapa gak beli novel 5 menara?”.
Ringkas saya menjawab "saya tidak mau lagi kecewa seperti kecewaku pada Laskar Pelangi".

Siapa yang tidak kenal novel Tetralogi Laskar Pelangi, saya termasuk salah satu penggemarnya. Tapi, itu hanya berlaku pada novel pertamanya. Hanya pada Laskar Pelangi, tidak pada Sang Pemimpi, Edensor dan Maryama Karpov.

Bagi saya, cerita dengan latar alam dan dinamika nusantara jauh lebih seksi untuk dinikmati. Jauh lebih ampuh membawaku masuk dalam dunia novel itu sendiri. Pada Laskar Pelangi, saya seolah dibawah berlari pada jejeran batuan besar dan hamparan ilalang, saya dibawah menertawai diri sendiri lewat sosok Mahar yang mengakali temannya untuk mahakaryanya, pada tarian berkalung buah enau. Itu nyata dan dapat dengan mudah saya gambarkan dalam benak baca saya. Itu sangat mengasikkan dibanding ketika saya diajak membayangkan negeri gandum Eropa atau negeri Timur Tengah dalam Novel Ayat-Ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih.

Itupula alasan kenapa saya sangat menikmati membaca roman Siti Nurbaya dan Sensara Membawa Nikmat dibanding Tenggelamnya Kapal Van Der Vick dan Di Bawah Lindungan Kabbah. Termasuk saya sangat menikmati membaca Kun Fayakun-nya Andi Bombang dibanding Madre-nya Dewi Lestari.

Boleh jadi ini persoalan selera, selera membaca novel dengan cerita kampungan yang saya miliki. Tapi, ingat! Saya adalah pembaca, saya punya kuasa menampik atau mengamit novel yang saya sukai, saya punya hak untuk dipuaskan. Kalau itu dianggap udik dan tidak mengikuti trend, itu hak proregatif saya. Egois.

Lagi latahkah penulis karya sastra (baca : Novel) kita? Maaf saya tidak pada tempat dan kedudukan yang layak untuk menjawabnya.

Saat saya membaca Journey-nya Athe’ Lathief, saya sangat menikmati ketika membaca masa kecil Ursa dengan ritual mengaji dan main bolanya hingga pada kekaguman Ursa pada “Ibnu Sina”-nya. Ketika mulai bercerita tentang Rumania, Amsterdam, Ultrech, maka sudahlah. Gairah menjadi hambar. Berbeda dengan Journey-nya Mhimi Nurhaeda dengan setting Makassarnya, ini lebih membumi bagi benak baca saya. Meski aroma negeri luar tetap ada sebagai bumbu. 

Jujur saya akui, saya juga mati rasa kala Shea banyak menggambarkan perasaannya lewat lagu-lagu “bule”. Familiar bagi penulis, tidak bagi pembaca. Andai perasaan Shea digambarkan lewat lagu “Alosi Ripolo Dua” atau “Engkalingani Daengku” milik Tenri Ukke, pasti menggairahkan. Para penikmat pete-pete di Makassar-pun pasti akan merasakan dirinya ada dalam novel ini. Beruntunglah Shea masih mau berbagi kekagumanya pada kota bukit, kota Toli-Toli. Seolah membawa saya menikmati indahnya alam Bulu Dua di perbatan Kabupaten Barru dan Soppeng, Sulawesi Selatan.

Sayang, akhir cerita cinta Shea dapat dengan mudah kutebak. Berbeda dengan akhir cerita cinta Ursa yang belum juga kutemukan, meski telah kubaca dua kali.

Selamat buat Athe’ dan Mhimi. Nongolnya Novel ini adalah sebuah Journey, perjalan yang berliku, banyak onaknya banyak juga kayu manisnya, semua itu terekam lewat pesan singkat yang juga mengalami journey dari Makassar dan Jogjakarta, pulang pergi. Terima kasih atas dua buku si Journey-nya.

Maaf atas sok tau’ku ini, semoga foto kemanakanta (dengan kualitas parah karena kameraku rusak) plus Journey diatas mampu mewakili hiba maafku.  
==============================
Batas Timur Perkotaan Yogyakarta, 5 Maret 2012
Saya yang lagi butuh NOVEL SELERA KAMPUNG

Senin, April 23, 2012 | 2 comments | Read More

Kartini, Mpo Jamileh, Ge' Sukerti, Teh Titin, Indo Tang

Written By SURYADIN LAODDANG on Sabtu, 21 April 2012 | Sabtu, April 21, 2012




Orang bilang, hari ini hari Kartini

Ya...
Hari ini hari Kartini
Juga Hari Mpo' Jamileh, Ge' Sukerti, Teh Titin, juga Indo Tang

Hari ini, hari dimana ada perempuan yang banyak membantuku, ada perempuan yang mendukungku, ada perempuan yang menantiku, ada perempuan yang menginspirasiku, ada perempuan yang terinspirasi padaku, ada perempuan yang membuatku jatuh cinta, ada perempuan yang jatuh cinta padaku. Ada perempuan yang mengharapku kembali ke pangkuannya, ada perempuan yang kuharapkan hadir di pangkuanku.

Hari ini ada perempuan yang mengharapku pulang kampung, ada juga perempuan yang kuharap tinggalkan kampung halamannya dan bersamaku di sini. Ada perempuan yang menatapku dari jauh, ada juga perempuan yang tak mampu kutatap meski hanya sepelemparan pandangan dari mataku.
Sabtu, April 21, 2012 | 0 comments | Read More

UNTUNG BISNIS SOSIS SEHAT, SEHARUM AROMANYA

Written By SURYADIN LAODDANG on Kamis, 19 April 2012 | Kamis, April 19, 2012

Sosialita, identik dengan kaum royal yang hobi foya-foya. Tapi kesan itu tidak berlaku untuk dua ibu cantik ini, paras keduanya ayu, pakain berkelas, dandanan juga berkelas. Tapi siapa sangka jika tampilan ciamik itu ternyata mereka ada ibu rumah tangga yang punya usaha sampingan yang menjajikan. Berawal dari kesamaan nasib mereka, sebagai ibu “tukang jemput” anak pulang sekolah, disela waktu menunggu itu mereka selalu berbagi cerita tentang anak-anaknya termasuk kebiasaan anaknya yang alergi jika mengkonsumsi sosis pasaran, baik yang buatan home industri ataupun pabrikan. Putra Ibu Ade misalnya langsung muntah jika mengkomsumsi sosis, sementara anak Ibu Rima mengalami alergi pada kulitnya, keluar bintil-bintil merah yang disertai rasa gatal. Prihatin dan sedih itulah yang memicu rasa keibuan dua ibu ini, akhirnya mereka berkomitmen mencari makananan olahan sosis yang sehat. Ibu Ade, perempuan Sunda inilah yang pertama kali menemukannya, menumukan sosis yang sehat, tanpa pengawet. Tak pelak anaknya yang tadinya alergi sosisi kini menjadi keranjingan sosis.

Berita baik ini selanjutnya disampaikan ke sahabatnya, ibu Rima. Secara rutin kedua ibu ini rajin membekali anak-anak mereka dengan sosis sehat untuk dibawa ke sekolah mereka, tak jarang pula sosis tersebut dijadikan hadiah ulang tahun bagi teman-teman sekolah dan sepermainan anaknya. Semua menyambut baik, beberapa ibu lainnya juga minta dibelikan sosis-sosis tersebut, dari yang hanya coba-coba akhirnya rutin memesan ke ibu Ade ataupun ibu Rima. Jika sebelumnya kedua ibu ini hanya menyotok buat anak-anak mereka, kini mereka direpotkan dengan melayani pesanan sejawat mereka, sesama “tukang jemput anak”. Bu Ade akhirnya kadang kewalahan melayani pesanan tersebut, “Akhirnya kami memutuskan, kenapa gak buat kedai sosis sekalian” tutur pemilik nama lengkap Ade Yuliana ini. Sejak tahun 2008 kedua sosialita bersahabat ini masing-masing membeli mesin pendingin (Freezer) untuk menyimpan stock sosis yang akan dijual kembali, mobil tongkorongan mereka disulap jadi toko berjalan, dibagasi mobilnya disiapkan stereoform sebagai tempat penyimpanan sosis, mengingat sosis ini hanya tahan diruang terbuka selama 22 jam dengan masa kadaluarsa 9 bulan.

Bermodalkan mobil dan kotak stereoform tersebut, kedua ibu ini kemana-mana mempromosikan sosis sehat mereka. Tidak hanya di sekolahan anaknya, sosis ini juga ditawarkan pula di tempat senam mereka, tempat yoga, tempat pengajian, bahkan mereka tak sungkan menyambangi tempat-tempat arisan ibu-ibu lainnya. Pesananan pun terus meningkat, kotak frezer mereka tak mampu lagi menampung. Ibu Rima mengusulkan agar segera membuka outlet saja, agar bisa menampung banyak stock sosis lagi dan pembeli juga bisa datang langsung untuk memilih dan berbelanja. “Namuun, ternyata konsumen kita rata-rata memiliki kendala waktu, mereka lebih senang pesan dan minta diantarkan. Ya, demi memuaskan konsumen, kami pun melayani itu” cerita ibu Rimananda Dwi Astika, ibu dari tiga anak ini.

Mengusung pesan outlet makanan sehat tanpa MSG, tanpa bahan pengawet, tanpa pewarna, tanpa tepung dan bersertifikat Halal dari MUI, DEPKES RI serta Hazar Analysis Critical Control Point (HCCP), Outlet sosis sehat yang bertempat di Jalan Magelang KM.3 Karangwaru Lor TR II/218 Yogyakarta buka dari jam 10.00 – 19.00 WIB. Dibuka pada tahun 2010, kini outlet ini telah memiliki empat mesin freezer, pembeli yang datang ke outlet juga dapat menikmati sosis bakar dan bisa dibakar sendiri. Sebelum dibakar, sosis direndam air hangat dulu untuk menghilangkan kadar bekunya, setelah itu sosis diletakkan diatas oven atau pemanggang, tidak diperlukan lagi minyak atau mentega. Kandungan bahan baku alami sosis ini sudah mengandung minyak sayur organik dan sehat.

Saat bertandang, Inspirasi Usaha dijamu sajin sosis bakar yang dari aroma saja sudah mengundang selera. Aroma yang tercium adalah aroma ayam atau itik bakar yang sering dinikmati oleh Inspirasi Usaha saat berkemah di alam terbuka, itik atau ayam segar yang baru saja dipotong langsung dibakar tanpa bumbu apapun, dibakar hingga lemaknya menetes ke perapian dan melahirkan aroma lezat. Seperti itulah kelezatan sosis bakar jenis Beef Bockwurst yang disajikan siang itu. Nikmat tiada banding, apalagi pembungkus sosis tersebut adalah olahan dari rumput laut, bukan tepung seperti sosis lain pada umumnya. Satu bungkus sosis jenis ini dibandrol dengan harga Rp. 48.000,-, (berat 400gr, isi 7 Pcs), jika dijual satuan dalam kondisi telah dibakar maka dipatok harga Rp. 10.000,-. Sepintas untungnya sudah bisa dihitung, 1 bungkus bisa untung Rp. 22.000,-. Seperti diceritakan oleh ibu Rima, dalam berbagai event yang diikuti oleh sosis sehat setiap event bisa mendapatkan omzet rata-rata Rp. 3.000.000 per event. “Kalau mau rutin, setiap bulan setidaknya 4 event bisa saja kami dapatkan. Namun kondisi kami sebagai ibu rumah tangga tak memungkinkan untuk itu”, keluh ibu cantik lulusan Universitas Islam Indonesia ini.






Otlet makanan sehat milik bu Rima dan Ade ini juga menyediakan produk sehat lainnya seperti Bakso Sapi, Chicke Nugget, Edamane, Kaldu Ayam/Sapi Non MSG, Kani Roll, berbagai jenis sosis daging dan sayuran, French Fries, Rollade, dll. Memulai usaha ini tidak harus dengan membuka outlet, anda cukup membeli satu mesin panggang seharga Rp. 300.000,- , lalu bukalah gerai kaki lima ditempat keramaian. Modal lainnya cukup beli 10 pack sosis seharga @ Rp. 48.000. Maka anda sudah dapat keuntungan kotor Rp. 220.000/hari. Jika anda juga tertarik membuka outle sosis sehat ditempat anda, segera hubungi (0274) 519002, 081392150294, 08174111296 (Ibu Rima / Ibu Ade ).

ILUSTRASI BISNIS

Belanja Modal


Satu mesin Freezer Rp. 2.000.000,-


Belanja Stock Sosis Rp. 1.000.000,-


Mesin Panggang Rp. 300.000,-


Sewa Tempat Rp. 5.000.000,-


TOTAL BELANJA MODAL Rp. 8.300.000,-






Belanja BULANAN


Plastik Kresek (30 Pax x Rp. 12.000,-) Rp. 360.000,-


Biaya Listrik dan Telpon Rp. 500.000,-


Gaji Karyawan (2 Orang x @Rp. 500.000,-) Rp. 1.000.000,-


TOTAL BELANJA Rp. 1.860.000,-






PEMASUKan BULANAN


Jika asumsi pemasukan perhari untuk penjualan sosis bakar perhari adalah minimal 10 bungkus dengan keuntungan perbungkusnya adalah Rp. 22.000,- x 30 hari. Maka total keuntungan adalah


Rp. 6.600.000,-






KEUNTUNGAN


Pemasukan – Belanja Bulanan


( Rp. 3.300.000,- - Rp. 1.860.000,-) Rp. 1.440.000,-






MASA BALIK MODAL


Belanja Modal / Keuntungan


( Rp. 8.300.000,- - Rp. 1.440.000,-) 6 Bulan






Kamis, April 19, 2012 | 0 comments | Read More

DARI ACEH KE JOGJA, MEMBACA HARU PADA GOYANGAN GEMPA

Written By SURYADIN LAODDANG on Jumat, 13 April 2012 | Jumat, April 13, 2012


DARI ACEH KE JOGJA,
MEMBACA HARU PADA GOYANGAN GEMPA


Menyebut Aceh, kita akan teringat tiga hal yakni GAM, TSUNAMI dan SERAMBI MEKKAH. Setidaknya dalam benak kita. Suka tidak suka, mau tidak mau atau bakan diterima atau tidak diterima, Aceh memang identik dengan 3 hal tersebut. Berbeda dengan identitas ketiga yang bernada menyenangkan juga membanggakan, dua identitas awal yakni GAM dan tsunami banyak meninggalkan kenangan buruk bahkan trauma berkempanjangan, teruma kata gempa. Setiap menyebut atau mendengar kata tsunami, maka Aceh pasti terlintas dalam benak kita.  Muncullah banyangan kengerian, ketakutan, kematian bahkan kebinasaan. Gulungan air bah berwarna hitam yang bergelombang dan tak kenal penghalang memicu ketakutan. Jejeran jenazah korban yang masih juga ditemui hingga beberapa minggu setelah kejadian kian melengkapi rasa getir bagi yang melihatnya. Bukan hanya bagi korban selamat atau para relawan tapi juga bagi para “penikmat” berita bencana tersebut lewat belasan media kala itu.

Ketika potensi tsunami itu kembali menyapa pada hari ini (11 April 2012), maka kenangan akan peristiwa 8 tahun lalu itu muncul kembali. Melahirkan kepanikan, rasa was-was, bahkan sindrom traumatik akut (bagi sebagian orang). Bagi penulis, rasa was-was itulah yang muncul tatkala mendapat kabar tentang gempa berkekuatan 8,9 SR (Geofon Gfz Postdam Jerman), 8,7 SR (USGS Amerika), 8,5 (BMKG Indonesia) yang dirasakan belasan negara sekitar laut cina selatan. Gempa terjadi pada pukul 15:38:33 WIB dengan lokasi :2.40 lintang utara , 92.99 bujur timur, kedalaman 10Km. Rasa was-was paling mendalam yang saya rasakan adalah ketakutan jika gempa ini merembet hingga ke Yogyakarta. Bukankah, gempa  Jogja (27 Mei 2006)  adalah bagian dari rentetan panjang gempa Aceh.

Kegerian yang terpapar saat gempa Jogja lalu masih terekam jelas dalam benak saya. Hari itu, Jogja baru saja memulai kesibukannya, saat jarum jam menunjuk 05.45. Hidupku terasa di atas tampah, ibarat bulir padi yang diayak ke kanan dan ke kiri. Tanah dan segala yang ada diatas seolah diayung lalu dihempaskan sekeras-kerasnya. Gempa tektonik berkekuatan 5,9 SR itu merubah wajah Yogyakarta dalam kedipan mata. Dari kota yang sibuk dengan dinamikan pendidikan, seni dan budayanya berubah menjadi kota yang sepi, suram, penuh jerit tangis, ratap iba dan orang-orang menjura minta ampun, berharap belas kasih dan Sang Khaliq. Tanah merekah dan menutup kembali, jalan raya ibarat tikar yang disentakkan, tiba-tiba bergelombang naik, lalu turun kembali membentuk cekungan dan secepat kilat naik kembali. Setelahnya hidup terasa beku,  bahkan burung tak lagi terdengar kicaunya.

Selang beberapa menit kemudian, Jogja berubah menjadi caos. Tak terkendali, semua bergerak tanpa akal sehat, hilur mudik tak tentu arah. Isu tsunami membuat mereka yang selamat hidup dari gempa berganti panik. Korban kembali bertambah, di perempatan Ngipik Bangutapan Bantul tepat didepan mata penulis dua motor melaju dari arah berbeda dan bertabrakan, dua pengendara tewas seketika, itu baru dua, belum ditempat lain, dengan penyebab dan cerita yang berbeda. Kepanikan akibat isu tsunami bertambah dengan isu meletusnya Gunung Merapi, yang memang telah status waspada beberapa hari sebelumnya. Masyarakat panik dari arah selatan karena isu tsanami berpapasan dengan masyarakat panik dari arah utara karena isu erupsi merapi. Hati siapa tak tercekam?

Belajar dari gempa Jogja dan Aceh

            Senada dengan ulasan editorial Metro TV hari ini, penulis juga melihat Indonesia (baca: kita) ternyata belum banyak belajar dari gempa-gempa yang silih berganti menyapa daratan Indonesia. Meski masyarakat kita telah tanggap dan waspada dalam menghadapi bencana tapi instrumen pendukung belumlah maksimal. Selain sirine peringatan tsunami yang belum maksimal, ternyata kita belum juga sigap dalam menyiapkan instrumen tanggap darurat. Di Yogyakarta misalnya rambu petunjuk jalur evakuasi belum sepenuhnya tersedia, runyamnya ini justru terjadi di daerah perkotaan yang padat penduduk. Kalah dengan daerah perkampungan/desa yang justru lebih siap dan jelas rambu-rambunya.


Karena sudah dianggap berlalu, pelatihan tanggap darurat dan latihan evakuasi sudah mulai jarang dilakukan, baik di Yogyakarta maupun di daerah lainnya. Terutama di gedung perkantoran, kampus, sekolah dan pusat keramaian lainnya, bahkan masih banyak diantara gedung-gedung tersebut yang tidak memasang petunjuk jalur evakuasi dan pintu/tangga darurat. Tak hanya latihan tanggap darurat yang kurang, petunjuk tertulis tehnik evakuasi dan penyelamatanpun juga jarang ditemui. Ironis! Belum lagi kotak peralatan P3K juga jarang ditemui atau tidak ditempatkan ditempat yang mudah dilihat dan gampang dijangkau.

Sepengamatan penulis di Yogyakarta, belum ditemui adanya instrumen pipa jalur selamat. Pipa yang seharusnya dipasang menjulang pada bangunan bertingkat, dimana penghuninya dapat prosotan hingga lantai bawah yang telah ditentukan sebagai tempat berkumpul (assembly point). Pipa penyelamat ini akan mengurangi potensi korban, terutama saat mereka berdasakan ingin memakai tangga darurat, bukankah tangga merupakan struktur yang paling gampang rubuh saat gempa. Selain itu masih juga belum banyak dipersiapkan meja atau jenis mebel lainnya yang kokoh sebagai tempat perlindungan sementara saat gempa datang.


Akankah kita diam? Saya menjawab tidak! Saya akan lakukan yang terbaik demi menyelamatkan orang-orang di sekeliling saya dari potensi bahaya. Minimal di rumah dan di tempat kerja saya.

Catatan :
Foto 1 :
ada-ada-aja-deh.blogspot.com
Foto 2 : mixxpdf.com
Jumat, April 13, 2012 | 0 comments | Read More