Selasa, 19 Februari 2013

Mahasiswa; Budayata, Pesta Mahasiswa Makassar di Malang

Standard

Malam itu 28 April di Cafe Budaya, mahasiswa benar-benar berpesta. Pesta Budaya. Hari ini tepatnya malam minggu, setelah berlatih selama berminggu-minggu, mahasiswa IKAMI SULSEL cabang Malang telah berhasil mementaskan semua yang telah dipersiapkan sejak dini. Dari sejak siang, acara sudah padat, presentasi dan diskusi budaya oleh Kanda Suryadin Laoddang dan Ahmad Husain atau Cheng Prudjung. Presentasi mereka memaparkan tentang Passompe atau bisa dibilang perantau, dari tanah SULSEL menuju ke berbagai daerah di luar SULSEL.

Audience cukup beragam. Ada yang datang dari keluarga KKSS, anggota IKAMI itu sendiri dan juga dari komunitas pasca. IKAMI SULSEL cabang Surabaya dan Bogor juga berkesempatan hadir. Banyak bapak dan ibu dari KKSS datang membawa keluarganya, anak-anak yang pulang dari sekolah diajak ke venue festival budaya. Dan kegiatan presentasi sore itu semakin terasa uniknya karena venue kedatangan Daeng Rudi yang terkenal dengan warung Makassarnya, beliau hadir membawa warungnya. Tak ayal banyak keluarga yang memesan dan menikmati coto Makassar. Juga ada penganan-penganan khas SULSEL yang lain yang disediakan oleh panitia untuk menggembirakan dan membawa para audience ke alam Sulawesi. Ada es pisang ijo, es palu butung, coto Makassar, burasa, klepon, talam dan kue-kue super manis yang tersedia dalam wadah dan tutup khas Sulawesi. Semua tamu mengikuti kegiatan diskusi dengan Kanda Suryadin Laoddang dan Ahmad Husain dengan menikmati Coto dan jajanan khas SULSEL, benar-benar serasa di SULSEL kata mereka. Bahkan ada yang mengatakan serasa di Pantai Losari.

Gayeng suasana dengan tema makalah Passompe, teman-teman dari komunitas pasca yang banyak berinteraksi dengan presenter. Ada juga ibu-ibu keluarga KKSS yang hadir disana termangu-mangu. Kemungkinan mereka adalah PERSIJA, seperti yang diungkapkan oleh kanda Suryadin Laoddang, PERSIJA berarti persatuan istri jawa. Diungkapkannya hal ini dalam seminar membuat para bunda disana yan notabene anggota PERSIJA ini tersenyum. Bahkan banyak diantara keluarga KKSS dan komunitas pasca adalah PERSIJA juga. Seperti contoh istri bapak Ilham Daeng Salle adalah seorang dokter asal Banyumas, istri kanda Suryadin juga asal Yogyakarta, perawat. Ketua KKSS pun begitu. Sehingga saat disebut istilah ini semua pada lirak-lirik sendiri-sendiri tanpa kedip.

Sambil menikmati hidangan coto Makassar dan Sup Ubi, dialog semakin ramai dengan disinggungnya ungkapan Makassar itu kasar kemudian sempat disebut juga teman-teman yang suka berkelompok dalam komunitas SULSEL yang tidak membaur akibat kesulitan berakulturasi. Namun dengan paparan-paparan Suryadin Laoddang, semua mengangguk dan salut. Pengalaman-pengalaman bersosialisasi dengan orang Jawa sangat kuat, hingga adanya perbedaan-perbedaan tersebut bisa kita tepiskan. Satu kisah yang dilontarkan oleh Suryadin, bahkan meskipun ditangkap polisipun, salah satu member IKAMI di Yogyakarta, dia tidak akan langsung campur tangan untuk membantu. Sampai-sampai orangtuanyapun menelpon dari Makassar. Ini karena si mahasiswa tersangkut narkoba. Wakapolda Jateng yang notabene orang Makassar menyerahkan semua kepada KKSS bagaimana nasib anak ini. Kemungkinan untuk meringankan hukuman mungkin bisa dilakukan dengan alasan mahasiswa ini masih dalam masa studi.

Seorang bapak dari komunitas pasca, Mursalim Nohong sempat mengungkapkan kekecewaanya saat dibilang orang Makassar itu kasar. Acapkali ditanya, bapak orang Makassar yah? Dengan tegas dia jawab, tidak saya orang Bugis! Aha jawaban yang sangat keren, apalagi kalau yang tanya bloon tidak tau apa itu Makassar. Ini pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan 4 kata kukira. Kalau tidak mendalami sejarah dan budaya SULSEL secara utuh, pasti yang orang tau hanya Makassar saja. Dan yang mereka tau Makassar itu kasar.

Hal ini kemudian diklarifikasi oleh Suryadin dan Ahmadi Husain bahwa kata Makassar ada dua huruf s di dalamnya. Artinya beda dengan kata kasar yang huruf s nya hanya satu. Saya akan beri nilai E bagi kalian yang mengatakan ‘kassar’ dan ‘kasar’ itu sama. Semua mengangguk tanda setuju. Lagi kemudian kata Suryadin, bahwa kata Makassar diambil dari bahasa Portugis yaitu dari kata ‘ma’ yang artinya orang dan ‘cassart’ yang artinya hitam berkilap. Atau bisa dikatakan orang yang berkulit mengkilap. Sedangkan Ahmad Husain menjabarkan kata Makassar dari sebuah kisah, konon Rasulullah SAW pernah memunculkan diri di Makassar, sehingga ada ungkapan “mengkassara’” yang menjadikan kata Makassar tersebut muncul.

Suryadin memang benar-benar budayawan sejati, hingga sangat tidak salah IKAMI mengundang beliau ke festival budaya. Di sela-sela kegiatannya yang cukup padat, suara hp tak kunjung berhenti. Segala macam logat bahkan bahasa dia ucapkan. Rupanya ada rencana akan membeli sebuah rumah di kota Yogyakarta. Pemilik rumah yang asli dari kota gudeg ini menelpon dengan bahasa Jawa. Dan apa jawabnya?

Ternyata bahasa Jawa juga!

Wowow..benar-benar great!

Sebelum sampai di kota Malang, beliau juga baru saja meninggalkan kegiatan pemilihan Kakang dan Mbakyu Yogyakarta sebagai juri disana. Tak lama setelah hp ditutup, berdering lagi nada panggil hp beliau. Nah yang ini adalah bahasa Bugis, seseorang meminta untuk dibuatkan passport bagi putranya yang lagi mondok di Yogyakarta. Ternyata telpon dari Wabup Wajo!


Fiuh, what a channel!

Malam pun bergerak, menjelang pukul 7 acara pentas senipun dimulai. Dimulai dari pasinrilik Daeng Jamal Gentayangan dan Sandro, mahasiswa penggemar motor vespa ini menduduki panggung kecil di tengah-tengah penonton. Panggung yang dibuat cukup tinggi ini adalah tempat Sandro dan Daeng Jamal duduk untuk saling pasinrilik. Sebagai host dari acara ini, seni budaya dikemas menarik karena MC nya berbicara dalam format pasinrilik. Saya yang ternganga saja mendengar mereka dari awal sampai akhir hanya ikut-ikutan tertawa. Tapi apabila memahami konteks secara keseluruhan benar-benar saya nikmati kegayengan yang sangat jarang dan untuk pertama kali saya dengar.

Dimulai dari nyanyi lagu-lagu khas, Ininawa dll, kemudian puisi ‘Sukmaku di Tanah Makassar’, drama manguru’ dan goalnya adalah tari 4, etnis yang sangat ditunggu-tunggu. Decak kagum dari teman-teman komunitas pasca yang duduk mepet dekat stage yang tidak terlalu tinggi. Mereka betul-betul menikmati pertunjukan disela-sela kegiatan kuliahnya yang menyita. Maka hiburan khas dari tanah SULSEL inilah obatnya, sebagai pelipur lara. Bapak Zainuddin, seorang mahasiswa S3 yang sudah cukup sepuh, menyempatkan hadir dan sepertinya beliau sangat menikmati acara dari sejak awal seminar sampai acara berakhir jam 9.

Berbagai macam bentuk dan ukuran kamera terlihat aktif dan menyala. Tak satupun event terlewatkan. Semua mengangkat tangannya tidak ingin terlewatkan satu item pun. Tak terkecuali denganku, camera Canon A480 ku yang supermini tak habis-habis kuangkat sampai tangan pegel. Bahkan tari 4 etnis pun ku rela rekam dengan video kamera sakuku. Hmm rasanya tak habis-habis ingin kerekam semua. Tangan ini yang tak sanggup jadi trimpot hidup. Harusnya punya satu trimpot yang bisa dipakai untuk shoot yang lama. Owalahhhh!

Pertunjukan masih banyak menunggu, kadang ada yang akhirnya tak bisa kurekam baik di kameraku maupun di otakku. Mungkin perbedaan bahasa yang membuat kadang masih bingung. Namun secara keseluruhan sangat menikmati. Pertunjukan yang praktis hanya 1,5 jam itu diakhiri dengan acara narsis mahasiswa yang gila foto-foto. Acara ini bahkan lebih lama dari acara pertunjukannya.


Astagah!

Dan cape lelah telah terbayarkan dengan suksesnya kegiatan festival budaya SULSEL, oleh IKAMI SULSEL cabang Malang. Beberapa masih tiduran sampai pagi di venue, menjaga dan mengemas barang-barang di cafe.

Sayonara dan see you again di Festival Anging Mamiri Desember 2012, kembali oleh IKAMI SULSEL cabang Malang. Amanat telah diberikan.




Bravo!




Sumber : http://linguafranca.info/2012/04/29/pesta-mahasiswa/

Penulis : Ika Farikha Hentihu

Pemuda Harapan Bangsa : Agen Perubahaan Pembangunan Kebudayaan

Standard
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menyatakan pentingnya pemuda dalam membangun visi, langkah bersama dan terpadu dalam memperkuat posisi kebudayaan sebagai panglima dalam pembangunan Indonesia baru ini.

"Untuk itu, pemuda harus menjadi pilar dan agen pembangunan bidang kebudayaan yang kreatif, handal dan memiliki integritas dalam memajukan peradaban bangsa Indonesia," tutur Agung Laksono saat pembukaan acara membuka Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia(KKPI), di Jakarta, Selasa (7/11/2012) malam. KKPI 2012, kata dia harus menjadi momentum kebangkitan pemuda untuk mengambil peran dalam gerakan kebudayaan, kongres diharapkan menjadi tonggak kebangkitan pemuda dalam pembangunan kebudayaan dan pembangunan bangsa pada umumnya.

Dalam kesempatan yang sama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menyatakan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pemuda yang telah terpilih hadir dalam kesempatan ini, atas segala karya, sumbangsih pemikiran, kepedulian serta perhatian yang diberikan dalam menumbuhkembangkan kebudayaan.

Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia yang digelar pertama kali ini mengusung tema dan semboyan “Indonesia Aku Bangga, Membangun Karakter, Kreativitas dan Solidaritas, berlangsung hingga 9 November 2012 di Hotel Borobudur Jakarta dan beberapa lokasi lainnya.

Kongres akan menghadirkan narasumber-narasumber serta inspirator yang kompeten di bidangnya yakni: Gede Prama, Firmansyah, Sukesti Martono, Arie Soejito, Edo Kondologit, Innayah Wahid, Nila Riwut, Viky Sianipar, Carmanita, Eko Supriyanto, Dinan Fariz, Supadma Rudana, Saptuari Sugiharto, Ario Sagantoro, Didi Kwartanada, Suryadin Laoddang, Johannes Marbun, Hamah Sagrim.

Agenda KKPI akan difasilitasi oleh moderator Charles Bonar Sirait, Yudi Latief, Sinta Ridwan dan Radhar Panca Dahana.

Disamping kegiatan kongres sebagai agenda utama, kegiatan juga dilaksanakan Pameran/gelar karya prestasi pemuda Indonesia, yang menampilkan karya-karya kreatif anak bangsa di berbagai bidang serta pementasan kesenian berupa Konser Tembang Negeriku, sebuah komposisi istimewa persembahan Dwiki Dharmawan dan pentas seni budaya yang melibatkan 63 musisi orkestra, 19 musisi etnik nusantara, 33 paduan suara, 45 penari serta menampilkan soloist Putri Ayu, Michael So’e, Angel Pieters, Wildan Angklung, Jemek Supardi dan Taufik Ismail.

Working group akan dilakukan secara paralel di beberapa museum besar di Jakarta, yaitu; Museum Nasional, Museum Kebangkitan Nasional dan Galleri Nasional guna membahas rencana aksi untuk masing-masing sub tema sekaligus juga mengenalkan kekayaan Indonesia melalui museum sebagai tempat penyelenggaraan kongres.

Dalam agenda ini juga dilaksanakan program lawatan budaya atau cultural visit untuk mengenalkan pemuda-Pemuda Indonesia potensi budaya yang begitu adilihung yang tersaji di kawasan Kota Tua Jakarta. Kunjungan akan diakhiri dengana agenda aksi dan kreativitas pemuda Indonesia di Museum Bank Mandiri.

Untuk menginspirasi pemuda-pemuda Indonesia, KKPI mengagendakan program Nonton Bareng Film Inspiratif. Beberapa film yang ditayangkan adalah Lewat Djam Malam, premier Atambua 390C dan Batas, yang didahului dengan diskusi dengan film maker.

Dalam penutupan diagendakan dapat tergali visi dan networking yang dikukuhkan melalui ikrar budaya pemuda sebagai wujud komitmen pemuda dalam pembangunan kebudayaan Indonesia. (Eko Sutriyanto)

Sumber : http://m.tribunnews.com/2012/11/07/pemuda-agen-perubahaan-pembangunan-kebudayaan
Foto : Koleksi pribadi

Sabtu, 16 Februari 2013

BUKU BUGIS MAKASSAR : WAJO DALAM PERSPEKTIF ARSITEKTUR

Standard
Kembali kami hadirkan profil buku Bugis Makassar yang sangat layak untuk Anda baca. 

SINOPSIS

Kemajuan sebuah kota dapat diukur dari sejauh mana peradaban yang dilalui dan dicapainya. Sebuah kota adalah hamparan sejarah yang terbentang di atas masa lalu, kini dan nanti. Tosora adalah kota dengan garis sejarah yang panjang, antara mitos dan agama, antara kisah kepahlawanan dan pengkhianatan, antara kedamaian dan kesuburan. Antara Sungai Cenrana dan Danau Seppangnge.

Buku Wajo dalam Perspektif Arsitektur adalah petunjuk dan garis perjalanan waktu perkembangan arsitektur yang tumbuh dan maju di Kabupaten Wajo.

DAFTAR ISI 


Sambutan Bupati Wajo
Sambutan Ketua DPRD Kab. Wajo
Sebuah Gagasan 
Menelusuri Sejarah Wajo

TRADISIONAL

  • Taman Miniatur Atakkae
  • Pemukiman Tradisional Belawa
  • Rumah Dg. Masalle
  • Rumah Kampung Arab
  • Lagosi, Riwayatmu dulu
  • Bola Pance’E
  • Rumah Tiang Bulat
  • Pemukiman Tradisional Tosora
KOLONIAL / SEJARAH
  • Bola Cammingnge
  • Rumah Ibadah Katolik
  • Kantor KPU
  • Bola Maccaca’E
  • Saoraja Mallangga
  • Baruga A. Mangkona
  • Pesanggrahan
  • Kantor Dinas Pariwisata
  • Rumah Tahanan Negara
  • Tosora, Ibukota Kerajaan Wajo
  • Wisma Danau Tempe
MODERN
  • Masjid Al-Manar Tempe
  • Kantor Bupati Wajo
  • Bank BNI
  • Masjid Darussalam Belawa
  • Rumah Dinas PUP
  • Kantor Gabungan Dinas-Dinas
  • Masjid Jami’
  • Masjid Nurul Istiqomah
  • Masjid Raya Ummul Quraa
  • Bank Sulsel
ICON
  • Danau Tempe
  • Lapangan Merdeka
  • Pasar Malam
  • Pesantren As’adiyah
  • Permukiman Mengapung
  • Perkampungan Sutera
  • Ruko dari masa ke masa
  • Taman Pesawat

Sebuah Kota Bernama Siengkang
Daftar Pustaka
Terima Kasih Kepada

DATA BUKU

Penulis : Naidah Naing, Muhammad Zaiyani, Muhammad Sudjar Adityadjaja
Penerbit : Pustaka Refleksi
ISBN : 979967322-4

Rabu, 13 Februari 2013

WISATA ; JEJAK BUGIS DI PULAU DEWATA

Standard

Begitu melihat papan penunjuk arah ke Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Denpasar, spontan saya berteriak “Kanan – Kanan”. Sayang, moncong mobil sudah terlalu masuk ke arah selatan, hingga Mas Joko, sang pengemudi, tetap memajukan kendaraannya, tentu untuk mencari lokasi memutar kendaraan kami.

Di sinilah berkah tak terduga tersebut muncul. Di sisi kanan jalan, sebuah papan nama dengan tulisan aksara Lontara Bugis menarik perhatian saya. Seketika saya meminta Mas Joko untuk berhenti, kamera saku langsung saya ambil dari dashboard mobil. Obyek ini tidak boleh saya lewatkan!

Meski tidak sempat menginjakkan kaki di Kampung Bugis, beruntunglah saya memiliki seorang sahabat Aang Ardiansyah, yang juga merupakan Direktur Utama PT Salba Rahim, agen dari Iwata Tours and Travel. Dari kawan inilah saya mendapatkan beberapa catatan perihal masuknya orang Bugis di Bali.

Menurut catatannya, Perjanjian Bongaya pada tahun 1667 yang melarang warga Bugis memiliki kapal berukuran besar, menjadi pemicu banyaknya orang Bugis yang merantau ke Pulau Serangan. Perantau yang datang ke Serangan itu umumnya berasal dari Bugis Wajo, dan ada pula dari Soppeng atau Bone. Pulau Serangan sendiri adalah sebuah pulau kecil yang terpisah dengan daratan Pulau Bali, berjarak sekitar 17 Km arah selatan kota Denpasar. Tahun 1995 dibangunlah sebuah dermaga kecil dan jembatan yang menghubungkan kedua pulau ini.

Karena banyak dihuni oleh perantau Bugis yang kebanyakan beragama Islam, maka pulau ini kemudian dikenal sebagai Kampung Islam Bugis. Konon, kampung ini hanya dibangun 40 orang perantau Bugis yang dipimpin Syeikh Haji Mu’min akibat tak sefaham dengan Belanda sebagai efek dari perjanjian Bongayya.

Awal keberadaan mereka di sana justru dicurigai oleh pihak Kerajaan Badung Bali sebagai mata-mata Belanda. Kecurigaan yang wajar tentunya. Selama ditawan, rombongan ini menunjukkan sikap kebencian mereka terhadap Belanda dan mampu meyakinkan Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan III. Akhirnya, rombongan itu diberi kebebasan tinggal di istana untuk sementara waktu, kemudian mendiami kampung Gelagi Gendong, sebelah barat kerajaan.

Kebiasaan melaut para perantau Bugis itu membuat mereka tak betah menetap di tengah daratan, atas persetujuan Raja Badung yang mengetahui sepenuhnya bahwa perantau Bugis memiliki keahlian di bidang pelayaran, maka mereka diberi tempat di Pulau Serangan yang waktu itu masih berupa hutan.

Haji Mu’min dan pengikutnya membuka pemukiman di bagian selatan Pulau Serangan. Hubungan itu terus terjalin dengan baik dan dikatakan pada waktu Kerajaan Badung merasa terdesak menghadapi Kerajaan Mengwi, satu kerajaan lain di sisi barat kota Denpasar, Raja Badung tidak segan-segan minta bantuan para perantau dari Bugis itu untuk membantu.

Fakta lain mencatat Tahun 1919, C. Lekkerkerker, dalam Bukunya BALI EN LOMBOK, OVERZICHT DER LITERATUUR OMTRENT DEZE EILANDEN TOT EINDE, menyebutkan tahun 1849 (161 tahun lalu) salah satu kerajaan Bali di Jembrana tepatnya di Loloan dipimpin oleh seorang putra Bugis yang gagah berani bernama Anakoda Pattimi. Buku ini disusun berdasarkan pada sebuah Lontar Sejarah Bali.

Kampung seluas 2,5 hektar ini dihuni oleh sekitar 280 warga muslim dan mereka dikeliling perkampungan Hindu, dengan sejumlah pura. Kendati demikian, warga di sini hidup rukun dan dapat menjalankan ibadah maupun aktivitas sehari-hari sebagai nelayan. Aang menambahkan, kampung ini memiliki tradisi unik yang disebut Ngejot, yakni membawa jajanan atau makanan kepada tetangga non-muslim atau sebaliknya.

Adapula tradisi membaca Diba, catatan sejarah kekerabatan Bugis dan Bali setiap selesai shalat Id di Hari Raya Idul Fitri. Tradisi inilah yang memperkuat kerukunan hidup beragama. Dan hingga kini, tradisi tersebut masih dipelihara. Selain pura, di kampung ini terdapat pula Masjid AS-Suhada merupakan saksi sejarah dari perkampungan Islam Bugis di Pulau Serangan. Masjid ini diperkirakan didirikan pada abad ke-17 masehi.

Menurut Andi Udin Sanrasi - Sekretaris Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Bali, hubungan emosional Bugis dan Bali juga ditandai dengan pertalian darah antara Putra Raja Bugis Mamuju yang menikah dengan Putri Raja Badung Bali sehingga lahir Raja Mamuju yang bernama La Salaga Mara’dia ri Mamuju yang hidup pada Abad XVI, bukti otentiknya dapat dilihat di Kerajaan Bugis Mamuju berupa keris Badong peninggalan dari Bali serta kuburan Bali di atas Bukit Kampung Timbu, berjarak 5 Km dari Kota Mamuju, dan pada hari-hari tertentu masyarakat Bali di sekitar Sulawesi Barat melakukan ritual dan persembahyangan di Bukit tersebut.

Akulturasi budaya Bugis tidak hanya terjadi dengan masyarakat lokal, melainkan juga dengan sesama pendatang lainnya. Haji Zainal Tayeb Ketua Umum KKSS Bali menuturkan, di jajaran kepengurusan KKSS Bali ketua Departemen Pariwisata, Ekonomi dan Hubungan Luar Negeri bernama Barry J. Smith adalah seorang berketurunan Australia yang mempersunting gadis dari Sulawesi Selatan bernama Nimmy Ibrahim yang pernah aktif di Sanggar Seni Budaya Batara Gowa Makassar.

Barry J. Smith kemudian menjadi muallaf dengan tambahan nama Ibrahim dan diberi gelar kehormatan Daeng Naba, kini nama lengkapnya adalah Barry J Smith Ibrahim Daeng Naba.

Cerita mengharukan juga datang dari Nicole (30) gadis asal Swiss, yang sengaja datang ke Bali untuk mencari ayahnya Ahmad Ramadhan, seorang Pria Bugis yang menikahi Ibunya pada tahun 1970-an. Sayang, tidak ada yang mampu menunjukkan keberadaan ayah Nicole.

Tanda-tanda pertemuan saya dengan komunitas Bugis di Bali sudah muncul jauh sebelumnya. Enam puluh kilometer sebelum memasuki kota Denpasar, di daerah Sempidi di sisi selatan jalan berdiri sebuah kantor Biro Hukum bertuliskan Ambo Enre, SH, nama yang kemudian saya tahu adalah Koordinator Departemen Publikasi dan Dokumentasi KKSS Bali. Begitu pula dengan perkenalan saya dengan Daeng Rivai di Yogyakarta, alumnus Teknik Perikanan Politeknik Unhas yang sukses membuka tambak ikan dan udang di Grokgak, Singaraja Bali.

Dalam catatan yang dilansir www.kkssbali.com, selain di Serangan, Kampung Bugis juga dapat ditemui di Suwung dan Kepaon Denpasar, juga di Kabupaten Badung, orang-orang Bugis ditemui di daerah Tuban, Tanjung Benoa dan Angantiga Petang.

Sementara di Kabupaten Tabanan, Kampung Bugis bisa ditemui di pesisir Pantai Soka, di Kabupaten Buleleng mereka dapat ditemui di Sumber Kima, Lovina, Grokgak, Singaraja, Celuk Bawang dan Seririt. Di Kabupaten Jembarana juga dapat ditemui di Loloan, Cupel, dan Yeh Sumbul, adapula dipesisir Ujung dan Buitan Karangasem.

Kerukunan Umat Islam di Bali dengan Umat Hindu menjadi bukti, perbedaan agama dan suku bukanlah alasan untuk saling menghindari dan berselisih paham. (p!)

Oleh: Suryadin Laoddang

Catatan :

Tulisan ini telah tayang di portal panyingkul.com. Juga terbit di KOMPAS SUL-SEL, pada tanggal 26 Mei dan 3 Juni 2010.