Jumat, 24 Mei 2013

Mercu Buana Yogyakarta Go Open Source

Standard

Hingga hari ini, Indonesia masih menduduki peringkat “terbaik” dalam rangking negara dengan pembajakan hak cipta. Dalam siaran pers United States Trade Representative beberapa waktu lalu, Indonesia bersama 12 negara lain berada dalam priority watch list, peringkat tertinggi pelanggaran hak cipta. Negara lain yang masuk daftar ini adalah Aljazair, Argentina, Kanada, Ciles, Cina, India, Israel, Pakistan, Rusia, Thailand, Ukraina dan Venezuela. Dalam Kongres Memerangi Pembajakan dan Pemalsuan di Istambul, Turki, Kamis, 24 April 2013. Terungkap kerugian dar pemalsuan dan pelanggaran hak cipta mencapai US$ 1 triliun ditambah hilangnya kesempatan kerja bagi 2 juta orang. "Itulah biaya mahal yang harus kita hadapi akibat pembajakan hak cipta intelektual dan pemalsuan," kata Sekretaris Jendral Interpol, Ronald K Noble.



Berangkat dari keprihatinan inilah, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Tehnik Informasi (FTI) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY)menyelenggarakan seminar sehari dengan tema “Open Source Day” pada tanggal 18 Mei 2013 bertempat di Ruang Seminar Kampus II Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Jl Jembatan Merah 84 C Gejayan Condong Catur Yogyakarta. Seminar yang diikut oleh peserta dari mahasiswa UMBY dan kampus lainnya ini, menghadirkan pembicara Agus Sidiq Purnomo, M.Eg dan Komunitas Indonesia Go Open Source (Igos), seminar ini mengupas tantangan dan peluang software komputer open source di Indonesia.

Inilah yang disebut masyarakat mengembangkannya, mengaplikasikannya, dan memperbaiki kelemahannya. Dari kita, oleh kita dan untuk kita bersama.


Selaku pembicara utama Agus Sidiq Purnomo yang juga adalah dosen UMBY memaparkan Aplikasi open source adalah program komputer yang lisensinya memberi kebebasan kepada pengguna dalam menjalankan program tersebut untuk apa saja, mempelajari dan memodifikasi program tersebut, lalu mendistribusikan hingga penggandaan program asli atau yang sudah dimodifikasi tanpa harus membayar royalti kepada pembuat sebelumnya. Sehingga jika para pembuat aplikasi dapat mempelajari, mendistribusikan ulang, dan mengubah perangkat lunak tersebut, maka perangkat lunak itu akan berkembang. Inilah yang disebut masyarakat mengembangkannya, mengaplikasikannya, dan memperbaiki kelemahannya. Dari kita, oleh kita dan untuk kita bersama. Sementara kampus UMBY sendiri telah menggunakan tehnologi Open Source sejak 2011 lewat program bertajuk Mercu Buana Yogyakarta Go Open Source yang disingkat My OS.


Sementara Arif Pranoto dan Ibnu Yahya mewakili komunitas IGOS dengan lugas melakukan demo berbagai aplikasi yang bersifat open source karya anak Indonesia seperti Sistem Operasi, Software Aplikasi dan Software yang kualitas dan kehandalannya setera dengan aplikasi keluaran perusahan software sekelas Microsoft (Windows). IGOS sendiri adalah sebuah komunitas yang berisi para relawan pengembang/kontributor tehnologi open source dan telah mendapat dukungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).


Mewakili dekan FTI, Indah Susilowati, M.Eg selaku wakil dekan FTI menyampaikan harapannya agar seminar ini mampu mengajak masyarakat terutam mahasiswa untuk berperan aktif dalam mengurangi angka pembajakan hak cipta di Indonesia. Dengan demikian itu akan membanggakan Indonesia dan memperbaiki citra Indonesia sendiri. Sementara Ketua Program Studi Sistem Informasi FTI UMBY dengan berkelakar dalam seminar tersebut mengatakan “kalau ada yang gratis kenapa harus repot beli yang berbayar, makanya ayo pake tehknologi open source”. Seminar ditutup dengan pembagian puluhan door prize bagi para peserta.


=================
Oleh : Suryadin Laoddang / Mahasiswa Prodi Sistem Informasi






Senin, 06 Mei 2013

Maaf, Saya Bukan Peneliti Budaya

Standard
Anggaplah tulisan ini sebagai klarifikasi, pembetulan tapi bukan pembelaan karena memang tidak ada yang perlu saya bela. Saya hanya ingin meluruskan suatu hal yang hadirkan kegelisahan bagi saya juga bagi orang-orang disekitar saya.

Muasal tulisan ini berasal dari sebuah poster publikasi sebuah acara berlabel Budayata’ II 2013 yang dihelat oleh sahabat-sahabat dan adik-adik saya di Malang – Jawa Timur. Dalam poster publikasi tersebut tertulis nama saya selaku narasumber dalam dialog budaya bertema “Warisan Budaya Bugis – Makassar”. Dibelakang nama saya tertulis sepenggal frase yang menjelaskan bahwa saya adalah seorang peneliti budaya. Frase itulah yang membuat saya gelisah, sematan gelar tersebut rasaya terlalu berlebihan bagi saya. 

Dalam kamus besar bahasa Indonesia diuraikan bahwa peneliti adalah setiap orang yang melakukan aktivitas menggunakan sistem tertentu dalam memperoleh pengetahuan atau individu yang melakukan sejumlah praktik-praktik dimana secara tradisional dapat dikaitkan dengan kegiatan pendidikan, pemikiran, atau filosofis. Secara khusus, istilah peneliti dikaitkan pada individu-individu yang melakukan penelitian (meneliti) dengan menggunakan metode ilmiah. Seorang peneliti, bisa jadi adalah seorang ahli pada satu bidang atau lebih dalam ilmu pengetahuan. Kriteria itulah yang saya belum memiliki. Hingga detik ini belum satupun penelitian yang telah saya kerjakan dan telah dipublikasikan secara ilmiah. Maka dengan tegas saya katakan, saya belum layak disemati sebutan sebagai peneliti budaya. Saya hanyalah seorang pegiat budaya yang mencoba memperkenalkan budaya Bugis – Makassar ke dalam lipatan-lipatan waktu masyarakat Indonesia bahkan dunia. 

Produk-produk budaya asli Bugis – Makassar berikut produk budaya yang berupa serapan dari budaya luar perlu saya hadirkan dalam bentuk tulisan untuk dibaca oleh siapapun. Bahasa tulisan adalah median paling murah meriah yang dapat saya gunakan untuk memperkenalkan budaya Bugis – Makassar. Murah dari segi biaya karena hanya butuh kemauan untuk menuliskannnya, ditambah sedikit rupiah untuk akses internet, maka jadilah tulisan-tulisan tersebut bisa dibaca oleh siapapun dan dimanapun ia berada. Tanpa batasan usia, ruang dan waktu bahkan tanpa batasan biaya. Murah meriah karena para pembacanya cukup buka akses ke internet dan mencarinya di blog pribadi saya atau di laman facebook saya. Tidak lagi harus membeli buku yang super tebal, langka dan mahal. 

Jadi, ijinkan saya tegaskan. Bahwa saya hanyalah sekedar pegiat budaya bukan pakar budaya, bukan budayawan apalagi peneliti budaya. Sematan peneliti budaya adalah ranahnya para akademisi, bukan ranah saya yang hanya sekedar ikut nimbrung menggelorakan semangat melestarikan budaya, khususnya budaya Bugis – Makassar.

Untuk sekedar nimbrung itupun saya masih harus banyak belajar pada para begawan budaya Bugis – Makassar seperti Prof. Nurhayati Rahman, Prof. Aminuddin Salle, DR. A. Ima Kesuma, DR. Naidah Naing, DR. Muhtazar, DR. Ahmad Saransi, DR. Ahmad Ubbe, DR. Andi Agussalim, Mustari Ambok, M. Ruislang Noortika, Jamal Gentayangan, Nirwan Arsuka, Nur Wahidah, Dian Cahyadi, Andi Farid Makkulawu, Andi Oddang, Andi Rahmat Munawar, Noor Sidin, Ambo Tang Daeng Matteru, Dang Bate M, Asril Gunawan, Rara Sultan, Juhansar A. Latif, Danial, Nursam Ombak, Joe Marbun, Mansoer Hidayat, Asriadi Surya G, Panembahan Kariwara, Didi Ab, Renaldi Maulana, Samang T Sumpala, Suharman Musa, Afrat Lagosi, Ika Farikha Hentihu, Cheng Parudjung dan masih banyak lagi yang lain.

Diluar itu saya juga masih terus dan harus terus membuka ratusan literatur berupa buku, makalah dan lembaran-lembaran lontaraq yang butuh dan biaya untuk mendalaminya. Terkait poster publikasi yang terlanjur beredar, saya telah sampaikan ke panitia agar tidak usah menggantinya, meski dalam poster tersebut nama saya tertulis salah. Tidak tega melihat panitia harus mengeluarkan biaya lagi untuk cetak ulang poster publikasi baru. Bukankah kegiatan budaya adalah kegiatan yang selalu sepi dari donator dan sponsor. 

Berbeda dengan kegiatan-kegiatan yang mengusung tema politik yang selalu diincar para donator, atau acara hiburan yang jadi rebutan para sponsor. Bukan begitu? 

Akh, jangan-jangan saya salah lagi. Sudahlah tidak usah diteruskan takut saya dianggap sok analitis, bisa tambah runyam nantinya. Salam budaya, mari terus gelorakan semangat melestarikan, merawat dan membumikan nilai-nilai budaya kita masing-masing. Sekali lagi salam budaya. 


Minggu, 05 Mei 2013

Tips Hamil : Aku Jadi Konsultan Cara Cepat Hamil

Standard

Ini, sungguh hari yang berbeda bagi saya. Entah apa pasal sejak sore kemarin hingga siang ini semua orang bercerita padaku seputar kehamilan, persalinan dan anak. Mulai dari yang berbagi kabar gembira, berbagi suka cita, yang sekedar curhat hingga menjadikanku konsultan dadakan. Ada interaksi lewat telpon, sms, chating facebook ada yang curhat colongan saat bersua di area umum bahkan ada yang bela-belain datang ke rumah. Mereka datang bercerita tentang kehamilannya, tips hamil, tips agar cepat hamil, tips melahirkan dan lain sebagainya.

Jujur, dijadikan jujukan pertanyaan seperti menjadi sebuah kebanggaan bagiku, tapi sekaligus beban.

Bangga karena mereka menganggap saya punya sesuatu untuk saya bagi, mungkin karena saya sudah pengalaman dan sudah punya anak, Alhamdulillah. Mungkin juga karena istri saya adalah seorang tenaga bidan yang banyak tau ikhwal hamil, kehamilan dan persalinan. Mungkin juga karena tulisan-tulisan saya selama ini yang “kadang” bercerita tentang pengalamanku menjadi suami, pengalaman “menghamili” istri, pengalaman merawat anak. Atau, mungkin juga karena tulisan saya tentang detik-detik saat anak pertama kali lahir dari rahim bundanya. Satu diatara tulisan tersebut berjudulu AKU (IKUT) MELAHIRKAN ANAKKU.

Terasa menjadi beban, karena saya bukanlah orang yang paham betul dengan dunia hamil, kehamilan dan persalinan tersebut. Saya hanyalah orang yang juga sedang belajar tentang itu semua, belajar langsung pada istri saya, pada tetua keluarga saya, belajar dari sahabat-sahabat lainnya, belajar dari membaca buku, juga lewat bacaan di internet. Itulah bekal saya, sehingga saya begitu lihai bercerita tentang dunia hamil, kehamilan dan persalinan. Hal ini juga ditambah karena dunia kerja saya adalah dunia kesehatan, saya bekerja disebuah yayasan yang menaungi sebuah rumah sakit dan perguruan tinggi kesehatan. Selain itu banyak keluarga saya yang bekerja di dunia kesehatan. Tapi itu semua tidak cukup, pengetahuan, ilmu dan pengalaman saya masih terbilang cetek, maka saya ragu dan merasa terbebani. Takut jika apa yang saya sampaikan justru salah dan berakibat fatal.

Saat saya sarankan mereka menyambangi dokter ahli kandungan, faktor biaya konsultasi menjadi kendala mereka. Kusarankan membaca buku-buku atau artikel tentang itu, mereka mengeluhkan jika banyak buku seperti itu yang dibuat asal-asalan. Bahkan ada yang hasil COPY PASTE EDIT semata, bukan ditulis oleh orang yang berpengalaman. Atau ada juga yang merupakan hasil saduran bahasa semata dari bahasa luar ke bahasa Indonesia, yang tidak memperhatikan karakteristik masalah dan kondisi ibu hamil di Indonesia yang tentu berbeda kasus dan latar belakang dengan kasus-kasus hamil, kehamilan dan persalinan diluar negeri.

Tergerak untuk, maka saya coba menelisik dimana bisa saya dapatkan rujukan serupa konsultan dan buku yang layak dijadikan acuan bagi para sahabat yang ingin banyak tahun seputar dunia hamil, kehamilan dan persalinan. Terutama tips agar cepat hamil. Insya Allah buku yang saya rekomendasikan ini akan bermanfaat. Sayang buku ini tidak beredar sembarangan dipasaran, tapi dipasarkan secara online dan pembelian harus dengan jalur pesanan online.
Buku ini ditulis oleh dokter spesialis kandungan, tentunya ia ahli dalam menangani masalah seputar dunia hamil, kehamilan dan persalinan. Terutama tips agar cepat hamil. Dalam bukanya, dr. Rosdiana Ramli, SpOG berhasil mengulik masalah infertilitas dengan tuntas dan lengkap dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami pembaca yang awam istilah medis. Tak ketinggalan pula bahasan tuntas tentang fakta di balik mitos-mitos cara cepat hamil yang berkembang di masyarakat kita. Beberapa dari mitos tersebut ternyata bisa dibuktikan kebenarannya secara medis sementara kebanyakan mitos lainnya tidak benar.

Keobjektifan buku ini terletak pada padah materinya yang tidak mempromosikan obat-obatan, klinik, ataupun rumah sakit tertentu. Tidak mengadakan kerjasama promosi dengan lembaga/perusahaan manapun. Buku ini tersedia dalam bentuk digital, sehingga mudah untuk disimpan dalam perangkat komputer bahkan sangat nyaman untuk dibaca melalui handphone ataupun Ipad, Ipod dan sejenisnya. Selain buku utama yang berjudul Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil, juga tersedia 4 ebook lainnya. Bukunya terbilan murah, hanya sekitar 170 ribuan.

Sepertinya sudah terlalu panjang tulisan dan curhat saya, bagi yang ingin melihat penjelasan lengkap tentang bukunya silahkan buka laman / website berikut http://tipshamil.com/?ref=AyahSayangAnak. Selamat membaca, selamat mencoba, selamat menikmati masa-masa indah memiliki momongan. Kelak kalo sudah berhasil ceritalah pada saya.