Senin, 29 Juli 2013

Ramadhan di Sengkang (Bagian 1)

Standard
Sekedar Pengenalan Lokasi

Sedari awal saya tegaskan, cerita ini akan membosankan dan hanya bisa dicerna dengan mudah oleh mereka yang pernah tinggal di kota Sengkang, kota asalku. Kota dengan jarak 4 – 8 jam perjalanan dari kota Makassar. Kota Sengkang tak lebih dari sebuah kota kecil, hanya ada satu jalan utama yang membelah kota ini. Dari arah selatan jalan ini utama ini bermula dari hilir sungai Walennae (jembatan Tampangeng), jalan utama berular menuju kampung Amessangeng, lalu ke arah Lapangan Merdeka, hingga ke Tugu simpang enam kota Sengkang (depan BNI 46). Lalu menjulur ke arah Kampung Lompo hinga Masjid Al Manar Tempe, lalu mengekor hingga kampung TaE Tempe. Hanya itu, hanya sepanjang itulah jalan utama di kota ini. Sebelum dan sesudah jalan tersebut, kita sudah memasuki daerah yang terbilang pinggiran kota.

Sepanjang sisi barat jalan kita hanya melihat rumah “terapung” karena saban tahun kebanjiran luapan air dari Danau Tempe. Sisi timur jalan terhampar rumah-rumah warga yang membentang hingga menyentuh lereng perbukitan sepanjang batas timur kota tua ini. Di salah satu lereng bukit itulah saya lahir dan dibesarkan, tepatnya dilereng barat bukit Annyarang PatalaE, kini diberi nama Jalan Jati. Meski kampung Jalan Jati ini banyak dihuni pejabat dan mantan pejabat (ada rumah jabatan ketua DPRD, mantan DPRD, mantan Camat, mantan Lurah, mantan Kepala Sekolah) tapi jalan ini adalah jalan buntu, ujung jalannya berujung di lereng bukit. Kampung ini bersebelahan dengan SMA Negeri 3 Sengkang di sebelah selatannya, lalu asrama Tentara, Pondok Pesantren As Adiyah di sisi baratnya, sementara disisi timur dan utara bersisian dengan perbukitan.

Kampung Jalan Jati Dalam (begitu saya menyebutnya), adalah sebuah komuni keluarga, hanya ada 12 rumah disana, ditambah satu kantor kelurahan dan satu lagi rumah mantan camat Kecamatan Tempe (yang sudah dianggap keluarga besar). Selain selusin rumah itu, masih ada dua petak rumah yang kini tersisa tanah kosongnya saja, tanpa bangunan. Satu rumah bergeser keseberang jalan. Satu lagi bangunan rumahnya telah berpindah ke kampung seberang. Dua rumah tersebut terjual, lama tak ditempati oleh empunya. Para pemiliknya telah meninggal dunia, namun ahli warisnya pergi merantau, salah satunya adalah saya dan adik-adik saya. Ya, kini kami tak punya rumah lagi secara fisik, tapi kami punya 12 rumah lainnya, saat mudik kami bebas memilih rumah mana yang akan kami tempati tidur dan makan. Tiap hari ganti alias pindah rumah, asyik kan?

Menyambut Ramadhan

Dikampung itulah saya lahir dan dibesarkan hingga umur 17 tahun, lalu masing-masing dari kami meninggalkannya, memaksa diri untuk belajar hidup di negeri orang tepatnya di Yogyakarta. Tentu banyak kisah yang telah kami lewati di kampung ini, satu dari sekian yang berkesan adalah saat melewatkan bulan Ramadhan. Sedari kecil, bulan Ramadhan selalu hadirkan suasana berbeda bagi kami, selalu membuat kami riang menyambut dan menjalaninya.

Karena sebagian besar pekerjaan orang tua kami adalah petani dan membuat kue jajanan pasar, maka kami selalu terlibat didalamnya. Jajanan pasar buatan orang tua kami banyak merajai warung-warung makan dan kedai jajanan di Kota Sengkang kala itu (bahkan hingga sekarang). Beberapa diantara kami bahkan memiliki warung makan di Pasar Sentral Sengkang. Jadi kalo Anda pernah masuk disalah satu warung makan atau warung es di Pasar Sentral Sengkang atau Pasar Mini Sengkang, berarti Anda pernah menjadi konsumen kami. Setidaknya keluarga besar kami mengelola 8 warung makan dan warung es di dua pasar terbesari di kota itu.

Biasanya dua bulan sebelumnya kami para anak-anak sudah disibukkan dengan menyiapkan banyak kayu bakar, kayu ini akan menjadi bahan baku perapian orang tua kami didapur untuk membuat jajanan pasar selama bulan puasa. Kayu bakar tersebut kami kumpulkan dan kami panggul dari bukit-bukit sekitar rumah kami, tak jarang harus kami panggul dari kampung sebelah dari dari bukit sebelah. Kami panggul dalam bentuk masih lonjoran (2-3 meter) dan juga masih basah, sampai halaman rumah kami tumpuk hingga menggunung. Setelah dirasa cukup, kami masih harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk memotong dan membelahnya lalu menjemurnya hingga kering. Setelah kering kami pindahkan dan kumpulkan dalam rak khusus di kolong rumah kami. Kayur bakar itu kami tata dengan sesak dalam rak kayu setinggi dan selebar tiga meter, jumlah sebanyak itu hanya cukup untuk satu bulan selama bulan Ramadhan. Wajar karena permintaan kue basah selama bulan puasa meningkat hingga lima kali lipat, reseki bagi kami, reseki juga buat keringat kami.

Tak hanya urusan kayu bakar, seminggu sebelum memasuki bulan puasa, kami juga disibukkan dengan memanen buah kelapa untuk bahan santan. Memanen buah pisang lalu memeramnya agar segera matang, tak ketinggalan menyiapkan tepung beras juga beberapa bonggol ketela pohon juga untuk bahan kue jualan selama Ramadhan. Bersamaan dengan itu kami juga “dipaksa” membersihkan lingkungan sekitar kami, merapikan selokan sekeliling rumah, membersihkan comberan, memangkas dahan-dahan pohon berkayu juga pohon pisang sekitar rumah agar terlihat rapi, segar, lega dan lapang selama bulan puasa hingga jelang lebaran. Tak hanya itu, kami juga harus membersihkan jelaga di kolong dan loteng rumah kami, bahkan mulai menjemur kursi dan kasur. Tak ketinggalan kami juga mencuci sarung, sajadah dan mukena yang akan kami pakai Shalat Taraweh, tak ketinggalan juga menjemur songkok kami yang hitam dan berbahan bludru. Minggu yang sangat sibuk.


Jumat, 12 Juli 2013

Pustaka Makassar : Sinrilik Kappalak Tallumbatua

Standard
SINOPSIS (Sampul Belakang)

Sinrilik merupakan salah satu karya sastra lisan Makassar yang hingga kini masih hidup dan masih diminati orang terutama mereka yang berlatar belakang bahasa dan budaya Makassar. Dalam kisah Kappalak Tallumbatua ini, tokoh utamanya adalah Andi Patunru, putra mahkota dan pewaris tahta Kerajaan Gowa. Disebabkan oleh tutur kata Batolempangeng yang terlalu dipercaya oleh Tunisombaya Raja Gowa, bahwa kelak dikemudian hari yang akan meruntuhkan benteng dan membobolkan Tanah Gowa adalah putra mahkota sendiri, maka dengan kepedihan hati karena diusir dari Tanah Gowa tanpa alasan apapun, mengembaralah Andi Patunru beserta kakak kandungnya Patta Belo segala penjuru hingga negeri Belanda untuk mendapatkan lawan yang seimbang dengan Gowa. Keberhasilan Andi Patunru menundukkan Gowa dengan bantuan Belanda menyebabkan dimulainya bercokok penjajahan Belanda di Kerajaan Gowa, dan benteng Ujung Pandang diubah menjadi “Fort Rotterdam” sampai sekarang.

DAFTAR ISI

Pra Kata Oleh Muctar Lubis

Kata Pengantar
Sinopsis
Transkripsi Sinrilik Kappalak Tallumbatua
Terjemahan Sinrilik Kappalak Tallumbatua

Tentang Editor dan Redaktur Ahli

KETERANGAN BUKU
ISBN : 919-461-155-7
Jumalah Halaman : 330 + x
Editor : Aburaerah Arif dan Zainuddin Hakim
Redaktur Ahli : Roger Tol
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, 1993

Rabu, 10 Juli 2013

Perempuan, Pelaut Sejati

Standard
Selama ini, hanya pria yang selalu diindetikkan sebagai penguasa laut. Keperkasaan mereka dianggap teruji jika sudah berkecipak airu, kejantanan mereka diakui setelah mampu menyapih buih dilautan, otot mereka dianggap kuat jika sudah membeslah debur angin laut, tulang mereka dianggap kokoh juka sedah mebentangkan layar, melempar sauh dan memutar kemudi. Hampir tidak pernah sosok perempuan dianggap ada dalam dunia laut tersebut, dunia perempuan yang anggun, lemah lembut, kemayu dianggap tak cocok dengan ganas dan garangnya laut.

Tanah Bugis Makassar dan Mandar (BBM) yang selama ini dianggap negerinya para pelaut justru mengajarkan hal berbeda. Di tanah BBM, kaum perempuan yang diwakili oleh ibu dan atau istri sang pelaut memegang peranan penting. Penting sebelum, selama berada ditengah lautan hingga sang pelaut kembali kedaratan.

Dalam khasanah budaya BBM, seorang calon istri dianggap berkualitas tinggi jika ia macca duppa tofole nennia macca pappanguju tao lao. Cekatan sodorkan hidangan buat tamunya dan cakap membekali orang yang hendak pergi. Dalam konteks hubungan suami istri, ajaran ini mengajarkan bahwa seorang istri harus mampu membuat suaminya betah dirumah sekaligus membuat suaminya selamat dan tetap setia selama merantau (baca; melaut). Memiliki kualifikasi ini tentu tidak mudah, butuh ketelatenan, keikhlasan dan kesabaran serta perjuangan yang berkepanjangan. Hanya perempuan hebatlah yang mampu mengejar dan mendapatkannya.

Selain itu, kehebatan perempuan BBM juga sangat teruji saat suaminya berada ditengah laut. Selama suami dilaut, sang istri harus mengatur agar bekal hidup yang ditinggal suami dapat cukup hingga sang suami pulang. Padahal kepulangan itu tidak mengenal angka hari atau minggu, melainkan angka bulan hingga tahunan bahkan kadang belasan tahun. Selama suami ditengah laut, sang istri harus memastikan dan menjaga tidak ada kesedihan, lara, duka, tangis bahkan sekedar hati yang gunda gulana (galau) yang hadir ditengah rumahnya.

Pun halnya dengan beberapa detail simbol penghantar keselamatan berupa segelas air dan api pelita penerang juga harus dijaga agar tak kering dan tak mati selama sang suami ditengah laut. Hanya perempuan hebatlah yang mampu melakukan ini, maka penakluk laut yang sebenarnya adalah perempuan. Karena ia mampu menaklukkan suaminya sekaligus bentang laut itu sendiri.

Sebelum sang suami menggulung sauh, mengembangkan layar dan memutir kemudi kapal menuju laut, kaum perempuan juga memegang peranan penting. Terutama sebelum kapal sang suami menyentuh bibir pantai, bahkan sebelum kapal itu sendiri dibuat. Sejak pemilihan pohon yang akan ditebang untuk bahan baku kapal, saat lunas kapal dipasang, saat pusar kapal dipancangkan hingga saat kapal digiring kelaut, maka disana perempuan BBM juga memainkan peranannya. Sayang semua proses itu jarang dikupas dan dihidangkan ke hadapan kita semua, maka jadilah kita cenderung bias gender saat berbicara tentang dunia laut.

Selasa, 09 Juli 2013

Ramadhan (=) Sebuah Rutinitas Tahunan

Standard
Banyak dara berpinggang merit
Dengan wajah legit
Rame-rame ngabuburit
Dengan busana yang serba irit

Pamer hasil perawatan kulit
Meski penuh selulit
Tak peduli resiko sakit
Tak peduli ulama menjerit


Dakwah muballig kian sulit
Ditengah resesi yang kian rumit
Tarif sembako kian melejit
ditengah hutang yang membelit

Isi amplop semakin sedikit
Ummat makin pelit
Hedonis kian menggigit
Ummat tak kuasa berkelit

Puisi diatas saya buat untuk mengkritisi tingkah pola kawula muda di Bulan Ramadhan. Saban sore “ngabuburit”, keliling kota bareng “Muhrim Haramnya”. Berbusana ala kadarnya. Konon, busananya sangat dinamis dengan jaman yang serba krisis. Padahal dialah sebenarnya yang dilanda krisis moral. Belum lagi T-Shirt yang dipakainya dari bahan kaos tipis (biasanya untuk saringan tahu), menampakkan lapisan dalam kaosnya serta pinggangnya yang merit meski sana-sini penuh dengan selulit. Habis ngabuburit, entah pake Shalat Magrib apa tidak ?, pulang sejenak kerumah. Lalu janjian kembali untuk taraweh bersama dengan Muhrim Haramnya.


Demi melewati masa-masa indah bersama, belasan Masjid, Musholla dekat dirumah dilewati. Sengaja memilih masjid yang lebih jauh. Alasannya, semakin jauh kaki melangkah ke Masjid, semakin besar pahalanya. Padahal biar lebih lama boncengan dengan sang Muhrim Haram. Tiba giliran ceramah antara Shalat Isya dan Taraweh, tak henti-hentinya ia mengumpat “akh ustazdnya gak asyik nih, ceramah kelamaan”. Pulang, sengaja ngambil jalan muter jauh. Katanya tadi shalat Tarawehnya ngambil yang 23 rakaat. Ramadhan sama dengan rutinitas tahunan, agar masa wakuncar bisa lebih lama.

Ramadhan, rutinitas tahunan. Seorang ibu rumah tangga, bersama sang pembantu, sehari menjelang puasa terlihat mondar-mandir didapur, menelisik bumbu dan bahan masakan apa yang sudah habis bulan ini. Targetnya, malam ini harus belanja untuk stock hingga lebaran. Tak peduli dengan seorang perempuan tua, yang tak tahu harus masak apa buat sahur suami dan anaknya hari ini. Perempuan tua itu berlindung di bawah bentangan selembar spanduk berbahan plastic vinyl, bekas iklan. Spanduk itu menempel didinding luar rumah sang nyonya besar. Sang Nyonya tak peduli dengan suaminya yang sibuk mereka darimana gerangan sumber pemasukan untuk menutupi pengeluaran dibulan puasa ini. Korupsi, mungkin itu solusinya. Ramadhan, sama dengan membuka pintu korupsi.

Ramdahan, rutinitas tahunan. Di sudut dapur yang telah menghitam karena asap dari tungku berumur puluhan tahun. Seorang ibu duduk menatap jilatan-jilatan api pada cabikan lembar-lembar tripleks. Bahan bakarnya untuk memasak kali ini, entah untuk untuk Magrib nanti. Sebenarnya ia punya kompor dan tabung gas pemberian pemerintah. Tapi tak dipakainya. Baginya tabung gas itu tak lebih dari bom molotov, siap meledak kapan saja dan kian mempersulit hidupnya. Sang suami, dengan kuas dan kapur sisa hasil dari kerja borongan melabur gapura desa, asik melabur dinding depan rumahnya yang terbuat dari gedek bambu, itupun sudah lapuk dibagian bawahnya. “Sedikit berbenah untuk menyambut 67 tahun kemerdekaan negerinya sekaligus menyambut bulan Lebaran”, katanya. Ramadhan sama dengan menunggu kerja borongan sambil berharap sisa untuk mempercantik rumah yang sudah reot.

Ramadhan, rutinitas tahunan. Dua hari menjelang puasa, seorang ABG sibuk mengutak-atik kata dan kalimat di fasilitas Message HP-nya. Setiap kata dan kalimat dipertimbangkan agar puitis dan Islami. Didalam SMS itu harus ada kata “Mohon Maaf Lahir Bathin”, “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”, “Marhaban Ya Ramadhan”. Adalagi yang sedikit kreatif memadukan nama-nama provider telekomunikasi seluler dalam sebuah kalimat. Ada pula kalimat yang mengusung kearifan lokal, dengan untaian kalimat berbahasa daerah. Namun tak sedikit yang memilih menunggu kiriman dari teman-temannya lain, lalu dikirimkan kembali ke temannya yang lain. Ramadhan sama dengan rutinitas tahunan, dosa, khilaf, alfa, kesalahan selama sebelas bulan dibiarkan berlalu. Dikumpulkan untuk dimintakan maaf secara jamaah di Bulan Ramadhan.

Ramadhan, sebuah rutinitas. Bagi para penjaja busana Muslim berikut perlengkapannya, juga bagi para penjaja makanan dan minuman buka puasa. Tak ketinggalan bagi para penjual paket parsel / bingkisan lebaran. Mereka berlomba-lomba mengejar Rupiah, sejajar dengan para konsumen yang seolah punya tenaga dan sumber dana ekstra dibulan puasa untuk. Seirama dengan ribuan orang dan instansi yang berebutan cari muka pada atasan lewat kiriman parselnya.

Juga senada dengan para perantau, ya perantau kerja juga perantau Mahasiswa yang ingin dianggap sukses dan kaya. Memborong belanjaan atas nama oleh-oleh. Meski kadang biaya oleh-oleh lebih tinggi dari biaya transportasi mudik. Tak peduli, di jejeran rel kereta api di sudut kota, berjubel manusia berjejer dengan asa yang tak pasti. Jangankan untuk beli oleh-oleh untuk sekedar mendapatkan tiket kelas ekonomipun susah. Kalaupun dapat, didalam gerbong kereta api hukum rimba telah menanti, para penjual tiket tidak pernah dan takkan pernah menjamin semua penumpang akan mendapatkan kursi / tempat duduk. Berarti Ramadhan sama dengan membumikan ekonomi kapitalis dan hukum rimba.

Ramadhan, rutinitas tahunan. Manajer personalia sebuah perusahaan, asik mojok dengan manajer keuangan. Menghitung dan memilah lembaran Rupiah demi Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para karyawannya. Disisi lain, sang karyawan sedang menulis status di Facebooknya “Berapa ya THR tahun ini”. Ditulis dengan otak yang bekerja melebihi kecepatan Komputer dengan Processor Intel Pentium 2,8 GHz, mencoba mengkalkulasi akan diapakan uang THR tersebut. Mereka semua tak pernah peduli, jika dibawah jembatan Sayidan Yogyakarta, seorang anak menunggu keikhlasan seekor lele untuk menyambar umpan dan kailnya, sekedar lauk buat buka puasa hari ini. Akh, Ramadhan sama dengan THR dan Ikan Lele.

Ramadhan, sebuah rutinitas. Seorang pejabat di negeri kaya nan cantik ini. Sibuk merancang acara open house saat lebaran nanti. Menu apa yang akan disajikan, berapa amplop yang akan dibagikan, siapa-siapa saja yang akan datang. Juga sibuk memeriksa lembar kerja asisten pribadinya, siapakah gerangan anak buahku, siapakah gerangan kepala dinas yang belum setor “upeti” untuk acara open house-nya. Sang pejabat, pura-pura tidak menonton dan mendengar keluh kesah para wong cilik, para pemudik yang meregang nyawa di jalanan. Konon di Tahun 2011, 55 nyawa melayang tiap harinya selama 13 hari masa mudik. Tragis !!!. Ramadhan sama dengan ajang tega-tegaan dan pembantaian.

Ramadhan, sebuah rutinitas. Semua siaran televisi menampilkan acara Sahur bareng dengan sentuhan entertainment. Host dan bintang tamupun dibayar mahal demi mengejar rating. Tak peduli jika para pesohor itu adalah sosok kontroversial, yang sabang hari berbusana minimalis, mengumbar syahwat. Dengan alasan profesionalisme, selama Bulan Ramadhan pesohor itu berkenang menempelkan selendang diatas rambut mahalnya. Dengan alasan yang sama pula, tiga hari setelah lebaran, selendengan kerudung tersebut dicampakkan lagi. Belum lagi para pesohor berlabel pelawak yang tak henti-hentinya melontarkan banyolan vulgar dan menampakkan kekerasan. Ini berarti Ramadhan sama dengan rating, vulgar dan kekerasan.

Akh… Ramadhan-ku sayang, Ramadhan-ku malang. Sebagai penutup, kita semua wajib menjawab pertanyaan berikut : Yang salah itu Ramadhan-nya, Ummat-nya atau justru penulis yang sok pintar menganalisa ?.



Selasa, 02 Juli 2013

Mukena Distro Teman Ibadah Ramadhan Kali Ini

Standard
Mukena Distro Teman Ibadah Ramadhan Kali Ini bisa menjadi bahan referensi bagi muslimah dimana pun berada. Mukena itu sendiri menjadi pakaian wajib bagi muslimah dalam beribadah. Kehadiran mukena distro sebagai salah satu bentu perkembangan moslem fashion yang bisa dijadikan pelengkap fashion saat ini. Apalagi dalam waktu dekat Ramadhan akan menemui seluruh ummat muslim di dunia.

Apa sih kelebihan dan keunikan dari mukena distro? Sebelumnya perlu dipahami bahwa kata distro itu sendiri adalah singkatan dari distribution outlet. Kelebihan mukena distro ini terletak pada proses pembuatan yang semua bersumber dari keahlian tangan alias handmade. Tidak hanya dari segi proses pembuatan itu saja, mukena distro juga dibuat tidak banyak. Dalam arti bahwa satu motif hanya dibuat sekitar 2 hingga 3 pcs saja sehingga kesan eksklusif mukena distro dipertahankan. Jadi tidak perlu khawatir jika motif mukena memiliki banyak kesamaan di beberapa tempat. Yah, terkadang faktor gengsi menjadi salah satu alasan juga bagi setiap orang memiliki barang yang tidak terdapat kesamaan di tempat lain.

Untuk mendapatkan mukena distro ini tidaklah sulit. Sebab peredaran mukena distro sudah terdapat di beberepa kota seperti Samarinda, Makassar, Sengkang, Surabaya, Pacitan, Jember, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Jepara, Yogyakarta, Solo, Medan, Aceh, Palembang, Riau, Lampung, Palangka Raya, dan Semarang. Jika masih ragu dan ingin mengetahui lebih banyak tentang mukena distro ini, bisa menghubungi Mukena Distro (Facebook) atau Twitter : @Mukena_Distro. Masih belum lengkap?! Informasi mukena distro juga bisa ditemukan di sini www.mukenadistro.com.

Jadi, tunggu apalagi?! Mari persiapkan mukena distro sebagai perlengkapan ibadah menyambut Ramadhan kali ini. Di samping itu, sucinya hati juga jangan sampai terlupakan.