Senin, 26 Agustus 2013

Para Perantau; Tukang Parkir

Standard
Sebagian orang Bugis Makassar merasa gengsi ketika berada di tengah lingkungan sendiri mungkin karena pertimbangan strata, berbeda ketika mereka jauh alias berada di rantauan. Adalah Musyarif, laki-laki berdarah campuran Bugis Makassar yang hampir dua puluh tahun terakhir ini berkeluarga dan menetap di Jogjakarta. Baginya tidak ada kata gengsi untuk mencari rezeki halal. Pribadinya telah lama ditempa, berawal dari didikan hidup mandiri yang diajarkan orang tuanya, hingga pengalaman hidup yang cukup keras. Sejak usia belia, ia dikenal nakal, suka berkelahi, dan berpetualang. Pribadinya yang tidak suka dijajah dan dipalaki teman-teman sepulang sekolah juga telah sukses membawanya ke ruang tahanan. Namun siapa sangka, pengalaman itu mematangkan pola pikir untuk masa depan yang lebih baik. Selepas dari tahanan, ia mengadu nasib ke beberapa kota termasuk ke Ibu Kota Jakarta. Tidak cukup lama ia di Jakarta, kota yang telah membawanya dalam kenikmatan sesaat dari mengisap ganja. Ia pun ke Semarang dan bekerja pada sebuah perusahaan rokok yaitu perusahaan rokok Pentoel.

Nasib yang kurang mujur menimpa. Setelah cukup lama bekerja, ia terpaksa harus pensiun dini lantaran persoalan merger. Ketika itu perusahaan rokok Pentoel dibeli oleh perusahaan Rokok Ardat. PHK ini pula yang membawanya ke Jogja. Demi menyambung hidup ia pun kerja serabutan menjadi loper kertas bekas dan mengumpulkan kemasan botol dan gelas akua untuk dijual kembali. PRAMITA laboratorium dan CAFÉ COKLAT yang terletak di bilangan Jl. Cikditiro sekitar limaratus meter dari bundaran kampus ternama UGM menjadi pundi-pundi rupiah kala itu. Dari upayanya ini ia mendapat enam ratus rupiah dari setiap kelipatan satuan kilo gramnya.

Jika masih lajang, penghasilan akan susah untuk dikumpulkan. Kalimat ini nampaknya diamini pula oleh laki-laki yang akrab dipanggil Mus ini. “Dapat duit dari hasil kerjaan dihabiskan di tempat”. Membina keluarga dengan memperistrikan perempuan Jawa asli Jogja memberikan tanggung jawab tersendiri tidak hanya terhadap dirinya seorang, terlebih ketika telah dikarunia dua anak. Ia bertekad kedua anaknya harus mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik dari dirinya. Harapan dan cita terhadap keluarganya itu semakin mengentalkan semangat dan juangnya.

Di temui di tempat kerjanya di taman parkiran Mirota Kampus, salah satu tempat perbelanjaan di kota Yogyakarta, Mus yang kini di usia empat puluh dua tahun menyambut dengan antusias. Siang itu adalah pertemuan yang sangat singkat. Hanya ada ice breaking di tengah kesibukan di shift siangnya itu. Malam harinya di sebuah kafe yang terletak di samping lokasi parkir tempat ia bekerja, kami melanjutkan perbincangan yang tertunda selama enam jam itu. Laki-laki dengan tinggi badan sekitar 170m  tampil rapi dengan ham lengan pendek kotak berwarna biru gelap dengan celana panjang kain berwarna hitam. Tidak dengan celana Jins seperti yang kerap dikenakannya pada jam-jam shiftnya.

 “Darah saya Bugis Makassar tapi kalau persoalan pekerjaan saya tidak gengsi, asalkan pekerjaan itu halal”




Di sela suara house music dan suara bising kendaraan dari jalan raya yang terpaut beberapa meter saja dari kursi tempat duduk kami, Mus berbagi cerita tentang jasa antar galon dan laundri yang ia tekuni. Tempat tinggalnya yang tidak jauh dengan lokasi kos-kosan mahasiswa lah yang membuatnya berpikir untuk menyediakan layanan air minum galon. Baginya usaha ini cukup menjanjikan, dari  awalnya ia hanya memiliki satu galon dan kini jumlah itu bertambah menjadi dua puluh lima buah galon. Selain layanan antar galon, di rumah tinggalnya yang beralamat di Terban GK V/306 ia juga memiliki satu unit mesin cuci untuk usaha laundri yang meraup dua puluh kilo perhari. Meski penghasilan yang diperolehnya tidak besar, ia masih bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung selain yang habis untuk untuk biaya hidup sehari-hari dan biaya pendidikan kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. “Saya tidak ingin seumur hidup saya hanya di parkiran. Besok Insya Allah jika tabungan saya sudah cukup, saya ingin membuka warung makan Ikan Bakar di Jogja”.

Masih dengan iringan house music yang sedikit terdengar gaduh. Optimisme yang besar makin tersirat di wajah laki-laki dua anak ini. Istrinya yang baru saja bergabung beberapa menit lalu turut menambahi bahwa dirinya telah cukup banyak belajar tentang resep makanan Bugis Makassar, “Coto, Sop Saudara, Jalangkote, saya sudah bisa buat”, ungkapnya. Terakhir ketika turut pulang ke Makassar, kesempatan itupun digunakannya untuk banyak belajar masakan lainnya pada sanak keluarga suaminya. Menyambung perkataan sang istri, Mus yang baru saja menghabiskan satu batang rokok mengemukakan niat dan harapannya, kelak ia pun bisa membuka warung makan yang sama di Makassar. Jiwa petualang yang membawanya menjajaki beberapa kota di pulau Jawa hingga akhirnya menetap di Jogja tidak sedikit mempengaruhi keterikatan batinnya akan Butta Mangkasara. Tiap dua tahun, ia selalu menyepatkan diri untuk pulang dan bertemu dengan sanak keluarga besarnya.

Kini ia masih menekuni usaha-usahanya itu di samping mengelola satu lagi usaha laundrian di daerah Gejayan. Milik anak orang Kalimantan yang telah dikenalnya selama delapan tahun di perantauan. Dunia parkiran yang menjadi bagian dari kesehariaannya juga diperolehnya dari kehidupan bermasyarakat di daerah tempat inggalnya. Pribadi yang ramah, dan jiwa sosial yang tinggi menjadikannya mudah bergaul dan mendapat kepercayaan dari warga setempat hingga ia pun ditawari untuk bekerja di parkiran mirota. Ketika ditanya tentang pengalamannya selama di dunia parkir, ia bercerita bahwa dirinya kerap memunculkan sikap tegas terhadap pengujung yang kadang tidak taat aturan. Baginya, menjadi bagian dari perparkiran adalah kerja tanggung jawab penuh. Ia pun bercerita bahwa sistem perparkiran yang dijalankan di mirota kampus itu berbeda dengan beberapa tempat parkir lainnya.

Ia mengakui, jiwa semangat dan kerja kerasnya itu adalah bawaan yang diperolehnya dari keluarga yang selalu mengajarinya arti hidup mandiri dan konsisten dalam hidup.
***

Oleh : Wardah

Minggu, 25 Agustus 2013

Pendekar Budaya Sul-Sel-Bar di Yogyakarta

Standard
“PARA PENARI”
( Tulisan lama yang lupa di-posting)

Djogja kota budaya, semua orang sudah tahu tentang itu. Tapi di mata penulis, Djoja ibarat rimba persilatan. Di kota inilah ratusan pendekar-pendekar budaya Nusantara berbaur, saling unjuk jurus dan olah kanuragan (baca: kebolehan). Di kota inilah mereka berjuang menampilkan identitas budaya mereka sebagai sebuah sajian seni dan budaya di tengah ratusan bentuk budaya lainnya yang juga mencoba sejajar dan seiring dengan budaya Jawa khas Yogyakarta sebagai tuan rumah.

Tidak heran jika diberbagai kegiatan kita dapat menyaksikan musik dan tari asal Papua, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Sumatera dipentaskan baik itu sebagai pengisi acara tunggal, pengisi acara yang berdampingan dengan daerah lainnya atau tampil sendiri dengan konsep solo performance. Salah budaya daerah yang kerap ditemui penampilannya adalah musik dan tari asal Sulawesi Selatan. Silih berganti duta-duta budaya asal Sul-Sel tampil sebagai pengisi acara dalam rangkain kegiatan seperti Ulang Tahun Kota Yogyakarta, Beber Seni, Festival Kesenian Yogyakarta, Malioboro Carnaval, Pawai Budaya Yogyakarta, Festival Budaya Yogyakarta, Jogja International Etnic Culture Festival, dll. Mereka juga kerap tampil solo dengan konsep pertunjukan, seperti “Massureq” dalam Rumah Budaya Sul-Sel, Pementasan “Antara Cinta, Ombak dan Siri’”.

Tak hanya di Yogyakarta, para duta budaya Sul-Sel ini kerap pula tampil di Kota Solo, Boyolali dan Purwokerto seperti dalam acara Festival Kraton, Kirab Budaya Solo atau tampil dalam berbagai pesta pernikahan bernuangsa Bugis-Makassar  lengkap dengan musik, tari dan MC berbahasa Bugis-Makassar. Bagi penulis, kehadiran para pegiat budaya ini menjadi pengobat rindu akan kenangan, aura kampung halaman. Penulis merasakan kegiatan kebudayaan Sulawesi Selatan lebih terasa di Yogyakarta dibanding di kampung halaman sendiri. Para pelaku budaya ini adalah “pendekar budaya”, mereka berjuang memperkenalkan budaya Sulawesi Selatan dengan kesadaran sendiri, dengan keringat mereka sendiri, bahkan perlengkapan pementasan mereka adakan dengan swadaya dan swadana, miris.

Dari sekian banyak pelaku budaya tersebut, para penari selalu menjadi pusat perhatian, termasuk bagi penulis. Selain karena kecantikan mereka yang khas, gerakan gemulai mereka juga menjadi daya tarik sendiri. Lebih dari itu, kisah perjuangan mereka adalah sebuah cerita. Cerita tentang pengorbanan, pengabdian dan tanggung jawab seorang duta budaya tidak formal karena mereka tak pernah ditasbihkan secara formal minimal oleh Dinas Pariwisata Propinsi Sulawesi Selatan dan jajarannya.

Para penari tersebut kesemuanya adalah Mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta, baik yang tinggal di asrama maupun yang indekost di sekitar kampus. Salah satu diantaranya adalah Aqua A Kagome, wajah cantik gadis lansing ini kerap mewarnai berbagai tarian yang dipentaskan dalam berbagai kegiatan. Kesibukannya sebagai Mahasiswi Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan pengurus BEM Fakultas Kedokteran UGM tak menjadi halangan baginya, padahal mahasiswa kedokteran identik dengan beban kuliah yang padat dan tak kenal waktu. Keaktifan warga Asrama Anging Mammiri ini sering kali menjadi pembanding bagi Mahasiswa lainnya, jadwal kuliah yang padat bukan alasan untuk tidak aktif dalam berkesenian dan berbudaya. Semuanya terletak pada kemauan, “asal ada kemauan pasti semua bisa diatur” tutur Wardah, salah satu pegiat budaya Sul-Sel mengomentari kemauan dan antusiasme yang ditunjukkan Aqua, sapaan akrab gadis asal Barru, Sul-Sel ini.

Penari lainnya adalah Fitriani Ibrahim, akrab dipanggil Fitri. Mahasiswi asal Wajo yang sedang menyusun Skripsi di Universitas Tehnologi Yogyakarta (UTY) ini mengakui “Saya lebih menikmati kebudayaan daerahku selama di Jogja”. Pengakuan ini tidak terlepas dari lingkungan tempat tinggalnya di Asrama Mahasiswa Putri Wajo, di asrama ini semua warga asrama memang di wajibkan untuk bisa menari dan siap pentas diberbagai kegiatan. Para Mahasiswa Wajo di Yogyakarta memang memiliki sanggar seni sendiri, sanggar Seni La Tenribali. Fitri sedikit beruntung dibanding para penari lainnya karena memiliki dasar dan pengalaman menari pada saat masih pelajar SMA dulu.

Hal berbeda diungkapkan oleh Imah, salah satu rekan Fitri di Sanggar Seni Latenribali. Pemilik nama lengkap Andi Fatimah ini menuturkan “saya sama sekali tidak punya dasar menari sebelumnya, baru di Jogjalah saya belajar. Itupun karena dipaksa, tapi lama-lama asik juga”. Mahasiswi Tehnik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama rekan penari lainnya belajar menarik dari para kakak-kakaknya di Asrama, latihan diselenggarakan sesuai kebutuhan, biasanya dimulai setelah Shalat Magrib hingga jam 12 malam atau pada hari Minggu. Baik Imah dan Fitri mengakui tidak mengalami kendala dalam mengatur waktu antara kuliah dan jadwal latihan sanggar dan pementasan itu sendiri. Bagi mereka berdua, kendali ada ditangan mereka sendiri. Disinilah mereka belajar membedakan mana yangg harus didahulukan, disini pula mereka belajar mengarahkan diri sendiri untuk mengambil keputusan, menyelaraskan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.

Baik Aqua, Fitri maupun Imah sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnnya jika di Yogyakarta ini mereka akan menjadi penari, terlibat dalam kegiatan seni dan budaya di kota Budaya Yogyakarta. Namun itulah yang membuat mereka paham dengan kebudayaan mereka, paham akan jenis tarian Sul-Sel, paham pakem tata rias Sul-Sel, paham akan filosofi dan sejarah baju bodo, paham dengan perbedaan kalung pakaian adat mereka. Disini pula mereka mengenal karakter dengan saudara mereka dari berbagai suku dan etnis di Sul-Sel. Mahfum, bertolerasi dan bekerjasama dengan saudara sedaerah sendiri, tidak saling bermusuhan seperti saudara mereka di Makassar saat ini.

“Seni harus menyatukan bukan memecah belah” inilah prisip yang dipegang dan ditularkan oleh Herlina Sari, seorang Apoteker lulusan Universitas Islam Indonesia yang juga aktif menari bersama sanggar Tana Daeng yang dikelola oleh IKAMI Sul-Sel Cab. DIY. Pengalaman menari Herza, begitu ia kerap disapa ternyata sangat panjang, ia mulai belajar menari sejak kelas 2 Sekolah Dasar dan berlanjut hingga kuliah di Universitas Islam Makassar. Pengalaman inilah yang kemudian dibawa dan dibaginya saat diminta melatih adik-adiknya di Asrama Anging Mammiri di Yogyakarta, meski Herza sendiri justru banyak belajar secara autodidak lewat vidio, kaset atau datang ke pertunjukan. “Saya tidak punya guru besar”, kelakar Herza. Mengingatkan istilah suhu, guru besar dalam dunia persilatan. Kelakar inilah yang menjadi inspirasi penulis membuat reportase ini.

Lebih lanjut, dengan lesung pipit ini menceritakan “Di jogja keinginan untuk berkesenian saya tahu sangat besar, bahkan mungkin lebih besar dari teman-teman yg ada di tanah kelahiran kita. Namun mereka tidak punya gebrakan, tidak punya langkah atau apalah namanya, yang jelas seni jika dibicarakan saja tanpa aksi bulsit namanya”.

Menjawab pertanyaan penulis tentang perbedaan tampil menari di Sul-Sel dan di Yogyakarta, Herza menceritakan jika perbedaan itu hanya terletak pada penontonnya saja. Jika di Sul-Sel yang menyaksikan adalah orang Sul-Sel sendiri, sementara di Jogja besar kemungkinan tidak hanya orang Sul-Sel. “Saya lebih banyak memahami budaya Sul-Sel di kampung halaman, tapi saya lebih menikmatinya di Jogja dan saya sendiri tidak tahu alasannya” pungkas Herza.

==============
Sumber Foto : Kas-Kus