Selasa, 04 November 2014

Cara Memasak Bumbu Instan Coto dan Sop Konro Makassar

Standard

Kangen dengan Masakan Khas Bugis Makassar?
Pernah nyoba kuliner khas makassar? pernah nyoba makan coto makassar? atau pernah buat coto makassar? :D

Bosan dengan kulineran yang itu-itu saja?

Yuk coba resep baru Coto Makassar, salah satu kuliner khas Makassar yang juga dikenal dengan Coto Mangkasara.

Saat ini Coto Makassar sudah dapat anda dijumpai hampir di tiap kota besar di Indonesia. Lezatnya jeroan bercampur daging sapi yang diracik dengan bumbu khusus ini akan membuat anda ketagihan dengan kuliner berkuah ini.

Masakan ini akan terasa lebih gurih dan nikmat anda jika dimasak dalam panci tanah liat atau disebut dengan korong butta atau uring butta dengan rempah patang pulo (40 macam rempah).

Dengan adanya perpaduan bumbu diatas, maka coto Makassar menjadi makanan berkuah khas dengan aroma bumbu rempah Cita rasa yang tinggi dan harga yang terjangkau membuat siapa saja dapat menikmati masakan khas Makassar ini.

Ke-semua bumbu dan rempah tersebut tidak saja berfungsi sebagai penyedap, tetapi juga sebagai penyeimbang dan penawar zat-zat yang kurang baik yang terdapat dalam bahan yang dipergunakan seperti hati, babat, jantung dan limpah, yang sarat dengan kolesterol, sehingga makanan ini menjadi sehat untuk disantap.

Tertarik untuk membuatnya??

Enak tidaknya masakan Coto Makassar ditentukan oleh kualitas masakan kuahnya.

Nah bagi anda yang menginginkan kuah yang enak tanpa perlu repot. Kini hadir solusi untuk anda yaitu Bumbu coto makassar instan.

Jadi anda tidak perlu khawatir lagi dengan rasa coto anda. Karena semua yg berada dalam kemasan sudah PAS dan SAMA dengan Aslinya.

Berminat ? Hubungi kami sekarang juga di wa : 0815.7924.897 (Isat)

Jumat, 05 September 2014

Kumpulan Pepatah Makassar; Sastra Klasik Makassar Bagian 5

Standard
21. Pakmaik erok na ati maciknong bajik sikali sigappana.
Artinya: “keinginan yang kuat ditambah hati yang jernih pasti sangat cocok”. Nasihat bagi setiap orang agar dalam melakukan segala sesuatu haruslah didukung oleh kemauan keras serta  hati yang tulus. Jika keduanya dapat disatukan, maka kesukseskan pun pasti akan tercapai.

22. Panne alle cinik ri pamantanganna biasa tonji antu sigentok-gentok.
Artinya: “perhatikan piring di tempatnya sering pula berbenturan”. Maknanya, bagaimana pun rukunnnya pasangan suami isteri pada suatu saat akan muncul juga percekcokan atau pertengkaran di antaranya sebagai bumbu kehidupan (kebersamaan) yang tengah dijalani.

23.    Para buraknejakik, para sekre nyawa nierang, para eja cerakta.
Artinya: “kita sama laki-laki, satu nyawa kita miliki, darah kita pun sama merah”. Semboyan kejantanan yang hingga kini masih sering terdengar di kalangan laki-laki Makassar, yang menyatakan jangan takut atau ragu-ragu menghadapi tantangan. Artinya, sebagai laki-laki haruslah tegar dan memiliki semangat pantang menyerah sampai titik darah penghabisan.

24.    Punna pabaluk minnyak-minnyak nipinawang nabenei tongkik baukma, punna pakeke solongang nipinawang nabenei tongkik bottokna.
Artinya: “jika penjual minyak wangi diikuti akan memperoleh baunya, dan jika penggali selokan yang diikuti akan mendapatkan busuknya”. Merupakan nasihat agar kita meneladani orang baik karena pasti akan ketularan kebaikannya. Sebaliknya, jika mengikuti orang jahat, dia pun secara tak langsung akan menularkan kejahatannya pula pada kita.

25.    Puna tena pangaliknu anngirang-inrangko panngalik na niak nupake-pake.
Artinya: “jika engkau tidak memiliki rasa malu, pinjamlah supaya ada yang engkau manfaatkan”. Peribahasa ini sering ditujukan pada orang yang tidak mau membela atau mepertahankan kehormatan diri maupun keluarganya dari gangguan orang lain (dari luar).

Selasa, 12 Agustus 2014

Cari Rupiah dari Hiruk Pikuk Politik

Standard
Tas dan ransel kini telah menjadi kebutuhan setiap orang, terutama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi. Tas, ibarat adalah teman kerja mereka yang bertugas membawa semua perangkat kerja yang dibutuhkan oleh tuannya. Mulai dari perangkat tehnologi, pakaian ganti, peralatan kebersihan tubuh, asesoris elektronik, buku, catatan, alat tulis dan lain-lain.

Disuasana berbeda, tas dan ransel hampir selalu menjadi souvenir wajib setiap kali ada acara seminar, pelatihan, workshop dan sejenisnya. Maka tas dan rangselpun kini menjadi sarana promosi bagi berbagi perusahan, organisasi, instansi hingga promosi pribadi termasuk didalamnya promosi partai politik dan calon legIslatif. Salah satu produsen tas yang menyasar segmen pasar untuk promosi ini termasuk tas untuk partai politik dan caleg adalah CV. Karyatama yang berlokasi di Jl. Mertojoyo Q3 Malang Jawa Timur. Sehari-hari menjadi supplier aneka tas sekolah, tas kerja, tas seminar dengan model tas selempang, tas ransel, tas 3in1, yang sebagian besar ada tempat laptop didalam tas. Masyarakat umum biasa menyebut dengan TAS LAPTOP.

Pada awal berdiri pada tahun 2005, Karyatama menjalankan usaha dengan men-supply kebutuhan tas cd (cd bag), mainan edukasi anak, accessories computer ke beberapa toko buku besar di Malang (Siswa, Toga Mas, UMM Book Store, Koperasi UIN, Swalayan Baru, dll), Surabaya (Toga Mas, Uranus, dll), Blitar (Restu). Mengunjak tahun2011 Karyatama me-legal-kan usahanya dalam bentuk CV, dan mulai ber-ekspansi pasar dari regional ke nasional dengan memanfaatkan teknologi internet (pemasaran online). Sejak 2011 sampai dengan 2014 CV.Karyatama memfokuskan diri pada produk TAS & Accessories-nya, dan sudah mempunyai pelanggan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Produk tas yang diperdagangkan CV. Karyatama selalu ready stock. Tidak diproduksi setelah ada pemesanan. Kecuali jika ada pesanan khusus dengan desain dan jumlah tertentu, termasuk jika yang dipesan konsumen adalah tas bermerk terkenal seperti Polo, Tracker, Palazzo, Alto, Genic, dll. Maka CV. Karyatama akan memesang ke pabrikannya langsung. Pemilik CV. Karyatama, Ahadian Trihesa (38) saat ditemui Suryadin Laoddang dari Majalah Inspirasi Usaha menuturkan “sejak memulai usahanya ini, pelanggan paling banyak adalah kantor pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara dan Daerah ( BUMN / BUMD), lalu sekolah dan mahasiswa”, klaim pria asli Tulung Agung Jawa Timur ini.

Klaim tersebut dapat dibenarkan jika melihat daftar klien yang sudah digarap selama ini diataranya Pertamina Balikpapan, DPR RI Jakarta, Bank Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, Riau Pulp Riau, Mabes POLRI Jakarta, beberapa Kantor Kementerian, Telkomsel Grapari, LIPI Bogor, BPOM Samarinda, Daihatsu Jakarta. Sedikit berkelakar, Ayah satu anak ini menceritakan kalo sebenarnya tas-tas bermerk yang dipasaran dibandrol sekitar Rp. 200.000 keatas, oleh CV Karyatama dibandrol dengan harga bersaing sudah termasuk logo perusahaan, instansi yang ditawarkan.

Sementara untuk partai untuk pesanan tas berlabel partai politik atau caleg, Ahmadi mengaku belum memiliki pengalaman mendalam. Selama tiga tahun berdiri, selama ini hanya mendapat order dari partai politik dan pemilikada tingkat lokal Jawa Timur. Hingga saat ini total omzet dari pesanan berlabel partai politik itu hanya pada kisaran angka Rp. 60.000.000. Hanya setengah dari rata-rata omzet bulanan yang dibukukan CV Karyatama, yakni 120 juta perbulan.

Saat ini, lini produksi CV Karyatama telah mempersiapkan rancangan Tas dan Laptop untuk media promosi Pemilu tahun 2014. Dari hingar bingar kampanye pemilu tersebut, Ahmadi memperkirakan akan mampu meraup omzet setidakanya 200 hingga 300 juta. Dalam menjalankan bisnisnya ia dibantu sang istri Hapsari Puspita (38) yang asli Malang. “bikin tas atau rangsel partai politik itu gak ribut, kami sudah punya barang, mereka tinggal pilih model yang disukai dan kami tinggal pasang logo dan gambar partai atau caleg yang diinginkan” Pungkas Ahadian ditengah-tengah kesibukannya mengawasi 2 orang karyawannya yang sibuk menyiapkan pengiriman barang.

CV. KARYATAMA dapat dihubungi di
Jl. Mertojoyo Q3 Malang – Jawa Timur – Indonesia 65144
Telp 0341-9300099 – SMS 081805033202 – Fax 0341-552023 – PinBB 319BBF70
Email / Yahoo Messenger : grosirtaslaptop@ymail.com
Website : www.GrosirTasLaptop.com & www.TasSekolahMurah.com

Sabtu, 02 Agustus 2014

Pintu Rumah Orang Bugis; Kenapa Selalu Terbuka?

Standard

Sayang saya belum sempat mudik ke tanah Bugis lebaran Idul Fitri tahun ini. Semoga lebaran Qurban nanti saya bisa mudik. Saya kangen mengembalikan spirit Bugis dalam diri saya, melakukan ritual Makkuruq Sumageq, memanggil kembali sukma saya. Amin.

Dalam tulisan lepas ini, saya tak ingin membahas tentang Makkuruq Sumangeq itu tapi ingin bercerita sedikit tentang sebuah tradisi orang Bugis terkait dengan pintu rumahnya. Jika Anda bertandang ke perkampungan Bugis yang jauh dari pusat kota. Anda akan menemui rumah-rumah orang Bugis yang pintu bagian depan rumahnya terbuka sepanjang hari. Tak pernah ditutup. Pintu akan dibuka sejak fajar menyingsing hingga lembayung tergelincir. Sejak ayam turun dari peraduan hingga ayam itu kembali lagi ke peraduannya.

Kenapa demikian?

Masyarakat Bugis, memahami bahwa pintu depan rumah tak hanya sekedar ruang tempat manusia keluar dan masuk rumah, melainkan juga sebagai pintu masuknya rejeki. Maka pintu harus dibuka sepagi mungkin tepat ketika rejeki dunia telah dihamparkan, rejeki harus dijemput ketika ia akan masuk rumah, dijemput dengan cara dibukakan pintu. Ketika rejeki telah masuk rumah, maka sedapat mungkin ia bertahan lama di rumah, tidak segera keluar rumah lewat pintu belakang.

Itu pulalah alasan kenapa pintu rumah bagian belakang selalu ditutup, berkebalikan dengan pintu depan yang selalu terbuka. Orang Bugis ketika ingin berbelanja ke pasar akan keluar lewat pintu belakang, lalu ketika datang akan lewat pintu depan. Tapi itu dulu, tidak lagi dengan sekarang.

Apakah pintu yang terbuka terus tidak mengundang maling?

Anda tidak perlu heran melihat pintu yang terbuka itu, rumah orang Bugis memang “aneh” dan terkesan mengundang maling. Selain pintu yang selalu terbuka, kebayakan rumah orang Bugis juga tidak memiliki pagar. Bahkan Istana Kerajaan pun juga tidak memiliki pagar sama sekali. Tapi itu dulu, berlangsung sebelum tahun 60-an akhir.

Pada masa itu hampir tidak ada barang berharga di setiap rumah orang Bugis, kecuali hasil bumi, seperti gabah dan jagung. Maka tak perlu ada yang dijaga ketat, tidak ada yang menjadi daya tarik para maling, lagi pula kala itu mungkin tidak banyak maling, bahkan mungkin maling-maling itu juga punya gabah dan jagung di rumahnya.

Pada tahun 60-an akhir, perilaku itu telah berubah. Banyak rumah yang telah memiliki pagar, bahkan pintu rumah kebanyakan telah ditutup. Masa itu orang Bugis telah banyak memasukkan barang berharga dalam rumahnya, seperti radio, perhiasan emas, sepeda hingga bayu kebaya. Maka itu perlu dijaga dan dilindungi. Tidak hanya pintu depan rumah yang ditutup, melainkan tangga rumah yang terhubung dengan teras rumah (lego-lego) juga diberi penutup serupa pintu diatasnya.

Jika pada jaman itu, Anda menemui rumah yang berpagarkan daun beluntas, maka yakinlah dirumah ada barang berharga. Daun bulitas selain ramuan kecantikan bagi perempuan juga merupakan kode bagi petugas keamanan kala itu. Perintah bagi mereka untuk memberi perhatian khusus bagi rumah itu saat berpatroli.

BERSAMBUNG

Kamis, 31 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Makassar; Sastra Klasik Makassar Bagian 4

Standard

16. Naalleammi tallanga na toalia.

Artinya: “dia pilih tenggelam daripada surut kembali”. Gambaran dari sikap orang Makassar yang pantang menyerah terhadap hambatan dan tantangan yang dihadapi sebelum terwujud apa yang dicita-citakan.

17. Napiraknyuki pole bebena.

Artinya: “dia mencuci muka dengan air liur sendiri”. Ungkapan yang ditujukan pada orang yang berusaha menutupi (mengingkari) kesalahan, akan tetapi tanpa disadari perbuatan tersebut justru akan semakin menambah malu dan memperbesar kesalahnnya saja.

18. Olok-oloka lagi na niak tonja paccena.
Artinya: “sedangkan hewan punya rasa iba”. Sebagai sindiran terhadap orang yang tidak memiliki rasa iba (kasihan) kepada sesama manusia, terutama pada sanak keluarganya sendiri. Ada juga peribahasa lain yang artinya mirip dengan peribahasa di atas, yaitu: Niak tonja antu paccena punna pacce naekbak lading. Artinya: “ada juga pedihnya, tetapi pedih karena teriris pisau”.

19. Otak minnyak otakna teai otak bayao.
Artinya: “otaknya otak minyak bukan otak telur”. Ungkapan yang ditujukan kepada orang pintar. Diibaratkan otaknya seperti minyak, apabila panas atau dipanaskan (menemukan masalah) akan mencair. Berbeda dengan mereka yang memiliki otak seperti telur, jika dipanaskan justru akan mengental atau membeku (tidak berkembang/tak mampu berpikir dengan baik).

20. Paempoi gaukmu siagang ampe-ampemu ri adaka siagang ri saraka.
Artinya: “dudukkan perbuatan dan akhlakmu pada adat dan agama”. Menurut adat orang Makassar, setiap perbuatan dan akhlak harus serasi dan sejalan dengan ketentuan adat dan ajaran agama (Islam).

Rabu, 30 Juli 2014

Ucapan Lebaran dalam Bahasa Bugis

Standard
Salama'ki Malleppe Pittara
Oleh : Suryadin Laoddang

Mauluttu massoajang
anu pura siputaroE siteppang mui
tenrisedding pada engkakisitu mennang
ricappa'na uleng ramalang, uleng malebbi

narekko purani tafasilennereng
sumpajang taraweta, nennia puasata
aja tatakalupa ri sekke pittarata
sarekuammeng engkaitu mancaji pallojang
mappefacing risiningna warang parangta
mancajiwi acaddio-rioengen mabbarakka

kufinasai
ati macinnongta
nyameng ininnawata
passempu matajangta
nennia akkalinong mallebangta

engka'karo mappangolo
warekkada malliung bettuanna
ranga-rangaku tellu esso tellu penni
iya kupinasa, arupang pallanggana mariangnge

upiwinasai pabbere addampengta
risining gau mappuralaloe
iyarega ada-ada makkaroddaku
makkutoro risining pangkaukengku

mammuare'i pada engkakiro mennang
duppai aleppereng pittara
nasibawai ati macinnong
ininnawa manyameng
sempu matajang
nennia akkalinong malebbang

salamaki malleppe pittara
mammuarei natarima madecengngi Puang Allah Ta'ala
siningna pakkasiwiangta
natosiduppa uleng ramalang taung mangolo'E matti
______________
Fassalama Sulekalebbakku

Suryadin Laoddang Mallaibine

TERJEMAHAN :

Meski telah jauh mengangkasa
Namun jika saatnya takkan kemana
Tak terasa, kini kita tiba kembali
Di penghujun bulan Ramadhan, bulan yang mulia

Kalaulah tuan dan puan telah menunaikan
Shalat Taraweh, serta puasa sebulan penuh
Jangan lupa membayar Zakat Fitrah
Karena ialah yang akan mensucikan
Dan membersihkan segala harta kekayaan kita
Membawa kabar suka di akhirat nanti

Kuberharap
pada kesucian hati tuan
Pada ke-Iklasan tuan
Pada keluasan mata batin tuan
Dan pada kearifan dan kebijakan tuan

Kudatang,
Dengan segalah keharibaanku
Dengan kata-kata berlapis makna
Yang kuuntai selama tiga hari – tiga malam
Yang kuharapkan hanyalah persahabatan sehati

Kuberharap, pengampunan dari tuan
Dari segala tingkah lakuku
Ataupun tutur kataku
Maupun tindak-tandukku

Semoga kita semua termasuk yang beruntung
Menyambut Hari Raya Idul Fitri
Dengan niat suci
Nurani yang tulus
Pikiran yang jernih
Dan hati yang lapang

Selamat hari raya Idul Fitri
Semoga Allah SWT berkenang
Menerima segal amal ibadah kita
Dan bertemu kembali bulan Ramadhan berikutnya

Salam dengan segenan Keharibaan
Suryadin Laoddang & Keluarga

Jumat, 25 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Makassar; Sastra Klasik Makassar Bagian 3

Standard
11. Lakbirangi ammatika nassolonga.
Artinya: “lebih baik menetes daripada mengalir”. Semboyan yang umumnya dipakai oleh para pedagang kecil. Yaitu, lebih baik rugi sedikit daripada habis seluruhnya. Lebih baik sedikit berkorban, daripada benar-benar menjadi korban.

12. Lalang dolangampi naerok ingak, basapi naerok appayung.
Artinya: “nanti di tengah pelayaran baru mau ingat (bertobat), sudah basah baru mencari payung”. Kiasan yang menggambarkan bagaimana orang yang terlambat menyadari kekeliruannya. Misalnya, sudah sakit keras dan menjelang sekarat baru mau beriman terhadap Tuhan YME.

13.  Lima ratea lakbiriki naia lima rawaya.

Artinya: “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Memberikan bantuan lebih utama (lebih baik) daripada menengadahkan tangan (menerima bantuan). Demikian pula memberi maaf, lebih mulia daripada menerima permaafan.

14. Lipakmi lipaknu, bajuni bajunmu, takgalakmi sekre-sekrea.

Artinya: “pakailah sarungmu, pasanglah bajumu, berpeganglah pada yang satu”. Peringatan kepada orang yang sedang sakit keras atau sekarat agar pelajaran yang pernah dipelajari, terutama yang berhubungan dengan jalan kematian sesuai norma agama dimanfaatkan atau digunakan.

15. Lompo kayua tongi tambukunna, cakdi katua cakdi tongi tambukunna.
Artinya: “besar kayu besar pula matanya, kecil kayu kecil pula matanya”. Orang jika memiliki penghasilan sedikit, pengeluarannya pun umumnya juga kecil. Namun, begitu penghasilannya naik, pengeluarannya juga meningkat. Artinya, ketika penghasilan makin tinggi ternyata tambah tinggi (banyak) pula kebutuhan hidup yang bersangkutan.

Rabu, 23 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Makassar; Sastra Klasik Makassar Bagian 2

Standard


Anda bebas menyalin dan menyebarkan tulisan ini, semua demi pembelajaran bersama.


6. Inrang kana bayarak kana, inrang cerak bayarak cerak.

Artinya: “utang kata dibayar kata, utang darah dibayar dengan darah pula”. Gambaran sekaligus nasihat, bagaimana orang harus pandai membalas segala sesuatu dengan setimpal. Di samping itu juga mencerminkan sikap hidup orang Makassar, di mana ketika memperoleh kebaikan juga akan membalas dengan kebaikan, namun jika disakiti mereka pun juga akan membalasnya dengan tindakan yang sama.

7. Jeneka cinik ia tonja nanaik ia tonja nanaung.

Artinya: “lihatlah air ada saatnya pasang, ada saatnya surut”. Peribahasa yang berisi nasihat, bahwa kehidupan manusia akan senantiasa mengalami pasang surut silih berganti. Ada kalanya kecukupan, ada kalanya kekurangan. Sekali waktu merasakan senang, lain kali kesusahan, dan semua itu merupakan dinamika yang harus diwaspadai.

8. Kakbiliki riolong kalenmu napunna pakrisik, pakrisik tonji antu ri taua.


Artinya: “cubitlah dirimu lebih dahulu, jika kamu merasa sakit, orang lain pun demikian pula”. Merupakan nasihat, agar sebelum berbuat sesuatu perlu dipertimbangkan sebaik-baiknya. Jika perbuatan tersebut membawa kebaikan segeralah dilaksanakan, tetapi jika hasilnya mungkin buruk janganlah dikerjakan. Apalagi kalau menyangkut orang lain.

9. Kammai tau tallantea palak bangkenna ri buttaya.

Artinya: “bagaikan orang yang tidak rapat telapak kakinya di tanah.” Gambaran terhadap orang yang sangat cepat jalannya karena harus menyelesaikan suatu urusan penting dan mendesak, atau karena ketakutan.

10. Kontunna possok kala lempeka.

Artinya: “biarlah hancur (patah) daripada bengkok”. Semboyan yang menunjukkan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan hidup. Apabila keputusaan sudah diambil, apapun yang terjadi harus dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Selasa, 22 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Makassar; Sastra Klasik Makassar Bagian 1

Standard
1. Akbissai mingka jeknek nakjisik napabissa.
Artinya: “beristinja tetapi air najis yang dipakai membersihkannya”. Orang yang berusaha memperbaiki diri dari kesalahan masa lalunya, tetapi cara yang ditempuhnya bertentangan dengan ajaran agama Islam.

2. Angulummi naung batu lompoa nanggulung naik batu-batu cakdia.
Artinya: “batu besar sudah bergulir ke bawah, sedangkan batu kecil bergulir ke atas”. Ungkapan yang menggambarkan situasi di mana orang-orang yang berpangkat atau berpengaruh (pemimpin) sudah kehilangan kewibawaaanya, sementara karena suatu hal ada orang-orang kecil (yang dulunya tidak terkenal) muncul ke permukaan dan menjadi panutan orang.

3. Apa nagaukang lima kananga takkulleai naasseng lima kairia.
Artinya: “apa yang dilakukan tangan kanan tidak perlu diketahui tangan kiri”. Memberi pertolongan atau bantuan pada orang lain tak perlu diketahui atau diumumkan pada orang banyak.Himbauan aga dalam memberikan sumbangan dilakukan dengan ikhlas, bukan untuk memperoleh pujian.

4. Bajikangangi tattilinga naia tallanga.
Artinya: “lebih baik miring daripada tenggelam”. Biasanya menjadi semboyan para pedagang kecil yang maksudnya: lebih baik rugi sedikit daripada hancur. Atau dapat juga diartikan: lebih baik berkorban daripada menjadi korban.

5. Ciniki gauka naia nualle carammeng lakba.
Artinya: “amatilah setiap perbuatan, lalu jadikan cermin lebar”. Kita harus pandai-pandai mengamati keadaan sekitar kita, yang baik dijadikan pelajaran dan pedoman kemudian diteladani dan diamalkan. Sementara yang buruk dijadikan contoh buruk untuk tidak ditiru dan kalau perlu dibuang jauh-jauh.

Kamis, 17 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Bugis, Sastra Klasik Bugis; Bagian 5

Standard
31. Paddioloiwi niak madécéng ri temmakdupana iyamanenna.

Artinya: “Dahuluilah dengan niat baik sebelum melaksanakan pekerjaan”. Dengan adanya niat baik yang bersangkutan akan tertuntun ke jalan yang benar. Berniat baik saja sudah merupakan kebaikan, apalagi kalau dilaksanakan.

32. Pauno sirié, mappalétté ri pammasareng essé babuaé.

Artinya: “malu mengakibatkan maut, iba hati mengantar ke liang”. Rasa malu yang tak terkendali dapat mengundang malapateka (mengundang maut). Perasaan iba yang berlebihan juga dapat membawa kesengsaraan dan mencelakakan (menyebabkan kematian).

33. Pala uragaé, tebakké tongenngé teccau maégaé, tessiéwa situlaé.

Artinya: “berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan”. Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak termusnahkan. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan YME.

34. Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellenngé nato’walié.

Artinya: “layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali”. Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca, yang berarti mendahulukan pertimbangan yang waras dan matang. Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang dan guling serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar atas dasar kata putus seperti di atas.

35. Rebba sipatokkong, mali siparappé, sirui ménré tessirui nok, malilu sipakainge, maingeppi mupaja.

Artinya: “rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti”. Mengandung pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Juga harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Jika semua itu dilaksanakan akan terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.

Sabtu, 12 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Bugis, Sastra Klasik Bugis; Bagian 4

Standard

Sambungan dari SASTRA BUGIS BAGIAN 3

Anda bebas menyalin ulang teks ini untuk disebarkan dijadikan bahan pembelajaran bagi siapapun

26. Paddioloiwi niak madécéng ri temmakdupana iyamanenna.

Artinya: “Dahuluilah dengan niat baik sebelum melaksanakan pekerjaan”. Dengan adanya niat baik yang bersangkutan akan tertuntun ke jalan yang benar. Berniat baik saja sudah merupakan kebaikan, apalagi kalau dilaksanakan.

27. Pauno sirié, mappalétté ri pammasareng essé babuaé.
Artinya: “malu mengakibatkan maut, iba hati mengantar ke liang”. Rasa malu yang tak terkendali dapat mengundang malapateka (mengundang maut). Perasaan iba yang berlebihan juga dapat membawa kesengsaraan dan mencelakakan (menyebabkan kematian).

28. Pala uragaé, tebakké tongenngé teccau maégaé, tessiéwa situlaé.

Artinya: “berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan”. Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak termusnahkan. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan YME.

29. Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellenngé nato’walié.

Artinya: “layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali”. Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca, yang berarti mendahulukan pertimbangan yang waras dan matang. Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang dan guling serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar atas dasar kata putus seperti di atas.

30. Rebba sipatokkong, mali siparappé, sirui ménré tessirui nok, malilu sipakainge, maingeppi mupaja.

Artinya: “rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti”. Mengandung pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Juga harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Jika semua itu dilaksanakan akan terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.


BERSAMBUNG

Rabu, 02 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Bugis, Sastra Klasik Bugis; Bagian 3

Standard
Sambungan dari SASTRA BUGIS BAGIAN 2

Anda bebas menyalin ulang teks ini untuk disebarkan dijadikan bahan pembelajaran bagi siapapun. 

21. Naiya accae ripatoppoki jékko, aggati aliri, narékko téyai maredduk, mapoloi.
Artinya: “kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, kalau tidak tercerabut, ia akan patah”. Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakn pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan. Kias terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa bencana (malapetaka).

22. Narékko maélokko tikkeng séuwa olokolok sappak-i batélana. Narékko sappakko dallék sappak-i maégana batéla tau .
Artinya: “kalau ingin menangkap seekor binatang, carilah jejaknya. Kalau mau mencari rezeki, carilah di mana banyak jejak manusia”. Pada hakikatnya, manusialah yang menjadi pengantar rezeki, sehingga di mana banyak manusia akan ditemui banyak rezeki.

23. Narékko téyako risarompéngi lipak, aja mutudang ri wiring laleng.
Artinya: “kalau kamu tak sudi terserempet sarung, jangan duduk di tepi jalan”. Duduk di tepi jalan dianggap perbuatan yang tak wajar, karena banyak orang berlalu-lalang. Mengandung nasihat agar menjauhi segala sesuatu yang berbahaya supaya selamat.

24. Narékko maélokko madécéng ri jama-jamammu, attanngakko ri batélak-é. Ajak muolai batélak sigaru-garué, tutunngi batélak makessinngé tumpukna.
Artinya: “kalau mau berhasil dalam usaha atau pekerjaanmu, amatilah jejak-jejak. Jangan mengikuti jejak yang simpang siur, tetapi ikutlah jejak yang baik urutannya” Jejak yang simpang siur adalah jejak orang yang tentu arah tujuan. Jejak yang baik urutannya adalah jejak orang yang berhasil dalam kehidupan. Sukses tidak dapat diraih dengan semangat saja, melainkan harus dibarengi adanya tujuan yang pasti dan jalan yang benar.

25. Olakku kuassukeki, olakmu muassukeki
Artinya: “takaranku kujadikan ukuran, takaranmu kamu jadikan ukuran”. Setiap orang mempunyai prinsip atau landasan berpikir sendiri-sendiri dalam memandang sesuatu. Oleh karena itu harus ada saling pengertian atau tenggang rasa supaya tak terjadi pertikaian.


BERSAMBUNG KE BAGIAN 4

Minggu, 15 Juni 2014

Kumpulan Pepatah Bugis, Sastra Klasik Bugis; Bagian 2

Standard
Sambungan dari SASTRA BUGIS BAGIAN 1

Anda bebas menyalin ulang teks ini untuk disebarkan dijadikan bahan pembelajaran bagi siapapun.

11. Jagaiwi balimmu siseng mualitutui ranemmu wekka seppulo nasaba rangemmu ritu biasa mancaji bali.
Artinya: “jagalah lawanmu sekali dan jagalah sekutumu sepuluh kali lipat sebab sekutu itu bisa menjadi lawan”. Terhadap lawan sikap kita sudah jelas, namun yang harus lebih diwaspadai jangan sampai ada kawan berkhianat. Sebab, dengan demikian lawan jadi bertambah, dan membuat posisi rentan karena yang bersangkutan mengetahui rahasia (kelemahan) kita.

12. Ka-antu jekkongan kammai batu nibuanga naung rilikua; na-antu lambu suka kammai bulo ammawanga ri je’néka, nuassakangi poko’na ammumbai appa’na, nuasakangi appa’na ammumbai poko’na.
Artinya: “kecurangan itu sama dengan batu yang dibuang ke dalam lubuk; sedangkan kejujuran laksana bambu yang terapung di air, engkau tekan pangkalnya maka ujungnya timbul, engkau tekan ujungnya maka pangkalnya timbul”. Kecurangan mudah disembunyikan, namun kejujuran akan senantiasa tampak dan muncul ke permukaan.

14. Lebbik-i cau-caurenngé napellorenngé.

Artinya: “lebih baik yang sering kalah daripada yang pengecut”. Orang yang sering kalah, masih memiliki semangat juang meskipun lemah dalam menghadapi tantangan. Sedangkan pengecut, samasekali tak memiliki keberanian ataupun semangat untuk berusaha menghadapi tantangan.

15. Malai bukurupa ricaué, mappalimbang ri majé ripanganroé.
Artinya: “memalukan kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan”. Dikalahkan dalam perjuangan hidup karena keadaan memaksa memang memalukan. Sedangkan takluk, sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tak memiliki harga diri sama halnya mati.

16. Mattulu’ perajo téppéttu siranrang, padapi mapééttu iya.

Artinya: “terjalin laksana tali pengikat batang bajak pada luku yang selalu bertautan, tak akan putus sebelum putus ketiganya”. Perlambang dari eratnya persahabatan. Di mana masing-masing saling mempererat, memperkuat, sehingga tidak putus jalin kelingnya. Apabila putus satu, maka semua sama-sama putus.

17. Massésa panga, temmasésa api, massésa api temmasésa botoreng.
Artinya: “bersisa pencuri tak bersisa api, bersisa api tak bersisa penjudi”. Betapa pun pintarnya pencuri tak mampu mengambil semua barang (misalnya mengambil rumah atau tanah). Seberapa besarnya kebakaran hanya mampu menghancurkan barang-barang (misalnya tanah masih utuh). Akan tetapi seorang penjudi dapat menghabiskan seluruh barang miliknya (termasuk tanah yang tak dapat dicuri dan terbakar) dalam waktu singkat.

18. Mau maéga pabbiséna nabonngo ponglopinna téa wa’ nalureng.
Artinya: “biar banyak pendayungnya, tetapi bodoh juru mudinya”. Kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh banyak hal, tetapi yang paling menentukan adalah kecakapan dan rasa tanggung jawab kepala rumah tangga itu sendiri.

19. Naiya riyasenngé pannawanawa, mapaccingi riatinna, sappai rinawanawanna, nalolongenngi sininna adaé enrenngé gau’ é napoléié ja’ enrenngé napoléié décéng.

Artinya: “cendekiawan (pannawanawa) ialah orang yang ikhlas, yang pikirannya selalu mencari-cari sampai dia menemukan pemecahan persoalan yang dihadapi, demikian pula perbuatan yang menjadi sumber bencana dan sumber kebajikan”.

20. Naiya tau malempuk-é manguruk manak-i tau sugi-é.

Artinya: “orang yang jujur sewarisan dengan orang kaya”. Orang jujur tidaklah sulit memperoleh kepercayaan dari orang kaya karena kejujurannya.

BERSAMBUNG KE  SASTRA BUGIS BAGIAN 3

Jumat, 13 Juni 2014

Kumpulan Pepatah Bugis, Sastra Klasik Bugis; Bagian 1

Standard

Anda bebas menyalin ulang teks ini untuk disebarkan dijadikan bahan pembelajaran bagi siapapun.

1. Adé’é temmakké-anak’ temmakké-épo.
Artinya: “adat tak mengenal anak, tak mengenal cucu”. Dalam menjalankan norma-norma adat tak boleh pilih kasih (tak pandang bulu). Misalnya, anak sendiri jelas-jelas melakukan pelanggaran harus dikenakan sanksi (hukuman) sesuai ketentuan adat yang berlaku.

2. Ajak mapoloi olona tauwé.
Artinya: “jangan memotong (mengambil) hak orang lain”. Memperjuangkan kehidupan adalah wajar, tetapi jangan menjadikan perjuangan itu pertarungan kekerasan, saling merampas atau menghalangi rezeki orang lain.

3. Aja’ mumatebek ada, apak iyatu adaé maéga bettawanna. Muatutuiwi lilamu, apak iya lilaé paweré-weré.

Artinya: “Jangan banyak bicara, sebab bicara itu banyak artinya. Jaga lidahmu, sebab lidah itu sering mengiris”.

4. Aju maluruémi riala paréwa bola.

Artinya: “hanyalah kayu yang lurus dijadikan ramuan rumah”. Di sini rumah sebagai perlambang dari pemimpin yang melindungi rakyat. Hanya orang yang memiliki sifat lurus (jujur) yang layak dijadikan pemimpin, agar yang bersangkutan dapat menjalankan fungsi perannya dengan baik.

5. Alai cedde’e risesena engkai mappedeceng, sampeanngi maegae risesena engkai maega makkasolang .
Artinya: “ambil yang sedikit jika yang sedikit itu mendatangkan kebaikan, dan tolak yang banyak apabila yang banyak itu mendatangkan kebinasaan”. Mengambil sesuatu dari tempatnya dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, termasuk perbuatan mappasitinaja (kepatutan). Kewajiban yang dibaktikan memperoleh hak yang sepadan adalah suatu perlakuan yang patut. Banyak atau sedikit tidak dipersoalkan oleh kepatutan, kepantasan, dan kelayakan.

6. Balanca manemmui waramparammu, abbeneng anemmui, iakia aja’ mupalaowi moodala’mu enrenngé bagelabamu.
Artinya: “boleh engkau belanjakan harta bendamu, dan pakai untuk berbini, namun janganlah sampai kamu menghabiskan modal dan labamu”. Peringatan pada pedagang (pengusaha) agar dalam menggunakan harta tidak berlebihan sehingga kehabisan modal dan membangkrutkan

7. Dék nalabu essoé ri tenngana bitaraé.
Artinya: “tak akan tenggelam matahari di tengah langit”. Manusia tidak akan mati sebelum takdir ajalnya sampai. Oleh karena itu keraguan harus disingkirkan dalam menghadapi segala tantangan hidup.

8. Duwa laleng tempekding riola, iyanaritu lalenna passarié enrenngé lalenna paggollaé.
Artinya: “dua cara tak dapat ditiru, ialah cara penyadap enau dan cara pembuat gula merah”. Jalan yang ditempuh penyadap enau tak tentu, kadang dari pohon ke pohon lain melalui pelepah atau semak belukar, sehingga dikiaskan sebagai menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Pembuat gula merah umumnya tak menghiraukan kebersihan, lantaran nnya itu tak diketahui orang. Kedua sikap di atas tak pantas ditiru karena mempunyai itikad kurang.

9. Iapa nakullé taué mabbaina narékko naulléni magguli-lingiwi dapurenngé wékka pitu .
Artinya: “apabila seseorang ingin beristeri, harus sanggup mengelilingi dapur tujuh kali”. Di sini dapur merupakan perlambang dari masalah pokok dalam kehidupan rumah tangga. Sedangkan tujuh kali merupakan padanan terhadap jumlah hari yang juga tujuh (Senin s/d Minggu). Maksudnya, sebelum berumah tangga supaya memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab menghidupi keluarga setiap hari.

10. Iyya nanigesara’ ada’ ‘biyasana buttaya tammattikamo balloka, tanaikatonganngamo jukuka, annyalatongi aséya.
Artinya: “Jika dirusak adat kebiasaan negeri maka tuak berhenti menitik, ikan menghilang pula, dan padi pun tidak menjadi”. Jikalau adat dilanggar berarti melanggar kehidupan manusia, yang akibatnya bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan, tetapi juga oleh segenap anggota masyarakat, binatang tumbuh-tumbuhan dan alam semesta.

BERSAMBUNG KE SASTRA BUGIS BAGIAN 2

Senin, 20 Januari 2014

Pesse Dulu, Baru Bicara Siriq

Standard
PESSE DULU, BARU SIRI; FALSAFAH RANTAU ORANG BUGIS
Oleh : Suryadin Laoddang

Bahwa orang Bugis adalah perantau, mungkin semua orang sudah tahu. Namun, jika pertanyaanya adalah “apakah yang membuat orang Bugis doyan merantau?” dan “kenapa orang Bugis banyak sukses di tanah rantau?” penulis yakin tidak semua orang akan mampu mengurainya.

Sedikit berkelakar, Jusuf Kalla salah satu Begawan Saudagar Bugis pada suatu kesempatan mengatakan etos kerja orang Bugis sangat tinggi karena orang Bugis sangat kompleks kebutuhan hidupnya. Terutama saat ia sudah dewasa, mulailah berpikir untuk menikah, ingat pernikahan di Bugis tidak murah. Setelah menikah berpikir lagi untuk memiliki rumah dan kendaraan. Menikah, punya rumah dan kendaraan tercapai, mereka ingin naik Haji. Naik Haji adalah simbol religius dan simbol strata sosial ekonomi bagi orang Bugis.  Setelah semua itu tercapai, maka orang Bugis kembali lagi ke kebutuhan dasar tadi.  Ingin menikah lagi, mulai lagi punya rumah baru, kendaraan baru, naik Haji lagi dan seterusnya. Kebutuhan yang tinggi inilah yang membuat orang Bugis memiliki etos kerja keras. (http://umum.kompasiana.com/2009/06/09/etos-kerja-orang-bugis/)

Tak hanya sukses di tanah rantau, orang Bugis di rantau juga mampu beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka berkediaman. Di beberapa daerah kehadirannya banyak mewarnai dinamika dan eksistensi masyarakat setempat. Di tanah Jawa mereka mampu hadir ditengah riuh rendah pergolakan di jaman kerajaan Mataram Islam, sehingga muncullah kampung Bugisan dan Daengan. Di tanah para Dewa, mereka berbaur dengan masyarakat dan budaya Bali hingga muncullah kampung Serangan. Di daratan Sumatera, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, Papua bahkan hingga di luar negeri keberadaan mereka juga tercatat dalam sejarah dan benak masyarakat pribumi. Entah itu catatan bertinta emas dan atau bertinta kelabu. Secara sepihak penulis berani menekankan bahwa catatan kelabunya tidaklah sebanyak catatan emasnya. Kemampun mereka beradaptasi dengan masyarakat dan budaya setempat adalah kuncinya.

Khasanah budaya Bugis sendiri banyak mengajarkan falsafah-falsafah hidup sebagai kearifan lokal yang menjadi bekal bagi para perantau. Beberapa falsafah tersebut diantaranya  :

Palettui alemu riolo tejjokamu
Falsafah ini mengajarkan kepada calon perantau agar tidak “merantau buta”, merantau tanpa arah dan tujuan yang jelas. Perantu Bugis sejati tidak merantau dengan mengikuti arah kaki kemana hendak melangkah, tidak boleh berprinsip tegi monro tallettung ajeku, konatu leppang (dimana kakiku terantuk, disanalah saya berhenti). Prinsip ini bermakna dan bersugesti negatif. Merantau harus disertai dengan kepastian akan tempat yang dituju, apa yang akan dikerjakan di sana, bahkan calon perantau harus meyakinkah ruh dan jiwanya sudah ada dan menyatu dengan negeri rantau yang akan dituju.

Seorang perantau dari Sengkang misalnya ketika ingin merantau ke Semarang, maka ia akan mencari informasi seperti apa kota Semarang itu? Setidaknya seperti apa keramaian di sana dibandingkan dengan kota Sengkang sendiri. Ketika ia mendapatkan informasi bahwa kota Semarang empat kali lebih ramai dibanding kota Sengkang maka ia harus mampu membayangkan seperti apa kota Sengkang jika keramaiannya berlipat empat kali. Bagaimana jika calon perantau berasal dari pedalaman Wajo? yang belum pernah melihat kota Sengkang. Solusinya, pertama ia harus mencari informasi seperti apa keramaian kota Sengkang, lalu membandingkan dengan keramaian di kampungnya. Misalanya tingkat keramaian di kampungnya adalah 3 kali lipat dibanding Sengkang maka itu berarti tingkat keramaian kota Semarang adalah 12 kali lipat dibanding kampungnya.

    Akkulu peppeko mulao, abbulu rompengku mulesu
Hukum ekonomi yang meminimalkan modal dan memaksimalkan keuntungan adalah inti yang diajarkan dalam falasafah ini. Seorang perantau,  harus berangkat dengan bekal sedikit dan kelak jika pulang harus membawa hasil sebanyak-banyaknya.

Diluar ranah ekonomi, falsafah ini juga bermakna “lihatlah ketika engkau berangkat merantau engkau bukan siapa-siapa, maka saat engkau kembali nanti maka engkau harus menjadi orang terpandang”. Pemaknaan ini cocok untuk mereka yang merantau dengan tujuan menimba ilmu atau mengejar jenjang karir, ataupun mereka yang merantau karena mengejar cintanya.
    Engkakotu manguju melle, aja’ mutabbangkakengngi pada pasana Peneki, teggenne balu namele soro.
Niat yang teguh, tekad yang bulat, semangat yang membara harus terus terjaga, tak boleh luntur dalam perjalan ke negeri rantau bahkan saat berada di negeri rantau itu sendiri. Seorang perantau harus berpegang pada niat, tekad dan semangatnya itu. Jika tidak, dikhawatirkan ia akan mundur atau surut jauh sebelum ia mencapai apa yang diimpikannya, mundur sebelum tiba di negeri rantau, mundur saat perjalannya bahkan sebelum sampai sepenggalan jalan.

Itu adalah ajaran inti dari falsafah ini yang secara harfiah bisa dialihbahasakan menjadi “adalah dirimu menuju hajat besar, janganlah jumawa karena bisa saja engkau seperti pasar di Kampung Peneki, pasar dengan penjual dan barang jualannya sangat sedikit sehingga tak sampai tengah hari pasarnya sudah bubar”
    Pura babbara sompeku, pura tangkisi gulikku, ulebbireng tellengnge natowalia
Falsafah ini menegaskan bahwa seseorang yang telah memilih merantau sebagai jalan hidup, harus kukuh, kokoh dan kekeh dengan pilihannya. Tidak boleh ada kata mundur apalagi batal tak jadi merantau, apapun resikonya. Ibarat seorang pelaut yang telah memasang kemudinya (Pura tagkisi gulikku), sudah kukembangkan layarku (pura babbara sompeku’), lebih baik saya tenggelam dan tercungkup perahuku daripada harus surut (ulebbirengngi tellengnge natowalia).
Mundur, mengabaikan, mengingkari sebuah ikrar, janji, sumpah apalagi telah diumumkan atau diketahui oleh orang banyak adalah aib (siri’) bagi orang Bugis. Harga diri menjadi jatuh tak berharga, seumur hidup  akan dicemooh, dihina dinakan dan dihujat dengan kata paccocoreng manu’ mate (nyalimu ternyata hanya serupa kedutan pada dubur ayam yang telah disembelih)
    Kegasi sanree lopiE kotisu to taro sengereng
Menggariskan sebuah perintah para perantau Bugis atas tidak jumawa, merasa dirinya hebat dan bertindak sesuka hati dan sekehendak perut di negeri rantau. Perantau Bugis harus mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia harus mau menerima dan toleransi dengan adat dan budaya setempat, setelah ia mampu menyakinkan masyarakat setempat untuk menerimanya sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Ibarat pepatah Melayu, dimana bumi di pijak disana langit dijunjung. Maka falsafah Bugis ini bermakna, dimanapun perahuku kutambatkan, di sanalah saya menanam budi baik.

Falsafah-falsafah diatas adalah contoh kecil dari beragamanya kearifan lokal Bugis yang terkait dengan ikhwal rantau dan perantauan. Masih banyak bentuk kearfikan lokal lainnya yang sekiranya tak cukup ruang untuk diulas pada tulisan ini. Selain falsafah diatas, masih ada satu falsafah yang jamak ditemui hingga hari. Berbunyi “angcaji funggawa laloku, muni funggawa farampokmo” (jadilah engkau pemimpin, meski sekedar pimpinan perampok). Mau coba?                                                   


Referensi

1.    Kesuma, Andi Ima., Migrasi dan Orang Bugis, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2004
2.    Hamid, Abu., Passompe Pengembaraan Orang Bugis, Pustaka Refleksi, Makassar, 2005
3.    Ph.D.L. Tobing., Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amana Gappa, Yayasan Kebudayaan Sulawesi  Selatan dan Tenggara, Makassar, 1961.

Sumber  : Mhimi F Hanis