Kamis, 31 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Makassar; Sastra Klasik Makassar Bagian 4

Standard

16. Naalleammi tallanga na toalia.

Artinya: “dia pilih tenggelam daripada surut kembali”. Gambaran dari sikap orang Makassar yang pantang menyerah terhadap hambatan dan tantangan yang dihadapi sebelum terwujud apa yang dicita-citakan.

17. Napiraknyuki pole bebena.

Artinya: “dia mencuci muka dengan air liur sendiri”. Ungkapan yang ditujukan pada orang yang berusaha menutupi (mengingkari) kesalahan, akan tetapi tanpa disadari perbuatan tersebut justru akan semakin menambah malu dan memperbesar kesalahnnya saja.

18. Olok-oloka lagi na niak tonja paccena.
Artinya: “sedangkan hewan punya rasa iba”. Sebagai sindiran terhadap orang yang tidak memiliki rasa iba (kasihan) kepada sesama manusia, terutama pada sanak keluarganya sendiri. Ada juga peribahasa lain yang artinya mirip dengan peribahasa di atas, yaitu: Niak tonja antu paccena punna pacce naekbak lading. Artinya: “ada juga pedihnya, tetapi pedih karena teriris pisau”.

19. Otak minnyak otakna teai otak bayao.
Artinya: “otaknya otak minyak bukan otak telur”. Ungkapan yang ditujukan kepada orang pintar. Diibaratkan otaknya seperti minyak, apabila panas atau dipanaskan (menemukan masalah) akan mencair. Berbeda dengan mereka yang memiliki otak seperti telur, jika dipanaskan justru akan mengental atau membeku (tidak berkembang/tak mampu berpikir dengan baik).

20. Paempoi gaukmu siagang ampe-ampemu ri adaka siagang ri saraka.
Artinya: “dudukkan perbuatan dan akhlakmu pada adat dan agama”. Menurut adat orang Makassar, setiap perbuatan dan akhlak harus serasi dan sejalan dengan ketentuan adat dan ajaran agama (Islam).

Rabu, 30 Juli 2014

Ucapan Lebaran dalam Bahasa Bugis

Standard
Salama'ki Malleppe Pittara
Oleh : Suryadin Laoddang

Mauluttu massoajang
anu pura siputaroE siteppang mui
tenrisedding pada engkakisitu mennang
ricappa'na uleng ramalang, uleng malebbi

narekko purani tafasilennereng
sumpajang taraweta, nennia puasata
aja tatakalupa ri sekke pittarata
sarekuammeng engkaitu mancaji pallojang
mappefacing risiningna warang parangta
mancajiwi acaddio-rioengen mabbarakka

kufinasai
ati macinnongta
nyameng ininnawata
passempu matajangta
nennia akkalinong mallebangta

engka'karo mappangolo
warekkada malliung bettuanna
ranga-rangaku tellu esso tellu penni
iya kupinasa, arupang pallanggana mariangnge

upiwinasai pabbere addampengta
risining gau mappuralaloe
iyarega ada-ada makkaroddaku
makkutoro risining pangkaukengku

mammuare'i pada engkakiro mennang
duppai aleppereng pittara
nasibawai ati macinnong
ininnawa manyameng
sempu matajang
nennia akkalinong malebbang

salamaki malleppe pittara
mammuarei natarima madecengngi Puang Allah Ta'ala
siningna pakkasiwiangta
natosiduppa uleng ramalang taung mangolo'E matti
______________
Fassalama Sulekalebbakku

Suryadin Laoddang Mallaibine

TERJEMAHAN :

Meski telah jauh mengangkasa
Namun jika saatnya takkan kemana
Tak terasa, kini kita tiba kembali
Di penghujun bulan Ramadhan, bulan yang mulia

Kalaulah tuan dan puan telah menunaikan
Shalat Taraweh, serta puasa sebulan penuh
Jangan lupa membayar Zakat Fitrah
Karena ialah yang akan mensucikan
Dan membersihkan segala harta kekayaan kita
Membawa kabar suka di akhirat nanti

Kuberharap
pada kesucian hati tuan
Pada ke-Iklasan tuan
Pada keluasan mata batin tuan
Dan pada kearifan dan kebijakan tuan

Kudatang,
Dengan segalah keharibaanku
Dengan kata-kata berlapis makna
Yang kuuntai selama tiga hari – tiga malam
Yang kuharapkan hanyalah persahabatan sehati

Kuberharap, pengampunan dari tuan
Dari segala tingkah lakuku
Ataupun tutur kataku
Maupun tindak-tandukku

Semoga kita semua termasuk yang beruntung
Menyambut Hari Raya Idul Fitri
Dengan niat suci
Nurani yang tulus
Pikiran yang jernih
Dan hati yang lapang

Selamat hari raya Idul Fitri
Semoga Allah SWT berkenang
Menerima segal amal ibadah kita
Dan bertemu kembali bulan Ramadhan berikutnya

Salam dengan segenan Keharibaan
Suryadin Laoddang & Keluarga

Jumat, 25 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Makassar; Sastra Klasik Makassar Bagian 3

Standard
11. Lakbirangi ammatika nassolonga.
Artinya: “lebih baik menetes daripada mengalir”. Semboyan yang umumnya dipakai oleh para pedagang kecil. Yaitu, lebih baik rugi sedikit daripada habis seluruhnya. Lebih baik sedikit berkorban, daripada benar-benar menjadi korban.

12. Lalang dolangampi naerok ingak, basapi naerok appayung.
Artinya: “nanti di tengah pelayaran baru mau ingat (bertobat), sudah basah baru mencari payung”. Kiasan yang menggambarkan bagaimana orang yang terlambat menyadari kekeliruannya. Misalnya, sudah sakit keras dan menjelang sekarat baru mau beriman terhadap Tuhan YME.

13.  Lima ratea lakbiriki naia lima rawaya.

Artinya: “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Memberikan bantuan lebih utama (lebih baik) daripada menengadahkan tangan (menerima bantuan). Demikian pula memberi maaf, lebih mulia daripada menerima permaafan.

14. Lipakmi lipaknu, bajuni bajunmu, takgalakmi sekre-sekrea.

Artinya: “pakailah sarungmu, pasanglah bajumu, berpeganglah pada yang satu”. Peringatan kepada orang yang sedang sakit keras atau sekarat agar pelajaran yang pernah dipelajari, terutama yang berhubungan dengan jalan kematian sesuai norma agama dimanfaatkan atau digunakan.

15. Lompo kayua tongi tambukunna, cakdi katua cakdi tongi tambukunna.
Artinya: “besar kayu besar pula matanya, kecil kayu kecil pula matanya”. Orang jika memiliki penghasilan sedikit, pengeluarannya pun umumnya juga kecil. Namun, begitu penghasilannya naik, pengeluarannya juga meningkat. Artinya, ketika penghasilan makin tinggi ternyata tambah tinggi (banyak) pula kebutuhan hidup yang bersangkutan.

Rabu, 23 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Makassar; Sastra Klasik Makassar Bagian 2

Standard


Anda bebas menyalin dan menyebarkan tulisan ini, semua demi pembelajaran bersama.


6. Inrang kana bayarak kana, inrang cerak bayarak cerak.

Artinya: “utang kata dibayar kata, utang darah dibayar dengan darah pula”. Gambaran sekaligus nasihat, bagaimana orang harus pandai membalas segala sesuatu dengan setimpal. Di samping itu juga mencerminkan sikap hidup orang Makassar, di mana ketika memperoleh kebaikan juga akan membalas dengan kebaikan, namun jika disakiti mereka pun juga akan membalasnya dengan tindakan yang sama.

7. Jeneka cinik ia tonja nanaik ia tonja nanaung.

Artinya: “lihatlah air ada saatnya pasang, ada saatnya surut”. Peribahasa yang berisi nasihat, bahwa kehidupan manusia akan senantiasa mengalami pasang surut silih berganti. Ada kalanya kecukupan, ada kalanya kekurangan. Sekali waktu merasakan senang, lain kali kesusahan, dan semua itu merupakan dinamika yang harus diwaspadai.

8. Kakbiliki riolong kalenmu napunna pakrisik, pakrisik tonji antu ri taua.


Artinya: “cubitlah dirimu lebih dahulu, jika kamu merasa sakit, orang lain pun demikian pula”. Merupakan nasihat, agar sebelum berbuat sesuatu perlu dipertimbangkan sebaik-baiknya. Jika perbuatan tersebut membawa kebaikan segeralah dilaksanakan, tetapi jika hasilnya mungkin buruk janganlah dikerjakan. Apalagi kalau menyangkut orang lain.

9. Kammai tau tallantea palak bangkenna ri buttaya.

Artinya: “bagaikan orang yang tidak rapat telapak kakinya di tanah.” Gambaran terhadap orang yang sangat cepat jalannya karena harus menyelesaikan suatu urusan penting dan mendesak, atau karena ketakutan.

10. Kontunna possok kala lempeka.

Artinya: “biarlah hancur (patah) daripada bengkok”. Semboyan yang menunjukkan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan hidup. Apabila keputusaan sudah diambil, apapun yang terjadi harus dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Selasa, 22 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Makassar; Sastra Klasik Makassar Bagian 1

Standard
1. Akbissai mingka jeknek nakjisik napabissa.
Artinya: “beristinja tetapi air najis yang dipakai membersihkannya”. Orang yang berusaha memperbaiki diri dari kesalahan masa lalunya, tetapi cara yang ditempuhnya bertentangan dengan ajaran agama Islam.

2. Angulummi naung batu lompoa nanggulung naik batu-batu cakdia.
Artinya: “batu besar sudah bergulir ke bawah, sedangkan batu kecil bergulir ke atas”. Ungkapan yang menggambarkan situasi di mana orang-orang yang berpangkat atau berpengaruh (pemimpin) sudah kehilangan kewibawaaanya, sementara karena suatu hal ada orang-orang kecil (yang dulunya tidak terkenal) muncul ke permukaan dan menjadi panutan orang.

3. Apa nagaukang lima kananga takkulleai naasseng lima kairia.
Artinya: “apa yang dilakukan tangan kanan tidak perlu diketahui tangan kiri”. Memberi pertolongan atau bantuan pada orang lain tak perlu diketahui atau diumumkan pada orang banyak.Himbauan aga dalam memberikan sumbangan dilakukan dengan ikhlas, bukan untuk memperoleh pujian.

4. Bajikangangi tattilinga naia tallanga.
Artinya: “lebih baik miring daripada tenggelam”. Biasanya menjadi semboyan para pedagang kecil yang maksudnya: lebih baik rugi sedikit daripada hancur. Atau dapat juga diartikan: lebih baik berkorban daripada menjadi korban.

5. Ciniki gauka naia nualle carammeng lakba.
Artinya: “amatilah setiap perbuatan, lalu jadikan cermin lebar”. Kita harus pandai-pandai mengamati keadaan sekitar kita, yang baik dijadikan pelajaran dan pedoman kemudian diteladani dan diamalkan. Sementara yang buruk dijadikan contoh buruk untuk tidak ditiru dan kalau perlu dibuang jauh-jauh.

Kamis, 17 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Bugis, Sastra Klasik Bugis; Bagian 5

Standard
31. Paddioloiwi niak madécéng ri temmakdupana iyamanenna.

Artinya: “Dahuluilah dengan niat baik sebelum melaksanakan pekerjaan”. Dengan adanya niat baik yang bersangkutan akan tertuntun ke jalan yang benar. Berniat baik saja sudah merupakan kebaikan, apalagi kalau dilaksanakan.

32. Pauno sirié, mappalétté ri pammasareng essé babuaé.

Artinya: “malu mengakibatkan maut, iba hati mengantar ke liang”. Rasa malu yang tak terkendali dapat mengundang malapateka (mengundang maut). Perasaan iba yang berlebihan juga dapat membawa kesengsaraan dan mencelakakan (menyebabkan kematian).

33. Pala uragaé, tebakké tongenngé teccau maégaé, tessiéwa situlaé.

Artinya: “berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan”. Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak termusnahkan. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan YME.

34. Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellenngé nato’walié.

Artinya: “layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali”. Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca, yang berarti mendahulukan pertimbangan yang waras dan matang. Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang dan guling serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar atas dasar kata putus seperti di atas.

35. Rebba sipatokkong, mali siparappé, sirui ménré tessirui nok, malilu sipakainge, maingeppi mupaja.

Artinya: “rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti”. Mengandung pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Juga harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Jika semua itu dilaksanakan akan terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.

Sabtu, 12 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Bugis, Sastra Klasik Bugis; Bagian 4

Standard

Sambungan dari SASTRA BUGIS BAGIAN 3

Anda bebas menyalin ulang teks ini untuk disebarkan dijadikan bahan pembelajaran bagi siapapun

26. Paddioloiwi niak madécéng ri temmakdupana iyamanenna.

Artinya: “Dahuluilah dengan niat baik sebelum melaksanakan pekerjaan”. Dengan adanya niat baik yang bersangkutan akan tertuntun ke jalan yang benar. Berniat baik saja sudah merupakan kebaikan, apalagi kalau dilaksanakan.

27. Pauno sirié, mappalétté ri pammasareng essé babuaé.
Artinya: “malu mengakibatkan maut, iba hati mengantar ke liang”. Rasa malu yang tak terkendali dapat mengundang malapateka (mengundang maut). Perasaan iba yang berlebihan juga dapat membawa kesengsaraan dan mencelakakan (menyebabkan kematian).

28. Pala uragaé, tebakké tongenngé teccau maégaé, tessiéwa situlaé.

Artinya: “berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan”. Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak termusnahkan. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan YME.

29. Pura babbara’ sompekku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellenngé nato’walié.

Artinya: “layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali”. Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca, yang berarti mendahulukan pertimbangan yang waras dan matang. Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang dan guling serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar atas dasar kata putus seperti di atas.

30. Rebba sipatokkong, mali siparappé, sirui ménré tessirui nok, malilu sipakainge, maingeppi mupaja.

Artinya: “rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti”. Mengandung pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Juga harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Jika semua itu dilaksanakan akan terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.


BERSAMBUNG

Rabu, 02 Juli 2014

Kumpulan Pepatah Bugis, Sastra Klasik Bugis; Bagian 3

Standard
Sambungan dari SASTRA BUGIS BAGIAN 2

Anda bebas menyalin ulang teks ini untuk disebarkan dijadikan bahan pembelajaran bagi siapapun. 

21. Naiya accae ripatoppoki jékko, aggati aliri, narékko téyai maredduk, mapoloi.
Artinya: “kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, kalau tidak tercerabut, ia akan patah”. Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakn pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan. Kias terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa bencana (malapetaka).

22. Narékko maélokko tikkeng séuwa olokolok sappak-i batélana. Narékko sappakko dallék sappak-i maégana batéla tau .
Artinya: “kalau ingin menangkap seekor binatang, carilah jejaknya. Kalau mau mencari rezeki, carilah di mana banyak jejak manusia”. Pada hakikatnya, manusialah yang menjadi pengantar rezeki, sehingga di mana banyak manusia akan ditemui banyak rezeki.

23. Narékko téyako risarompéngi lipak, aja mutudang ri wiring laleng.
Artinya: “kalau kamu tak sudi terserempet sarung, jangan duduk di tepi jalan”. Duduk di tepi jalan dianggap perbuatan yang tak wajar, karena banyak orang berlalu-lalang. Mengandung nasihat agar menjauhi segala sesuatu yang berbahaya supaya selamat.

24. Narékko maélokko madécéng ri jama-jamammu, attanngakko ri batélak-é. Ajak muolai batélak sigaru-garué, tutunngi batélak makessinngé tumpukna.
Artinya: “kalau mau berhasil dalam usaha atau pekerjaanmu, amatilah jejak-jejak. Jangan mengikuti jejak yang simpang siur, tetapi ikutlah jejak yang baik urutannya” Jejak yang simpang siur adalah jejak orang yang tentu arah tujuan. Jejak yang baik urutannya adalah jejak orang yang berhasil dalam kehidupan. Sukses tidak dapat diraih dengan semangat saja, melainkan harus dibarengi adanya tujuan yang pasti dan jalan yang benar.

25. Olakku kuassukeki, olakmu muassukeki
Artinya: “takaranku kujadikan ukuran, takaranmu kamu jadikan ukuran”. Setiap orang mempunyai prinsip atau landasan berpikir sendiri-sendiri dalam memandang sesuatu. Oleh karena itu harus ada saling pengertian atau tenggang rasa supaya tak terjadi pertikaian.


BERSAMBUNG KE BAGIAN 4