Jumat, 05 September 2014

Kumpulan Pepatah Makassar; Sastra Klasik Makassar Bagian 5

Standard
21. Pakmaik erok na ati maciknong bajik sikali sigappana.
Artinya: “keinginan yang kuat ditambah hati yang jernih pasti sangat cocok”. Nasihat bagi setiap orang agar dalam melakukan segala sesuatu haruslah didukung oleh kemauan keras serta  hati yang tulus. Jika keduanya dapat disatukan, maka kesukseskan pun pasti akan tercapai.

22. Panne alle cinik ri pamantanganna biasa tonji antu sigentok-gentok.
Artinya: “perhatikan piring di tempatnya sering pula berbenturan”. Maknanya, bagaimana pun rukunnnya pasangan suami isteri pada suatu saat akan muncul juga percekcokan atau pertengkaran di antaranya sebagai bumbu kehidupan (kebersamaan) yang tengah dijalani.

23.    Para buraknejakik, para sekre nyawa nierang, para eja cerakta.
Artinya: “kita sama laki-laki, satu nyawa kita miliki, darah kita pun sama merah”. Semboyan kejantanan yang hingga kini masih sering terdengar di kalangan laki-laki Makassar, yang menyatakan jangan takut atau ragu-ragu menghadapi tantangan. Artinya, sebagai laki-laki haruslah tegar dan memiliki semangat pantang menyerah sampai titik darah penghabisan.

24.    Punna pabaluk minnyak-minnyak nipinawang nabenei tongkik baukma, punna pakeke solongang nipinawang nabenei tongkik bottokna.
Artinya: “jika penjual minyak wangi diikuti akan memperoleh baunya, dan jika penggali selokan yang diikuti akan mendapatkan busuknya”. Merupakan nasihat agar kita meneladani orang baik karena pasti akan ketularan kebaikannya. Sebaliknya, jika mengikuti orang jahat, dia pun secara tak langsung akan menularkan kejahatannya pula pada kita.

25.    Puna tena pangaliknu anngirang-inrangko panngalik na niak nupake-pake.
Artinya: “jika engkau tidak memiliki rasa malu, pinjamlah supaya ada yang engkau manfaatkan”. Peribahasa ini sering ditujukan pada orang yang tidak mau membela atau mepertahankan kehormatan diri maupun keluarganya dari gangguan orang lain (dari luar).