Jumat, 16 Juni 2017

Dosen Jualan hadir berbagi Tips Jualan Online di Group WA Anda....

Standard
Dosen Jualan hadir berbagi Tips Jualan Online di Group WA Anda....

Melanjutkan postingan di FB saya kemarin tentang rencana Dosen Jualan untuk hadir di Group WA Anda, berikut saya rincikan hal tehnisnya ....

A. Tentang materi yang dibagikan
Materi yang dibagikan Dosen Jualan terbagi atas 4 kategori

1.Tips-tips marketing ( online & offline )



2. Ide-ide bisnis


3. Cerita inspirasi



 4. Contoh copy writing





Materi akan dibagikan ke dalam semua Group secara serentak oleh Dosen Jualan dan atau Tim Dosen Jualan.

B. Waktu sharing materi
Dosen Jualan akan berbagi di dalam group Anda tidaklah rutin pada waktu dan jadwal tertentu. Melainkan dibagikan sewaktu-waktu, disaat Dosen Jualan ada waktu dan dapat ide (menyesuaian dengan aktifitas Dosen Jualan lainnya)

Materi dibagikan secara terus menerus, beberapa tips dibagikan secara berseri. Jadi tidak hanya sekali berbagi dalam Group. Untuk itu Dosen Jualan akan ada dalam group Anda secara terus menerus. Jadi tidak Anda keluarkan dari Group Anda.

C. Group yang bergabung
Group apapun boleh mendapatkan tips-tips dari Dosen Jualan, termasuk group yang berbau SARA. Semoga dengan hadirnya tips Dosen Jualan, bisa menjadi pencerahan siapapun.

Bagi group yang ingin berpartisipasi, maka diminta untuk merevisi nama group Anda dengan menambahkan kata DJ diakhir atau diawal Group Anda.

Contoh : nama group awalnya EMAK-EMAK DOYAN BISNIS menjadi EMAK-EMAK DOYAN BISNIS DJ

Tujuan dirubahnya nama group ini adalah untuk memudahkan Dosen Jualan dalam mengirimkan tips tersebut, semoga dengan ganti nama ini, tidak ada group yang terlewatkan.


D. Konpensasi untuk Dosen Jualan
Tidak ada konpensasi yang diminta oleh Dosen Jualan. Dosen Jualan tidak akan jualan dengan hard selling di Group Anda, baik itu jualan produk, jasa, atau kelas Dosen Jualan. Sesekali Dosen Jualan hanya akan lakukan soft selling diakhir postingan, dengan cantumkan link-link website.

Silahkan, jika Anda berminat dan setuju dengan ikhwal tehnis diatas silahkan add nomor berikut 0857 9996 9668 ke dalam Group Anda (ini nomor HP saya yang akan melayani program ini).

Sejarah: Kyai Suja, Keteguhan Hati dan Keyakinan Datangnya Pertolongan Allah.

Standard
Sejarah: Kyai Suja, Keteguhan Hati dan Keyakinan Datangnya Pertolongan Allah.

SangPencerah.id– Pada 17 Juni 1920 berlangsung rapat anggota Muhammadiyah yang dipimpin langsung oleh Kiai Dahlan. Rapat malam itu membahas program kerja. Bidang Pendidikan dipimpin oleh Kiai Hisyam, yang berkeinginan membuat sekolah-sekolah dan Universitas Islam. Bidang Tabligh dipimpin oleh Kiai Fahrodin, yang berkeinginan membangun Masjid dan menggelorakan pengajian. Bidang Taman Pustaka dipimpin Kiai Mohtar,yang berkeinginan menerbitkan majalah dan buku-buku Islam.

Bidang terakhir bernama Bidang Penolong Kesengsaraan Umum yang dipimpin oleh Kyai Syuja, yang berkeinginan membangun Rumah Sakit, Panti Sosial untuk orang miskin dan mendirikan Panti Asuhan. Ide Kyai Syuja karuan saja ditertawakan oleh peserta rapat anggota Muhammadiyah.

Bagi peserta rapat ide dari Kyai Syuja itu terlalu besar, mengada-ada dan tidak seimbang dengan kemampuan Muhammadiyah. Bahkan ada anggota Muhammadiyah berkomentar “ Itu kan pekerjaan pemerintah/kolonial Belanda,apakah Muhammadiyah akan menjadi pemerintah?” Kiai Dahlan memberi isyarat agar peserta rapat tenang dan rapat akan ditutup.

Namun Kyai Syuja minta izin untuk bicara dan dikabulkan oleh Kiai Dahlan. Kyai Syuja mengungkapkan kekecewaannya karena ide-idenya ditertawakan peserta rapat. Kyai Syuja yakin atas dasar pengetahuan dan ajaran Islam bahwa mendirikan Rumah Sakit,Panti Sosial dan Panti Asuhan bisa dilaksanakan karena Allah SWT memerintahkan manusia bekerja dengan sungguh-sungguh dengan penuh semangat dan giat.

Pada akhir pidato Kiai Syuja mengutip Q.S Muhammad (47) Ayat 7 : Hai orang-orang yang beriman,jika kamu menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kamu dan akan meneguhkan kedudukanmu.

Sekarang kita bisa melihat tekad Kiai Suja’ inilah yang menjadikan Muhammadiyah dikenal dan dikenang sebagai organisasi pelayanan yang besar: Rumah Sakit dan Panti Asuhan adalah trade mark utama Muhammadiyah hingga kini.

Kalau tidak ada tekad yang ditertawakan itu tidak akan terwujud ide Kiai Suja’ ini. Terkadang dalam bertindak kita memang perlu menjadi manusia yang penuh tekad, tebal muka, siap diejek dan ditertawakan. Bila Allah berkehendak, dan cita-cita kita itu sesuai dengan kehendak jaman, niscaya cita-cita itu akan terwujud. (sp/red)

Renungan 20 Ramadhan 1438

Iwan Setiawan.

Berapa Gaji Seorang Pimpinan Muhammadiyah

Standard
Berapa Gaji Seorang Pimpinan Muhammadiyah

Seorang pengurus yayasan bertanya: “Berapa gaji pengurus Muhammadiyah yang tertinggi dan terendah?”
“Pimpinan tidak ada yang digaji, hanya karyawan yang digaji” jawab saya
“Apa benar? Kalau begitu dari mana sumber ekonomi mereka?”
”Semua pimpinan Muhammadiyah punya pekerjaan, tidak menganggur”.
” Bagaimana kalau tugas Muhyammadiyah bersamaan dengan tugas pekerjaan?”
” Jika waktu berbenturan, tugas pekerjaan didahulukan, baru Muhammadiyah.”.
”Kalau begitu tidak profesional karena menomorduakan Muhammadiyah”.
”Mungkin menurut orang lain tidak profesional. Tetapi itu lebih baik karena semua pimpinan
Muhammadiyah tidak ada yang berfikir mengurusi Muhammaidyah sebagai profesi. Semua berniat sebagai pengabdian. Yang penting dilakukan penuh kesungguhan dan sepenuh kemampuan”.

Teringat Alm. Pak Lukman Harun. Beliau pernah punya gagasan memberi gaji kepada pimpinan Muhammadiyah supaya waktu dan perhatiannya bisa penuh ke pesyarikatan. Tanggapan Pak AR ketika ditanya: ”Itu niat yang baik, tapi ketua PP mau digaji berapa? Ketua ranting berapa? Apalagi kalau dihitung masa kerja, semua pimpinan rata-rata sudah aktif sejak masa muda. Lalu siapa yang mau membayar gaji itu?” kata Pak AR tersenyum. Pengurus tidak digaji, itulah kekuatan Muhammadiyah, bukan kelemahan.

Seorang dosen perguruan swasta bukan orang Muhammadiyah bertanya ”Apakah benar semua amal usaha menjadi milik pimpinan pusat?” ”Benar!” jawab saya.

”Berapa bantuan dari pusat sampai bisa menguasai semua aset itu?”
”Sama sekali tidak membantu. Hanya meresmikan, itupun kalau ada waktu.. Pimpinan Pusat tidak menguasai, walaupun secara hukum semua atas nama pusat”.
”Tidak menguasai tapi memiliki, itu sama saja. Kalau tidak dibantu, lalu dari mana sumber dana membangun amal usaha yang demikian banyak?”
”Dari anggota dan simpatisan. Anggota ranting di desa misalnya, mereka urunan membangun madrasah, SD, mesjid dan sebagainya. Demikian jug aset lain seperti rumah sakit sampai universitas. Mereka paham kalau diberi nama Muhammadiyah itu artinya diberikan kepada Muhammadiyah”.
”Rela ya, apa kuncinya kerelaan memberi itu?”

Saya katakan bahwa Muhammadiyah itu organisasi kerja, bukan organisasi papan nama. Sebuah ranting berdiri bukan karena banyaknya orang tetapi karena ada kegiatan. Syarat berdirinya sebuah ranting harus punya amal usaha misalnya punya sekolah, atau mesjid atau punya aktivitas seperti pengajian.

Berikutnya, Orang Muhammadiyah itu melakukan kegiatan karena dorongan iman, dorongan keyakinan, bukan karena mencari untung . Karena itu sering dalam kegiatan mereka bukan saja tidak dapat honor, malah sering mengeluarkan uang dari kantongnya. Lain dengan kepanitiaan di istansi. Asal namanya tercantum berhak dapat honor walaupun tidak bekerja. Karena itu sering rebutan agar namanya bisa dicantumkan dalam panitia kegiatan. Di Muhammadiyah tidak demikian. Mereka bekerja karena didorong iman bukan keuntungan, itulah juga kekuatan dalam Muhamamdiyah.

Kekuaan berikutnya, orang Muhammadiyah itu relatif terdidik dan rasional. Jadi mudah faham dengan aturan.
”Orang rasional yang irrasional”, katanya sambil tertawa, karena bersusah payah membuat sekolah dan rumah sakit, lalu diberikan sukarela ke pusat tanpa konpensasi.
Seorang walikota yang bukan orang Muhammadiyah tertarik dengan istilah ”amal usaha” yang digunakan dalam lembaga Muhammadiyah. ”Ini mengandung makna yang mulia” katanya. Menurut walikota, orang bekerja di rumah sakit, sekolah dan di semua amal usaha Muhammadiyah harus dimulai dengan nawaitu amal, baru usaha atau nawaitu cari nafkah. Jangan dibalik, yang menonjol cari nafkahnya atau usaha, nanti bisa lupa amalnya. Karena itu dinamakan amal usaha. Artinya, niat beramal di depan, baru usaha cari nafkah”, katanya.

Kita tidak tahu apakah para karyawan di amal usaha Muhammadiyah sudah menghayati dengan baik makna amal usaha seperti yang diuraikan walikota itu. Atau bersemangat sebaliknya. Bekerja murni mencari nafkah tanpa ada semangat mengabdi.

Setelah Muhammadiyah berkembang besar, setelah jumlah amal usaha terus bertambah, boleh jadi nawaitu orang masuk Muhamamdiyah bermacam-macam. Ada yang ingin mengabdi untuk agama tetapi ada pula untuk kepentingan lain. Selama pimpinan persyarikatan dan pimpinan amal usaha tetap istiqamah pada tujuan memberi sesuatu, bukan meminta sesuatu kepada Muhamamdiyah, kita percaya daya saring pada orang-orang yang masuk Muhammadiyah tetap akan berjalan baik.

Namun berikut ini mungkin kejadian kecil yang penting untuk direnungkan. Seorang pengurus Aisyiyah bercerita, suatu hari ibu penjual nasi goreng dekat sebuah pasar tradisional agak tergopoh-gopoh mendatanginya. ”Apakah betul Bu Haji orang Muhammadiyah?” tanya penjual nasi goreng itu.
”Betul! kenapa?”
”Tidak ada apa-apa, Ooh, ternyata orang Muhammadiyah ada juga yang baik, ya”, kata penjual itu dengan suara rendah seperti kepada dirinya sendiri.

Ibu Aisyiyah tertegun dan merasa nelongso mendengar ucapan kawannya itu. Kalimat ”ternyata orang Muhammadiyah ada juga yang baik” terngiang terus. Apa orang Muhammdiyah itu demikian buruk sehingga dianggap aneh kalau berbuat baik?

Ibu Aisyiah itu memang sering menolong penjual nasi goreng itu, meminjami uang (tanpa bunga), memberi nasehat, mencari solusi masalah keluarga, menjadi tempat curhat dan konsultasi gratis. Aneh, bu haji ternyata orang Muhammadiyah.

Muhammadiyah memang sudah berusia satu abad. Tetapi ternyata masih banyak masyarakat mengenal Muhammadiyah baru sebatas kulitnya. Belum dalamnya. Pengurus yayasan yang bertanya berapa gaji pimpinan Muhammadiyah, dia belum kenal Muhammadiyah dengan baik. Juga dosen perguruan swasta itu. Apalagi penjual nasi goreng itu.

Sudah banyak yang kita lakukan, tetapi ternyata lebih banyak lagi yang belum sempat kita kerjakan. Memasuki usia abad ke dua, kita harus membuktikan bahwa Muhammadiyah kebalikan dari sangkaan penjual nasi goreng itu. Jika orang mengatakan ”dia orang Muhammadiyah”, maka dalam kata itu harus terkandung jaminan sebagai orang baik, amanah, jujur, menepati janji, keja keras, pecinta damai, tidak mbulet dan tidak aji mumpung.

Ternyata banyak orang yang belum kenal betul pada Muhamamdiyah. (no name)