Selasa, 11 Mei 2010

GANDRANG BULO RASA “ES TIGA”

Standard

Tari Gandrang Bulo. Terakhir kali saya manyaksikannya di Festival Beber Seni di Meseum Vredeburg Yogyakarta tahun 2005. Kal itu, tarian ini sukses memukau penonton, berbeda dengan tarian etnis Bugis – Makassar lain yang berirama lembut, lamban dan penuh pengkhyatan disetiap tarinya. Tari gandrang bulo justru mengedepankan gerakan tangan dan kaki dengan tempo cepat, rancak dan energik seolah tak ada tata gerak baku. Lewat tarian Gandrang Bulo ini pulalah, pertanyaan dibenak saya selama ini terjawab. Kenapa selama ini tari Bugis – Makassar justru menampilkan karakter lembut, lamban dan penuh pengkhyatan, bukankah orang Bugis – Makassar terkenal dengan karakter keras dan tegasnya.

Adalah Asril Violin, pelaku seni Bugis – Makassar yang sempat menimba ilmu di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dalam latihan bersama Sanggar Seni Latenribali di Yogyakarta menuturkan “ sesungguhnya tarian itu melambangkan karakter orang Bugis – Makassar, dalam perspektif gender masing-masing “. Ungkapan Asril Violin, yang beberapa waktu lalu tampil memukau dalam konser tunggal Solo Violinnya di Makassar, kiranya dapat dibenarkan. Karakter Bugis – Makkassar yang keras dan tegas memang hanya ditemui pada kaum pria, sementara pada kaum perempuan justru sebaliknya. Mereka cenderung tampil anggun, gemulai dan keibuan. Makanya tidak jarang, pria dari suku lain berusaha mencari pendamping hidup dari perempuan Bugis – Makassar.

Maka wajar pula, jika tari Gandrang Bulo, Marraga/Maddaga, Massempe, Jujju Sulo yang dimainkan kaum pria lebih menonjolkan gerakan cepat dan bertempo tinggi. Berbeda dengan tari Pakarena, Lolusu, Padduppa, dan Bosara. Sebagaian contoh tari etnik Bugis - Makassar yang menampilkan kelembutan dan gemulai para penarinya. Gandrang Bulo, awalnya hanyalah tarian sederhana serupa tarian rakyat tanpa tata gerak baku ala istana kerajaan. Tarian ini adalah tarian khas Makassar dengan iringan tabuhan gendang dan alunan biola, mengalung riang bersama lirik lagu khas Makassar seperti Sumbang Kacayya. Disamping gampang ditarikan, perlengkapan tarian ini juta terbilang sederhana, cukup menggunakan bambu-bambu kecil. Beberapa penari menggunakan dua potong bilah bambu seukuran tujuh centimeter, dijepitkan sedemikian rupa diantara jemarinya, lalu ditetakkan hingga melahirkan bunyi sangat khas namun bernada. Separuh penari lainnya membawa dua potong ruas bambu yang sengaja telah dipecah dan dicacah pada bagian ujungnya. Saat potongan bambu ini diadu, maka akan terdengar suara “prapak pak pak pak, prapak pak pak pak”, bunyi yang membangkitkan adrenalin penari dan penonton.

Dari catatan Yayasan Desantara dan dipublikasikan di Harian Fajar Makassar, 30 Juni 2007. Tercatat, tari Gandrang Bulo sempat menjadi bentuk eksperesi perlawanan seniman dan rakyat terhadap kolonialisme. Hal ini tercermin dalam syair ;
Tahun 1942 Na Mandara I Tuan Nippon caddi mata
Na Passadia Bokong Latama ri Camba
Kasirati memang tongi I Balanda Bunrang mata
Nippon mandara Na gudang na tunu pepe
(Tahun 1942 mendarat Tuan Nippon si mata sipit
menyiapkan bekal masuk ke daerah Camba
Memang kurang ajar Si Belanda bermata kabur
Nippon yang mendarat kok gudang-gudang yang dibakar)

Petikan syair diatas adalah bagian dari lakon Gandrang Bulo 1942. Sebuah genre Gandrang Bulu yang muncul pada masa Romusha, perbudakan ala tentara pendudukan Jepang. Konon, Gandrang Bulo model ini berawal dari iseng dan usilnya para pekerja paksa di masa Romusha. Saat istirahat, mereka secara spontan melakukan gerakan kocak yang meniru bahkan mencemooh gerak gerik, gesture serta prilaku tentara Jepang. Gerakan-gerakan kocak tersebut lalu ditimpali dengan bunyi-bunyian dari para pekerja lainnya yang memukul-mukul alat kerja mereka. Seperti pikulan, gagang cangkul, keranjang atau usungan yang terbuat dari bambu dan kayu. Riang dan kocaknya eksperesi para pekerja paksa tersebut mendapat sambutan meriah. Meski harus kucing-kucingan dengan tentara Jepan, tarian ini sukses mengundang banyak peminat untuk bergabung dan menikmatinya, bahkan ia kemudian dikenal dengan nama Gandrang Bulo 1942.

Masih dari catatan Yayasan Desantara. Pada akhir 1960-an, adalah Daeng Nyangka, seniman asal Bontonompo, Gowa. Beliaulah yang mengawali dan melakukan kreasi ulang terhadap tari Gandrang Bulo. Hasil kreasi Daeng Nyangka inilah yang kita kenal saat ini dan sering di pentaskan pada acara-acara seremonial. Akan halnya dengan Gandrang Bulo 1942, ia tetap mendapatkan tempat di masyarakat di Sulawesi Selatan hingga di Kota Budaya Yogyakarta. Aliran ini pulalah yang dipentaskan oleh Sanggar Seni Sawerigading (S3 – baca Es Tiga) dalam sebuah kesempatan di Balai Kota Yogyakarta.

Selamat buat adik-adik Wisma Sawerigading, wisma mahasiswa Sulawesi Selatan. Terima kasih telah mengobati rinduku pada Gandrang Bulo. Terus berlatih, dan perkenalkan budaya Bugis -Makassar di kota budaya, Yogyakarta.

Jumat, 07 Mei 2010

Bahasa Gaul; Jijay, Lebay, Alay

Standard
Piring penuh nasi dan lauk ditangan kiri,  kaki kanan nangkring disudut kursi. Inilah surga dunia bagi saya. Makan malam disaat perut dah keroncongan, dengan lauk ikan asing racikan sendiri, makanan kegemaranku. Nikmatnya, menandingi sajian makanan restoran mewah dengan aturan Table Manner-nya yang menyiksa. Tiba-tiba. “Ikan asingnya enak gak, Ayah ?”, istriku bertanya setengah berteriak disela-sela keasikannya menyugihi ASI buat putra kami. “Wahh, nuikmat sekali bunda, serasa makan daging steak”, jawabku. “Jangan lebay deh ayah”, pungkas istriku.

Lebay. Kata asing yang sering saya dengar dari mahasiswaku di Kampus, ternyata telah merambah kedalam rumah kontrakan kami.  Meski tidak tau persis maknanya, istri dan adik-adik saya sudah latah menggunakannya.  Penasaran, saya coba lacak di Mbah Google, ada 654.000 entri dengan kata kunci arti kata lebay. Akhirnya saya sendiri yang kebingungan, mana yang harus dibaca.

BAHASA PROKEM
Kata Jijay, Lebay dan Alay-alay, hanyalah contoh kecil dari banyaknya kosakata baru yang lasim digunakan anak-anak baru gede (ABG). Tentu kita tidak asing lagi dengan kata Jayus, Jaim, Ajija, Gretong hingga Begindang. Ironisnya, kadang para ABG itu sendiri tidak paham persis makna dari kata itu sendiri. Menurut Harpeni Siswatibudi,  merebaknya bahasa gaul seperti itu adalah wujud dari karakter anak muda, yakni konformitas. Karakter konformitas inilah yang mengiring rasa tertarik anak muda pada suatu kelompok, dan akhirnya meniru segala atribut yang menjadi ciri khas kelompok tersebut. Sarjana Psikologi lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini menambahkan, ciri khas tersebut bisa berupa pakaian, asesoris, gaya rambut hingga gaya komunikasi mereka. Yang paling gampang ditiru adalah gaya bahasa. Anak ABG menyebutnya bahasa gaul atau bahasa prokem, jelas salah satu dosen di POLTEKKES Permata Indonesia Yogyakarta.
Bahasa prokem di Indonesia, mulai dikenal sejak awal 1970-an. Ini ditandai dengan munculnya komunitas  “bromocorah”, sebutan untuk preman jalanan dan beberapa pelaku kriminal lainnya.  Mereka membuat sandi dan bahasa khusus yang hanya dimengerti oleh kalangan mereka sendiri. Tujuannya, agar orang diluar komunitas mereka tidak mengerti, mereka juga tidak perlu sembunyi-sembunyi jika membicarakan hal yang negatif. Memasuki awal tahun 1980-an, kebiasaan mereka ditiru oleh ABG. Justru para ABG inilah yang membuat bahasa gaul kian berkembangan dan bervariasi. Misalnya kata “saya” yang dalam dialek Betawi menjadi “gue” berubah menjadi “ogut”. Setelah kata “Ogut” dianggap kuno, muncullah kata “Akika”. Diadopsi dari kata “Ikh”, saya dalam bahasa Nederland. Adalagi kata “Terima kasih” yang oleh anak bawah lima tahun dengan gaya cadelnya disebut “Makaci”, oleh anak ABG dirubah menjadi “Macaci”. Yang lebih ekstrim, sebutan untuk orang tua berubah menjadi “nyokap” dan “bokap”, lalu disingkat “Bonyok” untuk mengganti kata Ayah-Bunda. Kata prokem sendiri adalah salah satu hasil karya mereka. Kata prokem ini adalah kependekan dari Pro Perkembangan, mengikuti atau berkiblat pada perkembangan.
Secara empirik, bahasa dan kosa kata prokem mengacu pada permasalah sehari-hari para ABG. Bahasa prokem mereka bisa diadopsi dari kehidupan keluarga, keadaan sekolah dan atau perguruan tinggi, serta masalah-masalah kenakalan remaja. Wujudnya sering diungkapkan dalam bentuk kata ganti orang, masalah seks, narkotik dan obat-obatan sejenis serta minuman keras atau istilah kekerabatan. Untuk kategori terakhir, mungkin kita sering mendengar kata “Dab” dalam bahasa gaul khas kota Yogyakarta, atau kata “Ces” dalam bahasa gaul khas anak Bugis-Makassar, adalagi kata “Coy” dikalangan anak gaul Jakarta.

Marakanya bahasa prokem dikalanagan ABG, dengan sendirinya merubah pengertian "bahasa prokem" itu sendiri. Kini bahasa prokem berubah menjadi bahasa kode atau sandi yang hanya ABG kelompok tertentu yang mengerti. Meski sering ditemui bahasa yang sama dibeberapa kelompok, tetapi masing-masing kelompok memberi inpterperestasi yang berbeda-beda dan pengertian masing-masing. Sebagai contoh, komunitas cendana 13, Sebuah komunitas penggemar perangkat computer di Yogyakarta. Mengunakan kata “data” untuk makanan, “hard disk” untuk dompet, “ram” untuk otak dan pikiran, “kasing” untuk pakaian atau “interface” untuk ikat pinggang.

Sejatinya, bahasa prokem tidak dapat disalahkan, dan tidak perlu ditakutkan akan merusak tatanan baku bahasa Indonesia. Selain sebagai penyesuaian ABG dengan tuntutan zaman dan perkembangan nurani, bahasa prokem juga hanya dipakai terbatas dan pada situasi tidak resmi. ABG-ABG (baca : pemuda dan remaja) kita, cukup cerdas menempatkan bahasa Prokem dan bahasa baku. Saat mereka berada di luar dari lingkungan atau kelompoknya, maka bahasa yang mereka gunakan akan beralih ke bahasa yang berlaku di tempat itu. Begitupula dalam kondisi resmi, mereka juga akan menggunakan bahasa resmi.  

BEBERAPA ISTILAH MENARIK
Memasuki abad ke-21, istilah dan simbol bahasa prokem kian marak dan makin akrab ditelinga semua golongan masyarakat. Mulai dari para “kroco-kroco” kampung hingga “markus-markus” di kota besar. Mulai dari ABG (Anak baru gede) sejati hingga ABG (Angkata babe gue) berusia diatas 40 tahun. Yang paling mutakhir adalah bahasa gaul dikalangan “Waria”, hebatnya mereka bahkan punya rumus sendiri untuk membentuk sebuah kosakata prokem baru.  Berikut adalah kosakata prokem yang cukup populer hingga pertengahan tahun 2010.
Jayus.
Jayus adalah kata prokem untuk mengungkapkan kata “kering”, “garink” dan “ndak lucu”. Konon, kata “Jayus” berasal dari sekelompok anak di sekitaran Kemang-Jakarta. Adalah Herman Setiabudhi, salah satu anggota dari komunitas tersebut. Si Herman yang hoby melucu, sering diolok-olok oleh teman-temannya, lawakan Herman  selalu dianggap tidak lucu. Akhirnya muncullah celetukan “Jayus, Jayus, lain kali kalo melucu jangan garink dong”. Kata Jayus tadi diadopsi dari nama ayah Herman, Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Ucapan inilah yang kemudian diikuti teman-teman setongkrongannya di Kemang, dan mewabah ke komunitas anak gaul lainnya. Terakhir, dalam siaran persnya. Si “Jayus” berpesan, “Jangan samakan aku dengan si Gayus yah, saya rajin kok bayar pajak. Meski royalti dari istilah “Jayus” yang sudah saya patenkan tidak pernah dibayar”. Alah, ini sih “Jayus”nya si Penulis.

Jaim
Entah benar atau tidak ?. Kata “JAIM”, konon dipopulerkan oleh seorang bapak yang menasehati anak perempuannya. Agar dalam bergaul dengan teman laki-lagi jangan terkesan “murahan”, dengan mengumbar kata apalagi tingkah laku alias harus bisa “Jaim” . Selidik punya selidik, akhirnya sang anak mengetahui kalau kata “Jaim” itu singkatan dari “Jaga Image”. Tak pelak, istilah ini dipopulerkan sang anak di sekolah dan komunitasnya.

Cupu
Ungkapan ini lazim ditujukan bagi seseorang yang berpenampilan kuno. Singkat kata orang-orang seperti mereka dianggap “Jadul” (jaman dulu), tidak gaul, tidak trendy. Parahnya, orang-orang yang berkacamata tebal, kutu buku, pendiam dan rajin ibadah dianggap sebagai cirri-ciri anak “cupu”. Cupu sendiri merupakan kependekan dari kalimat “culun punya”. Culun dapat berarti “lugu-lugu bego”, punya dapat berarti “benar-benar”, jika digabung menjadi : benar-benar lugu atau benar-benar bego.

Jijay, Lebay dan Alay-alay
Ketiga ungkapan ini adalah ungkapan bernada sinikal. Ditujukan untuk mengolok, memprotes, atau mengingatkan orang lain yang gemar bercerita atau bersikap berlebih-lebihan. Mereka yang sering dituding dengan ungkapan ini, biasanya berkarakter sombong, egois, sangat senang menerima apa yang menjadi harapannya dan menolak apa yang tidak dia sukai. Singkat kata, lebay adalah sebuah sikap PEMBENARAN DIRI.

Kata Jijay, disinyalir berasal dari kata JIJIK. Sebuah tudingan terhadap seseorang yang sering bertingkah laku yang membuat jijik orang lain. Jijik yang dimaksud tidak hanya terbatas jijik pada makanan, bisa juga pada tataran mimik wajah, cara berpakaian atau tingkah laku lainnya. Kata ini senada dengan kata “NJIJIK’I” dalam bahasa Jawa, kata “JIJIK IH” dalam bahasa Sunda.

Kata Lebay, berasal dari kata Lebih atau berlebihan. Lebay, makin kondang setelah ada lagu “Jangan Lebay”. Lewat lagu yang dipopulerkan oleh “T2” ini, masyarakat jadi lebih tahu tentang sifat orang Lebay. Orang Lebay adalah orang yang selalu membesar-besarnya masalah atau hal kecil, terlalu melebih-lebihkan diri maupun pendapatnya tanpa memperdulikan orang lain. Cenderung untuk bersifat sombong, merasa benar sendiri dan selalu ingin cari perhatian. Lebay adalah pengembangan dari kata Jijay, dibuat untuk menyikapi gaya sesorang yang memiliki gaya berlebihan, dan cenderung lebih parah dari kelas Jijay.

ALAY, Rupanya, dalam pergaulan sehari-hari ditemukan orang-orang yang berkarakter lebih parah dari sekedar jijay dan lebay. Maka, tidak heran jika saat ini muncul lagi istilah alay-alay, yang berasal dari kata “alah-alah”. Ada juga yang mengartikan Alay sebagai kependekan dari Anak Layangan, ini artinya orang Alay akan selalu bersifat seperti Layang-layang, terbang sesuai arah angin. Ada juga yang menganalogikan alay sebagai anak kampung, karena anak kampung kebanyakan berambut merah dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan. 

Alay bisa juga berarti singkatan dari Alah Lebay (Anak Lebay), Anak Layu atau Anak Kelayapan, dan mungkin mungkin masih banyak perngertian lainnya. Didunia maya, terutama disitus jejaring sosial semisal Facebook, Twiter dan Friendster gaya anak Jijay, Lebay dan Alay dapat dengan mudah kita temukan. Perhatikan, hampir tiap hari kita melihat Nickname atau status yang susah dibaca. Mereka menuliskannya dengan kombinasi angka dan huruf yang rumit, misalnya 4n1 Muacnizzzz (ani manis), t1ka cuteyz (tika cute), Ay4n9 aQiu K4n9eundd bAn9euuuuuuDd (sayang aku kangen banget), aquwh s4aiian9 Kamyu ch1Nt4ku (aku sayang kamu cintaku).

Jadi kata Jijay, Lebay dan Alay-alay memiliki makna yang sama, namun menunjukkan stadium keparahan sikap berlebihan seseorang.  Meminjam pesan moral sebuah iklan yang berbunyi “Mau Eksis, Jangan Lebay, Pliss”, setidaknya bisa menjadi rambu-rambu bagi para ABG dalam bergaul. Cari perhatian adalah sesuatu yang wajar-wajar saja.  Menulis status update yang menarik dan heroik, boleh-boleh saja. Membanggakan diri dan prestasi sendiri juga lumrah, asal tidak berlebihan dan merugikan orang lain.

>> Edisi ini adalah revisi dari tulisan sebelumnya dengan judul yang Jijay, Lebay dan Alay. Terima kasih atas masukan para pembaca sekalian. <<