Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengenal Identitas Makassar; Sifat, Sikap, Karakter dan Watak orang Makassar (bagian 4)

A. Apa adanya, Sifat orang Makassar

Gaya bicara orang Makassar yang lugas sering dianalogikan dengan badik mereka yang selalu diselipkan pada pakaian didepan perutnya, ketika digengam maka badik itupun senantiasa dinampakkan didepan. Gaya bicara ini oleh orang Makassar sendiri disebut “tembak langsung” atau “silangsunganna”, berbicara langsung pada tujuan, tidak berbelit-belit, bicara ada adanya.

Jika marah maka nada dan kata amarah yang keluar, jika memuji maka nada, ekspresi dan mimik mukanya akan menampakkan pujian yang totalitas. Jikapun situasi memaksa mereka untuk mengungkapkan bentuk sindiran atau majas, maka ungkapan akan mereka ungkapkan dalam bentuk pribahasa daerah yang disebut Galigo[1].



B. Getteng, cara orang Makassar dalam bersikap

Pura babbara sampekku, Pura tangkisi’ gulikku, Ulabbireng telleng na towalia. Telah kukembangkan layarku, telah kuarahkan kemudiku, lebih baik tenggelam daripada saya kembali. Inilah bentuk kebulatan tekad orang Makassar, sekali mereka mengambil sikap atau keputusan maka tak ada tawar menawar lagi.

Dalam kondisi apapun mereka akan tetap tegus (magetteng) dengan sikap dan pilihannya meski nyawa taruhannya. Dalam kasus para perantau asal Makassar diberbagai daerah di Indonesia, jamak ditemui para perantau yang puluhan tahun tak pernah lagi pulang kampung karena belum mencapai apa yang diidam-idamkannya saat pertama kali mengambil keputusan untuk pergi merantau.

C. Sompe dan Dangkang, karakter orang Makassar

Keterbukaan Makassar terhadap budaya dan orang asing mampu melahirkan karakter kewirausahaan yang kuat yang sangat nyata terlihat pada orang-orang Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja terutama jika mereka berada di rantauan[2].

Kota Makassar sudah lama dikenal sebagai kota pelabuhan dan dikenal oleh dunia Internasional. Faktor ini pula yang mempengaruhi tumbuhnya kerajaan Gowa sebagai kerajaan maritim pada abad XVI. Makassar saat itu telah melakukan hubungan perdaganngan dengan Malaka, Jawa, Borneo, Siam, Pahan dan kota lainnya[3]

D. Keras, tapi tidak kasar. Watak orang Makassar

Seperti diungkapkan oleh Mattulada (2011:12)[4], orang Makassar berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Karakater keras tersebut bukan vandalism, anarkisme atau merusak dan tindak brutal lainnya. Keras yang dimaksud adalah tegas, berbicara lugas, berterus terang dan bertanggung jawab. Di balik sikap keras itu, orang Makassar sesungguhnya adalah orang yang ramah, sangat menghargai orang lain serta menjunjung tinggi nilai kesetiakawanan.

Pengalaman Letkol Arm Maryudi Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 1408/BS Makassar[5], mengatakan orang Makassar itu orangnya baik Orangnya baik dan apa adanya. Mungkin memang suara bicaranya keras, tetapi yang penting isi pesannya itu baik. Watak keras sesungguhnya sangatlah dibutuhkan, keras yang dimaksuda adalah keras dalam memagang teguh pendiriannya. Watak keras ini dibutuhkan dalam pembangunan bangsa.[6]

E. Gengsi dan Pojiale, sisi negatif orang Makassar

Hampir semua sejarahwan, budayawan Makassar menuliskan karakter orang Makassar dan tataran ideal dan normatif. Hal ini terjadi karena pendekatan mereka adalah pendekatan budaya, yang memahami bahwa semua individu lahir dengan membawa nilai-nilai normatif yang ideal. Namun jika mau mengamati dengan pendekatan sosial, maka ditemukan sesuatu yang berbeda, akan ditemukan sebuah karakter yang senang memamerkan semua nilai bendawi yang mereka miliki. Karakter ini disebut dengan pojiale, berbangga diri.

Bagi orang Makassar, memamerkan kekayaan, jabatan, gelar akademik bahkan gelar adat menjadikan mereka mendapat penghargaan dan reputasi serta dianggap memiliki prestasi[7]. Bukan hal yang aneh jika orang Makassar akan menghadiri sebuah hajatan dengan perhiasan emas yang mencolok, tak hanya perhiasan sebagai asesoris mempercantik diri, bahkan tak jarang dari mereka menggunakan gigi palsu yang terbuat dari emas. Pada dekade 1980 hingga 1990-an banyak ditemui didepan rumah orang Makassar berlomba-lomba memasang antena parabola depan rumahnya, meski rumahnya sudah reot bahkan tak layak huni.


----------------
[1] Galigo adalah bentuk sastra klasik Bugis Makassar, serupa pantun. Memiliki tiga baris dan masing-masing baris berturut-turut terdiri dari 8, 7 dan 6 huruf aksara lotara. Kebayakan Galigo yang ada membutuhkan kajian dalam untuk menerjemahkan maksudnya yang terbungkus dalam 3 lapis sarung. Baca Orang Bugis Pandai Menyembunyikan Maksud (Korpus 11).
[2] Mattulada, Kompas 16 Mei 1980, dalam Prof. Dr. Andi Zainal Abidin, SH., 1983, Persepsi orang Bugis, Makassar tentang hukum negara dan dunia luar, Penerbit Alumni Jakarta.
[3] Tome Pires (1513) dalam Mattulada,
[4] Op cit, 6
[5] Fajar, Kamis 29 September 2011
[6] Jusuf Kalla dalam Antara, Sabtu 23 Oktober 2010
[7] Yahya, Mengapa kita Pojiale, http://panyingkul.com/view.php?id=478, diakses pada 14 Oktober 2011.



==================
Bersambung ke : Interaksi Sosial orang Makassar

Post a Comment for "Mengenal Identitas Makassar; Sifat, Sikap, Karakter dan Watak orang Makassar (bagian 4)"

Berlangganan via Email