Selasa, 12 Agustus 2014

Cari Rupiah dari Hiruk Pikuk Politik

Standard
Tas dan ransel kini telah menjadi kebutuhan setiap orang, terutama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi. Tas, ibarat adalah teman kerja mereka yang bertugas membawa semua perangkat kerja yang dibutuhkan oleh tuannya. Mulai dari perangkat tehnologi, pakaian ganti, peralatan kebersihan tubuh, asesoris elektronik, buku, catatan, alat tulis dan lain-lain.

Disuasana berbeda, tas dan ransel hampir selalu menjadi souvenir wajib setiap kali ada acara seminar, pelatihan, workshop dan sejenisnya. Maka tas dan rangselpun kini menjadi sarana promosi bagi berbagi perusahan, organisasi, instansi hingga promosi pribadi termasuk didalamnya promosi partai politik dan calon legIslatif. Salah satu produsen tas yang menyasar segmen pasar untuk promosi ini termasuk tas untuk partai politik dan caleg adalah CV. Karyatama yang berlokasi di Jl. Mertojoyo Q3 Malang Jawa Timur. Sehari-hari menjadi supplier aneka tas sekolah, tas kerja, tas seminar dengan model tas selempang, tas ransel, tas 3in1, yang sebagian besar ada tempat laptop didalam tas. Masyarakat umum biasa menyebut dengan TAS LAPTOP.

Pada awal berdiri pada tahun 2005, Karyatama menjalankan usaha dengan men-supply kebutuhan tas cd (cd bag), mainan edukasi anak, accessories computer ke beberapa toko buku besar di Malang (Siswa, Toga Mas, UMM Book Store, Koperasi UIN, Swalayan Baru, dll), Surabaya (Toga Mas, Uranus, dll), Blitar (Restu). Mengunjak tahun2011 Karyatama me-legal-kan usahanya dalam bentuk CV, dan mulai ber-ekspansi pasar dari regional ke nasional dengan memanfaatkan teknologi internet (pemasaran online). Sejak 2011 sampai dengan 2014 CV.Karyatama memfokuskan diri pada produk TAS & Accessories-nya, dan sudah mempunyai pelanggan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Produk tas yang diperdagangkan CV. Karyatama selalu ready stock. Tidak diproduksi setelah ada pemesanan. Kecuali jika ada pesanan khusus dengan desain dan jumlah tertentu, termasuk jika yang dipesan konsumen adalah tas bermerk terkenal seperti Polo, Tracker, Palazzo, Alto, Genic, dll. Maka CV. Karyatama akan memesang ke pabrikannya langsung. Pemilik CV. Karyatama, Ahadian Trihesa (38) saat ditemui Suryadin Laoddang dari Majalah Inspirasi Usaha menuturkan “sejak memulai usahanya ini, pelanggan paling banyak adalah kantor pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara dan Daerah ( BUMN / BUMD), lalu sekolah dan mahasiswa”, klaim pria asli Tulung Agung Jawa Timur ini.

Klaim tersebut dapat dibenarkan jika melihat daftar klien yang sudah digarap selama ini diataranya Pertamina Balikpapan, DPR RI Jakarta, Bank Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, Riau Pulp Riau, Mabes POLRI Jakarta, beberapa Kantor Kementerian, Telkomsel Grapari, LIPI Bogor, BPOM Samarinda, Daihatsu Jakarta. Sedikit berkelakar, Ayah satu anak ini menceritakan kalo sebenarnya tas-tas bermerk yang dipasaran dibandrol sekitar Rp. 200.000 keatas, oleh CV Karyatama dibandrol dengan harga bersaing sudah termasuk logo perusahaan, instansi yang ditawarkan.

Sementara untuk partai untuk pesanan tas berlabel partai politik atau caleg, Ahmadi mengaku belum memiliki pengalaman mendalam. Selama tiga tahun berdiri, selama ini hanya mendapat order dari partai politik dan pemilikada tingkat lokal Jawa Timur. Hingga saat ini total omzet dari pesanan berlabel partai politik itu hanya pada kisaran angka Rp. 60.000.000. Hanya setengah dari rata-rata omzet bulanan yang dibukukan CV Karyatama, yakni 120 juta perbulan.

Saat ini, lini produksi CV Karyatama telah mempersiapkan rancangan Tas dan Laptop untuk media promosi Pemilu tahun 2014. Dari hingar bingar kampanye pemilu tersebut, Ahmadi memperkirakan akan mampu meraup omzet setidakanya 200 hingga 300 juta. Dalam menjalankan bisnisnya ia dibantu sang istri Hapsari Puspita (38) yang asli Malang. “bikin tas atau rangsel partai politik itu gak ribut, kami sudah punya barang, mereka tinggal pilih model yang disukai dan kami tinggal pasang logo dan gambar partai atau caleg yang diinginkan” Pungkas Ahadian ditengah-tengah kesibukannya mengawasi 2 orang karyawannya yang sibuk menyiapkan pengiriman barang.

CV. KARYATAMA dapat dihubungi di
Jl. Mertojoyo Q3 Malang – Jawa Timur – Indonesia 65144
Telp 0341-9300099 – SMS 081805033202 – Fax 0341-552023 – PinBB 319BBF70
Email / Yahoo Messenger : grosirtaslaptop@ymail.com
Website : www.GrosirTasLaptop.com & www.TasSekolahMurah.com

Sabtu, 02 Agustus 2014

Pintu Rumah Orang Bugis; Kenapa Selalu Terbuka?

Standard

Sayang saya belum sempat mudik ke tanah Bugis lebaran Idul Fitri tahun ini. Semoga lebaran Qurban nanti saya bisa mudik. Saya kangen mengembalikan spirit Bugis dalam diri saya, melakukan ritual Makkuruq Sumageq, memanggil kembali sukma saya. Amin.

Dalam tulisan lepas ini, saya tak ingin membahas tentang Makkuruq Sumangeq itu tapi ingin bercerita sedikit tentang sebuah tradisi orang Bugis terkait dengan pintu rumahnya. Jika Anda bertandang ke perkampungan Bugis yang jauh dari pusat kota. Anda akan menemui rumah-rumah orang Bugis yang pintu bagian depan rumahnya terbuka sepanjang hari. Tak pernah ditutup. Pintu akan dibuka sejak fajar menyingsing hingga lembayung tergelincir. Sejak ayam turun dari peraduan hingga ayam itu kembali lagi ke peraduannya.

Kenapa demikian?

Masyarakat Bugis, memahami bahwa pintu depan rumah tak hanya sekedar ruang tempat manusia keluar dan masuk rumah, melainkan juga sebagai pintu masuknya rejeki. Maka pintu harus dibuka sepagi mungkin tepat ketika rejeki dunia telah dihamparkan, rejeki harus dijemput ketika ia akan masuk rumah, dijemput dengan cara dibukakan pintu. Ketika rejeki telah masuk rumah, maka sedapat mungkin ia bertahan lama di rumah, tidak segera keluar rumah lewat pintu belakang.

Itu pulalah alasan kenapa pintu rumah bagian belakang selalu ditutup, berkebalikan dengan pintu depan yang selalu terbuka. Orang Bugis ketika ingin berbelanja ke pasar akan keluar lewat pintu belakang, lalu ketika datang akan lewat pintu depan. Tapi itu dulu, tidak lagi dengan sekarang.

Apakah pintu yang terbuka terus tidak mengundang maling?

Anda tidak perlu heran melihat pintu yang terbuka itu, rumah orang Bugis memang “aneh” dan terkesan mengundang maling. Selain pintu yang selalu terbuka, kebayakan rumah orang Bugis juga tidak memiliki pagar. Bahkan Istana Kerajaan pun juga tidak memiliki pagar sama sekali. Tapi itu dulu, berlangsung sebelum tahun 60-an akhir.

Pada masa itu hampir tidak ada barang berharga di setiap rumah orang Bugis, kecuali hasil bumi, seperti gabah dan jagung. Maka tak perlu ada yang dijaga ketat, tidak ada yang menjadi daya tarik para maling, lagi pula kala itu mungkin tidak banyak maling, bahkan mungkin maling-maling itu juga punya gabah dan jagung di rumahnya.

Pada tahun 60-an akhir, perilaku itu telah berubah. Banyak rumah yang telah memiliki pagar, bahkan pintu rumah kebanyakan telah ditutup. Masa itu orang Bugis telah banyak memasukkan barang berharga dalam rumahnya, seperti radio, perhiasan emas, sepeda hingga bayu kebaya. Maka itu perlu dijaga dan dilindungi. Tidak hanya pintu depan rumah yang ditutup, melainkan tangga rumah yang terhubung dengan teras rumah (lego-lego) juga diberi penutup serupa pintu diatasnya.

Jika pada jaman itu, Anda menemui rumah yang berpagarkan daun beluntas, maka yakinlah dirumah ada barang berharga. Daun bulitas selain ramuan kecantikan bagi perempuan juga merupakan kode bagi petugas keamanan kala itu. Perintah bagi mereka untuk memberi perhatian khusus bagi rumah itu saat berpatroli.

BERSAMBUNG