Rabu, 25 Juli 2012

DIPAN DI RUANG TAMU; CARA ORANG BUGIS “MEMBATASI” TAMU

Standard

Jangan berlaku sembarang jika bertamu di rumah orang Bugis! Salah-salah, tuan rumah jadi salah kaprah dan tersinggung. Itu jika Anda tidak memahami tata krama bertamu dalam masyarakat Bugis.

Sebelum era Millenium, masih banyak rumah Bugis yang menempatkan tempat tidur (Ranjang, Dipan, Rosbang) berdampingan dengan ruang tamu mereka. Jika kursi tamu terletak di sebelah kiri ambang pintu masuk, maka tempat tidur  berada di sebelah kanan. Kadang pula ditempatkan satu baris disebelah kiri semua atau sebelah kanan semua. Jika rumahnya cukup besar, maka ruang tamu biasanya berbentuk huruf “L” dimana tempat tidur akan ditempatkan pada posisi “anak huruf L” tadi. Tempat tidur ini diletakkan begitu saja tanpa penutup, pembatas atau dinding kamar. Tamu yang bertandang akan dapat melihat tempat tidur tersebut.

Terkesan aneh memang jika dibandingkan dengan kondisi sekarang ini. Terlebih setelah diperkenalkan program Millennium Development Goal’s (MDGs) oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Salah satu target program ini adalah, tercipta rumah sehat disemua lapisan masyarakat termasuk di masyarakat Bugis. Indikatornya ruang tidur harus terletak diruang khusus yang tertutup dengan sedikit ventilasi udara, harus menjamin terjaganya privasi siapapun yang tidur didalamnya. Sejak itu, tempat tidur di ruang tamu hilang, kalaupun tak dipindahkan, ia segera diberi pembatas, setidaknya menjadi kamar.

Keanehan ini memang menjadi aneh bagi mereka yang tidak paham esensi dari keberadaan tempat tidur tersebut. Tidak mengetahui kenapa masyarakat Bugis menempatkan tempat tidur  tersebut di ruang tamu dan terbuka?

Rumah masyarakat Bugis dibagi menjadi empat bagian yakni, bagian teras (lego-lego) bagian depan (olo bola),  bagian tengah (lontang ri tengnga/possi bola), bagian belakang (dapureng). Bagian depan terdiri dari teras (lego-lego), ruang tamu (baritu toana), dan tempat tidur tamu (baritu massao). Bagian tengah terdiri dari dari ruang tidur (teppang boco), ruang keluarga (assaongeng). Bagian belakang terdiri dari ruang makan (assilewong), dapur kering/ruang masak (dapureng), dapur basah (appica-picakeng).

Antara ruang tengah dan belakang biasanya tidak ada pembatas, keduanya menyatu kecuali bagian dapur kering dan dapur basah yang lazimnya ditempatkan di tapping bola, ruas tambahan rumah pada posisi samping kiri belakang berdasarkan arah hadapan rumah. Ruas ini biasanya dilengkapi dengan tangga sebagai jalur keluar masuk pemilik rumah melalui pintu belakang. Sementara tangga depan untuk tamu.

Sementara ruang tamu dan ruang tengah biasanya memiliki pembatas, entah itu berupa kain tirai atau pembatas berbahan bambu atau kayu papan (kini banyak berganti triplek, hardboard, tembok). Pembatas ini disebut pallawa tengnga, selain sebagai pemisah antar ruang, juga berfungsi sebagai pembatas/penutup pandangan terhadap segala bentuk akitifitas  dan isi bagian tengah rumah. Budayawan Bugis Andi Oddang (2012) mengatakan “secara hakiki menurut sifatnya pallawa tengnga dapat juga dianggap sebagai jajareng berupa batas imaginer terhadap nilai keburukan/aib tuan rumah yang harus dijaga dan tak diketahui orang lain. Jajareng berasal dari kata “jaa” yang berarti buruk”.

Bagi masyarakat Bugis apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka simpan dibalik pallawa tengga itu adalah harga diri, tabu untuk dilihat orang lain. Aib jika menjadi tontonan orang lain. Terlebih jika di dalam rumah tersebut terdapat seorang perempuan, apa lagi jika itu adalah seorang gadis. Seorang gadis adalah mutiara kehormatan dan harga diri bagi orang Bugis, harus dijaga dengan takaran darah dan nyawa.

Seorang tamu tidak diperkenankan melewati pallawa tengga tersebut. Berani melanggar batas tersebut, maka darah dan nyawa sang tamu jadi halal bagi tuan rumah. Inilah salah satu bentuk penegakan siriq bagi orang Bugis, dalam hukum adat Bugis  tidak akan ada tuntutan bagi mereka yang membunuh untuk menegakkan siriq-nya. Tapi itu dulu, sebelum kerajaan-kerajaan Bugis memilih untuk bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.  
Lalu bagaimana jika sang tamu harus menginap di rumah tersebut? Bagaimana pula jika mereka hendak buang air?

Inilah jawaban kenapa harus ada dipan di ruang tamu orang Bugis. Sang tamu akan mendapatkan jatah tidur di dipan tersebut. Sementara jika ingin buang air, ia harus ke sumur, sungai atau kamar mandi yang biasanya dimiliki rumah Bugis yang terletak di samping rumah, terpisah dengan rumah utama. Mereka turun dengan melewati pintu depan, tidak lewat pintu belakang.

Jika tiba saat jamuan makan, maka oleh tuan rumah sajian akan dihidangkan dalam baki besar di ruang tamu. Disajikan secara suasana lesehan, dimana tuan rumah (utamanya kaum pria) akan ikut makan bersama mereka. Dalam kaitannnya dengan jamuan makan ini juga terdapat kaidah lagi bagi sang tamu maupun bagi tuan rumah (akan dibahas pada artikel-artikel berikutnya)

Kembali ke ikhwal dipan di ruang tamu tadi, biasanya di dipan ini telah tersedia bantal, kelambu serta sarung untuk tidur, sarung untuk mandi, sarung untuk shalat (untuk kaum Muslim), tapi tidak akan ada sarung senggama. Lalu, bagaimana jika sang tamu adalah suami istri dan berhasrat melabuhkan hasrat cinta mereka?

Hemm, bagaimana yah? Gak usah dibahas dulu yah, lagi puasa soalnya.

Sumber Foto :

Selasa, 24 Juli 2012

GALIGO HARI INI (SERI 101 )

Standard
GALIGO HARI INI (SERI 101 )

Menjawab permintaan para member, sekaligus melengkapi tema yang termaktup dalam Galigo seri 100 sebelumnya, maka mulai seri 101 ini kami akan mengangkat Galigo dengan tema “Lamar-melamar”. Selamat menikmati.
 
Kutudang Ri Jajarengta (8)
Baritu Toanae (7)
Tiwi Bunga Pute (6)

Arti Bugis Umum
Engka romai tudang mappakalebbi, ri lappa to foleta, ininnawa mapaccing utiwi

Arti Indonesia
Adalah kami datang dengan segala hormat dan kehormatan, merapat di ruang tamu tuan, niat baik yang kami bawa.

Penjelasan
Tidak sulit untuk memaknai galigo ini, terlebih jika sudah menemukan kata kuncinya, yang terletak pada kata “Jajareng” pada baris pertama dan “Bunga Pute” pada baris ketiga. Sementara baris kedua menjadi pelengkap, sebagai transisi untuk menjelaskan situasi dan lokasi kejadian dan galigo ini sekaligus mengantarkan ke baris selanjutnya.

Secara harfiah “Jajarengta” bermakna duduk sama rata/rendah. Mengantarkan kita pada situasi dimana sang Pelamar (Pria) dan pihak yang dilamar (Perempuan) menempatkan diri sebagai dua pihak yang setara, saling membutuhkan, tidak ada salah satu pihak yang berposisi sebagai penghiba. Setidaknya ini yang diharapkan pihak pelamar, tentu setelah pihak pria memahami siapa dan bagaimana kedudukan keluarga besar sang putri yang dilamar. Kedudukan yang dimaksud bisa berarti status sosial, agama, ekonomi dll.

Tudang majjareng sendiri sudah menjadi tradisi umum dalam masyarakat Bugis. Masyarakat Bugis sudah terbiasa duduk setara dalam sebuah pertemuan/majelis pada lantai/tikar yang sama. Tidak tempat duduk atau singgasana bagi siapapun yang dianggap lebih terhormat dalam majelis tersebut. Tidak ada tempat atau bagian tertentu yang sengaja ditinggikan (termasuk kursi) untuk altar/singgasana bagi yang dihormati. Semua tetap duduk sama rendah, hal ini berlaku dalam lingkup rumah tangga, masyarakat hingga lingkup kerajaan.

Untuk membedakan sosok yang terhormat pada majelis (termasuk dalam jamuan makan) tersebut bisa dilihat dari posisi duduk yang senantiasa duduk pada posisi pusat perhatian (center of audience), biasanya terletak pada ujung atas dari sebuah posisi majelis. Lurus dengan asal arah masuknya peserta majelis / masuknya hantaran hidangan.

Sementara kata “Bunga Pute” adalah lema Bugis untuk menyatakan nama dari Bunga Melati. Dalam hal ini kata Bunga Pute memiliki dua makna, bisa dalam tataran sebagai simbol kesucian (niat suci) yang berangkat lema dasar pute yang berarti putih/suci/bersih. Bunga Pute juga bisa dimaknai sebagai simbol dari sesuatu yang diharapkan berkembang, berangkat dari filosofi Bunga Pute yang dalam khasanah budaya Bugis diperuntukkan untuk melati yang masih kuncup (untuk kepentingan acara adat), ini berarti masih diharapkan untuk mekar atau berkembang. Seolah sang pelamar berharap niat  yang dibawa saat itu dapat berkembang menjadi sebuah kesepakatan yang besar dan diwujudkan bersama kelak. Kata barite toanae, adalah lema Bugis kuno untuk menyebut Lappa Tofole (ruang tamu) saat ini.

Bagaimana tanggapan pihak yang dilamar, tunggu edisi berikutnya.

Kamis, 12 Juli 2012

Masjid Jogokaryan; Jualan Mukena Mahora

Standard

Pedagang memang banyak akal menarik pembeli. Selama bulan puasa, misalnya, penjual di Tanah Abang mempromosikan pakaian takwa ala Pasha Ungu dan JK. Sementara di Kampung Jogokariyan, Yogyakarta, citizen reporter Suryaddin Laoddang menyaksikan mukenah Manohara ramai dipromosikan. Di sana bahkan ada kerudung berlabel Noordin M Top. Wah!. (p!)

Kampung Jogokariyan yang terletak di sisi terluar arah selatan keraton Yogyakarta menjadi pilihan berbuka puasa kami sekeluarga pada akhir Agustus lalu. Jogokariyan sendiri berasal dari nama pasukan brigade yang menghuni daerah tersebut di era kerajaan Mataram. Pada masa peperangan, pasukan ini merupakan laskar terdepan dalam menghadang serangan musuh dari arah selatan. Bukan cuma kampung ini yang diberi nama pasukan perang kerajaan. Tapi ada kampung lain seperti Mangkuyudan dari pasukan Mongkoyudo, Nyutran dari Nyutro, Daengan dari Daeng, atau Bugisan dari Bugis.

Kampung Jogokariyan merupakan lingkungan berbasis Muhammadiyah, berdampingan langsung dengan kampung Krapyak yang didominasi pengikut Nahdatul Ulama. Saya menyambangi kampung ini saat senja belum menyemburatkan jingga di langit, bersama istri dan anak tercinta.

Kami menyusuri Jalan Poros Parangtritis dengan menggunakan ‘motor pitung’ (sebutan orang Jogjakarta untuk motor Honda 70). Bagi saya, Si Pitung lebih memberi kesan berseni dan santai bagi pengendaranya. Jelang minggu malam, jalanan di kota Jogjakarta ramai dengan muda-mudi. Mereka ngabuburit dengan pakaian serba irit.

Masih bersisa 30 meter dari ujung jalan Jogokaryan, namun suasana kampung sudah kental auranya. Pintu gerbangnya ditata apik dengan hiasan rumpun bambu (bahasa Bugisnya tellang yang digunakan untuk membuat sarang burung pipit).

Sore itu, jalanan kampung ini begitu padat. Para pengunjung berdatangan dari berbagai arah mendekat ke sekian pedagang kaki lima (PKL) laksana semut yang mengendus keberadaan gula. Baik kiri dan kanan badan jalan, semuanya terisi.

Selain jajanan seperti kolak, dawet, cendol, juga tersedia berbagai macam lauk pauk seperti pepes ikan, pepes belut, ayam bumbu cocoh. Tak ketinggalan pernak-pernik anak-anak seperti boneka, kaos kaki imut, buku gambar dan mewarnai hingga mukenah anak.

Masjid Full-Service

Jalanan rasanya kian menyempit, membuat pergerakan kami menjadi susah. Solusinya, memarkirkan si pitung tak jauh dari Masjid Jogokaryan yang cukup terkenal dengan seabrek kegiatan di selatan kota Jogjakarta. Namanya sesuai dengan nama kampung di mana masjid ini didirikan. Lapar dan dahaga akan kami tandaskan di masjid ini.

Masjid berlantai tiga ini selain dilengkapi ruang dapur, fasilitas akses internet gratis menggunakan hot spot, juga memiliki jaringan televisi sendiri bernama Masjid Jogokaryan TV atau diringkas MJTV. Meski modulasi siarannya baru dalam radius 2 kilometer, media ini ikut menyiarkan syiar Islam di sekitar masjid.

Sambil menggendong si kecil, saya bersama istri meneruskan perjalanan hingga mencapai pintu gerbang Masjid Jogokariyan. Di halaman masjid suasana begitu meriah oleh riuh rendah anak-anak TPA yang asyik mendengarkan cerita dan lawakan Kak Bimo, pendongeng yang mampu menirukan 131 karakter suara tokoh kartun produk bisnis hiburan yang diimpor lalui jaringan televisi seperti Scooby Doo, Popeye, Donald Bebek, Sponge Bob, atau Doraemon. Tak hanya anak kecil yang tertawa senang, para orang tua juga ikut terbahak dengan ocehan Kak Bimo yang juga mampu menirukan bunyi helikopter, letupan senjata api, mobil Formula, dan sirine ambulans.

Pengeras suara melantunkan azan magrib. Tua muda duduk lesehan menikmati hidangan nasi opor ayam yang telah dibagikan panitia. Selama Ramadan tahun ini, takmir masjid bersama masyarakat Jogokaryan menyiapkan 650 porsi makanan dan minuman untuk buka puasa. Untuk beberapa hari tertentu disiapkan hingga seribu porsi. Hidangan tersebut dimasak ibu-ibu secara berkelompok. Masing-masing dapat membuat menu berbeda dengan anggaran maksimal Rp 2.600,- per porsi. Selain opor ayam, kita juga disuguhi minuman instan bermerek yang disuplai langsung dari pabriknya. Semuanya gratis!

Dua lelaki Bugis di Jogokaryan

Di sisi timur dan utara halaman masjid, berdiri jejeran gerai peserta bazaar ramadan. Berbeda dengan PKL di pinggir jalan, gerai di sini hanya menawarkan kitab dan busana muslim. Saya mendekati gerai nomor 5 dari 9 gerai yang ada. Tata letaknya begitu rapi. Di selatan disusun kitab suci Al-Qur’an, beberapa buku tentang Islam, begitu juga wewangian, buah qurma, berikut obat-obatan dari jazirah Arab.

Di sisi lainnya diletakkan jualan berupa rupa-rupa busana muslim, kopiah, baju koko, dan sebagainya. Semua barang tersedia dalam berbagai ukuran mulai dari anak berumur setahun. “Hingga hari ke-7, ukuran anaklah yang paling laris, orang tua lebih cenderung belinya agak belakangan setelah kebutuhan anaknya tercukupi” tutur Habaruddin, sang penjaga gerai.

Habaruddin, mahasiswa semester akhir di Poltekkes Permata Indonesia Yogyakarta menuturkan, selain di Masjid Jogokaryan ini, ia juga membuka gerai serupa di empat tempat lainnya. “Kami hanya buka dari jam 2 siang hingga 9 malam, kecuali hari Jumat kami buka dari jam 11 siang, sementara hari Ahad buka sampai jam 7 pagi.”

Dari rumah, Habaruddin hanya membekali diri dengan sarung untuk salat, handuk, dan peralatan mandi. Sementara makan dan minum sudah tersedia dan melimpah di dalam masjid tinggal ambil. Bersama kakak kandungnya Sudarlin, kedua perantau asal Bugis ini mengaku lebaran nanti tidak akan mudik ke kampung halamannya di Sengkang. “Kalau hanya biaya transport pulang, insya Allah adalah, tapi oleh-olehnya itu yang tidak kuat, bisa-bisa 10 kali lipat dibanding harga tiket kapal laut.”

Sudarlin yang sehari-hari berdinas di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, hanya bisa membantu adiknya selepas jam kantor, kecuali Sabtu dan Ahad ia berkesempatan di pagi hari. Sambil menunggu azan Isya sekaligus tarawih, Sudarlin bercerita bahwa barang dan buku yang dijualnya lebih banyak titipan orang dengan sistem konsinyasi. Barang-barang itu didapatkan dengan memanfaatkan jaringan kakaknya yang juga memegang amanah sebagai sekretaris Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Jogjakarta.

Ditanya soal kampung halaman, lelaki Bugis yang telah merantau sejak 2005, mengaku sudah betah menetap di kota ini. Apalagi mereka bersaudara telah yatim piatu.

“Menjual” Manohara dan Noordin M. Top

Usai Isya, seraya menuju parkiran, saya mampir sejenak membaca baliho yang terpasang di tembok masjid. Ada seabrek kegiatan terpampang di situ, salah satunya adalah Tablig Akbar diantaranya diisi oleh Ustaz Abu Bakar Ba’asyir. “Pasti seru acaranya, apalagi isu terorisme lagi marak,” gumamku. Saya teringat kembali pertemuan dengan Noordin M. Top dan Manohara di sebuah stan kaki lima tadi sore.

Manohara dan Noordin M. Top adalah dua nama yang menjadi maskot pemberitaan beberapa bulan ini. Manohara Odelia Pinot, perempuan blasteran Enrekang-Perancis, ini tenar seketika setelah ibunya berjuang melepaskan putrinya dari kungkungan Pangeran Kelantan, Malaysia, yang menyuntingnya.

Berbeda dengan Manohara, Noordin M. Top, orang paling dicari di Indonesia, telah jadi langganan berita media massa jauh sebelum bom bunuh diri terjadi di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta 17 Juli lalu.

Saat kasus Manohara meledak, kalangan bisnis beraksi cepat. Di pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta dalam waktu singkat beredar tas Manohara. Modelnya sesuai dengan beberapa foto tas yang dipakai Manohara. Namun harganya cukup membumi karena tingkat kualitas yang ditekan menyesuaikan daya beli sebagian besar masyarakat. Kini di saat Ramadan, beredar lagi keluaran baru: kerudung dan mukenah Manohara.


Dalam sesak pengunjung dan PKL di jalan tadi, istri saya sempat menepuk pundak sebagai isyarat untuk menghentikan sejenak si Pitung. Rupanya ia tertarik mendatangi sebuah stan yang memajang berbagai macam kerudung dan mukena mencolok dengan tulisan ‘Mukenah Manohara’ dan ‘Kerudung Noordin M. Top’. Mukenah dan kerudung ini diproduksi di daerah Kawalu, Tasikmalaya.

“Manohara dan Noordin memang tidak pernah memakainya. Kami para penjual hanya memanfaatkan momen saja untuk menarik perhatian pembeli,” terang Khilya, mahasiswa semester tiga Tata Busana Universitas Negeri Yogyakarta yang memiliki stan tersebut.

Saya tergelak., “Mukenah Manohara bolehlah. Tapi kalau Kerudung Noordin M. Top? Dia kan cowok, masak pakai kerudung?” (p!)

Selasa, 10 Juli 2012

Anakku, Kubeli Bola Itu dengan Air Mata

Standard
Saya lupa persisnya ini terjadi kapan. Yang masih terekam di ingatanku, hari itu hari Sabtu, akhir pekan. Pagi itu, Rafi anak semata wayangku merengek ikut aku, ikut ke kantor. “Ayah, ikut yah, Rafi mau kerja bakti sama mbah Raji” pintanya sambil menyebut salah satu nama staff keamanan di kantorku, sahabat karibnya mungkin seperti itu yang ia rasakan. Sosok Mbah Raji memang sangat “momong” apalagi terhadap anak kecil. Kedekatan itu kian terasa setelah dua minggu sebelumnya Rafi dan Mbah Raji asik berpeluh keringat saat kerja bakti. Kebetulan tiap akhir pekan, di kantor kami selalu digalakkan kerja bakti. Apalagi minggu ini, kerja bakti jadi lebih lama dari biasanya, minggu depan Kampus tempat aku bekerja akan kedatangan tim Akreditasi. Kerja bakti inilah yang disukai Rafi, ia bisa bermain bebas dan berkotor-kotor ria. Naluri seorang anak tentunya.

Jam 14.30, selepas rehat, kerja baktipun kelar. Rafi segera kusuapi agar perutnya tak keroncongan, setelah itu kumandikan dan berganti pakaian. Sebelum kuajak pulang, ia terlebih dahulu pamit ke semua staff di kantor, satu per satu ia pamiti. Selanjutnya dengan motor pitung tuaku kami beranjak pulang, menuju rumah kontrakan kami di bilangan Bangutapan Bantul Yogyakarta.

Selepas dari pertigaan Colombo jalan Gejayan Yogyakarta, tepat di depan pasar Demangan Yogyakarta, tiba-tiba Rafi merengek “Ayah, katanya mau beliin Bola belang-belang”.

Waduh! Rupanya janjiku sepekan lalu membekas di benaknya.

Sepekan lalu kala nonton bola di lapangan bola dekat rumah, Rafi menyatakan keinginannya untuk memiliki bola karet dengan motif kotak trapezium yang berselang-seling, itulah yang disebutnya sebagai bola belang-belang. Kala itu saya memang menjajikan untuk membelikannya. Sayang saya lupa, sampai ia menagihnya.

Akhirnya, agenda untuk segera pulang ke rumah dialihkan berputar seatero area Timur kota Yogyakarta, mencari bola belang-belang tersebut. Dari 6 toko alat olahraga dan 8 toko mainan anak yang kami sambangi, tak satupun yang menyediakan bola tersebut, kalah dengan maraknya bola bermotif sekelas Fevernova dan Jabulani. Gurat kecewapun tampak di wajah Rafi. Hemmm, jadi serbasalah.

“Duh, gak adae dek. Yuk cari disana lagi yuk” menjadi senjata pamungkasku agar Rafi tak menangis kala itu. Ampuh, karena Rafi jadi semangat. Sepanjang jalan yang kami lewati, ia selalu tengok-tengok kiri kanan setiap ada warung kelontong. Matanya nanar menatap sebentuk bola bermotif belang-belang diantara banyaknya bola plastik warna-warni yang tergantung di warung-warung tersebut.

Hampir tiga jam kami berkeliling, memasuki jalanan kampung, gang demi gang, namun bola itu tak jua kami dapati. Perlahan kubujuk Rafi untuk beli bola lainnya, ia tak bergeming. Kusarankan untuk mencari lagi esok hari ia juga tak bergeming, bahkan diam dengan mata berkaca-kaca, hidung kembang kempis, nafasnya sesungukan, dadanya bergelombang naik turun, tanda menahan tangis.

Adzan Magrib sudah berkumandang, sms dari Bundanya sudah dua kali menanyakan keberadaan kami. Masih dengan Rafi yang duduk didepanku sambil berpegangan di dashboard motor, sementara saya terus melemparkan pandangan sisi kiri dan kanan jalan, kali saja bola itu kami dapatkan di detik-detik terakhir pencarian kami dipentang hari ini.


Merasa bersalah dan kecewa karena tak mampu memenuhi pinta anakku, matakupun berkaca-kaca, lahirkan bulir hangat. Makin berkaca kala teringat bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan bola serupa 21 tahun lalu.

Ditengah lamunanku, Rafi berteriak “Ayah, itu ada ayah!” Ia begitu girang bahkan berbalik memukul-mukul wajahku, memastikan aku juga mengikuti arah telunjuknya.

Tepat saat Iqomat Magrib berkumandang, bola itu kubayarkan dengan selembar uang 20 ribu dan selembar uang 5 ribu, 2 lembar uang 2 ribu dan selembar uang seribuan. Meski bola itu telah berkalang debu, Rafi begitu riang menerimanya. Bola yang telah kumasukkan dalam plastik kresek itu dipeluknya sepanjang perjalanan sambil bernyanyi “ye ye ye aku dapat bola belang-belang” atau “aduh, capek aku, muter-muter yah Ayah”. Aku pun bahagia mampu membelikan bola itu, tak terasa air mata haru kembali berbulir di ujung mataku.

Setiba dirumah, saat Rafi masih bermain dengan bolanya di kamar mandi, saya usai tunaikan Shalat Magrib, kutuliskanlah bait-bait berikut ini;


Seingat ayah, 
ini adalah bola besar ke 5 yang pernah nanda miliki.
Kali ini nanda dapat bola karet, “bola belang-belang” begitu sebutmu. 
Bola yang kau dapatkan setelah seharian merengek.

Anakku...
Tahukah engkau, bola serupa dengan ukuran lebih kecil
ayah dapatkan pada usia 12 tahun, setelah merengek hampir 2 bulan.


Ayah dapatkan dari nenekmu setelah membayarnya
dengan memikul berpuluh buah nangka matang, belasan tandan pisang, 
ribuan buah kelor dan entah berapa ikat sayuran kangkung, daun singkong juga 
lipatan daun pisang.

Sebongkah buah nangka seukuran sekali pelukanmu dibarter dengan bola itu.

Ingin rasanya, cara itu kuterapkan padamu anakku.
Tapi sungguh, hati kecilku tak tega.

Maafkan ayahmu anakku.

Bissu Bugis Berkati Bumi Mataram, Yogyakarta

Standard
Hening, sunyi, sepi, senyap, tak satupun berani berbisik apalagi bicara seolah semua menjadi bisu ketika suasana ruang pertunjukan gedung Arena di Kampus Institut Seni Yogyakarta menanti pagelaran sendratari Sumage’na Bissudimulai (Ahad, 8 Juli 2012).

Penerangan yang sengaja dimatikan makin membawa penonton dalam suasana yang sakral, tak selentingan pun suara yang terdengar, hingga sesemburat cahaya lampu sorot menerangi sisi utara panggung menyeruak seakan menyapu gelap. Cahayanya menyorot seorang passureq yang membacakan sureq galigo ikhwal hadirnya para Bissu dalam masyarakat Bugis. Bissu adalah sosok yang dianggap sebagai manusia setengah dewa dalam khasanah budaya Bugis pra Islam, perantara dunia manusia dan dunia para dewa. Kisah kehadirannya dikisahkan dalam bait-bait lontaraq, sebuah manuskrip sastra kuno Bugis yang untuk membacakannya dibutuhkan jasa seorang passureq. Prosesi membaca sureq ini sendiri disebut Massureq, sebelum massureq dimulai, kitab kuno tersebut juga hanya boleh dibuka setelah melewati prosesi pemberkatan oleh sang Bissu.

Adegan selanjutnya menampakkan seorang Bissu Lolo (Bissu Muda) yang menuju altar pemujaan setelah sebelumnya melakukan ritual tarian sakral. Kehadirannya diawali dengan kebulan asap ke seantero area panggung berikut dengan musik lirih nan sakral diiringi gemuruh lengking yang mendirikan bulu roma, perpaduan alat musik khas Bugis seperti puik-puik, soling, kacaping, anak becing, parappasa, genrang dan lainnnya memadukan harmoni ritual. Mengenakan baju Adat khas Bissu berwarna hitam, sang bissu lolo nampak begitu berwibawa. Tatapannya tegas menatap setiap sudut, sungging bibirnya datar, tak senyum ataupun gurat marah, tiap gerakannya tertata penuh ritme, ia serius dengan lakonnya.

BISSU MODERN

Suasana sakral dan hikmad itu akhirnya dibuyarkan (*dikacaukan) dengan kehadiran empat orang penari dengan tarian yang penuh irama, dinamis meliuk tanpa pakem, kadang erotis lengkap dengan iringan musik dan lagu dandut koplo semisal lagu Iwak Peyek.

Dengan tarian modernnya, empat penari ini sukses menggambarkan kondisi kekinian para Bissu di tanah Bugis. Dahulu Bissu adalah sosok yang sarat dengan kemampuan bearoma religi dan mistik, menjadi penghubung antara manusia dan para dewa, menjadi sosok yang nubuwat dan petuahnya senantiasa dinanti dan dipatuhi para raja dan rakyatnya. Bissu yang dulu hidupnya serba bersahaja. Diluar perannya sebagai Bissu, mereka adalah manusia biasa yang juga punya hasrat hidup, mereka bertani, berladang dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Kini, karena tuntutan zaman, terpaan nilai hodenis dan materialism, serta perlakuan masyarakat terhadap eksistensi para Bissu, sukses memaksa mereka –kadang juga mereka sendiri yang mau- berkoloni dan membuat kelompok eksklusif dengan para waria. Para Bissu menganggap diri mereka adalah waria, tidak lagi sebagai sosok yang dititisi kelebihan untuk menjadi Bissu. Wajar jika masyarakat beranggapan bahwa Bissu sama dengan waria, ironis! Dalam koloni para waria, mereka menganggap diri mereka adalah Bissu modern, Bissu dengan tampilan yang modis, dengan profesi harian sebagai desainer, hair stylish, make stylish, koki, chief hingga seorang wedding organistor. Dalam melakukan ritual Bissu, mereka tak ingin lagi menggunakan pakem gerak dan tari yang sarat makna, estetika dan filosofi. Bagi Bissu modern, gerakan itu telah kuno, ketinggalan zaman dan menjemukan. Tak pelak, mereka hadirkan koreo dan tata gerak tari baru yang lebih energik, dinamis bahkan terkesan erotis.

Pagelaran ini merupakan kritik sosial yang ingin ditunjukkan Ariyanti Sultan dalam karya tarinya bertajuk “Sumangeqna Bissu”. Ibu satu anak ini seolah marah pada dinamika para Bissu yang kian rusak di tengah masyarakat Bugis. Amarahnya, sempurna ditunjukkan lewat berbagai simbol dan gerak-gerik panggung tanpa dialog dalam pertunjukan berdurasi 65 menit tersebut.

Dalam salah satu adegan, Rhara panggilan akrab perempuan asal Pare pare, Sulawesi Selatan ini juga menujukkan betapa jabatan atau sematan sebagai seorang Bissu saat ini telah menjadi rebutan berbagai pihak. Hal ini digambarkan pada adegan dimana empat Bissu modern memperebutkan sebuah lawasoji, ajang rebut merebut berlansung begitu sengitnya, hingga lawasoji tersebut menjadi rusak tanpa bentuk. Lawasoji dalam ritual Bissu adalah ruang khusus yang terbuat untaian bambu dan kain putih, tempat para calon Bissu melewati proses Irebba sebelum sang calon dilantik menjadi Bissu.

Layaknya sebuah peran, seorang plakon antagonis pasti akan melawati masa kulminasi, masa yang membuat mereka tersadar akan kekeliuran mereka. Meski kadang kesadaran itu terlambat, setelah semua rusak dan tak bisa diperbaiki lagi. Pun dengan keempat Bissu modern tadi, saat mereka tersadar dengan ulah mereka, lawasoji telah rusak sempurna, tak bisa lagi diperbaiki.

Kesadaran mereka makin menjadi, penyesalan mereka makin membuncah kala seorang Matoa Bissu (sesepuh Bissu) memasuki arena. Hadir dengan pakaian kebesaran dan berpayungkan payung kehormatan yang ditadah oleh Bissu Lolo, sang Matoa Bissu menjadi pusat perhatian kala ia melakukan proses maggiriq, menusuk dirinya dengan Tappi-nya (sejenis keris) pada beberapa bagian tubuhnya seperti telapak tangan, perut, mata hingga lidah. Iringan musik sakral terus mengiringi ritual maggiriq tersebut, konon irama musik harus senada dengan ritme maggiriq itu sendiri, resonansi musik itulah yang menggiring suksesnya ritual maggiriq. Salah alunan, fatal akibatnya.

Sebelum prosesi maggiriq dimulai, sang Matoa Bissu melakukan gerakan unik, sepenggal tarian yang lembut dan berirama dengan ritme pelan nan syahdu. Tak lupa ia melakukan penghormatan dengan sedikit menjurakan anggukan kepala ke arah empat sudut panggung, upaya meminta ijin untuk melakukan ritual Bissu di kota Budaya, Yogyakarta. Rupanya sang Bissu paham dan masih mengejawantahkan pesan leluhurnya, kegasi sanre lopie kositu to taro sengereng, dimana perahu kita berlabuh, disanalah kita menanam budi. Pasca meminta ijin, tak lupa sang Matoa merapalkan pula larik-larik doa mendoakan semua yang hadir di ruang pertunjukan tersebut agar tak tertimpa aral apapun minimal selama ritual berlansung. Sang Matoa sadar jika apa yang dilakukannya beberapa saat lagi memiliki resiko kepada siapapun, termasuk bagi penonton. Maka ia melakukan pemberkatan kepada siapapun yang hadir diruang tersebut, juga memberkati bumi Mataram – Yogyakarta.

Tahukah Anda, siapa yang memerankan sosok Matoa Bissu tersebut?

Ia adalah Matoa Bissu Pung Ufe sendiri, Matoa Bissu dari tanah Sigeri Kab. Barru Sulawesi Selatan ini didatangkan lansung oleh sang Koreografer, Rhara.

( Suryadin Laodang – Yogyakarta)
TULISAN INI TELAH TAYANG DI WWW.KABARKAMI.COM, 9 JULI 2012