Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Pameran Buku, Anak Kami Hilang


Anak tangga terakhir, telah kami lewati. Aku di sebelah kiri, jagoan kecilku di tengah, budanya di kanan. Tiba-tiba, Rafi sang jagoan kami itu berhenti. Seorang gadis cantik berkaos hitam dengan mic digengamannya menarik perhatian Rafi. Jagoanku ini memang lagi gandrung dengan alat kecil yang berfungsi sebagai perana suara tersebut, setiap mendapatkannya Rafi seolah ingin menguji kualitas suaranya. Entah itu bernyanyi, mengumandangkan Adzan atau sekedar berteriak. Pun kali ini Rafi tak jua berkedip memandang alat itu, menatap perempuan yang tak berhenti ngoceh di ruang informasi pameran buku yang kami sambangi siang kemarin.

Kamipun berhenti menuruti keinginannya, tak jua kami berani mengganggu keasikannya, hingga ia sendiri yang memecah kebisuan kami bertiga. “Ayah, tantenya itu ngapain to’ yah?” tanyanya dengan aksen Jawanya yang mulai kental. “Oh, itu namanya ruang informasi nak, nanti kalo kunci motor ayah hilang nanti carinya kesini” jawabku sambil menunjukkan kunci motor tua kami. “Oohhh”, balasnya lalu menarik tanganku untuk melangkah langi, “nyari tulis-tulis yok yah”. Tulis-tulis adalah lema khusus dalam kamus bahasa Rafi untuk menyebut alat tulis serupa crayon atau pensil warna.

Baru satu stand buku yang kami lewati, terdengar sebuah pengumuman, “Perhatian!!!” suara itu agak keras, mungkin disengaja. “Bagi bapak ibu yang tadi meninggalkan anaknya tertidur di Mushalla, harap segara diambil kembali, karena anaknya sudah bangun dan menangis meroeng-roeng”. Seketika aku, bunda Rafi dan beberapa pengunjung serta penjaga stand tertawa. Ada dua alasan yang membuat kami tertawa, pertama menertawai keteledoran orang tua anak itu. Kedua gaya dan pilihan bahasa sang announcer terutama pada kata meroeng-roeng, plesetan dari kata meraung-raung. Ku yakini, itu disengaja untuk menarik perhatian para pengunjug, mungkin juga bentuk amarah sang annoucer pada keteledoran sang orang tua.

Setelahnya, kami bertiga asik mencari buku, terutama di stand-stand yang menyajikan potongan harga besar dan obral buku. Rafi, tak kalah hebohnya mengumpulkan majalah, buku dan mainan puzzle yang disenanginya. Tidak tanggung-tanggung, ia rela duduk bersila mengamati lembar demi lembar buku pilihannya sebelum diserahkan padaku sebagai kata perintah untuk membelikannya. Siang itu, belanja buku Rafi mendekati angka Rp. 150.000,-, bundanya Rp. 20.000,-, dan aku sendiri Rp. 12.500,-,. Satu buku lagi kami beli bukan untuk kami, tapi untuk kami jadikan kado ucapan selamat bagi sahabat kami yang baru saja menjadi Ayah. Harganya? Rahasia, ok.

Buku sudah dibayar semua, Rafi sudah menunjukkan wajah lelah dan bosan, kamipun beranjak menuju pintu keluar yang sekaligus pintu masuk yang kami lewati sebelumnya. Satu persatu stand kami lewati begitu saja, hingga tiba didepan sebuah stand yang menyajikan alat-alat permainan pembelajaran bagi anak-anak. Hemm, Rafi tertarik. Maka masuklah ia kesana bersama bundaya, Rafi asik bermain ditemani petugas stand tersebut, bunda asik mencerna semua bahasa promosi dari petugas lainnya. Daripada bengong sendiri, aku pamit hendak berkeliling ke stand buku lainnya, aku tinggalkanlah Rafi bersama bundanya disana.

Selang tiga puluh menit kemudian, bunda Rafi menyapa lewat telepon selulur butut kami, “Ayah, Rafi disana gak?”. “Lho, bukannya sama bunda disana”. Tak pikir panjang telepon selelur itu aku masukkan ke kantong jaket, entah sudah aku matikan atau tidak. Setengah berlari aku menuju stand tempat Rafi dan bundanya tadi terakhir aku tinggalkan, entah berapa orang yang aku senggol, entah berapa orang pula yang menyumpahi aku. Masa bodo, anakku hilang, harus segera ketemu kembali. Banyangan buruk silih berganti mendera benakku, saat berpapasan dengan istriku kuperintahkan ia mencari kearah kiri dan aku ke arah kanan.

Semua jalur labirin yang berular itu telah ku jelajahi, tak jua anak kami ketemu. Beralih ke kamar mandi, juga tak ada. Lewat pintu terlarang, pintu yang hanya boleh untuk panitia aku melompat dan berlari ke parkiran mencari anakku. Banyangan dibawah lari oleh orang lain menghatuiku, tak jua ketemu. Segera kuberlari menatap setiap kendaraan yang lalu lalang di jalan raya, berharap masih menemukan anakku lagi digendong atau dimasukkan kendaraan orang lain, semua nihil.

Oohhh, masih ada satu tempat yang belum aku sambangi. Area pujasera, pusat jajanan selera rakyat, mungkin saja Rafi kesana mencari minum atau jajanan lainnya. Baru dua gerai pujasera yang kusambangi, ponsel bututku berdering. “Halo, Rafi dah ketemu ayah”. Beberapa jenak aku hanya bisa diam. Huft lega, anakku kini bersama bundanya. “Sekarang dimana” tanyaku. Seteleh mendapatkan penjelasan, aku pun beranjak kesana.

Segera Rafi kuraih dari gendongan Bundanya, kupeluk dan kucium bertubi-tubi. Di tengah ciuman itu Rafi berujar “aku tadi cari ayah kok”, rupanya ia sadar jika kami telah panik dibuatnya. Maafkan ayahmu anakku. Hanya dua meter dari tempatku berdiri, bunda Rafi sedang mencak-mencak pada petugas stand yang tadi menemani Rafi bermain. Petugas itu hanya bisa menjawab “saya tidak tahu bu”, entah mengapa emosiku tidak tersulut saat itu? Lima belas tahun menetap di Yogakarta rupanya mampu meredam gejolak Bugis Makassarku yang biasanya gampang tersulut. Entah mengapa ku tak mau menyalahkan petugas itu, malah menyalahkan diri sendiri. Sekali lagi maafkan ayahmu anakku.

Setelah mengamit lengan bunda Rafi, segera kuputuskan segera meninggalkan arena pameran tersebut. Dalam perjalanan menuju parkiran, bunda Rafi bercerita jika tadi Rafi ditemukan sedang asik duduk bersama gadis cantik, petugas ruang informasi yang menggunakan kata “meroeng-roeng” tadi. Menurut cerita petugas itu, Rafi datang sendiri ke meja siaran itu menyapa sang petugas “Tante, Ayahku mana?”. Baru saja sang petugas hendak mengumumkan “berita anak ditemukan itu”, bunda Rafi datang dan mereka saling berpelukan. Pengumuman itu pun tak jadi mengudara. Bagaimana cerita hingga Rafi bisa meninggalkan bundaya dan tiba di ruang informasi, tak juga mampu kami korek dari cerita Rafi. Ia sudah lupa.

Rupanya informasi yang kuberikan pada Rafi, tentang kunci motor yang hilang tadi diterjemahkan menjadi “Jika Ayahku hilang, maka bisa ditemukan di ruang informasi”. Akh, anakku sungguh cerdas dikau. Ayahmu yang teledor, maafkan ayahmu nak.

4 comments for "Di Pameran Buku, Anak Kami Hilang"

Berlangganan via Email