Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ajal itu Bisa Datang Tiba-tiba


Ini persoalan rahasia. Rahasia yang tidak akan terungkap hingga kapanpun, teori konspirasi dan investigasi model apapun takkan mampu membongkar larik-larik dan pintu-pintu rahasianya. Yah, ini adalah persoalan rahasia Tuhan, sang Maha Berkehendak. Rahasia tak pernah bocor ke ummatnya bahkan kepada pembantu terpercayanya, para malaikatnya, juga para manusia-manusia pilihannya sekelas Nabi dan Rasul.

Ajal, jodoh dan rezeki adalah tiga serangkai rahasia Tuhan yang sudah digariskan pada manusia sejak roh ditiupkan pada tubuh kasar manusia, pada bilangan hari ke 120 dalam alam rahim ibunya (ini tidak berlaku bagi manusia di muka bumi ini, Adam).

Tentang ajal, penghujung bulan April lalu saya menyaksikan kebenaran janji Tuhan itu, ajal bisa datang di mana saja dan kapan saja. Tiga kisah berikut, semoga mampu menegaskan janji tersebut.

***

Cerita Pertama

Kamis pagi, 26 April 2012, pukul 04.45 WIB. Saya masih di teras rumah kontrakan kami, sedang meransang kinerja otak dengan membaca Koran pagi. Tiba-tiba, tanpa kusadari seorang ibu menghampiriku, “Ayo mas, gek mlaku-mlaku” mengajak segera lari pagi dengan bahasa akses Jawa Ngapaknya yang kental.

Selang 5 menit saya menyusulnya. Bertelanjang kaki, kami berlari ringan di jalan beraspal dengan hamparan sawah yang mengapit. Segar, hijau dan sejuk yang kami rasakan. “Wuh seger ya mas bisa menikmati udara pagi kayak gini” ibu paruh baya itu membuka percakapan.

“Iya bu, ini susah kita dapatkan di kota Jogja saat ini” balasku
“Makanya mas, mumpung njenengan masih muda, nikmatilah. Jaga kesehatan, itu penting” nasehat ibu itu padaku.
“Ngih bu”, balasku singkat.

Berikutnya tak ada lagi pembicaraan antara kami, nafas yang sudah terengah-engah adalah sinya agar kami menyimpan energy. Hingga, 30 menit kemudian kami terpisah, ibu itu sudah menuju tempat mangkal pedagang sayur keliling langgannya. Saya memilih melanjutkan lari pagi itu seraya mematikan lampu-lampu penerang jalan kampung di sekitar rumah. 20 menit kemudian, lari pagi itu kuakhiri, saatnya bersiap-siap untuk aktivitas rutinku, kantor.

Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB kala itu, tiba-tiba jantungku berdecak kencang, perasaanku tidak enak. “Pasti ada yang terjadi dengan orang-orang disekitarku” itu yang terbesit dalam benakku kala itu. Segera saja orang-orang yang kucintai dan atau mencintai saya, saya cek satu persatu. Keluarga di Sulawesi, Kalimantan, Jakarta, Bandung, Probolinggo, Jepara dan Jogja sendiri saya cek satu persatu. Semua jalur kupakai, sms, internet (facebook, ym), telepon dan telepati terkoneksi semua. Tak kutemui kejanggalan disana.

Sejam kemudian, dapat kabar dari Ibu anakku di rumah. “Ayah, tetangga depan rumah ada yang meninggal”, kabar istriku. Tek! Ini dia pikirku. Ternyata yang meninggal itu adalah ibu yang menemaniku lari pagi tadi.

Inna Lillalahi Wa Inna Illahi Rajiunnn.

Cerita Kedua

Jumat , 27 April 2012, pukul 15.15 WIB. Sepulang dari melayat ibu tentangga kami tadi. Bunda Rafi kembali mengabari “Ayah, mas Muji meninggal di Boyolali”. Saat itu, saya diam seribu bahasa.

Saya memang tidak terlalu dekat dengan sosok ini. Muji Anantha, seorang desainer muda dan terkenal, karya-karyanya telah menembuh pasar mode Hongkong, Spanyol dan Jerman. Ini luar biasa bagi saya. Maka pada sebuah kesempatan, saya sedikit memaksa beliau untuk diliput untuk sebuah karya jurnalis di Majalah Inspirasi Usaha, tempat saya belajar menulis berita saat ini. Awalnya, dengan rendah hati ia menolak untuk diliput, “saya bukan siapa-siapa mas, tidak layak diliput seperti itu”, kilahnya kala itu.

Saya tak mau menyerah, berbagai upaya saya pakai agar ia mau untuk itu. Berhasil, sayang liputanku tentang Muji Ananta ini tidak lolos tayang kala itu. Kala sakitnya pun, ia masih juga menanyakannya “Mas, liputan saya sudah dimuat?” Sungguh tak bisa kumenjawabnya.

Menghantarkannya ke peristirahatan terakhirnyapun saya tak sempat. Malam itu juga saya harus berangkat ke Malang, menghadiri perhelatan budaya disana. Agenda yang sudah direncanakan sebulan sebalumnya dan tak bisa lagi diundur. Maka, yang mewakili melayat saat itu adalah jagoanku (Rafi), bundanya dan tantenya. Bertiga mereka berangkat ke Boyolali keesokan paginya, hari Sabtu.

Inna Lillalahi Wa Inna Illahi Rajiunnn.

Cerita Ketiga

Di dalam kereta Malabar yang mengantarkanku dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Malang. Sabtu (28 April 2012) pagi, kisaran 05.40 WIB.

“Daeng, kakak sudah dipanggil tadi setelah shalat Shubuh. Dalam doanya, kakak masih menyebut nama daeng” dua larik kalimat itu tayang di layar telepon gengamku.

Berita ini kudapatkan dari seorang adik, adik dari seorang perempuan luar biasa yang banyak mewarnai hari-hariku bebera tahun silam. Ia dipaksa menikah oleh orang tuanya, dijodohkan tepatnya. Itu berarti kami harus terpisah.
Delapan tahun rentang waktu pernikahannya, ternyata tak membawa bahagia untuknya. Ia terus saja mengutuk dirinya, merasa bersalah padaku, menyesali keputusannya. Hingga ia jatuh sakit menahun. Enam rumah sakit telah berupaya mengobatinya, tapi tak jua berujung manis. Rumah sakit ketujuh yang ia pilih adalah sebuah rumah sakit besar di Yogyakarta.

Keberadaan dua orang adiknya di kota ini jadi pertimbangan sendiri, dua orang adiknya ini pulalah yang silih berganti menyapa bahkan menyambangiku. Datang dengan ajakan kadang setengah memaksaku untuk datang menjenguk kakaknya.

Entah kenapa, tak jua aku tergerak untuk melakukan itu. Bahkan ketika secarik kertas bertuliskan pesan permintaan dari sang kakak itu disodorkan padaku, aku masih saja tak bergeming. Bahkan secarik kertas itu kubuang di Selokan Mataram Yogyakarta. Kejam!

Kini aku menyesal.

Kala itu saya selalu membela diri, “maaf, saya tak mau sakiti rasa orang lain”. Yah rasa istriku, rasa suaminya, juga rasa orang tuanya (musuhku dulu).

Selamat jalan Yeni, selamat jalan sahabat, selamat jalan … ???

Maaf atas tak sanggupku.

Semoga, kusanggup bayar salahku. Kelak.

Inna Lillalahi Wa Inna Illahi Rajiunnn.

Post a Comment for "Ajal itu Bisa Datang Tiba-tiba"

Berlangganan via Email