Kamis, 31 Januari 2013

GALIGO HARI INI (SERI 104 )

Standard
GALIGO HARI INI (SERI 104 )
Serial Lamar-melamar

Rennuta Ribali Rennu (8)
Mattunrung na Mattakke (7)
Ripominasae (6)

Arti Bugis Umum
Rennutta ibali rennu, lebbifi egana rennukku, padatoha iya pada riminasaiyye

Arti Indonesia
Kabar gembira tentu kami balas gembira, justru gembira kami lebih besar dan luas, tentu itu yang kita harapkan semua.


Penjelasan
Setelah mendengarkan (utaraan) maksud kedatangan sang tamu (rombongan keluarga calon mempelai pria), maka keluarga calon mempelai perempuan membalas dengan ungkapan suka cita pula. Mereka menyambut gembira maksud kedatangan calon mempelai pria yang datang membawa kabar gembira. Makna gembira ini merujuk pada kata rennu, kosa kata Bugis bermakna gembira.

Kata sulit pada Galigo ini terletak pada baris kedua, pada kata Mattunrung na Mattakke. Kata tunrung bermakna tandan (seperti pada pisang) dan kata Mattakke bermakna bercabang. Lewat frase ini, pihak perempuan ingin menyatakan jika rasa gembira mereka bagaikan batang buah pisang yang melahirkan buah pisang yang banyak, juga ibarat batang pohon yang menghasilkan banyak dahan, cabang dan ranting. Sederhananya bisa diringkas dalam kalimat “rasa gembira kami ini beranak pinak dan berkembang luas”. Sementara pada baris ketiga, kata Ripominasae sendiri bermakna sesuatu yang diharapkan bersama, berasal dari kata minasa yang berarti harapan, impian, asa, keinginan, hasrat, tujuan.


Seperti apa percakapan dalam acara lamar-melamar ala Bugis yang berbalut kiasan ini berikutnya, tunggu edisi berikutnya. Salam Galigo

Jumat, 25 Januari 2013

BUKU BUGIS MAKASSAR : SEJARAH MARITIM INDONESIA

Standard
Kembali kami hadirkan profil buku Bugis Makassar yang sangat layak untuk Anda baca. 

SINOPSIS :

Aspek maritim sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sejak dikenalnya jalur perdagangan laut di Asia Abad 1 M, Nusantara bagian barat memetik manfaat dari interaksi perdagangan maritime. Di sepanjang jalur ini, terbentuk kantong-kantong niaga (imperium). Dalam proses itu tersiar agama Hindu dan Budha, kemudian Islam dan Kristen. Selain itu, terjadi juga proses alih pengetahuan dan kreasi teknologi perkapalan. Kapal Galey misalnya, yang merupakan jenis kapal perang Arab diproduksi oleh pandai kapal Portugis, dan ditemukan di kawasan timur Nusantara.

Buku ini menyajikan risalah kerajaan-kerajaan Nusantara di masalalu yang pernah Berjaya dalam memanfaatkan potensi kelautan. Juga keruntuhan kekuatan maritime pribumi, baik karena peralihan orientasi ke darat maupun intervensi bangsa asing dalam merebut ruang pelayaran dan perdagangan maritime. Risalah ini seyogyanya menjadi renungan bagi kita untuk membangun Negara maritim Indonesia. Dalam kerangka itulah, pemahaman sejarah maritime sangat penting agar kita tidak terpukau selamanya dalam cakrawala sejarah Indonesia yang masih banyak menyuguhkan khasanah kedaratan.

DAFTAR ISI :

BAB 1 : NEGARA KELAUTAN DAN SEJARAH MARITIM
  • Pengertian
  • Laut Sebagai Penghubung
  • Perspektif Teoritis
  • Lingkup Sejarah Maritim
  • Jaringan (Masyarakat) Maritim
  • Pandangan Terhadap Laut
BAB 2 : TEORI MAHAN DAN NEGARA MARITIM
  • Riwayat Alfred Thayer Mahan
  • Lahirnya Negara Maritim
  • Naval Pover dan Sea Power
  • Pengaruh Teori Mahan
BAB 3 : PELAYARAN DAN PERDAGANGAN ABAD I-XIII
  • Jaringan Perdagangan Laut
  • Ciri Perdagangan
  • Perahu Jong dan Jung
  • Kerajaan-kerajaan Pesisir
BAB 4 : KERAJAAN SRIWIJAYA ABAD VII-XIII
  • Perkembangan Perdagangan Laut
  • Kerajaan Sriwijaya
  • Kejayaan dan Kemakmuran
  • Kemunduran dan Keruntuhan
BAB 5 : ZONA MARITIM LAUT JAWA DAN MAJAPAHIT ABAD XIII-XV
  • Zona Maritim Asia
  • Hegemoni Majapahit
  • Perdagangan dan Perkapalan
  • Runtuhnya Majapahit
BAB 6 : ZONA MARITIM SELAT MALAKA ABAD XV-XVI
  • Mengamankan Selat
  • Kesultanan Malaka
  • Pelayaran
  • Perdagangan
  • Perkapalan
  • Undang-undang Laut Malaka
BAB 7 : MARE CLAUSUM; PELAYARAN PORTUGIS DAN SPANYOL KE NUSANTARA
  • Pendahuluan
  • Perkapalan
  • Pelayaran
  • Portugis di Malaka
  • Bangkitnya Aceh dan Banten
  • Portugis dan Spanyol di Maluku
BAB 8 : MARE LIBERIUM; KEBIJAKAN PERDAGANGAN BEBAS DI MAKASSAR ABAD XVI-XVII
  • Kerajaan Makassar
  • Mare Liberum
  • Perahu dan Perkapalan
  • Hukum Laut Amanna Gappa
BAB 9 : KESULTANAN (MARITIM) TERNATE DAN TIDORE
  • Cengkih dan Pala; Rahmat Tuhan untuk Maluku
  • Ternate dan Tidore
  • Pelaut Tobelo
  • Bajak Laut
  • Tinjauan Akhir
BAB 10 : MEMBACA KEMBALI TEORI MAHAN


DAFTAR PUSTAKA

INDEKS

TENTANG PENULIS

DATA BUKU :

Penulis : Abd Rahman Hamid
Penerbit :Ombak
ISBN : 602-7544-84-8

BUKU BUGIS MAKASSAR : SUARA-SUARA DALAM LOKALITAS

Standard
Kembali kami hadirkan profil buku Bugis Makassar yang sangat layak untuk Anda baca.


SINOPSIS :

Tegaknya budaya lokal! Disanalah keberpihakan Prof.DR. Nurhayati Rahman berada, ini diperlihatkan dari berbagai tema yang ditampilkannya dalam buku ini. Menurutnya, bukan semata-mata karena selera dan pilihan hidup, tapi yang sesungguhnya adalah tanggung jawab moral untuk berdiri di garda paling depan dalam membela satu-satunya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dari sekian banyak kekayaannya yang telah habis terkuras dan dirampas orang akibat keangkuhan dan keserakahan manusia.

Keserakahan yang menyebabkan semua orang berlomba-lomba untuk mengejar kesenangan duniawi sebagai akibat dari paham materialism yang diimpor dari luar sebagai konsekuensi dari globalisasi, yang berakibat tumbuh suburnya konsumerism dan hedonism. 

Paham itu bukan hanya merajai pikiran dan perilaku manusia secara praktis tapi juga secara akademik. Hanya ilmu yang bisa menghasilkan uang dan materi melimpah yang dipandang, lalu mengagung-agungkan budaya dari luar, implikasinya segala sesuatu yang berasal dari lokalitas dianggap kampungan. Akhirnya, kita menjadi bangsa yang inferior, tergagap-gagap bila diperhadapkan dengan bangsa-bangsa lain. Padahal budaya lokal seharusnya menjadi aset, modal dasar, deposit bangsa yang harus diberi makna baru dalam menjawab tantangan kekinian terutama dalam pertarungan global.

Karena itu, ketika semua orang memilih untuk bertaruh di dunia materi, Penulis adalah satu dari segelintir orang yang peduli dengan kebangkitan budaya Indonesia, memilih untuk menjadi penjaga gawang budaya lokal, meskipun kekalahan demi kekalahan harus diterimanya karena derasnya gempuran dari luar, terutama arus informasi sepihak dari global ke lokal, dari pusat ke daerah, tanpa ada perlawanan yang berarti dari daerah ke pusat, dan dari lokal ke global, karena kecilnya kuku-kuku yang dimiliki untuk sekedar bertahan agar budaya lokal bisa hidup dan survive.

Lewat buku ini ini, penulis ingin memperdengarkan suara-suara dalam lokalitasnya. Menurutnya, sekecil apapun itu, selemah apa pun pertahanannya, setidak-tidaknya diantara riuh, gegap gempita, dan glamournya hedonism yang melanda bangsa Indonesia sekarang ini, ia masih berharap ada orang yang bisa mengaso sejenak dari hiruk-pikuk itu, dan dari celah itulah penulis ingin memperdengarkan suaranya, walau kadang sumbang ditelan oleh gemuruhnya angin topan globalisasi.


DAFTAR ISI :


BAB I : SASTRA, PENGARANG DAN KARYANYA   
  • Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa: Sastrawan dan Sejarawan di Gerbang Abad XX    
  • Raja Ali Haji: Penegak Tiang Agung Peradaban di Asia Tenggara    
  • Syair Perang Mengkasar Karya Encik Amin; Pusat Jaringan Ilmu dan Kebudayaan Nusantara 
  • Husni Djamaluddin: Kusapa Kau Lewat Sajakmu 
  • Mengungkap Misteri I Lolo Bayo Dalam Novel Sukma Angin Karya Arena Wati (Sastrawan Negara Malaysia) 
  • Rahman Arge: Dari Reso ke Lego-lego Kehidupan 
  • Memahami Dunia Tiga Penyair Makassar Lewat Puisi-Puisi Pengembaraannya 
  • Pencitraan Laut dalam K√©long Makassar 
  • Seni Tradisi Massureq: Menggapai-gapai di Tengah Budaya Pop 
  • Interlok; Persembahan Agung untuk 1 Malaysia       
BAB II : SUARA-SUARA DALAM LOKALITAS


  • Gerakan Revitalisasi Kebudayaan Menuju Indonesia yang Dicita-citakan 
  • Tanggapan Kritis terhadap Dinamika Perkembangan Huruf Lontaraq 
  • Tegaknya Syariat Islam dalam Sistem Pangngaderreng di Sulawesi Selatan 
  • Aceh di Antara Tangisan dan Harapan (Berkaca pada Pengalaman di Hiroshima) 
  • Mengembalikan DDI ke Pangkuan Ulama 
  • Membangun UNHAS dengan Hati Nurani 
  • Memperdengarkan Suara-suara Perbedaan dan Kebersamaan dalam Tradisi Padungku di Malili 
  • Religi, Tradisi dan Seni dalam Naskah La Galigo 
  • Kayu Lapuk 
  • Karebosi dan Global Warming 
  • Pilkada Korea Selatan: Identik dengan Bunga dan Cinta       
BAB III : MAKNA LOKALITAS DALAM KEKINIAN
  • Oposisi dan Harmoni dalam Kebudayaan Bugis/Makassar 
  • Pangngaderreng/Pangngadakkang: Sistem Hukum dalam Pemerintahan Tradisionil di Sulawesi Selatan 
  • Sawerigading: Sumber Inspirasi dan Integrasi antar Etnis di Nusantara 
  • Harmonisasi Lingkungan Hidup Manusia Bugis berdasarkan Naskah Meong Mpalo Bolongnge 
  • Pengaruh La Galigo dalam Pembentukan Karakter Orang Bugis Menuju Minda Kelas Pertama 
  • Hubungan antara Melayu dan Bugis berdasarkan Kesaksian Manuskrip Tua 
  • Transformasi La Galigo ke Dalam Dunia Melayu 
  • Keaslian, Kelokalan dan Keuniversalan Kebudayaan Nusantara
DAFTAR PUSTAKA    235
DAFTAR INFORMAN    240
INDEKS    

DATA BUKU :

Penulis : Nurhayati Rahman
Penerbit : La Galigo Press, 2012
ISBN : 978-979-99115-5-1 

Senin, 21 Januari 2013

EMBUN DALAM BAHASA BUGIS

Standard
Pagi hari dan embun, sebuah pertalian alam yang abadi. Hampir tiap pagi embun akan kita temui, dikaca jendela rumah, dikaca mobil, kaca spion motor, bibir gelas yang terisi air pada malam hari hingga. Utamanya embun dapat dengan jelas kita temui di alam terbuka seperti pada permukan dedaunan atau rumput-rumputan. Embun termasuk dalam golongan air suci, dalam agama Islam air embun dapat digunakan sebagai air wudhu, setara dengan air sungai maupun air danau.

Embun terbentuk karena proses alam (disebut juga proses fisika) dimana air dalam wujud gas melepaskan panasnya sehingga menjadi zat cair. Pada siang hari beragam benda menyerap hawa panas dari matahari. Udara yang panas ini akan menahan uap air yang mengendap dalam beragam benda tersebut. Sedangkan pada malam hari benda-benda kehilangan panas karena udara berubah jadi dingin. Udara dingian tidak mampu menahan uap air sebanyak udara yang lebih hangat. Kelebihan uap air tersebut kemudian berubah menjadi embun dan melekat dipermukaan benda-benda yang dilewatinya.  Embun akan terbentuk dengan baik pada malam hari yang cerah dan tenang (angin tidak bertiup). Ketika angin bertiup, udara tidak cukup waktu untuk bersentuhan dengan benda-benda dingin.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia embun memiliki nama yang beragam diantaranya;
1.    Embun asap, yakni embun halus seperti asap pada malam hari.
2.    Embun beku, endapan berupa es berbentuk butiran yang mengandung air.
3.    Embun betina, embun yang kecil-kecil.
4.    Embun jantan, embun yang besar-besar.
5.    Embun lebat, embun jantan.
6.    Embun pagi, kabut pada pagi hari.
7.    Embun rintik, embun yang kecil-kecil dan banyak.
8.    Embun upas, embun pagi yang membeku.

Bagaimana dengan di masyarakat Bugis?
Ternyata embun juga terdiri dari beberapa jenis dan memiliki nama berbeda. Secara umum embun dalam bahasa Bugis disebut Apung (Wajo : Afung), secara harfiah Apung berarti uap air pada udara. Maka selain pada malam hari, Apung juga akan ditemui pada permukaan dalam panci saat menanak nasi atau menjerang air.

Setelah Apung, orang Bugis juga mengenal kata Cinoddoo. Embun jenis ini adalah embun yang sering kita temui pada permukaan kaca, batu, kayu hingga pada atap rumah. Cinoddoo berupa buliran air kecil yang sangat tipis dan banyak. Cinoddoo terjadi karena pelepasan uap air pada benda-benda padat pada malam hari, setelah terkunkum hawa panas pada siang hari.

Embun berikutnya adalah Wai namo-namo, jenis ini serupa dengan cinoddoo namun berbeda dari asal usulnya. Wai namo-namo muncul karena proses pelepasan uap air pada lapisan permukaan tanah. Itulah sebabnya embun jenis ini banyak ditemui dipermukaan rerumputan atau pada permukaan daun padi dan gulma lainnya. Kata namo-namo merujuk pada kosa kata Bugis yang berarti nyamuk-nyamuk; nyamuk kecil. Jadi kata wai namo-namo berarti embun pagi yang hinggap direrumputan, menyatu dengan larva-larva nyamuk.

Sementara embun yang kerap ditemui dipermukaan dedaunan yang lebih tinggi dari rumput (daun pisang, talas, dll) oleh orang bugis disebut Wai Longi-longi. Secara harfiah diartikan air yang melayang tinggi, disebut demikian berdasarkan proses terjadinya. Embun jenis ini adalah uap air dari permukaan bumi yang tidak tertahan benda lain atau rerumputan, lalu menyatu dengan udara malam yang bergerak pelan. Saat udara malam bergerak dan menyentuh dedaunan maka saat itulah embun terbentuk. Karena kapasitas uap air yang dibawah serta oleh udara malam tadi sangat banyak, maka wajar jika bentuknya lebih besar dibanding embun lainnya. Wai longi-longi ini sering kali dipakai oleh para kaum ibu di masyarakat Bugis untuk membersihkan kotoran pada mata bayinya, sekaligus membasuh muka sang bayi. Proses membersihkan dan membasuh tersebut senantiasa disertai doa “tuwoko malampe sungeq, muallongi-longi”, semoga hidupmu panjang umur dan mendapatkan derajat yang tinggi (mulia).

Gambar Mustika Embun

Diluar empat jenis embun tersebut, orang Bugis masih memiliki perbendahraan lema lainnya tentang embun. Untuk nama yang satu ini merujuk pada endapan embun yang telah padat dan tidak menguap lagi seperti embun lainnya setelah terkena sinar matahari. Embun jenis ini sering kali dipakai sebagai azimat untuk keselamatan, kecantikan, penglaris dan peruntukan lainnya. Wallahu a'lam bishawab. Embun jenis ini disebut Kulawu longi-longi. Anda punya?


========================================================= 
Sumber : http://www.123rf.com/photo_5931419_dew-on-green-leaf-with-drops-of-water.html dan www.irengkencana.blogspot.com (foto)

Minggu, 20 Januari 2013

PELUANG USAHA; YUK, BERBAGI REJEKI DI NO MADEN MARKET

Standard
Siapa yang tak butuh pakaian? Pakian tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh tapi juga membuat pemakainya percaya diri dan terlihat lebih modis. Wajar jika bisnis pakaian ibarat pintu yang terbuka lebar dan memberi keleluasaan bagia siapapun untuk masuk dan meraup rejeki didalamnya.

Selain toko konvensional, butik menjadi salah satu model bisnis yang menawarkan keuntungan menawan. Di Yogyakarta butik tumbuh bak jamur, hampir semua ruas jalan utama kota Yogyakarta dicokoli minimal satu gerai butik. “Efeknya yah kadang terjadi persaingan antar butik, ada yang sampai banting harga segala, ini kan tidak sehat” galau Lucia Dessy Kristyorini saat di temui Inspirasi Usaha di sela-sela acara Nomaden Market yang dikelolanya bersama Wahyu Indah Wardani (23).

Baik Dessy maupun Indah, bisnis butik adalah bisnis yang mengandalkan niche market. Peminatnya sangat terbatas, hanya kalangan mahasiswa, profesional dan ibu-ibu muda. Jumlah mereka sedikit tapi jika mereka terpuaskan maka ia akan menjadi pelanggang setia dan itu yang harus dijaga. Agar terus bertahan dan tidak cepat gulung tikar, butik-butik juga harus tetap menggaet konsumen dan pelanggan baru, sehingga perputaran barang makin cepat dan pelanggang terus bertambah.

Bagaimana caranya agar pelanggan dari butik “A” mau berbelanja juga di butik “B” begitu juga sebaliknya, tapi dilakukan dengan cara sehat dan saling menguntungkan? Inilah yang menjadi bahan pemikiran bagi Dessy. Lewat silaturahmi panjang Dessy menemukan konsep Nomaden Market. Konsepnya seperti bazaar, di pasar murah tanpa tempat menetap ini beberapa butik berkumpul jadi satu dalam satu tempat dan mengadakan pameran bersama, masing-masing butik menggelar dagangannya dan mengajak para pelanggannya berkunjung ke Nomaden Market.

Sesuai namanya, Nomaden Market diadakan berpindah-pindah setiap bulan. Dengan slogan “A moving market of all cool an low cost stuff”, nomaden market berjanji akan menjual barang-barang yang berkualitas dengan harga terjangkau. “pastinya Nomaden Market akan tetap pada komitmennya untuk memajukan enterpreuner remaja dengan mengajak mereka muncul di lapangan dan mengadakan pameran bersama” terang Rani Nelasari yang melahirkan embrio Nomaden Market dan berawal di kota Semarang.

Di kesempatan berbeda, Rani juga menuturkan selain berjualan, tujuan Nomaden Market ini adalah untuk menunjukan keeksistensian online shop yang sudah biasa berjualan di situs jejaring sosial seperti facebook maupun twitter. Rani juga berharap Nomaden Market ini bisa mendidik konsumen agar tidak khawatir menjadi korban penipuan online shop yang marak terjadi akhir-akhir ini. Di Nomaden Market ini mereka bisa menyaksikan dan membuktikan bahwa online shop yang mereka lihat dan baca di Internet ternyata memang ada dan nyata di dunia nyata, tidak hanya numpang eksis di dunia maya.

Ranilah yang kemudian menularkannya kepada Dessy, selanjutnya Dessy mengandeng rekan-rekannya sesama pelaku bisnis butik di Yogyakarta seperti Edera, Dress Us, Ngongo, Orysia, Carrto & Rabbit, Ivory, Kata Butik dan Daisy Days milik Dessy sendiri. Seperti yang terjadi di Nomaden Market di Yogyakarta beberapa waktu lalu, pelanggan antara satu butik dengan butik lainnya berbaur. Pelanggan butik yang satu kebanyakan belanja di butik yang satunya lagi, begitupula sebaliknya. Inilah konsep utama Nomaden Market yang sebenarnya. Setidaknya mereka lagi bagi-bagi rejeki.



Di Yogyakarta, Nomanden Market kali ini diadakan di halaman Own Cafe Jl. Dewi Sartika 18 Yogyakarta. Meski hanya berlangsung dua hari, event ini terbilang sukses. Secara keseluruhan perharinya mampu menghadirkan sekitar 350 pengunjung dengan omzet perhari rata-rata Rp. 25.000.000/hari. Jika dirata-rata maka masing-masing butik bisa mendapatkan omzet Rp. 6.000.000 selama Nomaden Market berlangsung. Hemm, bagi-bagi rejeki antar butik yang patut menjadi inspirasi di kota lain.

Produk yang dijual antara lain pakaian, sepatu, sandal, tas, dan asesoris modis lainnya. Harga mulai Rp. 15.000 hingga Rp. 200.000. Item produk yang dijual adalah stock yang ada di butik masing-masing dengan harga miring. Selain mengundang para pelanggang setia masing-masing butik peserta, agar lebih ramai pengunjung, Dessy dan Indah juga melakukan promosi dengan selebaran di berbagai kampus, rumah makan, resto dan cafe di seputaran Yogyakarta serta lewat iklan media cetak juga jejaring sosial seperti facebook, twitter dan sms berantai.

Sebagai pengelola event, Dessy dan Indah tidak mengambil keuntungan seperti event organizer yang menjual stand model bazar. Biaya operasional yang dibutuhkan dibagi bersama, itupun tidak dibayar dimuka melainkan dipotong sebesar 10 % dari masing-masing transaksi, biaya kepesertaan hanya Rp. 50.000 per stand. Padahal kegiatan ini hanya membutuhkan biaya operasional sekitar Rp. 5.000.000, sudah termasuk sewa tenda, listrik dan promosi dan lainnya.

PELUANG USAHA; 14 KALI GANTI BB, KARENA BUAT JUALAN

Standard
Kemajuan tehnologi informasi saat ini, memungkinkan siapapun menghasilkan secara mudah. Melalu situs jejaring sosial seperti facebook, twitter juga memungkinkan siapapun melakukan promosi hasil karyanya alias barang dagangannya. Kemajuan tehnologi ini juga telah mengubah gaya hidup masyarakat terutama dalam hal kebiasaan berbelanja. Dahulu, masyarakat harus berbelanja konvensional dengan belanja langsung ke toko, mall ata pasar. 

Kini, kebiasaan itu berubah. Cukup menatap layar komputer, pilih barang sesuai selera, selanjutnya tingga transfer sesuai harga yang tertera. Melalui web shop atau online shop, web shopaholic –sebutan bagi para pengguna media internet untuk berbelanja- bisa menjelajahi berbagai jenis barang yang ditawarkan mulai baju, sepatu, tas, kebutuhan rumah tangga hingga pernak-pernik atau bahkan sampai benda-benda berharga mahal seperti alat eletronik sampai perhiasan. Saat ini belanja online untuk produk pakaian atau busana lebih banyak digemari dibanding produk makanan apalagi buku. 

Yogyakarta sebagai kota dengan bejubel mahasiswa pada akhirnya melahirkan banyak sosok-sosok kreatif dan berkarakter wirausaha. Salah satunya adalah Dian Alvia
ni Sukma Reski (20), gadis berjilbab asal daratan Bengkalis Riau ini terbilang sukses dengan bisnis onlinenya. Mengusung label Divizsazki, Dian memulai bisnisnya sejak tahun 2009. Mahasiswa Fisika Universitas Gajah Mada ini menceritakan “awalnya sih dari hobi belanja saya, lalu saya berpikir kenapa kok saya konsumsi barang orang terus, kenapa gak saya coba menjual sendiri?”. 

Awalnya Dian memulai dengan menjual berbagai macam barang di akun facebooknya, namun karena banyaknya toko online serupa maka omzetnya tidak menjanjikan. Sejak itu mulailah Dian mengembangkan barang jualan yang spesifik dan dilakukan mengikuti trend fashion yang ada. Tempo waktu, jualannya hanyalah Jilbab, tempo waktu hanya bross, tempo lain hanya jualan busana muslim. Selain lewat facebook, Dian juga jualan online lewat BBM, saking aktifnya, Dian sudah 14 kali ganti BB. BB rusak karena tingginya tingkat pemakaian untuk jualan.

Bulan puasa 2011 kemarin, dengan tema jilbab Rainbow Dian mampu meraup omzet 60.000.000 dalam sebulan. Bulan berikutnya dengan tema Flower Hijab Brozz mampu meraup omzet 5.000.000 per minggu. Dari pengalam Dian, bisnis online dapat dikatakan tidak perlu modal. “Toh akun facebook juga gratis, akses internet juga murah paling cuma 50.000 per bulan. Kalo mau cerdas pake aja hotspotan gratis, kan banyak tuh di Jogja” urai Dian disela-sela obrolan kami saat nongkrong di salah satu warung ala mahasiswa di bilangan Gejayan Yogyakarta. Kalaupun ada modal yang dibutuhkan, paling sebuah note book seharga 2 jutaan, camera digital pocket seharga 2 jutaan. Uniknya bermodal wajah manisnya, Dian menjadi model untuk setiap produk pakaian yang ditawarkan di toko onlinenya. “He he, numpang narsis sekaligus jualan” umbarnya sambil tersipu.

Adapun modal untuk produk yang dijual online tidaklah besar, cukup bikin contah desain atau cukup dengan gambar desainnya, lalu diunggah di akun facebook lengkap dengan detail, pilihan warna dan harganya, sistem pemesanan dan pengiriman barang serta pembayaran bagi pembeli. Biasanya hanya butuh beberapa menit setelah Dian mengunggah desain terbarunya, para pelanggangnya sudah mulai “cerewet” nanya dan melakukan pemesanan. Dalam sistem Divisazki, pembelian dilakukan dengan model pre order. Pembeli memilih desain/contoh terlebih dahulu, lalu mengirimkan uang muka minimal 50%. Setelah uang muka diterima, Dian melempar pesanan tersebut untuk dikerjakan/dibuat oleh desainer dan pembuatnya. Setelah barang jadi, pembeli kembali dihubungi untuk melakukan pelunasan, barulah barang dikirim ke pembeli. Dengan model pre order seperti ini, kemungkinan kerugian dapat dihindari oleh Divisazki.

Asas kepercayaan adalah kunci sukses Dian dalam mengolah toko onlinenya. Semua resi/bukti pengiriman barang oleh Dian selalu diunggah dan ditautkan ke masing-masing pembeli. Selain itu, layanan open check yang diterapkan oleh kantor pos dan jasa pengiriman lainnya kini memungkinkan para pembeli untuk mengetahui kirimannya sudah terkiriam atau sudah sampai dimana. Hal ini tentu membantu Dian dalam menjaga kepercayaan para pelanggannnya. Hingga kini, Dian masih menyimpan mimpinya untuk membuka toko konvensional di sekitaran kampus UGM dan UNY. “Penasaran aja sih Daeng, seperti apa sih mengelola toko gituan”, rupanya Dian juga paham kalau kontributor Inspirasi Usaha yang menemuinya senang jika disapa “Daeng”. 

Bagi anda yang berminat, toko online Divisazki dapat diakses di akunnya : http://www.facebook.com/dian.alviani.sukma.rizki.(divisazki) , atau cari saja kata kunci Dian Alviani Sukma Rizki (Divisazki) di kolom pencarian anda. Dian juga dapat anda hubungi lewat nomor telpon seluler 085-725-758-484 atau BB dengan PIN 22B20A6E

SIMULASI BISNIS

Belanja Modal
•    Notebook (minimal Intel Atom)                  Rp. 2.000.000,-
•    Camera Digital (minimal 12 MegaPixel)    Rp. 2.000.000,-
•    Modem (Minimal 2G)                                Rp.   150.000,-
                                                                      Rp. 4.150.000,-

Belanja Bulanan (Asumsi untuk satu busana)
•    Biaya Internet                                          Rp.       2.000,-
•    Biaya pengiriman                                     Rp.     50.000,-
•    Belanja Bahan                                         Rp.    500.000,-
•    Jasa Jahit dan Finishing                          Rp.    200.000,-
                                                                     Rp. 752.000,-

Jika satu busana rata-rata laku Rp. 900.000, maka keuntugannya adalah Rp. 148.000,-. Padahal dalam satu bulan Divisazki minimal bisa menjual 8 buah busana. Jadi keuntungan perbulan adalah Rp. 1.184.000,-. Jadi cukup empat bulan sudah balik modal.


MUSEUM BELUM DIMINATI

Standard
Pengelola museum dan masyarakat dinilai masih kurang menghargai keberadaan museum di Yogyakarta. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu kurangnya tingkat kunjungan museum. “Kalau kita lihat dari harga tiketnya saja, rasanya museum tidak lebih berharga dibanding dengan toilet.

Toilet saja kita harus membayar Rp 1.000, sedangkan karcis museum di Yogyakarta masih banyak yang di bawahnya,” katapioner Sahabat Museum Kota Yogyakarta, Suryadin Laoddang, seusai pembukaan Museum Perjuangan Expo kemarin. Bukan berarti harga tiket museum harus dibuat mahal, tapi yang paling penting ialah pembenahan tata kelola museum agar lebih baik lagi.

Dengan begitu, harga tiket tentu juga bisa dinaikkan lagi. Surya menuturkan, para pemandu museum di Yogyakarta kurang memahami isi atau sejarah dari barang-barang yang dipajang. “Ada harga tentu ada rupa. Dengan penyajian yang baik ditunjang pengetahuan yang benar yang dapat diberitahukan oleh para pemandu atau pengelola museum, tentu masyarakat berani membayar lebih mahal,”paparnya. Museum di DIY sebanyak 31.

Jumlah ini bisa dikatakan banyak untuk sebuah daerah. Sebagai pioner sahabat museum, Surya bersama 81 anggota lainnya selalu berusaha memperkenalkan museum-museum tersebut untuk menarik minat masyarakat berkunjung. “Kami memang baru terbentuk April 2011 lalu atas petunjuk Wali Kota Yogyakarta dan Badan Musyawarah Musea (Baramus). Dan kami menginginkan, museum tak hanya menarik dikunjungi,tapi kami juga bisa menyumbang rekomendasi dan perspektif bagi perkembangan museum,” tandasnya.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto menuturkan keinginannya untuk mengolaborasikan keberadaan museum di Kota Yogyakarta dengan pendidikan. Museum masih memungkinkan untuk dijadikan tempat penyelenggaraan belajar mengajar. “Pendidikan di sekolah kan bisa saja digantikan dengan kegiatan berkunjung ke museum. Setelah itu,siswa atau mahasiswa tak hanya diajak mengetahui atau mengingat masa lalu, tapi juga diajak menganalisisnya,” tandasnya.

Kepala Museum Benteng Vredeburg, yang juga membawahi Museum Perjuangan, Sri Ediningsih, mengatakan jumlah pengunjung Museum Perjuangan memang masih di bawah target. “Maka dari itu, kami menggelar expo ini untuk semakin menarik minat masyarakat mengunjungi museum. Paling tidak, kami targetkan jumlah pengunjung 2.000 dalam tiga hari ini,” ujarnya. Museum Perjuangan Expo akan dilaksanakan sejak 19–22 Mei 2011 dengan melibatkan masyarakat. ratih keswara

==========
Museum Belum Diminati    Friday, 20 May 2011
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/400183/

Sabtu, 05 Januari 2013

ANAKKU MENANG TELAK

Standard
Ini cerita tentang anakku yang super iseng bin usil. Tepat diakhir tahun 2012 kemarin, serangkaian ulahnya bikin kami keki, gemes bin gondok.

Mungkin karena dua minggu ini jagoanku kami sedang libur sekolah, waktu banyak dihabiskan dirumah dan kekurangan teman bermain, maka jagoanku ini melakukan serangkaian ulah baru, ulang yang tidak lazim ia lakukan selama ini. Mungkin ia berpikir saatnya berpikir dan bertindak “out the box”. Dan inilah rangkaian ulah isengnya tersebut (berdasarkan cerita Bundanya)

Pagi sekitar jam 07.30, Rafi (nama jagoanku) masuk dan mengambil tapisan santan kelapa milik bundanya. Tapisan itu dibawanya keluar rumah. Saat melewati ruang tengah dan ditegur bundanya. Rafi sedikit cuek menjawab “buat tapis-tapis bunda”. Bundanya jadi diam. Mungkin untuk menapis pasir, pikir bundanya.

Bundanya meneruskan aktifitas menjahitnya. Sementara Rafi, telah asik berkubang di got depan rumah, mencoba menangkap kepiting dan ikan-ikan kecil yang terdampar disudut got irigasi sawah yang berair agak jernih itu. Lumayan, konon Rafi mendapatkan seekor kepiting dan 12 ekor ikan kecil (ikan kopra kata orang Bugis). Namun efeknya setelah itu, bundanya jadi repot sendir karena tapisannya telah penuh kotoran got. Skor 1-0.

Saat matahari hendak tergelincir dari titik puncaknya, Rafi kembali berulah. Jelang azan Dzuhur, bundanya telah selesai memasak untuk hidangan makan siang kami sekeluarga (satu rumah ada kami bertiga, ada 2 orang pamannya dan 1 orang tantenya). Merasa masakannya sudah matang, bundanya pun beranjak untuk sedikit berleha-leha menonton siaran televisi. Rafi yang tadinya asik menonton film kartun, pamit pada bundanya dan bergerak ke kamar mandi untuk buang air kecil katanya. Lagi-lagi, bundanya tidak sadar kalau Rafi agak lama berada di kamar mandi yang bersisian dengan ruang dapur. Mungkin karena bundanya menganggap Rafi telah mandiri, sudah bisa berbersih diri pasca buang air.

Ternyata, Rafi lumayan cepat berbersih di kamar mandi. Setelahnya ia beranjak ke ruang dapur, lalu dibukanya panci berisi sayur bening yang baru saja dimasak bundanya. Panci itu masih terletak diatas kompor, juga masih mengepulkan asap. Entah belajar dari mana, kali ini Rafi berinisiatif membubuhkan garam dan merica bubuk kedalam panci sayuran tersebut. Huft, niatnya membantu bundanya tapi justru mengacaukan citarasa sayur bening tersebut.

Rampung dengan aktifitas ala Master Chef-nya (Master Srep dalam bahasa Rafi), Rafi bergerak masuk ke ruang tengah. Dengan polos berkata pada bundanya “bunda, sayurnya maknyuss tenan loh. Sudah Rafi kasih bumbu”. Bundanya? Diam. Gamang. Kehabisan kata. Tapi masih bisa mengambil keputusan, segera ke dapur. Menilik jejak Rafi. Akhirnya, siang itu Rafi mendapat ultimatum untuk segera masuk kamar dan tidur siang. Skor 2-0 untuk Rafi.

Tidur bagi Rafi bukan berarti ia berhenti berulah. Tetap saja ia berulah sesuka hati, sesuka pikiran kanak-kanaknya. Seperti sebelum-sebelumnya. Jika Rafi terlalu lelah bermain seharian, efeknya ia akan ngompol saat tidur. Dan benar saja, siang itu Rafi betul-betul ngompol. Dua lapis kasur yang kami sematkan di dipan kayu tembus sedemikian rupa, rembesannya pun tak kira-kira. Maka tambah gondoklah Bundanya. Namanya juga buah hati, darah daging sendir. Tetap saja bundanya tidak tega membiarkan anak pertama kami ini terlelap bermandikan air kencingnya sendiri.

Segera, Rafi dibopongnya ke kamar mandi dan dimandikannya. Kegiatan memandikan itu berlangsung hingga waktu shalat Azhar. Setelahnya, Rafi turut serta dengan omnya. Menuju Masjid dekat rumah, menunaikan shalat jamaah. 3-0 untuk Rafi.

Rupanya tak hanya di got, di dapur dan di kasur. Di masjid pun Rafi tetap berulah. Belum juga shalat jamaah di masjid bubar, rupanya Rafi memilih pulang terlebih dahulu, tidak menunggu omnya. Setibanya dirumah, ia membuka pintu sendiri seraya menyeru “Assalamu Alaikum, bunda Rafi pulang sendiri loh, hebat kan”, serunya bangga.

Seruan ini justru membuat bundanya gusar, langsung memeluk erat putra kami seraya bersyukur, anak kami tiba dirumah dengan selamat, tak kurang suatu apapun. Pengalaman Rafi hilang di pameran buku beberapa waktu lalu, maraknya kasus penculikan anak akhir-akhir ini serta banyaknya kendaraan lalu lalang di depan rumah kami adalah ketakutan yang beralasan. Itu juga alasan kami belum pernah membiarkan Rafi bermain diluar rumah tanpa pengawalan kami, meski itu bermain dengan teman-temannya sendiri, sesama anak tetangga di kampung kami. Trauma dengan kejadian tersebut, Rafi kembali mendapat ultimatum tak boleh keluar rumah hari itu. Jadilah Rafi hanya bermain didalam rumah hari itu. 4-0 untuk jagoan kami.

Rupanya Rafi tak jua bergeming dengan ulah usilnya, kali ini saat bundanya menyiapkan hidangan makan malam di dapur. Tantenya sedang menjahit, omnya sedang baca buku, Rafi juga asik bermain sendiri, bermain dengan gunting. Yang menjadi sasaran uji coba gunting ditangannya adalah rambutnya. Hasilnya, rambutnya menjadi belang-belang disana-sini. Lucunya Rafi tidak menyadari itu semua. Saat lewat depan bundaya, bundaya kembali bengong dan hysteria. Saat Rafi ditanya “Rafi, rambutnya kenapa kayak githu”. Rafi menjawab “Ada apa toh? Rambut gak papa kok, west toh, gak papa” ucapnya polos. 5-0 untuk Rafi kali ini.

Malam harinya, saat waktu kami serumah istirahat malam. Malam ini tidur kami agak berbeda, karena kasur yang telah diompoli Rafi belum juga kering. Terpaksa kami tidur diatas karpet ambal sebagai pelapis lapisan dasar kayu dipan kami. Saya terlelap lebih dahulu, entah jam berapa Rafi dan bundanya menyusul. Jam 02.00 WIB, saya akhirnya terjaga. Terjaga bukan karena apa-apa, tapi karena wajah tiba-tiba diguyur, yah diguyur air kencing Rafi.

Sudahlah, skor kemenangan Rafi sangat telak diakhir tahun ini. Akhir tahun yang memuaskan bagi Rafi, apes bagi kami. Ibarat laga Trefeo Berlusconi di Liga Italia, Juventus berhasil mempecundangi Inter dan Milan. Di rumah kami, Rafi berhasil mengerjai ayah dan bundanya.