Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

EMBUN DALAM BAHASA BUGIS

Pagi hari dan embun, sebuah pertalian alam yang abadi. Hampir tiap pagi embun akan kita temui, dikaca jendela rumah, dikaca mobil, kaca spion motor, bibir gelas yang terisi air pada malam hari hingga. Utamanya embun dapat dengan jelas kita temui di alam terbuka seperti pada permukan dedaunan atau rumput-rumputan. Embun termasuk dalam golongan air suci, dalam agama Islam air embun dapat digunakan sebagai air wudhu, setara dengan air sungai maupun air danau.

Embun terbentuk karena proses alam (disebut juga proses fisika) dimana air dalam wujud gas melepaskan panasnya sehingga menjadi zat cair. Pada siang hari beragam benda menyerap hawa panas dari matahari. Udara yang panas ini akan menahan uap air yang mengendap dalam beragam benda tersebut. Sedangkan pada malam hari benda-benda kehilangan panas karena udara berubah jadi dingin. Udara dingian tidak mampu menahan uap air sebanyak udara yang lebih hangat. Kelebihan uap air tersebut kemudian berubah menjadi embun dan melekat dipermukaan benda-benda yang dilewatinya.  Embun akan terbentuk dengan baik pada malam hari yang cerah dan tenang (angin tidak bertiup). Ketika angin bertiup, udara tidak cukup waktu untuk bersentuhan dengan benda-benda dingin.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia embun memiliki nama yang beragam diantaranya;
1.    Embun asap, yakni embun halus seperti asap pada malam hari.
2.    Embun beku, endapan berupa es berbentuk butiran yang mengandung air.
3.    Embun betina, embun yang kecil-kecil.
4.    Embun jantan, embun yang besar-besar.
5.    Embun lebat, embun jantan.
6.    Embun pagi, kabut pada pagi hari.
7.    Embun rintik, embun yang kecil-kecil dan banyak.
8.    Embun upas, embun pagi yang membeku.

Bagaimana dengan di masyarakat Bugis?
Ternyata embun juga terdiri dari beberapa jenis dan memiliki nama berbeda. Secara umum embun dalam bahasa Bugis disebut Apung (Wajo : Afung), secara harfiah Apung berarti uap air pada udara. Maka selain pada malam hari, Apung juga akan ditemui pada permukaan dalam panci saat menanak nasi atau menjerang air.

Setelah Apung, orang Bugis juga mengenal kata Cinoddoo. Embun jenis ini adalah embun yang sering kita temui pada permukaan kaca, batu, kayu hingga pada atap rumah. Cinoddoo berupa buliran air kecil yang sangat tipis dan banyak. Cinoddoo terjadi karena pelepasan uap air pada benda-benda padat pada malam hari, setelah terkunkum hawa panas pada siang hari.

Embun berikutnya adalah Wai namo-namo, jenis ini serupa dengan cinoddoo namun berbeda dari asal usulnya. Wai namo-namo muncul karena proses pelepasan uap air pada lapisan permukaan tanah. Itulah sebabnya embun jenis ini banyak ditemui dipermukaan rerumputan atau pada permukaan daun padi dan gulma lainnya. Kata namo-namo merujuk pada kosa kata Bugis yang berarti nyamuk-nyamuk; nyamuk kecil. Jadi kata wai namo-namo berarti embun pagi yang hinggap direrumputan, menyatu dengan larva-larva nyamuk.

Sementara embun yang kerap ditemui dipermukaan dedaunan yang lebih tinggi dari rumput (daun pisang, talas, dll) oleh orang bugis disebut Wai Longi-longi. Secara harfiah diartikan air yang melayang tinggi, disebut demikian berdasarkan proses terjadinya. Embun jenis ini adalah uap air dari permukaan bumi yang tidak tertahan benda lain atau rerumputan, lalu menyatu dengan udara malam yang bergerak pelan. Saat udara malam bergerak dan menyentuh dedaunan maka saat itulah embun terbentuk. Karena kapasitas uap air yang dibawah serta oleh udara malam tadi sangat banyak, maka wajar jika bentuknya lebih besar dibanding embun lainnya. Wai longi-longi ini sering kali dipakai oleh para kaum ibu di masyarakat Bugis untuk membersihkan kotoran pada mata bayinya, sekaligus membasuh muka sang bayi. Proses membersihkan dan membasuh tersebut senantiasa disertai doa “tuwoko malampe sungeq, muallongi-longi”, semoga hidupmu panjang umur dan mendapatkan derajat yang tinggi (mulia).

Gambar Mustika Embun

Diluar empat jenis embun tersebut, orang Bugis masih memiliki perbendahraan lema lainnya tentang embun. Untuk nama yang satu ini merujuk pada endapan embun yang telah padat dan tidak menguap lagi seperti embun lainnya setelah terkena sinar matahari. Embun jenis ini sering kali dipakai sebagai azimat untuk keselamatan, kecantikan, penglaris dan peruntukan lainnya. Wallahu a'lam bishawab. Embun jenis ini disebut Kulawu longi-longi. Anda punya?


========================================================= 
Sumber : http://www.123rf.com/photo_5931419_dew-on-green-leaf-with-drops-of-water.html dan www.irengkencana.blogspot.com (foto)

7 comments for "EMBUN DALAM BAHASA BUGIS"

  1. iya saya punya seperti gambar di atas,besarnya seperti merica bos

    ReplyDelete
  2. Bapak saya punya yang jenis cinoddo itu. Kalau dijual harga.y berapa ya? soal.y dlu ada yg mau beli 2,5 M.

    ReplyDelete
  3. Sy Punya yg kecil 1bij dan yg besar 2 biji

    ReplyDelete
  4. Saya punya satu pasang Bening sebesar kacang tanah didalamnya terdapat jentik nyamuk dan yang satunya keci sebesar merica tapi warna putih pucat kesemua itu jikalau digemgam tangan terasa keram kaya tertusuk. Waallahu alam wabishab.. kuasa tuhan atas semua yg diturunkan karunia dan nikmatnya

    ReplyDelete
  5. Saya punya Dua satu sebesar biji kacang tanah warna Bening didalamnya terdapat jentik nyamuk dan satu sebesar Merica putih pucat keduanya jikalau digengam terasa keram dan kaya terusuk dan nyut-nyut kaya bernapas. Wallahu walam wabishap kuasa tuhan atas apa yg ada dilangit dan bumi dan karunia atas kita semua.

    ReplyDelete
  6. Saya mempunyai banyak sekitar 20 lbh,sy dapat semalam di bawah tanah.

    ReplyDelete