Sunday, January 20, 2013

PELUANG USAHA; YUK, BERBAGI REJEKI DI NO MADEN MARKET

Standard
Siapa yang tak butuh pakaian? Pakian tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh tapi juga membuat pemakainya percaya diri dan terlihat lebih modis. Wajar jika bisnis pakaian ibarat pintu yang terbuka lebar dan memberi keleluasaan bagia siapapun untuk masuk dan meraup rejeki didalamnya.

Selain toko konvensional, butik menjadi salah satu model bisnis yang menawarkan keuntungan menawan. Di Yogyakarta butik tumbuh bak jamur, hampir semua ruas jalan utama kota Yogyakarta dicokoli minimal satu gerai butik. “Efeknya yah kadang terjadi persaingan antar butik, ada yang sampai banting harga segala, ini kan tidak sehat” galau Lucia Dessy Kristyorini saat di temui Inspirasi Usaha di sela-sela acara Nomaden Market yang dikelolanya bersama Wahyu Indah Wardani (23).

Baik Dessy maupun Indah, bisnis butik adalah bisnis yang mengandalkan niche market. Peminatnya sangat terbatas, hanya kalangan mahasiswa, profesional dan ibu-ibu muda. Jumlah mereka sedikit tapi jika mereka terpuaskan maka ia akan menjadi pelanggang setia dan itu yang harus dijaga. Agar terus bertahan dan tidak cepat gulung tikar, butik-butik juga harus tetap menggaet konsumen dan pelanggan baru, sehingga perputaran barang makin cepat dan pelanggang terus bertambah.

Bagaimana caranya agar pelanggan dari butik “A” mau berbelanja juga di butik “B” begitu juga sebaliknya, tapi dilakukan dengan cara sehat dan saling menguntungkan? Inilah yang menjadi bahan pemikiran bagi Dessy. Lewat silaturahmi panjang Dessy menemukan konsep Nomaden Market. Konsepnya seperti bazaar, di pasar murah tanpa tempat menetap ini beberapa butik berkumpul jadi satu dalam satu tempat dan mengadakan pameran bersama, masing-masing butik menggelar dagangannya dan mengajak para pelanggannya berkunjung ke Nomaden Market.

Sesuai namanya, Nomaden Market diadakan berpindah-pindah setiap bulan. Dengan slogan “A moving market of all cool an low cost stuff”, nomaden market berjanji akan menjual barang-barang yang berkualitas dengan harga terjangkau. “pastinya Nomaden Market akan tetap pada komitmennya untuk memajukan enterpreuner remaja dengan mengajak mereka muncul di lapangan dan mengadakan pameran bersama” terang Rani Nelasari yang melahirkan embrio Nomaden Market dan berawal di kota Semarang.

Di kesempatan berbeda, Rani juga menuturkan selain berjualan, tujuan Nomaden Market ini adalah untuk menunjukan keeksistensian online shop yang sudah biasa berjualan di situs jejaring sosial seperti facebook maupun twitter. Rani juga berharap Nomaden Market ini bisa mendidik konsumen agar tidak khawatir menjadi korban penipuan online shop yang marak terjadi akhir-akhir ini. Di Nomaden Market ini mereka bisa menyaksikan dan membuktikan bahwa online shop yang mereka lihat dan baca di Internet ternyata memang ada dan nyata di dunia nyata, tidak hanya numpang eksis di dunia maya.

Ranilah yang kemudian menularkannya kepada Dessy, selanjutnya Dessy mengandeng rekan-rekannya sesama pelaku bisnis butik di Yogyakarta seperti Edera, Dress Us, Ngongo, Orysia, Carrto & Rabbit, Ivory, Kata Butik dan Daisy Days milik Dessy sendiri. Seperti yang terjadi di Nomaden Market di Yogyakarta beberapa waktu lalu, pelanggan antara satu butik dengan butik lainnya berbaur. Pelanggan butik yang satu kebanyakan belanja di butik yang satunya lagi, begitupula sebaliknya. Inilah konsep utama Nomaden Market yang sebenarnya. Setidaknya mereka lagi bagi-bagi rejeki.



Di Yogyakarta, Nomanden Market kali ini diadakan di halaman Own Cafe Jl. Dewi Sartika 18 Yogyakarta. Meski hanya berlangsung dua hari, event ini terbilang sukses. Secara keseluruhan perharinya mampu menghadirkan sekitar 350 pengunjung dengan omzet perhari rata-rata Rp. 25.000.000/hari. Jika dirata-rata maka masing-masing butik bisa mendapatkan omzet Rp. 6.000.000 selama Nomaden Market berlangsung. Hemm, bagi-bagi rejeki antar butik yang patut menjadi inspirasi di kota lain.

Produk yang dijual antara lain pakaian, sepatu, sandal, tas, dan asesoris modis lainnya. Harga mulai Rp. 15.000 hingga Rp. 200.000. Item produk yang dijual adalah stock yang ada di butik masing-masing dengan harga miring. Selain mengundang para pelanggang setia masing-masing butik peserta, agar lebih ramai pengunjung, Dessy dan Indah juga melakukan promosi dengan selebaran di berbagai kampus, rumah makan, resto dan cafe di seputaran Yogyakarta serta lewat iklan media cetak juga jejaring sosial seperti facebook, twitter dan sms berantai.

Sebagai pengelola event, Dessy dan Indah tidak mengambil keuntungan seperti event organizer yang menjual stand model bazar. Biaya operasional yang dibutuhkan dibagi bersama, itupun tidak dibayar dimuka melainkan dipotong sebesar 10 % dari masing-masing transaksi, biaya kepesertaan hanya Rp. 50.000 per stand. Padahal kegiatan ini hanya membutuhkan biaya operasional sekitar Rp. 5.000.000, sudah termasuk sewa tenda, listrik dan promosi dan lainnya.

0 comments:

Post a Comment