Kamis, 25 April 2013

Peluang Usaha : UBIYABI

Standard
MODAL AWAL CUMA 250 RIBU, KINI OMZETNYA 1 JUTA PER BULAN

Berbeda dengan varian makanan berbahan ketela ungu lainnya, kali ini Suryadin Laoddang dari INSPIRASI USAHA menemukan aroma, citarasa dan tekstur khas dan asli dari ketela ungu.

Rasa yang selalu tak didapatinya ketika menikmati makananan olahan seperti bakpia tela ungu atau bakpao tela ungu yang pernah ngetred di Yogyakarta berberapa tahun lalu. Saat menikmati Ubiyabi Coklat Keju, rasa itu terasa. Meski ketela ungu tersebut telah diolah dengan tambahan keju dan taburan coklat di permukaannya.

Bikin kenyang tapi gak bikin eneg! Begitulah kesan yang selalu dirasakan para pelanggang Ubiyabi. Racikan unik ini oleh penggagasnya, Angga Kusuma Aribowo diberi nama Ubiyabi. Nama Selain Ubiyabi Coklat, masih terdapat menu variatif lain seperti Ubiyabi Strawberry, Ubiyabi Blueberry, Ubiyabi Coklat, Ubiyabi Keju hingga paket minuman seperti Susu Ubiyan, Milkshake Ubiyabi dan minuman lainnya.

Kekhasan menu Ubiyabi memang terletak pada bahan bakunya yakni Ketela Rambat varian Ungu atau akrab disebut Ketela Ungu. “saya tertantang bagaimana mewujudkan sebuah menu berbahan lokal seperti tela ungu tapi dengan citarasa yang digemari generasi sekarang, seperti citarasa coklat, strawberry atau keju. Yah hasilnya seperti ini. Perlu diketahui, ubi ungu memiliki senyawa antioksidan yang tinggi sehingga baik untuk menjaga kesehatan” cerita Angga mengawali pembicaraan malam itu bersama INSPIRASI USAHA.

Masih menurut Angga, ide ini adalah ide lama. Tahun 2009 lalu pada kelas Kewirausahaan di Kampusnya Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta, ia dan teman kelompoknya menjadikan menu ini sebagai bahan penelitian, setelah lolos presentasi lalu dipamerkan dalam event kampus saat itu. Oleh Angga, ide terus diwujudkan. Dengan modal Rp. 250.000,- ia mengawalinya dengan menawarkan makanan olahannya ini lewat jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, dan beberapa situs paket diskon lainnya. Awalnya Angga hanya melayani pemesanan dengan sistem layanan delivery service. Pelanggannya adalah para kawula muda dan kaum urban belia.

Kini, Ubiyabi telah membuka gerai dengan setting café gaya mahasiswa dibilangan utara kota Yogyakarta, utara Rumah Sakit Jogja International Hospital Yogyakarta. Dekat dengan lingkungan pemondokan Mahasiswa dari UPN, UII, STIE YKPN, STIMIK AMIKON, STIE SBI, POLTEKKES Permata Indonesia dan POLTEKKES Guna Bangsa. Buka dari jam 16.00 hingga 23.00 WIB. Khusus untuk delivery service hanya melayani request order hanya sampai dengan jam 10.00 WIB. Pembatasan ini sengaja dilakukan untuk menjaga kualitas pesanan juga ketepatan waktu pengantaran, paling penting untuk menjaga agar sajian tetap hangat ketika diterima konsumen.

Menjawab pertanyaan INSPIRASI USAHA seputar rahasia sukses Ubiyabi bertahan dalam memasarkan makanan “kampung” seperti ubi ungu. Pemuda kelahiran 1987 ini menuturkan “jangan salah, warga urban dan perkotaan sekarang sudah mulai rindu dan doyan makanan kampung, ini tidak terlepas dari kian maraknya makanan tidak sehat yang beredar saat ini. Lihat aja beras pake pemutih, buah-buahan dan sayuran impor ternyata disuntik pewarna, ya maka wajar jika masyarakat rindu makanan kampung semisal sagu, jagung dan umbi-umbian seperti ubi ungu ini”.

“Kini tantangan dan kuncinya ada pada kita, mampu gak kita memodifikasi makanan kampung tersebut menjadi bercitarasa modern seperti yang kita inginkan sekarang?” tantang Angga lebih lanjut.

ILUSTRASI BISNIS

Belanja MODAL

Oven Sederhana  (Hock)                                           Rp.        240.000,-
Kompor Gas 1 Tungku                                              Rp.        200.000,-
TOTAL BELANJA                                                        Rp.       440.000,-

Belanja Harian
Cup Alumunium Foil (100 cup x Rp.500)            Rp.          50.000,-
Bahan Pelengkap Lainnya                                      Rp.        100.000,-
Gas dan Lainnya                                                       Rp.           15.000,-
Biaya Listrik dan Telpon                                        Rp.           15.000,-
Gaji Karyawan                                                         Rp.          20.000,-
Biaya Internet                                                          Rp.              5.000,-
Biaya Promosi                                                         Rp.           20.000,-
TOTAL BELANJA                                                     Rp.       225.000,-

PEMASUKAN HARIAN
Jika asumsi setiap harinya laku 80 cup/mangkok dengan harga rata-rata Rp. 7.000, maka Omzet per hari adalah Rp. 560.000

KEUNTUNGAN HARIAN
Pemasukan – Belanja Harian
( Rp. 560.000 - Rp. 225.000,-)                                               Rp.     335.000,-

Hasil penjualan diatas baru sebatas sajian makanan yang ditawarkan, belum termasuk produk minuman dan camilan kripik lainnya yang omzetnya juga memcapai angka 600 ribu. Jadi dalam satu hari, ubiyabi meraup omzet Rp. 1.000.000,- per hari.

Ubiyabi buka setiap hari (termasuk hari Minggu) dapat dikunjungi atau dihubungi di Jl. Gurameh Raya No 24, Minomartani, Sleman Yogyakarta Jam Operasional: Pukul 16.00 - 23.00 WIB. Tempat disetting sangat romantic, cocok buat keluarga, rombongan atau pasangan, apalagi tersedia fasilitas Hot Spot. Pemesanan ke Twitter : @ubiyabi, Facebook: ubiyabi, Pin BB : 3131F1F2, Telp: 081904900009.

Rabu, 24 April 2013

Adat Bugis : Ajaran Melayani Tamu Orang Bugis

Standard

Contoh Rumah Orang Bugis

Invasi informasi dan arus sosial yang menghawatirkan telah merubah tatanan social secara besar-besaran, hingga nyaris melumpuhkan aspek silaturahim dan solidaritas. Dari sulitnya mencari teman, mengenal tetangga, bahkan sampai di area paling nyata, seorang mantan tamu enggang bertamu lagi karena kondisi tuan rumah yang lupa menghargai tamunya kemarin. Namun nampaknya kondisi negatif ini kurang berlaku bagi masyarakat Bugis. Tamu adalah raja, barangkali itu yang mereka maksudkan dengan sipakaraja dalam cerita kuno nenek moyang orang Bugis. 

Macca duppa to pole, panguju to lao (pintar menerima tamu, membekali orang pergi) itulah kalimat familiar di kalangan masyarakat Bugis, meski dipakai dalam situasi mencari jodoh sebagai ciri-ciri istri yang baik, namun juga merupakan sebuah filosofi familiar tentang tradisi menjamu tamu. Barangkali inilah takwil dari sipakatau dalam nafas manusia Bugis.

Tradisi orang Bugis dalam menerima tamu, si tamu akan dijamu oleh tuan rumah meski si tuan rumah memiliki kadar ekonomi yang rendah, walau hanya hidangan nasi ketan dan ikan kering di pagi hari, sayur kelor di siang hari, dan ikan mujair di malam hari. Orang Bugis menjamu tamunya seakan tidak ingin tamunya merasa kekurangan, bahkan rela mengeluarkan kocek sedikit di luar rata-rata pengeluaran keluarga sendiri dalam setiap harinya. 

Tradisi menjamu tamu ini dapat dijumpai dalam masyarakat Bugis, tidak hanya di Sulawesi, bahkan di rantauan, tradisi mengahargai tamu ini masih kuat digenggaman . Meski tidak semua orang Bugis memiliki rasa kedermawanan yang sama, namun secara keumuman, tradisi ini hampir disadari oleh semua masyarakat yang mengenal orang Bugis.

Menjamu tamu erat kaitannya dengan memahami tuan rumah, seorang tamu wajib memahami apa kondisi rumah dan penghuninya, jika dirasa kurang berkenan tinggal di rumah itu, si tamu harus memahaminya.

Dalam ajaran agama Islam, batas waktu bertamu maksimal 3 hari berdasarkan sebuah hadits dalam shahih Bukhari. Bukan mengusir diri sendiri, melainkan hal ini dimaksudkan agar tuan rumah tidak kewalahan melayani hak tamu yang boleh jadi sangat membebani. Bahkan diajurkan, seorang tamu membawa bekal untuk si tuan rumah sebagai penyeimbang segala pengeluaran yang diupayakan oleh di tuan rumah.

Si tamu diharapkan memegang prinsip sipakatau, rumah orang ibarat titipan, hal-hal bertalian seperti kebersihan, keamanan, dan prabot rumah tangga dipelihara dengan baik. Kata-kata dan norma kesopanan pun harus dipelihara. Seorang tamu yang baik akan meninggalkan kesan yang baik di mata tuan rumah, demikian pula tuan rumah yang ramah dan dermawan, akan meninggalkan jejak positif di mata tamu itu sendiri. Jika tamu merasakan kenyamanan berada di rumah tuan rumah, serasa ingin berlama-lama tinggal di situ, meski itu tidak dianjurkan. Tapi, jika seorang tamu yang bertabiat buruk. Maka, tuan rumah berhak mengusirnya meski fakta itu jarang terlintas di telinga, bukankah rumah adalah hak pemiliknya.

Di tengah arus budaya luar yang menggerogoti masyarakat berbudaya, suasana silaturrahim dan tradisinya ini nampaknya masih dipelihara oleh orang Bugis, bukan berarti masyarakat non-Bugis tidak demikian, melainkan orang Bugis sedikit memiliki keunikan dalam hal tamu, barangkali hal yang sama ada pada masyarakat di luar orang Bugis. Tapi tidak dikupas dalam artikel ini.

Tradisi masih terjaga dan tentu harus terus dijaga. Tuan rumah selalu melakukan dan memberi yang terbaik. Bukan berlebihan, meski terkesan merepotkan tuan rumah, tapi di balik hati yang paling dalam, tuan rumah tidak merasa repot, tuan rumah berusaha memperlihatkan pelayanan terbaiknya. Maka seringkali tuan rumah mengatakan kepada tamunya yang hendak pulang, Aja tagerri-gerri monro bolaE na yang artinya, “jangan kapok-kapok tinggal di rumah ini yah”. Bukan hanya itu, orang Bugis pun memberi bekal kepada tamunya yang pulang itu meski hanya seikat bokong (ketan atau ketupat) dan bajabu’kaluku (abon kelapa) atau kelapa justru buah kelapa itu sendiri hingga buah-buahan dari kebun. Jika itu tidak ada, bekal salam dan sejahtera serta doa saja sudah cukup menjadi bekal bagi sang tamu dalam perjalanan berikutnya.

================
Oleh : Muhammad Nasir
Photo : kasuwiyang9.blogspot


Senin, 22 April 2013

Agus Piranhamas, Melumat Rejeki Internet Marketing Bagai Ikan Piranha

Standard
Agus Piranhamas selalu dengan celana putihnya


Perjalanan hidup Guru, Pakar, Jagoan Internet Marketing ini sungguh menarik untuk disimak. Masa kecil yang penuh air mata akibat pribadinya yang seorang introvert. Masa kuliah yang penuh pengabdian dan masa-masa kerja serta awal bergelut dalam dunia Internet Marketing yang merubah hidupnya. Lahir dengan nama lengkap Agus Setiyawan kini menjadi praktisi sekaligus “akademisi” dunia Internet Marketing. Ikuti wawancara Suryadin Laoddang dari Majalah Inspirasi bersama Agus Piranhamas beberapa minggu lalu.

Kenapa orang-orang menyebut Anda Guru, Pakar, Jagoan Internet Marketing?
Tentu ini tidak saya dapat dengan serta merta, butuh proses panjang. Saya mengenal dunia internet pada tahun 2006, itupun saya tidak kalau di email kita ternyata ada fasilitas Log Out. Sebelumnya, setiap saya buka email langsung saya matikan aja tanpa log out, akibatnya email saya sering dikerjain orang. Tentang Blog saya mengenalnya setelah privat sama seorang Mahasiswa semester tiga, parahnya mahasiswa ini ditemani pacarnya akibatnya saya jadi salah tingkah. Tapi itu semua melecut semangat saya untuk terus belajar dan berani salah. Hasilnya yah apa yang saya dapat dan nikmati sekarang.

Sebelum saya jadi pembicara internet marketing seperti sekarang, saya telah mempraktekkanya dulu, dulu saya jualan bantal lewat internet. Dari situ saya bisa beli rumah, beli mobil dan bikin perusahaan.

Mengapa Anda membidik menjadi Pembicara atau guru bisnis Online dengan harga di bawah rata-rata pelatihan atau trainer Internet Marketing yang lain?
Saya ingin membuat sebanyak mungkin orang Indonesia paham akan potensi Internet Marketing ataupun bisnis Online. Dunia Internet Marketing atau bisnis Online masih menyimpan banyak potensi untuk dimaksimalkan agar menjadi sumber rezeki. Sebenarnya banyak teman-teman yang bergelut di dunia Internet Marketing atau bisnis Online yang juga jago tapi kebanyakan mereka malu-malu untuk menjadi pembicara.

Apa yang membedakan diri Anda dengan Pembicara Internet Marketing lainnya?
Dalam mengajarkan ilmu Internet Marketing saya harus memperlakukan setiap orang yang kami ajar seperti bayi. Ajari dengan kasih, berilah ikan, kail dan danau agar mereka hidup selamanya. Mengajar dari hal-hal terkecil dan telaten, serta jangan membeda-bedakan murid. Ngajar siapapun berapa orang pun yang kita berikan harus maksimal. Semua ilmu yang saya ajarkan akan saya berikan. Prinsipnya Open No Limit – Except AURAT Tidak ada yang dirahasiakan, ilmu itukan datang dari Tuhan dan Tuhan tidak pernah minta Royalti. Lha, kok kita mau minta Royalti.

Untuk sebuah pelatihan Internet Marketing berapa sih anggaran yang harus disediakan oleh penyelenggara khusus buat Anda?
Untuk kalangan sekolah, kampus dan organisasi sosial prinsipnya berapapun okelah, yang penting bisa nutup transport, konsumsi dan penginapan saya. Untuk perusahan atau event organizer sangat variatif, terngatung materi yang harus saya sampaikan. Range-nya antara 3 s/d 5 Jutalah.

Tadi Anda disebut juga sebagai Praktisi, seperti apa itu?
Sebelum saya menjadi pembicara Internet Marketing, sebelumnya saya juga jualan bantal lewat jalur on line. Sebelum itu saya pernah jualan alat tulis kantor (ATK), Busana muslim dan Jibab. Lalu pada tahun 2006 mulai mengenal komputer dan 2008 dunia maya. Saya mulai dengan menjual CD tentang ISO menggunakan Yahoo Groups. Saat itu saya masih menggunakan warung internet untuk jualan. Semuanya harus serba saya hitung dan bila bisa saya tawar. 7 bulan penuh saya lalu dengan menggunakan sepeda onthel supaya tidak kena ongkos parkir. Saya juga selalu mencari warnet yang paling murah dan bisa ditawar. Dari situ semakin banyak orang-orang yang ingin berguru tentang Internet Marketing pada saya, tawaran menjadi pembicara baik seminar maupun talkshow radio pun mulai berdatangan.

Selain jualan on line dan menjadi pembicara internet marketing, apa lagi yang menjadi bisnis Anda?
Untuk jualan online praktis tidak saya tangani langsung saat ini, cukup dikerjakan karyawan saya. Jadi saya lebih banyak keliling Indonesia untuk berbagi ilmu internet marketing. Selain itu saya juga menjadi konsultan beberapa perusahaan dan wirausahawan yang ingin memaksimalkan penjualannya lewat internet marketing. Kalau yang satu agak mahal tarifnya dan harus nego langsung.

Untuk berbisnis Online, berapa modal awalnya?
Jangan selalu menganggap modal itu dengan uang, salah satu murid saya di Jogja bisa jualan Gula Merah dengan untung 17 juta dalam dua minggu tanpa modal sepeserpun. Ia hanya menjadi penghubung antara produsen dan pembeli. Jadi modal paling utama adalah kemauan yang diikhtiarkan dengan paham internet dan tahu tehnik jualan lewat Internet Marketing. Sederhana sekali.

Jika ada pebisnis atau pemula yang ingin berguru pada Anda, bagaimana?

Ayo! Siapa takut saya selalu siap. Kontak saya di 081 333 84 11 83 (Simpati), 081 753 7894 (XL), 081 556 711 744 (Mentari), 0341 54 55330 (Flexi). Twitter : SpeakerINTERNET, Website : www.pembicarainternetmarketing.com, Facebook : Agus PIRANHAMAS REALITOR,

 ==============================================================
AGUS PIRANHAMAS, MELUMAT REJEKI INTERNET MARKETING BAGAI IKAN PIRANHA
Oleh : Suryadin Laoddang

Minggu, 21 April 2013

Budaya Bugis : Kaum Feminim Dalam Budaya Bugis

Standard
Kaum Feminim Dalam Budaya Bugis

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Fajar
Oleh : Muhammad Nasir

Sederet nama besar seperti Aminah Wadud Muhsin, Ashgar Ali Engineer, Fatima Mernissi, Riffat Hassan, Nasaruddin Umar, dan sebagainya, lazim dikenal di dunia kajian feminisme dengan usaha mereka menyembelih ternak-ternak paradigma zaman tentang kaum feminin (wanita) lewat karya-karya monumental yang mereka telorkan, bahwa makhluk Tuhan yang bekulit halus ini merupakan sendi kelemahan dan ketidakberdayaan dalam perjalanan hidup umat manusia.

Mereka bahkan berani memasuki wilayah otoritas ahli-ahli agama (baca: Ulama) yang secara doktrin menurut sorotan mereka tersebut telah menempatkan wanita sebagai terbelakang dan sebagai manusia domestik. Padahal agama tidak menghendaki adanya dominasi patriakhi atas wanita secara sepihak. Mereka semua sama di hadapan Tuhan dan mereka berhak mendapatkan makna-makna dunia sebagai tempat persinggahan yang nyaman menuju kehidupan abadi (akhirat).

Bagi sosio-kultural masyarakat bugis, feminisme juga mendapatkan porsi yang cukup dalam tatanan suku yang berasal-muasal dari Sulawesi Selatan ini. Bahkan sejak masuknya Islam pada abad ke-17 di Sulawesi Selatan yang menggeser nafas Hindu-Budha secara besar-besaran di pulau kawasan Indonesia timur ini. Feminisme bugis mulai menyerap nilai-nilai Islam yang kemudian diejawantahkan dalam sosio-kulturalnya. Jadi Islam, Bugis, dan wanita adalah segitiga bio yang telah membatu dan hidup dalam nafas orang-orang Bugis.

Memang, jika dibandingkan dengan pria, wanita adalah makhluk yang lebih lemah dari segi fisikal. Padahah sesungguhnya, pria ataupun wanita sama-sama tercipta dari setetes air yang hina, perihal otot yang dimiliki pria merupakan lambang kekuatan dalam berkerja dan menafkahi keluarganya. Ditinjau dari sudut sosio-geografis, orang-orang Bugis kebanyakan bekerja sebagai petani, nelayan, dan pedagang, sehingga kaum maskulin (pria) orang Bugis layak mengfungsikan ototnya dan kaum fenimis tidak bisa berbuat banyak dalam hal ini. Makanya kaum fenimis lebih cenderung dinafkahi bukan menafkahi. Andaikan orang-orang bugis telah sepenuhnya hidup dalam suasana kota besar dan memiliki lahan pendidikan dengan beragam jurusan, maka kaum feminis Bugis akan banyak yang menjadi wanita karir atau sekurang-kurangnya memiliki pekerjaan untuk nafkah hidupnya.

Demikian pula dalam hal adat melamar/ meminang (Bugis: ade’ ma’duta), bagi sosio-kultural orang bugis, wanita sebagai pihak terlamar, bukan pelamar, hal ini senada dengan nilai-nilai kebudayaan Islam telah teralkulturatif, bahwa prialah yang melamar wanita. Berbeda dengan saudara sebangsa di tanah Minang nan jauh di sana, kaum pria sebagai pihak terlamar, bukan pelamar. Hal ini merupakan tradisi kaum batak asli yang nampak berbeda dengan panggadereng to ogi (kultur orang Bugis) pada khususnya.

Karena teralkulturasi dengan budaya Islam sejak tiga abad yang lalu, kaum feminis orang Bugis pantas menjaga kehormatannya (akkalitutungeng siri’na) yang dalam bahasa agama disebut sebagai “hifzd al farj”. Orang Bugis mengerti bahwa kaum feminisnya merupakan cermin kemuliaan suku. Jika kaum yang berkulit halus dan bersuara lembut ini melampaui batas-batas agama dalam hal kehormatan diri, seperti perselingkuhan, protistusi, zina, pergaulan bebas, membuka aurat bak candoleng-doleng yang menjamur itu, dan sebagainya, maka nilai-nilai kemuliaan (Islam: karamah) wanita dalam suku Bugis mengalami keretakan bahkan bisa diramalkan tinggal fosil belaka yang dikaji oleh banyak peneliti kebudayaan kelak.

Feminisme yang ditawarkan oleh sederetan ilmuan besar tersebut di atas, berbeda dengan feminisme yang disuguhkan oleh Bugis. Mereka menawarkan kesetaraan gender yang menggugat otoritas ahli-ahli agama dimana berbeda jenis dengan kesetaraan gender ala Bugis yang berusaha memahami peradaban yang telah dibangunnya sejak dulu. Hal ini dikarenakan adanya tingkat sosio-historis dan sosio-geografis yang menjadikan perbedaan itu. Namun pada dasarnya, wanita bugis berhak menjadapatkan kesetaraan jender dan untuk tidak melangkah jauh kepada kawasan feninisme liberal, feminisme marxix, feminisme radikal, dan feminsme sosialis yang memberi lampu hijau kemandirian yang berbahaya bagi kaum yang khas dengan rambut panjangnya ini.

Orang Bugis yang dikenal sebagai pelaut dan perantau ulung ini memang menarik untuk disorot, budayanya yang khas dan citra kemandiriannya yang tersohor ini membuat penulis tertarik untuk menyuguhkan sebuah redaksi tentang citra wanita Bugis yang mulia. Jadi, siapa saja yang mengaku sebagai makkunrai ogi (wanita Bugis) yang muslimah, namun tidak mencerminkan nilai-nilai agama (baca: Islam), maka kebugisannya (baca: pengenalannya terhadap suku bugisnya) dipertanyakan. Bukankah wanita Bugis hatinya sehalus sutera Sengkang, sealembut kain baju bodo, dan semanis kue barongko’?. Tidak dinafikan bahwa pria juga harus sedemikian karena pria dan wanita sebenarnya sama walaupun tidak disamakan.

=================
Sumber  Foto : Copy dari Group Sempugi

Selasa, 16 April 2013

Sastra Bugis : Galigo Hari Ini ( Seri 105), Edisi Selingan dari Serial Lamar-melamar

Standard
GALIGO HARI INI (SERI 105 )
Edisi Selingan dari Serial Lamar-melamar

Tappa Curu Na Mamelleng (8)
Aduu Parewa Jabba (7)
Tebbu Tonrong Salo (6)

Arti Bugis Umum
Aganatu angkeqmu iko, mattappa tomalasatono, masumpu nyawa tono, dettona gaga rettemu

Arti Indonesia
Apa yang dapat kami andalkan pada dirimu, sudah berwajah tanpa harapan, kamu juga tidak memiliki kelebihan apapun dan juga tidak memiliki pengaruh apapun.

Penjelasan
Secara umum galigo termasuk kategori sulit, masing-masing baris memiliki kata kunci untuk menjelaskan makna masing-masing baris untuk mencapai makna utuh dari galigo ini. Pada baris pertama kata kuncinya terletak pada kata “curu na mamelleng”, sementara rangkaian kata pada baris kedua dan ketiga semuanya menjadi kata kunci yang terikat dan dalam sebuah kesatuan makna.

Kata curu memiliki makna “sesuatu yang sengaja (memilih) tenggelam” untuk bersembunyi agar tidak terlihat dipermukaan atau tidak tampak oleh orang lain. Tempat bersembunyi ini biasanya dilakukan di air dalam atau dibalik semak-semak, onggokan batu, kayu dan benda lainnya. Kata Mamelleng memiliki makna “wajah yang tatapan kosong”, kata ini mungkin sudah jarang ditemui dalam bahasa pergaulan akhir-akhir ini. Di sebelah timur kota Sengkang (Ibukota Kabupaten Wajo Sul-Sel) atau tepatnya di sebelah utara Kota Tosora (Bekas Ibukota Kerajaan Wajo sebelum pindah ke Sengkang) terdapat sebuah kampung yang bernama Mellengnge. Konon, kampung yang kini terletak di desa Cinnongtabi ini pada masa Musuq Sellengnge (1669) dihuni oleh-oleh penduduk yang memiliki wajah tanpa gairah hidup. Disebabkan oleh rasa sedih mereka melihat hancurnya istana Tosora karena dibombardir oleh meriam-meriam Belanda yang waktu itu bersekutu dengan Kerajaan Bone.

Pada baris kedua ditemui rangkaian kata “Aduu Parewa Jabba” yang secara bebas dapat diterjemahkan menjadi “rumput yang menjadi bahan utama membuat sangkar burung”. Sangkar burung yang dalam bahasa Bugis disebut “Jabba”. Jabba biasanya dibuat dari bahan baku berupa tanaman dari kelompok tebu-tebuan yang lebih mirip rumput. Bentuk dan warnanya mirip bambu kuning/gading. Telle jika ditulis dalam bahasa Bugis, bisa dibaca menjadi Telleng (tenggelam), analogi telleng inilah yang diterjemahan menjadi tenggelam yang memiliki makna seseorang yang tidak menonjol ditengah orang kebayakan. Ibarat seseorang yang tidak memiliki pengaruh apapun. Adanya tidak menambahi, tidak adanya tidak mengurangi.

Pada baris ketiga, kata “Tebbu Tonrong Salo” secara bebas dapat diterjemahkan menjadi tanaman tebu yang tumbuh di hilir sungai. Tebu semacam ini pasti rasanya hambar, tidak manis seperti tebu pada umumnya. Ungkapan ini umumnya dialamatkan pada orang yang tidak memiliki kelebihan atau keunggulan apapun yang dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan lingkungannya. Secara utuh, , galigo ini ingin mengikhtibarkan agar setiap manusia dalam menghadapi hidup harus optimis, harus memiliki kelebihan dan dapat diterima ditengah masyarakat. Semoga kita termasuk didalamnya.

Galigo edisi berikutnya kembali akan membahas tentang galigo-galigo yang dipakai saat melamar. Pantengin terus yah!

Senin, 15 April 2013

Ketika Petani Kehilangan Capungnya

Standard
Ketika Petani Kehilangan Capungnya;
Sebuah Reportase Renungan tentang Masyarakat Adat dan Perubahan Iklim.


Akhir tahun 2010, untuk ketiga kalinya selama merantau ke tanah Jawa, kembali saya menginjakkan kaki di Kampung Mellengnge bagian barat, Desa Cinnongtabi,Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Kamping ini terletak disebalah timur kota Sengkang, ibukota kabupaten Wajo, bersisian ke arah utara dengan kota tua Tosora, bekas ibukota kerajaan Wajo hingga Abad XVII.

Untuk mencapai kampung ini, saya harus melewati perjalanan darat sekitar 30 kilometer dilanjutkan dengan jalan kaki hingga 5 kilometer dari pinggir jalan aspal. Meski dari kampung ini kita bisa menatap kemegahan kota Sengkang dengan tower-tower pemancar jaringan teleponnya, namun untuk menuju kampung ini kita harus menempuh jalan memutar dari Sengkang ke Sempangnge – Paria – Mellengge atau dari arah selatan dengan rute Sengkang – Tampangen – Tosora – Mellengnge. Jangankan jalan aspal, sekedar jalan tanah yang terbukapun tidak ditemui, kecuali jalan setapak berupa pematang sawah yang berlabirin yang menghubungkan Kampung Mellengnge disisi timur dengan kampung Mellengnge sisi barat.

Setelah mata dimanjakan dengan pemandangan hamparan sawah yang hijau dan segar, kaki saya juga dimanjakan dengan bermain air sawah dan sungai-sungai kecil yang terus mengalir kala itu. Maklum saat baru saja turun hujan, jadi air melimpah. Berbanding terbalik dikala musim kemarau, petak-petak sawah yang tadinya becek dan berlumpur akan berganti retakan-retakan unik mirip puzzle yang sambung menyambung.

Dibanding saat pertama kali saya tinggalkan kampung ini, selain penduduknya yang banyak tidak saya kenali lagi dan deretan rumah-rumah yang banyak berubah, kondisi alamnya kampung ini juga banyak berubah. Hal yang paling nyata telah banyak berubah (bahkan tidak lagi saya temui sama sekali) adalah tidak adanya kerbau-kerbau berkeliaran di hamparan sawah atau dipadang rumput seperti 17 tahun yang lalu. Hamparan rumput tempat saya bermain dulupun kini juga telah berubah, tidak lagi hijau dan segar seperti dulu. Rumput yang ada sekarang telah pucat dan hijaunya lebih menyerupai daunan layu.

Ikhwal perubahan ini saya tanyakan pada paman saya. Ia hanya tersenyum penuh arti, seolah paham jika saya memiliki segudang pertanyaan. Kemana gerangan kerbau-kerbau itu? Bersembunyi dimanakah rumput-rumput hijau itu? Sedang dimana gembala-gembala yang berwajah polos dan bersahaja itu? Kemanakah gundukan-gundukan kotoran kerbau yang berwarna hitam gelap dan selalu dikerubuti lalat itu? Kemanakah indahnya alam kampungku?
Serentetan pertanyaan yang saya ajukan bertubi-tubi akhirnya memaksa paman saya buka mulut, memberi jawaban, mesti jawaban sangat singkat dan masih mengandung tanda tanya baru. Ia hanya menjawab, “coba kamu lihat rumput-rumput itu, masih adakah capung dan belalang yang berkejaran dan hinggap disana” tutur pamanku dalam bahasa Bugis lengkap dengan aksennya yang khas.

Jawaban tersebut bukanlah jawaban bagiku, melainkan kalimat tanya yang bernada perintah bagiku.  Saat pamanku kucecar kembali, dengan diplomatis ia menjawab “bukannya kamu anak sekolahan?, masak harus diajari saya yang cuma tamatan sekolah rakyat ini”. Jawaban yang justru menjadi sindiranbagi saya, menelanjangi kebodohan saya yang tak lagi mampu membaca tanda-tanda alam. Tidak seperti mereka yang menjadikan alam sebagai sekolah dan gurumereka. Aku malu!

Dua minggu kemudian, saat saya tiba kembali di Yogyakarta, kota rantauan saya. Sindirandan perintah paman saya tersebut terus tergiang. Memaksaku mencari jawaban,memuaskan rasa ingin tahuku. Lewat berbagai bacaan yang saya lumat, tahulah saya jika ternyata antara capung, rumput dan kerbau memiliki rantai hubungan yang sangat erat. Keberadaan capung dipadang rumput ternyata selalu menjadi patokan para gembala- untuk memilih lokasi rumput yang layak dimakan oleh kerbau-kerbaunya. Jika direrimbunan atau hamparan rumput yang tersedia terdapat banyak capung dan belalang itu berarti rumput itu sehat dan layak dimakan sang kerbau, para gembala akan menggiring ternaknya kesana.

Hilangnya capung di hamparan rumput di kampung saya ternyata karena dipaksa oleh manusia. Saat pepohonan terus ditebangi, maka hamparan rumput akan terkena sinar matahari langsung dan cepat kering.
Embun-embun dipagi hari pun akan cepat menguap dan itu berarti sang capung tak lagi sempat menitipkan telurnya didalam bulir embun tersebut hingga menetas dan menjadi anakan capung. Dengan demikian proses kembang biak capung terganggu. Diluar itu kadang para capung dan belalang sengaja diusir atau diracuni oleh para manusia.Saat petani memberatas gulma dan rumput di sawah dan padang rumput dengan semporotan bahan kimia pembasmi gulma dan rumput, maka rumput itu tidak lagi segar dan sehat dimakan sang ternak. Tidak sehat juga untuk sang capung dan belalang, parahnya bahan kimia itu akan berevolusi pada anakan rumput yang akan tumbuh pada priode-priode berikutnya. Jadilah sepanjang masa, rumput itu  beracun dan tidak sehat bagi kerbau dancapung. Maka wajar jika capung hilang.

Kemampuan membaca alam dan mengerti alam inilah yang dinginkan paman saya untuk saya miliki, mungkin itulah alasannya, mengapa beliau selalu memaksa saya mengitari hamparan sawah dan padang rumput ditengah kampung itu setiap kali saya bertandang ke rumahnya. Bagi paman saya dan masyarakat Bugis sekitarnya, tanda-tanda alam tersebut adalah bentuk kearifan lokal yang mereka bangun secara empiris, berdasarkan pengalaman-pengalaman keseharian.

Hilangnya capung dan belalang itu bagi paman saya yang seorang petani adalah bencana besar. Bahkan sebuah aib dimata para leluhur mereka, mereka dianggap tidak becus menjaga alam, menjaga kelestarian alam dan segala mahluk didalamnya. Tak hanya paman saya yang merasa kehilangan dan ditampar aib, para petani lainnya juga merasakanya, termasuk para gembala kerbau. Bahkan gembala kerbau tidak hanya kehilangan capung dan belalangnya, melainkan juga kehilangan pada rumput yang segar dan lembut serta tidak gatal. Sehingga mereka bisa tidur pulas beralaskan rumput yang hijau, seger dan bersih. Bahkan untuk sekedar rebahan atau selonjoran kaki sambil bermain suling bambupun sudah tak dapat mereka nikmati. Ironis!

Demi menjaga keberadaan capung ditengah sawah dan hamparan rumput, leluhur orang Bugis selalu mengajarkan pada anak cucunya agar tidak menangkap capung. “Ayo anak-anak, berhenti menangkap joli-joli  itu, nanti kamu joli’-joli’”. “Anak-anak, ayo berhenti menangkap Capung itu,nanti kamu bisa mencret”, begitu kalimat sakti para orang tua kami. Lucunya, kami menurut dan betul-betul takut dengan peringatan tersebut. Meski kami tak pernah mencoba untuk membuktikannya.

Kata joli-joli memang memiliki fonem dengan kata joli’-joli’ (senada dengan kata Kali’ orang betawi). Menangkap capung sesungguhnya adalah permainan, bagi kami. Tetapi bagi masyarakat Bugis dan lingkungan adat Bugis. Capung tak sekedar hewan kecil yangtak berdaya. Ia adalah simbol kesuburan, simbol kemakmuran. Tak ada capung yangberkeliaran di padang savana kami, itu berarti rumput di padang itu sudah tak segar dan sehat lagi untuk pakan ternak. Belakangan, setelah kami dewasa, barukami sadari. Ternyata, mitos-mitos ini sengaja ditanamkan orang tua kami, demi menjaga kelestarian sang Capung. Juga keseimbangan ekosistem alam, antara rumput, capung, ternak dan manusia.

Kata orang tua kami, boleh menangkap capung, tapi tidak untukdipelihara. Maka setelah ditangkap, segeralah bebaskan kembali. Sebelum dibebaskan, ada ritual khusus yang harus kami lakukan. Masing-masing capungyang kami tangkap kami arahkan untuk menggigit pusar kami. Inilah bentuk permintaan maaf kami pada sang capung, karena sempat kami tangkap. Konon, dengan digigitnya pusar kami oleh sang capung, kutukan mencret itu hilang dengan sendirinya. Berani coba?

Yogyakarta, 15 April 2013
Oleh : Suryadin Laoddang

Tulisan ini diikut lombakanpada "Kompetisi Penulisan dengan tema 'Masyarakat Adat Sulawesi, DampakPerubahan Iklim dan REDD+
===============
Sumber gambar : nature-of-decay.deviantart.com

Kamis, 04 April 2013

Pustaka Bugis : Menangih Karya Tulis Ulama Sulawesi Selatan

Standard
Meliuk-liukkan pena di atas kertas hingga berbuah kitab adalah salah satu kepiawaian Ulama klasik,  wujud sahih kesuksesan peradaban Islam pada masa silam (tabi’in, salafy, dan post-salafy). Ulama-Ulama sekaliber Syafi’i, Malik, Ahmad, Hambali, Al Suyuthy, Ibnu Sina, Al Farabi, Ibnu Rusyd, Al Gazaly, Ibnu Arabi, Ibnu Al Jauzi hingga An Nawawi, dan masih banyak lagi Ulama penulis yang telah menjadikan Islam jaya dan dikenal sebagai Agama dengan produktifitas buku paling melimpah sejagad.

QS. Al Jumuah ayat 5 menyebutkan, kamatsalilhimaari yahmilu asfaaruu (bagai keledai yang memikul kitab-kitab tebal). Ayat ini menunjukkan adanya fenomena sejuta kitab dalam peradaban Islam zona arab. Meski ayat ini dipahami sebagai amsal Al Quran (perumpamaan dalam Al Quran), namun memiliki titik fiksi yang jelaskan adanya peradaban menulis yang kuat dari para penyair arab klasik pra Islam hingga para Ulama pasca wafatnya Rasulullah. Al Suyuthi (W. 911 H) misalnya, menelurkan 600 judul kitab, Al Ghazali (W.505 H) 457 judul (versi orientalis 404 judul), An Nawawi (W. 676 H) 115 judul, hingga Syaikh India Maulana Hakimatul Ummah Asyraf Ali At-Tahanawi (W. 1362 H) dalam usia 81 tahun, beliau telah menulis 1000 judul kitab.

Ulama-ulama dulu menjadikan Islam benar-benar terlelap dalam ninabobo kenikmatan intelektual, baik Islamic studies maupun disiplin ilmu umum. Namun, setelah semua kenikmatan intelektual itu dilahap para pengkaji Islam (baca: murid), mereka terlena dan lupa menulis kembali dan menelurkan karya-karya tulis yang segar. Mereka seakan takut menyaingi para ulama dan Syehnya. Dengan karya itu, mereka merasa cukup dengan menggunakannya sebagai panduan studinya. Paradigma ini menjadikan mereka kurang subur dalam publikasi selama berabad-abad. Hingga kini, dengan alasan sama (ditambah alasan lain), para Ulama telah kekurangan daya menulisnya, termasuk Ulama di Sulawesi selatan yang dikenal dengan kharismanya semerbaknya.

Menilik jumlah publikasi para  Ulama Sulawesi yang dikenal cukup produktif tersebutlah Anre Gurutta (AG.) Haji Muhammad As’ad dari Pesantren As’adiyah, Sengkang misalnya, menelurkan kurang lebih 23 judul. Murid-muridnya seperti AG. Yunus Martan, AG. Abdurrahman Ambo Dalle, AG. Daud Ismail, AG. Lanre Said, AG. Muin Salim, dan AG. Hamzah Manguluang, (sementara AG. Muhammad Abduh Pabbaja dan AG. Muhammad Nur, belum terdata) juga menelurkan beberaap karya. Misalnya, AG. Yunus Martan menelurkan Asshalaatu Imaduddin atau Shalat itu tiang agama (tentang fikih ibadah shalat) yang ditulis tangan dalam lontara Bugis oleh puteranya sendiri AG. Prof. H. Muh. Rafi Yunus Martan. MA, Ph.D (Pimpinan Pesantren As’adiyah, Sengkang), sampai sekarang karya fikih Ulama kharismatik itu masih dibaca dan dicari-cari orang.

Sedangkan muridnya, AG. H. Abdul Ghani menelurkan karya tulis dalam bidang Ilmu Sharaf dan Arudhi yang menjadi konsumsi para santri di Sengkang, Wajo. Pula dengan AG. Ambo Dalle, karya-karyanya dijadikan buku wajib bagi santri di pondok Pesantren DDI (Darudda’wah wal Irsyad) selama puluhan tahun.

Bagaimana dengan Ulama-ulama Sulawesi Selatan yang masih hidup (Thaalallahu hayaatahum) seperti Prof. Dr. AG. H, Farid Wajdi, MA (Mangkoso), AG. Sanusi Baco (MUI), AG. Abunawas Bintang (Sengkang). AG. Muhammad Haritsah (Makassar), AG. Wahab Zakariya (Mangkoso), AG. Makkah Abdullah (Sidrap), AG. Abdul Latif Amien (Bone), KH. Ma’ruf Amien (Soppeng), KH. Abu Bakar Pakka (Gowa), dan beberapa Ulama lainnya?

Sampai sekarang belum terdengar ditelinga adanya karya tulis mereka yang dipublikasikan penerbit dan dilahap khalyak muslim. Barangkali ada, namun dalam skala kalangan terbatas, seperti buku AG. Abunawas Bintang, memiliki karya berjudul Bokong Temmawari, sebuah risalah tanya jawab persoalan Umat Islam di Tana Bugis yang barangkali hanya akan dikonsumsi orang-orang yang paham bahasa Bugis dari warga sekitar Sengkang saja atau karya tentang hukum membaca Barazanji (penulis lupa dengan judulnya karena sudah lama sekali sejak membacanya) yang digawangi oleh Prof. Dr. AG. H, Farid Wajdi, MA (sebelum mendapat Doktor (HC) dan Professor) bersama rekan-rekannya, kini tidak dicetak lagi.

Beberapa diantara mereka hanya mampu menulis sebatas artikel dan semacamnya seperti artikel opini yang tulis AG. Muhammad Haritsah dengan judul ‘Menjaga Warisan Ulama’ di Tribun Timur (29/06/12). Sayang, tulisan semacam inipun terbilang jarang ditemui. Jangan Tanya tentang buku karya mereka yang menjadi konsumsi para santrinya dan khalayak.

Keadaan di atas tergolong darurat dalam dunia intelektualisme Islam. Banyak Ulama yang terpesona dan tergoda bahkan membatasi transfer keilmuaan dan khazanah keislamannya via verbal seperti ceramah di Masjid, seminar kampus, radio, dan TV. Padahal siar semacam ini tidak akan bertahan lama. Akan tergerus pasar berbalut kepentingan popularitas, ekonomi dan politik.

Merujuk kepada kata sahabat Ali ra. ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Maka dipandang sangat perlu seorang Ulama menuliskan ilmu yang ia dapatkan sebagai warisan paling berharga untuk generasi muslim berikutnya. Seperti isyarat Prof. Dr. Yudian Wahyudi, Ulama harus menulis. Maka Ulama kini diharap untuk tidak meninggalkan tradisi para Ulama klasik, meski itu hanya berupa karya yang sangat sederhana. Bukankah kitab Arba’un, karya tipis Imam An Nawawi berupa kumpulan 40 hadits yang ternyata sampai sekarang menjadi santapan sedap yang dicari-cari hampir di seluruh lembaga pendidikan Islam di dunia. (Termasuk mahasiswa jurusan tafsir hadits fakultas ushuluddin UIN Alauddin dan UMI Makassar, serta Mahasantri Ma’had Al Birr Unismuh, dan sebagainya).

Kendala kemampuan mengoperasikan komputer yang minim bukan menjadi alasan untuk tidak mengasilkan karya tulis, Ulama-Ulama Nusantara sepeti Abdul Rauf As Sinkili (1615-1693) dan Syech Yusuf Al Makassari (1626-1699), Abdussamad al-Falimbani (w. 1789), Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812), Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1879), dan sebagainya tentu menulis dengan pena yang melekat di jari-jari tangannya dan menari-nari di atas kertas. Bahkan para santri tentu senang jika bisa memediasi tulisan tangan Anre Gurunya ke format komputer.

Menulis Adalah Ibadah

Disamping dengan jari dan pena, para Ulama klasik menulis dengan cara mengurangi waktu makan, menulis di pengasingan dan penjara, di waktu sepertiga akhir malam, antara sholat lima waktu, menulis sambil makan, dan dengan bakat kemampuan menulis cepat, seperti Ibnu Taimiyah. Ulama yang menghasilkan sekitar 500 jilid karya tulis itu mampu menulis tentang satu masalah hingga nyaris tak ada batasnya. Ulama dengan banyak talenta disiplin studi Islam ini pula, mampu menulis dua sampai tiga lembar (6 halaman) dalam sekali duduk.

Menulis bukan hanya akan mengkekalkan penulisnya, melainkan karya tulisnya itu akan menjadi warisan paling berberkah dan semerbak intelektual. Ulama Sulawesi Selatan dipandang perlu melirik Ulama-Ulama di pulau Jawa, Ulama-Ulama di Jawa banyak yang menulis karya disiplin pengetahuan Islam yang kemudian dikonsumsi oleh para santri dan bahkan menulis buku-buku yang dilahap oleh masyarakat luas. Meski Sulawesi Selatan dikenal sebagai lumbung Ulama cerdas dan kharismatik, namun kecerdasan ini tidak akan abadi jika tidak dikekalkan dengan pena. Menulis adalah pekerjaan yang tentu melelahkan, tapi itu cuma sejenak, namun menghasilkan keilmuan yang abadi.

Tulisan (opini) ini sebagai penghormatan kepada para Ulama Sulawesi Selatan untuk menjadikan kualitas ummat gemar membaca, tentu karya-karya Ulama Sulawesi Selatan akan membuat ummat penasaran dan membaca karya-karya Ulama yang telah lama dikenalnya tersebut. Karya para Ulama juga akan menjadi sedekah jariyah yang menjadi investasi akhirat tersendiri bagi dirinya.

Menghidupkan kembali minat menulis (ihya al kitabah) para Alim Ulama adalah pekerjaan rumah bagi Ulama juga. Pula peranan penerbit buku lokal untuk mendorong para Ulama Sulawesi Selatan dirasa perlu sebagai motivasi agar Ulama menulis karya. Demikian pula kampus-kampus Islam seperti UIN, UMI, UNISMUH, UIM, dan STAIN barangkali perlu menawarkan metodologi menulis yang mudah bagi para Ulama-ulama Bugis Makassar sebagai upaya meningkatkan kualitas tulisan agar lebih nyaman dibaca. Tak terkecuali bagi Ulama-Ulama muda, baik lulusan Al Azhar Kairo, Sudan, Yaman, Mekah, dan Madinah atau Ma’had Aly, agar melatih kemampuan jurnalistik agar ikut dalam proyek Ihya al kitabah (menghidupkan tulis-menulis) dan melestarikan kembali spirit budaya dan tradisi menulis para Ulama terdahulu yang mulai surut agar Islam kembali mengenggam kejayaannya di bidang Intelektual seperti di Kordova, Mesir, Syiria, dan Bagdad yang dikenal sebagai markaz Ulama penulis yang berpengaruh di dunia Islam.

Untuk tidak mengatakan menagih hutang, maka penulis dengan segala hormat meminta kepada Anre Gurutta agar “melunasi” ketertinggalan Islam yang menghantui ummat dengan energi Qalam.
Kami ingin Sulawesi Selatan kian dikenal sebagai lumbung Ulama Kharismatik. Melahirkan Ulama-Ulama cerdas nan kharismatik yang diakui secara nasional bahkan internasional, melahirkan muballigh nasional/internasional yang juga menjadi dosen sekaligus tokoh masyarakat seperti Prof. KH. Ali Yafy, Prof. Dr. Umar Shihab, Prof. Dr. Quraish Shihab, dan sebagainya. Dimana karya mereka banyak diburu dan dilahap para peminat studi Islam, baik dalam maupun luar negeri.

===