Breaking News

Senin, 03 September 2012

PERJALANAN SEOARANG MASTER CEREMONY ADAT BUGIS

KABARKAMI. Master Ceremonial atau MC adalah satu dari sekian profesi yang dapat ditekuni oleh sebagian besar orang terutama yang bergerak dibidang entertainment. Namun lain halnya dengan MC Adat dalam hal ini adat bugis. Jenis MC yang menuntut kedalaman pemahaman akan budaya ini, hingga kini masih terbilang kurang. MC Adat biasanya ditemui pada acara pernikahan dengan mengedepankan pengenalan budaya bugis. Jika pada sejumlah perhelatan dipandu dengan MC berbahasa Indonesia, MC Adat bugis dilakukan dengan menggunakan bahasa bugis klasik yang sarat makna. Pesan-pesan pribahasa bugis (Pappaseng Ogi) memberikan nuansa adat yang kuat, juga pada iringan musik khas yang menyertainya. Inilah yang tengah dilakoni oleh Suryadin Laoddang, pria berdarah bugis Sengkang yang kini menetap di kota budaya Yogyakarta.

Suaranya yang berat dengan dialek bugis yang kental menjadi trade mark pria yang juga akrab disapa Adin ini. Karirnya sebagai MC Adat melejit setelah menghadiri sedikitnya delapan puluh enam pesta nikahan adat Jawa dan Sunda sejak tahun 2000 lalu. Pertamakali terjun dalam MC Adat, ia manggung dalam acara nikahan adat Bugis di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Solo, Boyolali, Semarang, Malang Cilacap, Surabaya bahkan hingga ke Batam. Saat didapuk menjadi MC dalam pernikahan Adat Bugis di Purwokerto yang kebetulan dihadiri beberapa pembesar adat asal Sul-Sel dan staff dinas Pariwisata beberapa kabupaten di Sul-Sel, Adin menuai pujian. “Macuana nak monro lino, nappanna usedding engka palariwi sungeku, idi’mani” (* seumur hidupku, baru kali ini sesuatu mengharu perasaanku) puji seorang pemangku adat asal Wajo yang mengakui jika seumur hidupnya, baru kali ini ada yang mampu mengharu-birukan perasaannya, dan itu lewat MC Bahasa Bugis.

Di akhir acara, naskah MC yang jadi pegangan Adin menjadi rebutan beberapa pihak, mereka pun harus kecewa, mendapati semua kalimat dan kata yang diucapkan sang MC ternyata tidak semua tertulis dalam naskah tersebut. Adin memandu acara tanpa teks, seolah sudah hafal dan di luar kepala. “MC seperti ini memang harus sering improvisasi, karena tatanan nikahan adat Bugis memiliki varian yang berbeda, terutama dari segi penamaan acara, warna, simbol dan ornament yang dipakai. Itu artinya seorang MC nikahan adat seperti ini memang harus mengusai juga detail budaya itu, itu idealisme saya” tegas Adin pada salah seorang tamu undangan seusai perhelatan.

Sementara itu, Dina Syarif (25) salah satu kerabat empunya hajat menuturkan “Pengusungan materi pelafalan dan pemilihan kosa-kata Bugis puitis daeng Adin, membuat kami terkesima. Ketika tiba-tiba turun hujan saat prosesi sebuah acara adat “mappacci”, ia mengurai makna hujan yang dikaitkan dengan pernikahan dalam budaya Bugis. Pria yang juga pernah menjadi MC spesialis acara anak-anak serta instruktur MC di Yogyakarta ini tak jarang menjadi backing sound pada sejumlah iklan, film dokumenter hingga pementasan budaya di Yogyakarta.

Ditemui di tengah diskusi budaya rutin yang digelarnya bersama Forum Kajian Budaya Sul-Sel-Bar di beberapa Asrama Mahasiswa secara bergilir di Yogyakarta, ia menuturkan bahwa ketertarikannya terhadap budaya bugis berawal sejak tamat di bangku SMA. Ketertarikan itu menjadikan pria yang dikenal tegas tapi juga “humoris” ini sangat antusias terhadap literatur budaya bugis. Hingga kini, tercatat kurang lebih 260 buah buku tentang budaya Bugis-Makassar-Mandar-Toraja-Kajang-Tolotan yang dikoleksinya. Koleksi tersebut banyak menjadi rujukan skripsi, tesis, disertasi dan karya ilmiah para pelajar di Yogyakarta dan pelajar dari beberapa kota lainnya seperti Bandung, Jakarta, Malaysia, bahkan dari Makassar sendiri. Di Yogyakarta, sosok yang dikenal anti “budaya ngaret” ini aktif di sejumlah forum budaya. Wajar, jika orang-orang di lingkungannya memanggilnya sebagai budayawan muda berbakat Sulawesi Selatan.

(Arda Wardahna – Penulis adalah lulusan Magister Ilmu Komunikasi UGM)

Reportase ini telah tayang di www.kabarkami.com, 1 September 2012



Read more ...

MC BERBAHASA BUGIS KIAN DIMINATI DI JAWA-SUMATERA

Yogyakarta, Inspirasi-usaha.com: Mana mungkin bisa eksis menjadi seorang master of ceremony (MC) spesialis berbahasa Bugis di Tanah Jawa? Tapi, itulah kekuatan ide yang tidak “lazim”. Meski awalnya banyak yang meragukan ‘pangsa pasarnya”, namun faktanya, langkah “nekat” pria Bugis bernama Suryadin Laoddang yang menetap di Yogyakarta ini kini sudah merambah Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, hingga beberapa kota di Sumatra.

Yuni (35) seorang Pegawai Negeri Sipil di Yogyakarta tak kuasa menahan air matanya saat menghadiri resepsi pernikahan bernuansa adat Bugis di Auditorium Universitas Pembangunan Negara Yogyakarta, 9 Juni 2012 lalu. Saat mempelai menjejakkan kaki di teras gedung, tiba-tiba terdengarlah rapalan-rapalan doa yang dikenalinya sebagainya doa sakral dalam bahasa Bugis klasik dan telah puluhan tahun tak didengarnya.

Belum hilang rasa gamangnya, lafal-lafal sakral itu tiba-tiba ditimpali dengan irama musik klasik khas tanah Bugis. Melengkinglah suara pui-pui, suling, seirama dengan hentak suara gendang dalam irama musik pakkanjara’. “Bee, kembaliki sumange’ku Ndi. Lamanya baru kudapat beginian lagiE, bahkan di tanah Sulawesi pun sudah susahmi,” tutur perempuan  berjilbab ini dalam bahasa Indonesia khas Makassar.

Hayati  dari INSPIRASI USAHA juga hadir di arena tersebut sebagai tamu undangan. Setelah ngobrol sana-sini, ternyata pihak mempelai perempuan memang sengaja menghadirkan nuansa adat Bugis dan memadukannnya dengan adat Jawa. Mengingat ayah sang mempelai berdarah Bugis, sedangkan ibu Jawa.

Dalam setiap panduannya, MC selalu melafalkan beberapa kosa kata Bugis yang terdengar klasik, dengan tata bahasa yang halus lalu diikuti dengan terjemahan bahasa Indonesia.

“Sengaja kami campur dua bahasa ini, agar para tamu juga paham akan makna dari acara itu. Mulai dari makna dan filosofi warna baju yang dipakai mempelai, makna ornament dan alat-alat lainnya. Anggaplah ini perkenalan budaya Bugis di tanah Jawa,” tutur Suryadin Laoddang sang MC di sela-sela rehatnya.

Profesi MC adat Bugis telah dijalani pria yang akrab disapa Adin ini sejak tahun tahun 2000. Ia belajar secara otodidak. Semua berawal dari “kejengkelannya” melihat betapa indahnya bahasa Jawa dan Sunda menjadi bahasa pengantar MC.

“Kalau bahasa Jawa dan Sunda bisa, kenapa bahasa Bugis tidak” pikirnya kala itu. Maka sejak itulah ia mengumpulkan berbagai literatur dan catatan tentang detail pernikahan adat Bugis. Sambil mengumpulkan, ia juga melakukan studi banding, dengan mendatangi sekitar 80-an acara nikah adat Jawa dan Sunda di pulau Jawa. Dari situlah Adin belajar dan menemukan pakem cara dan tehnik MC nikahan adat yang pas. Mulai dari urutan acara, olah suara, olah gestur tubuh hingga pada pemilihan kata, yang ternyata sangat berbeda dengan acara-acara formal lainnya.

“Awalnya saya tidak pernah berpikir kalau MC seperti ini akan menjadi profesi saya. Maka saat itu saya rela tak dibayar, yang penting saya tampil dan bisa memperkenalkan budaya Bugis” Cerita ayah dari satu orang anak ini.

Untuk menghadirkan nuangsa Adat Bugis dalam setiap perhelatan, Adin kerap mengajak serta mitra kerjanya yang lain. “Kami ada mitra yang spesialis menyiapkan pakaian pengantin, tata rias, pelaminan. Adapula yang spesialis menyiapkan makanan khas Sulawesi Selatan. Ada pula yang spesialis musik dan tari-tarian. Bahkan ada juga mitra yang spesialis menyiapkan personil yang siap membantu sebagai perangkat acara seperti penerima buku tamu, pengiring mempelai dan lainnya.

Menurut budayawan Bugis ini, jika ditekuni dan diseriusi profesi MC berbahasa Bugis, maka akan memperolah penghasilan yang lumayan. Jika semua dapat diukur murni dengan tarif bisnis maka tarif MC saja sekitar Rp1 juta hingga Rp3 juta. Ini setara dengan tarif MC adat Jawa dan Sunda.

Untuk musik dan tari-tarian tarifnya minimal Rp2,5 juta. Sementara untuk kostum, rias dan pelaminan tarif paling murah Rp8 juta. “Kendalanya adalah kadang kita tidak memakai skala bisnis, melainkan harga kekeluargaan. Karena yang punya acara adalah keluarga sendiri," ujarnya.

Jika memang lagi musim nikahan, dalam satu musim Adin bersama mitra kerja minimal mendapatkan orderan sebanyak dua kali. Sejauh ini Adin sendiri sudah pernah dipercaya menjadi MC nikahan adat diberbagai kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Solo, Boyolali, Semarang, Malang, Cilacap, Surabaya hingga ke Batam.

Ke depan, Adin bercita-cita akan membuka kursus MC Adat Bugis Makassar di Yogyakarta dan Makassar.(RIN)

Reportase ini telah tayang di Majalah Inspirasi Usaha Edisi Juli 2012 dan www.inspirasi-usaha.com, 30-8-2012

*****
Read more ...

Senin, 13 Agustus 2012

PEREMPUAN (BUGIS) BERHIJAB SARUNG


Judul tulisan ini memang terinspirasi dari judul film “Perempuan Berkalung Sorban”, tapi hanya sebatas judulnya. Inspirasi utama dari tulisan ini adalah tradisi kaum perempan Bugis dalam memakai sarung, inspirasi ini juga bergayung sambut saat mendapati sebuah foto perempuan Bugis yang menutup dirinya dengan kain sarung. Foto tersebut penulis dapatkan dalam naskah buku “Suara-suara dalam lokalitas” buah pena dari Prof. DR. Nurhayati Rahman. Naskah yang proses terbitnya sedang digarap oleh penulis.

Sarung memang tak pernah lepas bagi keseharian orang Bugis. Tua, muda, kanak-kanak senantiasa mengenakannya. Sarung juga tak mengenal bias gender. Laki, perempuan bahkan kaum trans gender juga mengenakannya. Jika kaum pria menggunakannya untuk ibadah, bekerja dan beberapa aktifitas lainnya, pun juga dengan perempuan. Sarung oleh kaum perempuan Bugis juga dikenakan dalam kesehariannya. Sarung mereka pakai untuk beribadah, mandi bahkan untuk urusan dapur, sumur dan kasur.

Ada satu tradisi memakai sarung kaum perempuan bugis yang tak bakalan dilakukan kaum pria, bahkan mungkin tak ditemui di entnis lainnya dimuka bumi ini. Perempuan bugis menggunakan sarung untuk menutupi area terlarangnya saat mereka berada diruang umum, saat mereka berlalu didepan khalayak serta saat mereka keluar rumah. Jika dipaksakan untuk mencari analogi yang mendekati pada jaman sekarang, maka tradisi perempuan bugis tersebut mirip dengan tradisi memakai hijab para perempuan Arab. Memakai kain gombrang menutup sekujur tubuhnya, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Hanya muka yang tampak (kadang hanya kelopak mata), bahkan bentuk dan lekuk tubuhpun tak tampak.

Cara menutup tubuh itupulah yang kita dapati saat perempuan bugis mengenakan dua buah sarung untuk menutup tubuhnya. Satu sarung dipakai pada tubuh bagian bawah, mulai dari uluhati hingga mata kaki. Ujung sarung di uluhati tadi dibebat kencang dengan ujung kain yang diselipkan di sela kain dan kulit tubuh, kadang juga sengaja mengikatkan ujung kain pada satu sisi dengan sisi lainnya. Cara kedua ini lebih banyak dipakai, selain lebih kencang (tidak gampang melorot) juga memaksimalkan efek gombrang saat dipakai.

Satu sarung lainnya dipakai dengan cara menjadikan kain sarung sebagai selubung tubuh, menutupi ujung kepala hingga pertengahan paha. Kurang dari satu setengah jengkal ujung atas tetap dibuka (seukuran wajah) agar tak menghalangi pandangan pemakainya. Sehingga dari depan hanya tampak wajahnya, bahkan pada kondisi tertentu yang tampak hanyalah dua mata sang pemakai, sehingga ujung yang terbuka seolah segaris dengan mata pemakainya.

Kenapa perempuan bugis menutupi tubuhnya sedemikian rupa?

Kondisi ini tidak terlepas pada ajaran kearifan lokal bugis yang menganggap perempuan sebagai sebuah kehormatan yang harus dijaga dengan takaran darah dan nyawa. Inilah alasan kenapa perempuan bugis selalu memiliki tau masiri, pria yang menjadi penjaga kehormatannya, pria yang wajib berkorban membela, mempertahankan dan mengembalikan kehormatan perempuan yang dijaganya, perempuan yang menjadi to risirisi-nya. Ketika perempuan tersebut berada ditempat umum dengan menampakkan bagian terlarang dari tubuhnya, maka sang tomasiri-lah yang malu berat, ia akan menegur sang perempuan. Jika ia tak mampu lagi menegurnya, pilihan terbaiknya adalah sang pria harus meninggalkan kampung halamannya, merantau agar ia tak menjadi sasaran hinaan masyarakat setempat. Sementara bagi sang perempuan yang “tak mau diatur”, maka ia akan dikurung dalam rumah atau ia di pali, diungsikan ketempat lain yang jauh dari kampungnya.

Tradisi memakai hijab ini sudah dikenal masyarakat bugis jauh sebelum agama islam masuk ke tanah Bugis itu sendiri. Makin membudaya kala ajaran agama islam telah diterima di tanah bugis pada kisaran abad XVI-XVII. Hal yang menunjukkan ajaran adat (pangadereng) bugis sejalan dengan hukum syariah (syaraq) islam, minimal dalam urusan menutup aurat. Hijab sarung ini mulai berlaku pada kisaran abad IX-X. Sayang hijab dengan sarung ini mulai pudar sejak adanya baju bodo yang kala itu masih tipis dan transparan, diperparah lagi dengan kebijakan pemerintah pusat kala itu “memaksakan” baju kebaya (Bugis:Kobaja) menjadi busana nasional.

Kini jamak kita temui perempuan bugis di berbagai tempat dengan bangganya melenggak dengan menampakkan area terlarangnya, termasuk lekuk tubuhnya. Parahnya lagi, kadang pakaian dalamnya kelihatan. Jika dulu perempuan bugis yang berhijab sarung mendapat pujian “niganaro anaq dara iyaro? Malebbimani, namoha ille matanna dettona nrulle mita” (siapa gerangan dara itu, sungguh anggun dan santun, bahkan sekedar melihat garis matanyapun kita tak mampu). Kini pujaan itu berganti cibiran “nigana anaq dari iyaro? Demanagaga sirina, namohan wille pelli-pellinna yodding toni irita” (siapa gerangan dara itu, tak kenal malu, hingga belahan pantatnyapun dengan mudah kita lihat).

Sungguh ironis!




Read more ...