Senin, 13 Agustus 2012

PEREMPUAN (BUGIS) BERHIJAB SARUNG

Standard


Judul tulisan ini memang terinspirasi dari judul film “Perempuan Berkalung Sorban”, tapi hanya sebatas judulnya. Inspirasi utama dari tulisan ini adalah tradisi kaum perempan Bugis dalam memakai sarung, inspirasi ini juga bergayung sambut saat mendapati sebuah foto perempuan Bugis yang menutup dirinya dengan kain sarung. Foto tersebut penulis dapatkan dalam naskah buku “Suara-suara dalam lokalitas” buah pena dari Prof. DR. Nurhayati Rahman. Naskah yang proses terbitnya sedang digarap oleh penulis.


Sarung memang tak pernah lepas bagi keseharian orang Bugis. Tua, muda, kanak-kanak senantiasa mengenakannya. Sarung juga tak mengenal bias gender. Laki, perempuan bahkan kaum trans gender juga mengenakannya. Jika kaum pria menggunakannya untuk ibadah, bekerja dan beberapa aktifitas lainnya, pun juga dengan perempuan. Sarung oleh kaum perempuan Bugis juga dikenakan dalam kesehariannya. Sarung mereka pakai untuk beribadah, mandi bahkan untuk urusan dapur, sumur dan kasur.

Ada satu tradisi memakai sarung kaum perempuan bugis yang tak bakalan dilakukan kaum pria, bahkan mungkin tak ditemui di entnis lainnya dimuka bumi ini. Perempuan bugis menggunakan sarung untuk menutupi area terlarangnya saat mereka berada diruang umum, saat mereka berlalu didepan khalayak serta saat mereka keluar rumah. Jika dipaksakan untuk mencari analogi yang mendekati pada jaman sekarang, maka tradisi perempuan bugis tersebut mirip dengan tradisi memakai hijab para perempuan Arab. Memakai kain gombrang menutup sekujur tubuhnya, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Hanya muka yang tampak (kadang hanya kelopak mata), bahkan bentuk dan lekuk tubuhpun tak tampak.

Cara menutup tubuh itupulah yang kita dapati saat perempuan bugis mengenakan dua buah sarung untuk menutup tubuhnya. Satu sarung dipakai pada tubuh bagian bawah, mulai dari uluhati hingga mata kaki. Ujung sarung di uluhati tadi dibebat kencang dengan ujung kain yang diselipkan di sela kain dan kulit tubuh, kadang juga sengaja mengikatkan ujung kain pada satu sisi dengan sisi lainnya. Cara kedua ini lebih banyak dipakai, selain lebih kencang (tidak gampang melorot) juga memaksimalkan efek gombrang saat dipakai.


Satu sarung lainnya dipakai dengan cara menjadikan kain sarung sebagai selubung tubuh, menutupi ujung kepala hingga pertengahan paha. Kurang dari satu setengah jengkal ujung atas tetap dibuka (seukuran wajah) agar tak menghalangi pandangan pemakainya. Sehingga dari depan hanya tampak wajahnya, bahkan pada kondisi tertentu yang tampak hanyalah dua mata sang pemakai, sehingga ujung yang terbuka seolah segaris dengan mata pemakainya.

Kenapa perempuan bugis menutupi tubuhnya sedemikian rupa?

Kondisi ini tidak terlepas pada ajaran kearifan lokal bugis yang menganggap perempuan sebagai sebuah kehormatan yang harus dijaga dengan takaran darah dan nyawa. Inilah alasan kenapa perempuan bugis selalu memiliki tau masiri, pria yang menjadi penjaga kehormatannya, pria yang wajib berkorban membela, mempertahankan dan mengembalikan kehormatan perempuan yang dijaganya, perempuan yang menjadi to risirisi-nya. Ketika perempuan tersebut berada ditempat umum dengan menampakkan bagian terlarang dari tubuhnya, maka sang tomasiri-lah yang malu berat, ia akan menegur sang perempuan. Jika ia tak mampu lagi menegurnya, pilihan terbaiknya adalah sang pria harus meninggalkan kampung halamannya, merantau agar ia tak menjadi sasaran hinaan masyarakat setempat. Sementara bagi sang perempuan yang “tak mau diatur”, maka ia akan dikurung dalam rumah atau ia di pali, diungsikan ketempat lain yang jauh dari kampungnya.


Tradisi memakai hijab ini sudah dikenal masyarakat bugis jauh sebelum agama islam masuk ke tanah Bugis itu sendiri. Makin membudaya kala ajaran agama islam telah diterima di tanah bugis pada kisaran abad XVI-XVII. Hal yang menunjukkan ajaran adat (pangadereng) bugis sejalan dengan hukum syariah (syaraq) islam, minimal dalam urusan menutup aurat. Hijab sarung ini mulai berlaku pada kisaran abad IX-X. Sayang hijab dengan sarung ini mulai pudar sejak adanya baju bodo yang kala itu masih tipis dan transparan, diperparah lagi dengan kebijakan pemerintah pusat kala itu “memaksakan” baju kebaya (Bugis:Kobaja) menjadi busana nasional.

Kini jamak kita temui perempuan bugis di berbagai tempat dengan bangganya melenggak dengan menampakkan area terlarangnya, termasuk lekuk tubuhnya. Parahnya lagi, kadang pakaian dalamnya kelihatan. Jika dulu perempuan bugis yang berhijab sarung mendapat pujian “niganaro anaq dara iyaro? Malebbimani, namoha ille matanna dettona nrulle mita” (siapa gerangan dara itu, sungguh anggun dan santun, bahkan sekedar melihat garis matanyapun kita tak mampu). Kini pujaan itu berganti cibiran “nigana anaq dari iyaro? Demanagaga sirina, namohan wille pelli-pellinna yodding toni irita” (siapa gerangan dara itu, tak kenal malu, hingga belahan pantatnyapun dengan mudah kita lihat).

Sungguh ironis!




Sabtu, 04 Agustus 2012

ORANG BUGIS MEMBACA PENANGGALAN BULAN DENGAN KAIN SARUNG

Standard
Di Indonesia dan belahan dunia lainnya, awal dan akhir ramadhan selalu ramai dengan polemik terkait penentuan awal dan akhir ramadhan itu sendiri. Penyebabnya adalah metode yang dipakai untuk menemukan patokan awal dan akhir ramadhan tersebut. Ada yang berpegang pada kriteria rukyatul hilal, ada yang wujudul hilal, yang terbaru ada lagi kriteria visibilitas Hilal.

Terlepas dari kriteria manakah yang paling tepat, kali ini penulis akan berbagi ikhwal cara orang Bugis dalam membaca penanggalan bulan dengan bantuan kain sarung.

Sederhananya orang Bugis memandang bulan dari bumi, memperhatikan perubahan bentuk (fase perubahan) bulan dari hari ke hari. Secara umum ada tiga fase bentuk bulan yang dikenal oleh masyarakat Bugis yakni; mula mompona ulengnge (Arab: Hilal, Ingris: New Moon) sebagai fase awal munculnya bulan dengan bagian yang tampak dibumi sangatlah tipis, disusul dengan fase tefui ulengnge (Arab: Badru Qamil, Ingris: Full Moon) sebagai fase yang akrab disebut purnama, saat bulan terbentuk sempurna. Fase terakhir adalah fase labui ulengnge, bulan sudah menghilang dari pandangan mata telanjang manusia. Fase atau siklus bulan tergambar pada gambar diatas.

Agar pandangan mata orang Bugis yang melihat atau membaca penanggalan bulan tidak bias, maka dipakailah sarung sebagai alat bantu. Tidak semua orang Bugis bisa melakukan tehnik ini. Bukan karena persoalan mistis, karena tehnik ini memang tak bermuatan mistis sama sekali. Melainkan orang yang ingin melakukanya harus melalui proses latihan yang panjang, semakin sering berlatih semakin sempurna hasil pengamatannya.

Selapis kain sarung diambil lalu ditempelkan diwajah yang bersangkutan. Kain sarung direntangkan sekencang mungkin terutama di area mata. Kain sarung sebaiknya adalah kain berbahan sutera dan hasil tenunan bukan kain katun atau bahan benang lainnya dari keluaran pabrik atau hasil pabrikan. Hal ini merujuk pada tingkat kerapatan kain tenun sutera yang menyisakan rongga tipis yang memungkinkan untuk melihat bulan dari celah tersebut.

Setelah kain merapat di area mata, selanjutnya pandangan diarahkan ke bulan untuk menentukan usia dari bulan tersebut berdasarkan bentuk bulan saat itu. Agar tidak salah dalam melihat bentuk bulan, maka pengamatan harus fokus dan tidak terganggu dari bias cahaya alam seperti bintang maupun cahaya buatan seperti lampu atau api. Disinilah sarung tersebut kembali memainkan peran gandanya, kain sarung tenun tadi juga berfungsi sebagai penapis cahaya yang tak diinginkan, sehingga pandangan menjadi fokus pada bulan.

Bagi pemula, proses penanggalan diawali dengan mengenali lima fase utama dari bentuk bulan yakni pada tanggal 1, tanggal 7, tanggal 15, tanggal 22 dan tanggal 30. Tanggal 1 ditandai dengan awal muncul bulan dengan lapisan bercahaya yang sangat tipis, tanggal 7 ditandai dengan bulan yang bentuk separuh, tanggal 15 ditandai dengan bulan yang telah terbentuk sempurna (purnama), tanggal 22 bulan terbentuk sebagai kebalikan dari tanggal 7. Sementara tanggal 30 ditandai dengan bulan tidak tampak sama sekali. Bentuk bulan pada masing-masing fase ini harus dihafal oleh sang pemula.

Bagi mereka yang sudah tingkat lanjut selain patokan diatas, mereka juga (lebih banyak) menggunakan patokan pada tanggal 5, tanggal 10, tanggal 15, tanggal 20 dan tanggal 25 pada bulan tersebut. Patokan selang 5 hari inilah yang menjadi hari pasaran selang 5 hari (pasa lima-lima) dalam masyarakat Bugis. Lima hari pasaran tersebut adalah Massura (pasaran hari ke-5), Bisnong (pasaran hari ke-10), Barahamang (pasaran hari ke-15/purnama), Sirri (pasaran hari ke-20), Kala (pasaran hari ke-25). ­Pasaran pada hari pertama disebut pasa roa. Pasa roa jarang dipakai karena siklus bulan sendiri memakan waktu sekitar 29,530589 hari. Satu bulan menurut menurut penanggalan qomariah terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari.

Tehnik penanggalan seperti ini sudah jarang dilakukan saat ini, mungkin pula sudah tidak ada yang mampu melakukannya. Selain karena dianggap kuno, tehnik ini sangat rawan tingkat keakuratannya. Selain faktor manusia yang kurang terlatih, faktor alam juga sangat berpengaruh. Saat ada awan atau saat mendung dan hujan tehnik tidak bisa dipakai. Terlebih bagi mereka yang tinggal didaerah pegunungan (kontur daerah dominan di tanah Bugis), mereka tidak akan mampu membaca awal bulan karena terhalang oleh bukit/gunung, melihat dan menentukan awal bulan sangat cocok bagi orang Bugis yang tinggal di daerah pesisir dan akan makin nampak jika sedang berada ditengah lautan lepas.

Kesimpulannya, tehnik Bugis ini tidak bisa dijadikan rujukan untuk menentukan awal dan akhir ramadhan tahun ini.

==============
Sumber : Imam Semar (Foto)

Terima kasihku untuk para tetuaku (Almarhum), masing-masing La Sabang, I Dawiyah, La Tabbulu, I Kasumang, I Sanabe dan La Fuasa. ayahku La Oddang dan ibuku Sennahati yang telah mengajarkan tehnik ini padaku saat kecil dulu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menyesal aku sudah acuh terhadap pelajaran ini.















Rabu, 01 Agustus 2012

ORANG BUGIS MEMANUSIAKAN TAMU DENGAN TIGA LEMBAR SARUNG

Standard
Sarung dan orang Bugis, sebuah keniscayaan yang hakiki. Pada banyak tempat, orang yang senantiasa memakai atau memakai sarung pasti selalu diidentikkan dengan orang Sulawesi. Kata Sulawesi mewakili suku Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Tolotang, Kajang serta beberapa sub etnis lainnya di Sulawesi Selatan, berikut suku dan etnis di wilayah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Gorongtalo.

Memakai sarung memang identik dengan mereka, hampir semua aspek kehidupan dan aktifitas keseharian mereka lekat dengan sarung. Sarung dapat mereka pakai untuk acara resmi, semi resmi dan tidak resmi. Sarung dapat mereka pakai di dalam rumah, di luar rumah hingga di tempat umum. Sarung dapat juga mereka pakai untuk tidur, makan, bekerja di ladang, menggarap sawah, beribadah hingga bersenggama.

Seorang rekan penghuni asrama mahasiswa di Yogyakarta lebih memilih memakai sarung untuk mengeringkan badannya setelah mandi dibanding memakai handuk. Baginya dengan memakai sarung, maka “ritual” mandinya terasa lebih sempurna, betul-betul terasa telah mandi karena lembabnya kain sarung akibat resapan air mandi dalam sarung itu membuat kulitnya terus basah. Beda jika memakai handuk, dengan cara melapkan kesukujur tubuh, sehingga air mandi langsung hilang, dan kulitpun kembali kering.

Rekan lainnya yang berjenis kelamin perempuan bertutur, ia lebih merasa lebih aman jika mandi dengan berbalut kain sarung ditubuhnya, dibanding hanya menutupi bagian vitalnya dengan pakaian dalam apalagi tampa penutup sama sekali. Tidak hanya jika ia mandi di tempat terbuka, melainkan juga jika ia dalam kamar mandi sekalipun, meski kamar mandi itu berada dalam kamar pribadinya.

Seorang rekan perempuan lainnya yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Malang, sebut saja Ike. Saat berkunjung ke Bumi Galesong (Takalar) tahun lalu, ia mengaku terkaget-kaget dengan sambutan tuan rumah. Setelah ia diantar memasuki kamar istirahatnya, tak selang lima menit tuan rumah kembali datang menyodorkan tiga lembar sarung untuknya.

Gamang. Itulah yang dirasakannya saat itu, selain tidak terbiasa memakai sarung, sodoran tiga lembar sarung itu makin membuatnya mati kata. Gamang karena tidak tahu untuk apa sarung sebanyak itu. Ia mati kata, karena enggan bertanya pada tuan rumah, lidahnya keluh.

Melihat latar belakang Ike yang berdarah Maluku dan besar di Malang, maka wajar jika ia gamang. Menjadi tidak wajar jika yang gamang adalah orang Bugis sendiri baik itu yang telah merantau ataupun yang masih berkalang di tanah Sulawesi. Golongan yang disebut terakhir ini semoga tidak terlalu banyak jumlahnya.

Tiga lembar sarung yang disodorkan kepada para tetamu memiliki perbedaan baik dari segi bahan, ukuran dan peruntukan. Tiga sarung tersebut masing-masing sarung untuk tidur, sarung untuk mandi dan sarung untuk shalat (bagi tamu muslim). Sarung ketiga ditambahkan untuk melengkapi 2 jenis sarung sebelumnya seiring dengan diterapkan hukum syariat Islam sebagai bagian dari Pangadereng masyarakat Bugis (Makassar: Pagadakkang), melengkapi empat komponen hukum adat sebelumnya yakni; adeq, bicara, wari dan rapang.

Sarung tidur (Lipa Tinro), merupakan sarung wajib dan menjadi prioritas utama untuk disodorkan oleh tuan rumah. Sarung ini biasanya berbahan (dominan) benang katun, sehingga kainnya luwes dan dapat dengan mudah melekat jatuh pada bentuk tubuh pemakainya. Motifnya sederhana hanya berupa permainan warna, corak atau berupa motif tumbuhan yang dibuat dengan tehnik cap, batik atau sablon. Sarung ini biasanya bukan hasil tenunan melainkan sarung tekstil (buatan pabrik).

Sarung mandi (Lipa Cemme) memiliki bahan, corak dan motif yang relatif sama dengan sarung tidur. Perbedaan terletak pada warna tampilan yang terlihat lebih kusam dibanding sarung lainnya. Warna kusam yang tampak adalah efek dari seringnya sarung ini dibasahi atau dicuci setiap kali sarung ini dipakai mandi oleh pemakainya. Adakalanya, sarung mandi tidak disodorkan bersamaan dengan dua sarung lainnya, biasanya tuan rumah sudah menempatkan sarung mandi ini didalam kamar mandi, terutama jika kamar mandi tersebut berada dalam ruang tidur tadi (kamar mandi dalam).

Sarung shalat (Lipa Sempajang) adalah satu-satunya sarung yang memiliki bahan, corak dan motif yang biasanya berbeda dengan dua sarung sebelumnya. Kebanyakan sarung ini terbuat dari benang katun dengan tambahan benang plastik sintetis berwarna (Bugis : Gengang) sebagai komponen utama yang memunculkan corak dan motif pada sarung tersebut. Adakalanya pula terbuat dari bahan benang sutera, untuk bahan sutera masih menajadi bahan perdebatan di masyarakat Bugis sendiri. Ajaran agama Islam yang banyak dianut oleh masyarakat Bugis masih menempatkan keberadaan sarung sutera sebagai persoalan mutasyabihat, ada yang mengharamkan ada yang menghalalkan adapula yang memberi hukum jaiz. Bagi tuan rumah yang mampu, biasanya sarung shalat yang disodorkan adalah hasil tenunan. Bagi yang lain cukup dengan sarung pabrikan, tetapi yang masih baru atau relatif baru.

Diluar tiga sarung tersebut, boleh jadi dalam ruang tidur tamu terdapat tambahan satu sarung lagi. Sarung tersebut adalah sarung senggama. Hanya Anda yang memenuhi syarat berikut yang bisa memakai sarung tersebut. Syarat tersebut adalah; Anda sudah menikah, Anda mampu menahan malu untuk melakukan ritual suami istri tersebut di rumah orang lain dan terakhir Anda harus membawa sendiri sarung tersebut. Lebih lengkap tentang sarung senggama bisa dibaca di www.suryadinlaoddang.com Jika Anda adalah tamu yang tahu diri, maka hindari dan tahanlah untuk melakukan ritual tersebut di rumah orang lain.

Tiga lembar sarung yang disodorkan pada setiap tamu bagi orang Bugis menjadi sebuah keharusan sebagai bentuk penghormatan dan memanusiakan tamu.

foto : koleksi Ma'manq Tenry Ashrouf