Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Umroh itu menghapus dosa, diantara 2 umroh

Umroh itu menghapus dosa, diantara 2 umroh. Ini adalah kisah diantara 3 anggota Keluarga. Seorang Nabi Ibrahin dan Istrinya dan Siti Siti Hajar dan anak tercinta mereka yang juga kelak menjadi Nabi, Nabi Ismail tentunya.



Tersebutlah dalam sebuah kisah. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT agar mengajak istri dan anaknya, Siti Hajar dan Ismail. Kala itu Ismail masih yang merah ditinggalkan di sebuah gurun kering kerontang. Sama sekali tidak ada pohon, artinya tidak air juga disana, tentu tidak ada juga manusia dan tanda-tanda kehidupan lainnya. Inilah pengorbanan dan tanda ketundukan Nabi Ibrahim atas titah Rabb-Nya.

Nabi Ibrahim yang menanti puluhan tahun untuk punya seroang anak. Namun, ketika anaknya lahir dan dalam suasana gembira, masih sedang bersuka cita, bahagian menimang anak yang lama diimpikan itu. Tiba-tiba datang perintah untuk memisahkan dirinya dengan anak yang dicintai dan lama dinantikan. Kisah ini, semata-mata bukanlah lakon drama sinetoron televisi Indonesia, dimana Nabi Ibrahim harus meninggalkan anak dan bunda disebuah gurun tanpa ada air, pohon, manusia dan tanda-tanda kehidupan. Tapi ini adalah cerita tentang perpaduan antara, pengorbanan, ketaatan dan tawakkal.

Ya, Nabi Ibrahim berkorban, karena berpisah dengan anak yg puluhan tahun dinanti.
Ya, Nabi Ibrahim menunjukkan ketaatannya pada Allah SWT, walaupun perintah itu sulit dilakukan
Ya, Nabi Ibrahim berusaha tawakkal, dengan meninggalkan anak bayinya Ismail dan istrinya Siti Hajar digurun gersang tanpa ada air, pohon, manusia dan tanda-tanda kehidupan. Pengorbanan, ketaatan dan tawakkal itu juga ditunjukkan oleh Bunda Siti Hajar. Ketaatan Siti Hajar juga masih ditambah dengan ketaatan pada keputusan suaminya, Ayah Ismail. Tak kalah dengan sang bayi. Ismail juga menunjukkan hal serupa. Berkorban, taat dan tawakkal.

Agar bisa memahami hakikiat cerita ini ini, mari kita selami dialog Nabi Ibrahim dan Istrinya , Siti Hajar.

Ketika Nabi Ibrahim hendak meninggalkan Siti Hajar dan bayi Ismail di gurun gersang, bunda Siti Hajar menahan :

Siti Hajar : ya kanda Nabi Ibrahim, ada apa ini ? Engkau meninggalkan istrimu dan bayi anak kita di tempat yang gersang dan tidak ada tanda tanda kehidupan ?

Nabi Ibrahim diam tidak menjawab

Bunda Siti Hajar bertanya kembali dengan pertanyaan yg sama

Nabi Ibrahim tetap diam dan tidak menjawab

Bunda Siti Hajar bertanya lagi

Dan Nabi Ibrahim tetap diam.

Bunda Siti Hajar adalah istri yg taat dan juga cerdas. Mendapati tiga kali pertanyaannya tidak dijawab oleh Suami tercinta. Siti Hajar, merubah ucapan pertanyaannya;

Bunda Siti Hajar : apakah ini perintah Allah.?

Maka Nabi Ibrahim sumringah mendengar pertanyaan ini. Inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Itulah sebabnya beliau diam mendengar pertanyaan sebelumnya. Nabi Ibrahim sedang mendidik bunda Siti Hajar tentang sensitifitas keimanan. Dengan sensitifitas keimanan itulah muncul pertanyaan : apakah ini perintah Allah?. Pertanyaan itu selain mencerminkan keimanan bunda Siti Hajar yg sangat kokoh juga sinyal bahwa bunda Siti Hajar siap mental untuk ditinggalkan bersama sang bayi di gurun gersang tersebut. Sebuah cinta yang Syahdu berbalut keimanan pada Sang Khaliq.

Maka dengan senyum dan gembira Nabi Ibrahim menjawab : Ya benar ini adalah perintah Allah SWT.

Belajar dari kisah diatas, seharusnya kita hamba Allah SWT yang kadar kualitasnya tentu jauh dari Nabi Ibrahim, Bunda Siti Hajar dan Ismail. Tentu harus menjadikan beliau bertiga sebagai suri tauladan kita dalam mengarungi hidup sehari-hari terutama dalam urusan Habblun Minallah, hubungan kita kepada Sang Khaliq, Allah SWT.

Kisah penuh cintah dalam keluarga Nabi Ibrahim diatas, dapat kita napak tilasi dengan menjalan ibadah umroh. Sebagai ummat manusia, yang beragama muslim tentu sebagaian besar diantara kita sudha mengetahui tata cara ibadah haji sesuai sunnah, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SWA. Lengkap dengan lafalaan doa, bacaan, dan keistimewaanya. Bukankah tujuan umroh adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Jika dilihat sekilas, tata cara umroh, sedikit berbeda dari ritual haji. Perbedaan tata cara umroh dari haji adalah pada waktu dan tempat pelaksanaan ibadah. Dalam tata cara umroh, jamaah melaksanakan beberapa ritual ibadah di Kota Makkah, khususnya di Masjidil Haram.

Ibadah umroh bisa dilaksankan sewaktu-waktu, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, kecuali waktu- waktu yang di larang. Sedangkan untuk ritual haji, hanya dapat di laksanakan pada beberapa hari antara tanggal1 syawal hingga 13 Dzulhijjah. Selain itu, ada beberapa perbedaan masalah tempat ketika melakukan ibadah umroh dan haji. Dalam tata cara umroh, tidak ada syariat wukuf dan mabit atau disebut juga tinggal, menetap atau bermukim

Penulis mendoakan semua, yang membaca tulisan ini bisa segera berangkat Umroh dan Haji. Amin


Post a Comment for "Umroh itu menghapus dosa, diantara 2 umroh"

Berlangganan via Email