Minggu, 25 Februari 2018

Sarung Samarinda 1 ; Klasifikasi Sosial dari Sarung Samarinda

Standard
Sejarah Sarung Samarinda dan Sarung Bugis

DR. Priyanti Gunardi
Program Studi Biologi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
(Alamat tetap: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)


Sarung Samarinda adalah kain tenunan yang dibuat oleh kaum perempuan Bugis Wajo di Samarinda Seberang. Kain tenun tersebut pada umumnya terbuat dari rangkaian benang-benang sutera dengan menggunakan alat tenun gedogan atau ATBM (alat tenun bukan mesin). Pada awalnya sarung yang ditenun dengan beragam motif tidak memiliki nama. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dan diskusi dengan beberapa orang budayawan serta pemerhati sejarah dan budaya Bugis di beberapa daerah.
Berdasarkan hasil penelusuran pustaka, motif-motif sarung Samarinda yang masih terus diproduksi sebanyak 14 sedangkan satu motif yang tidak diproduksi lagi yaitu lebba suasa. Motif sarung Samarinda sudah mengalami percampuran antara motif Bugis dengan Kutai. Dibandingkan dengan sarung Bugis, sarung Samarinda tidak mengenal sistem klasifikasi baik terhadap motif yang dihasilkan, siapa saja dengan usia berapa saja yang boleh menggunakan motif tersebut, dan pada upacara adat apa saja sarung dengan motif tertentu dapat digunakan. Perlu dibuat suatu sistem klasifikasi terhadap sarung Samarinda berdasarkan kesepakatan antara para penenun, tetua adat serta para pengusaha tekstil sehingga motif-motif yang ada sekarang dapat terus dilestarikan dengan cara terus diproduksi sehingga khasanah tekstil negeri kita tidak kalah bersaing dengan tekstil negara lain.

Kain sarung hasil tenunan asli Indonesia yang terkenal hingga manca negara salah satunya adalah sarung Samarinda. Banyak orang menduga bahwa sarung Samarinda ditenun oleh penduduk asli penghuni bumi Samarinda di Kalimantan Timur yaitu orang-orang Kutai, Dayak atau Banjar. Setelah ditelusuri melalui pustaka ternyata sarung Samarinda adalah kain tenunan yang dibuat oleh masyarakat Bugis Wajo yang berdomisili di Samarinda Seberang. Sebutan Samarinda Seberang diberikan untuk daerah yang letaknya di seberang sungai Mahakam. Orang-orang Bugis yang tinggal di daerah ini menggeluti berbagai pekerjaan. Para lelaki bekerja di ladang atau mencari ikan di sepanjang sungai Mahakam sedangkan kaum perempuannya lebih banyak mengerjakan berbagai jenis pekerjaan rumah tangga dan menenun kain.

Kain-kain sarung yang tenun para perempuan Bugis Wajo dibuat dengan menggunakan alat tenun yang masih sederhana. Alat tenun yang digunakan adalah gedogan dan ATBM atau alat tenun bukan mesin. Gedogan dan ATBM terbuat dari kayu. Kedua alat tenun tersebut murni digerakkan tanpa menggunakan mesin-mesin yang menggunakan sumber energi listrik atau bahan bakar fosil lainnya.

Sarung Samarinda yang dibuat oleh masyarakat Bugis Wajo sebelumnya tidak diberi nama namun mereka menemui kesulitan ketika membicarakan busana yang mereka kenakan kepada masyarakat lain yang tertarik terhadap sarung tersebut. Sarung itu kemudian diberi nama Sarung Samarinda bukan Sarung Bugis. Nama sarung Samarinda diberikan oleh para penenun Bugis Wajo karena sudah terjadi perpaduan budaya antara masyarakat Bugis Wajo dengan Kutai, hal ini ditandai dengan ikatan pernikahan antara kedua suku tersebut. Perpaduan budaya yang terjadi membuat para penenun seperti memiliki kesepakatan bersama bahwa sarung Samarinda adalah milik bersama antara suku Bugis Wajo dengan Kutai sehingga tidak boleh lagi memperlihatkan ciri khas masyarakat Bugis saja (Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda).

Sarung Samarinda memiliki pakem atau pola dasar kotak-kotak besar maupun kecil. Sarung tersebut memiliki bagian watang (tubuh) dan kapalanna (tumpal) (Gambar 1). Kain sarung tersebut memiliki beberapa motif yang pada perkembangannya mengalami modifikasi dengan memasukan pula unsur-unsur budaya suku Kutai namun mereka tetap mempertahankan pakem hasil warisan turun-temurun dari leluhurnya.



Gambar 1. Bagian sarung Samarinda. a. Watang (tubuh). b. Kapalanna (tumpal) (Sumber: Priyanti, 2011)

Motif-motif sarung Samarinda yang berhasil ditenun pada awalnya juga tidak memiliki nama. Lambat laun masyarakat Bugis memerlukan nama untuk kain tenunannya. Sebagian besar nama yang diberikan menggunakan bahasa ibu yaitu bahasa Bugis namun ada juga motif sarung yang diberi nama dengan bahasa Kutai. Saat ini pengelompokan motif sarung yang dilakukan oleh para penenun Bugis Wajo masih berdasarkan nama yang mereka berikan. Sesungguhnya pengelompokan terhadap motif-motif sarung Samarinda dapat dilakukan oleh para penenun berdasarkan jumlah benang yang menyusun setiap garisnya (Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – Pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda) namun berapa tepatnya jumlah benang yang menyusun setiap garis masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Kaitan pemberian nama dengan motif tenunan juga belum memperlihatkan sistem penamaan yang baku sebagai contoh motif jepa-jepa kamummu yang berubah namanya menjadi hattama hassara lalu sekarang lebih terkenal dengan nama belang hatta. Contoh tersebut memberi kesempatan bagi perubahan nama pada motif yang lain sehingga pengelompokan atau pengklasifikasiannya tidak memiliki pondasi yang kuat. Spesifikasi siapa saja yang boleh menggunakan macam-macam motif sarung Samarinda pun tidak ada sehingga sarung Samarinda boleh dipakai oleh kaum lelaki dan perempuan.

Tulisan ini dibuat sebagai tugas dari mata kuliah Klasifikasi Tradisional dan Sistematika Masa Depan. Pada tulisan ini akan dibahas tentang sejarah masuknya orang-orang Bugis ke Kalimantan Timur, alat tenun, motif sarung Samarinda, motif sarung Bugis, perbandingan antara sarung Samarinda dengan sarung Bugis, kegunaan sarung Samarinda serta pengetahuan lokal masyarakat Bugis Wajo dalam membuat klasifikasi sarung Samarinda.

ARTIKEL INI TERDIRI DARI 8 ARTIKEL, Kelanjutannya silahkan baca disini  :

Sarung Samarinda 2 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-2-sejarah-sarung.html
Sarung Samarinda 3 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-2-alat-tenun-di.html
Sarung Samarinda 4 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-3-motif-sarung.html
Sarung Samarinda 5 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-4-motif-sarung-samarinda-bugis.html
Sarung Samarinda 6 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-5-perbandingan-antara-sarung-samarinda-dan-sarung-bugis.html
Sarung Samarinda 7 : http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-6-kegunaan-sarung-samarinda.html
Sarung Samarinda 8 :
http://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-7-klasifikasi-sarung-samarinda-bugis.html





Sarung Samarinda 2 : Sejarah Sarung Samarinda Bugis

Standard
Sejarah masuknya suku Bugis dan sarung Samarinda ke Kalimantan Timur

DR. Priyanti Gunardi
Program Studi Biologi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
(Alamat tetap: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)



Tenun sarung Samarinda sejatinya dibawa oleh orang-orang Bugis yang menempati suatu daerah di Samarinda Seberang sekitar abad ke-18. Hal tersebut ditandai dengan kedatangan suku Bugis ke tanah Kutai yang menurut lontara atau silsilah kedatangan suku Bugis, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1665. Pada saat itu terjadi kerusuhan di bumi Sulawesi . Kerusuhan terjadi pada saat berlangsungnya pernikahan antara putera kerajaan Goa dengan puteri Sultan Bone. Putera-putera bangsawan Bone berkelahi dengan putera-putera bangsawan Wajo. Pada pergelaran pesta pernikahan tersebut diadakan juga acara sabung ayam dan pada saat tersebut terjadi peristiwa penikaman terhadap bangsawan tinggi Kerajaan Bone hingga tewas di tangan putera bangsawan Wajo yang bernama La Ma Dukellang. Para bangsawan dan masyarakat Kerajaan Bone tidak terima kenyataan tersebut lalu terjadilah peperangan di antara mereka. Karena peperangan tidak seimbang antara pihak La Ma Dukellang dengan orang-orang dari kerajaan Bone, La Ma Dukellang beserta tiga putranya, delapan orang bangsawan Wajo ditambah 200 pengiring pergi meninggalkan tanah Bugis dengan menggunakan 14 perahu layar menuju tanah Kutai (Anonim, 2008 a).

Setelah beberapa lama berlayar mereka kehabisan perbekalan dan berlabuh di daerah Pasir kemudian mereka menetap di sana untuk sekian lamanya. Kabar tentang diterimanya rombongan La Ma Dukellang dengan baik oleh pihak Kerajaan Pasir sampai juga ke telinga orang-orang di tanah Bugis. Kemudian orang-orang Wajo dan Sopeng yang tidak tahan terhadap perlakuan para penjajah dari Kerajaan Bone berusaha mengikuti jejak La Ma Dukellang. Rombongan orang Bugis dalam jumlah besar dalam waktu yang berurutan tiba di tanah Pasir. Hal tersebut menyebabkan daerah yang diberikan oleh Kerajaan Pasir untuk mereka huni terasa semakin sempit dan tidak nyaman lagi. Pada suatu hari diadakan musyawarah besar untuk mencari daerah lain yang lebih luas untuk tempat tinggal mereka. Hasil musyawarah memutuskan untuk mengirim rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona pergi ke Kerajaan Kutai (Anonim, 2008 a).

Setibanya di daerah Kerajaan Kutai, Lamohang Daeng Mangkona lalu menghadap ke Pangeran Dipati Mojo Kusumo yang pada saat itu memerintah Kerajaan Kutai. Lamohang Daeng Mangkona lalu menceritakan maksud kedatangannya ke daerah tersebut. Pangeran Dipati Mojo Kusumo menyambut baik maksud kedatangan Lamohang Daeng Mangkona lalu Pangeran memberi sebidang tanah di daerah Loa Buah. Beberapa waktu kemudian, rombongan tersebut dipindahkan ke daerah lain dengan diberi sebidang tanah di wilayah Samarinda Seberang yaitu suatu daerah dataran rendah yang cocok untuk usaha pertanian, perikanan, dan perdagangan. Semenjak itu Samarinda Seberang dibangun oleh Lamohang Daeng Mangkona beserta pengikutnya kemudian ia pun diberi gelar Pua Ado. Daerah ini pula yang menjadi cikal bakal berdirinya kota Samarinda (Anonim, 2008 a; Yuhardin, 2010).

Samarinda berasal dari kata samarendah karena orang-orang Bugis yang bermukim di wilayah Kerajaan Kutai tersebut telah menghilangkan strata sosial antara bangsawan dan rakyat biasa yang dahulu digunakan ketika mereka bermukim di tanah Bugis. Ucapan samarendah dalam dialek Bugis terasa sulit dilakukan oleh warganya sehingga pelafalannya berubah menjadi samarinda (Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda).

Selama orang-orang Bugis bermukim di tempat yang baru, demi memenuhi kebutuhan hidupnya para kaum lelaki bekerja di ladang atau menjadi nelayan sedangkan kaum perempuannya lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan diwaktu senggangnya - sambil menunggu kepulangan suaminya dari ladang atau sungai - mereka meneruskan keterampilan yang diperoleh dari leluhurnya yaitu menenun. Kegiatan menenun didominasi oleh kaum perempuan karena hal tersebut - menurut kepercayaan masyarakat Bugis - tabu dilakukan oleh para lelaki. Kaum perempuan dari kelompok etnis Makasar, Bone, Mandar dan Toraja yang tinggal di Samarinda Seberang sebenarnya juga memiliki keterampilan menenun seperti perempuan-perempuan Bugis Wajo namun kaum perempuan etnis Bugis Wajo lebih dahulu dan lebih banyak yang berprofesi sebagai penenun di bumi Etam (Samarinda) dibandingkan kelompok Bugis lainnya.

Kain sarung hasil tenunan tersebut umumnya terbuat dari rangkaian benang sutera yang pada awalnya ditenun untuk memenuhi kebutuhan sandang keluarga mereka sendiri. Seiring berkembangnya waktu, kelompok masyarakat lainnya yang juga hidup berdampingan dengan suku tersebut melihat keindahan warna dan motif dari sarung yang dikenakannya lalu mulailah terjadi peningkatan permintaan terhadap sarung tersebut.

Sarung Samarinda selain sebagai salah satu hasil budaya suku Bugis Wajo yang dibawa dari tanah asalnya kemudian dikembangkan sebagai usaha keluarga atau home industry yang pada saat kini terkenal sampai mancanegara sebagai hasil budaya khas dari daerah Kalimantan timur (Anonim, 2008 a).

Sarung Samarinda 3 ; Alat Tenun di Samarinda dan Bugis

Standard
Alat Tenun

DR. Priyanti Gunardi
Program Studi Biologi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
(Alamat tetap: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Kain sarung Samarinda ditenun dengan menggunakan peralatan yang terbuat dari kayu dan masih dikerjakan dengan tenaga manusia. Alat tenun tersebut disebut gedogan dan ATBM. Penyebutan gedogan berasal dari bunyi yang dihasilkan „dok ‟ oleh alat tersebut ketika satu benang selesai dikaitkan dengan benang sebelumnya. Gedogan adalah alat tenun tradisional yang pada bagian ujungnya diikatkan pada pohon atau tiang rumah atau bentangan papan berkonstruksi kuat dan di bagian ujung lainnya diikatkan ke tubuh penenun yang duduk di lantai (Gambar 2). ATBM atau alat tenun bukan mesin adalah alat tenun yang digerakkan oleh injakan kaki yang berfungsi untuk menaikan dan menurunkan benang lungsi pada saat masuk keluarnya benang pakan, penenun menggunakan alat ini sambil duduk di kursi (Gambar 3) (Anonim, 2010). 
Gambar 2. Alat tenun gedogan. Satu ujung diikatkan ke dinding rumah, ujung lainnya diikatkan ke tubuh penenun. Penenun duduk di lantai. (Sumber: Agustini, 2010)

Waktu yang diperlukan oleh penenun yang bekerja dengan menggunakan alat gedogan lebih lama dibandingkan dengan menggunakan ATBM. Sebagai contoh penenun yang bekerja dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00 dengan waktu istirahat satu jam untuk makan dapat menyelesaikan sarung dengan ukuran panjang 50 cm dan lebar 65 cm sehingga rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu lembar sarung adalah 15 hari. Kain sarung yang ditenun dengan ATBM dapat lebih cepat waktu pengerjaannya. Penenun yang bekerja dari pukul 7.30 sampai pukul 17.00 dapat menyelesaikan kain sarung sepanjang 300 cm dengan lebar kain 120 cm. Hal tersebut mengindikasikan bahwa menenun dengan menggunakan ATBM lebih praktis dan efisien dibandingkan dengan menggunakan gedogan. Para penenun yang terbiasa menenun dengan alat gedogan tidak akan merasa kesulitan jika harus mengerjakannya dengan ATBM karena cara pengoperasian ATBM lebih mudah dibandingkan dengan gedogan (Tja dan Said, 1989). 
Gambar 3. Alat tenun bukan mesin (ATBM). Alat tenun digerakkan oleh injakan kaki untuk menaikan dan menurunkan benang pakan. Penenun duduk di kursi (Sumber: Anonim, 2008 c)

Peralatan tenun yang banyak digunakan untuk membuat sarung Samarinda adalah gedogan yang terdiri dari tiga bagian, yaitu: unuseng, saureng, dan apparising. Unuseng (alat pemintal) terdiri dari unuseng, roweng, dan tudangeng roweng (Maulana, 1982). Alat pemintal atau unuseng atau papali digunakan untuk melereng benang pasulu atau benang pakan yaitu benang yang digunakan untuk menyisipkan benang sau untuk menenun. Roweng atau mesin uluran yaitu alat untuk mengulur atau membuka benang dari gulungannya. Tudangeng roweng adalah tempat menempelnya alat pengulur gulungan benang (Anonim, 2011).

Saureng adalah alat untuk menyusun corak atau membuat benang buri. Alat ini terdiri dari saureng dan jarancara. Apparising adalah alat atau tempat untuk memasukkan benang pada sisir dan benang lusi. Alat ini terdiri dari apparising dan alat pencucuk pada sisir yang biasanya menggunakan bulu landak (Maulana 1982).

Komponen-komponen peralatan tenun gedogan adalah pemalu, sisir (jakka), palapa, paccucu are, pabbicang are, pananre, walida, book-boko, pessa, asimong, appajjelloreng, awereng, taropong dan bulo-bulo. Alat tenun tersebut sebagian besar terbuat dari kayu ulin kecuali awereng, taropong dan bulo-bulo yang terbuat dari bambu (Maulana, 1982).

Berikut adalah deskripsi komponen-komponen yang terbuat dari kayu ulin: pemalu memiliki ukuran 100 cm x 15 cm x 2 cm. Pemalu adalah tempat menggulung benang yang terbuat dari papan. Sisir atau jakka adalah tempat memasukan benang. Palapa adalah alat yang berfungsi sebagai penahan awereng, alat ini berukuran 105 cm x 2,5 cm x 0,2 cm. Pacucu are adalah alat berbentuk bulat dengan garis tengah berukuran lebih kurang 1,5 cm dan panjang 105 cm yang dimasukan ke dalam are. Pabbicang are adalah alat dengan panjang 15 cm berbentuk bulat yang diberi tali pada kedua ujungnya untuk diikatkan pada paccucu are yang berguna untuk mengangkat are yang berfungsi sebagai pengatur anyaman pada waktu menenun. Panenre adalah alat dengan ukuran 105 cm x 2,5 cm x 2,5 cm, alat ini berguna sebagai penindih yang diletakkan antara are dan awereng. Walida atau parang-parangan adalah alat pemukul benang pakan pada waktu menenun. Alat ini memiliki bentuk yang mirip dengan parang. Boko-boko adalah alat yang berfungsi sebagai pengikat tubuh pada bagian belakang si penenun. Pessa merupakan tempat menggulung kain yang sudah ditenun. Kedua ujung pessa dihubungkan dengan kedua boko-boko menggunakan tali pada dua tepinya yang sudah disediakan, bagian tersebut dinamakan ulang. Asimong adalah alat untuk meletakkan pemalu, asimong berjumlah sepasang. Appajelloreng berfungsi sebagai tempat lewat walida atau pasang-pasangan dan juga sebagai tempat menyimpan passulu atau benang pakan (Maulana, 1982).

Komponen-komponen yang terbuat dari bambu adalah awereng, taropong, dan bulo-bulo. Awereng adalah alat dengan panjang 105 cm, bergaris tengah 3,5 cm yang berfungsi sebagai pengatur anyaman. Awereng memiliki fungsi yang sama dengan are. Taropong berfungsi sebagai sekoci pada mesin jahit, panjang taropong adalah 20 cm dengan garis tengah 3,5 cm. Bulo-bulo memiliki panjang 10 cm dengan garis tengah 1,5 cm berfungsi sebagai anak sekoci (Maulana, 1982).

Sarung Samarinda 4 : Motif Sarung Samarinda

Standard

Motif sarung Samarinda

DR. Priyanti Gunardi
Program Studi Biologi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
(Alamat tetap: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)


Beberapa motif sarung Samarinda yang dibuat oleh para penenun adalah lebba suasa, jepa-jepa kamummu (hattama hassara, belang hatta), anyam palupuh tabba, asepulu’ bolong, rawa-rawa masak, coka manippi, billa takkajo, garanso, burica, siparape, kudara, sobbi, pucuk (Maulana, 1982), Soekarno, Soeharto, dan sari pengantin (Anonim, 2008 b). Motif-motif sarung tersebut didominasi oleh warna hitam, putih, merah, hijau, ungu, biru laut, dan hijau daun (Maulana, 1982).

Berikut adalah deskripsi dari masing-masing motif sarung Samarinda. Lebba suasa berasal dari kata lebba (kotak besar) dan suasa yang berarti berdampingan. Motif ini berupa selembar kain berwarna hitam dan putih, kedua warna tersebut berselang-seling mirip dengan kain Bali membentuk kotak-kotak besar. Warna merah mengapit pada ujung kain (atas dan bawah) (Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Asmad Riyadi Lamellongeng – budayawan Bugis Bone di Ciputat, Tangerang; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda; Komunikasi pribadi dengan Suryadin Laoddang – budayawan Bugis di Yogyakarta). Motif kain ini sekarang tidak diproduksi lagi (Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda). Penyebab tidak diproduksinya motif tersebut perlu pengkajian lebih lanjut.

Jepa-jepa kamummu atau hattama hassara atau belang hatta (Gambar 4a) adalah kain sarung yang didominasi dengan warna merah keunguan. Motif ini pada awalnya berakar dari kata kamummu yang dalam bahasa Indonesia berarti ungu. Motif dengan bentuk kotak-kotak berukuran sedang yang diapit dengan persegi panjang hitam dan dilintasi garis merah, ungu, dan hitam. Jepa-jepa kamummu kemudian berubah nama menjadi hattama hassara yang berarti hitam-merah. Hattama hassara pun kini lebih terkenal dengan nama belang hatta. Pemberian nama belang hatta adalah untuk menghormati bung Hatta yang pada saat perlawatannya ke ibukota Kalimantan Timur diberikan kenang-kenangan berupa sarung Samarinda oleh RUMI (Rukun Wanita Indonesia). Beliau menerima dengan senang hati cinderamata tersebut (Maulana, 1982).

Anyam palupuh tabba (Gambar 4b) yang diambil dari kata palupuh atau tabba yang berarti anyaman bambu. Motif sarung ini memang menyerupai anyaman dinding bambu. Bentuk kotak-kotak besar dan kecil menghiasi motif anyam palupuh ini. Dua garis tebal berwarna hijau yang pada sisi luar garis diliris garis tipis berwarna putih (Maulana, 1982; Rayans, 2009).

Assepulu bolong (Gambar 4c) berasal dari kata pulu atau pulut yang berarti ketan hitam. Pada awalnya kain ini murni berwarna hitam tanpa kombinasi.

Beberapa kurun waktu kemudian terdapat beberapa kombinasi benang emas/perak/merah/hijau yang disisipkan melalui proses tenunan agar motif lebih terlihat bercahaya, benang tersebut sebagai pemanis semata. Bentuk kotak-kotak yang menghiasi kain berukuran kecil (Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda; Komunikasi pribadi dengan Suryadin Laoddang – budayawan Bugis di Yogyakarta).

Rawa-rawa masak adalah motif dengan kotak-kotak kecil berwarna merah muda atau lembayung seperti halnya buah jambu air yang masak. Rawa-rawa berasal dari bahasa Kutai yang berarti jambu air. Motif ini didominasi oleh warna merah dengan beberapa warna hitam yang muncul secara tipis dan tidak beraturan (Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda; Komunikasi pribadi dengan Suryadin Laoddang – budayawan Bugis di Yogyakarta).

Coka manippi berakar dari kata manippi yang berarti ditaklukkan mimpi. Motif sarung ini diilhami oleh mimpi seorang puteri bangsawan Kerajaan Kutai. Pada zaman Kerajaan Kutai hiduplah seorang puteri bangsawan yang pada malam hari bermimpi melihat kain tenunan dengan motif kotak-kotak berukuran sedang dan kecil dengan kombinasi warna yang sangat indah. Keindahan sarung dalam impian si puteri terpatri kuat dalam memorinya. Ketika terbangun dari tidurnya, puteri bangsawan tersebut segera memanggil tukang tenun langganannya dan menceritakan mimpinya tentang sarung tersebut. Puteri meminta kepada tukang tenunnya untuk menenunkan kain seperti yang ada dalam mimpinya. Beberapa hari kemudian si tukang tenun menemui puteri bangsawan tersebut sambil membawa kain hasil tenunan. Puteri sangat bersuka cita dan sangat takjub melihat buah karya si tukang tenun. Ia pun lalu memakai dan memamerkannya kepada teman-teman, kaum kerabat serta kekasihnya. Semua yang melihat kain sarung tersebut terpana oleh keindahannya yang tiada tara (Maulana, 1982).



Gambar 4. Contoh motif sarung Samarinda. a. Motif jepa-jepa kamummu (hattama hassara atau belang hatta (Sumber: Rayans, 2009) . b. Motif anyam palupuh (Sumber: Rayans, 2009). c. Motif asepulu bolong (Priyanti, 2011). d. Motif sari pengantin (Sumber: Anonim, 2009).


Billa takkajo berarti cahaya kilat. Motif dengan kotak-kotak berukuran kecil yang didominasi oleh warna merah dan biru yang diliris dengan warna putih (Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda; Komunikasi pribadi dengan Suryadin Laoddang – budayawan Bugis di Yogyakarta).

Garanso berarti galak atau garang. Kain sarung ini didominasi oleh warna hitam dan biru tua yang muncul secara berselang-seling seperti motif lebba suasa. Di antara kotak-kotak hitam dan biru tua diselingi dengan warna lain seperti abu-abu (Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda; Komunikasi pribadi dengan Suryadin Laoddang – budayawan Bugis di Yogyakarta).

Burica berasal dari kata merica atau sahang. Motif burica berupa kotak-kotak berukuran sangat kecil sebesar butir-butir merica (Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda).

Siparappe berarti merapat atau berkasih sayang. Motif sarung ini sama dengan motif moppang pada sarung Bugis. Sarung berkotak-kotak kecil dengan empat larik garis sejajar dan melintang (dua garis tipis selebar jari telunjuk akan mengapit dua buah garis besar setebal lima lebar jari telunjuk pria dewasa). Dari jauh garis-garis ini seolah berhadapan dalam posisi moppang (tengkurap) sehingga muncullah istilah lain dari motif ini yaitu sioppangeng (saling berhadapan). Satu jari tadi adalah symbol dari parewa alu-alunna (alat kelamin lelaki) sedangkan lima jari adalah simbol lima lapis pelindung rahim perempuan (jempa-jempa, kulit tubuh, mulut vagina, selaput darah vagina, dan mulut rahim sendiri) (Laoddang, 2011; Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda).


Motif siparappe ini dibuat oleh seorang gadis yang akan meninggalkan masa lajangnya. Ukuran motif ini dua kali lipat dari ukuran sarung biasa karena akan dipakai bersama suaminya setelah terucap janji setia untuk menempuh kehidupan yang baru. Sarung ini tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain dan harus disimpan di tempat yang tersembunyi dan tidak boleh diwariskan. Sarung dengan motif ini juga tidak boleh dijemur karena sarung tersebut menyimpan suatu rahasia antara pasangan suami istri. Saat ini motif sarung tersebut sudah jarang ditemukan (Laoddang, 2011; Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda).

Kudara berarti negara, motif sarung yang dihadiahi oleh RUMI kepada Presiden pertama RI ketika melakukan kunjungan ke kota Samarinda. Motif ini kemudian terkenal dengan nama Soekarno (Anonim, 2008 b). Motif dengan kotak-kotak kecil seperti siparappe hanya berbeda warnanya (Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda).

Motif-motif modern yang sekarang bermunculan diantaranya adalah sobbi, pucuk, Soeharto, dan sari pengantin (Anonim, 2008 b; Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda).

Sobbi dan pucuk adalah motif sarung yang sudah mengalami modifikasi dengan warna beranekaragam dan dilengkapi dengan selendang. Sarung dengan motif tersebut diperuntukkan khusus untuk perempuan (Maulana, 1982; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda).

Soeharto adalah motif modern berupa kotak-kotak kecil berwarna hijau dan ungu muda dengan bagian tengahnya berwarna putih. Motif ini diberi nama demikian karena ketika Presiden kedua RI berkunjung ke Samarinda sering kali membeli kain bermotif demikian (Anonim, 2008 b).

Sari pengantin adalah motif modern dengan kotak-kotak kecil yang didominasi oleh warna merah dan biru yang berselang-seling di bagian watang atau tubuh sarung sedangkan warna merah menyala atau cella raka mendominasi bagian kapalanna (Anonim, 2008 b).

Sarung Samarinda 5 : Motif Sarung Bugis

Standard
Motif sarung Bugis

DR. Priyanti Gunardi
Program Studi Biologi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
(Alamat tetap: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Orang Bugis biasa menyebut sarung dengan lipa. Sarung Bugis memiliki beberapa motif, seperti: balo renni, balo lobang, tettong, makkalu, bombang, cobo’ dan moppang. Balo renni (Gambar 5a) adalah sarung yang tersusun oleh garis-garis vertikal dan horizontal yang tipis sehingga menghasilkan ribuan kotak-kotak kecil. Pada bagian kapalanna terdapat garis-garis beserta kotak-kotak dengan pilihan warna yang berbeda. Motif sarung ini biasanya memakai warna-warna terang yang lembut, seperti: bakko (merah jambu) atau cui (hijau muda). Sarung ini biasanya dipakai oleh seorang gadis atau seorang perempuan yang belum menikah. Saat ini warna telah disesuaikan dengan keinginan para pemakainya (Laoddang, 2011).

Balo lobang (Gambar 5b) adalah motif sarung dengan garis-garis yang lebih tebal. Kombinasi garis vertikal dan horizontal menghasilkan kotak-kotak besar. Motif ini diperuntukan bagi lelaki yang belum menikah. Warna yang menghiasi sarung ini adalah cella (merah), cella raka (merah menyala), dan camara’ (merah keemasan) (Laoddang, 2011).

Tettong atau berdiri tegak, sarung ini tersusun oleh garis-garis vertikal saja sedangkan motif makkalu yang berarti melintang dan melingkar adalah motif yang disusun oleh garis-garis horizontal atau melingkar. Ujung dari garis melintang pada motif ini akan bertemu kembali setelah ujung kain disatukan dengan cara menjahit (Laoddang, 2011).

Bombang (Gambar 5c) dalam bahasa Indonesia berarti ombak. Hal ini disebabkan masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja terkenal dengan budaya baharinya. Motif bombang sebenarnya lebih cocok disebut motif bulu-bulu atau perbukitan. Motif ini berua segitiga sama sisi yang berjejeran dan sambung-menyambung. Bulu-bulu selain memiliki makna perbukitan juga berarti milik yang melekat atau rambut-rambut yang tumbuh di sekujur tubuh (Laoddang, 2011).





Contoh motif sarung Bugis. a. Motif balo renni. b. Motif balo lobang. c. Motif bombang (Sumber: Priyanti, 2011).



Cobo’ adalah motif yang mirip dengan bombang, perbedaan terletak pada bentuk segitiga yang menyusunnya. Motif cobo’ tersusun oleh segitiga yang lebih ramping, tegak, dan ujung meruncing. Segitiga pada motif cobo’ membentuk jajaran melintang hingga bertemu di ujung sarung setelah dijahit. Motif cobo’ melambangkan keteguhan hati seorang lelaki dan keluarganya untuk melamar pujaan hatinya (Laoddang, 2011).

Sarung Samarinda 6 : Perbandingan antara sarung Samarinda dengan sarung Bugis

Standard

Perbandingan antara sarung Samarinda dengan sarung Bugis

DR. Priyanti Gunardi
Program Studi Biologi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
(Alamat tetap: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Sarung Samarinda dan sarung Bugis sama-sama dibuat oleh para pengrajin tenun asal Bugis. Bahan dasar pembuatan kedua sarung tersebut berasal dari kaitan benang-benang sutera. Motif dasar di antara kedua sarung tersebut adalah kotak-kotak baik yang berukuran besar maupun kecil.

Beberapa perbedaan antara sarung Samarinda dengan sarung Bugis adalah sarung Samarinda pada umumnya dibuat oleh penenun Bugis Wajo sedangkan kain Bugis dibuat oleh masyarakat Bugis (Wajo dan Bone), Makassar, Mandar, dan Toraja. Sarung Samarinda dengan berbagai motif dan warna dapat dipergunakan oleh siapa saja baik lelaki atau perempuan, kaum bangsawan atau rakyat biasa dengan perkataan lain bahwa pemakaian sarung Samarinda tidak dikelompokan berdasarkan strata sosial sedangkan sarung Bugis dapat dibedakan berdasarkan para pemakainya karena pada suku Bugis yang tinggal di tanah leluhurnya yaitu Sulawesi masih memberlakukan pengelompokan kasta antara golongan bangsawan dengan rakyat biasa.

Selain alasan di atas, pengelompokan para pemakai sarung Bugis didasarkan pada perbedaan warna. Pengelompokan tersebut mirip dengan yang diberlakukan pada baju bodo. Warna kuning diperuntukan bagi mereka yang berusia di bawah 10 tahun. Usia 10-17 tahun menggunakan warna jingga atau merah muda. Warna merah darah diperuntukan bagi orang-orang berusia 17-25 tahun. Mereka yang berusia 25-40 tahun memakai warna hitam. Berdasarkan wari atau system protokoler kerajaan dan adeq (adat istiadat) diatur cara penggunaan pakaian yang tetap didasarkan pada perbedaan warna, yaitu: para inang atau pengasuh raja, dukun, atau bissu menggunakan warna putih, warna hijau diperuntukan bagi kaum bangsawan dan keturunannya sedangkan warna ungu hanya diperbolehkan bagi para janda (Laoddang, 2010).

Motif-motif sarung Samarinda sudah mengalami modifikasi dengan terjadinya pencampuran motif antara motif Bugis dengan motif Kutai maupun motif Dayak sedangkan motif sarung Bugis tidak banyak mendapat percampuran dari etnis lainnya. Beberapa motif sarung Samarinda yang berbeda dengan sarung Bugis yaitu anyam palupuh, assepulu bolong, rawa-rawa masak, coka manippi, billa takkajo, garanso, burica, kudara, Soeharto, dan sari pengantin. Motif sarung Bugis yang berbeda dengan sarung Samarinda adalah bombang, tettong, dan cobo’.

Moppang adalah motif yang sama dengan motif siparappe pada sarung Samarinda. Motif ini tabu digunakan di luar rumah oleh kaum lelaki atau perempuan. Motif ini hanya boleh digunakan oleh pasangan suami istri di dalam kamarnya ketika memadu kasih (Laoddang, 2011).

Sarung Samarinda 7 : Kegunaan Sarung Samarinda

Standard

Kegunaan Sarung Samarinda
DR. Priyanti Gunardi
Program Studi Biologi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
(Alamat tetap: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)


Sarung pada umumnya dapat digunakan untuk beberapa keperluan seperti beribadah atau sholat, selimut tatkala udara dingin, alas ayunan anak balita, berbagai upacara adat serta ritualitas hubungan suami isteri. Sarung yang terbuat dari sutera tidak diperkenankan di dalam Islam untuk digunakan oleh para lelaki untuk melaksanakan sholat tetapi bagi kaum perempuan diperbolehkan menggunakan kain sutera sebagai busananya baik untuk pakaian sehari-hari, pesta maupun untuk beribadah sholat.


Sarung Samarinda dengan motif dan warna yang menawan sering kali digunakan pada berbagai upacara adat seperti pernikahan (mappabotting), tujuh bulanan (mappasili), naik ayun (mappenre tojang), dan kematian (ammateang) (Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda; Komunikasi pribadi dengan Suryadin Laoddang – budayawan Bugis di Yogyakarta). Motif siparappe dan sari pengantin berdasarkan kesepakatan bersama antara tetua adat dengan anggota masyarakat telah ditetapkan untuk digunakan pada upacara pernikahan.

Motif siparappe juga digunakan oleh pasangan lelaki dan perempuan yang sudah menikah. Pada dahulu kala motif siparappe yang sama dengan motif moppang pada sarung Bugis wajib ditenun oleh si gadis itu sendiri dan wajib digunakan pada saat memadu kasih di tempat peraduannya. Saat ini para pasangan suami istri tidak lagi menggunakan sarung pada saat melakukan ritualitas persenggamaan, mereka dapat menggantinya dengan selimut atau kain lebar lainnya. Motif sari pengantin hanya boleh digunakan oleh seorang lelaki yang telah mengucapkan ijab kabul atau telah melakukan akad nikah (Anonim, 2008 b; Komunikasi pribadi dengan Nor Sidin – pemerhati sejarah dan budaya Bugis di Samarinda; Komunikasi pribadi dengan Suryadin Laoddang – budayawan Bugis di Yogyakarta).
Upacara adat tujuh bulanan dalam bahasa Bugis Bone disebut mappasili yang berarti memandikan. Upacara mappasili ini bermakna sebagai tolak bala atau mengusir roh-roh jahat hingga segala sesuatu yang merugikan hilang atau lenyap dari seorang perempuan yang sedang mengandung calon anak manusia. Pada upacara adat ini pasangan suami istri menggunakan pakaian adat Bugis yang pada umumnya untuk pakaian bagian bawahnya mengenakan sarung (Zein, 2011). Motif sarung yang wajib digunakan pada upacara adat tersebut belum diketahui hingga tulisan ini dibuat. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Sarung Samarinda yang digunakan pada upacara naik ayun (mappenre tojang) dan kematian (ammateang) belum diketahui motif mana yang wajib dikenakan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya.
Di tanah leluhur orang-orang Bugis, terdapat satu jenis sarung tak bermotif yang dinamakan tapii atau sunre yang pada pinggiran sarung ditambahi lepe atau pinggiran sarung yang ditenun khusus. Sarung ini memiliki ukuran yang lebih panjang dan lebar dibandingkan ukuran sarung yang normal. Sarung tersebut hanya boleh dipakai pada upacara adat pernikahan, sunatan (masunna), pindah rumah (lele bola), dan proses naiknya bayi ke ayunan untuk pertama kalinya (mappenre tojang) (Komunikasi pribadi dengan Suryadin Laoddang – budayawan Bugis di Yogyakarta).

Sarung Samarinda 8 : Klasifikasi Sarung Samarinda

Standard
Pengetahuan lokal masyarakat Bugis Wajo di Samarinda Seberang dalam membuat klasifikasi sarung Samarinda 

Oleh : DR. Priyanti Gunardi
Program Studi Biologi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
(Alamat tetap: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)


Pekerjaan klasifikasi sesungguhnya telah dilakukan sejak dimulainya peradaban manusia. Segala sesuatu baik makhluk hidup atau benda mati dapat diklasifikasikan oleh manusia. Klasifikasi dilakukan untuk memudahkan pekerjaan manusia dalam kehidupannya. Sebagai contoh ketika seseorang mendatangi sebuah took kain dan ia akan membeli kain yang terbuat dari katun, pemilik dan para pelayan di toko tersebut sudah mengelompokan beberapa jenis kain yang ia miliki berdasarkan kesamaan bahan dasarnya (sutera, katun atau serat sintetis lainnya). Ketika si pembeli menyebutkan kain yang akan dibelinya dengan cepat si pelayan mengambilkan kain yang dimaksud. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pekerjaan klasifikasi dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa harus mempelajari ilmunya di bangku perkuliahan yang memberikan materi tentang klasifikasi.

Begitu juga halnya dengan masyarakat Bugis Wajo di Samarinda Seberang yang sesungguhnya telah mengklasifikasikan kain sarung hasil tenunannya berdasarkan jumlah benang yang menyusun setiap garis tebal dan tipis yang pada akhirnya akan membentuk motif garis membujur (vertikal) serta melintang (horizontal). Ketika mereka memberikan nama motif untuk sarung Samarinda yang mereka buat, garis tebal dan tipis belum dijadikan acuan sehingga timbul kesulitan ketika harus membedakan antara motif satu dengan lainnya. Dengan demikian pada sarung Samarinda belum ada sistem klasifikasi didalamnya.

Mengingat belum adanya sistem klasifikasi dan banyaknya percampuran budaya antara suku Bugis dengan kelompok etnis lainnya pada bentuk-bentuk motif sarung Samarinda yang dihasilkan maka diperlukan suatu kesepakatan bersama antara tetua adat, anggota masyarakat, serta pengusaha kain sarung Samarinda untuk menetapkan sistem klasifikasi yang mantap dalam memberikan nama motif, siapa saja yang boleh menggunakan motif-motif tersebut, dan motif-motif mana saja yang wajib dikenakan pada penyelenggaraan upacara adat. Hal tersebut merupakan sebuah upaya untuk melestarikan motif-motif awal yang telah dibuat oleh para penenun sebelumnya yang merupakan perpaduan antara motif Bugis dengan motif Kutai.

Simpulan

Sarung Samarinda dibuat oleh para perempuan Bugis Wajo. Alat tenun yang digunakan adalah gedogan dan ATBM. Motif sarung Samarinda sudah mengalami percampuran antara motif Bugis dengan Kutai. Motif sarung yang masih diproduksi lebih kurang 14 macam sedangkan satu motif sarung sudah tidak diproduksi lagi yaitu lebba suasa. Motif sarung Samarinda lebih beragam dibandingkan dengan motif sarung Bugis. Sarung Samarinda dapat digunakan oleh siapa saja tidak dibatasi oleh jenis kelamin, usia atau strata sosial. Sarung Samarinda yang terbuat dari jalinan benang-benang sutera dapat digunakan oleh kaum perempuan untuk sholat, pesta serta berbagai upacara adat sedangkan kaum lelaki tidak boleh menggunakannya untuk melaksanakan sholat. Belum adanya sistem klasifikasi pada sarung Samarinda menyebabkan sulitnya proses identifikasi terhadap berbagai macam motif sarung Samarinda karena bila dilihat secara sepintas saja seperti tidak ada perbedaan antara motif satu dengan lainnya.

Perlu dilakukan sebuah upaya untuk melahirkan kesepakatan antara para penenun, tetua adat, dan para pengusaha tekstil dalam membuat sistem klasifikasi terhadap sarung Samarinda sehingga motif-motif yang ada sekarang dapat terus dilestarikan dengan cara terus diproduksi sehingga khasanah tekstil negeri kita tidak kalah bersaing dengan tekstil negara lain.

Daftar Pustaka
  • Agustini, H. 2010. Gang Pertenunan, Samarinda Sebrang. http://detik.travel/. Diakses 26 Juni 2011.
  • Anonim. 2008 a. Mengenal Sarung Samarinda. http://www.indotravelers.com Diakses 7 Maret 2011.
  • Anonim. 2008 b. Motif Sarung Samarinda. http://umum.kompasiana.com. Diakses 7 Maret 2011.
  • Anonim. 2008 c. Sarung Samarinda Ditinggalkan Anak Muda. http: //melayuonline.com. Diakses 17 Maret 2011.
  • Anonim. 2009. Tinggal Kenangan (3)? http://sarungsmd.wordpress.com. Diakses 26 Juni 2011.
  • Anonim. 2010. Alat Tenun. http://www.tenunindonesia.com. Diakses 26 Juni 2011
  • Anonim. 2011. Tenun Bugis Pagatan, Kalimantan Selatan. http://www. Melayuonline.com. Diakses 26 Juni 2011.
  • Laoddang, S. 2011. Sarung Sutera Bugis (Bagian I). http://adinwajo.blogspot.com. Diakses 1 Mei 2011. 26
  • Maulana, A. 1982. Sarung Tenun Samarinda. Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur “Mulawarman.” Tenggarong.
  • Rayans. 2009. Sarung Samarinda History. http://topborneo.blogspot.com. Diakses 26 Juni 2011.
  • Tja, A. dan Said, M. 1989. Proses produksi sarung atau kain sutera sengkang dan pengaruhnya terhadap wanita penenun di kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Lembaga Penelitian Universitas Hasanudin. Ujung Pandang.
  • Yuhardin. 2010. Profil Kota Samarinda. http://scriptintermedia.com. Diakses 1 April 2011.
  • Zein, A. 2011. Acara adat tujuh bulanan ala Bugis Bone. http://kampungbugis.com. Diakses 1 Mei 2011.

Selasa, 30 Januari 2018

Diaspora Bagi Orang Bugis

Standard
Oleh : Mansyur (Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat)

Mengenai kategorisasi diaspora menurut Vertovec, diaspora menyangkut tiga hal, yaitu proses penyebaran, masyarakat yang tinggal di daerah asing, serta tempat atau ruang geografis di mana mereka tinggal atau berdiaspora. Secara Sosiologis dan Antropologis masyarakat diasporik mengalami pola perubahan akibat interaksi dan adaptasi dengan masyarakat lokal. Pola perubahan ini berhubungan dengan migrasi dan status minoritas yang meliputi etnis dan pluralisme agama, identitas serta perubahan lainnya. Secara lebih luas, Vertovec menjelaskan diaspora dalam tiga bentuk yakni bentuk sosial, jenis kesadaran, dan model produksi budaya. Apabila dianalisa menurut pendapat Vertonec, diaspora Bugis di wilayah Tanah Bumbu dapat dikategorikan sebagai diaspora dalam bentuk sosial.

Penulis menganggap diaspora Bugis di wilayah Tanah Bumbu sebagai diaspora dalam bentuk sosial karena diaspora tersebut memenuhi kriteria karakteristik diaspora yang dikemukakan Vertonec. Pertama, diaspora Bugis terbentuk karena hubungan sosial yang direkatkan oleh ikatan sejarah dan geografi, sehingga secara umum diaspora dilihat sebagai akibat dari migrasi sukarela atau terpaksa dari satu lokasi, setidaknya dua wilayah, yakni Sulawesi dan Kalimantan. Kedua, orang Bugis memiliki kesadaran mempertahankan identitas kolektif yakni identitas to-Ugi’. Ketiga, identitas ini dibentuk oleh pengalaman sejarah orang Bugis di Tanah Bumbu. Keempat, suku bangsa Bugis di Tanah Bumbu juga menciptakan “organisasi-organisasi komunal” baru di tempat-tempat pemukiman, seperti ponggawa dalam bidang perikanan serta “organisasi-organisasi” lainnya. Kelima, suku bangsa Bugis juga mempertahankan berbagai hubungan eksplisit dan implisit dengan kampung halaman mereka dengan membangun pelayaran dan perdagangan. Upaya orang Bugis menjaga identitasnya dalam konteks diaspora jika ditinjau dari pendapat Frances Gouda, mengacu pada “desentralisasi” ketika kelompok kelompok agama atau bangsa tinggal di luar tanah airnya tetapi masih menjaga atau menegosiasikan identitas budaya mereka.

Sementara itu, istilah Bugis dalam tulisan ini, diartikan sebagai “orang dari Sulawesi Selatan”, seperti yang dikemukakan Christian Pelras. Sementara itu istilah to-Ugi berasal dari Bahasa Bugis yakni, to: orang, Ugi: Bugis, sehingga to-Ugi’ bisa diartikan dengan orang Bugis. Istilah ini juga biasanya dipakai oleh orang Bugis sendiri untuk mengidentifikasi dirinya di tanah rantau sehingga bisa membedakannya dengan suku lainnya. Istilah to-Ugi’ adalah kumpulan masyarakat di wilayah Tanah Bumbu, Karesidenan Kalimantan Bagian Selatan dan Timur yang memiliki adat istiadat, budaya dan tradisi Bugis.

Ugi adalah singkatan nama dari La Satumpugi, seorang Raja di Wajo pada abad ke-13 yang rakyatnya menyebut diri mereka sebagai to-Ugi’, yang berarti pengikut La Satumpugi. Selanjutnya, istilah to-ugi menjadi identitas komunitas yaitu suku Bugis yang tersebar di Nusantara. Dalam perkembangannya, identitas to-Ugi’ di Tanah Bumbu mempunyai unsur yang berbeda dengan to-Ugi’ di Wajo, Sulawesi Selatan. Perbedaan tersebut karena identitas to-Ugi’ dibentuk di luar wilayah Sulawesi Selatan, serta perbedaan beberapa unsur budaya Bugis yang sudah mengalami proses difusi ke wilayah Tanah Bumbu. La Satumpugi yang namanya menjadi asal kata Ugi’ adalah ayah dari We Cudai. Satumpugi bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. We Cudai kemudian dinikahkan dengan Sawerigading dan melahirkan keturunan orang Bugis di Sulawesi Selatan, termasuk La Galigo. Fenomena penamaan to-Ugi’ ini hampir sama dengan penamaan Suku Bajau yang berasal Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Suku ini merupakan suku nomaden yang hidup di atas laut, sehingga disebut gipsi laut. Suku Bajau menggunakan bahasa Sama sehingga sering disebut juga sama bajau. Penamaan suku Bajau berbeda di tiap daerah tetapi tetap menunjukkan suku yang sama, seperti Badjau, Bajo atau Bajau Samma.

Penggunaan kata Ugi’ pada suku bangsa Bugis di Tanah Bumbu untuk menunjukkan bahwa “inilah diri orang Bugis”. Misalnya, menggunakan istilah basa Ugi’ atau bahasa Bugis, elong Ugi’ atau lagu Bugis, dan istilah lainnya yang menunjukkan hal tersebut adalah “hanya” milik orang Bugis. Sementara “label” yang diberikan oleh orang Bugis di Tanah Bumbu pada suku lainnya, dengan menyebut awal nama suku bersangkutan dengan tambahan kata to yang menunjukkan orang, misalnya orang Banjar disebut to-Banjara’, orang Dayak disebut to-Daya’, orang Jawa disebut to-Jawa, dan lain sebagainya.26 Selanjutnya, pendekatan yang dipakai dalam tesis ini adalah pendekatan Antropologi. Dalam pendekatan ini, penulis berupaya untuk melakukan reapprochement (saling mendekatkan) antara Sejarah dengan Antropologi sehingga bisa mendukung eksplanasi sejarah. Sebagai ilmu yang “tak lengkap”, Sejarah mesti meminta bantuan dari ilmu sosial untuk melengkapi dirinya, seperti dalam tataran teoritis dan metodologis. Pendekatan Antropologi ini, diaplikasikan penulis untuk menjelaskan beberapa hal yang dibahas dalam tesis ini seperti konsep migrasi atau mallekke’ dapureng sebagai spirit pada diri orang Bugis dan hubungan patron-klien Bugis atau ajjoareng-joa. Adapun teori yang diaplikasikan dalam membahas tesis ini adalah Teori Diaspora Klasik yang dikemukakan oleh Safran. Menurut Safran, ada enam karakteristik dari diaspora, yaitu : (1) Etnis atau suku atau nenek moyang mereka meninggalkan tanah airnya karena terpaksa menuju daerah yang asing. Kemudian (2) mereka mempertahankan memori kolektif, visi atau dongeng tentang tanah tumpah darah asli mereka. Selanjutnya (3) mereka percaya bahwa tidak bisa secara penuh diterima oleh masyarakat tuan rumah dan oleh karena itu sebagian mengasingkan dan membatasi diri. Berikutnya (4) mereka menganggap tanah tumpah darah nenek moyang mereka sebagai rumah ideal untuk menjadi tempat mereka atau keturunannya akan kembali. Kemudian (5) mereka percaya bahwa mereka secara bersama merasa terikat dengan tanah air asli mereka. Selanjutnya (6) mereka menghubungkan dirinya dengan tanah air nya dengan cara apapun, dan memelihara kesetiakawanan antar mereka.

Dalam teori tersebut, daerah tujuan diaspora disebut juga “negara tuan rumah”, dimana ikatan antar penduduk yakni penduduk “pendatang” dan penduduk “asli” memainkan peran penting. Kemudian penduduk yang berdiaspora tersebut memelihara hubungan antara daerah asalnya dengan daerah tujuan “diaspora”-nya sehingga terjadi “tarik-menarik” melalui memori, dan akhirnya tercipta sistem hubungan dalam suatu jaringan diaspora. Pembatasan istilah “diaspora” menurut Safran sangat diperlukan karena istilah “diaspora” -oleh beberapa ahli- sering dianggap hanya sebagai metafora dibandingkan perannya secara instrumental. Karena itulah, dalam teori-nya menurut kriteria dari Safran diaspora harus dipersempit ke dalam enam fokus yakni faktor pendorong diaspora, pemilihan daerah tujuan diaspora, identitas kesadaran, “jaringan” diaspora, durasi hubungan transnasional dan otonom daerah tujuan dan daerah asal.

Menurut Safran, populasi “diasporik” (masyarakat diaspora) terbentuk karena tekanan seperti bencana kelaparan dan kemiskinan. Pemilihan daerah-daerah tujuan diaspora sesuai dengan struktur rantai migrasi yang terjadi antara dua daerah. Dalam hal ini setelah terdapat rute-rute migrasi yang memungkinkan untuk terjadinya diaspora. Kemudian populasi “diasporik” terintegrasi tetapi tidak “berasimilasi” dengan penduduk “tuan rumah”. Penduduk “diasporik” mempertahankan kesadaran identitas yang kuat karena masih mempertahankan memori tentang daerah asal dan sejarahnya. Hal ini menyiratkan adanya ikatan yang kuat dengan daerah asal atau biasa diistilahkan dengan 'komunitas imajiner'.
Kelompok-kelompok diaspora yang tersebar dalam gelombang migrasi ini melestarikan dan mengembangkan budaya-nya, kemudian memelihara hubungan interaksi antara mereka sendiri. Kelompok diaspora memelihara hubungan dengan daerah asal dengan melakukan “pertukaran” baik berupa orang, barang dari berbagai jenis, informasi, dan lain sebagainya melalui suatu jaringan. Dalam ruang jaringan tersebut bersifat non-hirarkis atau cenderung horizontal, tidak vertikal. Diaspora menjadi formasi sosial otonom antara penduduk pendatang dengan “tuan rumah”.

Senin, 29 Januari 2018

Diaspora Bugis Makassar di Tanah Bumbu

Standard
Oleh : Mansyur (Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat)

Ada beberapa buku yang relevan, yang berisi informasi dan dapat dijadikan acuan dalam menyusun tesis ini. Karya pertama yang dikaji dalam tinjauan pustaka ini adalah disertasi Kathryn Gray Anderson, The Open Door: Early Modern Wajorese Statecraft and Diaspora.14 Disertasi ini membahas hubungan antara Wajo, sebuah pemerintahan konfederasi Bugis di Sulawesi Selatan, dengan kelompok-kelompok migran Wajo di luar daerahnya seperti di Makassar, Sumatera Barat, Selat Malaka, serta Kalimantan Timur dan Tenggara, setelah Perang Makassar (1666-1669).

Anderson berpendapat bahwa orang Bugis yang berdiaspora ke daerah lain, berinteraksi dengan daerah pusat dalam cara yang mirip dengan konstituen lokal dan bahwa daerah tujuan di aspora dapat dilihat sebagai bagian dari negara. Migran Wajo menurut Anderson memiliki fleksibilitas yang luar biasa dalam beradaptasi dengan kondisi lokal di daerah di mana mereka menetap. Sementara itu, tiap komunitas Bugis yang berkembang di daerah tujuan bisa bekerja sama dan memiliki strategi sehingga bisa membaur. Terutama lewat jalan perkawinan, diplomasi dan peperangan.

Berbagai komunitas Bugis di berbagai daerah juga bekerja sama dalam membangun daerah komersial dan saling memberikan bantuan militer. Kerjasama tersebut didukung adanya konsep Bugis yakni pesse’ dan solidaritas atau simpati. Pesse’ adalah ikatan emosional yang mengikat migran dengan tanah air nya di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu kunci untuk pemeliharaan hubungan antara pemukim Bugis Wajo di beberapa daerah, adalah hubungan antara perantau Wajo dengan tanah air nya yang diintensifkan pada awal abad ke-18 ketika penguasa Wajo berusaha untuk memanfaatkan kekuatan militer dan potensi komersial daerah tujuan migran.

Upaya ini mencapai puncaknya tahun l736 ketika salah seorang penguasa Wajo, La Maddukelleng, yang terusir dari Wajo kembali dari Kalimantan Timur ke daerah Wajo di Sulawesi Selatan. La Maddukelleng mendapat dukungan orang Wajo di Makassar dan Sumbawa untuk mengusir Belanda dari Sulawesi Selatan. Walaupun pada akhirnya gagal, tindakan ini mencontohkan “budaya diaspora” orang-orang Wajo, walaupun berada di luar daerahnya tetap menjadi bagian penting dari daerah Wajo yang menjadi homeland nya.                                     Adapun kelebihan dari tulisan K.G. Anderson ini, adalah pembahasannya yang cukup rinci tentang diaspora orang Bugis Wajo pada abad ke-18. Kemudian dari tulisan ini juga dapat dijadikan acuan sekaligus perbandingan dalam “meramu” bahan tulisan untuk penulisan tesis ini, terutama dipaparkan dalam bab 6, tentang diaspora orang-orang Bugis Wajo di Kalimantan bagian timur dan tenggara.

Dalam bab ini, dibahas tentang kondisi perekonomian di wilayah pesisir Kalimantan. Kemudian sejarah awal orang Wajo serta daerah-daerah yang menjadi tujuan diaspora di Kalimantan Timur dan Tenggara, yakni Kutai, Pasir dan Pagatan. Selanjutnya jaringan perdagangan dan penaklukan La Maddukelleng serta pembentukan komunitas di daerah taklukannya di Kalimantan bagian timur dan tenggara. Karya selanjutnya adalah tulisan Jacqueline Linneton Passompe’ Ugi’ ,Bugis Migrants and Wanderers. Dalam tulisannya, J. Linneton menjelaskan tentang Passompe’ Ugi’ (perantau Bugis) dari Sulawesi Selatan yang sejak lama terkenal memiliki jiwa petualang yang berlangsung sejak akhir abad ke- 17.

Suku bangsa Bugis bertualang ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan berprofesi sebagai pedagang dan penakluk negara-negara kecil. Migrasi orang orang Bugis terjadi setelah jatuhnya Makassar ke pendudukan Belanda pada tahun 1669. Sampai periode ini, gerakan migrasi ke luar daerah Sulawesi Selatan hanya terbatas pada orang-orang Bugis dan Makassar yang terlibat dalam perdagangan. Pedagang ini mungkin adalah pengembara bukan migran, yang menjelajah Nusantara untuk mencari daerah perdagangan di musim-musim tertentu, dan kembali ke Sulawesi hanya beberapa bulan setiap tahun untuk memperbaiki perahu mereka.

Menurut J. Linneton, kehadiran bangsa Eropa yang menguasai Makassar di satu sisi, memang makin menancapkan kuku hegemoni-nya. Tetapi di sisi lain, petualang Bugis secara tidak langsung terdorong untuk keluar daerahnya dan efektif mengendalikan beberapa daerah, seperti Kerajaan Johor, Riau dan Semenanjung Melayu, Kutai di bagian timur Kalimantan, sampai di Selangor, di pantai barat Semenanjung Malaya. Kelebihan dari tulisan ini adalah penjelasan J. Linneton yang cukup rinci dalam menggambarkan pengaruh Bugis di wilayah pesisir daerah-daerah di Semenanjung Malaya hingga ke Kalimantan yang berada di bawah kontrol orang- orang Bugis dan membawa budayanya yang membentuk sebuah kerajaan Bugis komersial. Perluasan perdagangan orang Bugis dan konflik dalam negeri di Sulawesi Selatan pada akhir abad ke-17 dan ke -18 menyebabkan pedagang Bugis banyak meninggalkan tempat asal mereka. Terutama sub-suku Bugis Wajo, yang menjadi pionir pembentukan koloni di Kalimantan.

Karya selanjutnya adalah tulisan Andi Ima Kesuma, Migrasi dan Orang Bugis. Dalam tulisannya Andi Ima Kesuma menjelaskan bahwa hampir di seluruh pesisir pantai di pelosok Nusantara ditemukan komunitas orang Bugis. Mereka berada di daerah tersebut dengan menjadi perantau atau pasompe. Budaya pasompe jika ditelusuri dalam jejak sejarah yang teramat panjang akan ditemukan fakta yang menyebutkan kalau migrasi secara besar-besaran orang dari tanah Bugis ke sejumlah wilayah di Nusantara bermula sekitar awal abad ke-17. Orang Bugis perantauan dikenal sebagai suku yang cepat melakukan adaptasi dengan penduduk asli. Para perantau itu kemudian mengenal adanya istilah tiga ujung atau tellu cappa dalam melakukan proses adaptasi dengan penduduk yang didatangi. Pertama menggunakan cappa lila (ujung lidah) atau kemampuan melakukan diplomasi.

Jika diplomasi dianggap tidak mempan maka dilakukan langkah kedua cappa laso (ujung kemaluan), yakni orang Bugis melakukan proses perkawinan dengan penduduk asli. Kalau pada akhirnya kedua ujung itu tidak mempan, maka ditempuhlah jalan terakhir menggunakan cappa kawali (ujung badik), yaitu dengan peperangan. Andi Ima Kesuma juga menjelaskan, salah seorang Bugis perantauan yang tiba di Johor awal abad ke-17 adalah Opu Daeng Rilakka bersama dengan lima orang putranya yakni Opu Daeng Parani, Opu Daeng Manambung, Opu Daeng Marewa, Opu Daeng Calla serta Opu Daeng Kamase. Kelima satria Bugis ini menurut Andi Ima Kesuma, memberi warna perjalanan pemerintahan di Kesultanan Johor. Daeng Rilakka merupakan turunan kedua Arung Matoa Wajo ke-44, La Oddang Datu Larompong.    
Karya ini termasuk salah satu studi mendalam soal migrasi orang Bugis dengan mengambil kasus Bugis asal Wajo di Johor Malaysia. Sejarah migrasi orang Bugis selain karena faktor ekonomi juga karena peperangan. Migrasi keluar Sulawesi Selatan berkaitan erat dengan peperangan akibat rivatalitas antar kerajaan memperebutkan hegemoni. Dalam hal ini maka migrasi pada hakikatnya adalah produk perang dan proses sosial. Tradisi pasompe telah berlangsung pada kurun waktu tahun 1600-an, bermula dari Perang Makassar melawan VOC. Bangsawan kerajaan yang bersekutu dengan Makassar banyak yang meninggalkan daerahnya.

Selain faktor perang, masompe dilakukan karena siri’ serta prinsip menyangkut kebebasan dan kemerdekaan. Dari karya ini, pola migrasi dan diaspora awal Bugis di wilayah Tanah Bumbu hampir sama dengan yang terjadi di Johor. Konsep yang dipakai Andi Ima Kesuma tentang passompe yang menjadi filosofi migrasi Bugis untuk merantau ke Semenanjung Malaya, bisa diterapkan dalam menganalisa migrasi dan diaspora Bugis di wilayah Tanah Bumbu. Selanjutnya karya Hamid Abdullah, Dinamika Sosial Emigran Bugis Makassar di Linggi Malaysia.17 Dalam tulisannya Hamid Abdullah menjelaskan tentang emigrasi orang Bugis Makassar ke kawasan Linggi, Kerajaan Selangor, Semenanjung Malaya pada tahun 1809. Kawasan itu dahulunya adalah hutan belantara yang belum terjamah oleh tangan manusia.
Demikian pula sungainya masih merupakan rawa-rawa yang belum dapat dipergunakan untuk pelayaran sampai akhirnya dibuka oleh orang Bugis. Dalam perkembangannya kawasan Linggi menjadi wilayah yang potensial dalam sektor geografis dan juga menjadi wilayah penting dalam sektor perdagangan dan ekonomi di semenanjung Malaya. Menurut Hamid Abdullah, Linggi berasal dari nama bagian buritan kapal (perahu Bugis) dan nama itu dipakai seterusnya dalam upaya membuka lahan pemukiman yang baru. Daerah Linggi ini pun dianggap sebagai pemukiman harapan. Migrasi Bugis-Makassar ke daerah Linggi terjadi sebagai akibat langsung dari terusirnya mereka dari kesultanan Riau.

Pengusiran yang sistematis itu sebagai akibat masuknya pemerintah kolonial Belanda yang berkolaborasi dengan Kesultanan Riau. Pada 10 November 1784 disusun perjanjian antara kerajaan Johor dengan pemerintah Belanda yang diberi nama Tractaat van Altoos Durende, Getrouwe Vriend end Bondgenoctschap. Perjanjian tersebut berisi aturan yang mewajibkan warga Riau asli memegang jabatan di Kesultanan, sehingga berakibat fatal bagi posisi Bugis-Makassar dalam dunia politik Kerajaan Johor.

Pengusiran itu bukan menjadi halangan bagi Bugis-Makassar untuk merebut kembali martabatnya. Mereka kembali mengarungi lautan, menerobos sungai, merambah dan membuka hutan untuk pemukiman baru. Semangat juang mereka tak surut, dan justru tambah bersemangat. Orang Bugis-Makassar “menyulap” kawasan hutan lebat menjadi tanah pertanian yang subur. Sungai Ujong di pinggir hutan Linggi dibersihkan dan dibuka untuk lalu lintas perdagangan. Makin lama pelayaran rakyat melewati alur Sungai Ujong kian ramai dan menjadikan Linggi sebagai salah satu kawasan penting.

Pada awal abad ke-19 Linggi menjelma menjadi daerah otonomi yang luas, dan orang Bugis-Makassar yang membuka daerah ini pun telah memiliki struktur pemerintahan lokal tersendiri. Tentunya, prinsip siri’ na pacce (rasa malu dan solidaritas) yang terus membakar semangat mereka, sehingga tidak jatuh mental ketika terusir dari kesultanan Riau. Menurut Hamid Abdullah, keterlibatan masyarakat Bugis-Makassar dalam kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu tampak cukup pelik. Mereka dengan terpaksa ikut terlibat perang, hiruk pikuk dalam memperebutkan kekuasaan dan mahkota kerajaan Riau, Johor, Pahang, Kedah dan Selangor. Aktivitas berupa intrik politik, komplot, skandal adalah peristiwa yang berulang setiap saat, yang kadang menimbulkan korban keluarga sendiri. Seringkali pula mereka dijebak untuk memihak pada salah satu golongan, sehingga membuat kelompok mereka terpecah-pecah. Akibatnya anak keturunan Bugis-Makassar saling bersitegang karena berbeda keberpihakan.

Konsep tentang migrasi Bugis di kawasan Linggi, Semenanjung Malaya dapat diterapkan dalam membahas tentang migrasi dan diaspora Bugis di Tanah Bumbu. Dalam pembahasan Hamid Abdullah, dijelaskan terdapat faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya migrasi Bugis. Faktor tersebut adalah kondisi politik dan ekonomi. Kemudian spirit dari orang Bugis untuk massompe’ ke daerah lain. Kemudian pembentukan komunitas Bugis di Linggi dan strategi adaptasi ekonominya, tidak jauh berbeda dengan upaya pembukaan daerah potensial di wilayah Tanah Bumbu yang dilakukan orang-orang Bugis.