Friday, November 23, 2018

Transformasi Kearifan Lokal Bugis Wajo dan Nilai Perjuangan Tokoh-tokoh Wajo

Standard

TRANSFORMASI KEARIFAN LOKAL BUGIS WAJO DAN NILAI PERJUANGAN TOKOH-TOKOH WAJO
Oleh Suryadin Laoddang

Kearifan Lokal Bugis Wajo

Kearifan lokal, atau dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijaksanaan setempat "local wisdom" atau pengetahuan setempat "local knowledge" atau kecerdasan setempat "local genious, merupakan pandangan hidup, ilmu pengetahuan, dan berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat setempat dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Kearifan lokal di berbagai daerah di seluruh Nusantara merupakan kekayaan budaya yang perlu diangkat kepermukaan sebagai bentuk jati diri bangsa. Jero Wacik, mengatakan, kearifan lokal yang terdapat di berbagai daerah di Nusantara, seharusnya diangkat dan dihargai sebagai salah satu acuan nilai dan norma untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

Dalam ranah Antopologi dan Sosiologi, banyak dipaparkan bahwa terjalinnya hubungan antar manusia dan masyarakat, banyak dipengaruhi oleh norma-norma yang lahir dari kearifan local yang dimiliki dan berlaku dalam masyarakat tersebut. Selain berupa norma, kearifan local juga dapat berupa adat istiadat, pranata sosial dan kepercayaan.

Salah satu suku yang masih bertahan dan bahkan menyebar dan kukuh berkembang keluar Indonesia adalah suku Bugis. Dengan Populasi terbesar di Pulau Sulawesi dan berpusat di Sulawesi Selatan, orang Bugis selain tersebar keseluruh penjuru dunia, juga memiliki keunikan lain, yakni memiliki etnis yang beragam, salah satunya dan Suku Bugis etnis Wajo.

Wajo yang secara administratif bernama Kabupaten Wajo, dulunya adalah sebuah Kerajaan Bugis yang memiliki pengaruh pada kerajaan lain seperti sebagian Kerajaan Bone dan Soppeng bagian utara, Kerajaan Sidrap, sebagaian wilayah Sawitto (sekarang Kab. Pinrang), sebagaian wilayah Massenreng Pulu (sekarang Enrekang), sebagian wilayah Luwu (daerah Larompong). Pengaruh dan hubungan diplomatik kerajaan Wajo, juga dapat ditemui jejaknya di Semanjung Malaka seperti Malaysia, Singapur, Kamboja, Myammar, Banglades, Brunei Darusalam, atau di Kalimantan serta di Sumatera bagian Utara.

Sejak muncul kerajaan Cinnongtabi yang menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Wajo. Setidaknya, kerajaan Wajo telah dipimping oleh 53 Orang Arung/Batara/Arung Matoa (baca :Raja), ditambah dengan kronik sejarah yang sangat panjang, maka lahirlah berbagai macam kearifan lokal yang berlaku dan terjadi di masyarakat Bugis Wajo. Dalam catatan sejarah dan perkembangan selanjutnya banyak aspek dari kearifan lokal tersebut yang justru mendahului konsep pranata sosial modern, bahkan menjadi acuan pranata sosial di Indonesia, dunia barat dan dunia internasional. Diantara kearifan lokal dimaksud adalah sebagai berikut :

A. Demokrasi
Demokrasi didunia barat awalnya hanya dikenal sebagai sebuah hukum demokrasi di Yunani pada abad ke-V, namun baru diterapkan pada Abad ke-18 di Inggris. Sementara di Indonesia istilah demokrasi pertama kali dicetuskan pada tahun 1945, namun baru diterapkan pada Pemilu 1956.

Sementara menurut Lontara Sukkuna Wajo, karangan Andi Paramata, kerajaan Wajo sudah mengenal konsep dewan perwakilan/pemerintahan pusat yang beranggotakan 40 orang, yang lasim disebut Arung Patangpuloe, yang terdiri dari 3 ranreng, 3 bate lompo, 3 orang punggawa ina tau, 30 orang arung mabbicara, dan 1 orang Arung Matoa itu sendiri.

Selain itu masih ada Arung Simentengpola/Bettengpola sebagai wakil rakyat, pembela hak-hak rakyat, juru bicara Wajo yang untuk dan atas nama rakyat Wajo bias mengangkat dan memecat Arung Matoa, dan berwenang untuk mengisi jabatan Arung Matoa jika lowong.

Masih adapula Petta Ennengnge (Dewan yang enam Orang), yang berfungksi sebagai Dewan Pelaksana Harian pemerintahan Pusat (sederajat dengan menteri kabinet saat ini)

Kesemua formasi tatanana tersebut diperkenalkan dan diterapkan pada masa pemerintahan Lataddampare Puangrimaggalatung, Arung Matoa Wajo ke-XXXI.

B. Emansipasi
Pada tanggal 6-Oktober 1789, terjadi aksi demonstrasi di Prancis yang dilakukan oleh kaum ibu rumah tangga yang menuntut kesetaraan jender, inilah tonggak emansipasi di dunia barat. Di Indonesia kesadaran jender pertama kali diperjuangkan oleh seorang RA. Kartini yang lahir pada tahun 1879.

Dalam kronik sejarah Kerajaan Wajo, bahwa sebelum Kerajaan Wajo berdiri pada abad XIV, kerajaan Cinnotabi pernah dipimpim oleh seorang perempuan bernama I Pannangareng bergelar Arung Cinnotabi I, yang kemudian digantikan oleh putrinya I Tenrisiu. Pada cerita lain, sebelum Islam masuk di Wajo, pada abad XV adalah We Taddampali (Arung Masala Uli’e) diangkat sebagai Inanna Limpo’e (Ibu Negeri atau Wakil Rakyat). Yang lebih tua lagi berkisar pada abad IX – X, adalah We Cudai, permaisuri dari Sawerigadin Opunna … Were adalah Datu ke-II dari Kerajaan Cina (Cina – Ji’ Pammana – sekarang menjadi wilayah Kab. Bone).

C. Filosofi Kepemimpinan
Ki Hajar Dewantara, pahlawan nasional sekaligus pendiri taman pendidikan Taman Siswa, lahir pada tahun 1889. Salah satu warisannya adalah filosifi kepemimpinan, “Tut Wuri Handayani, Ing Madya Mangunkarsi, Ing Ngarso Suntulodo”, bahwa pemimpin itu “ketika didepan ia menuntun, ditengah ia membimbing dan dibelakang ia mengarahkan”.

Dalam filosofi kepemimpinan Bugis Wajo, dalam sebuah galigo ada ungkapan “monriyolo patiroangngi, monri tengnga paraga-ragai, monri onri paampi’i”. Arti ungkapan galigo ini sama persis dengan filosofi kepemimpinan Jawa ala Ki Hajar Dewantara. Dalam kronik Ke-Batara-an (Kerajaan) Wajo, filosofi ini muncul pada masa kepemimpinan Arung Matoa Wajo IV La Taddampare Puang Rimaggalatung yang memimpin antara tahun 1491-1521. Pertanyaannya, siapa meniru siapa ? atau siapa yang lebih dulu ?

Catatan : Artikel ini dipaparkan dalam kegiatan LISE KEPMAWA, perkader warga Keluarga Pelajar Mahasiswa Wajo Yogyakarta

Tradisi Tenun Ikat Nusantara dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah

Standard

Sulawesi adalah pulau berbentuk bunga anggrek yang terletak di sebelah selatan Kalimantan. Dilihat sebagai sebuah pulau secara keseluruhan, dengan berbagai budaya yang ada, variasi teknik tenun yang ditemukan di pulau ini sangat mengagumkan. Selain kain kulit kayu yang dibuat di pedalaman Sulawesi Tengah, ditemukan juga tenun sutera kotak-kotak dan ikat pakan uang dibuat oleh orang Bugis., tenun lompat lungsi dari katun, kainnya disebut pinatikan, dan tenun pakn tambahan yang dibuat dari serat pisang di Sulawesi Utara., serta tenun ikat lungsi di Galumpang dan Rongkong, masing-masing di Sulawesi barat dan Sulawesi Selatan.

Sulawesi Selatan : Bugis dan Makassar
Masyarakat Bugis dan Makassar dikenal sebagai pelaut tangguh yang telah mengembara jauh untuk berdagang dengan kapal mereka, meninggalkan istri-istrinya untuk menjaga rumah dan menenun wastra, di antaranya. Kadang-kadang para pedagang tersebut membawa keluarganya untuk menetap di tempat baru yang menjanjikan di daerah pesisisr di sekitar Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, dan di seluruh Indonesia. Mereka juga menetap di berbagai tempat di Malaysia dan Singapura.

Dalam sejarahnya, perempuan di Sulawesi Selatan telah membuat tenun dari sutera yang sangat halus. Menurut Fraser-Lu, sekitar tahun 1701, Nicolas Gervais, pedagang asing yang menetap di Makassar, menyebutkan tentang banyaknya tenun katun dan sutera yang tersediannya di gudang-gudang. Kota Sengkang di Kabupaten Wajo yang terletak di tepi Danau Tempe, sekitar 150 km sebelah utara Makassar, merupakan pusat tenun sutera yang penting.

Sarung Bugis memiliki warna-warna cerah, seperti merah tua, ungu, pirus, merah dan hijau muda merupakan nuansa warna yang disukai. Selain ragam hias kotak-kotak, penenun Bugis juga membuat sarung dengan hiasan ikat pakan. Ragam hias ikat disebut bombang. Motifnya berupa zigzag menggambarkan stilasi ombak samudera, spiral dan bunga-bunga. Kadang ragam hias ikat pakan di temukan di bagian kepala sarung, sedangkan bagian badan memilki ragam hias kotak-kotak atau geometris. Pada kesempatan lain, seluruh bagian sarung diberi hiasan ikat pakan.

Salah satu jenis ragam hias berbentuk bunga yang dibuat dengan teknik ikat pakan disebut Sarung Samarinda, berarti Sarung dari Samarinda ( Kalimantan Timur ) karena jenis ragam hiasnya dipercaya berasal dari Samarinda.

Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat : Rongkong dan Galumpang


Rongkong di Sulawesi Selatan dan Galumpang di Sulawesi Barat dulu pernah membuat selimut ikat lungsi yang digunakan untuk upacara pemakaman. Wastra berukuran besar ini digunakan untuk menghias ruang upacara, menerima tamu, dan membungkus jenazah. Wastra tersebut juga merupakan bagian dari mahar dan digunakan untuk membayar hutang, dan digunakan untuk menandai wilayah yang dijadikan tempat upacara. Selimut ini diberi hiasan dengan komposisi geometris yang kaku berdasarkan pada bentuk kait, wajik, zigzag, segi tiga berwarna merah atau dalam bingkai putih di atas latar berwarna biru atau hitam keunguan.

Wastra dari Rongkong (untuk masyarakat To Rongkong) dan Galumpang (untuk masyarakat To Makki) didominasi oleh motif kait berbentuk belah ketupat yang disebut sekong atau sekon yang dapat dilihat sebagai gambaran abstrak nenek moyang. Bentuk belah ketupat adalah bagian badan, sedangkan bentuk kait adalah lengannya.

Lebih jauh ke utara, di daerah masyarakat pembuat kain kulit kayu di Sulawesi Tengah, selimut tenun ikat lungsi ini sangat diminati. Selimut tersebut diperoleh dengan cara dipertukarkan, harganya dihitung berdasarkan harga kerbau yang merupakan mata uang yang berlaku saat itu di daerah tersebut. Selimut tersebut dipakai untuk pakaian upacara, sebagai rok perempuan yang dilipat menjadi dua atau tiga bagian atasan baju kulit kayu.

Awalnya, selimut lebar ini dibuat dari kapas pital tangan yang ditanam sendiri. Diperlukan waktu berbulan-bulan untuk membuatnya, karena dibutuhkan waktu untuk memperoleh warna yang diinginkan menggunakan pewarna alami. Saat ini, terdapat beberapa perempuan To Makki yang masih membuat selimut secara tradisional menggunakan benang kapas pital tangan dan pewarna alami, tetapi sebagian besar telah digantikan oleh benang yang dibeli di toko dan pewarna sintesis.

Karena permintaan dari wisatawan, saat ini banyak dibuat tiruan dari selimut tradisional di daerah Rantapeo, ibukota Kabupaten Toraja Utara, sebuah kabupaten di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan.

Sulawesi Tengah : Donggala

Para penenun ikat di Sulawesi Tengah tinggal di kota Donggala dan sekitarnya. Di sini, sarung kotak-kotak dan songket juga dibuat selain tenun ikat pakan. Tenun Donggala merupakan bagian penting dari pakaian tradisional, terutama di daerah pesisir, seperti yang dipakai oleh orang Kaili dan Panoma.

Tenun Donggala memiliki ciri khas ragam hias tersendiri berupa bentuk bunga dan daun yang digabungkan dengan motif geometris. Sarung yang memiliki ragam hias ikat pakan disebut . Terdapat dua ragam hias dalam sebuah wastra : ragam hias yang terdapat pada bagian badan dan bagian kepala, yang dicirikan oleh garis-garis diagonal yang diisi dengan taburan bunga dengan bentuk yang sama dengan bagian badan. Ragam hiasnya kebanyakan diberi nama berdasarkan nama tumbuhan, seperti tavanggadue atau daun keladi, sesekaranji atau ragam hias keranjang, dan bomba kota atau bunga-bunga didalam kotak. Pada mulanya warna yang digunakan berasal dari tumbuh-tumbuhan, tetapi saat ini telah digantikan dengan pewarna sintesis. Dahulu, untuk membuat wastra tenun hanya digunakan sutera asli, tetapi saat ini diperkenalkan juga benang rayon.


Catatan :
Tulisan ini diangkat dari Buku Tradisi Tenun Ikat Nusantara, Karya Benny Gratha dan Judi Achjadi, Terbitan BAB PUBLISHIN INDONESIA pada tahun 2016, halaman 88-99

Wednesday, November 14, 2018

Tutorial Memulai FB Ads untuk Pemula; Mengisi Deposit Biaya Iklan

Standard
PERINGATAN : TUTORIAL INI HANYA COCOK JIKA ANDA MENGGUNAKAN LAPTOP

Tutorial ini adalah untuk yang masih pemula dalam main FB Ads... terutama bagi Anda yang belum pernah sama sekali pasang iklan di Facebook,

Langkah Pertama : Dibagian kotak Browser Anda ketiklah www.facebook.com/adsmanager (lihat gambar dikotakin merah) lalu tekan ENTER






Langkah Kedua : Lanjutkan dengan membuat iklan, terutam bagi Anda yang baru pertama kali pasang iklan yah...

Silahkan lihat gambar yah, ikuti saja tanda panahnya.....




Nanti keluar form dimana Anda diminta ngisi data nama dan email Anda, isikan saja. Nanti akan berlanjut lagi halaman dibawah ini. Pastikan sesuai dengan gambar dibawah ini yah.





Jika sudah benar, silahkan disimpan

Langkah Ketiga : Anda akan diminta mengisi deposit anggaran iklan dulu yah... Ikuti petunjuknya dan ikut arah anak panah.




Nanti akan keluar tampilan seperti ini




Silahkan pilih metode yang iklan yang familiar buat Anda, utamakan ATM dan BANK TRANSFER (bagi pemula). Nanti akan keluar kota seperti ini.




Isikan saldo yang Anda inginkan, untuk latihan isi saja 100 ribu yah. Lalu klik Tinjau Pembayaran. Selanjutnya tinggal klik tombol yang ditunjuk tanda panah.




















Baca dengan seksama petunjuk yang ada disini, transfer duit ke rekening yang tertulis warna hijau kebiruan itu. Anda bisa transfer pake ATM, MOBILE BANKING, SMS BANGKING. Anda juga dapat menggunakan Internet Banking kecuali BCA.

Jika sudah selesai pada tahapan ini akan kita lanjutkan pada tahapan berikutnya.